Indigo

Indigo
Chapter 48 | New Spirit Arrival


__ADS_3

Pagi hari mendatang, pemuda Indigo tersebut masih lelap dalam tidurnya dan serta masih setia dengan mimpinya, sampai tiba-tiba Andrana membuka pintu kamar Angga dan menghampiri anaknya yang masih berbaring di kasurnya.


"Angga," panggil Andrana dengan mengusap-usap punggung Angga.


"Hmmmm ..."


"Nak, itu di bawah udah ada Freya. Samperin gih, sudah daritadi loh nunggu kamu turun."


Angga yang mimpinya telah tertutup karena dibangunkan oleh sang ibu, mengucek-kucek matanya dan bangkit bangun posisi duduk. Angga diam sejenak untuk mengumpulkan nyawanya hingga penuh kemudian setelah terkumpul, Angga menoleh pada Andrana yang tengah duduk di pinggir kasur anak putranya.


"Siapa yang dateng ...?" tanya Angga dengan nada orang-orang habis bangun tidur.


"Freya, Ngga ... kasian loh Freya daritadi nungguin kamu. Sudah sana cepet-cepet turun, jangan buat sahabat kecilmu menunggu lebih lama," ucap Andrana dengan terkekeh.


"Hmmm ... ya, Angga mau cuci muka dulu."


Angga dengan mata yang masih setengah bangun melek, segera beranjak turun dari kasur melewati Andrana untuk pergi ke kamar mandi wastafel dan membasuh muka di sana. Lalu setelah mencuci muka dan merapikan rambutnya, Angga keluar dari kamar mandi wastafel kemudian berjalan turun dari tangga untuk menemui sahabat kecilnya yang berada duduk di kursi sofa ruang keluarga.


Angga melangkah ke kursi sofa hingga Freya yang diam menunggu lelaki sahabat kecilnya, menoleh ke arah Angga yang melangkah mendekati kursi sofa.


"Pagi Angga," sapa ramah Freya dengan senyum manisnya.


Angga tersenyum tipis. "Pagi juga."


Angga duduk di samping Freya yang penampilan gadis sahabatnya sangat rapi bahkan rambut hitam legamnya itu ia kuncir dengan tali rambut warna kesukaannya.


"Kamu kok tumben pake celana training? Kamu mau olahraga hari ini?"


"Yups, refreshing pikiran dengan olahraga sepeda sekalian hirup udara seger di luar."


"Oh, sendiri?"


"Enggak lah Ngga, sama kamu. Emangnya tujuan aku ke sini kalau bukan ngajak kamu mengayuh sepeda, apaan?"


"Lah, kamu ngajak aku?" Angga menghembuskan napasnya. "Tau gitu aku mandi dulu, tadi. Kenapa gak ngomong sama aku??"


"Yaaa gimana ngomongnya, kan kamu tadi masih tidur hehehehe. Oh tante Andrana nggak ngasih tau kamu, ya?"


"Ngasih taunya kamu ada di bawah nungguin aku."


"Hm gitu, ya. Tapi tumben kamu jam segini belum mandi biasanya juga kamu bangunnya jam enam loh. Harusnya mandi dulu, lah baru nyamperin aku di bawah."


"Nggak usah sampe kritik aku seperti itu."


"Anggara Vincent Kavindra, jangan dingin-dingin ngomong sama Freya barusan itu. Kasian calon mantu Ayah kamu kasih hati dingin, cewek cantik-cantik manis begitu kamu gitukan. Nanti Freya sakit hati loh sama sikapmu barusan."


Angga menoleh cepat dengan wajah sebal pada perkataan Agra yang mengatakan 'calon mantu' sedangkan Agra tengah menikmati teh hangatnya di mug kaca putih di ruang dapur tepatnya meja makan.


"Apaan sih Yah! Calon mantu calon mantu, Kebiasaan pagi-pagi ngomongnya udah ngelantur!" protes putranya.


"Kamu juga sama tuh, pagi-pagi udah galak kayak kesetanan." Ayahnya tak ingin mengalah.


"Berarti Angga setan?!"


"Hmmm kalau itu rada-rada mirip antara kamu dan setan."


Angga mendengus dengan tatapan sebal pada Agra, namun anak putranya tersebut lebih memilih diam mengalah daripada ujungnya menjadi bentrokan percekcokan tidak jelas. Sampai datanglah Andrana yang tengah turun tangga mendengar sedikit perdebatan antara anaknya dan suaminya.


"Haduh ini ada apa sih? Pagi-pagi kok udah ribut. Gak baik debat apalagi ini masih terlalu pagi, kalau debat sama Mama aja. Sekalian Mama nasehatin kalian berdua. Mau?"


"Ehm, nggak perlu Ma. Mending Angga ngalah aja sama Ayah, kalau ngelawan mulu yang ada Angga jadi anak Durhaka lama-lama. Oh iya Frey, kamu tunggu dulu sebentar ya, aku mau mandi."


Freya yang diam melihat aksi perdebatan tadi langsung matanya mengarah ke Angga. "Oh oke, aku tunggu kok."


"Sebentar, ya."


Angga mengusap-usap lembut atas kepala Freya dengan tersenyum sebelum pergi hendak mandi. Sedangkan Agra melihat tingkah Angga yang kembali hangat pada Freya hanya mesem-mesem tanpa meledeknya lagi sementara Andrana tersenyum lebar sembari berjalan ke arah dapur untuk pergi memasak sesuatu.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di depan garasi, Angga nampak tengah mengecek kondisi sepedanya yang telah jarang ia pakai, Freya pun ikut mengecek sepeda miliknya sang sahabat kecil kalau ada yang bermasalah di bagian sepedanya.


"Angga, coba kamu cek ban roda sepeda kamu dulu, siapa tau kempes," titah Freya.


Angga langsung berjongkok untuk mengecek kondisi dua ban roda sepeda hitamnya kemudian kembali berdiri. "Nggak ada yang kempes, padahal jarang aku pakai."


"Yaiyalah Ngga, di garasi kan gak ada tikus. Orang Ayah pasti nyiapin semprotan pembasmi serangga dan tikus hehehehe."


"Iya Ayah iya," jawab Angga jengah.


"Lagian, Ayah kan belikan sepeda itu buat kamu waktu kamu belum dilahirkan ke dunia."


"Mana ada! Sepedanya kan, Angga beli pake tabungan Angga sendiri!"


"Oh-oh masih inget toh, Ayah cuman ngetes otak kamu aja. Orang yang cidera kepala kebanyakannya sering lupa yang dulu-dulu, lho."


"Angga gak akan sampai segitunya, Yah. Lagian kalau sampe begitu kenapa Angga gak sekalian Amnesia aja."


"Ih Angga mah! Kalau ngomong gak pernah hati-hati, jaga omongannya jangan asal ceplos begitu dong," tegur Freya.


"Tuh dengerin Ngga ... dan Ayah. Ayah ngapain sih bercanda mulu daritadi, itu anakmu mau di ajak olahraga sepeda sekalian fresh kan pikiran. Mending lebih baik Ayah bantu Mama menyirami bunga, yuk."


"Hehehehe, siap laksanakan istriku Sayang."


Angga memutar bola matanya malas kemudian menatap Andrana yang mengambil alat penyiram bunga sedangkan Agra lagi menyalakan air kran pada selang untuk mengisi alat penyiram tersebut.


"Ma, Angga pergi ya."


"Iya Nak, inget kalau capek berhenti."


"Iya-iya. Angga duluan ya, Yah."


"Oke, hati-hati di jalan Ngga. Bawa sepedanya santai aja gak usah ngebut kayak di kejar manusia kriminal."


"Ck, Ayah!"


"Ampun Ma, Ayah hanya bercanda kok."


"Hehehehe, kalau begitu Freya sama Angga pamit ya Tan, Om."


"Iya Nak, hati-hati di jalan."


"Siap Om, siap Tante."


Kedua sama-sama dari sahabat kecil itu mulai mengayuh sepedanya masing-masing keluar dari gerbang rumah. Mereka berdua di jalan komplek menikmati udara pagi yang sejuk di seraya mengayuh sepedanya dengan santai. Sepanjang komplek Permata mereka bersama tempuhi dengan mengobrol-ngobrol sesekali bercanda. Hingga tak terasa itu, Angga dan Freya berada di dekat taman yang banyak pedagang penjual di pinggir dalam taman.


Pemuda dan gadis itu memarkirkan sepedanya di khusus parkiran sepeda yang telah di sediakan dari dulu. Freya serta Angga memasuki taman dan duduk di kursi panjang untuk beristirahat sejenak. Sepasang sahabat kecil terbuka itu tengah mengelap keringatnya menggunakan handuk kecil tersendiri, hingga Freya yang lagi mengelap keringat lehernya, ia kepikiran untuk membeli cilok di penjual lokasi tempat seluncuran bermain.


"Ngga, kamu mau cilok, gak?"


"Boleh juga," tanggap Angga mau dengan mengeluarkan dompetnya memberikan uang kertas warna kuning kepada Freya.


"Eh gak usah, aku aja yang bayar pake uangku."


"Kenapa? Lagian kalau pake uang sendiri malah gak repot, kan. Nih terima aja uangku. Eh tapi aku aja deh yang beli-"


"Jangan! Biar aku aja yang ke sana, kamu istirahat aja. Pasti kamu capek hehehe. Hari ini aku niatnya mau traktir kamu gantian, soalnya kamu beberapa kali suka traktir aku. Jadi yaa harus giliran dong aku yang traktir, biar adil."


"Eeee, jadi begitu? Yaudah deh makasih ya, wah ternyata kamu bisa balas budi."


"Yeee, aku dari dulu tau lah apa itu artinya balas budi. Kamu pikir aku gak tau apa-apa?"


"Maaf," ujar Angga dengan sedikit terkekeh.


"Yaudah it's fine. Kamu tunggu dulu di sini, ya."


"Oke."


Freya beranjak dari kursi dan berjalan menghampiri penjual cilok di lokasi dekat seluncur anak-anak. Bisa Angga lihat dari jauh, Freya nampak memberikan dua lembar uang yang sama di sembari gadis itu di goda-goda penjual tersebut yang umurnya masih cukup muda, bahkan Freya yang di goda hanya sumringah menunduk-nunduk begitu saja. Tak berapa lama, Freya datang ke Angga dengan membawa cangkir cup transparan yang di dalamnya ada beberapa cilok yang telah di tuangi saus kecap dan saus pedas di masing-masing makanan itu.


"Tara! Ini untukmu!" girang Freya sambil memberikan satu cilok satu cangkir cup plastik transparan pada Angga.

__ADS_1


"Thanks, ya."


"You re welcome, Ngga. Yaudah di makan yuk, tapi hati-hati aja makannya, soalnya masih panas takutnya lidah kita melepuh."


"Hm'em, aku sudah tau."


Freya mengangguk lembut kemudian menusuk satu cilok-nya pakai tusuk sate lalu meniupnya perlahan kemudian memakan-nya. Sedangkan Angga juga tengah meniup makanannya lalu melahapnya dilanjutkan mengunyah, rasanya begitu lezat dan tak hambar. Sampai kemudian Freya yang akan melahap cilok-nya yang lain, tertunda dan memanggil Angga.


"Ehm, Angga?"


"Hm? Kenapa, Frey? Kamu haus?"


"Enggak kok, nanti aja beli minumnya. Tapi, ada yang mau aku tanyain sama kamu .. tapi kayaknya terdengar berat, ya?"


Angga tahu apa yang akan Freya tanyakan. "Tanya saja sama aku, nggak usah pake acara ragu segala."


"Soal tadi malam di rumah sakit, tentang cerita arwah Arseno .. kamu menerawang sendiri atau dapat informasi dari seseorang?"


"Bukan menerawang, juga bukan dapet informasi dari seseorang .. tapi Arseno yang datang padaku. Sekalian aku ceritakan semua saja biar kamu paham apa yang aku maksud, arwah itu malam sekitar jam setengah sepuluh atau jam sepuluh dateng tiba-tiba di kamar ku, di situ arwah itu hanya memberitahu aku saja kalau jiwa Reyhan gak akan aman karena Arseno berniat besar untuk meneror Reyhan secara bertubi-tubi."


"Kamu di lihatin wujudnya, nggak takut?" tanya Freya ngeri.


"Aku hanya kaget bukan takut. Aku dari kecil sudah terbiasa yang wajah-wajah hantu pada sosok sebetulnya."


"Ooohh begitu, tapi kenapa Reyhan di teror sama Arseno, Ngga? Apa Reyhan melakukan kesalahan atau pelanggaran?"


"Kesalahan, memang betul. Tapi aku rasa Reyhan nggak sengaja melanggar aturan larangan bahaya di jalan rawan kecelakaan itu. Aku heran aja, Reyhan yang selalu update tentang berita-berita tapi malah jadi sebaliknya. Yang jelas, Reyhan sudah melewati jalan kawasan wilayah lokasi matinya Arseno."


Pandangan Freya menunduk ke bawah seperti tengah memikirkan yang di jelaskan oleh Angga. "Aku yakin Arseno nggak terima jalan kematiannya dilewati orang lain termasuk Reyhan. Tapi kok kalau denger dari jelasan mu, Arseno kayak menyimpan dendam ya, Ngga."


"Kalau itu aku sudah tentu memastikannya. Tapi sayangnya aku belum nemuin siapa pelakunya yang membunuh Arseno disaat dia masih manusia dan masih ada raga. Dua orang kan yang membunuh cowok itu?"


"Bener. Aku soalnya masih inget bener berita yang dibacain Jova di internet waktu kita bertiga di kantin sekolah. Kasihan banget ya Ngga, orang yang gak bersalah malah di bunuh secara sadis .. mereka berdua tuh seperti hilang akal sehat dan nurani hati. Di telan bumi lah pokoknya!"


Angga tertegun. "Kok kamu yang jadi marah gini?"


"Eh! Ehm, maaf Ngga. Haduh iya ya kenapa aku malah jadi marah gini sama dua pelaku misterius itu," kata Freya dengan mengusap tengkuknya yang ada handuk kecilnya.


"Udah, mending nggak usah kamu pikiran aja. Mungkin suatu ketika ada orang yang menemukan siapa dua pelaku itu dan kasus misteri itu bakal terpecahkan."


"Kamu yakin?"


Angga menatap Freya intens. "Ya, aku yakin. Tapi untuk saat ini belum ada yang menemukannya."


Freya menghembuskan napasnya dengan menganggukkan kepalanya pada ucapan Angga. Pemuda tampan dan gadis cantik itu menghilangkan pikiran hal yang mereka bahas dari benak otaknya dengan kembali menghabiskan makanan mereka masing-masingnya sembari memandang anak-anak antara TK dan SD bermain ria di tempat bermain seperti ayunan, seluncuran dan lain-lain tapi tak hanya itu saja, ada sebagian anak-anak kecil yang bermain kejar-kejaran di sekitar Angga serta Freya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di dalam kamar tembok serba ungu, Jova tengah duduk di kasurnya mojok dinding sembari memeluk boneka beruang berpita ungu violet-nya. Wajah sedihnya masih terpampang jelas pada gadis tomboy ini sudah dua jam lebih Jova mengurung dirinya di kamarnya. Entah mengapa Jova merindukan sahabat Kunyuk-nya yang padahal masih 1 hari, biasanya kalau tak bertemu 1 hari rindunya tak terasa tapi kali ini tidak. Ya, karena Reyhan Koma.


Jova tidak tahu kapan Reyhan akan kembali membuka matanya yang sedangkan kondisi Reyhan begitu parah di ruang rawat ICU RS Wijaya. Namun kalau boneka yang tengah Jova pegang ini masih ada, benda lembut itu bisa menggantikan Reyhan sementara. Bahkan sekarang Jova menatap boneka beruang kesayangannya tersebut dengan tersenyum amat sendu.


Flashback On


Jova bersedekap di dada dengan wajah ia tekuk sebal, sementara Reyhan yang di sampingnya tengah asyik mengemil biskuit coklat yang ada di dalam toples. Sepertinya pemuda itu tak peka pada sahabatnya yang sedang ngambek padanya. Jova menghembuskan napas mulutnya hingga rambutnya yang berponi itu tertiup ke atas, sedangkan Reyhan nambah lagi biskuit coklatnya yang telah habis.


'Ih sebel banget deh, aku! Ini cowok satu kesini numpang-nya malah isi perut doang! Gak peka kalau sahabatnya ini lagi ngambek !'


Jova tak mengerti mengapa setelah ia berbicara dalam relung hatinya, Reyhan tersenyum simpel dengan mata fokus menatap layar ponselnya hingga tiba-tiba pemuda friendly itu yang sedang mengunyah biskuitnya terhenti dan melirik Jova yang mengembungkan wajahnya kesal.


Jova yang merasa di lirik Reyhan langsung menoleh. "Napa?!"


Reyhan mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh kemudian kembali melihat layar ponselnya yaitu game favoritnya seraya mengunyah lagi biskuitnya yang ada di dalam mulut. Namun saat Reyhan kembali meraih toples kaca di meja untuk mengambil biskuit coklat, Jova sigap merebut lebih dulu toplesnya kemudian mendekapnya.


"Kok di ambil, sih?!" protes Reyhan.


"Biarin! Lagian kalau kamu makan terus ini biskuit, yang ada malah bocor dihabisin kamu, hmh!" Jova memalingkan wajahnya kesal pada Reyhan.


"Kamu lupa ini hari apa?!"


"Jir, ini anak kerjaannya ngegas mulu hidupnya ... hari senin, lah. Masa hari Kiamat?"


"Iiihh!! Gregetan sumpah aku sama kamu!!"


"Dih! Gak sudi!"


'Ealah buset mak jang, mak jang. Ngambeknya kebangetan ini cewek satu. Ahay tapi gue emang sengaja buat lo kesel dulu di hari istimewa ini hahahahaha.'


'Huh, Reyhan itu apa Amnesia tanggal ya?! Masa dia gak inget hari ini hari apa !'


Reyhan sedikit melirik Jova yang telah berbicara dalam hati batinnya, pemuda itu mengukirkan senyuman smirk-nya.


'Hahahahaha, gak tau ya lo kalau gue bisa baca pikiran orang apalagi hati orang. Kasian, belum gue kasih tau kalau gue punya indera aura. Eh tapi kok muka Sableng langsung melas gitu dah? Hmmm mungkin udah sedih keknya hahahaha, sorry Va emang sengaja gue buat lo gini dulu. Gue kan sahabat lo beda dari yang lain.'


"Udah ah aku mau ke kamar dulu!" kesal Jova hendak berdiri dari kursi sofa seraya meletakkan toples biskuit coklat di atas meja.


"Eits! Udah dong stop ngambeknya hehehehe, duduk dulu deh. Aku mau ngasih sesuatu buat kamu, ku jamin pasti kamu bakal suka."


"Apaan??" tanya Jova penasaran dengan wajah kesal memudar.


"Sebentar, tapi kamu tutup mata dulu dong .. kalau gak tutup mata berarti pemberianku gak suprise."


"Ada-ada aja kamu, Rey. Yaudah aku tutup mata nih, tapi awas aja kalau ternyata kamu buat aku seenaknya!"


"Iye-iye Neng! Bawel banget, dah!"


"Udah cepetan."


"Hmmm!"


Jova menutup matanya menuruti Reyhan, sementara Reyhan meletakkan ponselnya di sampingnya kemudian lelaki itu berbalik badan ke belakang dalam posisi kedua kaki lututnya menopang atas kursi sofa. Pemuda itu nampak mengambil suatu benda lembut sutra berbentuk hewan lucu dari belakang sofa. Pemuda itu tersenyum sumringah membayangkan mestinya sahabatnya sangat senang pemberian benda lembut yang Reyhan pegang.


"Nah aku hitung sampai tiga, kamu baru buka mata ya. Ngerti?"


"Oke-oke, aku ngerti."


"Sip! Oke hitungan dari ... satu, dua, tiga. Boleh buka!"


Jova membuka matanya perlahan dan setelah membuka matanya, Jova sangat terkejut sekaligus bahagia apa yang Reyhan bawa untuknya. Sebuah boneka beruang coklat berukuran sedang dan disertakan pita lehernya yang berwarna ungu violet ciamik.


"Tara! Selamat ulang tahun ke lima belas, sahabatku! Ini hadiahku untuk kamu hehehehe!"


"Waaaahh!! Bonekanya lucu banget!!" girang Jova sambil menerima hadiah dari Reyhan yang tersenyum ramah.


"Ini buat aku beneran Rey?!"


"Iya dong, siapa lagi kalau bukan buat kamu. By the way kamu suka kah bonekanya?"


"Ih suka banget Rey! Kok kamu tau sih aku suka boneka beruang?! Lihat deh pita-nya juga cantik banget warna ungu!"


"Tau dong. Kamu kan sifatnya kayak beruang kelaparan, yaudah aku kasihi kamu hadiah itu."


"Ih dasar Kunyuk!"


"Hahahahaha! And sebenernya, aku pengen belikan kamu hadiah biawak. Biar sesuai sama majikannya yang ganas."


"Mulai lagi kamu, Rey!"


"Bercanda kok hahahaha! Oh iya boneka ini aku beli pake uang tabunganku sendiri, lho. Dan aku nyiapin hadiah ini minggu yang lalu. Angga, Freya gak tau tapi yang tau mama sama papaku."


"Wow, rahasia bener."


"Yoi. Pokoknya boneka itu harus kamu jaga sepenuh hati ye, Va. Boneka itu juga bisa jadi berjuta kenangan dari aku, kalau kamu kangen sama aku peluk aja boneka pemberianku itu, biar rasa kangen mu terhadapku tertuntaskan hehehehe."


"Hah? Mana ada aku sampe kangen sama kamu? Kita kan setiap hari selalu ketemu."


"Hei jangan gitu, bisa jadi kalau misalnya suatu ketika aku pergi jauh keluar kota atau apalah Pasti kamu bakal kangen aku hahahaha!"


"Dih, ngarep di kangenin ini cowok sahabatku."


"Hehehehe, aku seneng bener ternyata kamu suka hadiahnya. Gak sia-sia aku nabung demi belikan hadiah spesial buat kamu."

__ADS_1


"Uh korban perut ini mah, makasih banget ya Rey. Pokoknya boneka ini bakal senantiasa aku jaga kok, dan gak bakal aku kasihi ke siapapun termasuk sepupuku."


"Ah, masaaa??"


"Ih beneran. Janji, boneka ini bakal selamanya jadi milikku seutuhnya!"


"Buset?! Kok kayak jagain pacar? Bahahaha!!"


"Eeeeehh! Gak gitu maksudnya! Tau ah, gelap!"


"Iya seperti hatimu yang selalu gelap dan suram kayak masa depanmu hahahahaha!"


"Ketawa aja terus, lama-lama aku sumpelin mulutmu pake batu kerikil yang ada di pekarangan rumahku!"


"Mangap!"


"Maap!" Jova membenarkan kata Reyhan.


"Iya itu maksudnya. Tapi kok kamu hari ini tumben lebay? Biasanya juga aku yang lebay."


"Ya mana aku tau lah! Mungkin jiwa kita di tuker sama alam," ucap Jova menahan tawa.


"Yeeee! Mana ada perkara seperti itu! Ngaco ini anak sore-sore."


"Lebih ngaco kamu daripada aku. Tadi aku kira kamu lupa ulang tahunku, lho."


"Mana ada lah aku lupa. Pake logika, Neng .. tadi ada banyak temen kita dateng ngerayain ulang tahunmu meriah-meriah. Emangnya yang bawain kamu hadiah di sahabat-sahabatmu cuman Angga sama Freya doang? Gak lah, aku juga bawain hadiah cuman aku sengaja bikin kamu kesel dulu di ulang tahunmu ke umur lima belas tahun."


"Huh! Emang cowok rese sama sesat. SMP udah sesat, gimana kalau sudah SMA .. makin kumat itu penyakit jiwamu!"


"Enak aja! Aku gak ada penyakit, tau?! Ya kita lihat aja nanti kalau kita sudah sama-sama SMA, masa-masa remaja mencari jodoh."


"Hidih! Terus memangnya kamu mau sekolah SMA yang apa?"


"Hmmm sekolah SMA yang fasilitasnya bagus dan nyaman untuk belajar sih, dan banyak perlombaan seperti kompetisi nyanyi."


"Eh tapi by the way perlombaan yang paling populer di salah satu SMA yaitu kompetisi nyanyi tuh biasanya yang ada di SMA Galaxy Admara, loh!"


"SMA Galaxy Admara? Gilak! Itu kan SMA yang terpaling elite di kota Jakarta! Wow kira-kita keterima gak ye aku masuk SMA internasional itu?"


"Aamiin aja deh. Lagian itu kan SMA yang harus memiliki talenta tinggi kek prestasinya dan kemampuannya. Wah, tapi kalau kita bertiga bisa daftar di SMA Galaxy Admara, huh rasanya kek masuk di sekolah super wonderful."


"Hahahaha Aamiin dah, semoga terwujud impian lanjutan sekolah kita nanti. Pokoknya kita harus fokus nih pada ujian tes kita yang masih kelas sembilan SMP, dan harus lulus!!"


"Mantap Rey!


"Kobarkan semangat jiwa raga kita untuk Indonesia merdeka jaya! Wuuuuu!!"


Reyhan bertepuk tangan ria untuk dirinya sendiri dengan kelakuan tingkah bar-barnya, sementara Jova yang tengah mendekap boneka hadiah dari Reyhan menggelengkan kepalanya pada sifat miris sahabatnya.


Usai bertepuk tangan dan diam sejenak, Reyhan menatap Jova yang nampak sangat sayang pada boneka beruangnya atas pemberian dari tangan sahabatnya. Reyhan tersenyum yang memperlihatkan deretan gigi putih rapinya bagian atas.


"Thank you very much ya, Bleng .. kamu kayak sayang banget sama bonekanya."


"You re welcome, Nyuk .. aku memang suka dan sayang banget sama boneka dari hadiahmu. I really like this doll."


Reyhan hanya tersenyum meringis gembira dengan mengacungkan kedua jari jempolnya setiap tangannya sedangkan Jova mengangkat satu tangannya dan mengepalkan telapak tangannya untuk bertos pada Reyhan melambangkan simbol persahabatannya.


Flashback Off


Sepanjang memori kebahagian bersama Reyhan di hari ulang tahunnya ke umur 15 tahun waktu ia masih SMP, Jova tentu begitu ingat masa-masa itu. Tanda gadis itu sadari, air matanya menetes membasahi kepala bulu sutra boneka beruangnya yang hanya satu titik.


Gadis itu semakin mendekap bonekanya yang dulunya adalah pemberian hadiah dari Reyhan, bahkan gadis tomboy berhati sedih dan hancur itu menempelkan pipi kanannya di atas kepala bonekanya dalam tangisan pelannya.


"Kamu ngapain ngomong begitu sih Rey waktu itu kalau suatu ketika aku bakal kangen kamu yang padahal kamu gak pergi jauh tapi Koma? Mulutmu nyeremin banget ternyata kalau ngomong."


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


RS Wijaya, di dalam ruang ICU. Jihan terus saja berceloteh panjang lebar pada Reyhan walaupun Jihan tahu bukanlah Reyhan yang menjawab melainkan suara alat monitor pendeteksi jantung yang ada di samping kanan anaknya, pemuda yang terbaring lemah di ranjang pasien itu nampak seperti tengah tidur damai serta tenang di situ di situ.


Jihan memperhatikan dan menatap wajah pucatnya Reyhan yang hidung sekaligus mulutnya terpasang oleh masker Rebreathing yang mana kantong reservoir di bagian alat oksigen tersebut mengembung di setiap Reyhan bernapas. Melihat anak tersayangnya masih pejam mata hingga saat ini, hal itu membuat air mata Jihan yang telah kering menjadi basah kembali dipadukan tangisan deras mengalir di pipi cantiknya.


Farhan terlihat tidur pulas dengan memeluk kedua kaki Reyhan yang telah lumpuh imbas kecelakaan nang hampir meregang nyawanya. Posisi kedua kaki Reyhan tertutup oleh selimut tebal asal dari ranjang pasien kamar rawat ICU tersebut, tak hanya kakinya saja tetapi juga sekaligus badannya. Tentunya tadi malam Farhan terjaga sulit untuk tidur, itulah sebabnya Farhan masih tidur pulas belum bangun dari tidurnya sampai jam sekarang.


Jihan mengangkat tangan kiri Reyhan yang telapak tangannya tertancap jarum infus dan menggenggam perlahan telapak tangan anaknya yang sangat lemas tersebut serta mencium punggung tangan milik Reyhan.


"Bangunlah, Nak ..."


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Angga nampak sedang menata buku-buku paket mata pelajaran dan beberapa buku novel miliknya, namun tiba-tiba angin malam berhembusan kencang memasuki jendela balkon kamar Angga yang belum sempat tutup serta gordennya masih terbuka lebar. Angga yang mengenakan baju lengan panjang hijau daun berbalik badan untuk segera menutup jendelanya serta gordennya. Usai menutupnya, Angga kembali merapikan meja belajarnya serta menata buku-bukunya yang berserakan.


Namun Angga merasakan ada yang mencolek-colek punggungnya, mana mungkin ada yang memasuki kamar Angga sedangkan pintu kamarnya Angga tutup bahkan pula pintu balkon. Insting Angga mengatakan, bukan manusia yang mencolek punggungnya. Apakah itu adalah Senja?


Sosok itu malah bergantian menarik rambutnya Angga. Dengan spontan rasa kesal, Angga memutar tubuhnya sembari mengangkat buku novel tebalnya.


DUGH !!


Angga reflek memukul kepala seorang pemuda yang kulitnya putih pucat pasi. Angga begitu kesal pada arwah tersebut yang tak ia kenal sama sekali apalagi sosok itu mengerjainya.


"Aiiiihhh!! Sakit woi! Orang gue arwah yang baik, malah di gebuk pake buku!" protes rengek arwah pemuda umur 17 tahun seraya mengusap-usap pucuk kepalanya.


"Apa tujuan lo dateng ke sini?!" tanya Angga dengan nada menekan, coba saja kalau arwah itu tidak menjahili Angga pastinya Angga tak mungkin menaikkan oktaf nadanya.


"Gue di suruh sahabat kecil gue, anying-"


"Maafin sahabat aku Ngga! Dia emang gitu semenjak dia masih manusia. Hehehehe jangan marah dong, nanti cepet tua lho."


Angga menghela napasnya pada ucapan Senja. "Oke. Jadi, lo siapa? Dan lo ke sini mau apa? Minta bantuan?"


"Sans, gue gak minta apa-apa sama lo, kok."


"Hmm. Terus apa lo sama kayak Senja? Dateng ke sini hanya ingin berteman sama gue?"


"Iyaps! Kenalin nama gue Cahya Araav Jonathan, arwah baru dari korban kecelakaan maut di jalan pintas Jiaulingga Mawar."


"Korban kecelakaan maut di jalan pintas Jiaulingga Mawar?" tanya pemuda Indigo memastikan.


"Hm'em. Tentunya lo udah lihat berita tentang kecelakaan gue yang miris itu dong, raga gue dan motor gue terjun di jurang sedalam tiga-puluh-meter!"


"Oh yang itu, hmm gue udah baca berita soal kecelakaan lo di berita internet."


"Wah Cahya jadi terkenal deh, ehm tapi Ngga ... kok di lihat-lihat mukamu sedih bener? Kamu kenapa? Lagi ada masalah?"


Angga menghembuskan napasnya kemudian meletakkan buku tebak novelnya di tumpukan buku novel ia yang lainnya, setelah itu Angga melengos pergi ke kasurnya untuk duduk di pinggir kasur miliknya. Cahya dan Senja saling menatap lalu menghampiri lelaki Indigo itu yang tak menjawab pertanyaan salah satu arwah gadis tersebut tadi.


'W-waduh pasti Angga lagi ada masalah sesuatu nih. Mana mukanya jadi murung, lagi disitu .. baiknya aku tanyain apa aku biarin Angga diem dulu, ya ?'


Angga tentu pasti tahu apa yang Senja bicarakan dalam hatinya, namun Angga tak ingin menggubris apa yang Senja bicarakan. Sedangkan Cahya yang baru kenal Angga hanya diam saja dengan menatap bingung pada manusia Indigo itu.


"Ehm, Angga? Hehehehe, kamu kenapa malem ini? Kok mukanya murung begini .. pas di tanya sahabatku? Eeee apa benar ya, kamu lagi ada problem. Iya, kah?"


"Hhhh, bukan." Angga meraup wajahnya.


"lalu? Kamu kenapa- ehm maaf, kok aku jadi gak enak gini ya?"


"Yaudah sih! Gak usah nanya-nanya Angga dulu, kamu kan liat wajah Angga gak ceria," bisik Cahya.


"Eh, kamu gak tau ya? Angga kan emang mukanya suka gitu apalagi yang bikin hati gak enak tuh mukanya yang dingin datar gitu kek patung horor."


"Ja, Ya .. gue boleh minta tolong? Tinggalin gue sementara waktu."


"Ehm, y-yaudah deh aku sebagai arwah nurut aja sama manusia. Mungkin kamu lagi ingin sendiri, yah?"


"Maaf, ya."


"Gakpapa Bro, lo istirahat ae tenangkan pikiran lo. Kita berdua bakal pergi .. tapi kalau lo berkenan minta tolong gue atau Senja, sebut saja nama kita berdua atau salah satu antara kami."


Angga tersenyum hambar. "Ya."


Cahya menggandeng tangan Senja yang ada di sebelahnya, kemudian Cahya mengajak pergi Senja ke suatu tempat dengan cara menghilang dalam sekejap mata. Angga merebahkan tubuhnya di atas kasur, kedua mata sipitnya menatap langit-langit dinding dengan wajah amat pilu lara. Angga yang sebenarnya pemuda yang tidak gampang berhati rapuh, kini menjadi rapuh dan hancur pada kondisi Reyhan di sana. Ada rasa harap besar menginginkan Reyhan kembali ke alam sadarnya, namun itu hanya menunggu keajaiban dari Allah serta selalu berdoa meminta kesembuhan dan kesadaran pemuda friendly sahabatnya Angga, Freya, dan juga Jova.

__ADS_1


Sudah dua arwah yang Angga temukan dalam hidupnya, yaitu arwah positif. Dulu saat Angga masih kecil bertemunya bukanlah arwah aura positif bijaksana tetapi arwah aura negatif kejahatan. Bisa di bilang Angga telah memiliki teman arwah baru ialah Cahya Araav Jonathan.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2