FORGIVE ME

FORGIVE ME
Keanehan


__ADS_3

Langkah Eldrey terhenti di sebuah halte. Namun ia memilih menyeberangi jalan  seperti orang yang kehilangan arah. Tetap berjalan menuju ke tempat kereta api bawah tanah. Pandangannya lurus ke depan, namun ekspresinya datar. Sorot matanya tidak lagi sama seperti saat ia keluar dari rumah.


Ia hanya melangkah tanpa menaiki kereta api. Entah ke mana arah kakinya, kelelahan tidak tampak menghampiri. Sudah lebih setengah jam ia berjalan, sampai akhirnya Eldrey tiba di depan gerbang Ertera. Ia masuk ke sana, menatap hamparan bunga poppy dan iris tanpa kagum.


Duduk di sebuah kursi kosong tanpa rasa gairah di diri. Lalu-lalang orang-orang yang menikmati pemandangan bahkan tak mengganggunya. Kebisingan di sana tak mengusik pandangannya, hanya saja ekspresinya masih tetap sama.


Dua orang perempuan yang sedang bercengkerama pun langsung terhenti perbincangannya. Karena salah satunya menoleh bingung saat menatap Eldrey.


“Fiona? Ada apa?”


“Itu, ada seseorang yang kukenal.”


“Benarkah?”


“Ya,” ia pun menghampiri Eldrey. “Hai! Bukankah kamu si penyelamat adikku? Sedang apa kamu di sini?” saat menyadari kursi roda tak ada di dekatnya.


Tak ada jawaban, Eldrey masih memandang ke depan seolah tak peduli kehadirannya. “Hai, kamu baik-baik saja?” ia pun menyentuh bahu Eldrey. Gadis itu akhirnya berpaling, menatap Fiona sambil memiringkan wajahnya. “Kamu di sini sama siapa?”


“Siapa?”


Fiona terdiam, ia kaget saat ditanya seperti itu oleh Eldrey. “Kamu tidak ingat aku? Aku kakak Ramses! Kemarin kita bertemu di rumahmu.”


“Ramses ... Iya, aku ingat.”


“Apa ini? Apa yang salah dengannya?” batin Fiona. Sementara seorang perempuan yang tadi bersama Fiona tiba-tiba menerima panggilan dari tunangannya.


“Fiona! Ayo balik! Nanti aku harus pergi dengan Samuel ke rumah orang tuanya!” ajak perempuan itu. Fiona mengangguk padanya, tapi ia tak bisa mengalihkan perhatian dari Eldrey yang terasa aneh itu.


“Kamu dengan siapa di sini?” tanya Fiona lagi.


“Sendiri.”


Tapi suara perutnya yang merona akibat tak diisi sejak kemarin tambah mengganggu Fiona sehingga ia tersenyum. “Kamu belum makan?”


“Belum.”


“Kenapa?”


“Aku tak bawa uang.”


Fiona tertawa pelan, merasa kalau gadis di depannya terasa sangat polos dan lucu. “Ayo ikut aku!” ajaknya menarik tangan Eldrey. “Kursi rodamu mana?”


“Tidak ada.”


“Terus kamu ke sini gimana?”


“Jalan,” balasan singkat Eldrey membuat Fiona tak berkedip.


“Be-begitu ya.”


“Fiona!” panggil perempuan itu lagi.


“Iya-iya! Ayo!” ajaknya pada Eldrey.


“Gadis ini?” tanya perempuan itu pada Fiona.


“Dia belum makan, jadi aku akan membawanya makan.”


Perempuan itu menatap Eldrey yang berjalan santai di sampingnya. Merasa sedikit aneh dengan raut wajah datar yang tak menoleh sedikit pun. “Ya sudah, makan di apartemen saja. Di kulkasku banyak bahan, ini juga, jadi kamu masak saja, tapi tolong kamu bawa ini sama kamu ya. Sebab aku mau ketemu Samuel sekarang.” Perempuan itu menyodorkan bungkusan berukuran sedang pada Fiona.


“Eh!” Fiona tampak enggan.


“Ayolah! Masa kamu gak mau bantu sih, sepupu masa begini.”


“Mmm! Iya-iya!” Mereka pun akhirnya berpisah. “Maaf ya, tapi biar aku buatkan makanan untukmu nanti,” tukasnya pada Eldrey.


Eldrey dan Fiona menaiki taksi menuju apartemen perempuan tersebut. Bagaimanapun juga, perempuan itu adalah sepupu Fiona, jadi ia bisa masuk seenaknya ke apartemen itu.


Saat sudah sampai, Eldrey hanya mengikuti langkah kaki Fiona tanpa berbicara. Memasuki lift ke lantai atas tanpa ragu atau curiga.


“Aku sering menginap di sini,” tukas Fiona saat membuka pintu. Ia mengeluarkan isi bungkusan yang dititipkan perempuan tadi secara terburu-buru. “Kamu istirahatlah dulu di sana,” ucapnya pada Eldrey.

__ADS_1


Eldrey menurutinya, merebahkan diri di sofa begitu saja. Satu jam kemudian, makanan yang dijanjikan Fiona sudah siap. Ia menghampiri Eldrey, saat menyadari kalau gadis itu terlelap, ia pun mengurungkan niatnya.


“Tampaknya dia kelelahan.” Fiona pun menghubungi Ramses untuk mengatakan siapa yang sedang bersamanya sekarang.


“Halo, ada apa?” saat panggilan sudah terhubung.


“Hei! Apa kamu tahu siapa yang sedang bersamaku sekarang?”


“Siapa? Pacarmu? Bukan urusanku!” ketus Ramses.


“Hei! Tentu saja pacarmu!”


“Pacarku?! Aku gak punya! Kakak jangan ngawur!”


“Aku gak ngawur bodoh! Aku sedang bersama Eldrey sekarang!”


“Eldrey?”


“Iya!”


“Jangan bercanda, lagi pula kenapa dia bisa bersama kakak?!” Ramses masih tak mempercayai perkataan Fiona.


“Aku bertemu dia di Ertera! Jadi aku membawanya ke apartemen Stella!”


“Yang benar saja!”


“Kalau kamu gak percaya ke sini saja! Lihat dan buktikan sendiri!” Fiona pun memutus panggilan. Dengan terburu-buru Ramses mengambil kunci mobil untuk pergi ke sana.


Fiona pun meninggalkan Eldrey yang tertidur menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya.


Setengah jam kemudian Ramses akhirnya datang, ia mengetuk pintu dan tak ada jawaban. Sampai akhirnya ia pun masuk tanpa izin. Lagi pula itu apartemen kakak sepupunya dan tak dikunci.


“Kak? Kakak?” panggilnya dan tak ada jawaban. Ia tetap melangkah masuk, sampai akhirnya mendapati seorang gadis yang sedang tertidur di sofa.


“Eldrey?” Saat menyadari kalau apa yang dikatakan kakaknya memang benar. Ramses melirik ke arah kaki Eldrey yang dibalut perban. Kursi roda miliknya pun tak tampak, membuat Ramses semakin heran.


Ia akan menyentuh bahu Eldrey untuk membangunkannya, namun itu terhenti karena kakaknya yang baru keluar dari kamar mandi. “Sudah datang? Benarkan apa yang kubilang?”


“Kenapa dia di sini?”


“Panaskan saja nanti, mana kak Stella?”


“Sedang pergi dengan tunangannya.”


Ramses kembali menatap Eldrey, ia benar-benar tak menyangka jika gadis itu akan jalan-jalan dengan kaki terluka itu. “Apa dia baik-baik saja?” batin Ramses yang masih tak yakin dengan pernyataan kakaknya kalau Eldrey agak aneh.


Eldrey akhirnya bangun juga setelah tiga jam tertidur. Ia menatap sekelilingnya tanpa merasa aneh. “Hei! Sudah bangun?” tanya kakak Fiona yang sedang bermain ponsel itu. “Tadi Ramses ke sini, tapi sekarang dia keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Benar juga, kamu belum makan bukan? Ayo, akan kupanaskan makanannya.”


“Kakak,” panggil Eldrey mengagetkannya.


“Ya?”


“Apa aku boleh pinjam uang? Nanti akan kuganti.”


“Hah?” Fiona terheran-heran mendengarnya. Gadis seperti Eldrey meminjam uang padanya? Apa tak salah? Setidaknya itulah yang tertulis di batinnya. “Boleh, tentu saja boleh. Tapi buat apa?”


“Aku perlu uang untuk menginap di hotel,” jelasnya jujur.


“Begitu?” Pemikiran Fiona langsung melayang-layang mendengarnya. “Apa dia kabur?” batinnya. “Kalau begitu, kenapa kamu tidak menginap di sini saja? Lagi pula hanya ada aku dan sepupuku.”


Eldrey tak menjawab, ia memutar pandangan seolah sedang berpikir sejenak. “Baiklah, jika diizinkan.”


“Tentu saja. Oh ya, akan kupanaskan makananmu.” Selagi memanaskan makanan, Fiona pun memandang Eldrey yang seperti bocah polos. Rambutnya kusut, dan hanya memandang ke jendela dengan wajah datar yang masih sama seperti sebelumnya.


“Apa kamu ingin mandi? Kalau iya akan kusiapkan pakaian ganti. Tenang saja, sepupuku punya persediaan dalaman baru, jadi kamu gak perlu bingung. Hhahahaha walau mungkin saja tidak pas, tapi yang penting ada,” tambahnya. Eldrey hanya mengangguk dan Fiona pun segera pergi ke kamar Stella untuk mengambil pakaian ganti bagi Eldrey.


Lalu ia pun memberikannya. Di kamar mandi Eldrey hanya diam setelah meletakkan pakaian ganti tersebut. Memandang kosong pada shower yang sudah mengalirkan air ke tubuhnya.


Ramses akhirnya kembali, ia membawa sebungkus besar cemilan pesanan kakaknya. “Rams! Akhirnya kamu datang.”


“Kenapa?” tanya Ramses heran.

__ADS_1


“Aku mau bertemu pacarku sebentar. Jika Eldrey sudah selesai mandi, kamu suruh dia makan ini. Dia belum makan.”


“Mmm, iya-iya.”


“Tenang saja, aku cuma pergi satu atau dua jam. Eldrey akan menginap di sini, dan Stella juga sebentar lagi pulang.”


“Ya.” Seperginya Fiona, Ramses pun sibuk memainkan game di ponselnya. Cukup lama ia bermain, sampai akhirnya setengah jam pun sudah lewat.


“Makanannya dingin lagi.” Ramses menoleh ke arah makanan untuk Eldrey. “Apa perempuan memang lama kalau mandi?” batinnya.


Sudah hampir satu jam dan Eldrey masih belum selesai mandi. Ramses pun mengetuk pintu kamar mandi. “Rey? Makananmu sudah dingin!” sahutnya dari balik pintu. Tak ada jawaban, suara shower yang hidup juga tak terdengar.


“Rey! Jangan lama-lama! Nanti kamu bisa kedinginan.” Ramses pun kembali ke tempatnya semula sambil geleng-geleng kepala.


Sudah 10 menit berlalu sejak ia mengetuk pintu kamar mandi, merasa aneh ia mengulanginya kembali.


“Rey, kamu sudah selesai mandinya?” Tapi hasilnya masih sama, tak ada jawaban yang di dapat. “Rey! Eldrey? Kamu lagi ganti baju?” ekspresi Ramses sedikit berubah karena gadis itu masih tak menjawab.


“Rey! Kuhitung sampai tiga, kalau kamu masih gak jawab kubuka pintunya ya. Satu! Dua!” dan pintu pun terbuka. “Hei! Kamu membuatku ...” Ia tak melanjutkannya. “Eldrey?” Pemandangan di depannya benar-benar membungkamnya, di mana gadis itu basah kuyup dengan pakaian yang masih melekat di tubuhnya.


“Aku ganti baju dulu,” Eldrey menutup pintu tanpa mendengar jawaban Ramses. Ramses masih terdiam di depan pintu, merasa aneh melihat Eldrey yang seperti itu.


Pintu kembali terbuka, dengan Eldrey yang sudah selesai mengganti pakaiannya. Tampak Ramses duduk di kursi tak jauh dari sana memandang lekatnya. “Rey!” Ramses menghampirinya. “Rambutmu basah,” ucapnya menyentuh rambutnya. “Kamu kenapa?” tapi gadis itu tak menjawab atau menatapnya. Perban yang membalut luka di kaki dan tangannya juga sudah tak ada, membuat Ramses semakin heran.


“Aku harus pergi, sampaikan terima kasihku pada kakakmu,”  tukas Eldrey.


“Hah? Apa maksudmu?” tapi gadis itu sudah melangkah pergi. “Rey! Kamu kenapa sih?” Ramses memegang tangannya, namun Eldrey menepis kasar sambil tetap jalan. “Eldrey!” Ramses menarik kasar tangannya, dan akhirnya gadis itu berhenti juga.


“Apa kata-kataku kurang jelas?”


“Bukan itu! Bukankah kamu sangat aneh? Rambutmu masih basah dan kamu ingin pergi?”


“Ya, lagi pula apa yang aneh dengan itu?” Eldrey menyentuh rambutnya dan memperhatikan ujungnya yang masih meneteskan air. Ramses menarik tangan yang memegang rambut itu dan memperhatikannya dengan tajam.


Eldrey menarik kasar tangannya, namun pegangan Ramses tak terlepas dan malah semakin erat memegangnya. “Apa-apaan luka ini?”


“Bukan urusanmu,” lirih Eldrey.


“Rey! Tunggu dulu!” tahan Ramses namun tak didengarkan. Gadis keras kepala itu membuat Ramses kehilangan kesabaran. Sampai ia menarik tangan Eldrey dan menggendongnya.


“Turunkan aku br*ngs*k!” teriak Eldrey. Ramses pun menurunkan Eldrey di sofa.


“Wow! Kenapa kamu marah begini?” Ramses menatap heran padanya yang menatap tajam. “Lukamu masih belum sembuh! Dan kamu mau ke mana? Bukankah kamu mau menginap di sini?”


“Persetan dengan itu!”


Ramses semakin kaget mendengarnya. Seperti kata kakaknya, Eldrey benar-benar tampak aneh. Gadis itu spontan mengangkat tangannya yang hampir saja memukul wajah Ramses. “Rey! Kamu kenapa sih!” Ramses menahan tangannya.


Emosi Eldrey memburu, merasa aneh saat menatap wajah Ramses. Seolah-olah orang yang ada di depannya itu bukan dia. Ia pun tersadar, menghela napas yang naik turun dan memegang kepalanya.


“Rey!”


“Berhentilah berteriak, aku mendengarmu!”


Ramses terdiam, tapi keanehan yang diperlihatkan Eldrey benar-benar membuatnya heran dan bertanya-tanya. Ia pun berdiri, mengambilkan minum untuknya dan menyodorkannya.


Ramses tak bicara, namun memandang lekat Eldrey yang menatap minuman di tangannya. Ekspresi Eldrey sekarang tampak lebih tenang. “Aku akan mengeringkan rambutmu,” tukas Ramses mengambil handuk.


Ia mengeringkan rambut Eldrey yang menghadap padanya, keduanya sama-sama tak bicara selain menatap ke arah yang berbeda. Ramses pun memalingkan wajahnya, saat dirinya merasa aneh menatap wajah Eldrey yang tenang.


“Hentikan, aku lelah,” pungkas Eldrey menyentuh tangan Ramses untuk berhenti.


“Tapi rambutmu!”


“Kubilang berhenti,” tangan Eldrey bergetar membuat Ramses semakin bertanya-tanya karena menyadarinya.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2