FORGIVE ME

FORGIVE ME
Kevin dan Ramses


__ADS_3

“Ayo, aku akan mengantarmu pulang,” sambung Kevin lalu berdiri. Ia pun mengulurkan tangannya pada Eldrey yang masih menatap tajam padanya.


Deru napas Eldrey yang memperlihatkan amarah ditanggapi santai oleh Kevin. “Aku hanya ingin kamu bangun, karena itu aku melakukannya. Aku tak bermaksud apa-apa.”


Eldrey menepis kasar tangan Kevin yang terulur padanya, ia pun bangun dan segera beranjak dari sana tanpa memikirkan baju bagian belakangnya yang kotor.


Kevin pun mengikuti langkah kaki Eldrey di belakang. Mereka keluar bangunan itu tanpa saling berbicara.


Tak jelas apa yang sedang dipikirkan Eldrey, tapi Kevin tahu kalau gadis itu sangat kesal pada tindakan kurang ajarnya.


Apalagi yang bisa ia lakukan, itu adalah cara tercepat agar Eldrey segera pergi dari sana. Terlebih lagi jika mengingat ada suara laki-laki yang terdengar di belakang bangunan itu.


Jika mereka memilih masuk dan melihat Eldrey hanya bersamanya, mungkin saja orang-orang tersebut akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak. Dan hal itu hanya akan tambah menyulitkan Kevin jika ia harus melindungi Eldrey. Setidaknya untuk berjaga-jaga mereka harus segera pergi dari sana.


Kevin sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Jika Eldrey masih memilih rebahan tanpa peduli sekelilingnya, mungkin saja Kevin akan melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar mengelus perut rampingnya.


Berbeda dengan Dean yang memperlakukan perempuan dengan sangat lembut, Kevin justru kebalikannya.


Tampang polos tidak menjamin tindakannya. Sekalipun tak menyukai Eldrey bukan berarti ia akan bersikap polos pada gadis tanpa pertahanan itu.


Hanya memakai hot pants dan kaos di badan, siapa yang tak akan tertarik? Walaupun lebih kurus dari Alice, tapi lekuk tubuh Eldrey tak bisa diremehkan. Tentu saja Kevin tak betah berlama-lama dengan gadis yang rebahan di mana lekuk tubuhnya bisa ditatap olehnya.


Benar-benar gadis tanpa pertahanan dan tak peduli sekelilingnya, setidaknya itulah yang dipikirkan Kevin.


Eldrey masih berjalan ke depan tanpa menoleh. Langkahnya yang tak lagi santai mengarahkan dirinya entah ke mana. Begitu pula Kevin yang masih mengikutinya.


Sebenarnya ia bisa saja pergi meninggalkannya dan tak mempedulikannya. Kevin bahkan tak menyukainya, tapi kenapa ia masih suka terlibat walau itu tidak di sengaja? Tak ada satu pun yang tahu jawabannya.


 


*******


 


Evan sudah bisa bernapas lega, karena dokter mengatakan ibunya hanya pingsan akibat syok dan kelelahan. Ia pun duduk meringkuk di kursi tunggu dengan wajah yang menyedihkan.


Sementara Charlie yang sudah menyelesaikan urusan administrasi, datang sambil membawa dua buah minuman kaleng. Ia pun menyodorkan salah satunya pada Evan.


“Terima kasih,” lirih Evan.


Charlie tak menjawabnya, kecuali meminum minuman kaleng di tangannya. Berbeda dengan Evan yang hanya memegang minuman kaleng itu dengan risau.


“Nyonya baik-baik saja, jadi tidak ada lagi yang perlu di risaukan bukan?”


Evan tak menjawab, kecuali memutar bola matanya menatap Charlie yang duduk di sampingnya.


“Baik-baik saja? Setelah apa yang terjadi anda bilang ibuku baik-baik saja?!” tukas Evan akhirnya.


“Apakah aku salah?”


Wajah Evan yang berkerut kesal menandakan dengan jelas kalau ia tidak setuju dengan ucapan Charlie. Sampai akhirnya minuman kaleng di tangan jadi korban akibat rasa kesalnya.


Charlie yang menyadari itu hanya diam sejenak dan mengalihkan pandangan ke depan. “Aku sudah menghubungi presdir Betrand.”


“Apa? Kenapa?! Kondisi ibuku tak ada hubungannya dengannya!”


“Benar.”


“Lalu kenapa?!”

__ADS_1


“Karena aku harus melaporkan keadaan putrinya.”


Evan terbungkam, ia tak berkutik saat menyadari kenyataannya. Kenyataan di mana ibunya seperti itu karena ulah putri yang disebutkan.


“Eldrey, adikku. Kenapa, kenapa dia seperti itu?”


“Kenapa apanya?” tanya Charlie bingung.


“Kenapa dia dengan tega melukai ibuku seperti itu?! Memangnya ibu salah apa?! Padahal ibu sangat merindukannya selama ini!” ucap Evan sedikit berteriak. Sehingga hal itu menimbulkan perhatian karena ia membuat kegaduhan.


“Entahlah, aku tidak tahu,” balas Charlie sedikit mendongak, seolah sedang memikirkan sesuatu.


“Adikku, adik yang kukenal takkan tega bersikap kurang ajar seperti itu!”


Charlie tersenyum mengejek. “Adik yang mana tuan muda? Yang sembilan tahun lalu? Atau yang berdiri di hadapanmu tadi?”


Jantung Evan seolah dihujam pisau saat mendengarnya. “Aku merasa kasihan melihatmu. Kalau begitu, biarkan aku memberi tahumu sesuatu yang menarik. Eldrey Brendania Dempster, adik kandungmu itu, sudah mati sejak 9 tahun yang lalu.”


“Brak!”


Suara dari tubuh yang beradu keras ke punggung kursi. Suara dari tubuh Charlie, karena di dorong keras oleh Evan. Laki-laki itu mendorongnya, dengan lengannya yang mencoba menahan leher Charlie secara kasar.


“Tutup mulutmu! Atau aku akan mencekikmu!” bentak Evan emosi. Mereka pun menjadi tontonan bagi orang-orang yang lalu-lalang di sana.


“Mencekik? Padahal kalau nona yang di posisimu, dia akan langsung mencongkel mataku,” sindir Charlie terkekeh.


“Tolong lepaskan tanganmu dariku, ini cukup buruk karena kita menjadi tontonan di sini,” tambah Charlie santai.


“Kau! Siapa kau sebenarnya?! Berani sekali kau bicara kurang ajar seperti itu!”


“Aku? Anda tidak mengenalku? Yah kita bertemu saat dirimu masih kecil, jadi wajar saja kalau anda lupa. Aku Charlie, tangan kiri presdir Betrand,” tukasnya. “Benar juga, bukankah waktu itu kita sudah bertemu? Saat aku hampir menabrakmu di jalanan.”


“Aku takkan mengampunimu, jika kau mengatakan itu lagi,” tekan Evan sambil melepaskan tangannya yang menahan Charlie.


Charlie pun menyentuh leher dan mengusapnya. Sambil memberikan seringai aneh yang membuatnya terasa menyebalkan.


Evan mendengus kesal dan meninggalkan Charlie menuju ruang rawat ibunya, di mana bu Anna masih pingsan di sana.


“Baiklah, apa yang dilakukan gadis kecil itu? Semoga dia tak macam-macam,” lirih Charlie memainkan ponselnya seperti akan menghubungi seseorang.


 


*******


 


Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan bangunan rumah sakit. Sang penghuni masih belum turun, cukup lama ia terdiam di dalam mobil sambil menatap pemandangan di luar.


“Tuan?” panggil supirnya.


“Hubungi Charlie,” perintahnya.


“Baik tuan,” angguk supir tersebut. Ia pun mengeluarkan ponsel di saku untuk menghubungi Charlie.


Sementara pria yang menjadi bos hanya memasang wajah dingin, membuat aura di dalam mobil terasa berat.


Tidak perlu waktu lama, sosok pria yang ditunggu tampak keluar dari pintu rumah sakit menatap sekelilingnya. Tapi langkah kakinya sudah jelas, mengarah ke barat di mana mobil yang menantinya terparkir.


Pintu mobil depan pun dibuka, dan pria yang baru masuk ke dalam mobil duduk di sebelah supirnya.

__ADS_1


“Aku sudah mengurus semuanya tuan,” sahut Charlie tiba-tiba.


“Eldrey?”


“Aku sudah perintahkan orang untuk mengikutinya. Lagi pula ada Kevin bersamanya.”


“Kevin?”


“Ya, dia laki-laki yang menyelamatkan nona di rumah sakit,” jelas Charlie.


Presdir Betrand hanya diam tak menanggapi, sampai akhirnya ia menoleh ke pintu masuk rumah sakit dengan ekspresi berat yang sama seperti sebelumnya.


“Ayo pergi,” perintahnya.


Charlie dan supir itu sama-sama mengangguk mengikuti suruhannya. Charlie segera turun dari mobil menuju kendaraan pribadinya.


Mobil presdir Betrand pun pergi entah ke mana. Tampaknya ia tak berminat untuk bertemu dengan anak dan mantan istrinya.


Sementara Eldrey, langkahnya terhenti di sebuah halte yang sepi. Menatap seorang laki-laki yang masih saja mengekorinya.


Sorot matanya memperlihatkan ketidak sukaan. Tentu saja alasannya sudah jelas, mengingat apa yang sudah dilakukan laki-laki itu padanya.


“Sampai kapan kau akan mengikutiku?”


“Sampai kamu pulang ke rumah,” jawab Kevin santai.


Eldrey pun menyodorkan tangannya, “apa?” Kevin menatap bingung.


“Berikan aku uang, aku akan pulang dengan taxi.”


“Baiklah, kamu tidak perlu cemas. Saat taxi datang, aku sendiri yang akan membayar ongkosnya,” tukas Kevin santai.


Eldrey menggertakkan giginya, merasa kesal dengan orang di depannya. Ia mengepal erat tangannya, sangat erat sampai jejak kukunya menempel di telapak tangannya.


“Ada apa?”


Gadis itu memalingkan wajah, tak berniat menjawab pertanyaannya. Sampai akhirnya sorot matanya menangkap pemandangan suatu mobil yang tiba-tiba berhenti di dekat mereka.


Seorang pemuda pun turun dengan dandanan santainya, menatap heran ke arah mereka berdua.


“Eldrey? Kevin? Sedang apa kalian?” tanyanya.


“Kak Ramses,” Kevin menatapnya sambil tersenyum simpul. Berbeda dengan Eldrey yang menatapnya dengan ekspresi tak acuh.


“Rey, bagaimana keadaanmu? Apakah lukamu sudah baikan?” Ramses mendekati mereka.


“Baikan?” Eldrey lalu tertawa pelan yang mengundang rasa bingung mereka. Ia lalu mengangkat tangannya dan menunjuk Kevin.


“Urus temanmu agar dia tidak mengikutiku lagi,” tegas Eldrey pada Ramses.


“Apa?” Ramses bertambah heran mendengarnya lalu menatap Kevin yang juga sama bingungnya.


Tanpa pikir panjang Eldrey memutar tubuhnya pergi meninggalkan mereka. “Hei! Kamu mau ke mana?!” teriak Kevin. Ia pun segera melangkahkan kaki mengejar gadis itu namun tiba-tiba tertahan.


“Ada apa ini?” tanya Ramses yang menahan tangannya.


“Tidak ada apa-apa, lagi pula ini bukan urusanmu kak,” ucap Kevin datar. Ia melepaskan tangan Ramses yang menahannya dan mengejar Eldrey yang sudah agak menjauh.


Ramses benar-benar bingung dan tak mengerti dengan apa yang terjadi. Matanya pun mengikuti langkah Kevin yang menjauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2