Indigo

Indigo
Chapter 37 | Dreams Ended in Depression


__ADS_3

Pagi hari setelah kemarin mengadakan rapat guru SMA Galaxy Admara mengenai peristiwa Emily yang telah meninggal dunia, tiba inilah saatnya gadis polos yang berambut tergerai halus hitam legam menenteng tas punggung warna pics-nya di pundak kanannya.


Freya segera menyalami tangan Rani tak lupa mencium punggung tangannya begitupun juga setelah itu adalah Lucas sang ayah Freya. Anak mereka yang selalu berbakti dan sopan, begitu bersyukur memiliki anak gadis yang seperti itu walau Freya adalah gadis polos.


"Sayang, kamu bawa motor hari ini?" tanya Rani.


"Ehehehe, enggak Ma. Kemarin Freya lupa isi bensin makanya hari ini Freya mau naik bis aja."


"Loh, panas masa naik bis. Yakin kamu Nak?"


"Iya Yah, Freya juga mau sekalian berangkat bareng sama Kyra. Mungkin sekarang dia belum berangkat, yaudah ya Ma, Yah .. Freya mau berangkat dulu takut nanti telat."


"Oh yaudah, hati-hati di jalan ya Nak ingat kalau mau nyebrang lihat kanan-kiri dulu jangan asal nyebrang kalau jalan belum cukup ramai."


"Siap Mama, pasti Freya bakal hati-hati kok menuruti aturan yang ada."


"Oh sama ini Nak, kalau kamu di goda sama cowok-cowok lain kayak dulu pas kamu naik bis bareng Anggara, bilang aja 'aku sudah punya pacar' gitu ya Nak."


"Loh kok gitu Yah?! Nanti kalau di tanya siapa namanya, Freya harus jawab gimana?"


"Halah gampang dong, bilang aja 'nama pacarku Anggara Veincent Kaivandra' di jamin pasti orang itu bakal takut, tau kan Anggara kalau marah gimana. Apalagi Anggara kan kalau marah kebanyakan di pendem dalam hati dan otak."


"Ih gak mau ah! Masa bilang gitu segala, lagian nih ya Freya itu gak minat pacaran. Sahabatnya sendiri masa di bilang pacar, huh gak ada gak ada."


"Aduh Ayah, pagi-pagi pasti bahas Anggara mulu deh. Kasian tuh Freya, yaudah sana Nak kamu berangkat gih sama Kyra. Intinya kalau ada yang macam-macam sama kamu atau mungkin kamu kayak ada rasa feeling gak baik, jauhi aja. Misalnya ada cowok berandal atau preman mending kamu hindari."


"Iya Mama iya, kalau begitu Freya berangkat dulu yaa."


"Iya hati-hati Nak," ucap serempak Rani dan Lucas.


Freya tersenyum manis lalu berbalik badan lalu melangkah untuk membuka pintu rumah. Usai Freya sudah keluar dari rumah untuk pergi ke sekolah bersama Kyra naik bis, sepasang suami istri itu saling melirik. Ada raut risau pada Freya yang akan naik bis meskipun disitu ada temannya walau itu adalah adik kelasnya.


"Ayah, kok Mama jadi takut Freya kenapa-napa ya. Di luar itu banyak orang yang macem-macem apalagi sama seumur gadis seperti anak kita. Nanti kalau Freya dihadapi sama preman atau anak-anak berandalan yang mau nyakiti anak kita bagaimana?? Mama itu paling tenang kalau Freya barengnya sama Anggara, kalau sama Anggara dijamin aman kan."


"Mama lupa apa gimana toh? Anggara itu kan masih di rawat rumah sakit luar kota. Lagian anak kita kan udah dewasa jadi biarin aja, Freya anaknya juga apa-apa waspada kok."


"Ih masalahnya anak kita itu masih polos loh Yah, nanti kalau kenapa-napa gimana. Kayak di berita-berita gitu anak perempuan SMA di aniaya sama-"


"Ssssstt! Beritanya jangan dibawa-bawa segala ke anak kita, Ma. Udah deh pokoknya Mama tenang aja, nanti kalau Freya di goda sudah ada jurusan andalannya kok."


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Ting tong !


"Assalamualaikum, Kyra."


Setelah Freya mengucapkan salam dan memanggil Kyra, pintu rumah dua daun dibuka oleh seorang wanita paruh baya berambut pendek. Wajahnya tertampil sumringah senyuman saat menatap wajah manisnya Freya.


"Hai cantik, kok belum berangkat?"


"Ehehe hai Tante selamat pagi. Freya kesini mau ajak Kyra berangkat sekolah bareng, Tan. Ehmm, Kyra-nya belum berangkat kan?"


"Wah pas banget dong berarti, ini Kyra tinggal pake sepatu terus berangkat. Sebentar ya Freya, Tante panggilkan Kyra dulu. Freya mending masuk aja dulu sini ke dalem."


"Eh nggak usah Tante, Freya cukup tunggu di luar saja nggak apa-apa kok."


"Oh begitu, hmm yaudah tunggu sebentar ya, Nak."


"Oke Tan, siap hehehe."


Seorang wanita paruh baya yang berambut pendek itu rupanya adalah Kiran sang ibunya Kyra. Kiran berbalik badan berjalan untuk memanggil anaknya yang masih sibuk mengikat tali sepatu hitamnya. Di luar Freya mengambil handphonenya untuk melihat kini telah jam berapa. Masih pukul 06.25 jam masih sempat untuk Freya dan Kyra masuk ke sekolah tanpa terlambat.


"Kakak."


Seorang gadis bernada lembut seperti Freya membuat Freya yang sedang melihat layar handphone tersebut kepalanya reflek mendongak melihat ke arah depan.


"Eh Kyra, hai sudah siap berangkat ke sekolah sama Kakak?" tanya Freya senang.


"Siap kok Kak, ini juga gak ada yang ketinggalan. Yaudah yuk Kak kita berangkat daripada kita telat hehehe."


Freya tertegun pada semangat hari Kyra, ia terlihat bersemangat untuk pergi ke sekolah tanpa ada rasa lagi kesedihan yang menyelimuti ekspresi wajahnya.


'Syukurlah, mungkin Kyra sudah benar-benar ikhlas kepergian Emily.'


"Ayo Dik, kita berangkat." Freya mengulurkan tangannya lalu menarik lembut lengan Kyra untuk mengajaknya pergi ke sekolah dengan pertama-tama menyebrang lalu kemudian menunggu bis datang di halte.


Kyra dengan senyuman merekah di wajah mengangguk dan berjalan seiringan bersama kakak kelasnya yang begitu tulus dengan dirinya. Freya dan juga Kyra melangkah menelusuri jalan komplek permata dengan sembari berceloteh ringan yang membuat kedua anak SMA itu saling nyaman.


Usai keluar dari gang komplek, saatnya mereka berdua menyebrang jalan dengan mendahulukan menengok kanan-kiri bersamaan untuk melihat situasi para kendaraan, nampak telah sepi jalan tersebut Kyra dan Freya dengan bergandengan tangan menyebrang bersama-sama.


Mereka duduk di kursi halte bis untuk menunggu mobil bis yang belum datang, Freya kembali menilik layar HP-nya buat melihat jam di tepatnya layar utama.


"Kakak, ini sekarang jam berapa? Kyra soalnya gak bawa jam tangan apalagi HP-nya Kyra malah lowbat jadinya Kyra matiin daya aja ponselnya."


Freya menurunkan ponsel miliknya lalu menatap Kyra ramah walau bibirnya menyengir. "Loh, kok bisa lowbat? Emangnya semalem kamu nggak cas HP-nya dulu?"


"Ehehehe maaf Kak, Kyra lupa cas tadi malam," respon Kyra menggaruk kepalanya dengan cengar-cengir.


Freya tersenyum lebar lalu meraih puncak kepala Kyra dan mengelusnya lembut seperti pada adik kandungnya. "Gakpapa deh, maklum kan Kyra lupa. Lupa juga nggak bisa di salahkan .. kalau sekarang tuh jam enam lewat tiga puluh menit, tenang masih ada waktu beberapa menit kok untuk kita sampe sekolah."


"Iya Kakak Freya yang cantik."


"Ehehe kamu juga cantik kok Dik," tanggap Freya manis.


Kyra begitu nyaman dengan kakak kelasnya tersebut hingga dirinya menyender kepalanya di atas bahu Freya dengan santai. Sambil menunggu bis datang, mereka berdua kembali saling bersenda gurau untuk mengatasi kesenyapan namun tiba-tiba ada dua pemuda mengenakan seragam SMA putih abu-abu duduk di sebelahnya Kyra.


Freya melirik dua pemuda itu yang penampilannya sungguh tidak formal menunjukkan siswa di sekolah, lihatlah gaya penampilannya mereka berambut jabrik, baju putih SMA-nya ia tidak masukkan di dalam tetapi membiarkan baju itu di luar dan yang begitu terlihat anak berandal adalah dua pemuda itu menyesap rokok dengan penuh nikmat.


Asap itu yang menyebar di sekitar halte membuat dada kedua gadis itu menjadi sesak dan sedikit terbatuk karena tak sengaja menghirup asap rokok. Sepertinya mereka entah tak tahu atau memang bandel sengaja menggunakan rokok yang akan menimbulkan suatu penyakit kronis ialah kanker paru-paru.


'Aduh itu dua cowok kenapa gunain rokok sih, kan gak baik untuk kesehatan dan lingkungan sekitar,' batin Freya melambaikan tangannya di dekat wajahnya untuk menjauhkan asap rokok darinya.


"Hai cewek cantik yang rambutnya hitam," sapa salah satu lelaki yang tepat di sampingnya Kyra menutupi hidung mulutnya.


Freya yang merasa dipanggil segera menoleh ke arah satu pemuda yang memanggilnya, terlihat mahasiswa lelaki itu menaikkan alisnya dengan tersenyum lebar.


"Y-ya, hai." Freya menjawab kikuk.


"Heh bro, lumayan tuh cewek lo gebet. Sono ambil daripada keduluan cowok lain," ucap temannya yang ada di pojok kursi halte.


Kyra hanya diam menunduk karena tak berani pada dua pemuda itu yang lagaknya seperti anak berandal sikap melanggar aturan sementara Freya bingung dalam situasi mencengangkan ini dari satu pemuda itu yang akan menggodanya.


Pemuda itu yang pertama memanggil gadis polos itu langsung menjatuhkan batang rokoknya yang ia hisap lalu ia injak dengan kakinya yang bersepatu merah merk.


"Lu cantik deh, mau gak lo jadi pacar gue?" tanya pemuda itu yang usai menginjak batang rokoknya.


"A-aku nggak mau!" jawab Freya tegas.


"Loh kenapa hmm? Lo keliatannya cewek jomblo, mending lo jadi pacar gue. Gue akan turuti semua keinginan lo."


Pemuda itu yang berusaha ingin menjadi pacarnya Freya beranjak dari kursi lalu berjongkok di hadapan gadis polos itu yang berusaha berani padanya.


Freya begitu mengerti bahwa nama pemuda yang menggodanya adalah bernama Rain yang terpampang di label nama siswa di baju seragamnya.


Rain menyentuh dagu Freya dengan tangan kanan jari jempol dan jari telunjuknya sekaligus.


"Gimana? Gue cukup ganteng banyak dimata orang, gue cowok yang paling bisa membahagiakan gadis yang ada di dekat gue, itulah elo Freya."


Freya tak kaget mendengar Rain yang tahu nama panggilannya, tentunya ia melihat di tag name abu-abu tua yang terpasang di rompi abu-abu mudanya tepatnya tag name milik Freya tersebut terletak di kanan rompinya.


Freya menepis tangan Rain dan menatapnya tajam. "Kamu jangan macem-macem sama aku ya! Aku sudah punya pacar!"


Kyra tersontak kaget dan menoleh kepalanya ke Freya masih dengan menutup mulut sekaligus hidungnya.


"Hah? Masa cewek kayak lo udah punya pacar sih? Gue gak percaya."


"Kenapa? Kamu gak percaya-"


"Coba mana buktinya? Awas aja kalau lo bohongi gue, gue akan ngelakuin sesuatu sama lo yang membuat lo gak bisa berbuat apa-apa lagi."


Freya sekali diberi ancaman, nyali beraninya langsung menciut dan langsung mengeluarkan buktinya yaitu sebuah foto, Kyra yang penasaran hanya bisa melirik.


Freya dengan gesit membuka galeri albumnya lalu segera memencet satu foto dan akan gadis itu tunjukkan pada Rain yang menyeringai.


"Kalau kamu nggak percaya aku sudah punya pacar, ini buktinya silahkan lihat!" Freya membentangkan tangannya dengan membalikkan ponselnya ke dekat wajahnya Rain.


'Ha-hah?! Itukan fotonya kak Anggara.'


Freya menunjukkan salah satu foto gambar Anggara yang sedang berpose layaknya pemuda keren berdiri di luar balkon kamarnya sementara satu tangannya menyangga pembatas balkon kamar yang bentuknya seperti pagar. Wajahnya nampak terkesan lelaki yang sangat cool di pandang. Pakaiannya juga mencakup gaya model style lelaki yang mengenakan baju oblong lengan pendek berwarna natural yaitu hitam dan celana panjang polos warna moccha.


Itulah yang dikenakan oleh Anggara.


Cahaya sinar yang tertutup dari antara Freya, Kyra, Rain dan teman pemuda itu yang sedang mengamati serius gambar foto Anggara, membuat keempat remaja tersebut menoleh menghadap ke depan.


"Siapa nama pacar lo itu?" tanya Rain nada dingin.


Freya menatap kesal Rain lalu menjawabnya, "Anggara Veincent Kaivandra! Ayo Kyra buruan kita naik daripada kita telat masuk sekolahnya!"


Freya menarik kencang lengan tangan Kyra yang masih duduk, Kyra spontan beranjak berdiri dan pasrah ditarik oleh kakak kelasnya yang posisinya ingin menghindari Rain si anak berandal.


Kyra dan Freya naik ke dalam mobil bis dan duduk di dua persinggahan kursi, bertepatan itu supir bis kembali menancapkan gas mobilnya lalu segera melaju di kecepatan sedang.


Di perjalanan menuju ke SMA Admara Galaxy tempat sekolah internasional, Freya melihat terus di kaca jendela dekat sebelahnya dengan perasaan menahan malu.


Kyra yang melirik ke kakak kelasnya yang diam berbicara dalam hati, 'Memangnya kak Freya sudah jadi pacarnya kak Anggara ya? Tapi itu kapan, eh mereka berdua tapi malah cocok banget kalau jadi sepasang kekasih beneran hehehe.'


Freya melihat Kyra yang tersenyum mesem-mesem melalui pantulan jendela kaca mobil bis, dengan itu Freya memejamkan matanya kuat bersama menautkan jarinya masing-masing di kedua tangannya.


'Haduh aku malu banget! Pasti Kyra tadi lihat fotonya Anggara, hih mau taruh mana muka ku hari ini huaa! Maaf Ngga, maaf aku udah ngelakuin itu. Aku beneran terpaksa nih Anggara.'


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di kelas XI IPA 2 SMA Galaxy Admara, Jova memutar putar bolpoin-nya di atas meja dengan menopang dagunya menggunakan tangan sementara siku tangannya ia sangga di atas meja bangkunya.


"Duh ini si Freya kok belum dateng-dateng juga dah?" gumam Jova menengok jam dinding kelas.


Jova mendengus lalu menatap Reyhan yang ada di kursi bangkunya, pemuda itu nampak asyik dengan musik lagunya yang ia setel melalui headsetnya. Reyhan nampak menggerakkan kepalanya seolah ia menikmati sekali lagu tersebut sedangkan dirinya sembari membaca buku novel genre horor.


"Buset ini bocah satu, sahabatnya belum dateng daritadi kok dia malah asyik-asyik gitu- oh jangan-jangan Reyhan lagi dengerin lagu DJ lagi."


Meskipun gadis tomboy itu menggerutu pada Reyhan tak sedikitpun Reyhan mendengar dan begitu juga menolehkan pandangannya ke Jova. Mulut Reyhan nampak bergerak-gerak juga selain kepala, jelasnya pemuda care itu sedang menyanyi tanpa mengeluarkan nada vokal.


Jova beranjak dari bangkunya untuk menghampiri Reyhan lalu dengan jahil, Jova menyentil kening Reyhan. Reyhan dengan geram menolehkan kepalanya ke arah Jova lalu mendengus sambil melepas headsetnya dari kedua telinganya.


"Kamu apa-apaan sih? Gak tau apa aku lagi enakan dengerin lagu? Gangguin aja kerjaannya, heran aku njir."


"Heran aku njir ... heran aku njir." Jova berkacak pinggang dan terus menatap Reyhan tajam. "Woi kamu gak sadar apa, Freya daritadi belum dateng sini juga?"


"Terus kenapa?"


"Sumpah! Mana sifat peduli kamu?! Noh coba kamu liat jam di sana," ujar Jova dengan memutar kepalanya Reyhan sedikit kencang untuk melihat jam lingkaran di dinding atas papan tulis.


"Walah anjir! Jam enam lewat lima puluh dua menit dong!"


Reyhan menyerong badannya untuk menghadap sahabat tomboy-nya yang masih berdiri di sampingnya. "Coba gih kamu telpon Freya, barangkali di jalan kota macet."


"Oke, bentar aku coba telp-"


Jova yang ingin menelpon tak jadi dikarenakan seorang gadis yang memakai seragam rompi berpita abu-abu porpoise di kerah seragamnya yang bermotif kotak-kotak abu-abu pasir basah sementara roknya juga bermotif kotak-kotak seiras pada warna di kerah seragamnya, berlari kencang ke dalam kelas lalu mengatur napasnya usai sampai pada bangkunya.


"Eh Neng Freya udah dateng, kirain gak berangkat hehehe," ucap Reyhan.


Freya hanya tersenyum dengan mengacungkan jari jempolnya sembari menganggukkan kepalanya. Jova menyipitkan matanya karena di ekspresi wajah Freya terlihat aneh berbeda dari biasanya.


"Frey, mukamu kenapa? Kok kayak tertekan gitu .. hm ada masalah apa lagi? Youra? Febrie? Claudie?"


"B-bukan kok Va ... hosh aku kayak begini k-karna lari-lari ... hosh ..."


Reyhan ikut beranjak dari kursinya untuk menghampiri perempuan polos sahabatnya yang berwajah letih bercampur tertekan.


"Lagian suruh siapa kamu lari-lari? Santai aja kali kesini-nya gak usah pake lari marathon kek tadi. Tapi, kamu keliatannya lagi gak baik-baik saja deh .. hmm pasti kamu habis di apa-apain sama orang lain."


Freya benar-benar terjebak pada kedua sahabatnya, rasa curiga di raut wajah Reyhan dan Jova membuat Freya bingung menjawab apa dan harus bagaimana. Satu lagi, Freya tidak mungkin akan berbicara dalam relung hati, sekali berbicara di hati Reyhan akan cepat singkat mengetahuinya.


'Please ayo dong cepetan bel dong bel.'


"Kenapa emangnya Frey? Kok kamu pengen banget bel masuk bunyi?" tanya Reyhan menaikkan kedua alis.


'Aduh gawat! Aku lupa, kenapa coba aku malah batin-batin gini huh.'


"Lupa? Kamu mau batin apa emangnya? Inget loh, aku bisa baca hatimu dan pikiranmu."


"Eh enggak, bukan gitu Rey! Eee aku pengen cepet bel bunyi karna gak sabar menerima ilmu lagi di materi pembelajaran guru hehehe."


"Hm? Beneran, kamu ngga-"


KRIIIIIIIIIINGG !!!


"Eh udah bel! Udah bel!"


Freya dengan mata terbelalak senang sampai dengan sedikit melompat-lompat sedangkan dua sejoli tukang debat mulut itu hanya melongo saling menatap.


"Udah deh sana-sana duduk di bangku! Bentar lagi pak Harry masuk loh hehehe!" Freya mendorong Reyhan ke bangku Reyhan dan selanjutnya Freya menarik pelan lengan Jova ke bangku sebelahnya Freya.


Dan yang benar saja pak Harry datang masuk ke dalam kelas dengan menenteng tas punggungnya besarnya yang di dalam isi tas terdapat laptop milik beliau dan di tangannya pak Harry menjinjing beberapa buku pelajaran materinya untuk ia berikan ilmu baru pada kesemua muridnya yang terkenal berprestasi.


Saat kesemua murid pak Harry mulai mengeluarkan alat tulisnya, buku paket pelajaran sekarang, dan buku tulis kedua murid pak Harry ialah Jova dan Reyhan memperhatikan wajah Freya yang begitu malu pada kejadian mencengangkan tadi meskipun kedua sahabat Freya tak mengetahuinya. Kedua sohib sejoli itu tiba-tiba berbicara di dalam lubuk hatinya masing-masing dengan sama pada ucapan batinnya.


'Ini harus di selidiki.'


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


2 jam pelajaran yang diberikan oleh guru telah usai kini bel istirahat berbunyi dengan nyaring. Kesemua siswa dan siswi berhamburan keluar dari kelas termasuk Freya, Jova, dan Reyhan yang berjalan dengan santai ke lokasi kantin.


Setelah sampai di tujuan, mereka bertiga segera duduk di kursi yang hadapannya adalah meja kantin. Beruntungnya di situ masih kosong belum ada siswa-siswa atau siswi-siswi menempatinya.


Reyhan menyenderkan punggungnya di kepala di sandaran kursi nyaman. "Woi pada mau makan apa nih?"


Mata Jova terbelalak gembira. "Kamu mau traktir aku sama Freya lagi?! Serius?!"


"Yeh ge-er banget. Uangnya kalian yang mana biar aku yang bayarin, tapi sebelum itu aku mau tanya kalian mau makan sama apa? Noh nih aku rekomendasiin makanan yang paling enak mie ayam bakso, mie soto, mie goreng, mie kuah, batagor, siomay, cireng, nasi goreng, cilok, roti bakar aneka rasa. Nah mau yang mana di antara semua yang aku rekomendasikan buat kalian berdua?"


"Hmmm rekomendasi darimu bikin ngiler juga, kalau begitu aku mie ayam bakso aja deh."


"Siap Nona Sableng, oh iya sahabatku yang polos imut gemesin mau pesan apa? Ada banyak loh yang aku rekomendasiin hehehe."


"Mie kuah ya Rey hehehe lagi mau yang anget-anget soalnya," tutur Freya.


"Oke deh siap, uangnya aku bawa yak. Kalian duduk manis aja disini biar aku yang ngantri plus bayarin buat sahabat-sahabatku yang unyuk-unyuk."


"Haisyah! Udah sana-sana gak usah pake acara ngomong lebay segala," usir Jova.

__ADS_1


"Sahabat baik hati gini masa di usir, tega sekali kau denganku Markonah amit-amit tralalatrilili."


"Heh bilang apa kamu barusan Nyuk?!"


Reyhan langsung beranjak berdiri dan ngibrit ngacir yang terkena amukan Jova. Freya hanya geleng-geleng kepala dengan tertawa pelan pada tingkah laku Reyhan yang selalu saja stay membawa senjata pamungkas pelawaknya.


Jova mengelus dadanya untuk bersabar diri pada kelakuan sikap Reyhan yang begitu membuat naik darah setiap hari. Sementara disaat Freya akan memainkan ponselnya hanya sekedar membuka posting status di WhatsApp, datanglah Rangga yang membawa satu mangkuk kaca putih berisi mie kuah yang masih mengepul-mengepul.


"Hai semua," sapa Rangga sembari meletakkan mangkuk mie kuahnya.


"Hai juga Ga, sini duduk."


Rangga mengangguk pada Freya dan duduk di kursi sebelahnya tempat kursi milik Reyhan yang kosong dikarenakan sang empu masih mengantri.


"By the way, kalian berdua aja nih? Terus si Reyhan mana?"


"Oh tetanggamu, dia lagi ngantri beli mie ayam bakso sama beli mie kuah," ucap Jova santai.


"Jova, pasti Reyhan capek banget karna ngantri mana yang ngantri banyak loh. Kan pegel kaki Reyhan kalau ngantri panjang begitu."


"Halah gakpapa Frey, itung-itung olahraga kan. Lagian Reyhan kok yang mau, sudah lah deh biarin aja yang penting kita berdua sama-sama kenyang hahaha."


Beberapa lama menit kemudian yang menunggu Reyhan kembali sembari bersenda gurau ceria, tibalah Reyhan datang meletakkan nampan berisi mie kuah campur toping telur setengah matang dan seledri selain itu ada juga mie ayam bakso komplit dengan pangsit, terakhir adalah siomay piring satu porsi. Tak hanya makanan saja tetapi juga dengan 3 gelas es jeruk segar.


"Sesuai dengan pesanan, aku udah bawain kalian berdua pertama mie ayam bakso komplit pangsit dan kedua mie kuah di atasnya ada toping telur setengah mateng, sama seledri." Reyhan mengucapkan kata-kata lebar seraya meletakkan satu mangkuk ke Jova dan satu mangkuk untuk Freya.


"Dan lagi nih, karna aku tau minuman seger favorit kalian dan aku apaan .. jadi ada es jeruk. Nah udah puas kan."


"Wow lo pagi ini lagi nyamar jadi pelayan ya buat sahabat-sahabat lo? Keren itu udahan."


Reyhan menoleh ke sumber suara dan menangkap sosok Rangga yang ada di sebelahnya persis.


"Eh Anggara?"


"Nama gue Rangga njir."


"Eh iye salah nama, maksud gue Rangga. Kok lo bisa ada disini? Sejak kapan?"


"Sekitar sepuluh menit yang lalu kok, lo tumben pesen siomay. Biasanya mie ayam bakso kalau nggak roti bakar kalau makan di kantin."


"Lagi ngidam siomay, makannya gue pesen siomay."


"Njir! Kamu hamil?! Cowok kok hamil? Ih aku kasih tau tante Jihan pokoknya deh."


"E-eh jangan woi! Seenak jidat kamu ngasih tau, sekali-kali mikir pake otak makanya. Aku tuh bercanda tau!"


"Tuh Va dengerin, aku aja tau kok maksudnya Reyhan tadi itu apaan. Kapan deh kamu mengenali sifat candanya Reyhan lebih dalam?" tanya Freya dengan mengambil garpu serta sendok di wadah tengah meja.


"Mungkin pas bumi kita ini bergetar dan air laut menaik dahsyat untuk menenggelamkan seluruh dunia kita ini atau bisa dibilang dulu ada lonceng alarm pertanda tsunami datang oh atau nggak lagi ada suara terompet sangkakala yang di tiup sama malaikat Israfil."


"Sakit hati aku Va, bisa-bisanya kamu mengenali sifat ku disaat kiamat telah tiba. Emang ya dari dulu semenjak SMP kamu pasti buat aku anjlok ke bawah!"


Jova hanya memejamkan matanya santai dengan menjulurkan lidahnya meledek Reyhan sedangkan pemuda yang meledeknya hanya mendengus namun jangankan lupakan wajahnya yang memelas pasrah.


"Ngomong-ngomong, Rey gimana keadaan Anggara di rumah sakit? Dia udah baik-baik saja kan?" tanya Rangga.


"Alhamdulillah Ga, Anggara udah baik-baik aja walaupun kemarin hampir di bawa ke ruang ICU lagi tempat dulu Anggara Koma."


"Parah ... pasti waktu itu kondisi Anggara dah buruk balik gara-gara kepalanya yang terbentur keras di lantai kan pas mau ambil obat?"


"Nah iya betul, disaat itu gue sama yang lain sumpah panik bener denger Anggara bakal di bawa ke ruang ICU. Tapi dan tapi kami semua gak duga itu terjadi, Anggara sadar. Gue yakin itu Mukjizat yang di kirimkan ke Anggara."


"Iya Rey gue juga malah turut bahagia sahabat lo baik-baik saja meski kesehatannya belum pulih total."


"Hm'em, oh iya Ga kok tadi gue gak ngeliat elu ya? Sebenernya gue pengen ajak lo ke kantin bareng sama gue, Freya, sama Jova eh lo malah ilang."


"Hahaha oh yang itu, waktu pas bel istirahat bunyi gue disuruh aji nemenin dia ke toilet katanya mau pipis."


"A-anjir?! Demi apaan tuh bocah ngajak temen cowoknya buat nemenin dia ke toilet?!"


"Alasannya dia habis nonton film horor semalem, karna sudah terbawa suasana serem menurutnya jadi si Aji takut pergi ke toilet sendirian."


"Lah Ajinomoto-ajinomoto, gitu aja sampe terbawa dunia nyata segala hahaha!"


"Emang udah kronis itu otaknya si Aji," celetuk Jova.


Keempat siswi-siswi dan siswa-siswa tersebut mulai menikmati hidangan makanannya masing-masing keburu dingin. Mereka begitu lahap pada makanan yang mereka makan itu, hingga sampai-sampai Freya yang sedang akan menyeduh kuah mienya, gadis polos itu melihat Kyra yang menghampiri mejanya.


"Eh Kyra? Sini-sini Dek ngumpul sama Kakak-kakak!" titah Reyhan dengan melambaikan tangannya ramah hangat.


Kyra kini duduk di kursi sampingnya Freya, kedatangan gadis kelas X IPA 5 yang kehilangan sahabat tersayangnya disambut ramah kepada kakak-kakak kelasnya yang berkelas XI IPA 2. Senyuman mereka membuat hati Kyra nyaman berada di sekitar Freya, Jova, Rangga, dan Reyhan.


"Kak Freya sama Kak Jova lagi makan sama apa? Kayaknya enak hehehe."


Freya menoleh menatap Kyra dengan tersenyum manis. "Kakak lagi makan sama mie kuah terus kak Jova makan sama mie ayam bakso. Kalau Kyra nggak makan apa gitu di sini?"


"Hehehe gak perlu lah Kak, soalnya Kyra tadi bawa bekal di rumah .. barusan juga Kyra tuntas makan di kelas."


"Oooohh begitu ya, Kyra mau minum es jeruk? Nih diminum aja punyanya Kakak."


"Eh nggak usah Kak, Kyra tadi bawa botol minum kok dari rumah juga hehehe. Itu es jeruknya buat Kakak saja," tolak Kyra halus.


"Oh oke deh kalau begitu."


"Wah Freya, kamu tau nggak? Kamu kalau jadi seorang kakak hmm pasti perhatianmu pada adikmu uh sungguh aduhai," ucap Reyhan yang usai menyeduh es jeruknya melalui sedotan.


"Halah udah lo gak usah alay gitu, noh makan tuh siomay lo daripada keburu dingin tau-taunya langsung dibuang ke tong sampah."


"Astaghfirullah Rangga Vindo Gavindra! Mana ada gue buang ini siomay, mumbazir tau gak. Mending siomay-nya kalau gak abis gue kasihi aja ke si pengemis."


"Hah? Di dalam sekolah mana ada pengemis, adanya paling anak siswa apa gak siswi tukang malak."


"Bukan pengemis itu yang lo kira, tapi si Jovata Zea Felcia. Ya kan Eneng Sableng?"


"Coba ngomong sekali lagi, habis itu aku siram mukamu pake kuah bakso biar mampus itu muka melepuh!!"


Kyra yang mendengar hanya menyengir pada suara galaknya Jova pada Reyhan. "Kak Freya, Kyra boleh nanya sesuatu nggak?"


"Oh boleh dong, mau nanya apa Ky?"


Kyra kemudian menghadap badannya ke Freya dan menatapnya sungguh-sungguh namun masih dengan tersenyum.


"Kakak sejak kapan jadian sama kak Anggara?"


"HUKK UHUK UHUK UHUK!!!" Reyhan yang sedang akan menelan hasil kunyahan telur siomay-nya amat terkejut hingga ia terbatuk-batuk alias tersedak.


Rangga yang kaget melihat tetangganya terbatuk-batuk segera menepuk-menepuk punggung Reyhan untuk mendorong makanannya yang kini Reyhan tersedak habis-habisan.


"Udah-udah nih minum dulu!" komando Rangga sembari menyodorkan es jeruk milik Reyhan sendiri.


Reyhan dengan gercep (Gerak cepat) segera menerima gelas tersebut dari tangan Rangga dan langsung meneguk es jeruknya tersebut hingga tandas. Reyhan menyentuh dadanya yang nyaris saja napasnya hilang.


"Sumpah! Sakit bener tenggorokan gue sekarang."


"Huh bikin takut aja ini anak! Untung lo langsung minum, coba aja kalau semisalnya dibiarin .. lo bakal mati."


"Kok gitu??"


"Yaiyalah kan nafas lo terhambat, ya cepet mati lah karna kehabisan oksigen dan nafas, gitu aja pake nanya."


"Is kamu yak! Bikin orang panik aja, kek Anggara tau gak kamu tuh!" protes Jova.


"Eh bukan gitu Rey itu semua salah! Kamu jangan salah paham dulu, aku bisa jelasin kok."


"Oh hehe oke-oke maaf sumpah salah paham lagi kan gue. Terus kenapa? Kok Kyra bisa tanya semenjak kapan kamu jadian sama Anggara."


Freya berwajah melas. "Tadi pas nunggu bis di halte depan komplek permata, aku sempet mau dipacari sama Rain."


"Rain? Siapa Rain? Mantan-mu kah?" tanya Reyhan.


"Ih bukan lah! Pacar aja gak punya gimana mantan. Hhhh, kayaknya Rain sama satu temennya itu anak siswa sekolah lain deh soalnya seragamnya putih abu-abu, kita kan beda seragam SMA-nya."


"Ya jelas lah namanya juga ini sekolah SMA elit pasti seragamnya internasional beda dari lain-lainnya. Terus kamu terima jadi pacarnyaa ... siapa tadi nama cowok itu?"


"Rain, Rey. Aku gak nerima dia bahkan tadi dia kayak anak cowok preman."


"Hah anak cowok preman? Maksudnya bagaimana?"


"Dia pake hisap api rokok Va, terus juga rambutnya kek anak rock gitu loh sama baju seragamnya gak dimasukin."


"Oke-oke habis itu kamu jawab apa untuk menolak permintaan Rain itu?" tanya Reyhan intens.


"Aku bilang, sudah punya pacar dan karena Rain gak percaya aku langsung mengeluarkan bukti. Fotonya Anggara."


"Waduh buset dah kena mental gak tuh, Anggara kan orangnya cool banget kalau pose foto keren bet dah pokoknya," puji Jova menggeleng kepalanya.


"Tapi beruntung aja jebakan ku telah bebas berkat mobil bis yang sudah dateng. Rain sebelum aku dan Kyra pergi, dia sempet-sempetnya tanya siapa nama Anggara. Ya spontan biar gak di cegat aku sebut nama lengkapnya ... Anggara Veincent Kaivandra."


"Haduh polos banget sahabat gue satu ini. Eh aku mau tanya deh, kamu kenapa bisa bilang kalau Anggara adalah pacarmu? Kamu yang memang nekad niat sendiri?"


"Enggak sih Rey, aku nurut sama ayah. Katanya kalau aku di goda bilang aja sudah punya pacar dan parahnya ayah bilang pacarku Anggara Veincent Kaivandra. Malu kan aku akhirnya sampe sini."


Reyhan, Rangga, Jova, dan Kyra tertawa terbahak-bahak mendengar ungkapan polosnya Freya sementara gadis tersebut hanya diam menahan rasa malu berlipat ganda karena sudah ditertawakan.


"Reyhan! Aku mohon yak jangan kasih tau Anggara soal ini! Aku takut kalau Anggara bakal marah sama aku, tau sendiri Anggara kalau marah serem bener kayak horor tatapannya juga tajam kayak pisau."


"Hahahahaha! Ada-ada aja deh kamu Frey, masa tatapan Anggara tajam kayak pisau sih? Tenang, tatapannya bikin orang penasaran sama ke misteriusnya Anggara sahabat kita bertiga yang Introvert itu."


"Liiihh pokoknya please jangan ngomong sama Anggara! Yayayaya?! Reyhan?! Rangga?! Jova?! Kyra?!" Freya berkata panik itu sembari mendempetkan kedua telapak tangannya simbol memohon pada sekitarnya.


"Sans kalau gitu, aku gak akan kasih tau Anggara soal itu. Tapi maaf ya kalau mulutku tiba-tiba keceplosan hehehehe."


"Ih Reyhan mah!"


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Setelah menjalani aktivitas di sekolah, pada saatnya pukul 15.00 sore kesemua murid pergi pulang ke rumah masing-masing. Dan di parkiran nampak Reyhan sudah sampai di motornya akan mengenakan helm serta memasang kuncinya.


Namun melihat Freya seperti sedang celingak-celinguk mencari seseorang membuat Reyhan menatap gadis sahabat polosnya itu.


"Hei Freya, kamu ngapain celingukan begitu? Nyari siapa??" tanya Reyhan.


"Ehm, Kyra. Niatnya aku sama dia mau pulang bareng naik bis tapi kok Kyra sudah gak ada ya?"


"Udah pulang kali si Kyra, lagian kamu kenapa gak bawa motor?"


"Aku lupa isi bensin kemarin, makanya aku milih naik bis daripada antri panjang di pom bensin yang cuman mengulur-ulur banyak waktu."


"Hadeh kok bisa lupa sih?" Jova menepuk keningnya.


"Ehehehe maaf, yaudah deh aku pulang dulu ya Rey, Va, Ga."


"Eh tunggu bentar Frey! Kamu gak boleh pulang sendiri, bahaya kamu yang polos begini. Nanti kalau ada yang macem-macem lagi samamu gimana? Yang nolong juga siapa? Udah ya aku anter kamu pulang, sini naik."


Freya mengedipkan kedua matanya berkali-kali di Reyhan yang akan mengantarkannya ia pulang. Freya sebelumnya belum pernah di antar pulang oleh lelaki menggunakan motor apalagi dengan sahabatnya sendiri.


"M-maksudnya aku nebeng kamu?!"


"Yaiyalah, aku bakal anter kamu pulang dengan selamat. Tenang aku bukan cowok berandal kok yang ajak kamu kelayapan habis ini lagian abis nganter Neng cantik polos, Abang langsung pulang ke komplek Kristal hehehe."


"Yakin Rey kamu anter Freya pulang? Gak sama aku aja nih Frey-"


"Bukannya kamu di suruh pulang cepet yak sama mamamu karna bentar lagi ada acara keluarga di tempat sepupumu? Yaudah sana gih pulang, Freya biar aku anter aja. Mau kan Frey? Daripada kamu kenapa-napa di jalan."


"Aduh oh iya ya! Yaudah deh aku pulang aja takut di amuk sama papa bisa mampus aku hih!"


"Hati-hati di jalan ya Va."


"Siap Frey, kalau Reyhan berbuat macem-macem sama kamu jangan lupa adukan ke aku yak. Bye semuaaa!"


"Bye!" jawab Reyhan kesal.


Jova melajukan motornya keluar dari gerbang sekolah dan menggunakan kecepatan sedang untuk sampai di komplek United.


"Ayo Frey buruan naik, daripada keburu maghrib entar," ajak Reyhan.


Freya menghampiri Reyhan berjalan dekat, setelah sudah ada di dekatnya Freya sedikit mencondongkan badannya.


"Rey, bukannya aku nolak ya tapi aku tuh belum pernah yang namanya boncengan sama cowok. Aku takut di ledek sama anak-anak sini. Gimana dong??"


"Ya ampun Freya Septiara Anesha sahabatku yang cantik dan polos, kamu ngapain peduliin ledekan dari mereka hah? Udah cuekin aja lagi pula kita kan sahabat, jadi ya mereka tau lah seberapa akrabnya kita."


"Duuuuhh ... tapi aku ragu Rey," ucapnya sedikit merengek.


"Halah sudahlah Frey, kamu turuti aja perintah sahabatmu. Daripada kamu pulang sendiri tapi di jalan kena bahaya, gimana hayo?"


"Eeeemm bener juga sih Ga, tapi apa bisa kita tunggu sampai sepi dulu baru pulang, Rey?"


"Ya Allah kalau kita nunggu sepi, yang ada gerbang sekolah terlanjur ditutup mang Asep lah. Emangnya kamu mau kita berdua terkunci di sekolah ini?"


"Enggak mau," respon Freya geleng-geleng kepala.


"Nah kalau enggak mau, yaudah kamu nurut aja sama aku. Oke?"


Freya menghela napasnya. "Oke."


"Nah gitu dong, itu baru cakep. Yok lah gas! Oh iya Ga, lu pulang duluan aja nanti gue nyusul elu."


"Oh yaudah kalau gitu, gue balik duluan ya. Kalian berdua hati-hati di jalan."


"Yoi, lo juga hati-hati."


Rangga menjawab sebuah anggukan sebagai tanda respon lalu memundurkan motornya kemudian melaju keluar dari gerbang sekolah di kecepatan standar.


Sedangkan Reyhan telah menaiki motornya begitupun Freya juga sudah berada duduk di belakang Reyhan. Reyhan memundurkan motornya dan membelokkan stang motornya dan melaju keluar dari gerbang sekolah.


"Kamu bakal aman sama aku, kalau ada yang mencoba enggak-enggak sama kamu .. tenang saja aku ada, karena aku penggantinya Anggara sementara. Dia kan nitipin sahabat kecilnya padaku, sahabat kecil tersayangnya."


"Apaan sih kamu Rey, nyebelin deh daritadi!"


Freya memukul pelan punggung Reyhan dan yang dipukul hanya tertawa renyah, pada akhirnya Reyhan kembali melajukan motornya ke kota untuk menuju ke komplek Permata, ia menjamin mengantarkan sahabat polosnya dengan selamat tanpa ada celaka.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Seorang pemuda ialah Anggara. Anggara tengah berdiri dengan menatap sekelilingnya ekspresi bingung, ia tak mengenal tempat yang ia berada dan ia injak. Nampak asing tempat lorong gelap tersebut hingga Anggara mengerutkan keningnya seraya mengusap tengkuknya.



Banyak serpihan-serpihan kaca yang bertebaran di lantai begitupun retak parahnya lantai lorong gelap tersebut yang tak layak di injak oleh siapapun. Dinding tembok cat warnanya telah pudar dan dinding tembok sebelah kanan sudah terkoyak hingga menyisakan batu bata disana. Lampu yang redup membuat Anggara sedikit cabar hati untuk melangkah ke depan.


"Gue ada dimana? Kenapa gue bisa ada disini?"

__ADS_1


Baru melangkahkan satu kaki, tibalah angin hembusan menerpa rambut hitam Anggara padahal tak ada ventilasi jendela yang berhasil untuk angin masuk namun mengapa angin itu datang? Sangat aneh.


Anggara mencoba mengacuhkan angin yang datang secara tiba-tiba dan tubuhnya meremang. Anggara tetap mempunyai nyali untuk melangkahkan kakinya ke depan sana yang ada satu jalan arah pembelokan. Anggara menengok kanan-kiri yang sama-sama membuat dirinya meremang apalagi suasananya sangat dingin. Saat Anggara telah sampai di pembelokan lorong, Anggara melihat ada pintu kayu di jauh depan ia.


Cahaya ventilasi atas pintu kayu menunjukan bahwa sepertinya Anggara menemukan jalan keluar dari ruang lorong menyeramkan ini. Angin tadi yang Anggara rasakan lewat dari belakang bukan dari depan tapi ya sudahlah Anggara tetap tak memedulikan keadaan diluar nalar ini.


Setelah Anggara berjalan mendekati pintu kayu tersebut, Anggara mengulurkan tangannya untuk menggenggam gagang pintu untuk membukanya.


Kriiiiiieeettt !


Suara decitan pintu ini membuat telinga Anggara berasa pengang mendengung sakit kuatnya decitan pintu tua tersebut. Cahaya semakin masuk saat Anggara membuka lebar-lebar pintu kayu tua. Dan Anggara langsung seketika tersentak pada luarnya yang tak sesuai pada ekspetasi dirinya pemuda Indigo tersebut.



Anggara tak menduga yang akan langkahi adalah semacam luasan hutan aneh baginya, lihatlah disana banyak ukiran-ukiran wajah menyeramkan berhantu terpampang di batang pohon yang bentuknya sedikit melengkung. Tak hanya itu saja yang membuat Anggara tersentak tetapi juga sosok-sosok manusia bergelantungan di atas ranting pohon. Anggara dengan jantung berdebar kencang memberanikan diri untuk melangkah semakin keluar dari pintu tua.


Anggara mencoba mendatangi satu sosok yang posisinya satu tangannya terangkat dengan di ikat oleh ranting pohon. Anggara mendongakkan kepalanya untuk mengamati wajah satu sosok manusia itu yang membuat bergidik ngeri dimana kedua matanya melotot sementara mulutnya terbuka menganga lebar.


Anggara reflek spontan mundur menjauhi sosok manusia itu, yang lainnya nampak sudah berbau bangkai busuk yang mana sudah di kepung puluhan lalat hijau. Karena Anggara tak memperhatikan langkah mundurnya, ia kakinya terjerat oleh tali sepatunya sendiri hingga Anggara terjatuh dengan keras.


BRUGH !


"Akh ssssshh!"


Tanpa sengaja tangan belakang Anggara menyentuh suatu benda bulat yang membuat pemuda itu penasaran akan benda yang ia tak sengaja pegang. Anggara menghadap dirinya ke belakang untuk mengetahui benda apakah itu.


Saat Anggara membersihkan benda itu yang tertutup oleh tanah dan sedikit berdebu, Anggara menatap sungguh-sungguh hingga ternyata itu adalah...


"K-kepala tengkorak manusia?!"


Anggara membuangnya langsung kepala tengkorak manusia tersebut kencang-kencang hingga tengkorak itu tak terlihat lagi karena usai di lempar kuat oleh Anggara. Namun baru saja menormalkan napasnya, jantung Anggara dikagetkan oleh tarikan kencang kerah belakang kemeja hitam kotak-kotak milik Anggara yang Anggara kenakan.


"Heh! Sialan lepasin gue!!"


Anggara diseret-seret oleh orang yang tak ia kenal karena dirinya posisinya menghadap depan tak menghadap belakang. Karena kesal, Anggara menepis kasar tangan orang itu yang menarik kerah kemeja belakangnya.


Anggara menolehkan kepalanya dengan mata tatapan tajam, namun mata Anggara menjadi terbelalak lebar sekaligus mencuat. Ia melihat sosok satu manusia yang bergelantungan tadi, dan sekarang ia sudah ada di belakang Anggara. Anggara dengan cepat segera menoleh ke samping untuk melihat satu orang yang bergelantungan tadi, tetapi ternyata sudah tak ada.


'M-manusia ini kenapa bisa ada disini?! Bukannya dia sudah mati.'


"Lo tertipu pada gue, gue sebenarnya masih hidup dan lo target gue selanjutnya!"


Kepala Anggara menoleh cepat kepada orang yang mengenakan baju panjang kedodoran tersebut. "Lo siapa hah?!"


"Gue? Gue pembunuhan disini dan lo akan gue siksa hidup-hidup!!"


Orang tersebut langsung mengulurkan tangannya lalu mencekik leher Anggara kuat, Anggara yang belum siap menerima dirinya berdiri spontan. Tangan orang yang mencekik leher Anggara semakin menarik leher Anggara ke atas hingga kedua kaki Anggara tak menapak di lantai. Dada Anggara sesak, rahang lehernya serasa ingin patah.


Anggara yang tak ingin ia mati sia-sia segera menendang kuat wajah orang tersebut sangat-sangat kuat.


BUGH !!


Cekikan leher dari Anggara terlepas disaat orang itu terjatuh dengan mengerang kesakitan memegang wajahnya yang hidungnya mengalir berdarah. Anggara pun jatuh terduduk dengan memegang lehernya dan mencoba bangkit berdiri ingin menghindarinya. Namun dari belakang terdengar suara langkah sepatu berlari cepat ke Anggara dan langsung menghempas Anggara sampai menabrak pohon ukiran seram tersebut.


BUAGH !!!


Anggara merintih kesakitan dikarenakan seluruh tubuhnya serasa remuk begitupun termasuk kepalanya yang terhantam sangat amat kuat. Anggara terjatuh terbaring tubuh terentang di tanah. Bola mata Anggara mendongak ke atas melihat orang itu berjalan dan langsung menarik kerah kemeja belakang Anggara dengan paksa lalu kemudian orang tersebut melempar tubuh Anggara sembarang arah hingga kepala Anggara tak sengaja menghantam batu.


Orang tersebut begitu geram melihat Anggara yang masih bergerak. "Kok lo gak mati-mati sih?! Nyawa lo kuat bener ya, gak lemah seperti gue kira. Oke lo habis ini bakal gak bisa apa-apa!!"


Rasa pening menjalar ke otak Anggara membuat pemuda itu sulit untuk bangkit dari baringnya, akan tetapi mata Anggara kembali terbelalak menatap orang yang ingin membunuhnya mengeluarkan pisau berkarat yang berlumuran darah. Orang itu kemudian melangkah sementara Anggara menggelengkan kepalanya isyarat bahasa untuk bilang 'jangan'.


Anggara langsung mengangkat kepalanya dan mendorong kedua tangannya yang menopang di tanah untuk ia agar menghindari pembunuhan tersebut dengan secara menyeret langkahnya.


"Jangan!!"


"Jangan itu menjadi kebalikan. Kalau dibalik menjadi lakukan, oke dengan senang hati gue akan nusuk pisau ini ke anggota tubuh lo yang gue mau hahahaha!!!"


Pemuda pembunuhan itu melancarkan pisaunya ke tubuh Anggara, dengan sigap Anggara menggulingkan badannya ke samping mengelak pisau tajam itu yang akan menancap di tubuhnya. Namun Anggara tak menyadari bahwa di sampingnya ada batu berukuran sedang hingga pada akhirnya kepala Anggara kembali menghantam suatu yang keras.


"Dasar manusia bodoh! Lo sampe gak nyadar di samping lo ada apa, cih ternyata lo gak hebat juga."


"Buang-buang waktu saja lo!!"


JLEBB !!!


Anggara membuka mulutnya tanpa bersuara disaat pisau berkarat itu menancap di perutnya lalu pemuda pembunuhan itu menarik paksa pisaunya dari perut Anggara.


CAP !!!


Darah perut pemuda Indigo tersebut mengalir keluar dengan deras, sementara pembunuhan itu membiarkan darah Anggara terus mengalir. Pembunuhan pemuda ini tertawa puas dan akan membawa Anggara ke suatu tempat namun mata Anggara sudah terburu menutup serta mulutnya membungkam.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Anggara mengernyitkan matanya dan mengerjapkan matanya beberapa kali lalu membukanya lemah. Anggara kemudian mengedarkan pandangannya perlahan hingga ia menangkap ruangan sesuatu yang kini ia berada di suatu ruangan gelap sementara lampu lingkaran nyaris hampir sama seperti lampu operasi ada di atas Anggara tepatnya badannya.



Bau-bau oli menyeruak ke penciuman hidung Anggara, kepala pemuda itu begitu seperti ditusuk beribuan paku. Anggara memejamkan matanya dan meraih memegang kepalanya dengan mendesis. Pandangan Anggara menangkap lagi sebuah macam patung manusia yang di sandarkan di tembok dinding samping pintu berbahan kayu jati, patung tersebut nampak begitu kotor dan di wajahnya terdapat bercak-bercak darah.


Punggung Anggara terasa tidak nyaman karena Anggara dibaringkan di sebuah tempat biasanya untuk membunuh korban seperti di film-film Thriller. Perut Anggara juga terasa perih, Anggara lumayan mengangkat kepalanya untuk melihat kondisi perutnya. Banyak darah yang mengering di baju oblong coklat di bagian perutnya nampak juga bajunya berlubang karena tadinya ia ditusuk pisau oleh pemuda layaknya psikopat.


Anggara ingin turun dari tempat itu dan keluar dari ruangan mencekam ini, namun sayangnya kedua kaki Anggara di rantai besi oleh gembok. Pemuda Indigo Introvert tersebut memaksakan diri untuk bangkit duduk namun otot perutnya terasa amat perih dahsyat.


Tap...


Tap...


Tap...


Tap...


Suara langkah kaki bersepatu menyamakan gemanya ruangan tersebut, Anggara memperhatikan sumber suara langkah kaki itu mendekat ke dirinya. Dua orang pemuda muncul dari kegelapan ruangan itu dan kini terlihat jelas setelah di dekat lampu lingkaran.


"Si ... siapa ...?"


Suara lemah Anggara yang setara dengan tubuhnya, membuat kedua pemuda seumurnya menyunggingkan senyuman menyeringai, mata sayu Anggara yang setengah menutup menatap dua pemuda yang ada di hadapannya.


"Beruntungnya lo sadar, jadinya kami berdua akan memulai kesenangan untuk mengatasi suasana hati buruk kami berdua," ucap pemuda bernama Donald.


"Maksud ...?"


"Halah gak penting kami jawab pertanyaan lo yang pengen di jawab!" Rommy lah namanya, ia berjalan menuju ke suatu banyaknya kabel-kabel dan satu kotak mesin entah apa fungsinya.


Sementara Donald pergi berjalan mendatangi meja beberapa suntikan dan sebuh botol ukuran kecil berisi cairan hitam. Mata Anggara yang setengah hampir menutup seketika terbuka amat lebar menatap beberapa suntikan.


Anggara mulai meronta-ronta memaksa diri untuk menjatuhkan dirinya ke lantai namun alhasilnya, kedua kaki Anggara yang di rantai besi oleh gembok tertekuk hingga berbunyi 'kreekk' sekarang ruangan menjadi terbalik, oh tidak bukan ruangannya yang terbalik tetapi raga tubuh Anggara yang terbalik. Anggara menjadi menggantung, kesempatan pemuda pemberani itu menyenggol kencang meja suntikan.


BRAKK !!


Beberapa suntikan tersebut jatuh berserakan sementara botol-botol cairan hitam tumpah miris di lantai. Donald mengernyit marah besar meratapi barang-barang alatnya yang berserakan di lantai terkena cairan hitam.


"Sialan, brengsek!!!"


Donald dengan satu tangannya mencengkram ujung atas baju oblong lengan pendek coklat Anggara yang sudah dilepas kemeja miliknya oleh Rommy tadi saat Anggara belum sadarkan diri. Donald menarik Anggara kembali berbaring di tempat ia dibaringkan, dengan napas naik turun Donald melepas cengkraman dari baju Anggara lalu ia mengambil pistol tembak kemudian ujung tempat keluarnya peluru pistol Donald tempelkan di tengah kening Anggara yang tertutup oleh rambutnya.


"Berani macem-macem lagi sama gue, lo akan mati detik ini juga! Paham lo hah??!!"


Anggara berdecih sinis pada ancaman Donald yang menurutnya ia merasa biasa saja, dikarenakan sudah beberapa kali ia di siksa habis-habisan yang menguatkan nyali mentalnya.


Rommy berbalik badan dengan membawa sebuah kotak kecil yang tertera tertera gambar segitiga berwarna kuning dan di tengah segitiga tersebut terpampang jelas tanda seru berwarna hitam, Anggara sedikit terkejut membaca tulisan di atas segitiga tersebut yang bertuliskan Warning.


Anggara menelan salivanya susah payah melihat kotak kecil tersebut yang seperti mesin elektronik. Telinga pendengaran milik Anggara menangkap suara sentilan jari pada jarum suntikan, itulah yang sedang Donald pegang di tepat samping kiri Anggara.


Rommy dengan tidak santai menarik selembar kertas putih dari bawah Anggara, sepertinya Rommy yang meletakkan kotak mesin elektroniknya akan membaca isi kertas tersebut, dan bisa Anggara terawang, Rommy membaca banyaknya tutorial tata cara.


"Lu mau bunuh gue masih dengan baca tutorial begituan? Huh, ternyata belum profesional ya .. masih pemula," cecar Anggara.


"LO BILANG GUE APA TADI??!!"


Suara Rommy menggema sepenjuru ruangan sementara Anggara tersenyum smirk, pemuda Indigo ini tak sedikitpun ada rasa takut pada Donald dan Rommy.


"Santai kawan, tenang sebentar lagi kita bakal seneng-seneng kok untuk menjadikan korban cowok kayak Anggara ini."


"Tau darimana lo nama gue?!"


"Gak penting gue tau nama lo darimana, sekarang yang lebih tepat gue gak akan sia-siakan momen memalangkan lo ini hahahaha!!"


Donald dengan tampang psikopat menancapkan jarum suntikan yang sudah terisi cairan hitam, jari ibu jarinya Donald menekan ujung bawah suntikan untuk mendorong cairan hitam itu ke lengan tangan Anggara yang akan segera cepat menyalurkan zat berbahaya ini dalam seluruh tubuh Anggara.


Efeknya begitu kuat, kepala Anggara serasa ingin pecah meledak sementara dari perut naik mencapai tenggorokan Anggara, pemuda itu terbatuk sekali dengan memuncratkan darah pekat dari mulutnya. Seketika Anggara menjadi lemas tak berdaya dampak suntikan cairan hitam yang diberikan oleh Donald melalui dalam kulit lengan tangan kiri Anggara.


Selanjutnya Rommy setelah membaca isi kertas tersebut, ia memantapkan aksinya untuk melakukan sesuatu pada Anggara yang matanya kembali hampir menutup saking lemasnya ia saat ini.


Rommy mengambil alat sambungan dari mesin elektronik lalu kemudian ia menekan tombol on hingga ternampak lampu kecil hijau menyala di sebelah tombol mesin eletronik. Alat sambungan itu perlahan demi perlahan Rommy turunkan ke dada tengah sang korban.


DRRRRRRRZZZZ !!!


Anggara mengejang hebat dengan suara mengerang. Rupanya alat yang di tempelkan oleh Rommy adalah penyetruman yang selalu ia sediakan saat ingin membunuh target korban. Anggara hanya pasrah pada penyiksaan yang diberikan oleh Rommy sedangkan Donald asyik menontonnya.


Mata Anggara mengernyit kuat, sementara wajahnya mulai memucat karena alat tersebut terus menyetrum tubuhnya. Hingga 10 menit kemudian Donald menyuruh Rommy berhenti pada aksinya.


Rommy mengangkat alat sambungan mesin penyetruman tegang tinggi setelah di komando 'stop' oleh Donald. Anggara yang matanya telah terpejam tak lagi dengan mengernyit melainkan tenang, pemuda tersebut menghembuskan napasnya lemah, mulutnya sedikit terbuka. Wajahnya telah pucat pasi, lehernya basah berkeringat begitu juga keningnya yang merembes ke pelipis.


"Pingsan juga." Donald berkata angkuh dengan tersenyum miring.


Rommy mengerutkan jidatnya lalu mengangkat tangan kanan Anggara yang sudah sangat dingin seperti es. Rommy menekan pergelangan tangan si korban lalu menekan denyut nadi miliknya.


"Lo salah ngira, Anggara bukan pingsan tapi mati."


Donald semakin tersenyum jahat. "Hah? Lo serius??"


Donald berjalan ke Anggara lalu mendekatkan jari telunjuknya di hidung Anggara, rupanya benar ucapan Rommy. Hela napas Anggara telah tak ada lagi, terutama detak jantungnya berhenti.


"Kerja bagus Rom, gue malah seneng anak gak tau di untung ini mati haha!"


Ternampak jelas seluruh wajah Anggara telah pucat pasi, bibirnya yang tak bungkam tetapi terbuka sedikit juga terlihat sangat pucat. Di sekitar Anggara terdengar Donald dan Rommy tertawa Iblis pada hasilnya yang berhasil membuat Anggara tidak bernyawa lagi.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Pemuda itu tiba-tiba terbangun dari baringnya dan berposisi duduk, matanya terbelalak lebar dengan napas tersengal-sengal walau dirinya tidak habis lari marathon.


Wanita dan pria paruh baya berlari menghampiri pemuda itu yang lagi menghaturkan napasnya ngos-ngosan.


"Anggara Nak kamu kenapa? Ada apa Sayang?!"


Anggara menoleh cepat ke suara wanita tersebut dan Anggara langsung terlompat kaget dengan sedikit memundurkan tempatnya.


"Eh Ngga-ngga, ini Ayah sama mama! Kamu kenapa sih Nak? Kok kayak kaget gitu?" tanya Agra mulai cemas padanya.


Andrana duduk di pinggir ranjang pasien milik anaknya lalu mengelus sunar rambut Anggara di bagian kanan, melihat wajah anak putranya begitu pucat serta keringat dingin membasahi tubuhnya. Andrana dan Agra saling mengetahui pasti bahwa anak dari mereka terbangun dari mimpi buruknya.


Pandangan Anggara sampai menunduk saking traumanya pada mimpi buruk yang selalu saja ia alami sampai sekarang, kedua jari jemari kedua tangan Anggara terlihat gemetar. Depresi mulai mendatang dampak sebuah mimpi buruk yang bisa dibilang panjang setiap jalan yang Anggara arungi penuh mencekam, menyiksa, dan sekaligus menegangkan.


"Eum ma eum ehm." Anggara bergumam-gumam tidak jelas apalagi suaranya yang serak.


"Ha? Apa Ngga? Kamu ngomong apa barusan? Ayah dan mama belum nangkap ucapan-mu tadi."


"Anggara mati ... Anggara mati," ucap diri Anggara dengan pandangan menunduk.


"Loh Nak, kok kamu ngomongnya begitu??"


"Mimpi Ma, Anggara mimpi buruk." Agra menjelaskan pada istrinya.


"Darimana Ayah tahu?" tanya Andrana.


"Ayah bisa baca pikiran Anggara sekarang Ma, Anggara tiba-tiba gini lagi pasti habis mimpi buruk yang gak pantes Anggara jalani di dunia mimpi itu."


Anggara mengusap wajahnya kasar dilanjutkan mengacak-acak rambutnya dengan perasaan depresi membelenggunya. Andrana menenangkan pikiran putranya dengan mengusap bahunya lembut sementara Agra yang berwajah setengah khawatir mengusap-usap punggung anak semata wayangnya.


"Eh Nak! Kok tubuhmu hangat begini?! Kamu demam ya Nak?!" panik Andrana.


"Hah demam Ma?!" Agra tangkas menyentuh leher, wajah, dan terakhir telapak tangan Anggara. Memang terbukti anaknya sedang tengah demam.


"Mau Ayah panggilkan dokter Ngga? Mukamu juga pucet gini, tubuhmu selain demam juga lemes. Ayah panggilkan dokter ya."


Anggara menggelengkan kepalanya lemah dengan tetap bibir membungkam. Andrana menggenggam telapak tangan kanan Anggara yang hangat lalu menatap suaminya di kiri Anggara.


"Tuh kan Yah, anak kita demam gara-gara mimpi buruk yang Anggara alami! Anggara beberapa kali demam dulunya .. TK, SD, SMP. Mama kira SMA Anggara gak akan lagi mimpi buruk yang buat anak kita satu-satunya demam ditambah depresi begini! Tapi sekarang, SMA kelas sebelas ini Anggara kembali mengalaminya seperti dulu loh Yah!"


"Lalu, ini semua salahnya Ayah? Ayah yang membuat Anggara demam dan depresi? Kenapa bisa gitu Maaa? Anggara mempunyai seperti ini karena sudah dasar dari keturunan kita berdua, kita sama-sama Indigo dan anak kita juga Indigo karena asal keturunan dari kemampuan istimewa Ayah dan mama."


"Iya Mama tahu itu. Tapi Mama gak bermaksud salahkan Ayah!"


"Tapi Mama terdengar salahkan Ayah. Memangnya Ayah tunarungu?!"


Anggara memegang kepalanya yang kembali berdenyutan, sementara kedua orangtuanya yang ada di tengah-tengah Anggara sibuk berdebat tentang kelebihan indera keenam yang membuat Anggara selalu saja bernasib buruk bahkan parah.


"Astaghfirullahaladzim ..." lirih Anggara.


Perdebatan antara Andrana dan Agra yang hampir saja menimbulkan bertengkar besar, telah selesai dan Andrana ingin menatap kondisi Anggara tetapi anak putranya sudah kembali memegang kepalanya sedikit mengerang.


"Nak, kepalamu sakit lagi ya?! Bentar ya Mama ambil obat dulu."


Andrana membentangkan satu tangannya untuk mengambil bungkusan obat pil Anggara kemudian Andrana sodorkan satu biji obat pil pada Anggara kemudian anak putranya tersebut menerima satu butir obat pil. Usai Anggara memasukan satu obat pil-nya ke dalam tubuh, Anggara meminum air putih untuk mendorong obatnya.


"Sini Nak, Mama kembalikan gelasnya."


Anggara mengangguk dan menyerahkan gelas air putih pada Andrana. Tapi satu kata permintaannya Anggara membuat sepasang istri dan suami tak akan melakukannya lagi.


"Anggara mohon kalian jangan bertengkar ... Anggara paling benci Mama sama Ayah bertengkar."


"Iya Nak iya, maafin Mama."


"Ayah juga Ngga, maafin Ayah ya."


Anggara mengangguk lagi dengan kini sedikit tersenyum, sementara Andrana menengok atas meja nakas.


"Anggara mau makan? Kalau mau, Mama ambilkan."


"Nggak, Ma. Anggara nggak lapar."


"Oh yaudah, mending sekarang kamu baringan aja biar sakit kepalanya reda. Kamu juga dilarang banyak pikiran, mending Anggara buang dulu. Pentingkan kesehatanmu," saran Agra.


"Iya Sayang, benar kata Ayah. Dan Anggara nggak usah depresi lagi ya, buang saja momen mimpi buruk itu Nak."


Anggara hanya mengangguk menuruti Andrana dan Agra yang begitu menaruh kasih sayang teramat padanya. Mereka khawatir jika Anggara banyak berpikir, kondisinya kembali menjadi drop.


Anggara akan berusaha melupakan gambaran-gambaran tentang mimpi buruknya tadi yang tersirat di benak Anggara. Meskipun hidup Anggara tak tenang karena di ganggu berbagai macam teror-teror atau mimpi buruk yang membuatnya cepat depresi, tak sedikitpun Anggara berniat untuk menutup mata batinnya. Selamanya Anggara miliki dan tak akan ia tutup buat menjaga dirinya dan lainnya jika ada sesuatu yang janggal serta marabahaya.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2