
“Tenang saja, aku akan ganti rugi atas luka kecil di tubuh ibumu, dan juga belanjaannya ini,” ledek Eldrey sambil menendang bungkusan berisi belanjaan bu Anna.
“Eldrey, apa yang kamu ...” sahut Kevin tiba-tiba. Tapi gadis itu tak mengacuhkannya.
“Aku tidak bawa uang atau apa pun. Itu mobilku, kupikir itu sudah lebih dari cukup untuk membayar ganti rugi pada kalian,” tukas Eldrey menunjuk mobilnya.
Bu Anna pun menangis, ia benar-benar tak bisa menahan emosinya sampai wanita itu memeluk Eldrey. Ia memeluk Eldrey dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di bahu gadis yang tak memberikan respon apa-apa. Melupakan apa yang baru saja dilontarkannya.
“Lepaskan aku.”
“El-Eldrey, i-ini ibu sayang," lirih bu Anna terisak-isak.
“Aku bilang lepaskan aku!” Eldrey malah mendorong kasarnya. Spontan tangannya terangkat bersiap melayangkan tamparan ke arah wanita itu.
“Ibu!” pekik Evan. Dengan sigap Evan memeluk ibunya untuk melindunginya.
Kevin pun memegang tangan Eldrey yang terangkat itu.
“Kamu, apa yang kamu lakukan? Apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?!” Kevin benar-benar tak percaya kalau gadis itu akan menampar wanita yang lebih tua darinya.
“Lepaskan aku. Kubilang lepas!” Eldrey menarik tangannya agar terlepas dari genggaman Kevin.
“Nona!” pekik seseorang tiba-tiba.
Seseorang yang baru turun dari mobil segera berlari menghampiri kegaduhan itu. Ia menatap orang-orang di sana dengan wajah yang tak bisa dilukiskan.
Melihat kedatangan Charlie, Kevin pun melepas genggaman tangannya yang menahan Eldrey, membuat gadis itu menatap tajam padanya.
Charlie tak habis pikir, kebetulan apa yang terjadi? Ia akan pergi bertugas, namun mendadak mendapat panggilan mengejutkan dari sekretaris Roma. Karena anak buahnya melapor kalau Eldrey terlibat masalah di jalanan.
Sekretaris Roma yang sibuk pun terpaksa meminta tolong pada Charlie untuk menanganinya. Tapi lihatlah apa yang dia hadapi. Ini bukanlah orang-orang yang diharapkan untuk bertemu dengan nona kecil itu.
“Charlie? Baguslah, aku hampir menabrak mereka. Jadi kau saja yang urus sisanya,” perintah Eldrey, ia pun berbalik untuk meninggalkan mereka.
“Eldrey! T-tunggu nak! Ini ibu! Ibu sangat merindukanmu sayang, Ibu benar-benar merindukanmu,” bu Anna mencoba menghentikan langkah gadis itu.
Eldrey tak mengacuhkannya, ia tetap berjalan meninggalkan mereka dengan santainya.
__ADS_1
“Eldrey!” panggil bu Anna. Wanita itu melepaskan pegangan Evan darinya dan berlari ke arah Eldrey. Ia berhasil memegang lengan gadis itu erat dengan kondisi yang benar-benar memilukan ekspresinya.
“Ini ibu sayang, ini ibu. Lihat ini ibu kamu Eldrey,” ucap wanita itu mencoba meyakinkannya dengan menyentuh wajahnya. Tangisan yang sudah tercerai-berai di wajah bu Anna mengundang perhatian. Ia benar-benar tak peduli dengan tatapan mereka, karena yang terpenting baginya adalah gadis di depannya.
“Ibu?”
“Iya, ini ibu nak, ibu. Kamu ingatkan? Kita sering pergi ke taman bersama kakakmu, Iyakan Evan? Sini Evan, katakan pada adikmu tentang itu.” Bu Anna mengalihkan pandangannya dan mengayunkan tangannya memanggil-manggil Evan untuk mendekat.
“Lihat Evan, ini Eldrey adikmu. Dia sudah tumbuh besar dan cantik,” tukas bu Anna sumringah.
Evan yang berjalan mendekat pun menatap lekat perempuan di hadapannya. Sesosok gadis yang masa kecilnya terkubur jauh di ingatan Evan. Perlahan mata Evan yang berkaca-kaca mulai meneteskan kristal bening di pipinya.
Sebagai perwakilan atas suasana hatinya dengan pertemuan mengharukan itu. Langkah kakinya yang pelan perlahan mulai cepat pijakannya. Merangkul erat gadis itu saat berada di jangkauannya.
“Eldrey, adikku. Adikku, adikku ....”
Evan tak bisa melanjutkannya, sosok dalam pelukannya benar-benar menyesakkan hatinya. Rasa rindu atas dia yang ia pikir takkan bisa lagi ditemui muncul tepat di hadapannya.
Eldrey, adiknya. Gadis cantik yang sosoknya sudah lama tak ia lihat. Hanya wajah anak kecil berumur 9 tahunnya yang tersisa di ingatan Evan. Sekarang wajah anak kecil itu sudah tumbuh cantik dan berdiri di depannya tanpa perlu lagi ia impikan.
“Aku dan ibu benar-benar merindukanmu,” sahut Evan melepas pelukannya. Senyum yang ia pancarkan di sela-sela tangisannya benar-benar mengundang simpati yang melihat. Seolah-olah siapa pun bisa merasakan apa yang dirasakan keluarga bahagia itu.
Hanya Kevin dan Charlie yang tak berkutik. Mereka tak tahu harus mengatakan apa, kecuali menatap lekat pemandangan itu.
Akan tetapi, sepertinya kebahagiaan itu melupakan sesuatu di dalamnya. Ekspresi Eldrey, di mana ia tak menampilkan senyum ataupun kebahagiaan dari pertemuan mengharukan tersebut. Seolah-olah mereka lupa, kalau gadis itu hampir saja melakukan tindak kejahatan pada seseorang yang mengaku ibunya.
“Sudah selesai?” tanya Eldrey.
Evan dan bu Anna terkesiap mendengarnya. Charlie dan Kevin sama-sama terkejut dengan apa yang keluar dari bibir gadis itu.
“Kalau begitu aku pergi dulu.”
“Eldrey,” cegat bu Anna. Ekspresi terkejut atas apa yang diucapkan Eldrey tertera jelas di wajahnya.
“Lepaskan aku. Bukankah sudah kubilang? Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu.”
“Eldrey, apa yang kamu ...” Evan menatapnya tak berkedip. Wajahnya sekarang, mulai memperlihatkan sisa-sisa air mata yang akan mengering.
__ADS_1
“Siapa kalian? Kalian benar-benar menjengkelkan,” sungut Eldrey.
“Eldrey, ini ibumu nak. Ibu kandungmu sayang. A-apa, a-apa kamu lupa dengan ibu dan kakakmu?”
“Ibu? Kakak? Ah, ya aku ingat. Aku memang memiliki ibu dan kakak,” tanggap Eldrey dengan ekspresi seperti menerawang. Ia lalu tersenyum menatap Evan dan bu Anna, “tapi, mereka sudah lama mati.”
Seolah guntur pun turun ke hati bu Anna dan Evan yang mendengarnya. Secercah senyum yang mereka perlihatkan sebagai balasan pada Eldrey langsung lenyap seketika.
Mata bu Anna yang semakin memerah dan menghujani pipinya dengan kristal bening, benar-benar melukiskan kehancuran hatinya. Anaknya, anak yang sudah lama tak ia temui mengatakan sesuatu yang merobek hati dan ingatannya.
Kevin serta Charlie benar-benar terbungkam dengan apa yang mereka lihat dan dengar. Tak ada celah untuk keduanya, kecuali tetap diam dan menonton mereka yang berlakon di kisah itu.
“Karena itu, berhentilah bersikap menyebalkan padaku.” Eldrey lalu menunjuk hypercarnya, “itu sebagai ganti rugi dariku. Untuk orang-orang seperti kalian, itu sudah lebih dari cukup bukan?”
“Eldrey!”
Bu Anna, Charlie dan Kevin, serta orang-orang yang lewat atau menonton kaget mendengar bentakan Evan. Bu Anna merasa jantungnya berdetak tak karuan, saat melihat putranya menatap tajam pada Eldrey.
Gadis itu membalas Evan dengan senyum sinisnya. “Heh, kau membentakku? Kau? Bagus sekali, pasti sangat menyenangkan jadi dirimu, Evan Brendan Dempster.”
Evan merasa tak berkutik saat nama panjangnya disebutkan, di mana kenyataannya ia sudah tak lagi memakai nama itu. Nama yang akan selalu mengingatkan kalau dirinya adalah anak dari seorang konglomerat tak berperasaan seperti presdir Betrand.
Sosok sang ayah, pria yang tega mengusir ibunya dan membuang dirinya dari garis darahnya. Walaupun ia tahu pasti, kalau kenyataan yang di hadapi keluarganya juga tak lepas dari jerat kesalahan ibunya.
Bu Anna, atau lebih dikenal dengan Raelianna Jin. Wanita cantik yang pernah mengisi hati presdir Betrand dan dengan teganya melepas genggaman presdir Betrand untuk keutuhan keluarga mereka.
Wanita yang memilih menghancurkan ikatan keluarganya sendiri. Berharap itu demi kebaikan semuanya, tanpa ia sadari kalau hal itu sudah membunuh sosoknya dan Evan dari ingatan putrinya yang berharga.
“Eldrey ...” Bu Anna mencoba menyentuh tangan putrinya dan menggenggamnya. “A-apa yang ka-ka-mu bicarakan sayang? Apa maksudmu kalau ibu dan kakakmu sudah mati?”
Eldrey mundur ke belakang, memberi jarak agar wanita itu tak lagi menyentuhnya. “Seperti yang kubilang, ibu dan kakakku sudah mati. Mereka sudah mati di ingatanku sejak 9 tahun yang lalu.”
__ADS_1