Indigo

Indigo
Chapter 156 | Awkward Attack


__ADS_3

Angga membuka kedua matanya dengan wajah kusutnya walau ketampanan rupanya masih terlihat. Lelaki bertubuh jangkung itu memutuskan untuk memungkasi renungannya sejenak, meski hatinya mendung bagaikan langit ingin turun air hujan, dan daya tahan tubuhnya kurang sehat, Angga harus mencari jalan aman untuk keluar kendati lepau meninggalkan hutan ini sangatlah tidak mudah.


Sudah Angga ukur dari sini. Hutan ini bukan sembarangan hutan yang suka dikunjungi banyak orang, tetapi hutan yang penuh hal-hal gaib. Ingin keluar dan meninggalkan tempat ini selamanya? Butuh perjuangan ketat untuk angkat kaki dari sini.


Sebenarnya di dalam renungan tadi, Angga merasakan keberadaan seseorang yang ada di luar gua tepatnya berjarak beberapa meter dari tempat gua gelap ini. Namun, Angga mengurungkan niatnya untuk mengecek karena ia tidak mungkin meninggalkan kekasihnya yang kondisinya masih belum sadarkan diri usai adegan yang Freya lihat.


Terlebih, jarak untuk keluar dari gua sangatlah panjang. Jelas mustahil Angga tinggalkan Freya apalagi dirinya hapal tentang Amigdala kekasihnya yang begitu takut sekali dengan kegelapan.


Angga kemudian menoleh ke kanan yang menangkap dan menemukan sebuah dedaunan pisang yang terpajang di tembok gua. Jaraknya tidak terlalu jauh dari Angga serta Freya berada.


Angga dengan lembut, menyandarkan kepala Freya dari atas bahunya lalu sigap melepaskan jaket jeansnya lalu ia lipat-lipat hingga menjadi macam bentuk bantal tidur. Angga meletakkan jaketnya yang telah dirinya lipat di atas tanah lalu mulai membaringkan tubuh lemah kekasihnya dengan begitu hati-hati nan memakai perasaan.


Setelah meletakkan kepalanya Freya di atas lipatan jaketnya, Angga menyentuh sayang salah satu pipi mulus kekasihnya dengan senyum. “Aku tinggal sebentar, ya? Jaraknya gak terlalu jauh, kok.”


Angga melepas telapak tangannya dari pipi kekasihnya yang berkulit putih tersebut lalu mulai bangkit berdiri dan berjalan mendekati dedaunan hijau pisang walau cara langkahnya terlihat gontai. Setelah ada di depan dedaunan yang masih nampak segar non layu itu, Angga mencoba menyibaknya ke samping dan langsung setengah kaget saat melihat pemandangan luar yang jauh dari pikirannya.


Ada sebuah kolam lumpur yang mengepul dan mengeluarkan uap-uap, bebatuan di atas lumpur yang peletakkannya secara berbaris. Langit ungu dipadukan warna hitam. Sangat aneh, bukan? Malah layaknya seperti fenomena langit alam. Terakhir, dapat Angga lihat lelaki tampan itu meninjau sebuah bangunan besar yang seperti sudah lama terbengkalai.


“Gue sudah tidak kaget lagi akan pemandangan diluar nanar seperti ini. Mungkin jika orang lain selain gue, bertanya-tanya bersama otak dan hati mereka mengapa ada lanskap yang gaya objeknya begini.”


Ada kurangnya, Angga tidak bisa menebak atau menerawang dengan pasti di sana adalah bangunan apa. Jika diamati sungguh-sungguh bangunan itu semacam gedung yang dibiarkan terbengkalai. Meskipun jaraknya terbilang jauh, tetapi Angga bisa melihat dengan mata tajamnya bahwa luar bangunan itu sudah sangat tidak pantas dipandang.


Warna cat sekeliling dinding telah pudar, lapisan warna cat di sana juga banyak yang terkoyak, bahkan tembok bangunan tersebut sudah rapuh. Dibawah dinding juga bisa dilihat kalau ada rerumputan liar yang merambat. Terkesan bangunan nang angker dan berhantu setelah Angga nimbang secara seksama.


Hingga saat Angga tengah fokus pada satu pandangan yang tertuju pada bangunan terbengkalai itu, lelaki tersebut mendengar suara muntahan keras dari belakangnya. Dengan lekas, Angga masuk ke dalam gua dan itu otomatis dedaunan itu menutup sendirinya setelah Angga berlari masuk.


Rupanya itu adalah Freya yang baru saja bangun dari pingsannya dan sekarang tengah memuntahkan suatu air yang ada di dalam perutnya. Gadis cantik berwajah pucat tersebut merintih kesakitan saat telah mengeluarkan air muntahannya, perutnya terasa sakit dan kram seketika.


Angga yang sudah berlari menghampiri Freya langsung berjongkok di sampingnya dan itu tak disadari oleh kekasihnya. “Freya!”


Angga langsung memijat punggung gadisnya untuk meredakan rasa mualnya. Dengan spontan usai mengelap mulutnya menggunakan punggung tangan, Freya menepis kencang tangan milik Angga yang masih memijat punggung mungilnya.


“Pergi kamu dari sini!! Jangan ganggu aku! Kamu cowok jahat yang melebihi setan!” teriak Freya meminta lelakinya menjauh darinya.


Jahat? Ya, Angga paham siapa yang Freya maksud. Terbesit pada kejadian tadi yang membuat gadis Nirmala itu Syok setengah mati sekaligus tak menduga lelaki psikopat tersebut bisa memakan daging manusia alias seorang kanibal.


Angga tersenyum masam lalu merangkum wajah cantik jelita Freya dan ia arahkan pandangan muka kekasihnya ke ia. “Hei, ini aku. Dia tidak ada di sini, Sayang ...”


Menatap mata Angga membuat ujung bawah mata Freya mengembun lalu menghambur mendekap erat lelakinya dengan tangisan pecahnya. Angga yang mendengar Freya menangis tersedu-sedu dan merasakannya bahwa gadisnya ketakutan hebat bersama tubuhnya yang bergetar, segera mengelus-elus kepala belakang Freya dengan gerakan lembut nan penuh kasih sayang.


“Sudah, jangan nangis lagi. Kamu sudah aman denganku. Dia juga nggak ada di sini, semuanya sudah telah usai,” ucap lirih Angga untuk menenangkan Freya yang mempererat pelukannya di tubuh sang lelaki tampan.


“Aku gak menyangka, Ngga! Masa manusia makan manusia, sih?! Sudah seperti film Zombie yang sering tayang di channel televisi!” gusar Freya berbicara dengan kondisi mulut menempel di dada bidang Angga.


“Lupakan saja yang tadi, ya? Kamu jangan takut, jangan gelisah, dan juga jangan panik. Selama ada aku di sini untuk kamu, kamu akan terhindar dari marabahaya yang mencelakakan dirimu. Aku berjanji.”


Angga membalas pelukannya Freya dengan juga pelukan hangat. “Kalaupun memang, biarkan aku saja yang terkena celaka itu. Aku rela terluka demi keselamatan kamu.”


Kedua mata Freya yang sayu berubah jadi terang karena sangat terkejut pada perkataan Angga, gadis itu melepaskan pelukannya lalu menatap kekasihnya bersama tampang muka raut terperangah.


“Kenapa kamu ngomong begitu?! Ada apa denganmu?!”


Angga hanya tersenyum saja lalu sengaja mengalihkan topiknya dengan mengambil jaket jeansnya yang sudah ia lipatkan. “Kamu ngerasa kedinginan, gak? Kalau iya, pakai saja jaketku.”


Freya perlahan mengarahkan bola matanya ke arah lain untuk memaling dari wajah tampan Angga. ‘Angga kenapa malah berganti topik? Senyuman itu membuat aku bertanya-tanya, kenapa dia berkata seperti itu denganku.’


Freya kembali menatap Angga lalu tersenyum tipis dengan menggelengkan kepalanya. “Enggak, kok. Kamu pakai saja mending, wajahmu juga masih terlihat pucat. Aku lebih mementingkan kesehatan pacarku.”


“Yakin? Jangan bohong.”


Freya memanyunkan bibirnya sedikit. “Idih, ngapain aku bohong sama kamu? Lagian kamu kan cowok Indigo, jadi tanpa bilang kamu pasti sudah tahu dong berdasar membaca pikiranku.”


Bibir Angga berubah nyengir setelah tersenyum. “Oh, iya.”


Freya memicingkan kedua matanya. “Kamu pura-pura nggak tahu, ya?”


“Haduh, ketahuan. Haha! Iya, aku lagi pura-pura nggak tahu. Sekali-kali mencoba untuk gak membaca pikiran orang, sih tapi selalu gagal.” Freya tersenyum simpul melihat wajah cerianya Angga walau dari segi tampan mukanya terlihat pucat, lebih pucat dibanding yang ia tatap sebelumnya.


“Kamu memang beda dari yang lain, ya. Dari kalangan banyaknya orang inginnya bisa pintar lah ini kamu malah inginnya bisa gagal seperti membaca pikiran,” ujar Freya lumayan laun dengan menggelengkan kepalanya lambat.


“Karena aku terlalu pintar dan cerdas,” buras Angga sambil menaikkan satu alis hitam tebalnya dengan menyunggingkan senyum miring.


Freya semakin gegau dengan sifat bedanya Angga hingga sampai melongo karena tidak percaya kalau ia ada dunia nyata melainkan hanya bunga mimpi. Angga yang melihat reaksi kekasihnya, mendengus dengan wajah teduhnya.


“Jangan kaget, dong. Jangan anggap aku seperti orang kenalan pertamamu, ini sudah dari sifat asliku. Apa mungkin kamu sudah lupa tentang watakku saat kita masih TK?” tanya Angga.


“Eh? Ya enggak, dong! Masih ingat banget, malah. Tapi aku senang dengan sifatmu yang begini, aku merasa kalau Angga yang aku kenal dulu kembali ke dunia.”


Angga tertawa geli. “Dasar kamu, ya. Aku menyadari suatu hal yang membuat diriku bisa menjadi seperti dulu, aku sudah melupakan atau menghempaskan semua masa lalu yang dulu pernah ada di kehidupanku. Terkecuali memori masa lalu saat aku bersamamu waktu bawah umur.”


Ini, nih. Endingnya malah menggoda Freya dengan senyuman manisnya, hal itu berhasil membuat sang gadis polos tersebut tersipu malu dengan kedua pipi semburat merah merona. “Ih, Angga ...”


Angga mencubit kecil pipi Freya dengan gemas. “Mangkanya itu sifat sama muka jangan terlalu menggemaskan, jadinya aku gak akan godain kamu kayak gini. Mengerti?”


Freya mengerucutkan bibirnya. “Ih, jangan salahkan aku dong. Kan aku begini karena meniru sifatnya mama dari lahir. Lah, kamu ... meniru sifatnya om Agra si ayahmu yang masih bekerja di kota Semarang.”

__ADS_1


“Oh, beliau? Kurang satu bulan lagi pekerjaannya dan juga pekerjaannya mama akan selesai, kok dan mendapatkan cuti untuk kembali ke kota Jakarta.”


“Ngomong-ngomong soal kota Jakarta ... apa kita bisa kembali ke asal daerah kita? Sedangkan kita saja masih terjebak dalam hutan ini. Aku gak tahu bisa keluar dari sini atau enggak,” timpal Freya sedih.


Angga memegang kedua bahu kecil kekasihnya dengan menatap penuh motivasi. “Kita pasti bisa keluar dari hutan ini. Tidak ada kata gak bisa, selagi kita masih bersama untuk menjalankan misi mencari mereka dan berjuang buat melangkah pergi meninggalkan alam hutan ini.”


Freya mengangguk samar. “Tapi, apa ayahmu tahu kalau kamu terjebak di sini?”


Angga mengedikkan dua pundaknya. “Aku kurang tahu kalau tentang soal itu. Terlebih jika diukur, kekuatan kelebihan dari Indigo-ku dan ayah pangkat tingginya masih beliau daripada anak putranya.”


Apa yang dikatakan oleh Angga memang benar. Dulu saat masih berusia dini, Agra menyalurkan seluruh kekuatannya kepada putra semata wayangnya agar menjadi lebih tangkas dan juga kuat menghadapi segala-gala macam bentuk hal gaib yang datang. Walau Andrana juga merupakan wanita Indigo, tetapi kelebihannya masih lebih tajam Agra dibandingkan sang ibunya Angga.


Baru saja menikmati senda gurau ringannya dengan satu sama lain, sepasang kekasih berwajah sempurna dan bertubuh ideal tersebut mendengar suara gergaji mesin dari luar gua. Freya yang telah hilang dari rasa takut kini kembali timbul sampai menelan ludahnya susah payah bersama keringat dingin yang muncul.


“Angga! Itu siapa yang-” Belum selesai bertanya, lelaki tampan tersebut sudah duluan membekap mulut Freya agar tidak bersuara lagi.


“St, ayo kita pergi dari sini. Aku mempunyai jalan untuk keluar dari gua ini,” bisik Angga setelah membebaskan mulut kekasihnya dan mengenakan balik jaketnya.


Freya mengangguk tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia diam menuruti komando yang diberikan oleh Angga sambil mulai bangkit berdiri. Tetapi baru saja hendak ingin bangun, Freya terjatuh dan dengan sigap langsung ditahan oleh Angga.


“Gak kuat, ya? Biarkan aku papah kamu.”


Angga berjongkok kembali secara membelakangi Freya. “Ayo naik ke punggungku, jangan sungkan.”


Freya sebenarnya tidak ingin membebani Angga apalagi tubuh lelakinya tengah sedang kurang fit sampai sekarang. Tetapi dirinya tidak memiliki pilihan lain selain menaiki punggung kokoh Angga, Freya mengangguk ragu lalu menyeret langkahnya yang posisinya sedang jongkok dan itu dibantu oleh tangan Angga untuk menyampirkan kedua tangan gadisnya di bahu-bahunya.


Meskipun sebetulnya Angga sudah tidak kuat menahan rasa sakit kepalanya dan juga dadanya, ia harus tetap berusaha menepiskan sementara demi keselamatan dari seseorang yang sepertinya sedang dalam proses menuju ke dalam gua gelap.


Angga melangkahkan kakinya hingga tiba di depan dedaunan pohon pisang, Freya di belakang menatap kekasihnya yang menyibak dedaunan hijau segar itu ke samping. Kemudian mereka berdua keluar bersama lalu disuguhkan pemandangan diluar nalar.


Freya melongo dengan mengernyitkan dahinya seraya mengepalkan kedua telapak tangannya. “Tempat aneh apa, ini? Kok serem banget?!”


“Tenang, ada aku.” Angga kembali berucap seraya menginjak salah satu batu yang mengapung di atas permukaan kolam lumpur mendidih.


Freya bergidik ngeri melihat kondisi lumpur cokelat yang mengepul bak air rebus yang di didihkan dalam panci. Gadis itu menelan salivanya kasar karena sebelumnya tidak pernah melihat lumpur yang seperti dirinya lihat sekarang.


“Anggara ...! Hati-hati melangkahi batu-batunya, ini soalnya batunya goyang-goyang gini apalagi gak mau diem. Aku takut kalau nanti kita terjebur ke dalam kolam lumpur itu, bisa langsung jadi coklat yang meleleh deh kita berdua!”


“Kamu santai saja di situ, aku pasti akan berhati-hati. Ini cukup hal yang gampang bagiku.” Freya mengangguk percaya pada penuturannya Angga yang bisa dirinya yakinkan dan percayai sepenuh hati, karena semua segala ucapannya sang kekasih tidak pernah omong kosong.


Freya bernapas lega setelah tercekat, melihat Angga berjaya melewati kolam lumpur mematikan itu. Dan kini sekarang Angga kembali melanjutkan langkahnya menuju ke sebuah bangunan besar terbengkalai yang tadi ia lihat sebelum Freya sadar.


Beberapa tempuh Angga gunakan dengan sepenuh tenaga ia punyai, lelaki itu membuka pintu tua dan memasukinya bersama sang kekasih. Dan di situ bisa dilihat dari kaca kecil di tengah badan pintu, seorang pria psikopat dengan keadaan wajah berlumuran darah menjijikkan, membuka dedaunan pohon pisang itu bersama mata melotot mencari keberadaan mereka berdua.


“Angga, aku mau turun.”


“Turun? Yasudah,” terima permintaan cicit Freya seraya sedikit berjongkok agar kedua kaki kekasihnya mampu menapak lantai hijau tosca yang nampaknya kotor.


Sial, sudah! Angga menyentuh dadanya yang kembali diserang dengan rasa kesakitan yang hebat, hingga dirinya limbung ke samping. Freya nang sedang menegakkan badannya dan melihat Angga akan terjun ke bawah lubang dari atas lantai, terbelalak dengan mulut membuka lebar.


“ANGGA!!” teriak Freya seraya menarik badan lelaki tampannya ke belakang sekuat tenaga hingga membuat dirinya begitupun Angga jatuh bersamaan.


BRUGH !!


“Auw, sakit banget! Eh, Ngga?! Kamu gak kenapa-napa? Untung saja kamu gak jadi jatuh ke bawah!” Freya cemas menatap wajah Angga yang kian makin pucat, napasnya terlihat tak beraturan karena terdengar dari suara Angga yang mendesau berkali-kali dengan memejamkan mata.


Freya memutuskan menarik badan Angga untuk menggeser tempatnya hingga punggung dan kepalanya menempel di belakang pintu yang tadi telah lelaki tampan itu tutup. Mulut Angga terus terbuka dengan menghembuskan napasnya beberapa kali, tangan kirinya juga tak terlepas dari dadanya yang sesak.


Freya dengan raut bimbang, menggenggam tangan kanan Angga erat. “Apa yang kamu rasain? Jujur saja sama aku.”


“D-dadaku ... terasa sesak!” tanggap Angga dengan tak sengaja menekan nadanya karena ia sungguh tidak sanggup menahan rasa sakitnya yang semakin merajalela dan melewati batas.


“Duh, kok bisa? Punya riwayat penyakit, bukan. Depresi juga bukan ... lalu kenapa dada dia tiba-tiba terasa sesak, ya? Aku jadi gak karuan nih, jadinya.”


Angga melirikkan bola matanya ke arah Freya yang duduk bersandar di belakang pintu bersamanya dengan mata yang sayu. “Tolong jangan kamu pedulikan kondisiku yang sekarang ... aku hanya butuh rehat beberapa menit saja.”


Freya menatap wajah pucat Angga yang rupanya masih bisa mendengar suara kemam dari mulutnya. Tetapi lalu dengan perasaan hati yang getir, Freya menarik kepala kekasihnya untuk ia sandarkan di atas pundak kecilnya kemudian mengusap pipi bagian kirinya Angga.


“Jika memang sudah gak kuat menahan, bilang saja denganku. Jangan pernah lagi kamu tahan kalau kamu sendiri tidak sanggup, oke? Kita diam beristirahat di sini sampai keadaanmu kembali membaik.”


Angga kembali memejamkan matanya lemah dengan menganggukkan kepalanya lambat seperti tidak ada tenaga usai mendengar nada tulus dari Freya yang masih mengusap sayang pipinya. Angga perlu harus menyelidiki mengapa rasa sakit itu kembali datang tanpa ada sebab, memang janggal bila dipikir-pikir secara pakai logika.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


DRAP DRAP DRAP DRAP !!!


Jova dan Reyhan terus berlari sekencang mungkin dengan saling berpegangan tangan untuk menghindari dari psikopat pria yang mengejar mereka berdua bersama membawa kapak untuk membunuh kedua remaja tersebut.


“Tahu gitu mending kita ke gua aja! Daripada di kejar-kejar gini kayak anjing!!” protes Jova dengan berteriak.


“Terus kamu menyalahkan aku, gitu?! Lebih baik sekarang kita masuk ke dalam gua yang tadi kita lihat saja, untuk soal binatang buas di sana gak usah kita pedulikan dulu! Yang penting kita selamat dari dia yang ingin menganiaya diri kita dengan cara sadis pria psikopat satu itu!”


Tak ada pilihan lain selain mengangguk mengiyakan tegasnya Reyhan yang terus berlari maraton. Akhirnya mereka berdua memilih masuk menuju ke dalam gua yang terlihat gelap tersebut tempat tadi Freya dan Angga bersinggah untuk menghilangkan rasa penatnya.


“Ih, gelap tau, Rey!” omel Jova saat melihat pemandangan gelap yang agak sulit ia tatap jelas.

__ADS_1


“Sudah, jangan banyak ngomel! Kamu tetap ikuti saja gerak langkahku dan tetap pegangan sama aku daripada kamu ketinggalan jejak dariku!”


Reyhan berdecak saat dirinya begitu juga sahabat perempuannya hampir terpojok tak bisa kemana-mana. Ya, karena tidak ada jalan lain mereka berdua ambil jalan belok kiri untuk memotong arah dan jarak dari psikopat pria itu yang sepertinya agak sulit mengejar kedua mangsanya.


‘Anjir, lah! Tadi ada daun pisang yang nempel di tembok, lah ini juga ada?! Mau ambil jalan kemana lagi gue sama Jova? Gak ada jalan lain selain lewat ke sini,’ rutuk batin Reyhan gusar.


“Mampus kita, Rey! Jalan buntu ini, mah! Masa mau puter balik?! Yang ada kita dipenggal kapak sama itu psikopat!” Omelan Jova yang ia dan juga Reyhan tengah berhenti di depan dedaunan pisang, membuat sahabat lelakinya mendengus sebal.


“Heh! Dibilang jangan banyak ngomel! Aku bakal coba buka benda hijau ini, siapa tahu dibaliknya ada sebuah jalan untuk kita keluar.”


Reyhan langsung menyibak dedaunan pisang yang menempel di tembok gua. Benar dugaannya, rupanya dibalik daun besar itu adalah jalan keluarnya untuk meninggalkan gua.


“Bejo kita, Rey!”


Reyhan mengangguk mantap lalu cepat menarik tangan Jova kembali sebelum psikopat pria pemegang kapak mengerikan itu datang dan menangkap dua mangsa yang dirinya pilih. Di luar gua, Reyhan begitupun sahabat perempuannya auto melangkah mundur saat sadar ada sebuah kolam lumpur yang mengepul.


“Gila! Lumpur apaan, nih?! Ini kalau nyemplung kek kodoknya Upin dan Ipin, auto masuk Surga!” ujar Jova yang ada di belakang punggung kokoh Reyhan.


Reyhan menelan ludahnya kasar. Bukan karena menatap kondisi kolam lumpur mendidih itu, tetapi ia merasakan psikopat tersebut sebentar lagi sampai ke tujuannya untuk mencekal mereka berdua. Di sisi lain, lelaki humoris itu bingung bagaimana caranya melewati kolam mematikan ini. Tidak ada sebuah jembatan kecil, ataupun bebatuan yang bisa menuntun langkah mereka.


“Haha! I finally found you two. Tidak ada yang bisa meloloskan dua mangsa spesial malam gue!”


“Hua, Reyhan! Psikopatnya sudah sampe sini, dong!!” panik Jova.


Reyhan langsung mengubah posisinya menjadi menghadap pria tanpa topeng, sementara Jova ada di belakangnya untuk sebagai tameng. Salah satu tangan pemuda berambut cokelat itu meraih punggung sahabat perempuannya untuk menguncinya atau istilahnya mendekap setengah agar tubuh Jova tidak terhuyung jatuh ke dalam kolam lumpur mengepul itu karena posisi gadis cantik itu berada di tepi pinggir kolam tersebut.


Reyhan menatap tajam psikopat itu tak juga dengan Jova yang sorot matanya terdapat ketakutan di sana. Ya, walaupun hatinya Reyhan getir dicampur rasa bimbang bila tubuh dirinya selanjutnya Jova dipenggal oleh alat tersebut.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Freya masih bersandar di belakang pintu tua besi yang telah berkarat, begitupun juga lelakinya nang posisi kepalanya masih di atas bahu kecilnya. Matanya masih dirinya pejamkan karena dadanya yang terasa sesak belum berangsur menghilang.


Freya di situ tetap bersama Angga sembari tetap mengusap hangat pipi pucat kekasihnya. Bisa gadis polos itu rasakan kalau napasnya Angga masih tidak beraturan begitu berat, bahkan untuk mengaturnya, si lelaki tampan tersebut kesulitan.


Angga menunduk dengan kepala yang masih menempel di pundak gadisnya, dirinya meremas dadanya yang sakitnya semakin menjadi-jadi apalagi ia sampai mengerang walau pelan. Freya yang melihat kondisi pujaan hatinya yang lebih parah, mencoba tetap bertenang meski hati kecilnya diselimuti rasa kepanikan hebat.


Hingga detik kemudian, Freya menoleh ke arah lubang besar yang ada di bawah lantai. Terdengar suara gesekan kuku walau secara sayup-sayup, sementara Angga nampak diam saja. Entah tidak peduli atau tidak mendengarnya.


“Angga, kamu dengar sesuatu gak dari bawah lantai yang berlubang tempat tadi kamu mau jatuh?” tanya Freya pada lelaki tampannya.


“Hm ...?” Dengan lemah, Angga mengangkat kepalanya dan matanya langsung berkontak pada suara gesekan yang sepertinya sedang merayap menuju atas ruangan lantai.


Oh, tidak lagi! Gangguan apa lagi ini?! Terdapat sebuah bayangan-bayangan tangan dengan kuku tajamnya di jari-jemarinya yang telah muncul dari bawah lantai. Freya yang menatapnya, kedua matanya langsung mencuat.


“Makhluk apa itu?! Ayo, Angga!!” pekik Freya dengan panik seraya menarik tangan kekasihnya hingga membuat Angga spontan berdiri.


Saat hendak akan berlari dari para bayangan hitam tangan menyeramkan itu, salah satu pergelangan kaki Angga disergap oleh satu dari antara banyaknya makhluk tangan bayangan astral tersebut. Tak hanya dicekal saja, namun menariknya paksa hingga membuat Angga terjatuh keras di lantai.


“Argh!!”


Freya berusaha menarik tangan lelakinya yang kaki kirinya terus ditarik salah satu makhluk tangan bayangan hitam berkuku runcing itu. “Tolong lepaskan Angga!! Dia gak bersalah apapun!”


Angga tak hanya sengap saja, ia menggerak-gerakkan kakinya yang dicekal berusaha meronta sampai cengkraman dari makhluk bayangan hitam berkuku tersebut terlepas. Angga yang sudah terbebas, langsung bangkit berdiri dan bergantian menarik tangan Freya untuk mengajaknya berlari walau tidak tahu mau ke arah tujuan mana.


Sementara beberapa bayangan tangan hitam gaib itu keluar dari ajangnya lalu saling membentang panjang dan cepat macam halilintar untuk menyampuk kedua manusia tersebut yang sedang berlari ke arah pembelokan.


Di pelariannya mereka berdua, Freya bisa merasakan bahwa telapak tangannya Angga telah mulai hangat sementara lelakinya berlari dengan sembari menyentuh dadanya. Inilah yang Freya takutkan terhadap keadaannya Angga, apalagi rehatnya belum cukup untuk protes pemulihan tanpa obat.


Sampai puncaknya, sepasang kekasih itu tiba di suatu lorong yang gelap dan terkesan angker penuh mistik di situ dalam posisi mereka berlari kencang karena masih dikejar makhluk-makhluk hitam tersebut yang secara agresif.



Gelap walau di atas dinding terdapat satu lampu pijar, akan namun tetap saja jalan lorong yang hampa itu terkesan berhantu. Bagaimana lagi kalau mau dibilang? Namanya juga bangunan terbengkalai, pasti dalam isinya terkesan angker nan berhantu.


Berselang detik kemudian tiba-tiba kepala Angga terasa pusing berputar-putar. Hal itu membikin langkah larinya bersama Freya sempoyongan sampai dirinya tersandung oleh kaki depannya hingga membuat pemuda tersebut terjatuh keras di lantai lagi sampai pegangan Freya terlepas begitu saja.


“Angga?! Aduh, kamu kenapa?!” Freya langsung menghampiri Angga dan jongkok lalu membantu kekasihnya bangun dalam posisi duduk.


Angga sama sekali tidak merespon pertanyaan kekasihnya dengan keadaan matanya terpejam walau masih sadar. Namun berselang detik setelahnya, Freya langsung peka kemudian mengajak Angga bersandar di sisi tembok kiri.


“Kita berhenti dulu, ya? Kamu sudah terlalu lelah! Lagipula makhluk-makhluk tangan bayangan hitam itu telah nggak mengejar kita berdua.”


Freya menyingkap rambut hitam Angga dari depan ke belakang. “Mukamu bertambah pucat, aku yakin sekarang ini kamu sudah gak mampu mengeluarkan tenaga untuk melangkah.”


Freya yang telah merapikan rambut lelakinya, kini beralih mendekapnya hangat. Ia bisa merasakannya kembali bahwa kondisi saat ini raga Angga sedang lemah tidak berdaya. Merasa gadisnya memeluk tubuhnya, Angga membalasnya dengan dekapan setengah yang mana hanya satu tangannya saja yang ia lingkarkan hingga menyentuh punggung mungilnya Freya.


“Maafkan aku karena sudah telah menyusahkan dirimu ...” lirih Angga berucap dipertengahan dadanya yang masih saja terasa sesak.


“Tolong jangan minta maaf, Angga. Kamu nggak ada salah sama sekali denganku.”


Freya tetap setia mendekap tubuh hangatnya Angga. Lelaki tampan itu yang memiliki raga yang kuat sekarang sedang lemah tidak bertenaga karena serangan nang sangat begitu eksentrik.


Di dalam lorong gelap, berpuaka tetapi Freya berupaya menepiskan ketakutannya itu untuk sementara. Sepertinya gadis cantik berambut hitam lurus legam tersebut akan bergiliran menemani dan menjaga Angga yang kondisinya sedang tidak memungkinkan. Balas budi? Ya betul sekali, Freya membalas gemilangnya Angga yang selama ini sudah selalu mengeluarkan hati alamiah untuknya.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2