FORGIVE ME

FORGIVE ME
Menginap di rumah Ramses


__ADS_3

Sayangnya gadis dari keluarga Dempster itu tidak memberikan respons apa-apa. Tentunya hal tersebut berhasil membuat tiga laki-laki di depannya memamerkan senyum puas.


Menuntun Eldrey untuk mengikuti mereka, dan salah satunya dengan leluasa merangkul bahunya.


“Ayo cepat ambil mobil!” perintah salah satu pemuda yang berjalan di belakang Eldrey pada teman di sampingnya.


“Kenapa tidak kau saja?!”


“Kuncinya kan ada padamu!”


“Ya ini! Kau saja yang ambil!” sosok itu pun mengeluarkan kunci mobil dari saku dan menyodorkannya.


“Sialan! Berisik kalian berdua! Aku tidak mau tahu! Kalian berdua cepat ambil mobil dan aku akan tunggu di sini!” hardik orang tersebut dan masih merangkul Eldrey.


“Enak saja! Kenapa bu—”


“Cepat bodoh!” bentaknya sambil melirik putri Dempster di sebelahnya.


Dan hal itu, berhasil menyadarkan mereka. Kalau untuk menikmati sang gadis muda, keduanya memang harus buru-buru menjemput kendaraan agar dia tak pergi dari tangannya.


“Dasar orang-orang bodoh. Oh ya, namamu siapa manis?” tanya laki-laki itu dengan tangan seenak hati mengusap lembut bahu putri Dempster.


Tapi bukannya jawaban yang ditorehkan, Eldrey malah melirik tenang ke arahnya. Membuat lawan jenis itu jadi bingung menatapnya.


“Ada apa? Kenapa kamu memandangku seperti itu? Ah, bibirmu menawan sekali,” puji laki-laki itu dengan tangan perlahan menyentuh pipi Eldrey.


Seolah berusaha mengikis jarak di antara mereka, agar sebuah ciuman tercipta untuk keduanya.


Dan sayangnya, semua gagal karena ada mobil berhenti tiba-tiba lalu menampilkan sosok tak terduga.


“Eldrey?” Gadis itu menoleh dan tersenyum melihatnya. “Sedang apa kamu di sini, Nak?” tanya Tuan Harel sambil turun dari mobilnya. Bukan hanya dirinya, bahkan sang supir yang tampak seperti bodyguard juga ikut menemaninya.


“Cih! Siapa ini?!” umpat laki-laki yang hendak berbuat lancang itu. Bahkan tangannya, juga tidak ragu merangkul pinggang Eldrey tanpa aba-aba.


“Pacarmu, Nak?” tanya ayah dari Ramses itu. Sungguh sosoknya tidak berbasa-basi dalam menghadapi situasi di depannya.


“Tentu saja aku pacarnya! Memangnya anda siapa?! Ingin tahu sekali tentang hubungan kami berdua!” kesal laki-laki itu sambil mencengkeram bahu Eldrey.


“Kau menyakitiku,” sela putri Dempster tiba-tiba.


“Apa?”


“Aku bilang kau menyakitiku,” sontak saja sang gadis menyikut wajahnya. Sungguh mengejutkan mereka, terlebih laki-laki yang mengaku sebagai pacarnya itu mengerang kesakitan akibat ulahnya barusan.


“Wah! Jasper! Apa yang terjadi?!” panik temannya yang baru turun dari mobil.


“Kau!” geram laki-laki itu lalu mencengkeram lengan Eldrey.


“Hei kau!” supir Tuan Harel ikut turun tangan.


Tapi sosoknya kalah cepat dari Eldrey. Walau lengan gadis itu sedang digenggam, tapi tidak menghentikan langkahnya dalam menyerang. Dengan tangan meraih kerah baju serta lengan musuhnya, putri Dempster pun berbalik menarik laki-laki tadi sehingga terlempar ke depannya.


Menjadikan mereka tontonan, tapi gadis itu justru tertawa dengan anehnya. Dia terlihat begitu menikmati kejadian.


“Hei! Kau!” laki-laki yang mengambil mobil pun berusaha menggapai Eldrey, akan tetapi langkahnya tertahan oleh supir keluarga Turner.


Dan bodyguard Tuan Harel pun memberikan dua pemuda itu pelajaran agar tak menyentuh putri Dempster.


“Eldrey, ayo ikut Paman,” ajak pria yang sebaya ayahnya itu.


Tak ada anggukkan atau jawaban, tapi langkahnya sudi mengiringi ayah Ramses. Masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang bersebelahan dengan sang pemiliknya.


Dia tampak bahagia dan ditatap tenang oleh sosok di sampingnya.


Akhirnya, sang supir yang sudah membereskan perilaku serampangan tiga laki-laki itu menyusul mereka.


“Maaf sudah membuat anda menunggu lama, Tuan. Jadi, kita akan ke mana?”


“Kediaman Betrand Demps—”


“Tidak,” Eldrey memotong tiba-tiba. “Aku tidak ingin ke sana, dan tolong bersikap seolah tak pernah melihatku. Anda bisa melakukannya bukan?”


Kedua orang itu sama-sama terdiam.


“T-tapi—” supir itu tampak ragu.


“Baiklah,” Tuan Harel menyelanya. “Jadi, kamu ingin diantar ke mana, Nak?”


Butuh sejenak waktu bagi sang gadis muda untuk menjawabnya. Diliriknya pria di sisinya, terlihat menunggu jawaban darinya.

__ADS_1


“Aku akan turun di sini saja,” tapi saat Eldrey akan membuka pintu mobil, ayah dari Ramses malah mencegatnya.


“Kalau ke rumah Paman, bagaimana? Itu jauh lebih baik daripada kamu turun di sini. Bagaimanapun kamu tadi habis bermasalah dengan tiga laki-laki, dan tak ada jaminan jika mereka tidak akan menyakitimu lagi. Kamu bisa tenang karena keluarga kami akan berpura-pura tidak melihatmu.”


“Benarkah?”


“Ya.”


“Baiklah kalau begitu,” setuju Eldrey dengan mudahnya.


Padahal di satu sisi, Kevin begitu panik mencari dirinya. Menyusuri tiap jalanan dengan mobilnya, berharap sang kekasih yang berhasil ia pertahankan untuk tidak putus kemarin, keadaannya akan baik-baik saja.


Dan di kediaman Harel Turner, di sinilah putri Dempster.


Mengikuti kaki sang pemilik rumah seperti gadis tak bersalah. Nyatanya, keluarganya sedang bersusah payah mencarinya.


Mengerahkan segala sesuatu untuk menemukannya, tapi mungkin mereka hanya fokus pada lokasi yang diimpikan Eldrey untuk di datangi.


Faktanya Charlie yang sudah bertemu dengannya, justru mengangkat tangan tak ikut membantu sang majikan.


Baginya sekarang, apa pun yang diinginkan Eldrey dia akan menurutinya.


Mungkin hanya itu yang bisa jadi obat untuk sang tuan putri dalam menjalani kehidupannya.


“Lho, Eldrey!” kaget Fiona melihat gadis itu berdiri di samping ayahnya. “Kamu di sini? Tumben sekali? Ada apa?”


“Fiona, antarkan Eldrey ke kamar tamu di atas,” perintah Tuan Harel kepada putrinya.


“Eh, baik. Ayo Eldrey, ikut aku,” ajaknya sambil menarik tangan gadis itu.


Sementara sang kepala keluarga Turner, menyaksikan kepergian mereka dengan sorot mata yang tak lepas dari punggung gadis muda milik keluarga Dempster.


“Nah, ini kamarmu. Apa kamu mau mandi? Kalau iya akan kupinjamkan baju.” Eldrey mengangguk dan dibalas senyum oleh Fiona. “Ya sudah, kamu mandi saja dulu. Di dalam ada bathrobe, nanti kutinggalkan di sini ya baju gantimu.”


Lagi-lagi hanya anggukkan. Membuat putri keluarga Turner mengelus lembut kepalanya.


Seperginya Fiona, dengan memakai bathrobe Eldrey pun menenggelamkan dirinya di bathtub. Aneh, tapi memang itulah yang dilakukannya.


Walau rasanya menenangkan karena dihiasi aroma terapi, tapi justru tidak bisa menyantaikan hati putri Dempster.


Rasanya sepi.


Tampak olehnya, jejak menyedihkan di lengan kiri. Hasil siksa yang dilakukannya selama ini.


Dan Ramses yang baru pulang pun dibuat melongo oleh informasi dari kakaknya.


“Serius? Dia di sini?!”


“Iya.”


“Kenapa dia ada di sini?!”


“Tanyakan pada papamu. Bukan aku,” oceh kakaknya sambil berlalu dari sana.


Ramses yang mendecih pun pergi menemui sang kepala keluarga.


Tanpa keraguan diketuknya pintu kamar orang tuanya, sampai akhirnya sang ibu pun membukanya.


“Nak, ada apa?”


“Umm, Papa?”


“Ya Ramses, ada apa?” Tuan Harel pun muncul dengan dandanan santai namun memakai kacamata. Bisa dipastikan kalau sosoknya mungkin sedang membaca buku tadinya.


“I-itu, apa benar Eldrey menginap di sini?”


“Eldrey?!” kaget ibunya yang tak tahu apa-apa.


“Ya. Dia menginap di kamar tamu di atas.”


“Apa!” pekik Nyonya Nera dan Ramses bersamaan.


“Bagaimana bisa?” tanya wanita itu dengan nada tidak percaya.


“Dia diganggu preman dan sedang tak ingin pulang. Jadi aku membawanya ke sini, dan pastikan kalian bersikap tak tahu apa-apa tentang keberadaannya. Karena bagaimanapun juga itu permintaan. Mengerti?”


Tentunya keduanya tak bisa mengerti.


“Jangan-jangan dia kabur dari rumah?”

__ADS_1


Tuan Harel pun menghela napas pelan akan ucapan istrinya. “Kalaupun kabur dari rumah, tak ada urusannya dengan kita. Jadi biarkan saja.”


“Bagaimana bisa tak ada hubungannya dengan kita? Dia tinggal di sini, tentu saja ada hubungannya dengan kita. Kalau dia sedang dicari-cari bagaimana? Keluarga Dempster pasti takkan tinggal diam dan berpikir kalau kita menyembunyikannya!”


“Tenang saja aku yang akan bertanggung jawab. Dan Ramses, pergilah ke kamarmu. Kamu tampak lelah, Nak. Istirahatlah,” suruh ayahnya.


Tanpa banyak tanya lagi, laki-laki itu pun mengangguk dan pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


Dapat di dengarnya, kalau ayah dan ibunya masih berdebat tentang tamu yang menginap di rumah mereka.


Dan Ramses pun berhenti tepat di depan pintu kamar yang dihuni sosok kenalannya.


Ingin ia mengetuk pembatas itu, tapi entah kenapa keinginannya mendadak jadi sirna.


Mungkin karena takut mengganggu Eldrey yang mungkin saja sudah tidur sekarang.


Tapi, kenyataannya gadis itu baru keluar dari kamar mandi. Wajahnya memucat karena berendam terlalu lama.


Parahnya lagi, ia tidak mengeringkan rambutnya.


Membiarkan tetesan air berjatuhan ke permadani yang menghiasi kamar. Sepertinya ia tak peduli jika dirinya sakit nantinya.


“Eldrey?” sapa seseorang di sampingnya.


Putri Dempster yang sekarang berada di balkon, menoleh ke sumber suara. Menatap tenang laki-laki dengan permen tangkai di mulut dan gitar di tangannya.


Balkon mereka dibatasi oleh jarak sekitar satu meter sebagai pemisahnya. Rupanya kamar tamu yang ditempati Eldrey bersebelahan dengan kamar putra sang pemilik rumah.


“Aku sudah dengar dari papaku kalau kamu menginap di sini.”


Gadis itu tidak mengatakan apa-apa. Kecuali kembali melihat ke depan dan menikmati pemandangan di hadapan.


Harus diakui, kalau pesona di sekitar kediaman Turner memang luar biasa.


Tak bosan dilihat dan baru suasananya. Setidaknya itulah yang dirasakan putri Dempster sebagai orang asing di sana.


“Eldrey,” panggil Ramses kembali. Tapi cuma lirikan lewat sudut mata sebagai jawaban. “Kamu habis mandi? Rambutmu masih basah.”


“Lalu?”


“Kamu bisa masuk angin jika tidak dikeringkan.”


“Begitu?” tanggapnya santai. Dan sekarang ia berbalik memasuki kamarnya. Tanpa mengucapkan selamat malam pada sang pemilik yang melongo dibuatnya.


“Kamu sudah mau tidur? Jangan lupa keringkan rambutmu Eldrey!”


Tapi tak ada respons darinya. Membuat Ramses mendecih dan menaruh gitarnya dengan tergesa-gesa.


Tanpa keraguan, ia panjat pagar besi yang membatasi mereka.


Melompati jarak lebih kurang dari satu meter seolah yakin akan baik-baik saja.


Dan Eldrey yang mendengar berisik kaki di luar sana memiringkan badannya. Seperti menyambut kedatangan sosok kurang ajar ke dalam kamarnya.


Benar saja, laki-laki itu memang kurang ajar dan lancang tanpa meminta izin terlebih dahulu.


“Hei! Kamu benar-benar mau tidur? Keringkan dulu rambutmu!”


“Apa masalahmu, Ramses? Aku ingin tidur.”


“Ya keringkan dulu rambutmu. Kalau kamu sakit bagaimana?”


Eldrey pun menghela napas pelan. Tapi ekspresinya terkesan meledek sosok di pandangan.


“Kalaupun aku sakit, apa hubungannya denganmu? Kau bahkan tak rugi apa pun.”


Ramses tak mempedulikannya. Mengambil handuk dalam lemari seperti sudah tahu tata letak lokasinya.


Bahkan ia juga membawa hair dryer dan mendekati Eldrey tanpa keraguan.


“Keringkan rambutmu atau kamu mau aku yang lakukan itu untukmu?”


Sekarang, Eldrey pun bangkit dari tidurnya. Tapi raut wajah tenangnya tak bisa melukiskan isi perasaannya.


Kalau sebenarnya, sekarang Ramses sama menyebalkannya dengan Kevin yang sangat mengganggunya.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2