FORGIVE ME

FORGIVE ME
Kemarahan tuan Kendal


__ADS_3

Eldrey terdiam, ia pun menatap lekat laki-laki itu.


“Itu terserah kamu, mau merasa bersalah atau tidak, tak ada hubungannya denganku,” tukas Eldrey membungkamnya.


“Hah!” Ramses benar-benar terkejut mendengar perkataan tak terduga itu. Ini pertama kalinya ia mendengar jawaban yang tak wajar rasanya. Biasanya di saat seperti itu, orang-orang akan mengatakan sebaliknya, itu bukanlah salahmu, jadi berhentilah memikirkannya, tapi bukan itu yang keluar dari mulut Eldrey.


Gadis itu kembali membaca buku yang ia pegang, tak mengacuhkan keberadaan tamu di kamar. Beberapa menit pun berlalu dalam keheningan keduanya, tak ada yang bicara.


Ramses masih menatap diam pada Eldrey yang membaca di depannya, tak mengatakan apa-apa, tak pula beranjak dari posisinya. Sampai gadis itu pun meliriknya dan menyuarakan keinginannya.


“Bisa ambilkan jeruk itu untukku?” lirihnya.


Ramses pun menurutinya, mengeluarkan jeruk dalam bingkisan dan mengupas kulitnya. Sorot mata Eldrey pun terfokuskan pada laki-laki itu.


“Apa yang terjadi antara kamu dan Alice?”


“Tak ada,” jawab Eldrey singkat. Ramses mengangkat wajahnya, merasa curiga dan tak percaya.


“Benarkah tak ada? Bukankah dia kemarin menjengukmu?”


“Dia tak pernah melakukan itu.”


“Apa?” Ramses benar-benar terdiam, lalu kenapa kemarin Alice menangis? Padahal dia sudah membalas pesannya dan mengatakan akan menjenguk Eldrey ke rumah sakit. Apa itu berarti dia menangis karena hal lain? Batin Ramses menerka-nerka.


“Benar juga, kudengar dari penjaga memang ada seorang perempuan dan laki-laki yang datang menemuiku namun tak diizinkan.”


“Laki-laki?”


“Benar.”


“Apa itu Alice? Lalu laki-laki yang bersama dengannya siapa? Jika yang akrab dengannya, apa mungkin Kevin? Atau Dean?!” batin Ramses kesal.


Eldrey tampak tersenyum tipis menatap Ramses yang sedang berpikir keras. “Oh ya, kemarin aku bertemu Kevin di rumah sakit, apa dia juga sakit ya?”


“Kevin?!”

__ADS_1


“Iya.”


Jika Eldrey sempat bertemu Kevin, itu berarti dia tak bersama dengan Alice. Sekarang wajah Ramses berubah masam, ia yakin kalau yang menemani Alice ke rumah sakit adalah Dean, mengingat ia juga sempat membantu Alice dalam penyerangan malam itu.


“Jerukku,” potong Eldrey tiba-tiba. Ramses pun tersadar dari posisinya yang sedang berpikir keras, lalu menyodorkannya pada Eldrey.


Eldrey memakan jeruk itu dengan ekspresi santai. Tapi, sesekali senyum tipis tak kentara pun tersungging di bibir manisnya.


Siang harinya di kediaman keluarga tuan Kendal.


“Orang-orang kep*rat! Berani-beraninya mereka melakukan itu padaku!” teriak tuan Kendal emosi.


“Papa! Ada apa?!” pekik nyonya Julia yang kaget mendengar teriakan suaminya.


“Beraninya orang-orang kurang ajar itu merebut rumah sakit yang seharusnya jatuh ke tanganku!”


“Tenang Pa! Tenang!”


“Tenang?! Apa kamu pikir tenang bisa menyelesaikan semua masalah?!” bentak tuan Kendal.


“Apa kamu tahu! Padahal aku sudah bersusah payah mengajukan proporsal pada anggota yayasan untuk mengambil alih rumah sakit Mavo Anos! Tapi apa yang terjadi?! Rumah sakit itu malah jatuh ke tangan orang lain! Padahal sebelumnya mereka sudah menyetujuinya!” teriak tuan Kendal tak henti-hentinya.


Nyonya Julia benar-benar kaget, tak hanya dirinya bahkan Kevin juga. Bagaimana bisa rumah sakit yang sebentar lagi akan jatuh ke tangan tuan Kendal malah dimiliki orang lain? Ini sangat tiba-tiba dan di luar dugaan.


“Siapa yang melakukannya?”


“Salah satu anggota yayasan yang merupakan dokter di rumah sakit itu!”


“Apa ini? Apa yang terjadi? Rumah sakit yang seharusnya di tangan keluargaku tiba-tiba malah jatuh ke tangan orang lain. Tapi, ini benar-benar aneh. Kemarin ada pembunuhan di sana yang disebabkan oleh Eldrey, dan sekarang rumah sakit itu jatuh ke tangan orang asing, apa ini semua ada kaitannya?” gumam Kevin dalam hati.


“Tunggu! Bukankah mereka bilang sudah menanganinya dengan cara tak terduga? Apa mereka yang membeli rumah sakitnya? Kalau iya tak heran jika tidak ada satu pun media yang memberitakannya,” lanjutnya masih tak percaya dengan kenyataan yang ada.


Bahkan belum genap 24 jam dari insiden kemarin, tapi semua itu sudah lenyap begitu saja tanpa membekas. Seolah-olah tak pernah ada yang terjadi. Padahal saat itu ada banyak saksi mata yang melihat dan merekam kejadiannya, jadi bagaimana bisa? Bagaimana bisa semuanya hilang begitu saja?


Seberapa besar kemampuan dan kekuasaan mereka melenyapkan hal seperti itu? Kevin benar-benar penasaran olehnya. Sekarang ia yakin, jika sampai berurusan dengan keluarga Betrand, maka bisa dipastikan kalau hasil yang akan didapatkan tak main-main.

__ADS_1


Padahal dirinya sempat berpikir kalau itu semua hanyalah gertakan mereka untuk mengancam Kevin agar tutup mulut.


Tapi sekarang semua benar-benar di luar nalarnya. Sebesar itukah kemampuan keluarga mereka sampai hukum pun tak bisa menyentuh jejak baunya?


Di toko roti yang agak sepi tampak Alice sedang merenung. Ia merenung dengan wajah lesu tak bergairah. Evan yang menyadari itu mendekatinya dan menyodorkan minuman.


“Alice? Kamu kenapa? Kamu baik-baik saja?”


“Kak Evan.”


“Ada apa?”


Alice tak menjawabnya, mulutnya tertutup rapat seolah sangat berat menjawab pertanyaan Evan itu.


“Jika berat untukmu, kamu bisa bercerita, mungkin saja beban di hatimu bisa sedikit berkurang.”


Mata Alice pun berkaca-kaca, perlahan-lahan, kata demi kata pun terurai dari bibirnya menyerupai untaian cerita yang cukup memilukan. Evan pun mendengarkannya dengan tenang.


“Ada dua beban di hatiku.”


“Pertama, sahabat terbaikku yang terbaring di rumah sakit, dan aku tak tahu tentang itu. Padahal aku sudah tahu ada yang aneh dengannya karena malam itu tak memenuhi janjinya padaku, tapi aku terlalu fokus dengan kebahagiaanku sampai tidak sadar kalau sahabatku itu ternyata sedang terluka dalam perjalanan menemuiku.”


“Esoknya aku bahkan masih sempat-sempatnya menghabiskan waktu bersama orang lain, padahal temanku masih terbaring di rumah sakit tanpa aku tahu. Dan sampai sekarang, aku masih belum bisa bertemu ataupun menghubunginya,” jelas Alice dengan air matanya yang jatuh.


“Kedua, orang lain itu. Orang lain yang menghabiskan waktu bersamaku, orang lain yang sangat berarti untukku. Aku benar-benar mencintainya, tapi kenapa? Kenapa rasanya sesakit ini? Bahkan aku sudah menutup mata dengan status demi kebahagiaan kami bersama tapi kenapa? Kenapa dunia sekejam ini?”


“Hanya karena latar belakang yang berbeda, orang tuanya menentang kami, dan menghinaku habis-habisan. Apa salahku? Aku hanya mencintainya? Apa yang salah dengan itu?!” Alice pun terisak-isak, spontan Evan langsung memeluknya, menenangkan dirinya yang tak sanggup lagi menahan emosi.


“Apa aku seburuk itu? Aku memang tak sekaya mereka? Tapi apa yang salah dengan itu? Aku bahkan tak pernah meminta untuk dilahirkan seperti ini!” lanjut Alice membuat Evan melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua lengan Alice dan menatapnya lekat.


“Ini bukan salahmu, ini bukan salahmu,” sambung Evan. “Kamu tidak boleh berkata seperti itu Alice, kamu pantas untuk mencintai dan dicintai. Orang-orang itu, orang-orang itu hanya tidak sadar seberapa luar biasanya kamu Alice. Mereka, hanya tidak sadar akan itu.”


“Karena itu, kamu tidak boleh menyerah, jangan biarkan perkataan mereka membelenggumu, jika tidak kamu hanya akan makin tersiksa.”


“Suatu saat mereka pasti akan menyesal telah menghinamu, percayalah!” itulah balasan Evan pada setiap perkataan Alice. Ia menghapus air mata gadis itu, memperlakukannya dengan lembut, bahkan jauh lebih lembut dari sosok orang yang mengisi hati Alice.

__ADS_1


Alice yang merasa aneh mendengarnya, langsung memeluk Evan yang sudah mencoba mengurangi bebannya, menumpahkan kembali air mata dalam dekapan laki-laki yang menenangkannya.


__ADS_2