FORGIVE ME

FORGIVE ME
Obsesi


__ADS_3

Sunyi, untuk kehadiran suara manusia.


Detakan dari alat-alat yang menjadi saksi kondisi Eldrey, menyahut dalam keheningan sekarang.


Evan tertidur dalam ruangan, di pinggiran di atas sofa sebagai penjaga.


Dan Bu Anna pun terpaksa beristirahat di sebuah penginapan dekat Rumah Sakit, atas permohonan putranya.


Biarlah dirinya dan pengawal yang berjaga, tapi sang ibu diharapkan merawat kondisinya.


Semakin waktu berlanjut, dingin kian memamerkan kekuasaan. Menyusup ke tubuh mereka yang sensitif akan rasanya.


Dan di balik itu semua, gerakan tangan pelan mulai menyapa. Dari sosok kritis yang baru menyadarkan diri setelah empat hari lamanya.


Eldrey membuka matanya.


Sayu di penglihatan. Sorotan terarah ke langit-langit kamar. Pemandangan tak asing baginya. Hanya tangan dan mata yang bergerak, dan tubuhnya tetap membisu kondisinya.


Lambat laun kenangan akan apa yang telah terjadi bernyanyi lagi di ingatan. Perlahan namun pasti, sosok mati terlintas kembali.


Sierra Naomi Campbell.


Pria asing.


Patricia Lascrea.


Dan juga Paul Vanderia Azof.


Sosok pemuda itu, malah mendatanginya. Dalam sensasi sakit di badan, seakan semua berbisik kepikiran, kalau dia mati karena dirinya.


Padahal Eldrey, hanya mengenal kakaknya. Walau sosok itu juga tak asing baginya.


Tapi, sudut hati mulai bertanya. Kenapa Paul berusaha menyelamatkannya? Kenapa ia tidak membunuhnya? Bukankah sosoknya ingin membalas dendam? Atas apa yang terjadi pada Patricia.


Dalam wujud setengah sadar namun pikiran masih mencari kebenaran, putri Dempster merasa gadis itu datang menghampirinya.


Di depan pintu terbuka, berjalan mendekat ke arahnya.


Seolah tertawa pada kondisi dirinya.


“Nona?”


Sekilas, kedipan pelan dilontarkan Eldrey karena tahu siapa yang ada di depannya.


“Kau sudah sadar?” Charlie pun menarik selimut untuk kian menutupi Eldrey. Perlahan, senyum pun terkembang di bibirnya. “Selamat datang kembali, Nona.”


Hanya sorotan mata sayu sebagai balasan dari gadis itu.


Esoknya kehebohan langsung terjadi. Pemberitahuan dari Charlie benar-benar mengundang rasa syukur keluarga Dempster.


Namun sayang karena orang pertama yang dilihat Eldrey, bukanlah Evan padahal kakaknya sedang berjaga di kamarnya.


Tampaknya kantuk benar-benar menyelimuti dirinya.

__ADS_1


“N-Nak,” Bu Anna terisak bahagia. Tangannya gemetaran seolah ingin menyentuh putrinya.


Tapi, memang Eldrey namanya karena dia takkan merespons apa-apa. Bahkan Presdir Betrand mengibarkan senyum tipis di bibirnya, merasa senang atas apa yang tampak di depan matanya.


“Terima kasih, karena sudah sadar kembali, Eldrey.”


Begitulah lirihan kata penuh arti dari ayahnya. Ia kecup lembut kening putrinya, menjadikan itu tontonan penuh makna untuk istrinya.


Namun memang Eldrey namanya, karena tak bisa merasakan apa-apa atas kekhawatiran orang tuanya.


Kecuali sensasi sakit di badan yang masih setia mendampingi dirinya.


“Eldrey sudah sadar?” suara semringah dari Alice yang mendapat kabar.


Sungguh ia sangat senang mendengar itu semua. Setelah sebelum-sebelumnya, dirinya hanya bisa datang dan menemui Eldrey lewat kaca pintu kamar sang putri Dempster.


Dan di tempat berbeda, Charlie mengumpati panggilan masuk yang sering mengganggu ponselnya.


“Bisakah sehari saja kau tidak menggangguku? Kau benar-benar membuatku muak!” geramnya.


“Bagaimana kondisi Eldrey? Apakah dia sudah sadar?” tanya sang pemuda tanpa dosa.


Siapa lagi kalau bukan Kevin. Sejak Eldrey masuk ke rumah sakit, dia sering meneror Charlie untuk menanyakan apakah gadis itu sudah sadar atau belum.


Seolah dirinya lupa, kalau yang diganggunya seorang pria 38 tahun dan berpengalaman dalam memberantas nyawa sejenisnya.


“Sudah! Tapi kau tidak perlu datang kemari bocah! Karena kehadiranmu tidak diharapkan di sini!”


“Baiklah, terima kasih informasinya.”


“Hei, bro! Mau ke mana? Buru-buru sekali,” Steven merangkulnya.


Karena sang pemuda tampak bersiap-siap setelah kelas selesai.


“Pulang.”


“Cepat sekali. Ayo main. Sejak Henry pergi, kau jadi susah diajak berkompromi. Jangan tinggalkan aku begitu. Atau jangan-jangan kau, sudah punya pacar?!” panik Steven. Dia yang berbicara dia juga yang frustrasi.


“Berisik! Aku balik!” Kevin pun terburu-buru meninggalkannya.


Tentu saja temannya langsung memasang tampang mencibir karena ditinggalkan sendirian lagi.


Terlebih, Henry sedang izin sejak beberapa hari yang lalu karena urusan keluarga. Bahkan gosip beredar menyebutkan kalau sosoknya mungkin saja sedang dalam masa pelatihan karena terpilih sebagai CEO di Perusahaan ayahnya.


Entah benar atau tidak hanya bisa dipastikan jika sang pemuda sudah datang kembali.


Kevin melajukan mobilnya dengan kencang. Ia ingin, setidaknya dirinya pemuda pertama yang bertemu dengan Eldrey selain Evan sebagai kakak kandung gadis itu.


Jujur sosoknya takut jika Henry pulang, karena bagaimanapun juga, temannya itu seperti punya senjata berupa kepolosan untuk mendekati Eldrey.


Wujud nyata kalau cemburu menggerogoti isi otaknya.


“Kamu. Kamu di sini? Tidak kuliah?” cecar Evan begitu melihat kedatangannya.

__ADS_1


“Aku ingin bertemu Eldrey.”


“Jam kunjungan nya sudah habis. Sekarang kamu pulang saja.”


“Kakak mengusirku?”


Evan pun memiringkan wajahnya. “Aku bukannya mengusirmu, Kevin. Tapi aku merasa kasihan padamu karena usahamu ini tampak sia-sia. Lebih baik sekarang kamu pulang dan beristirahat.”


Tapi, justru tatapan aneh yang diberikan putra kedua Kendal kepadanya.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” lanjut Evan.


“Kamu, sebenarnya kasihan atau memang mau mengusirku? Aku ingin di sini, jadi abaikan saja aku.”


Mendengar kalimat pemuda di depannya, Evan pun menyipitkan matanya. “Sebegitu sukanya kamu pada adikku?”


Seringai tipis pun tersungging di bibir Kevin. “Ya, aku memang menyukainya.”


“Kamu tahu kan bagaimana kondisi Eldrey.”


“Tentu saja.”


“Dan kamu masih menyukainya?”


“Tak ada yang aneh bukan?”


“Atau kamu suka latar belakangnya?”


“Ah,” sekarang Kevin jadi tahu kenapa Evan tak suka melihatnya dekat dengan Eldrey. “Kamu pikir, aku begini karena mengincar harta kalian?” sambil menatap remeh.


“Apa aku salah? Bukankah aneh jika pemuda dengan tampang sepertimu justru menyukai adikku? Bahkan kamu bisa saja mendapatkan gadis mana pun yang kamu mau dengan wajahmu itu.”


Senyum meledek pun langsung tercetak resmi di bibir dia yang dicerca.


“Kak Evan, kamu pikir aku laki-laki seperti apa? Jika tampangku memang setampan itu di matamu, lalu kenapa aku tidak bisa mendapatkan Eldrey? Aku menginginkannya. Terserah kamu menganggapku apa, lagi pula aku ini laki-laki normal. Siapa yang takkan terpesona melihat adikmu? Hanya orang bodoh yang bisa melewatkannya begitu.”


“Kau, sebenarnya apa tujuanmu?” nada suara Evan pun berubah menjadi menekan.


“Tujuanku?” Kevin tampak berpikir sejenak. “Aku menginginkannya, hanya itu.”


Evan tersentak. Saat laki-laki yang lebih muda darinya itu, tersenyum tipis menatap sosoknya. Batinnya bergemuruh, merasa kalau Kevin sang putra Kendal, pemuda yang cukup berbahaya jika dilihat gaya bicaranya.


“Kau, kau terobsesi pada adikku.”


“Mungkin saja.”


“Aku takkan membiarkanmu Mendekati Eldrey.”


“Ah. Sepertinya, putra pertama Dempster, tak tahu istilah cinta pada pandangan pertama ya? Sayang sekali, padahal kau terlihat berpengalaman, Kak Evan,” Kevin pun menyentuh bahunya sebelum pergi meninggalkannya.


Dan anak pertama Betrand itu, hanya bisa memandangi kepergian putra Kendal lewat punggungnya yang menjauh dari dirinya.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2