
Mendengar itu sontak saja Kevin menepis kasar tangan Samuel agar tak menyentuh kekasihnya.
“Pertunangan? Jangan mimpi.”
Putra Jackson hanya terkekeh, lalu menatap angkuh kepada putri Dempster. “Aku tak peduli apa hubunganmu dengan kedua laki-laki itu. Tapi, jaga dirimu karena sebentar lagi kamu akan jadi milikku. Ingat itu,” tanpa aba-aba diusapnya bibir Eldrey sekilas dengan jempolnya. Mengejutkan penontonnya karena ia tanpa keraguan menempelkan jejak di jari ke bibir sendiri. Seperti ciuman tak langsung di antara mereka.
“Kau—”
Tapi ucapan Kevin terpotong akibat Samuel sudah pergi. Bahkan sempat-sempatnya ia mengedipkan mata sekilas sebelum berlalu. Semakin memburu emosi dan menjengkelkan hati.
Karenanya putra Cesar pun melakukan tindakan tak terduga. Tangannya mengusap bibir Eldrey seolah ingin menghapus tanda tadi.
“Kenapa kamu diam saja? Dia sudah lancang,” tanya Kevin masih dengan perasaan kesalnya.
“Memangnya apa yang dia lakukan?”
Terdiam. Kevin dan Ramses dibuat tak bisa berkata-kata. Apa yang baru saja dilontarkannya? Benar-benar mengusik ketenangan.
Sosok yang menyebutnya sebagai kekasih pun memegang kedua bahunya. “Eldrey, dia itu sudah sangat keterlaluan. Bisa-bisanya dia menyentuh bibirmu dan mengatakan kamu calon tunangannya.”
“Hanya calon, bukan suamiku bukan?”
Seperti tanpa beban. Tapi yang pasti Kevin tidak suka mendengarnya. “Kalau seandainya kalian bertunangan bagaimana?”
“Tak masalah selama tidak jadi suamiku.” Eldrey pun menepis tangan Kevin agar tak menyentuh bahunya. “Aku pergi.”
Tanpa menunggu persetujuan mereka putri Dempster berlalu dari sana. Tapi napasnya tercekat saat bertemu seseorang yang baru saja turun mobil tak jauh di depannya.
Charlie, sang tangan kiri ayahnya.
“Ayo,” ajaknya sambil membukakan salah satu pintu mobil bagian penumpang. Tentunya gadis itu menyipitkan matam, merasa heran bagaimana bisa ia ditemukan. “Tak perlu kaget, temanmu yang memberitahuku.”
Seketika Eldrey menoleh ke belakang. Mendapati dua pemuda yang tadi ditinggalkan masih berdiri di posisi sebelumnya. Akhirnya ia tahu siapa pelakunya, di antara mereka ada sesosok dengan senyum canggung menatap ke arahnya.
Ramses Turner, dialah laki-laki yang telah melaporkan keberadaannya pada bawahan Presdir Betrand.
Tanpa mengatakan apa-apa gadis itu pun berbalik melewati Charlie dan membuka pintu mobil bagian kemudi.
“Biar aku yang menyetir.”
“Baiklah,” setuju pria itu. Ia pun melambaikan tangan pada Ramses dan Kevin. Entah apa maksudnya namun rupa-rupanya ada seorang bawahan Charlie mendekati keduanya. Menawarkan tumpangan pada mereka akibat sudah memberitahu keberadaan Eldrey sebelumnya.
“Presdir depresi.” Dua kata berhasil mengalihkan atensi putri Dempster yang sedang mengemudi. “Nyonya tak berhenti menangis dan Evan mengurung diri. Apa kamu sudah puas? Nona.”
Tak ada jawaban kecuali kebungkaman darinya. Entah apa yang dipikirkan Eldrey tapi Charlie sepertinya masih tak ingin berhenti bersuara.
“Jadi apa yang kamu inginkan?”
Laju mobil kian cepat. Tampaknya gadis itu benar-benar tidak ada niat menjawabnya. Kelihaiannya dalam mengemudi memang harus diakui skillnya. Menyalip kendaraan seolah punya banyak nyawa. Dan Charlie sebagai penumpang di sampingnya terlihat tak takut jika mereka celaka.
__ADS_1
“Kamu pasti takut bukan? Menerima kasih sayang mereka. Karena kamu tak ingin lagi hancur seperti sebelumnya.”
Seketika gadis itu menginjak pedal rem sehingga jejak ban di jalanan tampak memanjang. Bahkan asap muncul dari gesekan dengan aspal yang sangat dipaksakan.
Dia menoleh dengan ekspresi datar andalan. “Apa aku terlihat seperti itu?”
“Apa aku salah?” Bunyi klakson memudarkan tatapan Eldrey pada Charlie. Mereka yang berhenti seenak perutnya di tengah jalan jelas mengganggu kendaraan di belakang. Sosoknya kembali melajukan mobil. Namun dengan kecepatan sedang. “Memang butuh waktu untuk membuka hati. Tapi, kamu juga berhak menerimanya, Nona. Bagaimanapun kalian keluarga. Dan kasih sayang itu pantas kamu terima sebagai tuan putri di antara mereka.”
Sekarang, Eldrey menghentikan laju mobil tepat di dekat pelabuhan. Andai dia terus maju dipastikan akan menabrak pembatas jalan dan menyentuh perairan.
Sosoknya turun dari mobil tanpa mengatakan apa-apa. Melihat pemandangan yang jarang dinikmatinya.
“Pulanglah. Memang menyakitkan, tapi ayo tata ulang semuanya. Kamu bisa belajar lagi menerima semuanya. Tak perlu melupakan masa lalu, kamu hanya perlu merangkai masa depan agar bisa tersenyum seperti dahulu. Kamu tidak lupakan? Bagaimana caranya menampilkan guratan itu di bibirmu.”
Menyentuh sebenarnya jika diresapi orang-orang normal. Tapi bagi Eldrey yang mendengarkan itu jelas-jelas mengusik perasaan.
Hembusan angin kasar begitu menerpa dirinya. Menggoyangkan surai sehingga tampak indah untuknya. Walau diam masih menemani, hatinya jelas gundah. Kalimat Charlie lambat laun menyusup agar memeluk emosi.
Berbisik agar tak mati dan mengulurkan tangan untuk meraih impian yang telah bersembunyi.
Hasratnya yang terpendam di sudut hati jelas ingin merasakan kebahagiaan seperti orang-orang normal di depan mata.
Tapi, bagaimana dengan masa lalunya? Ingatan yang sudah menghancurkannya sudah pasti enggan meninggalkannya. Akankah dirinya baik-baik saja? Di saat sakit hati keinginan untuk melukai tak bisa di hentikan.
Ia benar-benar tak tahu apa tujuannya sekarang. Perubahan Betrand sangat tidak menyamankan. Bahkan jika ingin menghancurkan tapi kesadaran menahan. Tubuhnya bergetar hebat saat ambisi tertahankan.
“Nona?” panggil Charlie.
Perlahan namun pasti gadis itu menoleh padanya. “Andai kamu ayahku, aku penasaran bagaimana nasibku.”
Pria itu terkekeh. Dari pelan hingga mengeras. Tangan kanannya bergerak menawan, menyisir rambut ke belakang mirip seperti yang sering Eldrey lakukan.
“Maka kamu akan jadi pembunuh dan buronan.” Senyum meremehkan tercipta sebagai balasan. Gadis itu tertunduk mendengar jawabannya. Tapi tiba-tiba ia tersentak. Saat tangan Charlie menyentuh kepalanya. Mengelus lembut begitu perhatian. “Buka hatimu. Percayalah, semuanya pasti akan terasa berbeda. Biarkan kasih sayang menyelimutimu. Karena jika kamu terluka lagi, aku sendiri yang akan membalas mereka sebagai ganti dirimu. Kamu percaya padaku bukan?”
Katakanlah. Eldrey tidak menyuarakan apa-apa. Namun dirinya tak membantah ucapan Charlie yang berusaha membujuknya. Walau hanya ikatan seperti bawahan dan putri majikan, tapi kedekatan mereka memang tak bisa dikacaukan.
Akhirnya Eldrey mengangguk pelan karenanya. Bagaimanapun sosoknya tidak akan pernah lupa kalau Charlie adalah orang yang selalu bersamanya. Dan dia ada sebagai pendengar di kala putus asa.
Dan karena dirinya juga Eldrey menemukan obat untuk meredakan rasa sakit serta sesak di dada. Sampai akhirnya ia mengidap self-injury walau itu bukanlah cara terbaik untuk menangani kondisinya.
Setidaknya bagi putri Dempster, sosok Charlie cukup bermakna dalam hidupnya.
“Berarti sekarang kita pulang kan?”
Hanya saja Eldrey menunduk tanpa meresponsnya. Pria itu tersenyum dan menarik tangannya. Sekarang Charlie lah yang mengemudi dan Eldrey sebagai penumpang.
Melewati jalanan menuju lokasi yang menanti kepulangan. Di mana para Dempster dan penghuni lainnya sedang menunggu tuan putri mereka untuk datang.
Di satu sisi, Ramses menolak tawaran bawahan Charlie untuk mengantarnya pulang. Ia memilih menumpang pada Kevin walau tampang keduanya sama-sama dirundung keanehan.
__ADS_1
“Jangan berpacaran dengannya jika kamu hanya main-main saja.”
Rasanya menjengkelkan dan Kevin menatap Ramses dengan muka masam.
“Jawab aku Kak Ramses, apa mungkin kamu menyukai Eldrey?”
“Kami hanya berteman, Kevin.”
“Lalu kenapa kamu berkata seperti itu? Setidaknya support aku jika kamu memang temannya. Aku benar-benar serius padanya.”
Putra Harel dilanda kebimbangan. Ia tak tahu harus mengatakan apa lagi, walau dirinya menganggap Eldrey seorang teman tapi kenapa rasanya mengusik perasaan? Dirinya benar-benar tak rela kalau Kevin berpacaran dengannya.
Batinnya berbisik lebih baik Eldrey tidak berhubungan dengan laki-laki mana pun juga.
“Kak?” panggilan dari Kevin membuyarkan pandangannya. Terlebih kendaraan sudah terhenti tepat di depan pagar kokoh kediaman keluarga Turner.
“Ayo mampir dulu.”
“Lain kali saja. Aku masih ada urusan,” ucap Kevin padanya.
Ramses pun tersenyum. “Terima kasih karena sudah memberiku tumpangan.”
Tapi balasan dari Kevin sebelum sosok itu menutup pintu mobil benar-benar di luar perkiraan. “Kamu tidak menyukai Eldrey kan?”
Jujur Ramses terkesiap. Di saat ia dilanda kebingungan suaranya seolah tertahan untuk membalas ucapan. Bahkan butuh sejenak waktu baginya dalam menjawab pertanyaan. “Dia teman dan sudah seperti adik bagiku.”
“Baguslah. Aku menyukainya jadi kuharap tak ada lagi saingan berat seperti kamu yang menaruh hati kepadanya. Kalau begitu aku pulang dulu, sampai bertemu lagi Kak Ramses,” pamit Kevin sambil memamerkan senyuman tipis pada teman kakaknya itu.
Tapi laki-laki itu terdiam dan tertahan di posisinya. Ia menatap kepergian Kevin yang menjauh dari kediamannya.
“Sial, kenapa rasanya tidak nyaman begini?” umpat Ramses sambil mengusap kasar kepalanya.
Dan begitu memasuki rumah ia disambut oleh tatapan kaget sang ibu yang langsung mencegahnya.
“Nak! Kamu dari mana saja?! Kata Papa kamu menginap bersama Eldrey di Hotel! Kamu tidak apa-apa kan? Tidak terjadi hal yang aneh-aneh kan?!”
“Mama,” ia pun menghela napas pelan karena banyaknya pertanyaan yang terlontar dari Ibunya.
“Kenapa? Tidak terjadi hal yang aneh-aneh kan?”
“Ayolah, Ma. Memangnya apa yang akan terjadi? Aku bukan bajingan.”
“Hush! Apa yang kamu katakan?! Maksud Mama bukan itu! Mama dengar Eldrey itu kabur jadi mana tahu dia melakukan hal aneh seperti mencoba bunuh diri.”
“Ya ampun. Sepertinya Mama terlalu banyak menonton film jadi mengada-ada seperti in—”
“Ramses,” panggilan itu seketika memotong ucapannya. Dan membuat ibu serta anak itu menoleh pada sumber suara.
Di mana seorang pria dengan setelan rapi di badannya menatap lekat sang putra. Ramses pun meneguk ludah kasar akibat lirikan mata sang ayah yang terasa menekan untuknya.
__ADS_1