
Sekarang, Eldrey sudah mengganti kemejanya dengan baju kaos Dean yang diambilnya dari lemari kamar sang pemuda.
Vila tampak sepi dan langkahnya memilih pergi ke balkon, di mana hidangan untuk pesta barbeque masih tersaji di sana.
Tak peduli jika ia hanya sendiri, dirinya pun memakan jagung bakar sambil bersandar ke pembatas besi.
Sampai akhirnya, langkah seseorang yang muncul dari balik pintu balkon ditatap datar olehnya.
“Eldrey, kamu di sini?”
Gadis itu cuma mengangkat alis sekilas sebagai jawaban.
Dean dengan raut lesu pun berjalan mendekatinya. Berdiri di sampingnya, sambil badan ditumpukan pada pagar pembatas.
Sorot matanya, seolah ingin kosong karena semua yang tengah di hadapinya.
“Aku tak tahu harus bagaimana.”
Lirihan kata itu berlalu tenang begitu saja. Ditelan udara tanpa gadis muda di sebelah ingin menjawabnya.
Eldrey, masih sibuk dengan makanannya.
Dean pun berbalik dan posisinya sama seperti Eldrey. Membelakangi pemandangan menawan dari pantai yang belum sempat mereka nikmati dengan sempurna.
“Semuanya sudah hancur. Erin, serta Ramses yang terlihat sangat membenciku. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana,” ucapnya frustrasi.
Tapi, putri Dempster tetap saja mengunyah makanannya. Diambilnya satu jagung bakar dan disodorkan pada Dean.
“Jangan mengoceh saja, makanannya masih banyak,” dan ia terlihat santai dalam menghadapi kondisi Dean yang putus asa.
“Aku sedang tidak ingin makan, Rey.”
Sontak saja Eldrey langsung melempar jagung bakar itu ke belakang. Tanpa dosa, karena sudah membuang makanan yang dibeli dengan uang dari sosok di depannya.
Dean agak terkejut, namun ekspresinya kembali normal. Jujur ia butuh teman bicara, tapi tak ada satu pun yang bisa diajak selain gadis ini.
Padahal jika dirinya suntuk karena masalah keluarga, ia pasti akan mendatangi Ramses. Namun sekarang, pemuda itu benar-benar terlihat kecewa kepadanya.
“Aku iri,” ucap Eldrey tiba-tiba. Dirinya lalu melempar sampah jagungnya ke tempat yang sudah disediakan.
Dalam sekali percobaan, langsung masuk seolah skill-nya seperti pemain basket jalanan.
Perkataan sekilas Eldrey, hanya ditatap tenang Dean karena cukup penasaran.
“Aku iri pada kalian semua.”
__ADS_1
Lagi-lagi ia bersuara. Dirinya yang berbalik sempurna diikuti Dean, sekarang menatap pesona pantai di depan mata.
“Kalian benar-benar hidup dengan bahagia.”
Jujur putra Kendal itu tidak paham akan maksud ucapannya. Dan begitu pula dengan kucing pencuri yang baru saja hadir tak jauh di belakang mereka.
Tidak disadari, entah karena langkahnya yang pelan atau kedua orang itu memang sibuk dengan pikiran masing-masingnya.
“Hidup dengan bahagia ya,” Dean mengulanginya. “Kalau begitu, apa sekarang kami terlihat hidup dengan bahagia?”
“Ya.”
“Setelah kekacauan yang terjadi?” wajah Dean menyiratkan kebingungan dengan sempurna.
“Ini hanya masalah cinta, bukan sesuatu yang sulit untuk diselesaikan,” jawab putri Dempster dengan entengnya.
“Kamu bisa bicara begitu karena tidak pernah di posisiku, Rey.”
Seketika tawa malah terlontar dari bibir ranumnya. Entah kenapa, Eldrey sekarang banyak melakukan itu saat berbicara namun dihiasi tampang meledeknya. Seolah, kalimat-kalimat yang diajukan padanya tampak seperti sebuah candaan.
“Kalaupun aku di posisimu, aku takkan menjadi pengecut seperti dirimu.”
“Apa—”
“Kenapa?” tantang Eldrey. “Kalau suka ya suka saja. Kenapa harus memikirkan perasaan orang lain? Kalau mereka memang temanmu, mereka pasti akan memahamimu. Kalau tidak ya hapus saja dari daftar kenalanmu. Mudahkan?”
Tidak. Sepertinya, ada seseorang yang mirip dengan gadis di depannya.
“Kamu, entah kenapa terasa seperti Papaku. Saranmu terkesan menyuruhku harus bersikap egois.”
Tapi, raut wajah Eldrey yang santai justru berubah menekan.
“Lalu? Jangan munafik, Dean. Tidak perlu bersikap drama. Semua orang itu egois. Bukankah kau juga begitu? Melakukan hubungan dengan tiga gadis, walaupun duanya tanpa rasa, tapi kau juga egois.”
“Tidak. Aku dan Erin cuma—” kalimat tak lagi dilanjutkan karena putri Dempster tersenyum miring.
“Kenapa tidak dilanjutkan? Kau ingin bilang karena kasihan? Dan kasihanmu adalah pesakitan untuk mantan pacarmu. Jika kau memang mengasihaninya, seharusnya dari awal kau menolaknya saja. Tapi kau menerimanya, dan mendatangi aku serta Alice lalu menyatakan cinta. Omong kosong sebuah perselingkuhan yang kalian perbaiki namanya. Saling cinta?” Eldrey tertawa pelan.
“Aku tidak mengerti kenapa orang-orang masih bersikap naif bahkan jika sudah tahu bagaimana kenyataannya.”
“Kenapa kamu berkata seperti itu? Bukankah kamu mendukungku dan Alice?” tanya Dean dengan nada seperti tidak terima.
“Mendukung? Entahlah. Aku hanya penonton hubungan kalian. Drama kalian berdua tak ada hubungannya denganku. Kalian bercerita padaku, karena itu kuberi jawaban. Terserah kalian menganggapku sebagai teman atau pendukung kalian.”
Dean terdiam.
__ADS_1
Eldrey pun memasang senyum tipis sekarang. Seolah keduanya enggan lagi bersuara, ditambah perasaan Dean hanya bertambah kalut jika berbicara dengannya.
“Kau tahu, Dean?”
Putra Kendal langsung menoleh. Raut muka tenang yang tercetak di wajah putri Dempster, menyiratkan sesuatu yang tak bisa dipahaminya.
“Kau dan Alice, kisah kalian entah kenapa sangat mirip dengan drama orang tuaku. Si kaya dan si miskin yang saling mencintai namun terhalang restu.”
Ia lalu tertawa pelan.
“Tapi, hidup itu pilihan. Jika tak suka mati pun bisa dilakukan. Dan ayahku, memilih melepaskan semuanya demi orang yang dicintainya. Walau sekarang mereka berdua harus membayar harga atas keputusan yang dilakukan.”
Terbungkam. Polemik keluarga Dempster, orang-orang yang berasal dari keluarga pebisnis pasti tahu kisahnya. Begitu pula dengan Dean dan Ramses, karena gosip pengusaha raksasa seperti Betrand adalah sajian tontonan dulunya di televisi mereka.
Walaupun kenyataannya, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kerja keras seorang kepala keluarga untuk menuliskan namanya. Namun, mungkin tidak dalam kegagalannya menjadi seorang ayah bagi anak-anaknya.
Dan untung saja, itu tidak tersebar luas dan mengakibatkan Eldrey menjadi bahan tontonan mereka.
“Kalian berpikir apa yang kalian lakukan itu demi kebaikan. Entah untuk diri sendiri ataupun orang lain. Tapi nyatanya, beberapa orang tersiksa karenanya. Dan itu semua karena kalianlah yang menggerakkan rodanya.”
“Aku tidak mengerti kenapa semua keegoisan, selalu kalian sandingkan dengan kasih sayang dan cinta. Aku benar-benar tidak memahaminya.”
“Eldrey, apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?” Dean benar-benar tak mengerti dibuatnya.
Gadis itu perlahan menggerakkan tubuhnya menatap sempurna Dean yang menghadap ke arahnya.
“Bukankah sudah kukatakan? Karena kisah kau dan Alice, mirip dengan drama orang tuaku. Aku tidak bisa memahami mereka yang tidak di sisiku, karena itu aku mendekati kalian untuk mencari tahu.”
“Kamu—” Dean terkesiap mendengar perkataannya.
“Si kaya dan si miskin. Ibuku si miskin, begitu pula Alice. Wanita dengan latar belakang yang tak bisa dibandingkan dengan ayahku ataupun kau. Tapi mencoba menjadi cinderella yang jelas-jelas tak pantas disandang kaki mereka.”
“Nenek dan kakekku, ibarat Tuan Kendal yang tak menyetujui hubungan kalian. Padahal dia melakukan itu semua demi kebaikanmu ataupun ayahku. Tapi kenapa kalian tidak sadar akan itu? Tetap memilih orang miskin yang hanya akan menyusahkan hidup kalian.”
Dan Eldrey pun tertawa pelan.
“Tapi, ayahku memilih melepaskan statusnya sebagai pangeran di dalam keluarganya. Rela menempuh hidup kejam demi ibuku yang miskin dan merepotkan nasibnya. Tapi, nyatanya hidup mereka memang tidak baik-baik saja.”
Senyumnya kian berkibar.
“Lalu, bagaimana denganmu, Dean? Apa kamu juga akan melepaskan statusmu dalam tahta keluarga Kendal demi gadis seperti Alice? Aku, benar-benar menantikannya. Tontonan menarik yang mungkin saja alurnya berbeda dengan kisah orang tuaku. Kuharap, dramamu dan Alice tidak akan mengecewakanku. Bukankah karena itu aku membantu kalian?”
Lalu ia pun pergi dari sana sambil memamerkan senyum cerahnya.
Meninggalkan Dean dalam keadaan diam membisu. Sungguh ia benar-benar tak menyangka, jika temannya itu ternyata hanya menjadikan kisahnya dan Alice tak lebih dari sekadar hiburan semata.
__ADS_1