
Koma.
Tingkatan terdalam saat tidak sadarkan diri. Dan nihilnya respons menjadi jawaban para korbannya.
Cedera di kepala. Tertutup sempurna oleh tampilan luar, gadis itu menutupi fakta seberapa jauh ia menyiksa diri sebelum menemui putra Cesar.
Dan riwayat masa lalu juga menghiasi sosoknya. Pemakaian obat-obatan, walau dalam rangka pengobatan, tapi perangsang tidur itu dinikmati terlalu banyak.
Juga obat penenang sebagai teman dalam menjalani kehidupan. Mirisnya, luka tusukan dekat organ vital memaksa beberapa organ hampir gagal bekerja.
Ditambah lagi-lagi pendarahan masif tak bisa melakukan apa-apa. Karena sepertinya takdir sudah bersuara, kalau kehidupan enggan mempertemukan kematian pada dirinya. Dia, hanya diizinkan untuk diselimuti tidur panjang.
Eldrey Brendania Dempster, sungguh ironis baginya. Tak peduli luka dan sakit apa yang ia derita, nyawa meregang tak dapat dirangkul olehnya.
Dan mungkin hal itu harus disyukuri oleh mereka yang berdoa. Karena gadis itu hanya menutup mata, dan lubang pemakaman masih belum tercipta sebagai ujung penantian sang gadis muda.
Seminggu telah berlalu.
Sejak kejadian itu semua berubah. Bagi mereka yang mengenal sosoknya. Tapi mungkin Dempster lah yang paling menderita. Karena mereka yakin keberadaan hidup masing-masingnya benar-benar sudah menghancurkan sosok tak bersalah.
Betrand Gates Dempster.
Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, pekerjaannya terbengkalai. Mungkin dirinya harus bersyukur memiliki Roma juga Daniel di sisinya, dua CEO yang berusaha keras mempertahankan laju perusahaan agar tak goyah dari tahta.
Raelianna Jin.
Sosok blasteran itu, kecantikan miliknya mulai memudar. Digantikan pemandangan menyedihkan di rupa. Karena rasa bersalah yang menggerogoti hidupnya. Tak ada yang lebih menyakitkan, selain curahan hati sang putri lewat surat di tangan yang masih digenggam sampai sekarang.
Untukmu yang asing bagiku.
Katakan isi hatimu.
Kau anggap aku apa?
Darah yang sama tak ada artinya. Takkan pernah kulupa, hari di mana kau pergi meninggalkan aku. Sambil menggenggam tangan putramu, kau abaikan aku.
Kau biarkan sujudku berakhir sia-sia. Aku terluka, kau tetap tak ada. Wanita yang mengandungku, melahirkan aku, sosok penting yang kupanggil ibu.
Tapi justru kau campakkan aku. Aku benar-benar membutuhkan dirimu.
Kau tahu? Aku selalu menunggu, di balik pintu agar ayahku kembali memperhatikan aku.
Kalian serupa, dingin sebagai orang tua. Egois karena cinta, menghancurkan masa depan anak yang tak tahu apa-apa.
__ADS_1
Dan orang itu adalah aku.
Seperti suami dan istri, kalian memang ditakdirkan untuk bersatu. Sama-sama keji dalam menusukku.
Anna, kau begitu asing rasanya. Sungguh tak bisa kurasakan apa pun ikatan kita. Kenapa kau terlihat baik-baik saja? Setelah semua.
Aku iri padamu, pada kehidupan putramu. Ibu dan kakakku, baik-baik saja tanpa aku. Sementara aku masih di sana, menonton kebahagiaan kalian lewat jendela. Aku tak suka dan benar-benar tidak rela. Aku membencimu, kau yang merupakan ibuku.
Aku membencimu karena kau sudah membuangku.
Aku membencimu karena aku tak lagi mendapatkan kasih sayangmu.
Aku benar-benar membencimu.
Dan entah sampai kapan aku harus memendam perasaan itu.
Di satu sisi, kondisi serupa juga melukiskan keadaan Evan. Darah memang tak dapat dibohongi, mirip dengan Betrand. Kehilangan sikap profesional dalam bekerja, sekretaris sang ayah sekaligus CEO di perusahaan benar-benar berhasil menyelamatkan dirinya.
Surat Eldrey di atas sofa, ia juga memilikinya. Tapi untaian kata tertulislah yang membuatnya tak bisa apa-apa.
Dia tak tahu lagi harus bagaimana. Kecuali tenggelam dalam rebahan di ranjang lusuhnya.
Evan Brendan Dempster.
Nama yang mirip denganku. Tapi kita berbeda, kau diselimuti bahagia.
Dan aku kehilangan segalanya.
Aku kehilangan segalanya, kehilangan apa yang kau sebut keluarga. Kita memang berbeda, dan aku tidak pernah baik-baik saja.
Aku tak lagi mengenalmu, saudara.
Tapi di antara semua orang, mungkin Charlie Stevano lah yang paling tersiksa.
Dia ada bersamanya, menemani gadis itu sepanjang perjalanan. Menuju ke rumah sakit untuk menemui Kevin.
Tapi entah kenapa, sosoknya seakan kehilangan kekuasaan. Sampai tak menyadari kondisi putri majikan kalau keadaan Eldrey sedang berjalan menuju tiang gantungan.
Sungguh ia frustrasi. Berkas-berkas di atas meja di ruang kerja itu tak tersentuh sama sekali. Posisinya masih sama, meringkuk di sofa.
__ADS_1
Tak bersemangat menjalani aktivitasnya.
Dan di rumah sakit, penampakan alat-alat penunjang kehidupan masih setia bekerja. Bersama Eldrey dalam menjalani hari-harinya. Tangan pucat dan tak bergerak itu, digenggam sosok yang membawa cinta.
Siapa lagi kalau bukan putra Cesar yang sangat menyayangi dirinya.
Tak pernah absen di ruang rawat Eldrey. Walau Kevin masih dalam proses penyembuhan, ia tak peduli. Baginya berada di sisi gadis itu adalah yang utama.
Dan mengajaknya bercerita seakan menjadi hobi barunya. Mungkin orang-orang di luar sana bisa saja menganggapnya gila. Karena bagaimanapun Kevin melirihkan kata panjang lebar pada sosok yang tengah koma.
“Jadi, kapan kamu akan sadar? Aku benar-benar tak sabar untuk mendengar suaramu. Apalagi menghadapi ocehan sinismu. Aku benar-benar rindu, Eldrey. Aku mohon tolong jangan tinggalkan aku.”
Selesai mengatakannya Kevin pun menjatuhkan kepala. Untuk bertumpu pada punggung tangan gadis yang memenuhi isi pikirannya.
Mungkin ia tak sadar, kalau ada seorang wanita yang tengah beruraian air mata. Siapa lagi kalau bukan Julia sang ibu, yang merasa agak bersalah pada gadis itu terlebih putranya.
Karena bagaimanapun juga, dirinya sempat menyakiti Eldrey sebelum putri Dempster melakukan aksi bunuh diri.
Di penthouse yang tak asing, terlihat tiga orang dengan usia cukup berbeda. Dome juga dua keponakannya.
“Apa Paman serius?”
“Menurutmu?” tanya pria itu sambil menatap lekat perempuan di seberang.
Arabella hanya bisa menggelengkan kepala, masih tak menyangka dengan keputusan saudara ayahnya.
“Mereka sedang tidak baik-baik saja, bagaimana bisa membahas masalah perjodohan? Aku tak yakin Evan akan suka. Apalagi dia bukan tipe yang mudah jatuh cinta.”
Dome tidak mengatakan apa-apa. Selain tangannya sibuk memainkan gelas wine yang tinggal sedikit isinya.
Perlahan keheningan menerpa, tapi sorot mata masih bekerja. Timmothy agak merasa aneh dengan lirikan yang mulai mengarah padanya.
“Apa?”
“Lalu bagaimana denganmu?” tanya pria itu.
“Apanya?”
“Putri Dempster, apa kau tak suka? Dia cantik.”
Benar-benar tak habis pikir. Apa yang ada di otaknya? Mereka jelas-jelas ada di sana, melihat dengan pasti bagaimana keadaan gadis yang diungkit oleh pamannya.
“Kurasa Paman takkan lupa siapa yang berada di sisinya.”
Senyum tipis terpatri di bibir yang agak basah. Seteguk wine mengalir di antara gumpalan ranum pak tua, sebelum akhirnya kata tak terduga dikobarkan oleh mulutnya.
“Bagaimana mungkin aku lupa? Bocah itu, bocah Cesar yang mulai mengarahkan panah ke sahamku.”
Dua bersaudara itu terdiam. Merasa aneh dengan ekspresi misterius yang terpancar. Entah apa yang ada di pikiran pak tua, namun insting mereka berbicara kalau itu bukanlah hal yang menyenangkan. “Keputusanku sudah bulat, Tim. Kau, akan tetap kujodohkan dengan gadis itu. Tak peduli dengan kekasihnya, lagi pula kami punya kesepakatan, dan ia pasti akan menyetujuinya.”
__ADS_1