
“Hei Nona! Kau jalan tidak pakai mata?” tanya pria bertato dengan nada menekan namun mengibarkan senyum saat bicara.
Eldrey hanya diam, memandang tenang mukanya lalu melirik dua pria di sampingnya.
“Hei! Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak bisa minta maaf?” sambung rekan pria itu.
Eldrey masih diam. Tapi sekitarnya mulai berisik. Orang-orang memperhatikan mereka dan menjadikannya bahan tontonan. Tentu ada yang kasihan, namun tiga pria itu tampak menekan dan berbahaya jika dilawan.
“Lho, Rams? Bukankah itu Eldrey?” tunjuk Erin yang tak jauh dari mereka.
Ramses terbelalak, menyadari sosok cewek yang tadi menemani kakaknya sekarang seperti terlibat masalah. Sontak saja tubuhnya bergerak untuk menghampirinya.
“E-Eldrey?” panggil Fiona terbata-bata. Dirinya yang baru balik dari toilet yang tak jauh dari sana pun sangat kaget dengan pemandangan ini.
“Siapa lagi ini?” tanya pria bertato. Lalu tangannya pun menyentuh dagu Eldrey dan perlahan naik ke pipinya. “Kenapa kau diam saja? Kau tidak bisu kan, cantik?” tanyanya menyeringai.
“Hei! Lepaskan dia!” Fiona langsung menepis tangan pria itu dari wajah Eldrey sehingga membuatnya murka.
“Kau!” geramnya hendak menarik tangan Fiona namun tiba-tiba dihadang Ramses.
“Apa yang mau kau lakukan pada Kakakku?!” cegatnya dengan tatapan marah.
“Siapa lagi pendatang ini? Kau mau jadi pahlawan?” cela pria lainnya sambil menepuk-nepuk pipi Ramses.
Sungguh situasi ini terasa mencekam untuk mereka. Erin panik, takut terjadi sesuatu pada temannya sehingga ia mencoba mencari bantuan.
“Kenapa kalian diam saja? Hei kau tidak bisu kan? Kau sudah menabrak bahuku, seharusnya kau minta maaf!” kesal pria bertato sambil menarik tangan Eldrey kasar.
“Hei!” pekik Fiona kaget mencoba melerai. “Agh!” erangnya tiba-tiba karena didorong pria itu.
“Kakak!” Ramses pun spontan menolong kakaknya yang sudah jatuh.
“Itu akibatnya kalau berani menggangguku!” hardiknya sambil tertawa.
“Kak! Kakak baik-baik saja?!” tanya Ramses khawatir namun hanya sorot mata tajam yang diperlihatkan Fiona karena geram.
“Hei! Kenapa kau diam saja?! Apa harus kucium dulu agar kau bicara?!” ledeknya mulai menarik outerwear Eldrey.
“Kau!” teriak Ramses marah.
“Kenapa aku harus minta maaf?” suara Eldrey pun seketika mengheningkan suasana.
“Apa!” pria bertato itu melotot sambil memajukan wajahnya.
“Besar badanku cuma segini. Barisan kalian bertiga sudah menghambat jalanku, kenapa harus aku yang minta maaf? Kalau bicara itu jangan pakai mulut saja, otak juga,” lirihnya dengan suara menekan. “Kalau aku tidak menabrakmu, apa aku harus tabrak pohon ini?” tunjuk Eldrey ke arah batang kelapa dengan dagunya.
“Kau!”
“Sekarang lepaskan tanganmu dariku,” perintahnya tanpa takut sama sekali.
“Dasar kurang ajar!” hardiknya mengangkat tangan satunya yang tadi mendorong Fiona hendak menampar putri Dempster.
“Eldrey!” pekik Fiona dan Ramses hampir bersamaan.
“BUAGH!” suara dari dagu pria bertato yang dihentak Eldrey dengan telapak tangannya sehingga orang itu merintih kesakitan.
“Sialan! Dasar brengsek!” teriaknya marah di sela-sela pesakitannya.
Dan dua rekannya pun juga ikut emosi lalu berlari ke arah Eldrey.
“Eld—” panggilan dari Fiona itu langsung terpotong dengan adegan tak terduga.
Putri Moremans, dengan cepat menendang area vital salah satu rekan pria bertato tanpa ampun. Bahkan Ramses juga terbelalak melihat kejadian cepat yang terjadi.
“Kau!” geram pria bertato melihat rekannya kesakitan.
Tapi sepertinya Eldrey tidak takut sama sekali, kakinya pun langsung menendang pasir ke atas sehingga penglihatan lawannya terganggu.
Sontak ia putar tubuh rampingnya dan melayangkan tendangan ke wajah orang yang tadi mengatainya.
“He-hebat!” puji salah satu saksi kagum dengan gerakan Eldrey.
“Cukup sampai di sini cewek sialan!” bentak salah satu pria yang dari tadi belum menyerang dan berhasil menangkap tangannya.
“Eldrey!” teriak Ramses.
Tapi hiruk pikuk mulai berisik terlebih bantuan dari pihak keamanan yang dicari Erin datang.
“BUAGH!” Eldrey meninju pipi pria itu dengan tangannya namun terasa aneh.
“Wajah batu!” umpatnya jengkel dan menarik kerah baju laki-laki itu lalu menyerang perutnya dengan lututnya.
Pihak keamanan melerai mereka bersamaan dengan pengunjung di ujung sana yang juga berlarian menghampiri.
Kejadian berhasil diredamkan namun tidak dengan amarah tiga pria itu karena sudah dihajar dan dipermalukan putri Dempster.
Bahkan pria bertato itu bersumpah akan membalas dendam pada mereka karena Eldrey.
“K-kalian baik-baik saja?!” tanya Erin khawatir.
“Kami baik-baik saja. Oh ya, terima kasih karena sudah memanggil bantuan, Erin,” ucap Fiona padanya.
“Tidak masalah Kak. Syukurlah kalau kalian baik-baik saja.”
__ADS_1
Akan tetapi sepertinya ada yang tidak baik-baik saja. Yaitu ekspresi seorang pemuda yang menatap tajam putri Dempster.
“Eldrey,” panggilnya dengan nada suara berbeda.
Erin dan Fiona terdiam. Rasanya, ini pertama kalinya mereka merasakan suara dengan tekanan seberat itu dari sang pemuda.
“Apa harus begini?” tanya Ramses padanya.
“Apanya?”
“Menyelesaikan masalah.”
Gadis itu diam sejenak. Lalu memiringkan wajahnya, “ya,” jawabnya singkat tanpa keraguan.
“Bahkan dengan harus mengorbankan keselamatan diri?” nada suara Ramses mulai mengeras.
“Rams!” bentak Fiona karena kaget. Akan tetapi, lirikan tajam adiknya membuat sang kakak bergidik. Begitu pula Erin, ia takut bersuara karena Ramses benar-benar terlihat marah.
“Tak ada yang terluka kan?”
Sepertinya, jawaban tanpa dosa Eldrey berhasil menggelitik emosi laki-laki di depannya.
“Tapi Kakakku didorong mereka,” tekan Ramses. Perlahan ia maju dan memegang lengan Eldrey lalu mengangkatnya.
Tampak nyata, jejak merah bekas cengkeraman serta bekas luka samar dari sayatan yang pernah dilakukan Eldrey untuk menjebak Lily dan Naomi di lengan dan tangan kirinya.
Fiona dan Erin makin terbungkam tak bersuara.
“Apa ini yang kamu sebut tidak terluka?” ledek Ramses.
“Ya,” dan Eldrey pun menarik tangannya namun cengkeraman di lengannya makin menguat.
“Rams, lepasin Eldrey. Kamu menyakitinya,” pinta kakaknya namun diabaikan. “Rams!” bentaknya akhirnya.
Akan tetapi, dering di ponsel Fiona seketika mengganggu dirinya untuk menghentikan Ramses.
“Erick?” gumamnya menyadari siapa yang menghubungi. “Lepaskan Eldrey, Rams!” teriaknya lalu buru-buru mengangkat telepon agak menjauhi mereka.
“Kutanya sekali lagi, apa ini yang kamu sebut tidak terluka?”
“Berisik, lepas!” ronta Eldrey akhirnya. Tapi, Ramses justru malah menarik tangannya entah ke mana.
“Ramses! Eldrey!” pekik Erin karena ditinggalkan dan membuat Fiona kaget.
“Lho, apa yang terjadi?!”
“A-aku tidak tahu, Ramses langsung saja menariknya! Dia benar-benar terlihat marah Kak!” jelas Erin panik.
“Lepas keparat!” umpatnya.
Mereka pun mendatangi mobil Fiona dan Eldrey dipaksa masuk oleh Ramses tanpa peduli racauan aneh yang dilontarkannya.
“Dasar gila!” sambil memukul keras bahu pemuda itu yang membuat Ramses mendecih.
“Kenapa? Kamu takut? Mana keberanianmu yang tadi?” sindirnya tajam.
Napas Eldrey tampak memburu. Tapi ia memilih mengabaikan sosok di sebelahnya dan membuka pintu.
“Buka pintunya Ramses!” hardik Eldrey karena menyadari itu terkunci.
Tapi, hanya sorot mata tajam yang dilemparkan putra tuan Harel padanya.
“Kalau kau masih—”
“Apa?” potong Ramses tiba-tiba yang menarik lengannya. “Kamu mau apa jika aku tidak membukanya?” tantangnya tanpa melembutkan tatapan.
Entah kenapa, sudut hati Eldrey merasa aneh. Pegangan Ramses padanya seperti membisikkan sesuatu, kalau dirinya takkan menang adu fisik dari laki-laki itu.
Instingnya berbicara jika sosok di depannya sama seperti Charlie. Laki-laki ini kemungkinan ahli dalam pertarungan.
Eldrey mengalihkan tatapannya. “Aku tak tahu kau kenapa, tapi aku mau pulang,” suaranya tak menekan seperti tadi.
“Tak tahu aku kenapa?” Ramses pun tertawa remeh. Segera ia hidupkan mesin mobil dan melajukannya entah ke mana.
“Lho! Lho! Mobilku!” pekik Fiona kaget melihat kepergiannya.
“Sekarang bagaimana Kak? Itu pasti Ramses! Dia mau bawa Eldrey ke mana?”
“Aku juga tidak tahu! Dia kenapa semarah itu sih?!” panik Fiona sambil memainkan ponsel mencoba menghubungi adiknya. Tapi semua sia-sia.
Ramses tak berniat mengangkatnya.
“Sial!” umpatnya.
Sementara Eldrey, terdiam saat mobil dihentikan di sebuah vila. Lokasinya tak jauh dari pantai tadi, tapi ini bukan tempat yang ingin dikunjunginya.
“Kenapa kemari?” tanyanya namun diabaikan Ramses yang keluar mobil duluan.
“Turun,” perintah Ramses setelah membuka pintu samping Eldrey. Gadis itu makin menatap masam wajahnya. “Turun Eldrey,” tekan laki-laki itu.
Entah kenapa nada suaranya tidak selembut sebelumnya. Putri Dempster pun turun dengan tampang kesalnya.
“Hei! Kalau kau tidak niat mengantarku ya bilang saja. Aku bisa hubungi Charlie,” ketusnya sambil mengambil ponsel di saku.
__ADS_1
Akan tetapi, tanpa aba-aba sontak Ramses menggendong Eldrey di bahunya.
“Brengsek! Turunkan aku brengsek!” kaget Eldrey karena diperlakukan seperti itu.
Begitu keduanya memasuki vila dan mulut Eldrey yang masih mengeluarkan makian memenuhi ruang tamu, langsung saja Ramses menurunkan gadis itu di sofa.
Gadis itu pun menatap tajam putra Tuan Harel dengan bangkit dari sana.
Tapi, entah kenapa Ramses juga membalas dengan ekspresi sama dan mendorong serta menekan tubuh Eldrey yang ditindihnya.
“Sekarang apa? Mana keberanianmu yang tadi?” tanyanya. Suaranya berat dan dingin, terlebih lagi ini bukan sosok Ramses yang ia kenal.
“Kau kenapa?”
“Apa kamu tidak tahu bagaimana posisimu sekarang?”
“Kau marah? Tapi kakakmu tidak apa-apa kan? Atau kau ingin kuberikan ganti rugi untuk kakakmu?”
Seperti air yang disiramkan ke wajah Ramses. Apa gadis ini benar-benar tidak tahu apa sumber masalah sebenarnya?
“Kamu—” pemuda itu hanya bisa tertawa jengah. Dia pun bangkit di posisinya lalu duduk di samping Eldrey yang menatap datar mukanya.
Entah seperti apa perasaannya, tapi Ramses pun mengacak-acak kasar rambutnya frustrasi.
“Dasar aneh,” lirih Eldrey lalu memainkan ponselnya. Akan tetapi, Ramses yang menyadari itu seketika merebutnya. “Hei!”
Dilirik Ramses layar ponsel, tertera nama Charlie yang akan dihubungi Eldrey.
“Kalau seandainya orang-orang tadi melakukan sesuatu padamu bagaimana? Kamu itu perempuan Rey!” laki-laki itu akhirnya mengeluarkan kekesalannya.
“Melakukan apa? Lagi pula aku baik-baik saja.”
“Tanganmu seperti itu kamu bilang baik-baik saja?”
“Ya. Memangnya aku salah? Kenapa kau marah tidak jelas begini?”
Hembusan napas kasar pun sontak dihempaskan Ramses karena tak percaya dengan sikap gadis di sebelahnya.
“Wajar saja kan kalau aku marah! Kalau seandainya terjadi apa-apa padamu bagaimana? Kamu itu perempuan Rey! Iya kalau ada yang menolong! Tapi kalau tidak bagaimana? Sikapmu itu akan membuatmu dalam bahaya! Kamu itu paham tidak sih kalau aku ini sedang khawatir!”
Eldrey pun tertawa pelan. “Lalu apa? Kalau dalam bahaya ya mau bagaimana lagi. Lagi pula aku baik-baik saja. Berhentilah membahas hal konyol seperti ini, sekarang kembalikan ponselku Ramses.”
Tak habis pikir. Pemuda ini benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana bicara dengan Eldrey. Padahal dia sangat cemas tapi gadis ini terasa bebal. Merasa bersalah pun tidak, mengingat ulahnya tadi hampir saja mencelakakan dirinya dan Fiona.
“Kamu mau pulang kan? Aku akan mengantarmu,” lirih Ramses akhirnya.
“Aku akan pulang dengan Charlie.”
“Aku akan mengantarmu,” tekan Ramses akhirnya lalu memasukkan ponsel Eldrey ke sakunya.
Selesai memberi tahu Fiona, Ramses benar-benar mengantarkan Eldrey pulang. Keduanya lupa, kalau baju ganti Eldrey serta tasnya masih di kamar Hotel.
Tapi jengkel tetap berbicara, tak ada satu pun yang bersuara sampai akhirnya bunyi perut Eldrey memecah keadaan.
“Kamu lapar?”
“Iya.”
“Ya sudah, ayo makan dulu,” sontak mobil langsung ditepikan. “Kamu tidak masalahkan makan di pinggir jalan?” tanya Ramses saat Eldrey sudah turun.
“Tak masalah,” Eldrey pun berjalan duluan.
“Hei! Bukannya kita mau makan?” karena gadis itu tidak memasuki restoran cepat saji di dekat mereka.
“Aku ingin coba jajanan pinggir jalan,” jelas Eldrey tanpa menoleh.
Ramses hanya bisa menghela napas pelan dengan sikap gadis itu.
Keduanya sama-sama berhenti di stan yang menyajikan dango. Eldrey tertarik, dan memesan dua tusuk lalu menoleh ke arah Ramses.
“Apa?”
“Bayar. Tasku ketinggalan di kamar Hotel.”
Ramses mengangguk dan membayarnya untuk Eldrey. Sontak ia terdiam begitu gadis itu menyodorkan salah satu dango padanya.
“Baiklah, terima kasih,” angguknya lalu ikut memakannya seperti gadis itu. “Aku akan suruh kakakku membawakan tas dan bajumu.”
Putri Dempster tak menjawabnya. Mereka terus melanjutkan langkah dan mencicipi aneka jajanan, sampai akhirnya sosok tak terduga berpapasan dengan keduanya.
“Rams, Eldrey,” sapa pemuda itu agak kaget.
Bahkan Ramses juga berekspresi sama, namun ia lebih memilih diam.
“K-kalian kencan?” tanya sosok itu agak ragu.
“Tidak, kami sedang jajan,” jawab putri Dempster santai. Terlihat ia sedang mencelupkan churros ke kotak kecil yang berisi selai coklat. “Mau?” sodornya.
Dean terdiam. Diliriknya putri Dempster yang berdiri di hadapan, sampai akhirnya tanpa suara wajahnya maju dan mulutnya menggigit churros yang masih dipegang Eldrey.
Sontak Ramses pun terbelalak dengan tontonan yang disajikan tepat di depan matanya.
__ADS_1