
1 bulan kemudian. Mungkin di bulan berikutnya ini adalah musim dingin atau bisa disebut adalah musim hujan. Lihatlah, di atas langit sana berwarna kelabu pekat beserta turunnya lebat air hujan yang mengguyur seluruh kota Jakarta.
Di dalam kelas yang tidak lain yakni ruang kelas XI IPA 2, Reyhan posisinya berdiri di atas meja bangkunya dengan menggenggam sebuah spidol hitam papan tulis. Jika dilihat pemuda yang otaknya terkadang suka miring itu, sedang melakukan aksi konser ramai untuk menghibur seluruh temannya yang rasa kantuknya mulai menyerang akibat suasana dinginnya pagi hari. Bahkan saking dingin cuaca, mereka kompak mengenakan jaketnya masing-masing untuk mengatasi kedinginan yang menerpa sekujur tubuhnya.
♫ Berakit-rakit kita ke hulu
Berenang-renang kita ke tepian
Kita berbeda untuk saling mengisi segala kekurangan kita
Menjadi
Sahabat untuk selamanya
Atasi semua perbedaan
Kau dan aku sahabat
Untuk selamanya
Selama-lamanya
Setia ♫
Reyhan menyanyikan lagu tentang persahabatan itu yang vokalisnya adalah 'Padi Reborn' dengan penuh semangat tinggi hingga para teman-temannya yang kondisinya ngantuk, tak bersemangat menjalankan aktivitas sekolah hari ini, semangatnya mengundang jiwanya para mereka. Bahkan nada suara Reyhan dalam menyanyikan sebuah lagu tersebut meski hanya solo vokal tanpa alat musik, suaranya masih terdengar merdu dan sedap didengar oleh siapapun saja.
Bertepatan Reyhan bernyanyi, datanglah ketiga sahabatnya yang baru saja tiba di dalam kelas. Dengan itu, Reyhan menghentikan nyanyinya bersama menatap kedua sahabat perempuannya dan satu sahabat lelakinya yang berhenti melangkah memandangi tingkah kekonyolannya tersebut.
“Wow! Gue nyanyi ini, eh sobat-sobatnya gue udah dateng aje, hehehe! Good morning everyone !” Reyhan menyapa para sahabatnya dengan melambaikan kedua tangannya ke atas dengan begitu cerianya.
“Have a nice rainy day too,” jawab sapa Jova usai menggelengkan kepalanya karena melihat tingkah barbar Reyhan yang kendati menghibur seluruh para siswa dan siswi dalam kelasnya.
“Kurang kerjaan ya, lo? Sampe naik-naik ke atas meja bangku?” timpal Angga dingin.
“Bales dulu, kek sapanya gue!”
“Hm. Good morning too,” respon Angga menyapa kemudian setelah mendapat semprotan kesal dari Reyhan yang belum kunjung turun dari atas meja bangku miliknya.
“Have a nice rainy day too, Reyhan. Wah, udah lama loh kamu nggak nyanyi-nyanyi gitu, suaramu juga masih merdu kalau didengar, hehehe!” puji Freya usai menjawab sapa ramah Reyhan dengan senyuman manis cantiknya yang merekah di wajahnya.
“Arigatou (Terimakasih), sahabat perempuanku yang terpaling unyuk-unyuk! Kamu mau ikutan konser sama aku nggak?” tawar Reyhan.
Kedua mata gadis lugu tersebut membelalak dengan mulut menganga bahagia. “Mau!”
Freya yang hendak ingin melangkah mendekati Reyhan untuk mengikuti konser nyanyi bersama sahabatnya di hari hujan deras ini, lengan tangan yang terbungkus oleh jaket warna peace kesukaannya dicekal oleh Angga. Angga kemudian menatap tajam Reyhan yang tadi menawari hal konser urakan tersebut.
“Lo mau ngajarin Freya yang sesat-sesat? Cepet turun, nanti kalau mejanya rusak bagaimana? Siapa juga yang mau ganti rugi?” tutur Angga yang nadanya masih dingin, sepadan dinginnya cuaca ini.
Reyhan menggelengkan kepalanya cepat dengan menggembungkan kedua pipinya bak layak seperti anak usia dini yang tak mau menuruti perintah orangtuanya. Angga mendengus dengan kepala terus mendongak ke atas untuk menatap horor sahabatnya yang begitu ngeyel disuruh.
“Lo santai aja, Bray. Meja ini kan terbuat dari aluminium bukan kayu seperti bangku meja yang ada di kelas SD-nya gue dulu. Jadi pasti awet dan aman lah, ya? Toh, kalau nanti pak Harry dateng, gue juga nggak bakal dimarahin beliau yang hatinya kayak madu. Guru wali kelas kita, kan orangnya gak bisa marah sampe dia aja pernah dimanfaatin sama anak-anak kelas lain saking sabarnya tingkat dewa.”
Reyhan yang berceloteh panjang lebar dengan Angga, sampai tak sadar bahwa di belakang ketiga sahabatnya terdapat sosok pak Harry yang mengenakan setelan jas guru rapinya sedang berdiri tegap sambil bersedekap di dada. Menatap muridnya yang asyik sekali membicarakan tentang beliau tanpa ada rasa ragu di hatinya.
“Reyhan Lintang Ellvano?”
Jova dan Freya tersentak kaget dan langsung memutar tubuhnya ke belakang bersamaan, kecuali Angga yang kaget. Angga sudah tahu kalau di belakangnya adalah pak Harry meskipun sosoknya tak terlihat di depan matanya. Semuanya auto hening setelah melihat kehadiran wali kelasnya mereka, sementara Reyhan yang posisinya masih berdiri di atas meja hanya bisa cengengesan menatap wajah guru prianya.
“Eh, ada Bapak Harry guru yang ganteng, hehehe! Met pagi, Pak.” Reyhan menyapa ramah tanpa ada rasa takut dan hendak turun dari mejanya.
“Dengar-dengar, kamu membicarakan tentang Bapak, ya? Ya ampun, Nak ...” ucap pak Harry seraya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Ehehehe! Kan semuanya udah tau soal tentangnya Bapak, jangan hukum saya ya, Pak? Saya sudah capek kena hukuman mulu di setiap banyaknya guru,” pinta Reyhan.
“Mangkanya kamu jangan membuat ulah atau masalah sama guru-gurumu. Lagipula, apa yang kamu pijak itu meja tempat untuk belajar, bukan untuk konser. Ayo cepat segera turun, sebentar lagi bel akan dibunyikan. Mau sampai kapan kamu di atas meja terus?”
“Siap laksanakan, Pak! Ini saya juga mau turun dari panggung, kok.” Reyhan kemudian turun segera dari meja yang ia anggap sebuah tempat panggung konser nyanyinya.
“Meja bangku, kali! Bukan panggung!” celetuk Raka reflek menyenggol kedua kaki temannya dengan kencang membuat keseimbangan tubuh Reyhan di atas mejanya hilang seketika, bahkan meja bangku miliknya menjadi oleng-oleng.
“E-e-eh! Woi tolongin gue, woi! GAES!!!”
GUBRAK !!!
“Adoooohh!!!”
Raka auto menutup mulutnya dengan wajah ekspresi yang menampilkan kekagetannya nang bukan main. Melihat temannya yang tadi ia senggol secara reflek, kini dengan indahnya telah jatuh mendarat di lantai bersama meja bangkunya yang menimpa tubuhnya yang posisinya terlungkup.
“Ups! anjlok dah, orangnya!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Ruang Perpustakaan
Di jam istirahat sebagian para siswa-siswi dari bangku kelas XI IPA 2 yang merupakan kelas unggul dan penuh prestasi, menghabiskan waktunya di sebuah ruangan perpustakaan untuk membaca buku novel yang ada di hadapannya mereka masing-masing. Memang siswa-siswi kelas XI IPA 2 tergolong rata-rata memiliki hobi membaca buku, jadi tidak heran mereka pasti mengunjungi ruangan tersebut dengan hampir setiap hari.
Raka menurunkan buku novel genre Thriller-nya lalu menatap Reyhan lalu meneguk ludahnya. “Rey ... gue minta maaf soal yang tadi, ye?”
“Serah!” sembur Reyhan tanpa menatap Raka sama sekalipun. Pemuda tersebut lebih memilih fokus meneruskan membaca alur cerita seru di salah satu novel yang sedang ia baca itu.
Jevran yang telah membuka lembaran halaman selanjutnya di buku novel tebalnya, menatap Reyhan agak takut karena tampang muka tetangganya terlihat dingin. “Udah napa sih itu mukanya? Jangan suka cosplay jadi Angga. Gue larang, nih.”
Angga ikut menurunkan posisi buku novel Horor-nya yang penuh mistik di dalam alur ceritanya lalu menatap Jevran. “Kenapa gue yang di bawa-bawa?”
Jevran nyengir dengan kedua mata spontan menyipit. “Enggak kenapa-napa kok, Ngga. Ini lho sahabat lo! Ngambeknya gak berhenti-henti.”
Reyhan menghembuskan napasnya tanpa beralih memirsa Angga, meskipun buras omongan sahabatnya tetap Reyhan gagas. Usai itu, Angga mengembalikan posisinya dan memberi tatapan dinginnya pada Raka yang menanti permintaan maafnya diterima oleh Reyhan.
“Lain kali kalau nyenggol, lebih pinter lihat kondisi.”
Kedua bahu Raka saling merosot ke bawah dengan melempar tatapan memelas pada sang teman Introvert. “Maaf, Ngga ... gue padahal udah pelan, tapi Reyhan-nya aja yang kayak kue lemper.”
Brak !
Reyhan berakhir menggebrak meja dengan sebuah kepalan telapak tangan kanannya bersama kedua mata saling mendelik kuat pada Raka. “Apa lo bilang tadi?! Kayak kue lemper?! Heh, Rakato Samudra Pasifik! Asalkan lo tau aja ya! Tadi lo udah nyenggol kenceng kaki gue sampe diri gue jatoh ketiban meja bangku gue sendiri! Itu semua kan salah elo!! Enak aja lo ngatain gue kue lemper, ngaca dulu noh sebelum ngatain gitu!!”
Angga yang mendengar suara emosi Reyhan yang makin meledak-ledak dan menggebu-gebu, segera mengelus-elus punggung sahabatnya untuk meredakan emosinya yang membara. “Sudah-sudah. Lo jangan marah seperti itu, inget. Dia itu temen lo.”
Reyhan menyerong badannya dengan posisi wajah menekuk jengkel ke arah Angga, bahkan otomatis itu sahabat pendiamnya melepaskan elusan tangan dari punggungnya. “Masalahnya, jatuh gue tuh gak estetik, Ngga! Kalau estetik sih gak ada problem !”
“Dasar!” Angga dengan kesal mendengar jawaban lebay dari Reyhan, salah satu tangannya langsung meraup kasar wajah sahabatnya.
“Apaan dah sih lo, Ngga?! Nanti muka ganteng gue gak sempurna lagi gara-gara elo!” protes Reyhan menepis tangan Angga.
“Emangnya tangan gue air raksa?!” sentak Angga makin kesal pada penuturan ucapan Reyhan yang seenaknya dalam berbicara.
Aji menghembuskan napasnya lalu menutup buku novelnya yang telah ia baca meski baru setengah halaman. Lelaki tersebut kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. “Woi, kelen. Kalau orang Stress kebiasaannya pergi kemana, ya?”
“Lu kenapa nanya aneh begituan? Emangnya hari ini lo lagi Stress?” tanya Andra yang merapatkan jaketnya karena udara dingin dari jendela menusuk kulitnya.
Aji mengangkat wajahnya ke atas langit-langit dinding ruang perpustakaan yang dihiasi warna cat krem tanpa ada keretakan atau kepudaran dari warna cat tersebut. “Enggak, gue cuman nanya doang.”
“Club malam,” tanggap Jevran menjawab pertanyaan Aji yang sebetulnya terdengar aneh kalau mau dijawab.
__ADS_1
Beberapa temannya yang mendengar jawaban santainya Jevran tersentak kaget sampai spontan menegakkan badannya dengan mata mencuat langsai kecuali Freya. Reyhan kali ini lagi-lagi menggebrak mejanya. “Ngapain lo ke club malam kalau lagi Stress?! Itu mah lo udah kagak waras lagi!”
“Bukan gue, Cuy! Tapi abang sepupu gue yang bersinggah tempat tinggal di kota Bandung. Soal itu abang gue pernah cerita kalau dia lagi Stress berat, dia pasti bakal pergi ke club malam buat menuntaskan masalahnya. Ya paling abang gue di sana minum-minum, dengerin musik DJ sama lainnya lagi, dah.”
“Kalau adek sepupunya ini, gak mungkin kalau keadaannya lagi Stress pergi ke tempat terlarang itu! Paling kalau gue lagi begitu, demennya mau sendiri gak mau diganggu siapapun termasuk adek saudara kandung gue yang di rumah.”
“Kalau tentang itu gue mah tau, atuh.” Reyhan berkomentar lunak pada tetangganya yang mengatakan sejujurnya.
“Nah! Itu lo tau, kan? Jadi, kalian yang di sini, jangan pernah mikir kalau gue pernah ke tempat dugem. Injek sedikitpun, gue aja nggak pernah alias ogah.”
Freya yang diam menyimak seluruh lontaran perkataan Jevran mulai dari kakak sepupunya yang tinggal di luar kota ialah kota Bandung, hingga ke dirinya, kini memiringkan kepalanya dengan membuka mulutnya lumayan agak lebar. “Club malam? Dugem? Itu tempat apa yang kamu sebut terlarang, Vran? Kok aku jadi penasaran ya, hehehe.”
Tak menanti jawaban dari sang teman lelaki, Freya segera mengeluarkan ponsel Androidnya yang berjenis Vivo dari kantong saku jaket hangatnya. “Eh! Kamu mau ngapain?!”
Freya berhenti yang hendak ingin membuka layar HP-nya saat melihat tangannya Angga menghentikan kegiatannya untuk mencari tahu di internet. “Ya mau cari tau tempat yang dibilang Jevran itu dong, Ngga ...”
Angga menggelengkan kepalanya kuat. “Jangan dicari! Nanti otakmu bisa terputar lagi ke masa lalu, mending kamu gak usah mikirin jauh tentang apa yang dimaksud Jevran. Lagian itu tempat yang biasa buat dengerin lagu, dan minum-minum.”
Kedua mata gadis polos sahabat kecilnya itu berkedip-kedip dengan menatap Angga, seperti telah paham bangunan apa yang dideskripsikan oleh pemuda tampannya tersebut. “Oalah! Cafe, ya?!”
Angga menghembuskan napasnya lembut dari mulut dengan mata memejam sejenak. “Iya, sebut saja nama bangunan itu adalah cafe.”
“Wuih! Udah lama gak pernah mengunjungi cafe! Jadi pengen ke sana lagi, bangunan tempat nyaman itu yang udah lama direnovasi!” riang Freya.
“Yasudah besok pas libur, aku ajak kamu ke sana.”
Seketika dalam sekejap detik kemudian, Angga tersadar apa yang barusan ia jawab untuk Freya. ‘Eh! Gue kenapa jawab seperti itu sama Freya?! Sudah nggak waras ya lo, Ngga?’
Angga menatap dalam wajah cantiknya Freya hingga tanpa sadar, beberapa kata ia keluarkan secara di dalam lubuk hati, ‘Kenapa disaat gue melihat indah matanya Freya kayak ada perasaan yang berbeda? Dia juga sangat berbeda saat gue pandang, seperti ada yang lain dari aura wajahnya yang bikin gue jadi merasa asing terhadapnya. Ada apa ini sebenarnya?’
Freya mengerutkan keningnya heran pada Angga yang terus menatapnya lekat hingga bibirnya yang bentuknya datar kini menjadi melengkung ke atas. Sahabat kecilnya tengah sedang tersenyum. Tak hanya Freya saja yang heran, tetapi juga beberapa temannya dan kedua sahabat lainnya.
“Angga, lo ada rasa suka sama Freya?” tanya Reyhan memastikan hati sahabatnya.
Angga langsung terbuyar lamunannya akibat celetuk suara Reyhan yang bernada Tenor tersebut. “Eh ... apa? Enggak! Bukan gitu!”
Angga dengan segera bangkit dari kursi sampai tak sengaja membuat kursinya terjungkal ke belakang dan jatuh di lantai hingga menimbulkan suara keras yang menggema penjuru ruang perpustakaan. Pemuda tampan itu dengan gerakan cepat, mendirikan kursi lalu mengambil buku novel genre Horor-nya dari atas meja untuk mengembalikan buku novelnya tersebut ke rak novel khusus Horor/Misteri. Namun saking tergesa-gesa dengan detak jantung berdebar tak terkontrol, dengan cerobohnya, si Angga tak sengaja menjatuhkan beberapa buku novel hingga berserakan di lantai.
Freya hanya diam duduk manis di kursi meski gadis Nirmala itu begitu peka apa yang terjadi dengan Angga, sementara Jova hanya separuhnya saja. Reyhan yang menatap Angga, tersenyum menyeringai pada salah tingkah sahabatnya tersebut.
Usai merapikan posisi beberapa buku novel yang berjatuhan gara-gara lelaki tampan Indigo tersebut, Angga dengan langkah kaki besar meninggalkan ruang perpustakaan tanpa ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulutnya untuk berpamitan pada mereka.
“Lah? Kenapa Angga tiba-tiba jadi aneh gitu, dah?” bingung Lala setelah tak melihat sosok temannya itu lagi karena telah berjalan belok arah kanan.
“Sakit, kah?” tanya Zara pada kesemua temannya yang setia bersinggah di kursi baca buku.
“Sakit apaan kalau perilakunya kayak salah tingkah gitu sama Freya. Pasti itu cowok ada apa-apanya nih yang belum kita selidiki,” ujar Rena.
Freya menggelengkan kepalanya pada tingkah Angga yang terkesan membuat semua orang ingin tertawa bagi yang melihatnya. Sedangkan si Jova dan Reyhan saling melempar tatapannya masing-masing dengan ukiran senyuman miring di bibir.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di jalan lorong lantai 3, Angga terus menggerutu dengan memegang dadanya. Bukan karena sakit tetapi ada yang lain. Wajahnya begitu gelisah, karena dirinya tidak bisa memprediksi apa yang salah padanya. Di jalan lorong yang begitu sepi tak ada orang hanyalah Angga seorang di sini, detak jantungnya terus saja berpacu mode lebih cepat dibanding sebelumnya, bahkan seolah ada perasaan lain yang menerpa hatinya.
Angga menghembuskan napasnya. “Gue ini kenapa? Kenapa gue tiba-tiba jadi aneh gini?”
Di perjalanan entah ingin menuju kemana, Angga berusaha menyelidiki apa yang terjadi dengannya. Bahkan detak jantung dalam dada masih belum terkontrol dengan baik serta sempurna. Dan sekarang Angga mencoba memutar waktu dimana ia menatap sorot mata indahnya Freya yang membuat dirinya menjadi aneh hari ini.
Sembari berjalan, pandangan Angga menunduk bersama bibir tipisnya yang ia rapatkan lambat. Oh! Sepertinya ia telah menemukan jawaban dan prediksi yang ia cari-cari telah Angga jumpai. Meski hati kecilnya sedikit ragu-ragu meyakinkan kalau apa yang ia pikirkan sungguh-sungguh ada benarnya.
“Apa yang membuat gue menjadi seperti ini karena disebabkan gue sudah mulai jatuh cinta pada Freya, sahabat kecil gue sendiri yang selama ini gue kasih perlindungan di dalam hidupnya?”
__ADS_1
INDIGO To Be Continued ›››