Indigo

Indigo
Chapter 67 | Alternating Terror?


__ADS_3

Di sepanjang perjalanan menuju ke suatu yang dua gadis cantik berseragam komplit serta rapi, mereka saling mengisi segala obrolan ringan yang berujung canda tawa untuk mengalihkan rasa kesenyapan. Siapa lagi kalau dua perempuan itu adalah Jova dan Freya?


Jova tak mungkin juga membiarkan Freya pergi tanpa ada orang yang menemaninya, ia tidak mau kejadian yang terjadi pada Freya karena ulah Geng Jablay atau Youra, Febrie, serta Claudie terulang kembali. Namun di sela-sela perbincangan seru antara Freya dan Jova, mereka berdua mendengar suara beberapa gadis kelas X yang bersahutan mengenai soal keadaan Reyhan.


Jova yang penasaran menghentikan langkahnya begitupun Freya, mata gadis tomboy itu seolah nyalang menatap ketiga perempuan yang tengah duduk di kursi lorong kelas X.


“Kalau gue sih suka sama sifatnya kak Reyhan, dia itu ramah banget kalau sama orang. Tapi kok gue heran, ya kakak cowok itu belum punya pacar? Padahal ganteng, loh.”


“Kalau lo mau dia ambil aja, sana. Mumpung belum telat, kak Reyhan itu kan Jomblo,” tutur tanggap Eliana.


“Hah?! Lu mau pacaran sama kakak yang sekarang punya keterbatasan fisik lumpuh itu?! Gak salah lo?! Idih gue sih gak mau, ogah punya pacar cacat!”


Freya yang mendengarkannya begitu terkejut tetapi tak ada niatan untuk menegurnya, namun jangan ditanya jika Jova. Lihatlah ekspresi Jova sekarang, sengit dan mukanya merah padam. Tangannya mengepal kuat dan mengerang tak terima Reyhan dikatakan seperti itu.


“Heh bocah!! Memangnya kenapa kalau kak Reyhan cacat, hah?! Kamu mau berurusan sama Kakak?!”


“Astaga! Maaf Kak Jova! Rainey gak sengaja bilang begitu!” takut Rainey dengan mendempetkan kedua telapaknya memohon pada Jova yang matanya mencuat.


“Gak salah? Kalau mau ngomongin kak Reyhan jangan di belakang Dek, di depan Kakak saja! Terus, maksudmu ngomong begitu apaan, hah?! Masalah buat kamu?! Kalau gak suka yaudah menyingkir saja! Lagian, kak Reyhan juga ogah lihat muka kamu yang kayak comberan!!”


Freya terperangah pada ucapan sahabatnya yang emosi tinggi itu, gadis polos tersebut mengusap-usap punggung Jova untuk meredakan emosinya. “Eh ya ampun! Sudah Va, jadi kakak kelas gak boleh galak-galak .. tuh kasian adik kelas kita, jadi takut begitu sama kamu.”


“Bodo amat! Anak itu yang nyari gara-gara sama aku Reyhan juga sahabat aku, gak bakal terima dong aku-nya!” Jova yang menatap Freya kembali menatap Rainey. “Awas ya kalau Kakak dengar kamu ngomong begitu sekali lagi! Kalian berdua juga! Ingat itu!”


Jova mengancam ketiga gadis kelas X IPA 5 lalu melengos pergi meninggalkan mereka begitupun Freya yang diam menatap biasa Rainey. Gadis yang berhati lembut itu tersenyum pada Rainey dan menegurnya dengan halus.


“Lain kali jangan bilang seperti itu ya, Rainey. Kak Freya minta tolong sama kamu dan juga dua temennya Rainey. Bisa dipahami, kan?”


Bukannya menjawab mereka bertiga beranjak dari kursi panjang dan berlari begitu saja meninggalkan Freya yang sudah menegurnya dengan lemah lembut, Freya yang diperlakukan seperti itu hanya melongo menatap kepergian cepat dari ketiga gadis adik kelasnya. Freya hanya mendengus pasrah kemudian menyusul Jova yang telah jauh dari depannya.


Gadis lugu tersebut berlari-lari kecil mengejar Jova yang langkahnya lumayan besar. Saat telah berada di sampingnya, Freya berjalan sejajar dengan sahabatnya yang mukanya masih terlihat kesal atas perkataan Rainey mengenai kondisi Reyhan yang stay dirawat dalam rumah sakit.


“Va, kamu masih marah?” tanya Freya hati-hati.


“Huh! Gimana gak marah?! Kalau misalnya di situ ada Reyhan dan denger omongan itu anak satu apa jadinya?!”


“Y-ya-”


“Iya bener, Reyhan memang lumpuh tapi gak usah sampai begitunya lah! Aku sebagai sahabat lamanya gak terima Reyhan dikatain kayak gitu! Lagian siapa juga yang mau Reyhan kondisinya separah itu?! Gak ada!”


“Andai aja Reyhan gak kecelakaan, pasti Reyhan nggak mungkin kena cacat segala. Nyesek bener tau lihat keadaan Reyhan yang kayak gitu.”


Freya mendengus dengan mengulum senyumannya. “Namanya juga musibah, Va. Mau gimana lagi, coba? Musibah gak ada yang kita tau kapan akan datang. Tapi Alhamdulillah gitu-gitu Reyhan masih kuat lho, Va.”


“Iya, sih kamu betul banget. Dan itu cowok juga masih punya sifat humornya yang sempet tertutup satu minggu. Tepat banget kata Lala, kalau sikap Reyhan yang beda itu gak bertahan dengan lama.”


Freya mengangguk dengan memejamkan matanya bersama senyuman manisnya yang merekah di wajah cantiknya. “Kalau gini bahas ini mah, aku malah jadi ...”


Freya membuka matanya dan melirik Jova dengan senyuman jahil. “Malah jadi apa hayo? Jadi kangen sama Reyhan, yaaaa? Hihi.”


Jova terbungkam cepat dengan mata terbelalak lebar, menatap Freya penuh keterkejutan. “Mana ada aku kangen sama itu cowok rese?! Dia sih gak pantes dikangenin.”


“Masa, sih? Jadi perempuan gak usah gengsian. Kalau kangen mah tinggal bilang saja, dong.”


“Ngapain kangen, kan kemarin udah ketemu. Emangnya aku sama Reyhan kekasih, apa?” ketus Jova.


“Siapa tau diem-diem kamu pacaran sama Reyhan, hahaha!”


Jova amat kaget pada penuturan Freya yang seakan-akan tengah meledeknya soal Reyhan, dan bahkan sahabatnya cengengesan padanya. “Ih astaga! Kamu lagi kesambet setan apa, sih Frey?! Kamu udah hebat ledek orang, ya!”


Dengan gemas Jova mencubit pipi kanan Freya, otomatis yang dicubit protes. “Ih aduh ampun!! Aku cuman bercanda, kok hehehehe.”


Jova melepaskan cubitannya dan bergantian menatap rese Freya yang memanyunkan bibirnya dengan mengusap-usap pipi kanannya. Tiba-tiba munculah perkataan rese yang membuat Freya sama seperti dirinya saat ia diledek oleh sahabat anggunnya tersebut.


“Apa ya kamu nggak kangen sama Angga sahabat kecil kamu yang ganteng itu kek aktor Korea? Lihat-lihat depan indahnya mata, kalian kalau udah ngobrol sudah seperti sepasang pacar yang so sweet aduhai.”


Freya membuka mulutnya menganga lalu setelah itu membungkamnya dan menggembungkan kedua pipinya sebal atas lontaran Jova yang bergiliran meledeknya. “Jova mah! Kok malah nyerang balik, sih?! Kan tadi aku cuman bercanda doang! Gak serius! Dasar nyebelin deh! Kamu sama kayak Reyhan, nggak mau mengalah sama lawan bicara!”


Jova yang mendengar protes kesal Freya nang baginya lucu, langsung tertawa meledak seketika itu juga. Beruntung saja lorong lantai 3 sepi jadinya Jova puas-puasnya menertawakan Freya sampai terbahak-bahak.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


RS Wijaya - Kamar Rawat No 110


Di dalam sana terdapat seseorang dua lelaki yang sama-sama diam tak berbicara, senyap seperti kuburan. Sementara kedua orang tua mereka keluar membeli makanan yang berjualan di kantin rumah sakit. Tapi detik kemudian, Reyhan yang ada di kursi roda dan tepat di samping ranjang pasien sahabatnya yang mana Angga tengah duduk bersandar dengan wajah pucat lemas-nya, mencondong kepalanya ke depan menatap Angga.


“Angga, gue boleh tanya sesuatu nggak sama lo?”


Angga memejamkan matanya sejenak, ia tentu tahu Reyhan ingin bertanya apa dengan padanya. Lelaki itu menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskan keluar lewat hidung. Sedangkan tangan kanannya menyentuh dadanya karena rasa sakitnya masih terasa karena oleh mimpi buruknya tersebut. Angga membuka matanya lalu mengangguk kepalanya untuk Reyhan.


“Nggak apa-apa nih gue tanya? Agak berat juga soalnya hehehe. Nanti yang ada lo ngamuk sama gue, kasihanilah gue dong Ngga .. gue juga lagi sakit.”


“Tanya saja.”


Reyhan mempersiapkan ucapannya dan menatanya sebentar agar tidak salah bertanya kepada Angga yang sedari tadi hanya diam bungkam. “Ehm, satu hari kemarin ... lo mimpi apa Ngga, semalem?”


Angga mendengus, lalu mengusap wajahnya dengan tangan kiri yang ia sendiri telah terlepas dari alat oksigen itu. “Gue nggak tau harus cerita dari yang mana dulu, panjang.”

__ADS_1


Reyhan menyengir. “Oh, panjang ya? Yasudah di intinya aja gimana? Biar gue paham lo mimpi apaan.”


“Itu berhubungan dari arwah negatif yang teror elo. Lo pasti tahu apa maksud mimpi gue.”


Sontak Reyhan duduk tegak dengan mata mencuat tajam. “Arseno?!”


Angga mengangguk kepalanya lemah. Reyhan menggertakkan giginya dengan wajah murka, sementara Angga cuma menghela napasnya dengan berat. “Apa yang arwah brengsek itu lakuin sama lo, Ngga?!”


Angga menutup matanya lalu membukanya dan melirik Reyhan. “Tamat nyawa.”


Meskipun jawaban Angga terdengar singkat namun Reyhan bisa mengerti dari tanggapan Angga yang sahabatnya berikan untuknya. Reyhan berdecih dengan memalingkan mukanya dari Angga. Walaupun Reyhan ketakutan melihat wajah seram mengerikannya dari arwah negatif itu, namun hatinya merasa begitu muak dan lelah atas ulahnya terhadap dirinya waktu silam. Apakah ini semua adalah giliran teror yang telah Arseno tentukan?


“Sudah Rey, nggak penting lo pikirkan tentang arwah itu. Lebih baik lo lupain aja, daripada pikiran parak itu mengotori otak lo.”


Reyhan mengubah mukanya menjadi lunak dan menoleh menatap Angga. “Lo mau ngapain?”


Reyhan melihat Angga berpindah posisi. “Kepala gue sakit, berat juga rasanya.”


“Yasudah, kepalanya dilepas aja biar gak berat. Nanti beban lo nambah.” Angga yang sedang meletakkan bantalnya di atas kasur menatap Reyhan malas.


“Bercanda, Bang.”


Angga kemudian membaringkan tubuhnya terlentang dengan sedikit menarik selimutnya, dikarenakan ia merasakan kedinginan yang mana langit hari ini tengah tak bersahabat, cahaya matahari juga di tudung oleh awan kelabu mendung. Semilir datangnya angin masuk ke dalam jendela kamar rawat membuat rambut kedua pemuda tampan itu tertiup. Kini Reyhan menatap Angga dengan nanar, tak juga Angga yang menutup matanya untuk meredakan rasa sakit.


‘Apa lo sengaja meneror kami dengan secara bergantian? Dasar arwah bangsat.’


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


SMA Galaxy Admara - Rooftop


Freya dan Jova sama-sama menghirup udara dingin yang di atas langit begitu mendung, mungkin sebentar lagi rintik-rintik hujan akan turun. Mereka memandangi perkotaan metropolitan di wilayah Jakarta ini. Freya nampak menarik wajahnya ke atas untuk menatap langit abu-abu dengan tatapan was-was jika air hujan turun derasnya.


“Belum turun hujan, kali.” Jova menatap Freya dengan nyengir kuda pada sahabatnya yang memandangi atas langit.


“Nanti kalau hujan, gimana??” tanya gadis polos itu bersama masih menatap langit mendung tak bersahabat.


“Kita langsung kabur masuk ke dalem, lah hahaha-”


Tring !


Tawa Jova terpotong disaat suara notifikasi WhatsApp ponsel gadis tomboy tersebut berbunyi dari dalam kantong jas almamaternya. Dengan segera tangkas Jova merogoh saku kantongnya dan mengeluarkan HP Androidnya lalu mengecek melalui layar utama. Ternyata ada pesan chat masuk dari satu kontak.


“Siapa, Va?” Freya sekarang melihat wajah Jova yang fokus melihat isi pesan chat dari satu kontak yang sahabatnya miliki tersebut.


“Reyhan, tumben nge-chat. Ada apa gerangan?”


Jova mengangguk kepala. “Oke.”


Jova mengetuk layar utama di ponselnya, tepatnya di kolom pesan WhatsApp yang telah Reyhan kirim. Kini Jova sudah berada di aplikasi untuk mengirim Chattingan yang mana ada di dalam kontak chat sahabat lelaki humorisnya.


...----------------...


...KUNYUK SUTRES...


[Kunyuk Sutres]


Sableng, aku mau ngomong sesuatu nih sama kamu. Tapi jangan ngamuk buaya ke aku, ya? Oke?


^^^Apaan sih, ah?!^^^


[Kunyuk Sutres]


Ih belum ngomong udah galak duluan! Ini soal keadaan Angga yang kemarin, tapi aku pengennya kamu jangan marah, kalau marah nanti cepet tua


^^^Ya kan kamu belum ngomong! Gimana aku mau marah atau enggak?! Cepetan dah jelasin... Soalnya aku penasaran jadinya soal si Angga. Kenapa dia, Nyuk?^^^


[Kunyuk Sutres]


Anu...


^^^Una anu una anu! Cepetan lah woi! Bentar lagi hujan nih! Sama bel masuk juga mau bunyi!^^^


[Kunyuk Sutres]


Ya Allah sabar dong! Eeee... Jadi begini, sori ya Va! Sori banget aku bohong sama kalian! Angga tuh pingsan bukan karena cidera kepalanya kambuh


^^^Terus?! Apaan dong?! Wah parah ini cowok satu ngomong gak sesuai kenyataan!^^^


[Kunyuk Sutres]


Jangan marahin aku dong, Va! Itu juga demi kebaikan Angga, loh


^^^Kebaikan apa???^^^


[Kunyuk Sutres]


Hehehehe. Aku nggak mau kalau temen” sampai tau kalau Angga...

__ADS_1


[Kunyuk Sutres]


Depresi...


^^^APA?! Heh yang bener aja kamu, Rey! Kamu gak usah ngada” dong! Ngomong yang seadanya aja kek!^^^


[Kunyuk Sutres]


Astaga, Bleng! Kamu nggak percaya sama aku? Aku ngomong sesuai apa yang dikatain tante Andrana! Aku nggak ada niatan bohong sama kamu Va soal perkara hal ini! Please dong percaya sama aku...


^^^Habisnya kamu ngomongnya gak dari kemarin! Kami kan kemarin datang ke rumah sakit buat jenguk kamu dan Angga, lah kenapa bilangnya baru sekarang hari Selasa?!^^^


[Kunyuk Sutres]


Ya maaf, Va... Kasian kalau aku langsung gamblang di waktu itu. Ada temen” soalnya, aku gak mungkin langsung jelasin kalau Angga begitu. Aku terpaksa berbohong demi kebaikannya Angga doang, kok. Maafin aku ya, aku dah termasuk bohongin kamu apalagi Freya... Tolong ngertiin keadaannya Angga, oke?


^^^Hm. Kamu sih ada benernya... Tapi ya sudah deh yang penting kamu secepatnya ngomong. Nanti aku bilang ke Freya^^^


[Kunyuk Sutres]


Nggak marah, kan? Hehehehehe


^^^Enggak. Btw yang tadi aku maafin, nggak tau kalau Freya mau maafin atau kagak. Udah gih sono istirahat, jangan banyak capek. Inget kata dokter Sam!^^^


[Kunyuk Sutres]


Iyaaa... Suster cantik


...----------------...


“J-jadi Angga Depresi, Va?! Nah tuh kan aku udah ngerasa gak beres sama Angga kemarin!” celetuk Freya.


“Ya ampun, Frey! Asal nyeletuk aja deh. Kamu dari tadi ngintip aku chattingan sama Reyhan, ya?” kejut Jova mengusap dadanya sementara tangan satunya memasukkan handphonenya dalam saku kantong jas almamater miliknya.


“Iya, lah! Aku penasaran tau!” Freya kemudian mendengus halus. “Tega mah si Reyhan sama kita, masa bilangnya baru sekarang? Tapi nggak apa-apa deh yang penting sahabat kita ngomong yang sebetulnya kondisi Angga. Dan di sana, Kira-kira keadaan Angga gimana, ya? Udah membaik belum, ya?”


Jova mengangkat kedua bahunya tidak tahu kondisi sahabat Introvert-nya, sedangkan Freya mendekap tubuhnya dikarenakan udara angin semakin dingin sepadan langit mendung yang bisa dipastikan tak lama lagi air hujan turun.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


RS Wijaya - Kamar Rawat No 110


Reyhan menyengir dengan sedikit mendesis, ia tidak takut membicarakan kondisi Angga yang memang seperti itu dikarenakan sebelum memberikan kiriman pesan chat dirinya sudah meminta izin dari sang sahabat yang masih baringan di ranjang pasien si empunya. Setelah itu, lelaki friendly tersebut mematikan layar ponselnya dan menoleh menatap Angga yang tutup mata.


“Angga? Tidur?”


“Nggak,” singkat Angga menjawab.


Reyhan beralih menatap tangan kanan Angga yang memegangi dadanya. “Masih sakit?”


“Gak masalah, gue dari dulu juga sudah begini. Ini gara-gara tekanan dari mimpi buruk gue yang Roh gue datangi. Gak usah gue jelasin secara detail, lo pasti mengerti.”


Reyhan langsung terdiam atas pengucapan Angga. Tak ada balasan jawaban yang Reyhan keluarkan untuk Angga yang Angga sendiri juga tidak mengharap Reyhan menanggapi ujaran ia ini. Reyhan bisa merasakannya kalau sahabatnya tersebut tengah menahan kesakitan di dalam dadanya, akan namun sayangnya Reyhan tidak bisa membantu Angga untuk mengatasi beban beratnya. Tetapi begitu-begitu bebannya selalu Angga pikul sendiri, ia tak ingin merepotkan orang lain yang bergantungan masalah pribadinya.


Reyhan tahu itu. Bahkan kini lelaki yang asyik berceloteh panjang lebar dengan Angga sekarang diam seperti mulut yang ia kunci sendiri. Sampai hingga tiba-tiba...


CTAR !!!


Suara petir yang menggelegar membuat Reyhan nyaris terjungkal dari kursi rodanya karena terkejut bukan main, sedangkan Angga biasa saja tanpa ada pergerakan kaget ataupun ekspresi raut terperangah. Pemuda friendly itu mengelus dadanya yang jantungnya hampir tercabut dari organ tempatnya.


“Angga! Lo kagak kaget?!” pekik Reyhan tak menyangka sahabatnya diam biasa saja yang padahal suara petir itu begitu amat keras, bahkan ada cahaya petir-nya dari atas langit.


“Gak.” Bersamaan respon Angga masih pejam mata, air hujan turun dengan derasnya. Reyhan berdecak-decak seraya menggelengkan kepalanya.


“Anti kaget, lu Ngga! Gue aja kaget, masa elo enggak sih?!”


“Orang beda-beda.”


Reyhan menatap langit itu dengan penuh kesal. “Wah dasar petir sialan! Emang kembarannya Jelangkung ini, mah! Datang nggak di undang, pulang nggak di antar! Untung gue gak kepleset ke dunia akhirat!”


Angga membuka matanya dan melirik Reyhan dengan bola mata yang seperti berlensa abu-abu. “Petir lo ajak ribut, awas kena Azab.”


“Azab apaan?” tanya Reyhan sambil menoleh ke arah Angga.


“Azab tersambar gledek.” Reyhan melongo dengan mata melotot atas tanggapan dari Angga yang begitu santainya.


“Gue tidur dulu kalau gitu.”


“Ih tega lo, Ngga! Masa hujan deres begini lo mau ninggalin gue tidur, sih?!” protes Reyhan.


“Yang penting gak gue tinggal mati, kan?” Diakhir kalimat Angga, lelaki cuek tersebut benar-benar memejamkan matanya kembali dan bersiap ke alam mimpinya, berharap dirinya tidak lagi bermimpi buruk dikarenakan ia berulang-ulang membaca Doa dalam hati agar mimpi buruk itu tersingkirkan.


“Mulutnya astaga ini cowok!” geram Reyhan yang kini telah ditinggal Angga dalam Rohnya proses memasuki dunia alam mimpi.


Sahabatnya Angga mendengus dan memutuskan kembali menatap langit yang amat gelap. Lubuk hati Reyhan bertanya-tanya tentang teror yang ditentukan oleh arwah negatif tersebut yang raganya telah tidak bernyawa karena mati dibunuh secara tragisnya. Sebetulnya Reyhan ragu kalau Arseno mempunyai siasat buruk untuk meneror ia dan Angga secara berangkaian.


Reyhan memejamkan matanya kuat, ia lagi-lagi memikirkan arwah negatif tidak berguna itu. Baginya makhluk tak kasat mata tersebut begitu menganggu pikirannya begitupun juga ditambah Angga yang membuat sahabatnya lemah karenanya. Reyhan sangat benci pada pemuda arwah yang beraura kegelapan tersebut, kendatipun Reyhan tak sanggup menghadapinya akan tetapi hatinya begitu murka. Sepertinya jika Arseno menampakkan wujud dirinya lagi ke hadapannya, Reyhan akan meluapkan rasa amarahnya hingga berapi-api sekaligus menyumpah serapah saking muaknya.

__ADS_1


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2