
Bosan.
Satu kata yang pas mewakilkan Eldrey. Setelah kemarin berhadapan dengan kejadian menyebalkan sekarang ia tak tahu harus bagaimana. Selesai kuliah daring otaknya seolah ingin keropos.
Kesepian juga pantas disematkan untuknya.
Dan dirinya benar-benar mulai jengah berada di dalam kamar mewah itu. Sampai akhirnya suara ketukan pintu mengalihkan perhatian.
“Masuk.”
Evan Brendan Dempster.
Muncul di sana dengan tampilan santainya. Kaos putih yang dibalut kemeja kotak-kotak serta jeans hitam menyelimuti diri.
Berdiri semringah menatap adik dinginnya.
“Eldrey, mau keluar bersamaku?” Perlahan ia melangkah mendekati putri Dempster yang masih diam di posisinya. “Sejujurnya aku ingin minta bantuanmu,” ucapnya sedikit canggung sambil garuk-garuk kepala.
“Apa?”
Seketika senyum senang terpancar karena sang adik membalas ucapannya. “Mm ... aku ingin membeli kado untuk temanku. Karena dia perempuan aku tak tahu apa seleranya. Kamu mau membantuku memilihkannya?”
“Baiklah.”
Jujur sekarang rasanya tak dapat dilukiskan. Evan hampir saja berteriak karena merasa puas akan jawaban sang adik yang ia dapatkan.
“Kalau begitu kutunggu di bawah ya,” pamitnya dan melambaikan tangan. Bahkan cengirannya hanya ditatap diam adiknya.
Di mana gadis itu tak memikirkan apa-apa kecuali merasa bosan sendirian. Tentunya ia setuju pada ajakan Evan tanpa pikir panjang.
Dan sekarang di sinilah mereka. Di halaman di depan motor sport sang pemuda. “Kita naik motor, kamu tidak masalah kan?”
“Mm.”
Tanpa keraguan Evan pun menyodorkan helm-nya. “Tenang saja, ini helm baru khusus untukmu,” ucapnya agak tersipu. Sungguh mereka berlawanan. Di mana Eldrey bertampang dingin sementara dia berwajah senang. “Jangan lupa pegang aku ya,” sahutnya memperingatkan. “Aku tidak akan kencang-kencang.”
Memang seperti katanya, laju motor begitu standar. Mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar, di mana tak ada pelukan atau pegangan mengingat keduanya bersaudara.
Tujuan Evan adalah sebuah butik. Begitu memasukinya ia terpukau melihat isi dalamnya. “Ini cocok untukmu,” ucapnya tiba-tiba pada Eldrey bersamaan dengan kedatangan pegawai di sana.
Sambutan ramah yang dipancarkan pekerja itu tak mengusik Eldrey untuk bersuara. Ia lebih banyak diam, melirik sekeliling mengikuti kakaknya.
“Menurutmu, untuk kado ulang tahun bagusnya yang mana?”
Gadis itu masih diam dan mengedarkan pandangan ke sekitar. “Feminin atau tomboy?”
“Eh,” kaget Evan mendengarnya. “Ah, dia agak feminin. Kenapa?”
“Tidak ada.”
Jawaban singkat Eldrey membuat sang kakak tersenyum tipis. “Namanya Barbara. Dia juniorku di kampus. Dia cantik walau tidak secantik kamu,” kekehnya sambil mengusap lembut kepala adiknya. Rambutnya pendek, agak cuek, tapi kalau sudah akrab benar-benar cerewet. Nanti malam ulang tahunnya, jadi aku ingin membelikannya gaun tapi bingung harus memilih yang mana,” sekarang tangannya beralih menyentuh salah satu dress simpel namun cantik di sebuah pajangan.
“Pacarmu.”
“Bukan, dia temanku. Tapi kami lumayan akrab. Mau keperkenalkan padamu?”
__ADS_1
Eldrey tidak menjawabnya dan memilih memalingkan muka. Menunjuk A-line dress berpotongan mini berwarna biru. Anggun desainnya dan membuat Evan tiba-tiba terpukau melihatnya.
“Bagaimana kamu tahu kalau itu akan cocok padanya?”
“Aku tidak tahu, aku hanya memilihnya. Jika dia gemuk pilih yang lain saja.”
“Ah, tidak. Kupikir ini akan bagus untuknya.”
“Belikan heels juga. Ditambah satu set perhiasan mungkin tidak buruk.”
“Benarkah? Apa tidak terlalu berlebihan?”
Eldrey hanya menatap malas. “Apanya yang berlebihan? Itu kan hadiah. Mau diterima atau tidak terserah dia. Kau kan anak orang kaya, tidak sulit kan bagimu untuk membelinya?”
Evan terdiam. Rasanya aneh mendengar adiknya berkata seperti itu. Tapi lambat laun ia tertawa, sambil mengelus lembut kepala adiknya.
“Benar juga. Terima kasih, Eldrey.”
Hari itu mungkin menjadi saat yang sangat bermakna bagi putra Dempster. Di mana ia bisa pergi berbelanja dengan adiknya sendiri. Bahkan dibantu memilihkan kado untuk sang teman berharga.
Tapi siapa sangka, kalau kado pemberian Evan itu justru dikenakan Barbara di saat yang benar-benar tak terduga.
Dua hari kemudian Eldrey terpaksa menemani kakaknya. Malas sebenarnya, namun laki-laki itu terus membujuknya. Dan atas desakan Charlie dirinya pun akhirnya menyetujuinya. Bersama, mereka menuju sebuah Restoran milik keluarga teman Evan di sebuah Hotel bintang lima.
Alasannya sederhana. Anak sang pemilik Hotel ingin mentraktir teman-temannya atas keberhasilannya mendapatkan pacar.
“Maaf ya, kamu terpaksa menemani kakak. Sejujurnya kakak ingin sekali mengenalkanmu pada teman-teman kakak. Biar mereka tahu kalau kamu itu adikku,” ucapnya lembut sambil tersenyum padanya.
Walau itu yang ia katakan, alasan sesungguhnya adalah biar bisa cepat pulang. Teman-temannya sangat keras kepala, dan kalau sudah berkumpul bisa membuatnya tertidur di dalam Restoran. Jadi keberadaan Eldrey bisa menjadi kunci untuk tidak berlama-lama di sana.
“Ayo,” ajak putra Dempster sambil merangkul adiknya.
“Evan? Jangan bilang ini pacarmu?!” kaget salah seorang wanita berpotongan rambut pixie cut.
“Tunggu, apa mungkin ini adik yang kamu ceritakan itu?” sela pemuda berkacamata. Posisinya ada di kursi tengah.
“Benar.”
“Sialan!” umpat laki-laki berkacamata itu tiba-tiba. Sontak saja ia berdiri dan merangkul Evan di sana. “Dasar brengsek, kenapa kau tidak bilang jika adikmu secantik ini?! Aku pasti berusaha keras menjadi adik iparmu daripada mengejar-ngejar Meldy.”
Orang-orang pun tertawa mendengar ocehannya. Termasuk putra Dempster yang menjadi tamu di sana.
“Halo, aku Roy. Sahabat terbaik kakakmu,” sahut laki-laki yang pertama kali memanggil Evan. Bahkan sempat-sempatnya ia mengedipkan mata pada temannya, sehingga putra Dempster langsung memukul tangannya.
“Jangan goda adikku,” selanya sambil mendengus sebal.
“Lho, aku kan cuma mau berkenalan,” Roy pun membela diri.
“Halo, aku Stella, salam kenal,” sapa wanita berambut pixie cut itu. Bahkan tangannya dengan lancang memegang lengan Eldrey. “Ayo duduk di dekatku, abaikan para buaya itu,” ajaknya.
Eldrey tidak mengatakan apa-apa namun akhirnya duduk di sebelahnya.
“Namamu siapa?” tanya gadis di kursi seberang.
“Eldrey.”
__ADS_1
“Wah, namamu indah sekali, benar-benar seperti orangnya,” Roy tampaknya benar-benar tidak tahan untuk menggombali adik temannya itu.
“Sialan! Tutup mulutmu bodoh,” Evan bahkan menutup wajah Roy agar tidak lagi bersuara. “Jadi mana makanannya?”
“Hei, perkenalannya belum selesai tapi kamu sudah menanyakan makan,” gerutu sosok di seberang itu. “Eldrey, aku Alexa. Kamu bisa panggil nama atau kakak. Kakak ipar juga boleh,” ia bahkan cengengesan samil melirik Evan.
“Dasar. Jangan dengarkan dia, Eldrey. Dia memang suka bercanda,” keluh kakaknya. “Apa?” tanyanya menyadari tatapan aneh si kacamata.
“Apa kau tidak mau memperkenalkanku padanya?”
Terdengar suara helaan napas pelan dari putra Dempster. “Eldrey, dia Oscar. Yang akan mentraktir kita dan dari pemilik Hotel ini.”
Tapi tiba-tiba Eldrey tersenyum tipis padanya.
“Oh Tuhan! Adikmu! Adikmu baru saja tersenyum padaku!” pekik Oscar dengan tangan memegang dadanya. “Pukul aku Tim! Pukul aku!” suruhnya sambil memukul-mukul tangan pemuda di sebelahnya.
“Dasar bodoh,” dan sosok yang diganggu pun geleng-geleng kepala. Tiba-tiba ia menyodorkan tangannya pada putri Dempster. “Timmothy.”
Tanpa keraguan Eldrey menyambutnya. Sepertinya di antara teman-teman berisik kakaknya, hanya orang ini yang tenang dan tak banyak bersuara.
“Lho, itu bukannya Barbara?” Alexa bersuara di sela-sela makan mereka.
Semuanya pun menoleh pada sumber pandangan. Di mana seorang gadis dengan mini dress biru tampak semringah berjalan menuju sebuah meja.
Bukan hanya dirinya, tapi juga ada sepasang suami istri serta pihak keluarga Turner bersamanya.
Napas Nyonya Nera pun tercekat saat bertemu pandang dengan rupa tak asing di matanya. “Rams. Rams! Itu Eldrey!” bisik mamanya sambil mengarahkan dagunya.
Sontak saja pemuda itu melirik ke tempat yang dimaksudkan, dan mendapati putri Dempster di ujung ruangan.
Tubuhnya langsung menegang dan menatap kaget pada gadis di pandangan. Bukan hanya dirinya, Barbara yang penasaran dengan arah penglihatan Ramses pun mengikutinya.
Rasanya bagai disambar petir saat mendapati sosok-sosok tak asing di mata duduk di meja tepian.
“Wah, apa mungkin dia sedang melakukan perjodohan?” Roy bergumam.
“Itu calonnya? Tampan,” puji Alexa sambil menutup mulutnya.
“Wajah laki-laki itu tidak asing. Apa mungkin anak kampus kita?” Stella menatap lekat putra Turner.
Sementara Eldrey, langsung memalingkan wajahnya. Merasa aneh saat melihat kakaknya. Di mana Evan seperti syok dan tak bisa berkata-kata. Masih memandang pada keluarga Ramses dan wanita itu.
“Aku permisi ke toilet dulu,” Evan tiba-tiba berdiri dan membuyarkan suasana.
“Oh oke,” angguk Oscar.
Aneh melihatnya. Eldrey pun kembali menoleh ke samping. Dan sekarang ia tersadar kalau sosok yang tadi ditatap lekat kakaknya sedang memakai hadiah pemberian sang pemuda.
Mini dress biru, perhiasan, bahkan heels pilihannya untuk kado ulang tahun teman Evan sedang dikenakan sosok yang bersama Ramses.
“Apa dia teman Evan?” tanya Eldrey tiba-tiba.
“Siapa? Barbara? Ya dia temannya. Teman kami semua,” sahut Alexa.
Eldrey pun tersenyum tipis dan mengundang lirikan bingung Stella juga Timmothy.
__ADS_1