
“Belajar dengan benar. Nanti Nenek akan menjemputnya pulang,” suruh Nyonya Camila.
Dan mobil yang ditumpanginya pun pergi dari sekolah Eldrey dan Evan.
“Kak,” panggil gadis kecil itu tiba-tiba.
“Aku lapar.”
“Kakak juga lapar, tapi kalau kita makan sembarangan nanti Nenek bisa-bisa marah.”
“Aku tidak mau tinggal bersama Nenek lagi.”
“Kakak juga tidak mau.”
“Ayo kita adukan pada Ayah,” bujuk sang gadis muda.
“Tapi kata Ibu lebih baik kita tidak mengatakan apa-apa.”
“Tapi aku sudah tidak mau tinggal bersama Nenek.”
“Kalau begitu nanti ayo bicara sama Ibu. Sekarang kamu masuk kelas dulu.”
Dan Eldrey pun mengangguk pada kakak laki-lakinya. Begitulah pembahasan polos mereka berdua. Menyuarakan sesak di dada, akan rasa tidak betah yang menimpa mereka.
Nyatanya, putra putri Dempster hanya seorang manusia biasa.
Beberapa jam setelahnya Eldrey pun terdiam. Saat sosoknya melihat seorang gadis mungkin sebaya atau sedikit lebih tua dari Kakaknya. Menggerutu tidak jelas dan duduk di sebelahnya.
Dia sedang memakan cemilan, membuat sang putri Dempster tergoda namun takut meminta.
Dan gadis itu menawarkan apa yang ada pada tangannya.
Sehingga pertemuan pertama itu pun menjadi langkah awal dalam perkenalan mereka.
Dialah Patricia Lascrea.
Hari-hari Eldrey selanjutnya benar-benar menyedihkan. Tuntutan sang Nenek yang menyuruhnya sempurna sungguh menjadi beban. Dihiasi pertengkaran Nyonya Camila dan Ibunya, sampai akhirnya Raelianna hanya bisa berakhir diam sambil beruraian air mata.
Putri Dempster hidup dengan menonton itu semua. Memakan umpatan dan cacian di mana label sang ibu dari keluarga miskin selalu tersembur dari bibir Neneknya.
Dan ia masih terlalu muda untuk mendengar itu semua.
“Wah, makanmu lahap sekali. Apa di rumah kamu tidak makan?”
Eldrey menggeleng. Ia tampak lucu memakan bekal milik Patricia. Pipinya serupa tupai, sehingga gadis itu suka menusuk-nusuknya.
__ADS_1
“Jangan bodoh! Aku sedang makan!” keluh putri Dempster.
“Hei! Aku lebih tua darimu!”
“Tapi kamu jahat!”
“Tapi kamu kan makan bekalku.”
“Kan kamu yang berikan!”
Mereka berdua berdebat dengan konyolnya. Walau itu semua tidak akan mampu meruntuhkan pertemanan dalam kehidupan anak-anak keduanya.
Sampai akhirnya, hari-hari yang dijalani Eldrey dan Patricia pun membuat ikatan keduanya semakin akrab.
Padahal tuan putri Azof sudah berkenalan dengan Evan, tapi berlainan dengan Eldrey yang belum bertemu adik temannya.
Entah kenapa, saat-saat akan dikenalkan pada Paul, gangguan selalu datang menimpa.
Sampai akhirnya putri Dempster hanya bisa mendengar cerita seperti apa sosok anak lelaki itu dari bibir Patricia.
“Apa yang kamu lakukan di sini?! Aku kan sudah bilang tidak perlu jemput cucuku! Kamu ingin membuatku malu di depan kenalanku ya!” marah Nyonya Camila akhirnya.
“Bu. Bagaimanapun aku kan Ibunya anak-anak. Apa yang salah dengan itu? Bukankah aku menantu keluarga Gates? Kenapa Ibu merasa malu jika aku datang ke sini?” tanya Raelianna sambil matanya mulai berkaca-kaca.
“Kau ingin tahu? Itu karena Donatur sekolah ini adalah teman-temanku! Partner bisnis keluargaku! Kau yang orang miskin tahu apa?! Mereka semua sudah tahu kalau kau itu cuma anak pedagang roti! Kalau mereka bertemu denganmu, mukaku mau ditaruh di mana?! Aku akan ditertawakan karena membiarkan putraku menikah dengan rakyat rendahan! Seharusnya kau itu sadar diri dan tidak mempermalukan diriku!”
Seolah-olah ia tidak peduli, jika sang menantu akan terluka dengan ucapannya.
“B-bukankah Ibu bilang kalau Ibu sudah menerimaku? T-tapi—”
“Kau mimpi?!” potong Nyonya Camila dengan suara lantangnya. “Aku memang sudah membiarkanmu menikah dengan Betrand! Tapi jangan harap kalau aku akan menerimamu dalam keluargaku! Kau itu cuma orang miskin! Kau lebih pantas jadi pembantu daripada menantuku! Lebih baik kau mati saja karena aku sangat jijik melihat wajahmu!” dan tangan wanita tua itu pun dengan kasarnya mendorong menantunya.
Sampai akhirnya hal itu membuat Evan dan Eldrey yang berada di dalam mobil keluarga Gates pun turun untuk membantu Ibunya.
“Bu! Ibu!” pekik Evan sambil memegang lengannya. “Nenek kenapa jahat begitu?! Padahal Ibu cuma mau menjemput kami! Nenek jahat! Aku tidak mau pulang dengan Nenek! Aku benci!” teriak Evan dengan kesalnya.
“Aku akan bilang pada Ayah karena Nenek kejam! Nenek monster! Aku tidak mau tinggal bersamamu lagi! Aku tidak mau dan aku tidak mau bertemu dengan dirimu lagi!” putri Dempster juga ikut-ikutan menhujatnya.
“Ibu!” pekik Anna sambil memeluk putrinya tiba-tiba.
Refleks tubuhnya bergerak seperti itu. Karena tangan Nyonya Camila yang spontan terangkat ke arah Eldrey, seperti ingin melayangkan tamparan di depan matanya.
“Dasar anak tidak tahu diri! Kalian dan Ibu kalian itu sama saja! Sama-sama miskin dan tidak berguna! Harusnya kalian sadar, karena lahir dari rahim kotor seperti itu makanya otak kalian tidak bisa berpikir dengan benar! Asal kalian tahu saja, aku juga tidak sudi punya cucu dan menantu seperti kalian! Dasar tidak berpendidikan! Bisa-bisanya Betrand mempunyai keturunan dengan mulut kurang ajar seperti kalian! Memalukan!”
Sungguh mulutnya seperti tidak akan mengering dalam berbicara. Begitu banyak hujatan dan umpatan yang ia layangkan, dan sosoknya pun pergi dari sana dengan tampang kesal luar biasa.
__ADS_1
Seolah tak peduli, akan hati yang rapuh akibat caciannya.
Raelianna menangis, begitu pula kedua anaknya. Terisak-isak karena di maki-maki di depan sekolahnya.
Sampai akhirnya sang ibu tersadar kalau posisi mereka ini sangatlah tidak benar.
Ia bawa kedua anaknya, menuju taman terdekat sambil meluruhkan pesakitan di dada.
Sebuah fakta kalau luka akibat ucapan jauh lebih mengerikan di bandingkan luka karena sayatan.
Bu Anna terisak-isak, sambil menyentuh bahu kedua anaknya.
“Kalian tunggu di sini. Ibu pergi sebentar, kalian jangan ke mana-mana,” ucapnya dengan tampang menyedihkan.
Tanpa mendengarkan balasan putra-putrinya, dirinya pun pergi meninggalkan mereka.
Menjauh, sambil berhenti di suatu tempat dan menghubungi seseorang yang tidak disangka-sangka.
“Aku akan pergi! Aku akan pergi menjauh jika itu keinginan Ibu! Tapi tolong besarkan anak-anakku! Tolong rawat mereka seperti anak-anakmu! Dan jangan lupa, kalau aku melakukan semua ini demi putra putriku! Jadi aku mohon, jangan pernah cerca mereka lagi, karena bagaimanapun Evan dan Eldrey itu tetaplah cucumu!”
Selesai mengatakan itu ia pun memutuskan panggilan. Jatuh terduduk sambil beruraian air mata yang deras alirannya.
Sakit dan kecewa.
Emosi tiba-tiba membuatnya tidak bisa berpikir dengan benar.
Kalau sosoknya telah melakukan sesuatu yang tak terduga dan akan disesali seumur hidupnya.
“Kamu tunggu di sini, kakak panggil Ibu dulu ya?” sahut Evan pada adiknya.
“Tidak mau! Aku tidak mau sendiri, aku mau ikut Kakak!” rengek Eldrey kepadanya. Dia pun menangis karena tak ingin ditinggalkan.
“Kakak tidak akan lama, kakak janji setelah jemput Ibu akan kemari lagi. Ini, pegang tas kakak, kakak pasti akan kembali lagi,” dan Evan pun mengelus lembut kepala adiknya.
Walau putri Dempster masih menangis, namun isakannya sudah tak sekeras tadi.
Sekarang ia sendiri, menghapus air mata yang tidak kunjung berhenti.
Sampai akhirnya kejadian tak terduga menghampiri dirinya.
Bayangan gelap, menyergap tubuhnya. Membuat sang gadis meronta-meronta dan dihajar tiba-tiba di bagian perutnya. Sehingga jatuh tak berdaya dengan kain yang masih membungkus kepala.
Dan itu semua disaksikan oleh Patricia Lascrea, yang berdiri tidak jauh di sana sambil dihiasi tubuh gemetarnya.
__ADS_1