
Sinar teriknya matahari dengan tiupan angin lembut tersebut menerpa wajah tampannya Angga yang masih sangat pucat. Pemuda itu juga masih senantiasa tutup mata dan belum membukanya sama sekali. Namun beberapa selang menit kemudian, karena oksigennya yang sempat turun drastis kembali meningkat, hal itu membuat Angga yang mengalami pingsan, balik sadar siuman.
Dengan lemah, mata itu sedikit demi sedikit terbuka dan menampilkan warna iris mata abu-abu tulen dari kedua matanya tersebut. Telinga Angga diusik oleh beberapa suara yang memanggilnya dengan nada senang.
“Alhamdulilah, akhirnya kamu telah sadar juga, Nak.”
Kepala Angga menoleh semu ke arah sumber suara yang baru saja mengungkapkan sebuah kalimat untuk mengekspresikan wajah bahagianya. “Tante Rani ...?” Kemudian bola mata Angga mengarah ke sebelah wanita paruh baya dari sang ibu Freya. “Om Lucas ...?”
Lucas tersenyum hangat pada anak tetangganya yang sedang Dinas di luar kota. “Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah mendingan?”
Angga hanya mengulas senyuman tipisnya. Rani mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahu kanan milik sahabat kecil anaknya yang kini sedang melakukan aktivitas belajarnya di sekolah. “Kemarin sore pas Freya pulang, anaknya Tante ngasih tau kalau kamu pingsan lagi di sini. Nah, mangkanya itu Freya nyuruh Tante dan om buat nemenin kamu hari ini. Cara nyuruhnya, kayak maksa banget. Mungkin Freya takut kalau Angga terjadi apa-apa lagi.”
Usai Angga mencabut selang nasal kanul dari pernapasan hidungnya dan menaruhnya di atas bantal begitu saja, bibir ia nyengir merasa tidak enak karena telah merepotkan kedua orangtuanya Freya. “Nggak usah ditemenin juga gak apa-apa kok, Tan.”
“Duh, jangan gitu, Nak ... apa yang disuruh Freya itu sudah sangat terbaik kok buat kamu. Kalau hari ini nggak ada yang menemanimu, kamu juga susah kalau butuh apa-apa. Emang akan lebih baiknya Tante dan juga om di sini buat menjaga Angga,” tutur kata lemah lembut Rani seraya membelai-belai kepala lelaki remaja tampan tersebut.
Lucas berjalan ke arah meja nakas, seperti tengah mengecek sesuatu. Pada kemudian, pria paruh baya yang umurnya setara dengan usianya Agra sang ayahnya Angga, mengerutkan jidatnya karena ada yang hilang. “Lho, Ngga? Obatmu yang dari resep dokter kota Bogor sudah habis, ya?”
Angga sengap sejenak. Bukan habis, tepatnya dihancurkan oleh Gerald saat ingin membuat Angga tak berdaya. Gara-gara ulah pedarnya Gerald, obat pentingnya pemuda Indigo tersebut menjadi hancur lebur dan tidak bisa lagi untuk di minum.
“Ya, Ngga??” Lucas bingung karena Angga hanya diam tidak menjawab dari pertanyaannya beliau.
“Ehm ... I-iya, Om. Obatnya Angga sudah lama habis, dan stok sisa obatnya ada di rumah,” tanggap Angga.
“Oalah, begitu? Yasudah deh kalau gitu, Om pergi ke rumahmu aja dulu buat ambil satu obat cederamu di rumah. Ada di dalem kamar kamu, kan?”
“Iya, Om- tapi nggak usah diambil juga tidak kenapa-napa kok. Angga masih baik-baik saja,” tolak Angga pelan.
Lucas mendengus dengan tersenyum menggelengkan kepala. “Sakit-mu itu jangan sampai kamu sepelekan, Ngga. Apalagi kambuh cedera kepalamu dateng secara tiba-tiba. Nggak bisa dipastikan kapan munculnya sakit kepalamu itu, lho. Udah, niatnya Om jangan kamu tolak seperti ini, toh lagian ini juga demi kesehatanmu, kok.”
Mulut Angga terbungkam dan hanya bisa mengiyakan ucapan Lucas. Sekarang, beliau tengah menarik laci meja nakas untuk mengeluarkan kunci rumahnya Angga. “Tunggu sebentar di sini ya, Ngga? Om pergi dulu.”
“Hati-hati, Yah di jalan.” Rani memperingati suaminya yang hendak pergi meninggalkan rumah sakit.
“Iya, Ma. Soal itu Mama tenang aja, pasti Ayah bakal hati-hati, kok,” respon Lucas dengan tersenyum manis sebelum meninggalkan istrinya begitupun juga bersama Angga.
Setelah Lucas benar-benar pergi dari ruangan tak lupa menutup kembali pintu kamar rawat, Rani menolehkan kepalanya usai memperhatikan kepergian suaminya. “Angga, ini kan sudah pagi. Ayo sarapan dulu, biar kamu cepat sembuh. Sini, Tante bantu.”
Rani dengan tulus hati, membangunkan tubuh Angga dari baringnya menjadi duduk bersandar. “Sebentar, ya? Tante ambilkan dulu makanannya.”
__ADS_1
Angga menampilkan senyuman hambar untuk sebagai jawabannya. Mata Angga fokus melihat Rani yang tengah mengeluarkan sekotak bubur ayam pinggir RS Wijaya dari plastik bening. Lalu Rani kembali duduk di kursi dengan senyuman cantiknya kepada Angga.
“Nah. Sekarang kamu makan dulu ya, Ngga? Nih, Tante suapin.”
“Eh nggak perlu, Tante! Angga bisa sendiri, kok.”
Rani menurunkan sendoknya yang ujungnya telah berisi makanan tersebut bersama senyuman hangatnya. “Nggak apa-apa, Sayang. Kamu kan lagi sakit, jadinya Tante suapin kamu. Tolong jangan ditolak ya, Nak? Ayo buka mulutnya ...”
Mau tak mau Angga pasrah membuka mulutnya lumayan lebar untuk menerima suapan sarapan dari Rani yang masih tersenyum hangat buat memberikan Angga hati kenyamanan pada wanita paruh baya tersebut yang memiliki sikap rasa empati yang menurun ke anak tunggal semata wayangnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Hari Sabtu yang mendatang. Freya nampak melangkahkan kakinya di lorong RS Wijaya lantai 4 dengan senyuman cantik maksimalnya. Tentunya Freya ingin menemui Angga yang masih membutuhkan perawatan di rumah sakit tersebut.
Saat telah membuka pintu kamar rawat no 111, mata Freya pertama memandang punggung Angga yang sahabat kecilnya sedang duduk termenung di pinggir kasur ranjang pasien pojok kiri. Freya reflek memiringkan kepalanya seraya berjalan empat langkah untuk memasuki ruangan sekaligus menutup pintu ruang perawatan yang terasa sepi.
Kaki mulus Freya bergerak untuk menghampiri Angga yang diam termenung di sana. Freya sedikit berjalan memutar lalu ikut duduk di tepi ranjang pasien tepat samping kanannya Angga. Bola mata gadis lugu tersebut tak sengaja melihat kedua telapak tangan Angga yang saling bertautan di atas paha kakinya dan bertepatan itu, dirinya melihat ada satu tetesan air yang menetes di telapak tangan kulit putih miliknya Angga.
Freya yang penasaran dari mana asal tetesan air kecil itu, menarik wajah cantiknya ke atas untuk menatap muka tampan Angga yang terlihat sedih muram. Ternyata pemuda tersebut sedang menangis tanpa bersuara sedikitpun, walau mulutnya bungkam rapat, tetapi air matanya terus melumuri kedua pipinya.
Pandangan Angga nampak menunduk secara ngelamun bahkan membuat dirinya tak sadar kalau kini sekarang ada Freya di sisinya. Freya agak kaget waktu melihat Angga yang kondisinya telah menangis. “Angga?! Kamu kenapa nangis?? Ada masalah yang bikin kamu kayak gini?! Ayo cerita aja sama aku, nggak apa-apa, kok!”
“Berhubung dari masa lalu-mu, ya? Cerita saja ke aku nggak ada masalah, kok. Aku pengen kamu menjawab pertanyaanku, biar aku tau apa yang buat kamu menangis, oke?”
Angga melimbai kepalanya secara lemah ke arah Freya. “K-kenapa kamu bisa tau kalau ini tentang berhubung dari masa laluku?”
“Sudah keliatan dari sini, Ngga. Gara-gara masa lalu kelam-mu itu membikin kondisimu menjadi runyam, aku juga sudah memaklumi kalau kamu mempunyai gangguan mental karena masa lampau kecil itu.”
“Aku mohon, lepaskan semua masa lalu yang masih aja menempel rekat dibenak otakmu. Supaya kamu bisa terhindar dari masalah hidup,” pinta Freya.
Angga kembali mengharapkan kepalanya ke depan alias menunduk bersama suara isakan tangis yang terdengar pilu di sepasang telinganya Freya. “Aku juga inginnya begitu. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin buat melepaskan masa lalu ku yang menganggu jiwaku. Tapi, aku nggak bisa, Frey.”
Freya menggenggam erat lengan tangan kanan sahabatnya dengan menatap Angga lekat. “Nggak ada kata tidak bisa, Angga. Kamu harus bisa! Kamu adalah lelaki yang kuat, aku yakin dan percaya kamu bisa membuang semua masa lalu yang menganggu kehidupanmu sampai sekarang ini!”
“Apa sebaiknya dulu aku nggak dilahirkan ke dunia? Bahkan kata orang aku ini adalah orang pembawa sial dan maksiat. Aku memang lelaki yang buruk.”
Mendengar ucapan Angga yang sangat tak pantas dikatakan, membuat Freya menjadi marah dengan menggelengkan kepalanya kuat. “Kenapa kamu bilang seperti itu?! Orang yang mengatakan kamu yang buruk, itu artinya mereka sangat bodoh menilai sifat dan harga dirimu! Gak seharusnya kamu menghiraukan apa yang mereka katakan! Dan kamu jangan terpengaruh pada omongan mereka kalau kamu itu adalah pembawa sial apalagi pembawa maksiat! Semua ucapan yang keluar dari mulut mereka untuk kamu, gak ada yang benar!!”
“Aku juga heran sama kamu hari ini! Kenapa kamu sekarang menjadi putus asa karena masa lalu yang akan merusak jiwamu?! Angga yang aku kenal nggak seperti ini! Kamu orang yang tegar, kuat, cuek, dan juga semangat! Gak seperti ini!!”
__ADS_1
Angga semakin menundukkan kepalanya dengan rasa bersalah karena ucapannya tadi yang membuat sahabat kecilnya yang tak mudah marah kini murka akibat ungkapan nang dirinya lontarkan. “Maafkan aku ... maaf udah buat kamu marah kayak gini, kamu benar ... nggak seharusnya aku berperilaku seperti itu. Aku sudah terlalu masuk ke dalam memori masa laluku yang bikin aku jadi parah.”
Freya membuang suasana amarahnya kemudian menghela napasnya sebentar lalu kedua tangannya saling melingkar ke tubuh Angga untuk mendekapnya. “Iya, aku maafin kamu. Tapi sekarang yang aku inginkan darimu ... please, tolong hempaskan memori lapuk itu dari otakmu. Aku gak ingin kamu semakin terperosok ke sedih terpuruk-mu. Kamu juga harus selalu semangat dan optimis di segala hal, oke?”
“Hiks ...” Angga membenamkan wajah sembabnya di salah satu pundak Freya seraya membalas pelukannya gadis cantik tersebut yang kini mengusap-usap punggungnya untuk mengasih kedamaian jiwanya yang sedang amat terpuruk akibat masa malu.
‘Dua kali ini aku lihat Angga menangis, dan aku harus berusaha menenangkan pikirannya dia begitu juga hatinya. Angga, tumpahkan segala sedihmu ke aku hingga kamu merasa lebih baikkan.’
Cklek ...
Ada seseorang yang membuka pintu kamar rawat no 111 dengan sangat pelan agar tak terlalu menganggu waktu istirahatnya yang menempati ruangan tersebut. Itu adalah Reyhan yang membukanya. Pemuda humoris tersebut tersentak kaget saat melihat kedua sahabatnya yang ada di dalam tengah saling berpelukan sendu.
Rena pun yang melihatnya amat kaget hingga reflek berteriak, “What?! Berpeluk-”
“Buset! Pelanin suara lo, bego! Gak tau apa itu anak lagi sad ...?!” bisik Jova dengan membekap mulut Rena temannya yang bersuara toa macam dirinya.
Jevran melongo, baru pertama kali ini ia melihat Angga sang teman pendiamnya yang menangis apalagi sampai tersedu-sedu di pelukannya Freya. “Bro Reyhan, kira-kira si Angga kenapa dah kok bisa nangis gitu? Bahkan dia sampe berpelukan sama Freya, lho.”
Reyhan menggelengkan kepalanya bohong. Yang padahal ia tahu dan peka apa yang terjadi dengan Angga, jelasnya sahabatnya tersebut sedang di pertengahan jiwa terpuruk, hingga Freya yang berada di dekatnya berusaha menenangkannya sebagai sahabat kecilnya sang Anggara Vincent Kavindra.
Reyhan dan Jova saling melemparkan pandangan seraya menghela napasnya secara bersamaan lalu melihat kedua sahabatnya mereka yang ada di dalam kamar rawat, sementara yang baru datang masih berada di luar ruangan.
“Itu kalau misalnya Gerald tau kalau Freya begitu sama Angga meski Gerald udah ngerti kalau Angga itu adalah sahabat masa kecilnya, Freya bakal dimarahi habis-habisan apa kagak Angga-nya yang jadi korban,” celetuk Aji.
“Korban apa yang lo maksud itu?” tanya Reyhan dengan memberikan tatapan raut bingung pada Aji.
“Korban babak belur dari kasihnya Freya karena dihajar mati-matian ampe sekarat.” Jawaban Aji yang lantang tanpa menatap Reyhan, membuat mata lelaki Friendly tersebut melotot lebar dan tak segan-segan menginjak kencang kaki temannya yang bersepatu merk Nike.
“Akh-” Aji berteriak untuk melampiaskan kesakitannya yang kakinya di hentakkan oleh Reyhan, namun pada akhirnya bertepatan Aji memekik, Reyhan langsung segera membekap mulut temannya. Reyhan sengaja tak menutupi hidung Aji menggunakan telapak tangannya, karena agar temannya tersebut masih bisa bernapas.
“Jangan teriak! Daripada gue sembelih, lu ...!” bisik Reyhan dengan mendekatkan mulutnya di telinga bagian kanan Aji yang ekspresi wajahnya menunjukkan minta keampunan pada temannya yang memiliki sifat sadis tersebut.
Sementara Lala hanya diam dengan hati terperangah, gadis yang berpostur tubuh badan tinggi 164 sentimeter itu sebenarnya juga kaget karena seorang teman lelaki pendiamnya yang dari gayanya selalu cool, rupanya bisa menangis hingga seperti itu. Lala tidak tahu apa yang terjadi dengan Angga, terlebihnya pemuda Indigo tampan tersebut wataknya begitu tertutup sehingga Lala tak mampu menebak peristiwa apa yang menimpa teman sekelasnya.
Bahkan sampai sekarang, Freya masih mengelus-elus punggung Angga untuk berupaya mengasih ketenangan hati serta pikirannya. Walau dalam relungnya, ia sangat tidak menginginkan Angga menderita separah ini hingga bisa menganggu jiwanya sekaligus menghancurkan hidupnya.
Dulunya, Angga lah yang hebat sekali dalam membuang jiwa dan hati Freya nang terpuruk. Dan sekarang Freya harus bisa seperti sahabat kecilnya untuk membuang hati serta terpuruk-nya jiwa yang Angga jamak kini. Apa salahnya untuk mendorong sahabatnya agar sanggup menghempaskan masa lalu meresahkan tersebut? Lagipula ini telah menjadi tugasnya gadis cantik macam Freya buat mengembalikan sifat Angga pada semula yang mana selalu optimis, percaya diri, serta segalanya nang termasuk watak transenden.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1