
Angin sore semilir masuk melalui pintu balkon kamar yang terbuka. Disitu terlihat sang penghuni kamar ialah Reyhan tengah duduk diam menyaksikan seorang Youtubers gamer horor thriller di sebuah lapak Youtube laptopnya. Reyhan mendengarkan suara dari sang Youtubers gamer tersebut melalui earphone miliknya, namun walau Reyhan sedang menonton Youtube tersebut dan sang Youtubers gamer horor thriller itu yang sedang berkutat menjalankan game menegangkan tersebut, Reyhan sama sekali biasa saja tak menghayati kengerian yang dirasakan oleh sang Youtubers gamer memainkan sebuah game.
Reyhan bersedekap di dada seraya bersandar di kursi belajar nyamannya. Tampang wajah Reyhan tak sama sekali menunjukkan kalau ia sedang asyik fokus menikmati Youtube yang saat ini ia tonton.
Mata Reyhan terpusat oleh pajangan bingkai foto yang disitu terdapat foto persahabatannya dan juga ia sendiri didalam bingkai foto tersebut. Pose gembira terpampang disana, termasuk Anggara yang tersenyum lebar membuat sahabatnya Reyhan itu terlihat sangat menawan dipandang. Bola mata Reyhan bergerak pelan kesamping untuk menatap foto Anggara yang di tepat samping Freya. Reyhan menghela napasnya begitu panjang dengan terus menatap foto Anggara penuh nanar gundah.
"Udah tiga minggu, lo masih aja Koma. Kapan coba lo sadar?"
Reyhan mendongakkan kepalanya sambil mengusap wajahnya kasar, bersamaan itu ada seorang membuka pintu kamar Reyhan.
Cklek !
Seorang wanita paruh baya berumur 40-an tahun memanggil Reyhan dengan senyuman bibir manis yang merekah di wajah cantiknya. Meskipun umur wanita paruh baya tersebut terbilang telah tua akan tetapi wajahnya masih terlihat muda. Reyhan yang di panggil hanya menoleh kepalanya ke sumber suara yang memanggilnya lembut.
Ia adalah Jihan, Mamanya Reyhan. Yang terlihat hanya kepalanya saja karena posisi itu Jihan sedang mencondongkan hanya kepalanya saja.
"Kenapa, Ma?" tanya Reyhan lunglai.
Jihan tersenyum lebar. "Yuk kebawah sama Mama, tuh kamu di suruh sama Papa loh."
"Kenapa? Papa suruh Reyhan beliin bahan-bahan kebutuhan di Indomaret?"
"Hahaha bukan Nak, Papa nyuruh Reyhan buat kamu temenin Papa yang lagi nonton film horor di ruang TV. Ayuk buruan selak di tunggu Papa loh dibawah."
Reyhan memalingkan mukanya ke atas sambil berucap, "Reyhan lagi males keluar, Ma."
Jihan menghela napasnya geleng-geleng kepala perlahan tetap tersenyum, ia berjalan menghampiri anaknya yang wajahnya nampak masih murung. Setelah berada di tepat samping Reyhan, Jihan mengelus belakang kepala anak satu-satunya.
"Ayo dong Rey, kamu tuh dikamar melulu udah gitu kamu jarang banget kumpul-kumpul di ruang keluarga. Ayo deh pokoknya Reyhan harus kebawah. Mama juga mau masak di dapur buat nanti makan malem."
Jihan melepas earphone milik Reyhan perlahan lalu mencabut kabel benda itu dari lubang untuk menancap kabel earphone sang empunya. Jihan juga mengpause video Youtube yang sedang Reyhan tonton lalu menutup laptop milik anaknya, sementara Reyhan hanya diam saja Mamanya yang mematikan mode daya laptopnya.
Jihan meraih lengan Reyhan lalu menariknya untuk mengajak ke bawah tangga. Reyhan hanya pasrah diajak Mamanya yang begitu sayang perhatian padanya begitupun Farhan, Papanya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Saat ini Freya juga tengah duduk di kursi meja belajarnya. Jemari tangannya mengetik-ngetik keyboard laptopnya untuk mengetik naskah novelnya yang kini memasuki 80 bab. Baru dipertengahan narasi cerita dan dialog, jemari-jemari lentik tangan Freya berhenti dikarenakan tiba-tiba ia kehabisan ide cerita untuk mengulasnya.
Freya mencoba merenungkan sejenak untuk merancang alur cerita di dalam benak otaknya, namun semuanya kosong plong. Padahal Freya juga sedang mendengarkan sebuah lagu kesukaannya melalui headsetnya, pada biasanya Freya kalau lagunya telah mendalam masuk di jiwanya, dalam sekejap waktu Freya langsung sanggup melanjutkan narasi karya novelnya.
"Uaaaaa aku malah mentok di pertengahan alur begini dong!" pekik Freya sembari mengacak-acak rambutnya hingga berantakan yang sebelumnya tertata rapi.
"Padahal udah pasang headset sama nyetel lagu, tapi malah gak mempan!" Selanjutnya Freya berkata lirih gumam, "Apa aku terlalu mikirin Anggara, ya? Sampe-sampe aku gak bisa merancang novel kali ini."
"Iya Sayang, kamu terlalu banget mikirin Anggara hingga kamu sendiri malah mentok sama novel bikinan kamu."
"Astagfirullah, Ma!"
Freya begitu sangat terkejut mendapati Rani sang Mamanya ada di sampingnya. Freya menyongsong badannya ke arah Rani yang bersuara celetuk tiba-tiba membuat anak putrinya kaget tak karuan.
"Mama Ih, bikin Freya kaget aja deh. Untung jantung Freya gak lepas."
"Hahaha aneh kamu Nak, mana ada jantung bisa lepas." Rani menekan hidung mancung Freya dengan mimik gemas.
Rani menyilih tatapannya ke arah layar laptop kesayangan anaknya, disana tertera sebuah banyaknya paragraf narasi cerita yang di ketik oleh Freya. Rani terkagum-kagum pada otak dari anak gadisnya yang mahir sekali dalam merancang alur cerita yang telah memasuki 4000 kata. Ya, Rani melihat tulisan angka itu pada atas narasi cerita novel anaknya di pojok paling kiri.
"Wih keren, baru satu hari ngetik udah mencapai empat ribu kata aja nih," puji Rani.
"Apanya Ma, orang Freya malah terhambat ide cerita kok," cicit Freya.
"Hahaha gakpapa Sayang, mungkin kamu perlu hiatus dulu sama novelmu ini. Apalagi novelmu genre fantasi, pasti ya harus banyak imajinasi yang keluar dari benak otak kamu, Sayang."
"Gitu ya, Ma?"
"Hm'em, lebih baik Freya istirahat dulu. Otaknya harus seger."
"Eum yaudah deh, Ma. Freya mau kasih info dulu sama-"
"Pembaca-pembaca setianya Freya, yak!"
"Setianya Freya?"
"Iya dong! Kamu itukan termasuk Author novel yang terpopuler, loh. Bahkan novelmu masuk ke beranda platfrom aplikasi ini hehehe, mantep banget deh pokoknya anaknya Mama!"
"Mama berlebihan ih, lagian masih ada Author-author lain yang lebih hebat dan populer disana. Freya mah belum ada populer-populernya sama sekali."
"Kamu ini suka banget rendahin diri."
Freya hanya cengengesan sambil menghadap badannya seperti semula lalu jari telunjuk tangannya menyentuh touchpad bagian dari laptopnya, kemudian ia gerakkan hingga panah kecil yang tertera di layar laptop ke tanda titik 3 berbentuk tegak lurus lalu Freya mengetuk touchpad satu kali dan sekarang terpampang jelas 3 pilihan antara Save, Preview, Revision history, dan Delete. Tentunya Freya akan memencet tanda Save paling atas sendiri untuk menyimpan draf novel genre fantasinya.
Seharusnya Freya mengupdate cerita novel fantasinya setiap hari, namun kendalanya ia malah bingung melanjutkannya bagaimana apalagi saat ini otak Freya yang encer layaknya jika mengetik ide-ide cerita yang ia tuangkan dalam novelnya sangat begitu cepat, tetapi tidak kali ini. Stuck di cerita karya novelnya sendiri.
Sesegera mungkin Freya memberikan informasi pada kesemua pembaca-pembaca novelnya setia Freya di room chat tentunya. Usai memberikan informasi bahwa intinya ia hiatus untuk beberapa waktu dan akan melanjutkannya jika kendalanya telah selesai. Setelah memberi informasi melalui chat room di aplikasi novelnya, Freya keluar dari aplikasi tersebut lalu menekan power button di atas keyboard laptopnya, gunanya adalah untuk mematikan dan menghidupkan laptopnya.
Berikutnya usai semua telah selesai, Freya menutup laptopnya dan mencabut charger laptop miliknya. Freya menumpukkan kedua tangannya di atas laptopnya yang posisinya sudah tertutup dengan menghela napas panjangnya, sementara Rani sibuk menyisir pelan rambut hitam panjang Freya yang tergerai berantakan.
"Rambut kamu kok bisa jadi berantakan begini sih, Sayang? Biasanya juga rapi banget deh hehehe," ucap cengir Rani sambil menyisir rambut anak gadisnya dengan memakai perasaan.
"Maafin Freya, Ma. Reflek acak-acak rambut sendiri tadi, gara-gara mentok di novel fantasinya Freya. Sayang banget sih, padahal baru di pertengahan alur malah blank otaknya Freya."
"Hahaha kan udah Mama bilangin, kamu perlu refreshing biar otak pikiran Freya segar lagi. Contohnya genjot sepeda keliling komplek itung-itung hirup udara seger dong."
Perkataan Rani tersebut membuat Freya teringat akan Anggara mengajak dirinya berkeliling komplek seraya mengayuh sepeda di sembari menghirup udara segar pagi. Pintu balkon kamar yang terbuka, Freya menatap pintu balkon kamar Anggara yang tertutup dan sepi sunyi tempatnya, tak ada yang menghuni disana.
"Biasanya Freya kalo refreshing, sama Anggara apalagi olahraga sepeda pas pagi-pagi. Biasanya juga Anggara yang sering kalo liburan sekolah hari sabtu dan minggu pagi-pagi udah ngebel pintu rumah kita buat ajak Freya sepedaan."
Freya menghembuskan napasnya lemah. "Tapi semenjak Anggara Koma di rumah sakit, gak ada yang ngajak Freya sepedaan lagi."
Rani yang mendengar ucapan sedih Freya sangat begitu hatinya terenyuh pilu, kini terlihat wajah anaknya kembali murung tak bersemangat seperti biasanya.
"Sayang, kamu harus sabar ya ... Mama yakin pasti Anggara bakal bangun lagi kok."
"Tapi Ma, ini udah masuk tiga minggu .. tapi Anggara belum ada tanda-tanda sadar dari Koma."
Rani tersenyum dengan mengelus rambutnya Freya. "Freya gak boleh sedih-sedih gini, kalo Freya sedih mulu nanti si Anggara bakal susah bangun, loh. Nih dengerin Mama, Freya tau kan kalo Anggara itu sahabatmu yang kuat?"
Freya mengangguk. "Tau, Ma."
"Nah, Freya gak perlu khawatir lagi. Anggara begitu mungkin karna capek. Oh atau begini aja, Freya besok mau jenguk Anggara?"
Freya menoleh ke Rani. "Iya Ma, Freya mau!"
"Yaudah kalo begitu, hari ini Freya jangan sedih terus ya. Nanti si Ayah bisa cerewet lagi kalo Freya murung melulu. Anak cantik manis harus lepas dari murung, dong."
Rani mencubit gemas pipi anak gadisnya untuk mencoba menghibur sang anak agar sedikit tertawa.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di kamar Jova yang serba ungu ciamik. Sang penghuni kamar sibuk bermain game PS-nya ditemani oleh adik kandung lelakinya yang bernama Novaro Anggres Neswandra. Kedua tangan Jova pada jemari-jemari tangannya sibuk bergerak untuk menjalankan gamenya menggunakan stik game PS.
Jova kini sedang memacu adrenalin-nya yang gamenya berjudul Run Away. Kisahnya adalah seorang wanita berumur 20 tahun harus melarikan diri dari manusia pembunuh atau bisa dibilang Psychopath. Tetapi kalau yang memainkannya Jova tentu saja Jova akan melawan dan mencoba membunuh dua Psychopath itu yang telah menculiknya di sebuah gedung tua bertingkat cukup terbengkalai dan banyak bercak-bercak darah serta daging-daging manusia keteteran dimana-mana.
Novaro yang melihat aksi sang kakak perempuannya itu sampai melongo, berani juga ternyata kakaknya yang bernama Jovata Zea Felincia itu. Novaro menyimak bergidik ngeri pada layar TV yang kini tersambung oleh game PS milik kakaknya sambil mengemil keripik balado kemasan yang tadi Jova beli di Indomaret dekat Komplek United. Wah, sangat unik nama Komplek rumah ia tersebut.
Jari jempol tangan kanan Jova kini menggerakkan tombol arah di stik gamenya ke arah maju sembari menekan tombol simbol kotak agar sang pemain game Run Away mampu berlari untuk sementara melarikan diri dari dua Psychopath itu yang mengenakan topeng wajah di wajahnya tersendiri.
"Duh buat apa gue lari begini, cih mending pisau yang gue temuin ini gue tusuk aja ke psikopat-psikopat gak ada otak itu, hahahaha rasain nih pembalasan dari Kimberly!"
"Lah kok Kimberly sih, Kak?? Kan nama Kakak Jovata."
"Nama pemain game ini kan Kimbery, Nov," jawab Jova tanpa menoleh Novaro.
"Ooo gitu, toh."
Jova memutar tombol arah stik dan langsung membuat Kimberly sang wanita pemain game Run Away, memutar badannya dan Jova cekatan memencet tombol simbol silang sebelum dua orang merupakan pembunuhan tersebut menerjang Kimberly. Hal itu setelah Jova memencet tombol simbol silang...
JLEB !
JLEB !
"Anjay auto langsung di tusuk ke psikopat-psikopatnya itu dong!" pekik heboh Novaro terkejut kakaknya yang nekat.
Namun Novaro mengamati wajah Jova disaat menusuk pisau di kedua pembunuhan itu dalam gamenya, tampang muka Jova begitu sengit seperti terlalu mendalami insiden itu.
"Kakak kok mukanya sengit gitu, dah?" tanya Novaro menaikkan satu alis.
"Ini psikopatnya Kakak anggep yang udah celakai sahabat Kakak sampe Koma!"
"Wow awesome, my Sister. Pantesan mukanya kek ngamok hahahaha!!"
"Diem deh Kamu, Nov. Kakak lagi fokus neh jadi please lower your mouth volume."
"Ya'eleh sok pinter bahasa inggris noh."
"Kan, Kakak memang pinter bahasa inggris, Kakak gitu loh hahaha!"
"Kin, Kikik miming pintir bihisi inggris, Kikik giti lih hihihi!" cibir Novaro.
"Lama-lama ku sumpel stik game ini ke mulut kau juga nante! Awak lagi fokus!"
"Nyasar daerah Medan, Mba??"
"Bomat (Bodo amat) ah!"
Novaro yang mendengar jawaban ketus cuek dari kakaknya hanya menggaruk kepalanya seraya mengamati layar TV PS game sang kakaknya.
"Ehm Kakak, itu gamenya bisa Multiplayer gak?"
"Gak bisa, ini bisanya cuman Single player doang nggak ada Multiplayer multiplayeran."
"Lah kan itu karakternya ada dua, satunya cewek satunya cowok. Kakak yang mainin kan perempuan, nah berarti bisa dong tambahin satu karakter cowok yang namanya Justin."
"Gak bisa Dek, mainin-nya tuh harus satu-satu kalo langsung dua pilihan, tetep gak bisa, harus satu pilihan. You understand ?? "
"Yes, I'm understand. Ehm terus itu emangnya Kakak bisa mainin sampe tuntas?? Takutnya malah game over terus Kakak mewek lagi."
__ADS_1
"Heh Novaro, kamu jangan remehin Kakak deh. Nih Kakak buktiin buat kamu yak, pasti Kakak bakal Win."
"Iya deh iya, Novaro percaya kok."
"Nah sip deh kalo begitu, mending kamu nyimak aja Kakak main gamenya bagaimana, biar suatu saat kalo kamu main game pemacu adrenalin ini, kamu bakal gak kesusahan."
"Iyaaaa Kakak cantikkuuu!"
Jova tersenyum dan kembali fokus satu pandangan di game PS-nya setiap rintangan yang di hadapi pemain utama game tersebut bisa terlewati dengan lancar. Ternyata selain gaya Tomboy-nya Jova yang terkenal pemberani dan barbar, rupanya ia juga hebat mahir soal tentang game apalagi jenis-jenis Horor, Thriller, Kriminal, dan sampai ke jenis Action.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di alam dunia roh dan arwah. Anggara terlihat masih bersandar punggung di bawah pohon dengan bibir yang lumayan membiru imbas ia terlalu lama dalam danau membahayakan itu.
Stevan dan Senja sibuk bersenda gurau, Anggara memandang santai pada kedua temannya yang berbeda jenis antara arwah dan roh. Baru bertemu dan saling berkenalan, mereka berdua sudah saling akrab satu sama lain. Anggara bisa membaca sifat kedua temannya itu bahwa Stevan sama dengan Senja memiliki sifat watak yang terbuka pada orang lain walau tak semuanya.
Stevan menoleh ke Anggara yang diam memandangi ia dan Senja. "Ngga, diem aja lo? Lo tapi udah oke-oke aja, kan??"
"Kenapa pertanyaan lo, lo ulangi lagi? Kan udah gue jawab .. gue udah baik-baik aja. Gak usah cemas."
"Ehehehe oke-oke, yaa siapa tau kalo lo tiba-tiba no oke-oke aja."
"Negatif thinking banget," gumam Anggara memalingkan wajah dari Stevan.
Kini Senja tengah bermain-main dengan air danau, tangannya mendayung-dayung indah dengan wajah tersenyum manis. Melihat Senja asyik dengan sendirinya, Stevan mempunyai siasat jahilnya untuk mengerjai Senja dengan mencipratkan air ke wajah Senja.
Cprat !
"Aduh, muka gue!"
'Anak ini, cewek lagi diem main air malah di ganggu,' batin Anggara melirik Stevan.
Senja menatap tajam Stevan yang gayanya Stevan membentuk jarinya simbol peace.
"Ih rese banget kamu, yak!"
"Ehehehehe sorry, kan emang enak kalo gangguin cewek."
"Dipukul rata sama cewek mampus lo," ucap Anggara santai.
"Tuh dengerin! Uah, jadi basah kan wajahku. Lagi gak mau basah-basah malah basah gara-gara roh sialan!"
"Nah tuh si Mak lampir ngamuk- eh!"
"KAMU TADI BILANG AKU MAK LAMPIR??!!"
'Eh astaga suara toa-nya kayak Jova persis.' Anggara menutup telinganya pada suara amukan Senja.
"Nah hayolo tanggung jawab," lirih Stevan meledek Anggara.
"Maaf kelepasan tadi," ucap Anggara menyengir.
Setelah mendengar untaian kata Anggara, Senja mengembung memasangkan wajah bertanda ngambek. Anggara beranjak dari sandaran pohon lalu menghampiri Senja yang bersedekap tangan di dada dengan pandangan menghadap luasan danau. Anggara berjalan perlahan dan mencemplungkan kedua tangannya di dalam air danau lalu dengan cepat Anggara mencipratkan air tersebut ke Senja.
PRAASS !!!
"Anggara! Basah loh pakaianku!"
"Hehehehe sukurin suruh siapa ngambek, aku juga gak terima dong kamu tadi cipratin aku pake air ini, yaudah aku bales hahahahahaha!"
Melihat Anggara tertawa puas renyah karena telah mengerjai dirinya Senja, kesempatan peluang Senja membalas perbuatan Anggara dengan mencipratkan air ke Anggara lebih banyak dan cepat, lagi.
PRAASS !!!
"E-eh?!"
Anggara yang tak sigap pada pembalasan Senja tiba-tiba langsung beranjak berdiri dan kabur dari Senja.
"Hei kamu mau kemana? Hahahahaha sini kamuuuuu!!"
"Ampuuuuuuunn!!!"
"Gak ada ampun buat kamu Anggara! Pokoknya kalo kamu ketangkep sama aku, kamu bakal aku ceburin ke danau biar di telen ikan monster!"
"EH JANGAN WOI!"
Stevan tersenyum bahagia dengan mata memicing sempurna melihat Anggara dan Senja kejar-kejaran layaknya seperti di sebuah film dari India yang para bintang artis India populer beradegan saling berkejar-kejaran di lapang hijau luas pada suasana hangat romantis.
"Aha gue ledek ah, hehehehe!"
"Aciaaatt ciaaaatt! Uhuy Anggara dan Senja pasangan sejoli terunyuk unyuk ngalahin film romantiiiisss!!!"
Bertepatan Stevan yang meledek Anggara dan Senja, si Anggara berhenti berlari yang di kejar oleh Senja.
"Udah-udah," ucap Anggara santai pada Senja sambil menoleh ke belakang.
"E-eh Anggara awas! Anggaraaa!!"
Senja yang tak bisa mengontrol larinya yang begitu kilat apalagi Anggara sendiri berhenti secara mendadak, akhirnya terjadi adegan tabrakan yang di alami Senja. Senja menubruk badan Anggara hingga sedikit jatuh terpental kebelakang sementara Anggara yang di tubruk kuat langsung oleng terhuyung kebelakang lalu jatuh ke tanah.
BRUGH !
Gadis itu setelah menubruk yang ia kejar jatuh sedikit terpental kebelakang lalu mengusap hidung mancungnya yang sakit memerah udang seperti terkena flu.
"Adududuh untung gak berdarah ini hidung!" Senja mengusap hidungnya yang memerah di posisinya terduduk jatuh di tanah.
"Sialan, udah tadi tertindih Stevan .. sekarang malah ketabrak Senja, nasib gue apes gak ketolong. Eh Senja kamu gakpapa, kan?" Anggara yang melihat Senja menggerutu dengan mengusap hidungnya, bangkit berdiri lalu menghampiri dan berjongkok di depannya Senja.
Stevan yang melihat tragedi itu langsung tertawa terpingkal-pingkal seolah-olah itu adalah tontonan hiburan untuknya.
"Bahahahaha yaaaahh jatuuuuuhhh!!"
Stevan semakin tertawa kencang hingga ia menggulingkan badannya ke kanan kiri bergantian sambil memegang perutnya karena kram sebab ia tertawa melulu. Anggara menatap Stevan sangat kesal, sudah beberapa kali ia ditertawakan olehnya.
"Aku gakpapa kok Ngga, hidungku aja yang sakit. Kamu sendiri gak kenapa-napa, kan??"
Tatapan Anggara beralih ke Senja dan menjawab teman arwahnya, "Oh aku gak kenapa-napa kok. Sini aku bantu," ucap Anggara menarik perlahan lengan tangan Senja untuk membantunya berdiri kembali.
"Maaf ya Ngga, aku kebablasan larinya sampe nabrak kamu hehe."
"Yang harusnya minta maaf tuh aku, maaf ya aku tadi berhentinya mendadak. Eeemm beneran itu hidungnya gak apa-apa? Sampe memerah gitu, loh."
"Gakpapa kok, nanti juga sembuh sendiri. Ini belum seberapa."
"Kasian banget dah kalian berdua ini, malah jatuh bersamaan. Bener ya gue, lo pada itu seorang yang cocok jadi pacar sejoli serasi hahahahahaha!!"
"Anggara-anggara, itu si Stevan sehat, kan? Kok ketawa-ketawa sendiri kek kesurupan setan masal??"
"Bukan kesurupan."
"Lah terus apa dong, Ngga?"
"Sinting gila miring."
"Heh kalian berdua tuh mendingan pacaran aja sono, ikhlas atuh gue hahahaha!!"
"Ih ya gak wajar lah, Stev! Aku sama Anggara tuh beda jenis. Aku arwah sedangkan Anggara roh, Anggara kemungkinan bisa menjalani hidupnya kalo aku udah gak bisa."
"Tau tuh anak, gak jelas banget kalo ngomong."
"Udah yuk Ngga, kita tinggalin Stevan. Biarin ketawa-ketawa sendiri!"
"E-eh?! Kemana??"
"Udah, pokoknya ikut aku aja!"
Senja menarik kencang tangan Anggara, dengan pasrah Anggara menuruti Senja yang kini ia tengah jengkel pada Stevan. Mereka berdua jalan ke arah lurus hingga mereka tak terlihat, sementara Stevan berhenti tertawa dan mengembalikan posisinya pada awal.
"Lah leh loh! Si Anggara sama Si Senja kemana?!"
Stevan mengedar pandangannya sekeliling. "Buset dah, gue ditinggalin dong!"
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Anggara dan Senja tengah berjongkok disaat bertemu seekor kucing berbulu lembut berwarna abu-abu seperti boneka kucing miliknya Dania. Senja berusaha memegang kucing tersebut namun kucing itu malah justru menjauh tak ingin didekati.
"Pus, sini dong. Masa di pegang gak mau, sih? Tenang aja aku orangnya baik, kok." Senja melambaikan kecil tangannya agar kucing dewasa abu-abu tersebut mau mendekati dirinya.
"Hmmm apa perlu aku sogok kamu sama ikan goreng biar kamu mau dideketin?"
Anggara menggeleng kepalanya mendengar perkataan konyol dari Senja yang cemberut karena kucing itu tak mau menghampiri Senja. Anggara menatap kucing dewasa itu dengan begitu dalam, telapak tangan Anggara meletakkan telapak tangannya memberi isyarat mencoba apakah kucing itu tersebut mau mendekati dirinya atau tidak.
Kucing itu menatap Anggara sedikit waspada hati-hati, tapi melihat aura Anggara yang begitu baik dan tak ada tanda aura kejahatan kucing tersebut tertarik pada Anggara. Anggara mengambil kayu ranting di semak-semak dekatnya persis lalu kayu ranting yang sekarang ia pegang ia gerak-gerakkan di atas tanah untuk mencari perhatian pada kucing dewasa abu-abu tersebut.
Kepala kucing bulat itu menoleh ke kanan kiri secara berulang-ulang begitu pula bola matanya yang tadinya sipit kini belo bulat sempurna. Kucing tersebut ancang-ancang akan menangkap kayu ranting yang di gerak-gerakkan ke kanan kiri bergiliran oleh lelaki muda berwajah putih tampan itu.
Syuut !
"Meong!"
Anggara tertawa pelan geli saat kucing itu berhasil menangkap kayu ranting yang ia pegang. Anggara melepaskan kayu ranting itu karena kucing tersebut menarik-narik dengan mulutnya. Kucing abu-abu itu menggulingkan badannya sambil ibarat mendekap kayu ranting itu dan seraya lagi menggigitnya gemas-gemas. Anggara dan Senja bisa mendengar kucing itu sedang mendengkur dengkur bahagia.
Kucing itu melepaskan kayu rantingnya lalu menghampiri Anggara dan menyundul kepalanya di lengan Anggara serta masih mendengkur. Kucing itu sudah terlihat menyukai Anggara.
Sementara Senja melongo tak percaya, Anggara bisa meluluhkan hati kucing abu-abu itu yang terbilang susah untuk disentuh siapapun. Anggara nampak meringis tertawa hingga memperlihatkan deretan gigi putih bagian atasnya, hal itu membuat Senja semakin terpana pada ketampanan Anggara yang seperti itu.
'Lebih ganteng banget,' batin Senja memuji Anggara.
"Gak usah berlebihan," singkat Anggara.
'Eh lupa gue, kan Anggara bisa baca pikiran! Haduh dasar pikun lo, Senja.'
"Ehehehe iya deh maap, by the way kok kamu bisa buat kucing itu luluh, sih? Caranya bagaimana??" tanya Senja.
"Cara luluhin kucing gampang banget, kok asalkan kita tulus aja meluluhkan hewan ini. Kayaknya kalo aku pikir, kucing ini membaca auraku deh."
__ADS_1
"Emangnya auraku jahat kali ya. Aku gak tau kalo aku punya aura jahat .. eee ya gak, sih??"
"Enggak bukan gitu, kucing itu sifatnya beda-beda. Bisa karna sifat manusia yang tulus bisa karna manusia itu meluluhkan hatinya lewat mainan yang tadi aku lakuin."
"Wah hebat, kamu tau banget ya tentang kucing-kucing gitu?"
"Iya, bahkan di alam dunia jiwa aku punya kucing warnanya hitam."
"Nama?"
"Takeshi," jawab Anggara.
"Gilak mantap! Itu nama dari Jepang wih!"
"Ya, gitulah."
Senja menatap kucing itu dan tiba-tiba ia mempunyai suatu ide pada kucing yang di belai-belai oleh Anggara.
"Anggara, gimana kucing ini buat kita takutin ke Stevan?"
"Ha? Memangnya Stevan takut kucing?"
"Iya dia cowok yang paling takut sama kucing hehehehe!"
"Kita deketin kucing ini ke Stevan biar dia kapok karena ngeledek kita, hehehe bagaimana ide ku ini cermelang, gak??"
Anggara mendongak kepalanya sebentar lalu menyunggingkan senyuman miringnya. "Hmmm, ide bagus juga. Oke aku setuju."
Anggara mengangkat kucing abu-abu itu dengan lemah lembut lalu menggendongnya dan ia dekap kucing itu di dadanya. Anggara berbalik badan kembali ke wilayah danau tadi, diikuti oleh Senja dari belakang.
Setelah sampai di tempat tadi, Anggara dan Senja melihat Stevan sedang tengah bermain batu yang ia tumpuk-tumpuk menjadi satu. Kesempatan Anggara berjalan perlahan sedikit berjinjit agar langkah kakinya tak terdengar oleh telinga Stevan.
"Stevan, coba lo hadap sini bentar."
Suara Anggara yang celetuk tiba-tiba membuat Stevan menoleh ke belakang dan langsung mendapati tatapan dari kucing yang dipegang oleh Anggara dan kucing yang Anggara dekati ke Stevan mengeong.
"Meong."
"Hua! batu kertas gunting kucing meong!!" latah Stevan.
Stevan sedikit terlompat kaget dan spontan berdiri memundurkan langkahnya dari jangkauan kucing abu-abu itu.
"Ayo sini pegang kucingnya," titah Anggara tersenyum smirk.
"Hih nehi (Tidak) gue gak mau pegang itu kucing! Singkirin meong itu dari gue napa, bro!!"
"Hehehehe gak akan, ini balasan gue karna lo udah ngeledek gue sama Senja."
"Hih, KABUR AJA DAH!!"
Stevan berlari dari pinggir danau menghindari Anggara yang memegang kucing abu-abu tersebut. Anggara pun langsung mengejar Stevan yang berlari ngacir karena takut pada kucing, entah alasannya apa.
"Huweeee jangan ngejar gueee!!"
Stevan tak tahu bahwa di depannya ada sebuah pohon besar yang kemungkinan akan ia tabrak dengan tak sengaja. Anggara yang akan memperingati Stevan terlambat lah sudah.
GUBRAAAAGGHH !!!
Berakhirlah Stevan menghantam pohon besar itu hingga pohon tersebut sedikit berguncang serta daun-daun dari pohon yang ketabrak Stevan berguguran jatuh karena tabrakan dari pemuda rese itu sangat begitu amat kuat.
"Waaaa Stevaaann!!" teriak Senja berlari menghampiri Stevan yang sempoyongan.
"Weh anjir kepentok pohon?!" kaget Anggara.
Anggara ikut menghampiri Stevan yang sempoyongan dan ambruk jatuh terduduk seraya memegang kepalanya yang telah pusing. Anggara meletakkan kucing abu-abu itu dan kucing tersebut langsung duduk santai menjilati bulunya.
"Stev, kamu gak kenapa-napa?!"
"Iyaaa ... cuman keliyengan doang kok."
"Pfftt haha! Yah sorry banget, gak tau gue kalo endingnya bakal seperti ini."
"Endang ending, sakit banget tau kepala gue, Ngga!"
"Untung gue gak semaput!"
"Pppfft oke-oke gue minta maaf, sini gue bantu."
Anggara terkekeh seraya meraih tangan Stevan untuk membangkitkan Stevan yang kepalanya pusing berputar-putar. Anggara menuntun Stevan dan mendudukkan Stevan di rerumputan hijau dekat danau.
"Keknya gue kena karma deh," ucap lesu Stevan.
"Lah, kok?" tanya Anggara bingung.
"Yaiyalah, kan gue udah ngeledek kalian berdua. Ya inilah karma gue yang gue dapetin."
"Pppfft menyadari juga orangnya ternyata. Baguslah, makanya jangan suka ngeledek orang, kena karmanya toh pada akhirnya hahahaha!"
Kini bergantian Anggara yang menertawai Stevan. "Lo itu, malah ketawa!" jengkel Stevan.
Kening Stevan yang usai menghantam pohon kini di tengah-tengah keningnya menjadi berwarna abu-abu kebiruan alias bengkak.
"Stevan, itu kening kamu harus diobati tuh, biar sembuh."
"Lah emangnya keningnya kenapa, Ja- eh bengkak dong jidatnya?! Yahahaha sukurin!!"
Anggara tertawa terpingkal-pingkal merasa puas telah mengerjai Stevan tadinya. Stevan yang ditertawai ingin sekali membogem mulut Anggara, namun tak Stevan lakukan.
"Sedap amat ketawa lo, njir!" rengek Stevan.
"Ketawa doang juga hahaha!" Tawa Anggara semakin kencang terdengar. Baru pertama kali ini Anggara bisa tertawa lepas seperti ini.
Senja menatap Anggara yang tertawa puas meledek Stevan. "Anggara, kamu obati gih jidatnya Stevan .. kasian loh dia haha!"
"Hah? Lah aku gak bawa tas kotak P3k buat menyembuhkan lukanya Stevan."
Senja terkekeh geli mendengar jawaban dari Anggara. "Hehe ternyata kamu belum tau keistimewaan dari roh, ya Ngga." Senja mengutarakan ucapan itu dengan penuh santai.
"Keistimewaan dari roh??" tanya Anggara memastikan.
"Iya hehehe, sebuah kehebatan dari roh yang mungkin belum kamu dan Stevan ketahui."
"Apa istimewanya?" tanya Stevan.
"Begini. Guys, semua roh dan arwah pasti bisa melakukan apa segalanya. Paham, nggak dari maksudku ini??"
"Iya aku paham kok," jawab Anggara.
"Woi, aku belom paham!" tanggap Stevan menimpali.
"Payah, katanya ketua OSIS .. lah gitu aja masa gak paham??"
"Heh Ngga, tentang mengandung spiritual mana gue paham. Kalo lo pasti udah paham karna otak lo isinya pemikiran spiritual sama mata batin."
"Hehehehe yaudah gini-gini aku jelasin lagi biar kamu paham maksudku. "Jadi begini loh Stev, semua roh dan arwah itu mampu ngelakuin segala istimewa di diri mereka contohnya seperti kita bertiga. Kita bisa menggunakan sebuah keajaiban yang kita miliki. Yaitu mantra tentunya."
"Hah?! Mantra?!" kejut Stevan duduk tegak spontan.
"Iya, dan Anggara juga bisa menggunakannya. Sekarang aku ajarin ya Ngga. Biar kamu mahir hehehe."
Anggara mengangguk pelan dengan sedikit ragu entah ia berhasil atau malah sebaliknya yang ada. Senja mendekati Anggara lalu mulai mengajari sebuah ajaran mantra ke Stevan dan juga Anggara.
"Nih caranya gampang banget. Kalian berdua ikuti gerakan ku, ya. Caranya kalian gosokkan kedua telapak tangan kalian cukup dua kali aja dan liat apa yang akan terjadi."
Stevan dan Anggara menggosokkan kedua telapak tangan masing-masing persis yang di ajarkan Senja. Betapa kagetnya mereka menatap masing-masing kedua telapak tangan mereka begitu berbeda dari sebelumnya. Tadinya kedua telapak tangan pemuda itu biasa saja kini berubah menjadi bercahaya terang.
"W-wow, this is magic. Dua telapak tangan gue berubah total jadi kek di film Harry Potter persis!" heboh Stevan.
Anggara hanya diam melongo tak percaya pada kedua telapak tangannya yang sungguh berbeda. Cahaya itu menyilaukan mata Anggara.
"Cara untuk menghilangkan atau membalikan semula keadaan kedua telapak tangan kalian, kalian cuman dempetkan kedua telapak tangan kalian itu. Nah setelah melakukan itu, otomatis cahaya yang menyinari telapak tangan kalian memudar dan menghilang."
"Oh oke bakal aku coba." Stevan merapatkan masing-masing kedua telapak tangannya dan benar kata Senja, sinar cahaya itu memudar dan menghilang.
"Berhasil juga," ujar Anggara mengukir senyuman simpelnya setelah cahaya di telapak tangannya memudar lalu menghilang.
"Gilak this is the best banget pokoknya! Gak nyesel gue jadi roh sampe sekarang!"
"Oke, sebagai permintaan maaf dari gue, gue akan pulihkan balik jidat lo yang bengkak itu, ye."
Anggara menggosokkan kedua telapak tangannya bersamaan sampai dua kali lalu munculah kembali sinar cahaya yang begitu terang.
Sebelum Anggara menyembuhkan Stevan, Anggara mendahului menatap cahaya telapak tangannya. 'Kata Senja bisa melakukan apa segalanya, itu berarti mantra cahaya ini bisa sembuhkan Stevan kalau tangan gue kenakan ke jidatnya dia itu.'
Anggara perlahan menggapai kening Stevan dan langsung menempelkan satu telapak tangannya di kening teman rohnya dengan hati-hati. Proses penyembuhan itu membutuhkan hanya 15 menit. Dan pada akhirnya dengan sendirinya mantra milik Anggara memudar menghilang.
Senja tersenyum melihat kening Stevan sembuh tak lagi ada bengkak. Anggara yang usai melepaskan telapak tangannya dari jidatnya Stevan begitu terkejut bukan main. Berarti benar dugaan pasti Anggara, mantra itu sanggup menyembuhkan luka.
"Gimana Ngga, ada yang berubah??"
"Coba aja lo cek sendiri."
Stevan meraba-raba keningnya, yang ia rasakan tak ada lagi luka di tengah keningnya. Stevan begitu senang saat merasakannya.
"Wah sumpah demi apa?! Mantra itu super hebat mantul!"
"Gue aja baru pertama kali ini menggunakan mantra yang mustahil ada di alam jiwa."
"Yups, gimana? Kalian udah tau kan keistimewaan dari roh??"
"Yups!" kompak Anggara dan Stevan.
"Oke, dan aku akan mengajari beberapa mantra lagi untuk kalian berdua. Karena disini memang aman sih tapi kalian pokoknya berhati-hati aja kalo ada sesuatu yang berbahaya apalagi makhluk-makhluk yang jarang keluar dan berhadapan antara roh apalagi arwah."
Anggara dan Stevan yang mendengarkan secara seksama mengangguk antusias. Senja beranjak berdiri dan akan mengajari sebuah beberapa mantra yang harus kedua temannya pelajari untuk melindungi diri masing-masing.
__ADS_1
Kini Anggara dan juga Stevan telah mendapatkan sebuah pengalaman baru yang belum pernah sekali mereka lihatnya bahkan mencobanya. Pengalaman ini sungguh berarti buat dua pemuda itu yang telah di ajarkan oleh seorang gadis arwah cantik aura positif baik hati yang bernama Senja Intara Alandara. Tak salah mereka berkenalan dan berteman pada gadis arwah cantik manis tersebut yang kerap menampilkan senyuman lebar yang selalu ia patri, meskipun hati Senja ada sedih terpuruk kekecewaannya pada masa-masa kelam yang ia hadapi hingga Senja menjadi arwah seutuhnya dan selama-lamanya.
INDIGO To Be Continued ›››