
Suara petikan gitar dan pukulan drum yang terdengar kontras dengan nada tinggi seorang perempuan berhasil membuat gadis yang sedang fokus dengan laptop itu mendengus frustrasi seketika.
Mata coklatnya menatap tembok di sampingnya seakan bisa menghentikan suara-suara yang tidak layak didengar itu.
"Kapan gue bisa kelar kalo gini caranya?"
Merasa pusing, gadis berjaket hoodie biru tua itu keluar dari ruang ekskul fotografi, meninggalkan laptopnya dalam keadaan menyala menuju ruangan sebelah.
Mengetuk pintu yang tertutup itu dengan sedikit campuran emosi di dalamnya, pintu kemudian terbuka.
Seorang pemuda berambut spike yang tengah duduk diam di balik keyboard menoleh lalu melambai ceria. "Oy, Jean! Ngapain?"
Seisi ruangan kini memusatkan atensi pada Jean yang menatap tanpa ekspresi.
"Sorry, volume latihan kalian bisa dipelanin? Gue di ruang sebelah ke ganggu," ucap Jean to the point tanpa menjawab pertanyaan teman sekelasnya itu.
"Namanya latihan musik ya kudu ribut lah, ya kali kita ngatur nada tanpa suara," ketus satu-satunya gadis di ruangan itu.
Jean mendelik tajam. "Gue gak nyuruh mulut lo diem. Gue nyuruh pelanin," sarkasnya.
"Kalo gak mau ke ganggu ya pindah aja sono, ngapain protes?" Pemuda tinggi dengan posisi memegang stik drum menyahut.
__ADS_1
"Dasar sampah! Lo kira ini sekolah punya lo pada? Gue juga berhak ngerasa terganggu, mending itu suara bagus, lah ini."
Bukannya terintimidasi, Jean justru semakin menatap balik mereka yang sepertinya mulai marah. Sementara pemuda yang tadi menyapa Jean ramah hanya mampu terdiam di tempatnya tanpa niat ikut campur.
Tanpa kata-kata, Jean berbalik berniat pergi sebelum sebuah suara menghentikannya.
"Lo pikir suara lo lebih bagus? Suara kayak seng kena batu aja songong."
Apa katanya tadi? Seng kena batu? Tidak adakah perumpamaan lebih baik daripada seng kena batu? Sialan.
Jean menoleh. Berdecih sinis melihat muka merah padam gadis itu. "Lo ngomong seakan lo udah pernah denger gue nyanyi."
"Wah, ini cewek bener-bener perlu di kasih pelajaran," cowok dengan gitar di tangannya itu mulai terpancing setelah sejak tadi diam. "Kalo lo ngerasa oke, lo tunjukkin suara lo yang lo bangga-banggain itu di pensi bulan depan. Itupun kalo lo berani."
"Gue gak ngomong gue bangga dengan suara gue loh," cibir Jean terkekeh. "But, makasih tawarannya. Sampai ketemu bulan depan, siapin hadiah kalo gue menang ya."
Dengan itu, Jean benar-benar melangkah pergi ke ruangan ekskulnya sendiri.
Sementara, masih di ruang musik, sang gadis berambut curly terlihat melirik ke arah pemuda yang tadi menyapa Jean. "Rega. Siapa nama tuh cewek songong? Lo kenal?"
Rega, pemuda itu mengangguk, "Namanya Jean. Jevira Andara."
__ADS_1
-------
Welcome To My Story...
Kadang, ekspektasi tidak sesuai dengan realita.
Dengan ini, saya mempersembahkan INDIGO... Dilarang keras men-judge cerita ini sebelum membaca sampai akhir.
Apalagi me-report cerita saya karena tidak sesuai dengan GENRE cerita.
Makanya baca sampai akhir. Sampai ending.
Okeh?
Gitu aja, hehe.
Ampuni saya yang baru awal udah ngegas😅
And kalau kalian suka ceritanya, tolong vote, kalau baca tapi gak vote mending berdoa dulu, biar dapet hidayah menghargai karya orang lain. Comment? Silahkan beri saya saran dan kritik untuk kelangsungan hidup cerita ini.
Check-check
__ADS_1
Amber_mars🖤