
Gadis sahabat kecilnya Anggara yang setelah sampai tujuan depan pintu kamar rawat ICU, ia segera mematikan ponselnya usai ditelpon oleh Jova karena sebentar lagi ia dan juga Reyhan akan segera menyusul Freya ke RS Medistra Kusuma kota Bogor.
Freya menggenggam gagang pintu besi ICU dan membuka pintu tersebut sangat perlahan. Sementara di lain sisi, kedua orangtuanya Anggara pergi dari jam 06.00 dikarenakan kesibukan yang sama. Freya yang akan masuk ke dalam dengan senyuman cantik di wajahnya, langsung memudar begitu saja.
Sebelumnya Freya tak tahu kalau di dalam ada dokter Ello serta beberapa perawat yang tengah mengepung Anggara dalam kondisi sangat darurat kembali. Bibir Freya terbungkam, matanya terpaku tak bisa teralih dari pandangan depan yang membuat hatinya sangat terkejut sekali. Suara alat detektor jantung mengiung panjang mendebarkan jantung yang mendengarnya termasuk Freya sendiri.
Di sisi lain, Anggara tengah di selamatkan nyawanya oleh dokter Ello yang menggenggam kedua alat pacu jantung, dengan dahi yang berkeringat sang dokter menempelkan kembali alat elektronik tindakan pengembalian detak jantung ke dada bidang Anggara. Saat tubuh Anggara terangkat ke atas, bertepatan itu Freya yang berada di ambang pintu menutup mulutnya dengan satu tangan sementara air linangan matanya turun mengalir membanjiri pipinya.
Dokter Ello terus saja berusaha menyelamatkan salah satu pasiennya yang sudah 10 menit ini belum juga detak jantungnya balik berdetak. Dua perawat menatap bimbang layar monitor pendeteksi jantung pada HR medis yang masih tertera angka 0 disana. Beberapa kali penyelamatan untuk Anggara, tetap tidak berjaya dengan lancar dan pada akhirnya dokter Ello berpasrah meletakkan defibrillator pada tempat asalnya. Beberapa perawat yang di sisinya ranjang pasien melepas alat-alat medis yang terpasang di tubuh Angga termasuk masker oksigen yang terpasang di hidung sekaligus mulut Anggara.
"K-kenapa ... A-anggara k-kenapa semua alatnya d-dilepas?? K-k-kenapa ..." lirih Freya dengan nada terbata-bata.
Freya bertambah terkesiap, jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya melihat Anggara ditutupi oleh selimut putih hingga sampai ke kepalanya dengan satu perawat yang berwajah amat sendu. Freya terdiam, kakinya bergemetar hebat, ponsel di tangannya ia genggam kuat.
Dokter Ello berbalik badan dan menatap satu gadis yang memakai baju hijau khusus penjenguk pasien di dalam ruang rawat ICU. Dokter Ello melangkah mendekati Freya lalu berhenti, pandangannya menunduk dengan menghela napas panjang. Freya memperhatikan wajah pasrah lelah dari dokter tersebut yang selalu memantau kondisi Anggara.
"D-d-dokter ... a-apa y-yang t-terjadi d-dengan A-anggara d-dok?! K-kenapa seluruh tubuh sahabat s-saya di tutupi oleh selimut seperti itu?? Ada apa Dokter??!!"
Kepala dokter Ello mendongak ke arah Freya dengan wajah prihatinnya. "Maafkan Dokter Nak, sahabat kamu sudah meninggal dunia."
DEG !
"Enggak Dokter! Gak mungkin Anggara meninggal dunia!! Dokter jangan bercanda pada situasi seperti ini! Saya mohon Dok!!"
"Dokter sedang tidak bercanda, ini kenyataan ... maafkan pada sebelumnya, waktu satu bulan yang telah berlalu Dokter sudah memberi tahu pada kalian kalau kondisi Anggara semakin memburuk, itu artinya Kami tidak mampu menyelamatkannya kembali. Pada dasarnya keadaan Anggara memang sangat parah apalagi keadaan sebelumnya yang Kritis dengan jangka waktu sangat lama."
"Dokter mengira Anggara pada suatu ketika akan membaik oleh keadaannya pada kesehatan yang menurun, tetapi Allah berkehendak lain, Nak. Ternyata Allah lebih menyayangi Anggara, tolong ikhlaskan kepergian sahabatmu ya dan Kami turut berduka atas meninggalnya sahabat kamu."
Dokter Ello menyentuh pundak Freya dengan muka amat jauh lebih prihatin. "Tolong sampaikan pada wali orangtuanya Anggara ya, Dokter permisi ... Assalamualaikum."
"W-waalaikumsallam ..."
Dokter Ello melepaskan tangannya dari pundak bahunya Freya lalu melenggang melewati Freya diikuti para perawat dari belakang. Dengan perasaan tak percaya dan tak menduga ini semua terjadi, Freya berlari dengan reflek menjatuhkan handphonenya di ambang pintu yang masih posisi terbuka. Gadis yang menangis itu membuka selimut yang menutupi seluruh tubuh Anggara, tangisan hisakan hingga sampai tersedu-sedu menatap wajah pucat pasi tenang damai dari Anggara. Freya menyentuh pipi kanan Anggara yang begitu amat dingin sedingin mayat.
"A-anggara ... bangun Ngga hiks ..."
"Kalau semua ini bercanda ... aku gak bakal maafin kamu!!" ancam Freya.
"Hiks ayo bangun dan bilang ini semua bercanda Nggaaaa!!!"
Freya mengguncang tubuh Anggara yang sudah bergeming, Freya menangis kencang hingga terdengar sepenjuru ruangan. Tangan Freya beralih lagi untuk menangkup wajah Anggara dengan menggunakan kedua tangannya lalu menggoyang-goyangkan muka Anggara berharap sahabat kecilnya bangun, namun itu rasa sudah sangat mustahil jika Freya berharap besar padanya.
"Apa semua ini kenyataan? Ini beneran? Kamu ninggalin kami? Masa gitu sih Ngga?!"
"Hiks kamu jahat Ngga! Bener-bener jahat!! Tega banget kamu tinggalin aku huaaaa!!!"
Untuk melampiaskan kekecewaannya terhadap Anggara yang sudah pergi meninggalkannya selama-lamanya, Freya memukul dada Anggara beberapa kali dengan terus menangis. Freya lelah, capek menangis melulu. Tak ada gunanya lagi untuk menangisi kepergiannya sahabat kecilnya, perlahan Freya meletakkan kepalanya di atas dada Anggara, bisa terbukti tak ada lagi suara detak jantung Anggara hal itu membuat Freya mencengkram selimut putihnya Anggara.
"Apa aku harus ikhlas kamu pergi? Aku belum siap hiks hiks hiks ..."
"Ngga, aku minta tolong ini semua gak terjadi sama kamu. Aku gak mau kamu pergi ..."
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Suara alat elektronik yang selalu terdengar di ruang ICU itu langsung membuat Freya yang tertidur pulas terbangun dengan duduk tegak. Pandangannya seketika linglung, terlihat ada sebuah bekas air mata yang mengalir di pipinya. Freya tengok-tengok kanan kiri bergiliran, lalu ia menolehkan kepalanya ke belakang untuk menatapi layar monitor pendeteksi jantung. Lihatlah, pergerakan gelombang grafik non datar dan HR medis tertera angka 92
Freya sungguh tak mempercayai ini, padahal tadi ia melihat layar tersebut sudah mati, ralat di matikan oleh dokter Ello. Freya mengerutkan keningnya dengan mata berkaca-kaca saking tak percaya, gadis itu beralih pandangan ke depan dan melihat Anggara yang terbaring di ranjang pasien dengan mata senantiasa tertutup.
Freya melongo menatap wajah Anggara yang terpasang masker oksigen, bukankah gadis itu melihatnya disaat Anggara telah terlepas oleh masker oksigen, tak hanya ventilator tersebut tetapi juga dengan alat-alat medis lainnya. Dan yang lebih begitu jelas dan pasti, layar monitor pendeteksi jantung masih berbunyi sesuai pada irama detak jantung milik Anggara. Hal itu menunjukan Anggara masih bertahan hidup.
"A-aku mimpi kah t-tadi?! B-bukanya y-yang aku lihat, Anggara sudah meninggal ... ini kok sebaliknya?!" tanpa Freya sadari pada air mata yang membekas di pipinya, bibirnya mengukir pelan menjadi tersenyum.
"Ya Allah ternyata aku hanya mimpi!" ucapnya dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu membukanya kembali.
Jantung Freya yang berdebar sangat cepat kini lama-lama menjadi normal, kehancuran hatinya bawaan dari mimpi kini membaik. Freya sedikit mencondongkan badannya menatap wajah Anggara kembali yang lumayan berbeda daripada kemarin.
"Ngga, mukamu udah gak se-pucet kemarin, apa keadaanmu sudah mulai berkembang dan membaik? Iya kan, Ngga?"
Masih sama sekali belum ada respon dari Anggara bahkan tanda-tanda apapun sahabatnya akan menjawab Freya. Freya sudah terbiasa akan hal ini, namun yang paling se-pastinya meskipun otak Anggara tak mampu merespon untuk mencerna pertanyaan dari Freya, akan tetapi Anggara bisa mendengarnya.
Freya menyandarkan punggungnya kembali dengan kedua tangan menggenggam lengan kanan Anggara yang jari telunjuknya di jepit pasang dengan alat pulse oximeter.
Beberapa menit kemudian, hal yang tak terduga terjadi yang membuat Freya menegakkan badannya reflek. Jari tangan telunjuk dari Anggara bergerak-gerak sangat pelan.
"Anggara Ngga?! Jarimu bergerak?! Kamu udah sadar Ngga?!" kejut Freya dengan memegang kedua bahu lemas Anggara.
Freya semakin kaget berhati senang melihat kedua bola mata Anggara bergerak meskipun masing-masing matanya masih menutup.
Freya lantas beranjak berdiri dari kursi lalu segera menekan tombol merah di atas kepala Anggara, hal itu setelah Freya memencet tombol merah berguna memanggil tim medis, Tak berapa lama menunggu dokter Ello dan beberapa perawat memasuki ruang kamar rawat ICU lalu berlari mendatangi ranjang pasien sang empu.
"Dokter, jari tangan Anggara bergerak! Apakah Anggara telah bangun?!" pekik Freya.
"Biarkan Dokter memeriksa Anggara dahulu ya, adik silahkan tunggu di luar."
Usai komando suruh lembut dari sang dokter, Freya mengangguk patuh lalu berjalan pelan keluar dari kamar ICU. Di luar Freya tertuju pada tatapan risau dari mulai kedua orangtua Anggara dan dua sahabatnya Freya. Andrana bagai seorang ibu yang merasa amat cemas kalau sampai dokter Ello dan beberapa perawat berlari dan berburu-buru memasuki ruang kamar rawat ICU anak semata wayangnya, tentunya dalam pikiran Andrana ada sesuatu apa-apa lagi pada anak putranya.
"Nak, kenapa ada apa? Ada terjadi sesuatu sama Anggara lagi kah?!" ucap panik Andrana setelah berada di dekat hadapan Freya yang masih memakai baju sesuai prosedur.
"Tante tadi Fre-"
"Oi Frey, si Anggara kenapa lagi?! Buruk lagi keadannya?! Iya?!" potong Reyhan.
"Enggak Rey Enggak, tadi aku lihat ada pergerakan dari jari tangan Anggara dan juga kedua matanya yang masih posisi menutup. Yaudah aku segera panggil dokter, dan sekarang di dalam dokter Ello lagi memeriksa Anggara."
"Jari Anggara bergerak-gerak Nak, itu artinya?! Anak Tante sudah sadar?!"
"Freya berharap begitu, Tan."
"Semoga Anggara bener-bener sadar please, gak tahan aku ngeliat Anggara beberapa bulan ini kayak gitu mulu," cicit Jova berharap besar dengan mata memicing serta kedua telapak tangannya saling berdempetan seolah ia sedang bermohon.
Freya, Andrana, Reyhan, dan Agra mengangguk kepala antusias bersamaan. Pandangan Agra tak sengaja beralih pada pintu ICU yang di buka oleh dokter Ello.
"Dok?!"
Spontan istrinya dan ketiga remaja SMA tersebut menoleh ke arah dokter Ello yang tersenyum. Agra segera berlari menghampiri sang dokter begitupun yang lain.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan Anggara?! Apakah semua tidak ada yang buruk?!"
Dokter Ello menggeleng pasti. "Tidak ada Pak, malah justru ini adalah sebuah kabar baik di hari ini ... selamat ya Pak, Bu akhirnya pada sekian lamanya Anggara telah melewati masa Kritisnya begitupun sekaligus Anggara telah bangun dari Koma."
"I-ini serius Dok?! Anak kami berdua sudah sadar dari Koma dua bulan ini?! Dokter lagi tidak bercanda pada kami semuanya kan?!" tanya Andrana memastikan.
"Semuanya fakta Bu, saya tidak berbohong sedikitpun pada kalian semua. Anggara memang telah bangun dari Koma panjangnya," jawab dokter Ello sangat lembut sopan dengan senyuman lebarnya.
Agra melongo tak percaya namun isi hatinya sangat bahagia mendengar berita baik dari sang dokter, sementara ketiga sahabat Anggara juga sama halnya dengan Agra.
"Dokter, apakah kami semua boleh melihat Anggara di dalam?"
"Tentu silahkan Bu, Pak, Nak." Dokter Ello membentangkan satu tangannya lurus ke samping pertanda mempersilahkan mereka untuk memasuki kamar rawat ICU.
Di sisi lain, Anggara yang terbaring di ranjang pasien samar-samar mendengar suara yang amat terusik di pendengaran telinganya, namun kedua matanya belum mampu ia buka karena masih terasa sangat berat untuk ia buka. Anggara bisa merasakan ia di kelilingi oleh banyak orang di samping-sampingnya. Sentuhan sebuah tangan halus dan hangat, sayup-sayup tersebut Anggara mendengar suara amat lemah lembut memanggilnya dengan lirih, suara yang familiar di telinga Anggara.
__ADS_1
Perlahan-lahan Anggara membuka matanya, dan pertama yang ia tatap adalah samar-samar wanita paruh baya yang masih mengusap lembut wajah Anggara. Pandangan buram itu lama-lama menjadi jelas, dan itu rupanya adalah Andrana yang tengah menangis bahagia.
"Nak, hiks hiks kamu- kamu udah sadar Sayang!"
Andrana memeluk Anggara sangat penuh rindu dengan menangis tersedu-sedu. Anggara yang tak mampu membalas pelukan dari sang ibu dikarenakan kedua tangannya sangat kaku, anaknya hanya tersenyum lemah pada pelukan hangat dari Andrana sedangkan yang lain sangat amat terharu senang termasuk dokter Ello dan beberapa perawat di sebelahnya.
Andrana melepas pelukan dari tubuh anaknya dan menghadap ke dokter Ello dengan mengusap air matanya yang berderai membasahi kedua pipi cantiknya.
"Dokter, terimakasih sekali Dok! Terimakasih sekali lagi!" Andrana membungkukkan badannya dua kali dibalas oleh anggukan dan respon dokter tersebut.
"Baik bu." Dokter Ello menilik jam arloji tangannya lalu menatap Agra dan Andrana. "Satu jam lagi Anggara akan segera di pindahkan ke kamar rawat lantai lima ya, Bapak Ibu."
"Oh iya baik Dok, terimakasih infonya." Agra tersenyum ramah.
"Sama-sama Pak, kalau begitu saya dan suster-suster permisi dulu ya .. Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam Dokter." Serempak respon salam dari suara Agra, Andrana, Freya, Jova, dan juga Reyhan.
Dokter Ello dan para perawat tersenyum dan melenggang balik badan untuk keluar dari ruangan, tak lupa terakhir satu perawat menutup pintu ICU dengan amat perlahan.
Reyhan mendekati sahabat pendiamnya dengan wajah amat bahagia yang terlihat. "Alhamdulillah sekian lamanya kami nunggu, akhirnya lu sadar juga Bang! Ini hari paling bahagia bagi gue daripada ultahnya gue jir!"
Jova mengerutkan keningnya dan menatap Reyhan yang fokus menatap Anggara. "Nyuk, emangnya hari ini kamu ulang tahun, apa?"
"Kagak tuh, masih lama kalo ulang tahunku. Ya harusnya kamu tau dong lah aku ulang tahunnya kapan."
"Ya tau dong, pas terompet sangkakala ditiup sama malaikat Israfil, toh."
"Lambe mu ah!"
"Heeehhh ... Reyhan ini mah, ini ruang ICU loh jangan ngomong-ngomong yang begituan ih," tegur Freya.
"Ini bukan pemakaman padahal, oh ada peraturannya yak?" tanya Reyhan menyengir.
"Bukan, tapi ini dunia akhirat!" sewot Jova.
Freya hanya menghembuskan napasnya capek pada tingkah lakunya pada satu lelaki sahabatnya serta satu perempuan sahabatnya yang selalu membawa perdebatan mulut senantiasa muncul. Freya lebih baik melihat Anggara dan memulai obrolan ringan dengannya.
"Ngga, aku seneng deh bisa lihat kamu bangun lagi. Aku dari awal sudah yakin banget kamu bakal sadar dari Koma-mu hehe."
Anggara hanya tersenyum lemah dengan mengangguk lemah juga. Tentunya pasca Koma otak Anggara mulai ada respon kembali dan mencerna apa yang di utarakan ucapan dari sahabat kecilnya. Untuk saat ini Anggara cuma bisa membisu, selain tubuhnya yang kaku akibat terlalu lama di diamkan tak di gerakan, rupanya Anggara juga tak bisa mengeluarkan suaranya bahkan membuka mulutnya untuk berkomunikasi lewat pembicaraan.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Sesuai pada ucapan dokter Ello yang ia ucapkan tadi, satu jam kemudian Anggara di pindahkan ke kamar rawat lantai lima no 208 dan sekarang pun Anggara tengah berbaring di ranjang pasien pada ruangan yang berbeda ialah kamar rawat yang dulu ia tempati.
Dalam baringnya, Anggara ingin tidur namun kepalanya terasa sakit menyerang hingga matanya mengernyit kuat membuat Andrana yang di kursi sofa bangkit lalu menghampiri anaknya dan memegang puncak kepala Anggara.
"Kenapa Nak? Kepala kamu sakit ya?" tanya Andrana khawatir.
Anggara cukup mengangguk sebagai respon, Anggara membuka matanya dan menatap sendu pada Andrana. Anggara yang dulu mampu menahan rasa sakit kini tak bisa, tentunya Andrana sanggup merasakan apa yang sedang di derita anaknya. Wajah pucatnya Anggara ternampak walau sudah terlepas dari masker oksigen dan lain-lainnya terkecuali selang jarum infus yang tertancap di telapak tangan kiri milik Anggara.
"Sakit banget ya Nak? Mau Mama panggilkan dokter?"
Anggara menggeleng kepalanya lemah pertanda tidak perlu. Agra ikut menghampiri Anggara dan berhenti usai berada di sebelah istrinya.
"Kenapa Ma?"
"Kepalanya Anggara sakit Yah, mau di panggilkan dokter tapi Anggara gak mau."
Agra menghela napasnya. "Gini deh Ma, Ayah mau tanya sama Mama .. waktu itu kan kata Mama kepala Anggara cidera. Nah itu akibatnya Ma, imbas benturan kepala gara-gara anak-anak orang itu yang gak berperikemanusiaan."
"Terus itu bahaya kan Yah?!"
"Ayah juga kurang tau Ma, tapi kita tenang aja .. cidera Anggara hanya ringan kok gak berat. Kalo berat udah lebih bahaya dong Ma."
"Ih tenang aja gimana! Anak kita kayak gini sampe kesakitan masa kita berdua santai-santai aja sih?!"
'Ya Allah Ya Robbi ngegas banget Istriku satu, sampai kaget aku.'
"Biarin ngegas!"
"Eh hop hop hop! Aduh Om, Tante .. jangan berantem dong hehehe," lerai Reyhan menjadi penengah Andrana dan Agra yang nyaris bertengkar. "Itu si Anggara gak bakal kenapa-napa kok Tan, asalkan kepala Anggara gak terluka lagi."
Andrana menyongsong badannya menghadap Reyhan. "Tau darimana Nak Reyhan?"
"Nih, barusan Reyhan baca di artikel Browsing," tanggap Reyhan dengan mengangkat sedikit ponselnya.
"Pindah ilmu pengetahuan kamu Rey? Perasaan kamu sering baca artikel-artikel yang bikin mumet itu di Google deh."
"Terserah aku lah, mau aku bacanya di Browsing kek, Google kek, Youtube kek, sampe ke video haram pun juga bukan urusanmu tuh!"
"Eh monyet stress! Aku tanya baik-baik situ malah sewot ama ngegas! Cepet tua sukurin!"
"Iya-iya maap! Kan ya Browsing sama Google fitur dan ilmu pengetahuannya sama sejenis jadi ya kalo aku cari di antara kedua aplikasi bukan masalah, kan? Sama-sama mudeng bukan mumet."
"Matematika, artikel-artikel gak jelas gitu, sama watak kampret kamu bikin aku mumet sampe puyeng sumpah. Oh iya aku lupa kan kamu orang sesat yak."
"Bangs*t!" umpat Reyhan tak sengaja.
"Hah? Reyhan, aku mau tanya dong .. ehmm bangs*t itu apaan sih?" tanya Freya polos.
Kesemua yang ada di kamar rawat terkejut termasuk Anggara. Sedangkan Freya yang di tatap seperti itu semakin bingung apalagi ia tak tahu maksud dari perkataan itu sama sekali.
"Aduh Neng! Jangan di ungkapin! Aduh parah ini mak'e!"
Jova menoyor kepala Reyhan kesal. "Ih kamu sih ah! Pake ngomong bahasa toxix segala!! Minta maaf gak??!!"
"Eh maafin aku Frey, ih anu aku gak bermaksud ngomong gitu tadi. Sorry keceplosan akunya!"
"Terus itu perkataan apaan dong? Kok rasanya asing gitu ya? Setauku itu brengsek, anjing, anjir, anying, sama bahasa-bahasa gaul lainnya."
"Aduh makin di perjelas ini anak!" Jova menepuk keningnya dengan meringis pada sifatnya Freya yang polos.
"J-jangan sebut i-itu ..."
Reyhan menoleh ke Anggara. "Eh Ngga, lu gak bisu lagi nih?!"
"Emangnya itu apa Ngga? Kan aku juga mau menirukan temen-temen lain yang bisa bahasa gaul. Lah aku selalu di bilang cewek udik sama kelas sebelah."
"Youra sama sahabat-sahabatnya yang tukang rempong itu kan?" tanya Jova hampir mendengus sebal.
Freya mengangguk dengan wajah melas.
"G-gak usah kamu peduliin m-mereka. Kata-kata itu, nggak b-baik kamu ucapin. Paham kan, Freya?"
"Berarti itu ucapan yang jelek ya Ngga?"
Anggara mengangguk lemah. "I-iya, khusus kamu aja yang gak boleh ngomong s-seperti itu."
"Yaudah deh aku nurut sama kamu, kan kamu selalu ngajarin dan nasehatin aku yang baik-baik gak pernah yang tercela hehehe," jujur Freya.
__ADS_1
Agra dan Andrana tersenyum mesem sedangkan Anggara mengukirkan senyuman yang masih lemah ditambah anggukan kepala. Freya kembali mencondongkan badannya setengah untuk bertanya pada Anggara.
"Kepala kamu masih sakit nggak?"
"L-lumayan kok."
"Oh syukur deh, kirain masih sakit banget. Nanti obatnya di minum aja Ngga, biar cepet pulih."
"I-iya n-nanti aku minum k-kok."
"Oke, udah deh udah. Jangan banyak ngomong dulu, lebih baik kamu istirahat aja lagi Ngga. Biar kepalamu jadi membaik."
'Sumpah bikin terharu rek,' batin Reyhan.
Reyhan menarik tangan Jova dan membalikkan tubuh Jova ke belakang dan juga dengannya, sepertinya Reyhan ingin berbicara serius pada sahabat tomboy-nya itu.
"Napa Rey?" bisik pelan Jova.
"Eh Va-va, kamu liat deh betapa pedulinya Freya sama Anggara. Bayangin aja deh kalo semisalnya Freya di tinggal pergi Anggara ke dunia akhirat, sedih banget gak sih sahabat kita yang polos imut itu?"
"Ih parah pertanyaan-mu itu, ya jelas sedih pake banget lah. Kamu tau sendiri kan, mereka itu dari kecil apa-apa bersama gak pernah sampe pisah. Aku yakin banget kalo semisal itu terjadi, Freya gak bakal pernah bahagia, senyum dikit aja gak akan ada lagi, sampe kamu usaha hiburin Freya juga enggak bakal mempan."
"Ih sad sungguh sedih," ucap bisik Reyhan.
"Ehem! Ehem! Hayooo pada ngapain tuh di belakang sampe umpet-umpet gitu?? Pasti lagi ungkapin perasaan cinta yaaa."
"Ih enggak Om!" kompak Reyhan dan Jova kaget tak karuan bersamaan seraya membalikkan tubuhnya ke depan masing-masing.
Freya dan Anggara saling melemparkan pandangannya antara mereka berdua dengan senyuman mendengus sementara Andrana hanya geleng-geleng kepala pada sikap konyol suaminya.
"Udah lah, kalian berdua itu cocok banget kok kalau jadi pasangan. Malah terlihat serasi gitu kan. Udah gakpapa Om ikhlas kok."
"Idih apaan sih Om, Reyhan aja gak sudi pacaran sama Jova yang barbar selalu itu!"
"Emangnya kamu doang?! Aku juga paling gak sudi jadi kekasihmu. Amit-amit tralalatrilili aku suka sama kamu yak! Pokoknya tujuh tanjakan, tujuh turunan aku ogah gebetan sama kamu!"
"Dih emangnya siapa hah yang berharap gede ingin jadi pacarmu? Mending aku cari cewek yang hatinya kalem, lembut sama penampilannya feminim dan anggun. Gak kek kamu! Kamu tuh cewek tapi gaya style-nya udah kek cowok tau gak! Suka pake topi, pakaiannya kemeja, suka ngerokok-"
DUG !!
"Aaaaarrgghh kaki gue di injek gajah!!"
"Ngomong apa kamu tadi Reyhan? Hmmm!!"
Jova menambah kesakitan Reyhan dengan menjewer telinganya amat kencang, membuat sahabat resenya berampun-ampun pada Jova yang menarik telinganya.
"Sejak kapan aku ngerokok hah?! Matamu tuh aku ngerokok! Ih pengen sekali-kali mulutmu aku ulek-ulek pake beton biar kek makhluk buruk rupa sedunia!"
"A-ampuni aku Va, aku tadi kelepasan ngomongnya. Please dong lepasin telingaku, nanti telingaku copot loh."
"Biarin copot, sekalian cuman punya satu telinga doang biar viral!"
"Sadis banget sih kamu Va kek Anggara."
"Aku gak terima loh kakiku di bilang gajah!! Dasar kingkong sialan!"
"Aduh Jova stop dong ya ampun! Udah-udah kasian si Reyhan. Orang Reyhan ngalah gak bales kamu loh Va, sudah lepasin Reyhan kasian banget tuh telinganya sampe memerah gitu."
Setelah di komando oleh Freya, dengan mendengus kesal Jova melepas telinga Reyhan dengan kasar.
"Akh! Aduuuhh!! Telinga gue mau punah gara-gara cewek ini!"
"Makanya kalo ngomong tuh di ayak dulu jangan asal nyeplos kayak cabe dedemit!"
"Iya-iya ampun."
"Sakit gak Rey?" tanya Om Agra meringis.
"Sakit lah Om, rasanya kayak di serang kepiting pantai! Mana panas lagi kek kebakar."
Reyhan menatap Anggara dengan mimik kesal sembari mengusap-usap telinganya yang panas memerah udang tersebut.
"Lu enak banget Ngga! Hidup lu gak sengsara dari Jova. Gak di jewer lah, gak itu lah, gak ini lah. Lah gue, seakan-akan hidup gue gak tenteram gara-gara ini bocah satu."
"Tanggung resiko ... ulah-ulah lo sendiri, kok lo yang sewot."
"Asem, tanggapannya bikin pecah hati!"
Freya, Jova, Andrana, dan Agra tertawa pada ucapannya Anggara yang bernada lemah namun terdengar melawak, sementara Reyhan malah ngambek hingga mengembungkan wajahnya sangat kesal pada penuturan sahabatnya yang membuat ia sendiri kicep.
"Ku kira cupu ternyata suhu. Oh yeah itulah Anggara!"
"Idih apaan sih Va muji-muji Anggara mulu perasaan, aku aja gak pernah kamu puji tapi malah kamu rendahkan harga diriku."
"Duh ada yang panas nih kayaknya. Hey Rey, mau Om beliin es teh di kantin rumah sakit disini? Biar hatimu adem gak panas membara seperti kobaran api."
"Hadeh Om apa-apaan sih ah, Reyhan gak kepanasan kok. Cuman heran aja di kehidupan dunia ini, Reyhan selalu nerima nasib mulu dari dulu sampe sekarang."
"Anak curhat lewat nih bos," ucap Jova melirik sinis tersenyum smirk ke Reyhan.
"Heh Reyhan, mending kamu tuangi aja isi curahan hatimu ke dalam buku diary kamu. Biar siapa tau ada malaikat penolong membantumu untuk mengatasi kesusahan nasib apes hidupmu bahaha!"
"Aku gak cewek by the way, ngapain aku gunain buku diary yang kek di film-film series Indo. Kek gak ada kerjaan aja dah."
"Iya kamu memang bukan cewek, tapi ben-cong wakakakakak!!"
"Astaghfirullahaladzim Muhammadar Rasulullah Allahu Akbar! Memang sahabat laknat kamu yak! Sahabatnya cowok masa tega di sebut bonceng!"
"Bencong, bego!" sarkas Jova.
"Hahahahaha kan emang itu kenyataan, orang kan kamu cowok tukang homo!" lanjut Jova.
"Noh-noh ketawa aja terus sampe bengek kalo perlu!" Reyhan berwajah lesu. "Ya Allah pulangkan lah hamba PadaMU saja ya Allah. Hamba tersiksa kalau di dunia ini berlama-lama."
"Reyhan!! Tuh kan doanya malah yang enggak-enggak!!"
JDARR !!
Reyhan menelan salivanya jika mendengar suara bentakan dari Freya beraksi. Selembut-lembutnya nada gadis itu namun tetapi rupanya kalau marah sampai oktaf tinggi, begitu menyeramkan bahkan Anggara sampai meringis dengan mata menyipit.
"Maaf hehehe, aku cuman bercanda kok Frey."
Freya mengangguk. "Jangan diulangi lagi ya, gak boleh ngomong begitu. Kesel sih kesel, tapi jangan begitu juga dong Rey."
"Kamu juga Va, kamu tuh bisa nggak sekali aja sehari ini aja kamu jangan debat mulu sama Reyhan. Pokoknya kalau kalian di satukan begini, kalian jadi bentrok tau!"
"Iya-iya, aku minta maaf .. tapi kan aku sama Reyhan udah terbiasa ledek-ledekan begini. Lagian kalo marah-marahan cuman beberapa menit doang abis itu baikan."
Reyhan mengangguk dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal, sudah bingung-bingung tingkah sendiri kalau sampai di tegur oleh Freya. Namun pada akhirnya suasana hening itu kembali menjadi hangat dan ramai kembali usai insiden kecil atas perdebatan tadi. Di kamar rawat Anggara kini diisi lagi oleh senda gurau bersama sementara Anggara beristirahat tidur untuk meredakan sakit kepalanya yang sudah terbilang kepala pemuda tersebut telah mengalami luka cedera.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1