
Jika ditanya apa yang diinginkan Eldrey, ia juga tak tahu. Secara pasti gerak tubuh untuk kabur itu terjadi akibat instingnya.
Selalu begitu, saat mendengar kabar para Dempster akan datang menemuinya sosoknya juga kabur. Bersama Emily, memilih melalang buana entah ke mana dan akhirnya mereka dengan rindu luar biasa hanya bisa diam di posisinya.
Tak ingin memaksa karena takut sang tuan putri nekat tingkahnya.
Siapa pun tahu kalau dia masih berusaha keras mengubur dendamnya. Jelas tak mudah untuk seorang anak broken home yang disakiti keluarga memaafkan kejahatan yang jelas-jelas di ketahui ayahnya namun sosok itu melindungi pelakunya.
Darah memang lebih kental dari air namun juga mengandung racun untuk mereka yang tersiksa.
Dan Eldrey Brendania Dempster adalah pihak yang memakan racunnya. Sebagai dampaknya dia merupakan korban dengan luka terbesar sehingga merusak mental serta fisiknya.
Bohong jika dikatakan jejak sayatan di lengan kiri telah samar. Itu masih ada dan bertambah setiap tahunnya.
Jika ada yang berani mengatakan sosoknya terlalu berlebihan dalam menghadapi masalah hidup, maka nurani sang pembicara pasti telah membusuk di dalam dirinya.
Banyak korban-korban seperti Eldrey Brendania Dempster. Mereka tak sembuh sepenuhnya namun bisa menjalani kehidupan yang lebih baik sebagaimana mestinya.
Dan peran orang terdekat sekaligus keluarga masih menjadi tanya namun jawabnya samar di belantara.
Entah siapa yang harus disalahkan sekarang, mungkin akan lebih baik jika Betrand membunuh ibunya sebagai pelaku utama agar putrinya benar-benar kembali kepadanya.
Dan sekarang di sinilah Eldrey. Di depan sebuah club malam. Walau memang tak lama lagi langit akan menjadi gelap gulita tapi setidaknya pancaran penerang memenuhi jalanan yang dihiasi kereta kuda berbadan besi juga manusia.
Dandanannya seperti gadis polos di depan penjaga. Andai mereka tahu kalau sosok yang baru saja lewat itu jauh lebih gila dari mereka entah akan bagaimana jadinya.
“Aku ingin bertemu bos di sini,” selanya tiba-tiba saat bartender hendak memainkan aksi.
“Bos? Sayang sekali, beliau belum datang.”
“Kalau begitu kapan dia di sini?”
“Tidak menentu. Tapi bisa jadi tengah malam nanti dia ke sini.”
“Kalau begitu hubungi dia aku ingin bicara dengannya.”
Terlihat keraguan di mata bartender itu. Namun lambat laun disetujuinya permintaan karena tak ingin menyesal kalau seandainya terjadi kesalahan.
Tiga kali menghubungi tapi panggilan masih tak terhubung. Decak kasar terlontar dari Eldrey, memang sial mengingat hanya sosok itu yang bisa menjamin kehidupannya.
“Sudahlah, nanti kalau dia datang katakan padanya kalau aku kenalan Daniel. Aku akan ke sini lagi nanti,” selesai mengatakan itu Eldrey pun pergi dari sana.
Keluar club dan mendongak menatap langit malam. Indah, bintang terlihat dengan jelas. Dingin ikut menyeruak untuk gadis berpakaian cukup terbuka sepertinya.
Sekarang ia harus menginap di mana, perlahan senyum tipis pun tersungging di bibirnya.
“Maksud Paman apa?”
__ADS_1
“Masih kurang jelas? Aku berniat menjodohkanmu dengan putra pertama keluarga Dempster.”
Pembicaraan antara seorang Paman dan keponakan itu terlukis di sebuah kamar hotel.
Arabella, perempuan berambut pirang sepinggang itu benar-benar terkejut dengan kabar aneh dari ponselnya.
“Ayolah, Paman. Jangan bercanda, mentang-mentang aku ditinggal nikah masa langsung dijodohkan seperti ini.”
“Karena kamu ditinggal nikah makanya aku menjodohkanmu agar tidak keluyuran seperti ini. Segera kembali, karena adikmu juga aku jodohkan dengan putri Dempster.”
Mata Arabella kian terbuka lebar mendengarnya. “Paman!”
“Kutunggu kepulangan kalian berdua.”
Selesai mengatakan itu pak tua Dome langsung memutus panggilannya. Suara decak kasar pun tersembur di mulut keponakannya. Tanpa basa-basi, Arabella keluar kamar. Berlalu menuju ruangan adiknya dan menggedor pintu seperti orang gila.
“Apa yang kakak lakukan? Penghuni lain bisa terganggu,” keluh Timmothy padanya.
Tak perlu izin perempuan itu langsung menerobos masuk kamar. Duduk di atas ranjang dengan tampang frustrasinya.
“Kita akan dijodohkan.”
“Ha?” respons bingung laki-laki itu.
“Kita akan dijodohkan bodoh! Kita akan dijodohkan!”
“Kau dan aku!” tunjuk Arabella pada adiknya. “Kau dan aku akan dijodohkan dengan putra-putri keluarga Dempster! Dan itu semua karena ulah paman gilamu itu!” jengkel kakaknya dengan emosi menggebu-gebu.
“Dempster? Kalau begitu, Evan dan El—” seketika Timmothy terdiam.
“Kau kenal?”
“Evan sahabatku, dan juga gadis pemberi coklat di stasiun. Merekalah orangnya.”
Arabella terbelalak. Entah kesialan atau bukan itu berarti ia mengenal jelas dan sudah melihat rupa dua calon mereka.
Bagaimana bisa pamannya menjodohkan dirinya dengan sahabat saudaranya sendiri? Ia jelas-jelas mengenal Evan, dan juga sudah menganggapnya seperti adik sendiri.
“Tunggu! Kalau begitu gadis itu, apa itu berarti dia sudah tahu?! Makanya dia memberikan coklat padaku!”
Timmothy tidak mengatakan apa-apa. Kecuali ingatannya menyusuri sosok Eldrey. Jujur ia juga tak menyangka dengan berita mengejutkan itu. Walau dirinya sudah mengira kalau sang Paman memang ada niat menjodohkan, tapi bagaimana bisa dengan mawar berduri milik Dempster?
Sosoknya jelas-jelas tidak akan lupa dengan tatapan memuja para laki-laki di pesta pernikahan Presdir Betrand. Lirikan mata yang ia tahu sebagai tanda kalau mereka ingin memakan gadis itu lewat sorotan buasnya.
“Sudah puas?” Eldrey tersentak. Tepat saat dirinya akan menyeberang sebuah suara mengusik pendengaran. Nada tak asing terdengar dingin dari sosok bernapas terengah-engah tak jauh di sampingnya. “Mau ke mana lagi?”
“Kevin.”
__ADS_1
Putra keluarga Cesar, perlahan mendekati gadis yang membeku di tempat. Tanpa ragu memegang lengannya dan satu tangannya yang lain menyentuh pipinya.
“Kenapa kamu pergi? Aku benar-benar hampir gila karena mencarimu ke sana kemari.”
Pertanyaan dengan nada lembut itu terdengar aneh. Bahkan semakin aneh ketika Kevin tiba-tiba memeluknya. Eldrey tidak mengatakan apa-apa kecuali melirik sang pemuda lewat sudut mata.
“Kupikir kamu kenapa-kenapa, syukurlah. Aku bisa menemukanmu Eldrey,” deru napasnya begitu terdengar. “Ayo, kamu pasti lelahkan? Mau kembali? Bawahanmu pasti kesusahan mencarimu saat ini.”
Butuh sejenak waktu bagi putri Dempster untuk menjawab. Tapi tarikan lembut dari laki-laki itu mengalihkan atensinya.
“Kevin.”
“Ya?”
“Aku tidak ingin pergi.”
Sosok di depan mata terdiam. Kembali diliriknya putri Dempster dengan tatapan yang sulit diartikan. “Terus?”
“Kenapa kamu di sini?”
“Tentu saja menjemputmu, Eldrey.”
“Aku tidak ingin bertemu denganmu di sini.”
Lambat laun segaris senyuman terpatri di bibir. Kevin tidak terlihat kesal mendengarnya kecuali mengelus lembut kepala gadis di depannya.
“Baiklah. Kalau begitu kamu mau ke mana?”
Nyatanya itu bukanlah pertanyaan yang mudah. Tak mungkin Eldrey jujur padanya, mengatakan dengan jelas ingin ke club malam untuk menemui laki-laki yang akan menyelamatkannya.
Sosok yang bisa mengirimnya dengan aman ke negara tetangga tanpa harus melewati pemeriksaan nanti.
“Eldrey?” Masih belum ada jawaban. “Baiklah kalau kamu tidak ingin kembali. Tapi ini sudah malam dan kita juga harus mencari penginapan.” Pandangan mengedar terlukis dari rupa putra Cesar. Senyum terkembang saat melihat penampakan hotel berbintang di seberang tapi keterdiaman putri Dempster mengusiknya. “Apa kamu mau ke hotel itu?” Gelengan tercipta di sana. “Lalu?”
“Tinggalkan aku, Kevin.”
“Baiklah jika itu maumu. Aku akan meninggalkanmu di hotel itu. Tapi aku mohon Eldrey, tolong jangan pergi tanpa kata lagi. Aku mohon,” hanya lirikan tenang sebagai balasannya.
Tapi setidaknya sekarang langkahnya sudi mengikuti putra keluarga Cesar. Menyeberang menuju bangunan mewah tak jauh dari mereka yang tingginya hendak mencapai langit atas sana.
Eldrey masih tak bersuara bahkan ketika Kevin memesan dua kamar untuk mereka. Ia tak peduli karena isi otaknya sedang merangkai cara bagaimana keluar malam ini untuk pergi ke club itu lagi.
Tengah malam ini, tidak. Esok pagi setidaknya ia sudah harus sampai di perbatasan dan menyeberang ke negara tetangga.
Karena bagaimanapun ada seorang yang ia punya di sana dan mungkin sudi untuk menampungnya. Orang dengan kekuasaan mirip Charlie Stevano sang tangan kiri ayahnya.
__ADS_1