
Kevin tidak menanggapinya. Dia lebih memilih berjalan ke arah dapurnya. Sementara Eldrey Brendania Dempster pun mengikuti langkahnya.
Entah kenapa mereka tidak terlihat seperti orang yang berpacaran pada umumnya.
“Apa harus munafik seperti itu? Kalau kau memang menyukai Alice, kenapa menjadikanku pacarmu? Aku bukan orang yang murah hati kalau seandainya dijadikan pelampiasan dan mainanmu.”
Gerakan Kevin pun tertahan karena ucapannya. Sosoknya yang tadi ingin minum air putih pun terdiam dan menoleh pada putri Dempster di belakangnya.
“Apa itu yang kamu lihat dariku? Kalimatmu benar-benar mirip dengan Kak Dean. Apa aku terlihat sebrengsek itu di depan matamu?”
“Tentu saja. Karena kau bocah bermuka dua.”
“Heh,” Kevin pun dibuat tak bisa berkata-kata olehnya. Tiba-tiba ditaruhnya air minum di meja dan dihampirinya gadis yang tampak arogan di mata.
“Aku memang bermuka dua,” tanpa aba-aba ditariknya belakang kepala Eldrey dan menciumnya begitu saja.
Syok tentu saja. Namun responsnya terlalu biasa. Putri Dempster hanya bersikap tenang walau ekspresi wajahnya mendingin dalam menatap laki-laki di depannya.
“Bajingan,” ucapnya sambil tersenyum kepadanya.
Dan Kevin pun ikut memasang tampang serupa seperti dirinya. “Apa kamu tidak bisa tersipu kalau kuperlakukan seperti ini? Aku juga ingin melihat wajahmu yang malu.”
“Jauhkan tanganmu dariku.”
Tapi putra Cesar hanya tertawa pelan menanggapinya. “Kamu bukan orang yang murah hati kalau seandainya dijadikan pelampiasan dan mainanku ya? Itu kan yang kamu katakan tadi?”
Dan tanpa aba-aba Kevin pun menarik pengikat rambut Eldrey sehingga mahkota coklat lembut itu terurai seperti membingkai dengan cantik wajah menawannya.
“Jadi kalau aku benar-benar serius, kamu akan melunak padaku kan?”
Putri Dempster tidak mengatakan apa-apa. Entah apa yang ada di pikirannya. Namun sorot matanya hanya menatap lekat rupa Kevin di depannya.
“Kamu akan membuka hatimu padaku kan?”
Sampai akhirnya putri Dempster memalingkan muka begitu saja. Sehingga Kevin pun mencegah langkahnya, membuat gadis itu hampir menabrak dadanya.
“Mau ke mana? Kita belum selesai bicara.”
“Aku lelah. Aku ingin istirahat.”
“Oke, baiklah kalau begitu. Selamat beristirahat Eldrey,” ucapnya sambil mempersilakan gadis itu pergi. “Sekarang mungkin kita begini, tapi selanjutnya aku takkan mengalah padamu,” gumam Kevin sambil menatap langkahnya yang sudah menjauh.
Sehingga Eldrey pun takkan bisa mendengar apa yang dikatakannya barusan.
Dan di pagi harinya, putri Dempster dibuat terbungkam. Akan kenyataan yang ia dapatkan kalau sosoknya dikurung di dalam rumah itu.
Ada bahan makanan di atas meja, juga baju ganti komplit dengan **********.
__ADS_1
Bahkan sepucuk surat yang bisa ia perkirakan dari siapa menghiasi penampakan semuanya.
Tidak perlu berterima kasih. Masak saja apa yang kamu inginkan, dan aku sudah belikan baju ganti untukmu. Bukankah aku pacar yang hebat? Jangan lupa sisakan aku masakanmu ya? Aku penasaran seperti apa rasa makanan buatan tangan putri Dempster. Yah, walau rasanya tidak enak aku akan memakluminya. Kamu kan memang payah dalam urusan dapur dan juga pacaran :D
Jangan ke mana-mana, kalau kamu tidak ingin tertangkap. Tapi kalau ketahuan, jangan lupa hubungi aku ya? Nanti aku akan mengunjungimu, semoga beruntung, pacar dinginku.
“Heh!” Eldrey menatap remeh surat di tangan lalu mencengkeramnya. “Dasar bajingan,” lirihnya lalu memeriksa isi bungkusan di depan mata.
Sementara di kediaman Dempster, suasana sarapan pagi benar-benar mencekam.
Terlebih Charlie yang tampak tidak merasa bersalah setelah mengatakan hal seperti sebelumnya pada Betrand.
Dia tetap memakan dengan lahap sajian di hadapannya, dan itu ditonton dengan tatapan tak percaya oleh Evan ataupun sekretaris Roma yang sudah bisa menebak ada sesuatu antara tuannya dan tangan kirinya itu.
Namun apa mau dikata? Ada batasan untuk tidak terlalu ikut campur baginya, sebelum Presdir Betrand atau Charlie memberi tahunya.
Jadi pilihan terbaik hanya diam saja dan memperhatikan mereka.
“Aku sudah selesai. Aku akan berangkat terlebih dahulu, sampai jumpa,” pamit Charlie meninggalkan mereka.
Sementara di ruang makan itu, tak ada satu pun yang menjawab ucapannya.
“Roma, ayo ikut aku,” ajak Presdir Betrand tiba-tiba sambil bangkit dari kursinya. Menimbulkan heran dari Evan ataupun sang sekretaris di sebelahnya.
Sedangkan kepala pelayan mengurus pembersihan di bangunan utama belakang yang bergaya Victorian.
“Mm ... jadi, apa yang ingin anda bicarakan Bos?”
“Perintahkan bawahanmu untuk mengawasi Charlie.”
“Tuan Charlie?” kaget Roma.
“Ya.”
“Maaf, Bos. Tapi kalau aku boleh tahu, ada masalah apa? Sampai kita harus mengawasinya.”
Presdir Betrand pun menyandarkan tubuhnya pada meja kerja di belakangnya. “Dia tahu di mana keberadaan Eldrey.”
“Nona? Lalu kena—”
“Dia tidak mau memberitahuku. Kecuali memintaku untuk tetap membiarkan Eldrey seperti itu.”
“Apa!”
__ADS_1
“Jadi perintahkan bawahanmu untuk mengikutinya. Mungkin saja dia akan bertemu dengannya.”
“Tapi, Tuan Charlie pasti punya alasan melakukan itu bukan? Karena bagaimanapun dia orang yang seperti itu.”
Presdir Betrand terdiam sejenak. Butuh beberapa detik baginya untuk membalas pertanyaan bawahannya.
“Apa kamu tahu kalau Eldrey juga mengidap self-injury?”
“Apa—” Sekretaris Roma pun terkesiap mendengarnya. “I-itu,” tampangnya tampak menyiratkan keraguan.
“Kamu tahu?”
“Maafkan saya, Tuan. Saya pikir, Nona melukai dirinya karena ingin mendapatkan perhatian anda. Maafkan saya karena tidak memperhatikan kondisinya dengan baik,” sahutnya dengan nada yang jelas-jelas terdengar bersalah.
Tiba-tiba suara helaan napas kasar pun berkumandang dari kepala keluarga Dempster. “Padahal dia hanya bawahanku. Tapi dia, jauh lebih mengetahui keadaan putriku. Mungkin mereka juga jauh lebih dekat dibandingkan aku dengan putriku. Bukankah ini sangat menyedihkan? Roma.”
Tak ada jawaban yang bisa diberikan oleh sekretaris sekaligus CEO Perusahaan besar itu.
Kecuali memilih diam memandangi ekspresi atasannya. Memang harus diakui, kalau hubungan Charlie Stevano dan Eldrey Brendania Dempster, lebih dekat dibandingkan dengan siapa pun juga.
Bahkan jika gadis itu melakukan kesalahan yang luar biasa, dan orang-orang menatap enggan kepadanya, hanya Charlie dan bibi Arda yang tetap tersenyum kepadanya.
Cuma tangan kiri presdir Betrand yang setia menemani sosoknya. Melatihnya bela diri, mengajarkannya kerasnya hidup di dunia ini, sedikit banyak karakter Eldrey yang rusak juga dihiasi oleh campur tangannya.
Salah satunya dengan mengajarkan gadis itu untuk melukai tangan kirinya saja jika merasa sakit hati.
Dan Eldrey, lebih mendengarkan Charlie dalam berbicara dibandingkan ayahnya.
Walau semua orang menyadari itu, namun baru sekarang mereka memikirkannya.
Kalau Eldrey lebih dekat pada bawahan ayahnya dibandingkan dengan orang tuanya.
Sementara waktu yang beranjak sore ditatap tenang Eldrey di rumah singgah keluarga Kendal. Kevin masih belum datang dan gadis itu tidak peduli.
Karena satu hal yang pasti, dia akan keluar malam ini bagaimanapun caranya. Hanya itu.
__ADS_1