Indigo

Indigo
Chapter 30 | Enigrafent Afterlife


__ADS_3

Kini telah memasuki dua bulan, dimana sekarang adalah di tanggal pertama, seorang pemuda yang terbaring Koma belum juga ada tanda-tanda akan bangun, pemuda itupun masih dalam masa Kritis yang belum melewatinya.


Reyhan sudah berniat menjenguk sahabatnya setelah jam pelajaran sekolah telah usai, dan ini Reyhan telah tiba di kamar rawat ICU raganya Anggara untuk memasukinya yang sebelumnya ia telah mematuhi perintah aturan yaitu memakai baju sesuai prosedur untuk menjenguk orang yang di rawat dalam ICU serta mencuci tangan terlebih dahulu.


Cklek...


Reyhan membuka pintu ruang ICU milik sahabatnya yang telah sang sahabat menghuninya, begitu perlahan. Baru satu langkah memasuki ke dalam ruang yang berbau obat-obatan dan segala alat medis yang ada di ruang tersebut, Reyhan langsung mendengar suara alat monitor pendeteksi jantung yang terdengar memilukan hati. Reyhan berjalan hingga sampai di samping ranjang pasien miliknya sang sahabat.


Reyhan menarik pelan salah satu kursi yang tersedia selalu di kamar rawat ICU, kemudian setelah itu Reyhan mulai menduduki kursi tersebut.


Reyhan menatap gundah wajah sahabatnya yang amat begitu pucat layaknya mayat hidup masih bernapas. Hela napasnya nyaris tidak ada, hembusan napas yang ternampak di embun-embun masker oksigen juga sangatlah lemah. Bibir pemuda yang Koma Kritis itu pucat kering dan matanya tetap senantiasa terpejam tenang damai sekali seolah tengah menikmati mimpinya yang begitu panjang.


"Ngga, gue dateng nih buat ngejenguk sahabat paling terbaik gue sedunia."


"Sudah masuk dua bulan ini, lo masih begini terus Ngga .. lo juga stay Kritis disini, belum ada lewatinya apa gimana?"


Reyhan tahu betul sahabatnya tidak akan menjawab segala celotehannya Reyhan dan satu pertanyaan Reyhan ini.


"Yah, gue tau kok lo gak bakal jawab gue .. sepanjang seribu kata gue disini, lo gak bakal jawab gue, tapi gue yakin meskipun lo gak respon ceriwisnya sahabat rese lo ini .. lo pasti denger suara gue, ya kan Ngga."


Yang hanya mampu menjawab Reyhan hanya suara alat eletronik yang sepanjang bulan selalu tetap terdengar, tak ada selain itu yang menjawab celotehan panjang lebar dari pemuda itu yang nampak sangat setia dengan sahabatnya tersebut.


Reyhan menghembuskan napasnya sangat perlahan. "Semenjak lo Koma apalagi ditambah Kritis kronis kek begini, gue mesti dapet masalah, Ngga. Entah itu lupa ngerjain PR lah, berurusan sama Alex biadab itu lah, gak fokus nyetir kendaraannya lah. Pokoknya banyak dah .. padahal kalau ada elo, gue jarang dapet masalah besar tapi akhir-akhir ini mesti dapet begituan. Atau, mungkin lo adalah seorang sahabat gue yang bisa mencegah gue dari segala permasalahan hidup ya, Bang."


"Karna lo punya kelebihan six sense yang ada di diri lo, hehehe."


Namun senyuman nyengir Reyhan berubah menjadi lenyap begitupun mukanya beraut penuh sedih begitupun hatinya saat ini. Tangan kiri raga Anggara yang diam tak bergerak, Reyhan angkat dan menggenggamnya. Tangan sahabatnya Reyhan begitu dingin saat Reyhan genggam dengan kedua tangannya, membuat Reyhan getir saat itu juga. Namun dengan begini pula, tak mungkin dengan besar sahabatnya akan segera melewati masa Kritisnya begitupun Komanya.


"Gue minta sama lo Ngga, ayo bangun .. lo jangan kayak gini please. Stop disini Ngga, stop. Gue gak mau ngeliat lo yang kayak seperti ini terus-terusan."


"Gue berharap kesehatan keadaan lo gak semakin menurun karna kami semua gak mau lo bener-bener pergi tinggalin kami. Tolong, jangan pernah ..."


Reyhan bernada sangat lirih disaat ia mengutarakan kata 'jangan pernah' tepatnya di kalimat terakhirnya. Reyhan kembali menatap kepala lelaki sahabatnya yang di balut oleh perban hingga menatapnya ke wajah pucatnya yang terpasang oleh ventilator untuk bertahan hidup di sela-sela ambang mautnya.


Reyhan menundukkan kepalanya lemas, tanpa ia sadar satu air matanya menetes jatuh ke selimut tebal putih bersih yang dikenakan oleh sahabatnya tersebut. Reyhan tetap berada di dalam kamar rawat ICU raga Anggara menemaninya hingga waktunya benar-benar habis dikarenakan untuk menjenguk pasien seperti sahabatnya Reyhan ini sangatlah terbatas.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Riuh senda gurau tawa ria para beberapa roh dan arwah yang ada di wilayah danau, tak juga dengan Anggara yang duduk bersandar diri di bawah pohon, pandangannya kosong ia tidak memedulikan teman-temannya semua bercanda senang-senang. Wajah Anggara setengah pucat, berbeda dari raganya yang amat pucat seperti mayat yang masih punya umur.


Saat ini Anggara belum bisa berdiri normal seperti lainnya, bukan lumpuh tetapi dirinya masih begitu lemah dan lemas jika mengharuskan dan memaksa dirinya untuk bangkit berdiri. Anggara hanya bisa duduk dan berbaring saja untuk sementara ini. Ia juga tidak tahu apakah ia suatu saat akan kembali ke dalam raganya atau malahan ia selamanya menjadi roh. Tentunya bagi Anggara ini sangat mustahil jika ia bersikeras untuk memasuki raganya, sedangkan raganya pasti dalam pikiran Anggara menolak ibarat seperti magnet.


Anggara langsung menyesali tekadnya waktu ia berhadapan dengan Gilles, jika saja Anggara tidak menantang Gilles yang memiliki senjata sakti tersebut mungkin Anggara tidak akan seperti ini. Namun dan namun, kalau dulu Anggara tidak cepat-cepat mengetahui raganya dalam ancaman nyawa, pastinya Anggara menjadi arwah seutuhnya dan selamanya. Ia lebih baik seperti ini saja daripada dirinya berubah jadi hantu arwah, meninggalkan keluarga yang ia sayangi, serta sahabat-sahabat terbaiknya. Anggara sungguh tidak tega dan tidak mau kalau itu benar terjadi.


'Maaf, kalau gue udah buat kalian cemas pada raga gue disana yang parah sampe sekarang.'


'Mama, Ayah maafin Anggara telah buat kalian khawatir ...' lirih Anggara dalam lubuk hatinya.


Tanpa Anggara sadari setelah membatin ucapannya, linangan air matanya keluar dan mengalir di satu pipinya bersamaan itu Anggara menutup matanya dengan wajah sangat sedih pada nasibnya.


Senja yang memperhatikan Anggara langsung membulatkan matanya pada temannya menangis pada setetes air mata yang mengalir di salah satu pipinya. Senja merangkak berjalan menghampiri Anggara yang diam masih menutup matanya.


"Ngga? Kenapa, kok nangis?" pelan Senja agar tak semuanya mendengarkannya yang sedang sibuk pada kegiatan candanya.


Anggara membuka matanya dan menatap Senja. "Emangnya aku kenapa?"


"Itu?" tunjuk Senja pada pipi pemuda itu yang ada aliran air matanya.


Anggara seketika menyeka air matanya yang ia sendiri tak menyadarinya sama sekali.


"Kamu kenapa, Ngga?" tanya Senja berwajah pilu.


"Enggak apa-apa, kayaknya mataku habis kelilipan debu."


"Eh Ngga, gak usah bohong sama aku. Aku tau kok kamu lagi sedih, kan?"


"Tau darimana kamu?" tanya Anggara seraya mengelap air matanya.


"Wajahmu bisa ketebak sama aku kok. Sedari tadi aku perhatiin kamu tuh sedih terus, bahkan tadi kamu sempet ngelamun lagi, kan. Udah dong jangan gini mending kumpul-kumpul sama yang lain yuk biar mood mu bisa baik lagi."


Anggara menggeleng lemah. "Aku lagi pengen sendiri."


Ucapan itu yang keluar dari mulut Anggara membuat Senja menghela napasnya sebentar lalu mengangguk mengiyakan perkataan dari temannya.


"Yaudah deh kalo kamu maunya ingin sendiri dulu. Tapi kamu bisa nggak, sekali ini aja kamu jangan murung mulu? Ngenes tau liatnya."


Anggara hanya diam tak menjawab Senja, ia memalingkan wajahnya dari tatapan Senja. Senja sudah terbiasa pada sikapnya Anggara yang selalu seperti itu, menurut Senja Anggara sangat unik.


Stevan yang berada di kumpulan teman-temannya menatap Anggara dengan penuh wajah jenaka, layaknya pemuda itu ingin mengusili temannya yang terdiam membisu kembali.


"Ehem, gue hari ini liat celengan semar gede loh. Dia tuh ciri-cirinya pendiem nunggu di colek dulu baru gerak, tapi kalo gak di colek sama lainnya diem mematung membisu. Anjay."


Anggara mengerutkan keningnya bersama wajah berubah ekspresi jengkel pada satu temannya itu. Ia menolehkan kepalanya ke Stevan yang ada di jauh belakangnya.


"Nyindir gue kan, lu?!"


Stevan melongo tetap menampilkan mimik menjengkelkannya. "Widih kok lu tau kalo gue lagi nyindir lu? Hahaha keknya lo lagi ngelamun, makanya gue sindir sapa tau lo gak nanggep hehe."


"Tau darimana lu kalo gue nyindir elu?"


"Pake," ucap Anggara dengan mengetuk sisi keningnya bagian kiri meskipun gerakan tangan Anggara nampak masih lemah.


"Mudeng gak tuh bahasa isyaratnya si Anggara? Jangan-jangan lo gak masuk lagi, jyah kasian dongo hahaha! cemooh Daniel.


"Heh Daniel kuda nil! Gue paling gak terima ye kalo diri gue dikatain yang no-no, gue lempar pake sepatu nih lama-lama!!"


"Eh anjir lu ngatain gue kuda nil?! Heh Stevan Pasaribu! Lu lupa kalo lu gak pake alas kaki? Mau pake sepatunya siapa, emang?"


"Eeee emmm- ya pake sepatunya Laurel dong, tuh ceweknya aja pake sepatu kok."


"Eh hello, lo bilang apa tadi? Mau lempar Daniel pake sepatu gue? Heh ini sepatu harganya mahal woi, gue belinya di Negara impor Amerika!"


"Jir najiiisss," gumam Daniel dengan nada lirih menggelengkan kepalanya.


Anggara dapat mendengar gumaman dari Daniel namun Anggara acuh tak acuh tak ingin memedulikannya, ia masih belum ada mood meskipun teman-temannya sudah menghiburnya namun hal itu tak mempan untuk Anggara.


"Kak Laurel enggak boleh sombong sama orang lain apalagi itu temannya Kakak sendiri, dulu kata mama papa kan kita gak boleh sombong sama orang lain. Nggak baik Kak," tegur Emica lembut.


"Tuh dengerin! Jadi cewek kok barbar amat kek cewek laknat!" ejek Stevan.


"Ih daripada kamu, cowok sesat!"


"Eh udah dong, jangan berantem. Masa suka banget debat mulut, nanti malah jadi cekcok terus pertemanan kalian berubah renggang yang ada." Emica berusaha melerai perdebatan antara Kakaknya dengan Stevan.


DEG !


Ucapan dari ketiga teman Anggara yaitu Daniel, Laurel, dan Emica sangat persis pada sifatnya Reyhan, Jova, dan Freya. Anggara duduk tegak yang tadinya posisi ia bahu kanannya ia sandar di pohon. Lontaran itu dan sifat ketiga teman Anggara membuat diri Anggara merindukan sahabat-sahabatnya. Anggara berharap ingin sekali rohnya ini bisa masuk kembali lagi ke dalam raganya. Anggara mendekap dirinya dengan kedua tangan walau tak ada angin yang menerpa dirinya.


Anggara kembali menyandarkan bahu kanannya beserta kepalanya di bawah pohon, hingga berlama-lama menit kemudian mata Anggara menutup dikarenakan pemuda itu terlelap dalam tidurnya.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Anggara tengah berjalan menelusuri sebuah hutan belantara yang bernuansa alam namun mencekam, seperti tempat ini pasti terdapat banyak hewan buas disana. Tetapi yang Anggara telusuri sekarang banyaknya kabut-kabut tebal yang menutupi jalannya. Anggara terlihat berjalan santai tak merasa takut pada hutan menyeramkan tersebut. Dirinya juga mampu berjalan ditambah dirinya berjalan tanpa menggunakan alas kaki.


Di kabut terakhir usai Anggara arungi, Anggara berhenti melangkah dikarenakan di depannya ada sebuah gua yang begitu besar dan gelap di dalamnya. Dengan perasaan berani dan penasarannya sebagai ia anak remaja pemuda Indigo, ia lanjutkan langkah untuk memasuki gua itu yang senyap. Setelah Anggara memasuki tempat gelap itu, pemuda tersebut menelusuri gua semakin kedalam. Mata Anggara terbentur oleh ukiran-ukiran gambar di dinding-dinding gua yang permukaannya kasar.


Anggara berhenti berjalan dan menghadap salah satu dinding gua, tangan Anggara menyentuh dan mengusap ukiran gambaran tersebut yang berdebu dan kotor. Mata Anggara menyipit sekaligus mengerutkan jidatnya yang tanpa balutan perban kasa seperti yang dikenakan oleh jiwa raganya. Di gambaran itu nampak jelas sesosok yang besar dan memiliki taring panjang di giginya, serta beberapa seseorang manusia yang posisinya di tengah ancaman nyawa layaknya nyawanya akan menjadi milik satu sosok yang punya gigi taring panjang itu.


Anggara memiringkan kepalanya dengan mulut setengah terbuka, nampak sosok bertubuh besar itu aneh sekali. Bentuk postur badannya manusia akan tetapi bentuk kepala, seperti binatang serigala. Serigala macam apa itu yang mempunyai gigi taring panjang sekali? Atau apakah sosok itu merupakan siluman?


Anggara yang melihat itu tiba-tiba saja menjadi merinding menatap ukiran itu, membayangkan saja, bentuk asli tanpa sketsa sosok aneh menyeramkan itu berhasil membuat Anggara bergidik ngeri.


Sampai-sampai saat Anggara tengah fokus memperhatikan ukiran gambar itu, Anggara mendengar percikan api di ujung gua. Suaranya begitu sangat jelas di telinga Anggara yang mempunyai pendengaran sangat baik. Suara percikan api yang bergemuruh, mengharuskan Anggara untuk melanjutkan telusuran jalannya. Anggara baru tersadar yang ia pijak itu adalah jalan pasir berwarna kuning.


Anggara berhenti jalan spontan karena ia mendengar suara auman serigala yang menggelegar menusuk ke telinga milik sang pemuda tersebut. Anggara kembali berjalan dengan mempercepat langkahnya kemudian bertambah lari mengejar suara lolongan satu serigala.


Lari tempuh lari yang digunakan Anggara begitu panjang hingga tibalah ia melihat pantulan bayangan dari dinding jalan gua buntu. Cahaya api yang mencolok ternampak di pojok kiri, membuat Anggara menempelkan kedua tangannya di tembok gua yang ada di depannya lalu ia mencondongkan badannya dan kepalanya untuk melihat sosok penasaran tersebut.


Anggara terkesiap saat menatap dari bayangan sosok itu, bentukan kepala dan badan sama persis pada ukiran gambar di dinding gua sebelum Anggara mendengarkan percikan sebuah api dan auman serigala. Tubuhnya begitu besar dan sangat mengerikan, Anggara memperhatikan ujung kepala sosok siluman itu hingga ke bawah ujung kaki. Ya, kakinya seperti kaki singa.


Anggara menelan ludahnya disaat sosok berwujud tiga jenis itu yaitu serigala, manusia, dan singa yang bergabung menjadi satu tubuh. Sosok yang auranya memiliki ketaksaan itu melirik Anggara dengan tatapan mata tajam bola mata sipitnya. Seringai mengerikan dari sosok siluman itu membuat dua tangan Anggara mencengkram tembok gua yang tangannya ia tempelkan. Sosok tersebut yang sebelumnya belum pernah sama sekali Anggara jumpai, menghadap ke arah roh pemuda tersebut. Melihat dan merasakan dalam kalau Anggara mempunyai aura yang tidak semua bisa dimiliki seseorang, sosok berkepala serigala berjalan mendekat ke Anggara. Kepala Anggara terus mendongak atas dikarenakan sosok tersebut begitu tinggi mengalahkan pohon-pohon besar di sekitar wilayah hutan.


Sosok siluman aneh itu menodongkan api besar yang keluar dari tangannya, api kekuatannya itu ia jangkau kan ke Anggara yang terdiam mematung, kakinya terpaku kuat sehingga Anggara sukar menggerakkan kedua kakinya untuk kabur dari sosok yang ada di hadapannya.


"Target aku selanjutnya adalah kau wahai pemuda."


DOAR !!!


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


"WAA!!"


Suara teriakan Anggara tiba-tiba membuat kesemua temannya berlari spontan menghampiri Anggara yang terbangun dari tidurnya. Anggara melepaskan sandarannya dan duduk tegak, ia ngos-ngosan begitupun keningnya dan lehernya basah berkeringat. Pandangan Anggara linglung disaat yang ia tatap adalah luasan pemandangan danau.


"Kamu kenapa Anggara?!" tanya Wira cemas.


"Bangun-bangun langsung teriak, kirain kesurupan sama penghuni danau asli sini." Stevan berkata lebay.


"Gak usah ngaco itu otak dangkal elo! Roh kok bisa kesurupan, roh spesies apaan itu?!" sarkas Yuda.


"Anggara, are you okay ? Kamu keliatan keringetan gitu, habis mimpi buruk ya?" tanya Senja menimpali setelah ucapannya Yuda.


"Hosh ... kayaknya iya," jawab Anggara sembari mengatur napasnya.


"Lo mimpi apa, Ngga? Sampe lo bisa kayak gini?"


"Aneh aja mimpi gue, Rel."


"Aneh gimana, Kak?" Emica bertanya.


"Ehm Kakak mimpi bertemu sosok tiga jenis satu tubuh."


"Hah? Makhluk apaan itu?" tanya Laurel.


"Anggara-anggara coba lo jelasin ciri-cirinya makhluk yang ada di mimpi lo, deh. Gue rasanya hampir tanggap sama your dream," sambung Laurel.


"Makhluk itu aneh kayak siluman. Kepalanya kayak serigala, badannya manusia, kaki-kakinya seperti singa. Makhluk itu punya taring gigi panjang, terus di bola matanya sipit kayak hewan predator pemakan daging," detail Anggara.


"Kepalanya kayak serigala, badannya manusia, kaki-kakinya seperti singa ... makhluk itu punya taring gigi panjang, terus di bola matanya sipit kayak hewan predator pemakan daging. Hmmm gue samar-samar pernah denger ama liat itu makhluk yang ciri-cirinya lo sebutin."


"Kenapa? Lo tau makhluk apa itu?" tanya Anggara sungguh-sungguh.


"Sayup pernah liat gue tuh- eh astaga iya inget gue inget! Makhluk itu adalah raja kegelapan penghuni gua belantara! Nama makhluk itu King Wolmanon!"


"King Wolmanon? Namanya langka bener kek berasa denger nama Alien," celetuk Daniel.


"Bentar-bentar gue tau artinya dari King Wolmanon, King itu kalo di jermahin bahasa Indonesia Raja lalu Wolmanon adalah singkatan dari makhluk dalam bahasa Inggris, ialah Wolf Human Lion."


"Gilak! Hebat banget lo Ngga!! Lo kok bisa tau darimana?!"


"Gue mencerna dari ucapan lo aja, Rel. Karena mimpi gue memang makhluk itu ada tiga jenis .. serigala, manusia, dan terakhir singa. Semua itu sama yang ada di dalem mimpi gue tadi."


"Ih kece pecah abis! Logika lo bisa terang kayak lampu pijar ya, Ngga! Hih gue kagum sama kepinteran lo itu sumpah!" heboh Laurel.


"Gak usah heboh kayak ngeliat aktor," singkat Anggara.


"Lah gue aja sekarang lagi menatap aktor ganteng gue, hihi. Itulah Anggara Vincent Kavindra."


Anggara memutar bola matanya malas dari tatapan Laurel yang memuji Anggara yang menurut Anggara itu sangat berlebihan. Emica memukul pelan lengan Laurel dengan wajah jengkelnya.


"Waktu itu kan, Kakak udah minta maaf sama kak Anggara .. harusnya jangan diulangi lagi dong, Kak Laurel. Kan Kakak tau sendiri kak Anggara itu gak suka sikapnya Kakak yang dilebih-lebihi."


"Ups Kakak lupa, Em!"


Stevan memandang situasi yang senyap. "Eeeerr guys, kenapa yak setiap makhluk aura negatif gitu pasti namanya dari Barat gitu??" tanya Stevan berusaha mencairkan suasana.


"Kalo menurut gue bukan nama dari Barat Stev, tapi nama dari bahasanya Alien di luar angkasa." Daniel berucap.


"Dih, lo hapalnya alien mulu! Sampe mukanya kayak blesteran alien!"


"Hah? Siapa yang mukanya kayak blesteran alien, Stevan Pasaribu??"


"Ya elo lah kuda nil, masa anaknya mami."


"Nah kan mulai lagi lu Stev! Awas saja ya lo kalo kesabaran gue abis dimakan buaya!" geram ancam Yuda.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Hari ke 13 yaitu hari yang paling membosankan hari ini. Anggara sibuk membelai-belai bulu Molly (Si kucing dewasa abu-abu) dengan lembut. Hewan menggemaskan itu berjaya dibuat mendengkur bahagia oleh karena berkat Anggara. Stevan nampak tengah berayun-ayun di atas pohon layaknya seekor monyet di tinggal pergi cari makan oleh sang induknya. Yuda tengah menghitung jumlah banyaknya rumput-rumput hijau segar di tepi danau sampingnya Anggara yang memberikan kesenangan pada satu ekor kucing mata belo berlensa coklat menarik. Kalau yang terakhir, Daniel kembali mempelajari praktek olahraga sikap lilin.


Hingga pada akhirnya, Daniel menurunkan kedua kakinya yang ia angkat ke atas lalu merubah posisi awalnya menjadi duduk menghadap kesemua teman rohnya. Dengan hela napas panjang lalu menghembuskan napasnya, Daniel dengan nada malas ingin mengajak kesemua temannya ke suatu tempat tinggi.


"Woi homo-homo, ke atas atap yok. Bosen banget gue disini."


"Sialan! Gue gak homo anjir!" sarkas Anggara.


"Ehehehe sorry-sorry, ayok lah bro kita ke atas atap," ajak Daniel.


"Atas atap mane? Sini tuh adanya atas batu sama pohon doang." Stevan menimpali.


"Yaelah kebanyakan mikir doi sih lo! Ya atas atap rumah sakit Kusuma lah, itung-itung ngerasain angin sambil ngeliat kota Bogor."


"Caranya gimana? Emangnya lo bisa teleportasi kami ke lokasi sono??"


"Heh Stevan, gue disini udah dua tahun ye sama Yuda. Jadi ya gue tau lah caranya kesono gimana, tinggal Bim Sala Bim langsung kena lokasinya."


"Lo pikir dunia ini, dunia sihir kayak di film-film ala magic gitu?" Stevan bertanya lagi penuh nada mimik malas.


"Alah udah gak usah banyak cincong tuh lambe satu, ayo sini merapat-merapat dengan ketua roh terhebat disini!"


"Heleh, sombong bener!" kompak kesal Stevan dan Yuda terkecuali Anggara.


Anggara menghempaskan napasnya lalu beranjak berdiri meninggalkan Molly yang telah pulas tidur. Dirinya berjalan menghampiri kesemua temannya yang tengah berdiri mengepung Daniel.


"Mau kesana?"


"Iya Ngga, lo mau ikut?"


"Terserah aja," respon Anggara pada Daniel.


"Bjir, ada kata selain 'terserah' gak? Kayak gak ada kata lain. Gini aja deh, gue hadiahkan elo buku KBI (Kamus Bahasa Indonesia) mulai besok ye."


"Gue udah dewasa, ngapain pake buku kayak gituan segala? Gue ngomong terserah ya apa adanya, kan." Anggara menanggapi Daniel dengan tatapan jengah.


"Iye-iye becanda gue, dibawa serius amat. Inget bro hidup cuma sekali jadi jangan terlalu dibuat serius. Seriusnya kalo ngadepin Ujian sekolah apa kagak kasus-kasus kriminal kek Detective Conan."


"Tipe-tipe cowok wibu," timpal Stevan.


"Wiba wibu, mata lo wibu! Gue kan suka kartun itu dari kecil, jadi ya wajar gue tau karakter anak detektif di animasi kartun Jepang itu yang diilustrasikan sama Gosho Aoyama."


"Dari kecil? Bayi dong?!" kejut Stevan.


"Ih tolol kayak telor ceplok lu, anying! Ya kagak lah, pikir dong pake your brain .. mana ada sih bayi tau kartun-kartun begituan. Bayi, kan pasti mintanya susu dari asi Ibu. Kecuali kalo bayi jenius beda lagi, contohnya bisa joget ala Tiktok."


"Ck udah-udah, katanya mau ke alam jiwa, yaudah gegas kesana daripada banyak ngoceh yang ada malah gak jadi!"


Ketiga temannya sedikit terlompat karena kaget mendengar suara lantang Anggara yang begitu keras bernada damprat. Stevan yang mengelus dadanya dramatis, mengucapkan kata pada Anggara yang mendengus kesal.


"Anjir, galak banget sih lo Ngga kayak kucing garong."


"Hih saya takut pada anda, yasudah deh sini tangannya di mariin ke gue," titah Daniel.


"Buat apaan?" tanya Stevan tak paham.


"Buat gue jual di pasar! Ya buat kita nyatu bisa pergi sama-sama, lah! Gitu aja pake nanya, dasar ketua OSIS telmi (Telat mikir) tenan!"


Anggara hanya mendengus sebal lalu menumpukkan satu telapak tangannya di atas telapak tangan Daniel yang membentang, Daniel mengangguk tersenyum pada Anggara yang paham sekali maksudnya, Yuda pun ikut menumpuk satu telapak tangannya di atas telapak tangan Anggara, dilanjut Stevan setelah ber-o-ria angguk kepala tangannya bergerak untuk menempelkan telapak tangannya di atas telapak miliknya Yuda.


Daniel terlihat memejamkan matanya santai dengan itu ketiga temannya mengikuti Daniel tanpa mengasih tahu pada teman-temannya. Hitungan ke 5 mereka berempat langsung menghilang melesat cepat, namun bagi mereka berempat mereka seperti terangkat ke atas secara terombang-ambing udara. Hingga tak terasa keempat pemuda tersebut telah memijak suatu sebuah atap. Ya atap dari rumah sakit Kusuma.


Bersamaan itu keempat lelaki remaja sama-sama bersekolah SMA, membuka matanya yang di masing-masing rambut mereka tertiup oleh semilir angin tenang dan sejuk. Stevan yang telah membuka kedua matanya melongo sempurna, mulutnya terbuka lebar dengan perasaan bahagia kekanak-kanakan.


"Gilak uh yeah really awesome !! Melek-melek langsung di lokasi sini, dong! Sumpah rasanya kayak habis main jungkat-jungkit yang ada di taman Komplek rumah gue!"


Stevan begitu heboh sampai melompat-lompat kesenangan, baru merasakan pertama kali ini bisa seseru itu. Anggara memutar bola matanya malas sembarang arah usai membuka matanya. Namun saat Anggara sudah memutar bola matanya sesukanya, pandangan Anggara terpaku pada wanita pria paruh baya keluar dari mobil Avanza hitam, seakan-akan sepasang suami istri itu telah tiba di parkiran khusus roda empat di rumah sakit Kusuma.


'Mama sama ayah habis darimana ...? Oh mungkin baru habis selesai sibuk dengan kegiatannya.'


Betul, itu adalah Agra dan Andrana yang melangkah ke dalam lobby utama rumah sakit. Melihat kedua orangtua Anggara, Anggara teringat saat Agra dan Andrana tidak bisa melihat wujud dirinya yang menjadi roh sampai sekarang. Mungkinkah karena dunia raga dan roh itu sangatlah berbeda, jadinya Anggara sulit berkomunikasi kepada mama ayahnya bahkan menyentuh sedikitpun tak mempan sama sekalipun hanya tembusan angin, tentunya Anggara bisa disebut makhluk tembus pandang.


Puk !


"Woi Ngga!"


"Astagfirullah Ya Allah kaget!!" spontan Anggara dengan mengusap dadanya.


Anggara mendesis sebal pada Stevan yang memanggilnya dengan cara mengagetkannya.


"Stev, lu bisa gak sih kalo manggil orang itu gak usah pake tepuk pundak apalagi kenceng segala?! Jantung gue mau copot bego! Beruntung gue belum jadi arwah!"


"Noh hayolo ... Anggara ngamok lagi, tanggung jawab lo mwehehehe," ucap Daniel menyengir.


"Anjir ah lu Ngga Anggara! Heran banget gue sama suara lo yang garang kayak guru Biologi gue! Anak siapa sih, lo?" tanya Yuda.


"Ya anak orang, lah! Gitu aja pake nanya anaknya siapa!" tutur Anggara ngegas.


"By the way soal Guru, gue jadi keinget masa-masa memalukan gue di waktu gue masih manusia, dah. Disaat gue di gebuk penggaris kayu abis-abisan sama bu Rosa guru super Killer gue dulu."


"Buset dah?! Guru apa tuh?" tanya Yuda ingin menertawakan nasib Stevan.


"Kimia, anjir."


"Oh kalo itu mah udah wajar ye, dimana-mana tuh ya yang namanya guru mapel Kimia pasti galak-galak apalagi kayak mau makan murid beneran. Itu soalnya juga guru Kimia gue yang sifatnya serem!" ucap Daniel bergidik takut.

__ADS_1


"Masih mending ya lu Niel, lah bu Rosa aja pernah kayak kesurupan suruh anak-anak muridnya minum cairan asam klorida, hih secara ungkapan komando dari guru Killer gue itu udah kek nyuruh anak-anaknya bunuh diri." Stevan mengucapkan tentang guru Kimia di sekolahnya penuh bersama mimik nada ngeri merinding.


Anggara, Yuda, dan Daniel terkejut tak percaya bahkan Daniel sampai menelan air liurnya pada ceritanya Stevan yang tidak random.


"S-seriusan lo?! Itu mah bukan guru mapel Kimia lagi, tapi guru psikopat!" ujar Daniel tak menyangka.


"Yang bener guru lo sampe segitunya?" tanya Anggara ragu pada ucapan Stevan alias tidak percaya.


"Yaa sebenernya itu ancamannya si bu Rosa aja sih, tapi ya kalo ngancemnya sampe segitu .. gue sama temen-temen kelas gue ngibrit dari itu guru lah!"


"Gilak ngancam-nya separah itu! Gue kalo udah sampe di ancem sama guru yang sama kayak bu Rosa, keluar gue dari sekolah."


"Weh, beneran lo Da? Sekolah itu pake biaya woi .. apalagi kalo itu sekolah elit," tutur ucap Daniel pada sobatnya.


Stevan dan Anggara menganggukkan kepala sementara Yuda hanya cengengesan seperti orang gila. Keempat pemuda SMA tersebut mulai menduduki atap rumah sakit secara bersamaan.


"Oh iya Stev, lo kok bisa di gebuk penggaris kayu sama bu Rosa kenapa tuh? Ngelawak bener haha!" ledek Daniel.


"Yeh malah ngakak! Jadi tuh begini, gue tuh kan berangkat ke sekolah jam setengah tujuh, biasa telat bangun. Nah pas gue lagi ngebut-ngebutnya di kota Jakarta, eh malah motor gue mogok di tengah jalan .. ya terpaksa gue turun abis itu dorong sampe ke bengkel motor. Anjir sumpah nunggu abangnya ngurusin motor gue itu dua puluh menit anying-anying!"


"Anjay dua puluh menit itu butuh waktu yang lama ye, hahahaha oke lanjut-lanjut," suruh Yuda.


"Nah setelah kelar, motor gue bisa nyala lagi, gue ngegas motor gue biar sampe ke sekolah SMA gue. Eh buset dah gerbangnya udah di tutup sama mang Agus, udah gitu beliau di dalem enak-enak baca koran sambil ngopi di pos."


"Nah gue dapet peluang deh buat manjat gerbang sekolah hehehe."


"Bentar-bentar, terus motornya lo parkir di depan gerbang gitu aja??" tanya Yuda.


"Kagak lah, otak pasti gue pake. Gue parkir di warung mie soto depan gedung sekolah. Byuh hati gue tentrem banget kalo udah berhasil manjat gerbang sekolah tanpa kepergok mang Agus."


"Hah? Itu si mang Agus budeg apa gimana dah? Apa tuli? Harusnya, kan beliau denger ada anak monyet merayap di pager gerbang sekolah."


"Bangkai lo Niel! Seenak jidat lo nyebut gue anak monyet merayap! Apa gak kebalik tuh kalo monyet merayap kek cicak-cicak di dinding?"


"Mang Agus kalo tugas udah kelar, pasti nyempetin diri baca koran sambil ngopi terus sama dengerin lagu pake headset. Nice good job, gue akhirnya gak terjebak sama omelan mang Agus," bangga Stevan.


"Dih, nyari kesempatan dalam kesempitan," singkat padat jelas Anggara.


"Et et tapi itu belom berjalan dengan mulus, karna disaat gue sudah lompat ke bawah gerbang ada guru yang bersedekap dada genggam penggaris kayu sambil matanya mendelik kayak mau keluar gitu. Yaaahh siapa lagi kalo itu bukan bu Rosa guru Kimia ter-killer seluruh sekolah gue!"


"Noh mampus ketauan sama bu Rosa kan, lu hahahahaha! Oh iya abis itu gimane ceritanye? Coba deh lo ceritain dari awal, biar kami semua tau kisah nasib apes lo itu."


Stevan menarik napasnya begitu panjang lalu membuangnya dengan pelan namun wajahnya nampak pasrah menatap Daniel yang ingin Stevan bercerita tentang nasib apesnya. Sedangkan Anggara hanya diam akan menyimak ceritanya Stevan.


"Hhhh ya iya oke nih gue bakal cerita, tapi awas ya kalo ada yang ketawa! Gue jatohin lu pada dari atap ini!"


"Iyeeee cepetan dah buru cerita, jangan yang random ya kalo bisa hahahaha," tawa Yuda.


"Halah banyak aturan lo, Da! Iya-iya dah iya!"


"Jadi tuh gini ceritanya sebelum gue kecelakaan terus kepleset jadi roh."


Splash !


Flashback On


Brugh !


"Uah akhirnya berhasil juga gue manjat pager sekolah! Saatnya gas ke kelas!"


Hhhh lagi regangin otot karna abis anjlok lompat dari atas gerbang sekolah, eehh gue dapet sorot mata nyeremin di jauh samping pohon buat aksi drama India Aca-aca.


Ya, itu bu Rosa yang tampangnya super the Killer penuh dendam sama gue. Liat dari penampilannya aja badannya kayak gentong terus kalo di angkat, berasa lagi ngangkat gentong isi air. Udah gitu galaknya ngalahin hewan predator beh


Jantung gue langsung marathon tuh, ngeliat aura galak setengah matinya bu Rosa. Udah guru gembrot itu mendelik kayak setan mba kunti, di tangannya bawa penggaris kayu yang biasanya buat ngusir ayam yang ganggu kesibukan tukang makannya


"STEVAN RADITYA SATYA!! TELAT LAGI KAMU, HAH??!!"


Anjir gendang telinga gue yang always gue jaga-jaga malah jadi terancam punah gara-gara lampornya bu Rosa gembrot itu anying


"Eh ada Bu Rosa gembro- eh cantik maksudnya. Selamat pagi Ibu guru saya yang beautiful, Bu Rosa udah dikasih makan sama Suaminya Ibu?"


"Heh gak usah banyak basa-basi kamu!! Ayo ikut saya ke ruang BK!!"


"Akh adududuh ampuni saya Bu! Janji deh gak akan telat lagi!"


Udah abis kuping gue merah kayak tomat karna di jewer sama bu Rosa, rasanya lebih sakit ini daripada diputusin pacar. Ya meskipun gue belum sama sekali memiliki pasangan hidup, sih


"Ayo cepat jalan!! Kamu sudah berapa kali melanggar aturan sekolah ini, Stevan?! Kamu ini ketua OSIS yang di favoritkan dan di segan banyak guru tapi kelakuan kamu kayak lelaki preman!!"


"Akh aduh Bu Rosa! Mana ada saya lelaki kayak preman, saya kan gak pernah malak duit sama anak-anak disini, Bu! Apalagi sama adek kelas, mana pernah saya, Mrs. Rosa!"


Nah pas banget, kan bu Rosa lepasin jeweran dari kuping gue. Nah kesempatan gue ngacir kabur dari bu Rosa deh. Tapi keberhasilan mangkir gue dari bu Rosa di buat sial sama kucing betina dan jantan yang posisinya lagi kawin. Gue yang gak liat di depan gue ada dua kucing romantis sedangkan diri gue masih jones (Jomblo ngenes) eh kucing betinanya gak sengaja gue tabrak...


Alhasilnya, celana seragam SMA gue di keroyok perfect sama tunangannya si kucing betina itu sampe gue jatuh, sementara baju seragam gue kena tai ayam. Anjir mau taruh dimana muka gue, gue yang cakep gini malah berprofesi jadi gembel


"Aduh parah abis! Kayaknya gue tadi gak abis kejatohan cicak deh. Kok malah dapet sial begini, sih! Aaarrghh!!"


"Hahahaha kapok! Suruh siapa kabur dari saya?! Sekarang terima karma kamu hehehehe!"


Udah gue kayak pengemis di jalanan, di ketawain lagi sama bu Rosa. Bukannya nolongin muridnya yang baru saja kena musibah di depan matanya, malah ketawa dapet hiburan teraktual-nya


"Jir, apeeess ... apes, nasib gue bener-bener apes tenan! Kapok gue telat lagi!"


Flashback Off


Splash !


"Ya gitu ceritany-"


"Buahahahahahahahaha!! Ngakak pecah abis wuahahahahaha!!"


"Betul tuh Niel, bengek banget gue dibuatnya wakakakakakak!!"


'Anjir bet nih dua sohib sejoli ini! Dibilang jangan ketawa malah ketawa, emang ya, temen mati rasa ya begini contohnya.'


Sedangkan Anggara hanya tersenyum mesem dengan sedikit cekikikan dalam mulut membungkam disertakan menggelengkan kepalanya mendengar cerita nasib apes konyolnya Stevan sampai dirinya Anggara menepuk keningnya.


Namun humornya mereka hanya sebatas semenit saja, dikarenakan ada sesuatu lingkaran aneh mengambang di udara menghadap tepat arah empat pemuda itu yang mulai ada suasana hati hiburan. Pusaran dalam lingkaran itu layaknya macam Black hole di luar angkasa. Namun karena lingkaran hitam itu berpusar-pusar kencang semakin kencang, membuat kepala keempat pemuda roh itu yang mengamatinya menjadi pening.


Anggara yang berusaha tetap keadaannya sadar dengan cara memukul kepalanya beberapa kali agar tak terjadi pingsan, gagal total. Ia bersama ketiga temannya terbaring tak sadarkan diri. Sementara sebuah hembusan angin berasal dari lingkaran hitam bersifat negatif itu menarik kuat masing-masing roh-roh itu ke dalam lingkaran hitam itu hingga pada kemudian fenomena pertanda buruk tersebut menghilang hanya cuma sedetik.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Tak tahu berapa lama mereka berempat pingsan, tetapi yang jelas dan tepatnya mereka telah di tempatkan dalam sebuah hutan baka.


Anggara yang telah siuman, mengerjapkan matanya dengan menyentuh pangkal hidungnya karena ia merasakan pusing usai bangun dari pingsannya secara tiba-tiba akibat amatan dari lingkaran hitam yang seiras dengan black hole. Ia membangkitkan dirinya menjadi keadaan posisi duduk dan kedua kakinya selonjor. Anggara amat terkejut saat menatap suatu tempat seperti hutan yang sangat berbeda apa yang biasanya ia lihat saat ia masih sosok manusia.



Mata pemuda itu mencuat dengan mulut terbuka tak percaya apa yang kini ia lihatnya. Dengan tangan reflek, Anggara membangunkan ketiga temannya yang belum juga kunjung sadar. Satu persatu temannya yang tidak sadarkan diri, terbangun usai diguncang-guncangkan bahunya masing-masing.


"Ugh, pala gue sakit!" keluh Stevan yang akhirnya telah sadar.


"Stev, lo udah sadar?! Sini gue bantu," ucap Anggara seraya menarik pelan satu lengan Stevan untuk membantu temannya duduk.


"Ssssshh aduh ini dimana sih, kok tanahnya kasar bener!" keluh gantian Daniel yang baru saja siuman.


Melihat sahabatnya tak bergerak dengan mata posisi menutup tenang, Daniel segera membangunkan Yuda dari pingsannya.


"Da-da Yuda! Ayo bangun Da!" pekik Daniel.


Yuda membuka matanya dan langsung duduk dengan wajah terkejut menyadari kalau ia, sahabatnya dan kedua temannya telah berada di suatu hutan bernuansa penuh rasa suasana mencekam. Pohon-pohon yang tak terawat dan banyak lumut dimana-mana beserta banyak air lendir menjijikan dari kejauhan tempat Yuda, Daniel, Stevan, dan Anggara terbaring tadi. Dan banyak sekali gelondongan batang kayu pohon yang tumbang penghalang jalan.


"K-kita berempat ada dimana?! Kok tempatnya gini amat??!! Hih gue pengen balik!!" ucap Stevan ketakutan.


Anggara menoleh cepat ke Stevan. "Kalaupun kita balik, gak ada jalan untuk kita semua. Kita berempat disini memang di sengajain dibuat tersesat di hutan alam berbau negatif ini!"


"T-terus maksud yang bawa kita kesini, apaan dong?!"


Kepanikan Daniel dijawab oleh satu makhluk yang tak terlihat. Suaranya sangat besar dan begitu membuat bulu kuduk berdiri seperti landak bahkan darah keempat pemuda itu berdesir cepat mendengarkan suara spontan timbulan sosok makhluk yang tidak terlihat sama sekali wujudnya.


"Kalian telah masuk di permainanku huahahahaha!!!"


Anggara mengernyit kesal dengan mendongak ke atas karena suaranya memang berasal dari atas namun tetap saja tak ada wujudnya bahkan bayangannya sedikitpun. Anggara membenci dari suara negatif ini. Ia selalu saja mendengar suara asing menggelegar kencang yang mengusik telinganya Anggara, sebetulnya tak hanya dalam bisikan namun secara tiba-tiba suara entah darimana siapa yang bersuara. Dari kecil Anggara mesti diganggu berbagai hal selain teror ialah suara-suara asing menyeramkan seperti ini.


"SIAPA LO?! APA MAKSUD LO KAMI SEMUA ELO MASUKIN DI DALEM HUTAN BAKA INI, HAH??!!"


Suara Anggara jauh lebih menggelegar teriak kencang pertanda kalau pemuda ini sudah sangat marah besar pada satu makhluk sosok yang menyesatkan ia dan ketiga teman rohnya. Sementara seperti Stevan, Daniel, dan Yuda hanya terdiam ketakutan pada perihal ini. Mereka bertiga tak menyangka bisa berada di alam hutan mencekam tersebut. Melainkan Anggara, Anggara tidak takut sama sekali pada suara mengerikan itu malahan ia ingin menantang makhluk tak terlihat tersebut walaupun Anggara adalah anak Indigo.


"Aku Erland Lucifer, seperti yang kalian tahu aku adalah makhluk pencabut nyawa roh layaknya seperti kalian semua! Dan aku hari ini akan memberikan sebuah istimewa untuk kalian berempat hahahahahaha!!!"


"Yaaaahh ... istimewanya adalah suatu permainan yang membuat kalian terpacu adrenalin dan membuat hati kalian menjadi terhibur karena permainan yang aku buat untuk kalian semua!"


"P-permainan apaan, hah?!" ucap Daniel berusaha berani pada Erland.


"Oke. Pertama, kalian akan dihadapi dua arwah negatif di wilayah hutan Enigrafent ini. Jika kalian kalah dalam melawan arwah-arwah negatif yang aku suruh untuk kalian, siaplah nyawa kalian tak akan selamat!"


"Namun kalau malah sebaliknya, kalian berhasil melawan arwah-arwah negatif di hutan Enigrafent, selamat .. kalian semua akan kembali ke raga kalian semula. Tetapi kalau kalian memilih menolak pada jalanan permainanku, baiklah aku kembalikan kalian ke dunia alam roh dan arwah."


"Bagaimana, apakah kalian setuju pada dua pilihan yang aku untaikan pada kalian?"


DEG !


Empat pemuda roh itu terdiam membisu, mereka berempat bersama-sama memikir secara kritis. Dua pilihan itu bagi mereka sama saja sangat tidak disetujui oleh Anggara, Stevan, Daniel, Yuda. Mereka semua harus memikirkan dengan matang-matang. Mereka berempat tidak boleh sampai salah pilih kalau mereka tak ingin sengsara nantinya.


"Oke! Gue akan pilih yang pertama, gue akan ikut permainan lo yang lo buat untuk kami semua yang ada disini!"


Daniel, Yuda, dan Stevan menoleh dan menatap Anggara serius-serius. Wajah Anggara nampak berani dan akan menjalani permainan yang dibuat oleh Erland sang pencabut nyawa roh.


"Anggara! Lo seriusan milih itu?! Lo udah pikir secara mateng-mateng?!" tanya Stevan panik.


"Iya gue udah pikirkan secara tepat! Gue milih jalanin permainan yang di buat makhluk itu!"


"Tapi Ngga, permainan itu taruhan nyawa! Gimana kalo kita bakal kalah ngelawan semua arwah jahat disini?! Kalo kita kalah, tamat raga kita yang Koma disana!!"


"Da, kita harus yakin! Gue yakin kita akan pasti menang! Coba kalian pada pikir pilihan kedua dari Erland, jika kita semua memilih pilihan yang terakhir itu .. ya bener kita bakal dibalikin Erland ke dunia alam roh dan arwah, tetapi kita semua gak bakal bisa kembali ke raga kita lagi buat selamanya!"


"Wah pilihan yang sangat bijak, Anggara. Hahaha baiklah pilihanmu sudah tidak bisa kamu ubah lagi dan terimalah risikonya apa yang akan terjadi pada kamu dan kesemua temanmu."


"Selamat menikmati permainanku huahahahaha!!"


Suara dari Erland menghilang dan menyisakan hempasan angin kencang yang meniup rambut para roh tersebut dan pepohonan yang setengah gundul. Kini tak ada suara Erland lagi, ia telah menghilang sedangkan ketiga teman Anggara menatap diri Anggara berwajah marah sekaligus takut pada permainan yang dibuat oleh Erland Lucifer walau permainan tersebut belum di mulai.


"Permainan yang buat hati kita terhibur, ini mah permainan nyawa! Gak ada senengnya sama sekali, lah!" kesal Daniel.


"Jir, gue belom siap jalani permainannya makhluk mati rasa itu! Gimana dong ini, aahh!!" panik Stevan tak karuan.


"Duuuhh payah! Terus cara ngalahin semua arwah-arwah negatifnya gimana?! Yakali masa pake tangan kosong?!"


"Hei tenang, kita semua kan punya mantra. Jadi kita pasti bakal mampu melawan semua arwah negatif disini. Gak ada yang perlu di takuti apalagi di khawatirin." Anggara mencoba berusaha menghilangkan paniknya kesemua temannya sekaligus meyakini bahwa ia dan tiga teman rohnya itu pasti akan menang.


"Jangan ngeluh, yakin aja kita semua pasti bakal bisa mengakhiri permainan ini. Demi orang yang masing-masing kita sayangi di alam jiwa. Bener, kan?"


Stevan, Daniel, dan Yuda tersenyum mengangguk pada Anggara yang merangkulnya dengan senyuman seolah meyakinkan pada kesemua temannya kalau mereka bisa melalui permainan ini. Namun setelah itu, Anggara merasakan lebih dulu hal ganjal di belakangnya, seperti ada yang mengawasinya.


"Nenek sudah lama tidak pernah membunuh cucu-cucu Nenek, jadi giliran kalian wahai para cucu Nenek yang bakal Nenek bunuh hihihihihihi!"


DEG !


Anggara memberanikan dirinya untuk menoleh ke belakang dan usai menoleh, Anggara begitu terkejut melihat arwah negatif yang berwujud sungguh menyeramkan daripada arwah-arwah negatif yang ia temui di alam jiwa. Arwah negatif berupa seumuran nenek-nenek yang memiliki kuku-kuku panjang di setiap jari kedua tangannya. Tak hanya itu saja, rambutnya berwarna putih khas sosok lansia. Rambut dari 1 arwah negatif tersebut panjang hingga sampai mata kaki, dua matanya merah menyala. Badannya bungkuk layaknya seorang nenek tua.


Stevan memegang kepala Anggara yang posisinya menoleh di belakang, lalu menangkup wajah Anggara berguna membalikkan posisi kepala Anggara menghadap ke depan dengan menggunakan kedua tangan. Satu nada lirih Stevan membuat Anggara menyuruh kesemua temannya mempersiapkan diri dan mental.


"Anggara, kita harus gimana nih? Gue belum siap ngadepin nenek gayung itu," lirih Stevan dengan nada gemetar.


"Bukan nenek gayung goblok, tapi nenek sesat," lirih tambah Daniel dengan nada menekan.


"Langsung kita serang apa gimana?" geram Yuda bertanya pada ketiga temannya.


"Jangan. Ada kesempatan untuk kita kabur terlebih dahulu. Ayo tunggu apa lagi, RUN !!"


Anggara melepaskan rangkulannya dan berlari kencang ke depan di ikuti lari oleh Stevan, Daniel, dan Yuda di belakangnya. Keempat pemuda roh itu berlari sekencang-kencangnya menghindari dari nenek arwah negatif itu yang malah sengit dan mengejar roh-roh tersebut yang berani kabur darinya.


Stevan menyempatkan diri untuk menoleh kebelakang, memastikan nenek tua arwah negatif itu tidak mengejar ia dan kesemua temannya.


"Wanjir! Nenek kok bisa lari seh?! Woi yang di depan gue! Cepetan dong larinya gue dibelakang sendiri niihh!!" teriak Stevan mempercepat larinya.


Sampai mereka terjebak di gelondongan batang kayu pohon tumbang dengan tangkas gesit, Anggara menyentuh atas gelondongan tersebut dengan tangannya lalu dirinya melompat tinggi sementara tangannya yang menopang batang pohon tumbang tersebut untuk menahan keseimbangannya agar ia berjaya melompati gelondongan batang pohon tumbang tak terawat itu. Di tirukan oleh ketiga temannya yang berlari cara melompati tangkas gelondongan yang telah di elak Anggara.


Selanjutnya setelah berhasil menghindar gelondongan kayu tersebut, mereka melanjutkan larinya menginjak sebuah air lendir yang sangat menjijikan dan bau. Di situasi kondisi tak aman seperti ini, mereka berempat tak memedulikan kedua kakinya kotor terkena cipratan air lendir sungguh membuat bergidik jijik.


Daniel berlari ke samping dan menghentikan langkahnya hingga sampai langkahnya terseret olehnya sendiri, ia memutar badannya dan membentangkan kedua tangannya lurus ke depan.


"Light spell !"


Cahaya mantra milik Daniel yang seperti laser, mengarah lurus ke nenek arwah negatif tersebut yang terus mengejarnya. Setelah berhasil jitu mantra Daniel kena sasaran pada wajah nenek arwah negatif itu, hal tersebut hingga menimbulkan dentuman lumayan besar.


Buumm !


Suara dentuman lumayan besar tersebut membuat langkah lari ketiga teman Daniel terhentikan dan lalu tiga temannya menoleh ke sendang suara. Sedangkan arwah itu melompat tinggi ke Daniel untuk menyerangnya memakai senjata kuku runcing tajamnya. Daniel yang tak sempat menghindar tak mempunyai celah untuk mengelak serangan itu, hingga tiba-tiba...


"Daniel awas!! Protective shield spell !"


Yuda datang menyelamatkan Daniel dengan mengeluarkan sebuah mantra pelindung yaitu perisai lingkaran bercahaya untuk melindungi sahabatnya dari serangan arwah negatif menyeramkan tersebut. Anggara dan Stevan yang ingin membantunya di tolak Yuda dengan hanya cara membentangkan satu tangannya pada dua temannya mengisyaratkan untuk tidak perlu membantu. Yuda kembali membalikan tangannya pada posisi membentang ke depan untuk menahan tetap mantra-nya yang hanya bisa bertahan sebentar saja.


CRES !


CRES !


CRES !


CRES !


Nenek arwah aura negatif yang ada di hadapan Yuda dan Daniel, mencakar-cakar kuat mantra perisai pelindung milik Yuda yang membuat mantra Yuda demi sedikit memudar. Daniel berinisiatif menolong sohibnya itu dengan menggunakan mantra punyanya yang tidak pernah ia keluarkan.


"Kalah lo habis ini!!"


"Solar burst spell !!"


Semburan sebuah cahaya solar dari tangan Daniel yang membentangkan satu tangannya keluar dan cepat menembus mantra Yuda yang menjadi transparan karena tenaganya mulai habis. Mantra Daniel menerpa kuat arwah negatif tersebut hingga ia terpental kuat jauh dan usai menghantam pohon berduri tajam yang ada di belakangnya, ia meledak dan akhirnya pun musnah tak ada sisa apapun.


Mantra semburan solar milik Daniel menghilang bersamaan musnahnya nenek arwah negatif tersebut. Daniel tersenyum smirk karena ia berhasil mengalahkan 1 arwah negatif di alam hutan Enigrafent. Yuda jatuh terduduk dalam posisi kedua lutut terjatuh dan dua tangannya usai melakukan mantra, menopang langsung di tanah dengan napas terputus-putus tentunya pemuda ini telah kehabisan tenaga.


"Yuda!" kompak teriak Daniel, Anggara, dan Stevan seraya menghampiri Yuda yang nampak letih.


Terlihat dari wajahnya sangat lelah sekali seraya dengan mengatur napasnya dan beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaganya kembali. Daniel yang berada di tepat sisi Yuda mulai menanyakan keadaannya dengan nada khawatir.


"Da, lo gakpapa kan?!"


"Sans, gue gakpapa kok. Cuman perlu istirahat aja. Capek bener gue."


Daniel, Anggara, Stevan bernapas lega. "Oke deh kalo begitu, kita semua istirahat aja dulu disini sekalian mempersiapkan mental untuk membasmi makhluk negatif selanjutnya," ucap Daniel dengan menyentuh punggung Yuda.


"Salut gue sama Anggara disini! Sesama sahabat saling berjuang melawan arwah negatif itu tadi, wuh bravooo!!" pekik Stevan sambil bertepuk tangan bangga.


"Kenapa tadi lo nolak kita bantuin elo sama Daniel? Dengan kita berdua bantu kalian, pasti lo gak kayak gini kan, Da."


"Anggara, dengerin nih ya. Gue gak mau lo pada kehabisan tenaga kek gue, sayangin dulu sama tenaga kekuatan lo berdua. Yang penting satu arwah negatif berhasil kami kalahin! Ya kan, Niel?"


"Yups! And thanks ya udah nolongin gue tadi." Ucapan terimakasih Daniel pada Yuda langsung di respon santai sahabatnya. "It's okay, sama-sama sobat harus saling menolong dong."


Daniel tersenyum dan langsung bertos ria pada Yuda tetapi bukan bersama telapak tangan, namun kepalan tangan yang saling mereka berdua tempelkan. Seolah itu adalah tanda simbol persahabatan akrab antara Daniel dan Yuda. Anggara yang melihat kedua temannya hanya tersenyum dan mengangguk saja tanpa bersuara sementara Stevan menatap dramatis seperti tingkah lakunya Reyhan sang sahabat SMP-nya Anggara.


Setelah beristirahat sejenak, keempat pemuda roh itu melanjutkan perjalanannya untuk membasmi arwah negatif selanjutnya yang akan mereka semua hadapi. Anggara berjalan di depan layaknya si pemimpin jalan hutan baka tersebut yang pemuda Indigo pemberani dan ketiga teman rohnya telusuri.


Mereka berjalan sembari mengumpulkan keberaniannya dan kesiapan mentalnya. Tentunya mereka berempat akan mau menanggung risikonya jika ada sesuatu yang terjadi di mereka semua atau di antara mereka semua. Stop! Anggara dan yang lain berhenti melangkah disaat di depannya Anggara terdapat satu sosok lagi yang berwujud lebih menyeramkan dari nenek arwah negatif tadi yang telah musnah. Rupawan sosok kedua ini adalah merupakan perawat yang mengenakan seragam putih, kedua tangannya menggenggam suntikan berukuran besar yang di dalamnya nampak ada sebuah cairan berwarna hijau yang terlihat menguap-uap.


Rambutnya tergulung kusut yang di rambutnya banyak jumlah anakan ular yang hidup dan menjulurkan lidahnya masing-masing secara mendesis. Ketiga temannya Anggara menelan salivanya dengan penuh perasaan hati dan wajah bimbang. Anggara melihat ujung kaki sosok berupa seorang perawat di rumah sakit hingga puncak kepala sosok yang tentunya itu adalah arwah negatif kedua. Lihatlah, kedua kakinya gepeng seperti suster gepeng, sementara wajahnya nyaris tak terbentuk. Wajahnya di penuhi lumuran darah busuk dan belatung-belatung yang merambat keluar dari lubang kedua matanya nang bolong.


Anggara menatap arwah negatif kedua itu dengan wajah dingin dan datar, pemuda ini tak sama sekali menunjukan bahwa ia posisinya sedang di selimuti ketakutan dan kepanikan.


"Hai, pasien-pasiennya Suster. Nampaknya kalian semua butuh pengobatan khusus agar kalian cepat mati."


"Jikalau kalian mau butuh pertolongan pada Suster, kemarilah supaya Suster bisa menyuntikkan kalian pada cairan memuaskan ini untuk di antara kalian. Ayo majulah."


CRAT !


Arwah negatif berupa sosok perawat itu, sengaja menekan ujung alat suntikan miliknya agar cairan hijau itu memuncrat keluar dari ujung atas jarum suntik. Cekatan, Anggara dan yang lain memundurkan langkah gesit. Keempat roh pemuda itu menyaksikan cairan hijau itu mengenai salah satu tanaman di bawah pohon hingga tanaman tersebut dengan singkatnya langsung melayu yang artinya cairan hijau itu sangat membahayakan jika terkena Anggara ataupun ketiga temannya yang ada di belakangnya diri Anggara Vincent Kavindra.


"Gawat dah gawat! Kayaknya arwah negatif satu ini lebih bahayain daripada arwah negatif pertama! Hati-hati Ngga, kayaknya suster setan itu mau ngarahin jarum suntikan itu ke elo!" perintah ingat Stevan.


Anggara merespon dengan sebuah anggukan kepala cepat tanpa menoleh ke arah Stevan yang tepat di belakangnya. Anggara tetap antisipasi pada arwah negatif yang tepat di hadapan depan matanya persis. Arwah negatif berwujud perawat itupun maju mendekati Anggara dengan senyuman miring tanpa ada sorotan mata.


"Jangan mendekat! Kalo Enggak, gue akan buat lo terhapuskan dari sini!" ancam Anggara.


"Hahahaha, kamu ini kenapa? Suster hanya ingin memberimu obat agar kamu cepat mati sebentar lagi. Oh iya, tak akan ada yang bisa menghindar dari Suster hahahahaha!"


"Cih, apa lo bilang tadi? 'Tak akan ada yang bisa menghindar dari Suster'? Gue akan buat lo musnah dari hutan baka sialan ini. Mari kita mulai!" tantang Anggara.


Anggara menolehkan kepalanya ke belakang. "Tetep fokus pandangan, jangan ada yang lengah. Bisa jadi kalau kalian semua lengah, nyawa kalian menjadi taruhannya."


Stevan, Daniel, dan Yuda hanya mengangguk patuh kepada Anggara yang akan bertarung melawan arwah aura negatif kedua.


Arwah negatif perawat itu menepatkan sasaran jarum suntik ke arah Anggara yang bersiap nyali. Satu tekanan pada bawah ujung alat suntikan berukuran besar itu, berhasil mengeluarkan cairan hijau terang memuncrat mengarah cepat ke Anggara.


"Saatnya, wind spell !"


Whuuuusstt !


Tiupan angin kencang yang berasal dari mantra Anggara, berjaya tepat menghalangi Anggara dari serangan muncratan cairan hijau mematikan milik arwah negatif perawat tersebut. Namun, karena tiupan angin mantra Anggara terlalu kuat dan kencang, alhasilnya cairan hijau itu mengarah cepat ke sasaran Stevan, Daniel, dan Yuda. Dengan sangat cepat tangkas dirinya, Stevan segera menghalang serangan mematikan itu menggunakan mantra miliknya.


"Protection spell !"

__ADS_1


Stevan menghentakkan satu tangannya di tanah sehingga membuat menjadi ada suatu mantra darinya yaitu sebuah macam perisai untuk melindungi dirinya dan juga Yuda dan Daniel. Mantra perisai transparan Stevan berwarna oranye cahaya mencolok bersinar terang.


Anggara menoleh ke arah Stevan yang dibalas tatapan ramahnya dan sunggingan senyuman anggukan kepala beserta mengacungkan jari jempol pada tangan satunya. Anggara tersenyum mengangguk saja dan kembali menghadap ke arwah negatif itu yang gagal menyerang Anggara pada serangan senjata ampuhnya.


"Graaaaaa!! Kurang ajar kamu, ya! Baiklah ini yang mestinya kamu tidak bisa hindari lagi kali ini!!"


Arwah negatif wujud perawat menyeramkan itu terlihat memberikan energi pada kesemua anakan ular hitam bersisik yang ada di atas pucuk kepalanya menggunakan suntikan yang ia miliki. Arwah negatif itu menyuntikkan kesemua anakan ular tersebut hingga pada akhirnya mata-mata anakan ular menyala hijau terang sepadan cairan mematikan. Selanjutnya, anak-anak ular tersebut memanjangkan lehernya masing-masing dan melilitkannya ke dua tangan Anggara dan kedua kakinya membuat pemuda Indigo itu tidak bisa melakukan apa-apa.


"Hahahahahaha! Itu akibatnya kamu terlalu yakin bakal menang menghapuskan aku dari hutan Enigrafent! Kamu akan mati di tanganku sekarang juga!"


Saat arwah negatif kedua itu melangkah mendekati Anggara sambil mengangkat alat suntikan besar tersebut, Anggara yang tengah memikir keras untuk terlepas dari perangkap maut ini, tiba-tiba suatu benak otak Anggara tersirat akan teringat penuturan kata Senja waktu ia di ajarkan beberapa mantra untuk melindungi dirinya.


Splash !


Flashback On


"Anggara, misalnya kalau kamu di perangkap sama sosok-sosok jahat yang mau mencelakai mu dan posisi kedua tanganmu gak bisa berbuat apa-apa, ada satu cara yang paling gampang kamu inget. Sebutin aja mantra mu melalui mulut. Pasti di jamin manjur, deh!"


"Ini hanya umpama aja, loh. Tapi kamu harus bisa mempersiapkan dirimu kalau kamu dalam bahaya besar, oke?"


"Oke aku paham. Thanks ya Senja."


Flashback Off


Splash !


Perlahan Anggara mengukirkan senyuman smirk-nya ke arwah negatif perawat itu. Makhluk tersebut telengkan kepalanya ke kiri mengapa Anggara malah tersenyum licik seperti itu, bukannya takut tetapi ia malah santai saja.


"Dengan satu mantra lagi yang gue munculkan, siap-siap lo musnah dari sini!"


Anggara menghela napasnya lalu mengucapkan mantra-nya.


"Typhoon spell !"


SWIIIIINNNGHH !!!


Berupa angin topan begitu topan kencang menderu yang membuat ketiga temannya Anggara saling berpegangan agar tak terbawa angin topan mantra Anggara, perawat arwah negatif tersebut sulit untuk melangkah pada hadapan angin topan yang melindungi Anggara darinya. Hingga sampai tiba-tiba, senjata suntikan besar milik dari makhluk negatif itu terbang terbawa angin topan Anggara. Anggara menyipitkan matanya reflek karena mantra kekuatan angin topan-nya itu begitu sangat kencang dan kuat.


WHUUUUUUUSST !!!


BRAKK !!!


Bersamaan setelah alat senjata suntik arwah negatif itu terjatuh kencang, mantra angin topan milik Anggara menghilang begitu saja, sementara sebelum mantra pemuda bijak itu menghilang, makhluk yang ingin menamatkan nyawa Anggara terpental jauh hingga menabrak pohon sampai pohon itu membengkok saking tabrakannya dari makhluk negatif itu sangatlah kuat.


Anggara cepat-cepat pergi memungut alat suntikan berukuran besar itu dan ia pun berlari mendatangi arwah negatif itu yang terkulai lemah tak berdaya. Setelah berada di hadapannya, Anggara tersenyum kemenangan dengan menatap tajam makhluk yang terbaring lemas.


"Kayaknya lo salah ucap, harusnya yang perlu pengobatan khusus agar mati itu adalah elo, makhluk gak guna!" ucap Anggara senang.


"Hahahahaha, sekarang gue yang akan menyuntikan cairan mematikan ini ke elo, dasar makhluk jahat! Rasain ini!!"


Anggara menekan kuat dan geram pada bawah ujung alat suntikan besar itu yang dirinya sudah menusuk jarum suntik tersebut ke kepala arwah negatif kedua. Secara perlahan, cairan hijau mematikan itu masuk ke dalam kepala perawat arwah makhluk aura negatif hingga menjalar ke seluruh tubuhnya. Tepatnya di terakhir sisa cairan yang diberikan Anggara sadis, makhluk itu meledak kuat menyisakan belatung-belatung keteteran dimana-mana. Anggara yang sebenarnya tenaganya sudah terkuras dan terpakai banyak, akhirnya terlempar sedikit jauh akibat ledakan kuat dari makhluk negatif yang berhasil Anggara musnahkan untuk pertama kalinya.


Ketiga teman rohnya yang kaget Anggara terpental hingga langsung cepat berlari menghampiri Anggara yang setengah lemas di tanah dalam keadaan terduduk.


"Anggara! Lo gakpapa?! Sumpah mana yang sakit?!" panik Stevan.


"Apaan sih lo? Gue gak kenapa-napa kok, hanya cuma tenaga gue yang abis gara-gara ngelawan arwah itu tadi. Tapi Alhamdulillah, akhirnya gue bisa berhasil musnahkan itu makhluk suruhan Erland."


"Hebat banget, Ngga! Tanpa bantuan kami bertiga, lo bisa ngelakuinnya sendiri." Daniel memeluk Anggara senang serta bangga pada temannya lalu melepaskannya.


"Yah meskipun gue hampir aja mati, tapi gue langsung cari titik kelemahannya makhluk negatif itu. Sesuai dugaan gue, dia beneran kalah ngelawan gue."


"Beneran Ngga, gue hampir aja gak bisa napas ngeliat lo yang terancem! Tapi gue balik bernapas lega, lo akhirnya menang juga! Usaha lo beneran membuahkan hasil, Anggara."


"Udah gak usah lebay lo, Da. Gue bisa seperti itu karna juga Senja, iya Senja yang ngajarin gue beberapa materi tentang mantra yang harus bisa mampu gue kuasai semuanya."


"Oh iya ya, Senja yang ngajarin kita mantra-mantra gitu. Jir kemana ya sekarang cewek itu, kangen banget gue." Stevan mendongak ke atas dengan tersenyum mesem.


"Anjrut ini anak! Sempet-sempetnya kangen sama Senja, sadar woi sadar .. kita semua harus selesain permainan ini dulu, baru mikirin cewek arwah cantik itu," tegur Daniel dengan meraup kasar wajah Stevan beberapa kali.


"Weh-weh! Gue bukan jendela kaca bego! Main asal ngelap-ngelap aja, lu ah!" protes Stevan.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Saat ini keempat pemuda roh tersebut sedang berada di pinggir suatu danau yang sebelumnya tak mereka sama kali kenal. Tujuan mereka disana adalah hanya satu, membasuh kedua kakinya masing-masing yang kotor dan bau imbas terkena air lendir saat mereka semua berlari kencang di kejar oleh arwah negatif sosok nenek menyeramkan.


"Huek, jijik! Gue jijik sama ini lendir bandel kek liurnya Daniel!" protes Stevan lagi sambil membawa-bawa nama Daniel.


"Heh Stevan Pasaribu! Mana ada gue ngiler anjir! Mimpi kali lo!" kesal Daniel tak terima.


"Sumpah nih kalo gue emosi, gue bakal tenggelamin elo ke dalem danau ini!" lanjutnya Daniel.


"Ih, psikopat bener?!" kejut Stevan.


"Biarin! Biar lo tau kapok!"


"Woi!" teriak Anggara melerai tengkarnya Stevan dan Daniel lalu menatap tajam dua temannya. "Elo pada bisa gak sih, sehari ini aja gak usah bawa keributan kayak emak-emak arisan!!"


JDAARR !


Pemuda ini yang bernama Anggara Vincent Kavindra kalau marah sampai membentak sudah begitu menyeramkan seperti sahabat lelakinya. Mata yang mencuat sempurna membuat Daniel dan Stevan takut dan berhenti berdebat mulut.


Yuda hanya cekikikan keturunan dedemit kuntilanak mendengar suara bentakan Anggara untuk Stevan dan Daniel. Namun setelah kelar membersihkan telapak kaki mereka masing-masing, tiba-tiba suara besar menggelegar mengagetkan 4 pemuda itu. Ya, siapa lagi kalau bukan suaranya Erland.


"Bagus sekali, kalian telah melewati permainanku pada ronde pertama dan ini adalah ronde kedua atau bisa dibilang terakhir. Ronde terakhirnya adalah, kalian harus menghadapi raja kegelapan penghuni gua belantara yang sebentar lagi akan muncul di atas air danau yang kalian datangi."


"Ini ronde terakhir, yang berarti ini adalah mental kalian akan di buat sengsara oleh King Wolmanon. Tapi tenang saja, kalau kalian berhasil mengalahkan sang raja yang menetap di dalam gua selama delapan belas tahun, kalian akan bisa kembali ke raga kalian semula dan seutuhnya."


"Tapi jika kalian kalah, ya berarti terimalah nasib kalian semua. Huahahahahaha!!"


"Jadi selamat menikmati kembali."


'King Wolmanon, itu artinya mimpi gue jadi kenyataan. Gue yang di mimpi itu hanya seorang, tetapi disini gue menghadapinya sama ketiga temen gue.'


Getaran danau mengguncang hebat, ombak danau terlihat. Pada akhirnya nampak ada sebuah gua besar yang muncul dari bawah danau. Gua yang setengah ternampak kini ternampak sangat jelas. Tunggu sebentar! Gua ini sama persis pada ada di dalam mimpi Anggara, benar-benar mirip.


Ombak danau itu menjadi tenang setelah munculnya gua terbesar tersebut. Anggara bangkit berdiri dan langsung memasuki gua dibuntuti oleh Stevan, Daniel, begitu juga Yuda. Di dalam sana, sangat gelap. Sampai tiba-tiba Anggara menemukan ukiran dinding gua yang sama sekali pada ukiran gambar di dalam mimpi buruknya.


Keempat pemuda itu berhenti dan mengamati serius pada ukiran gambaran aneh di salah satu dinding gua bagian kanan. Stevan begitu bergidik ngeri takut pada ukiran gambar itu yang menurut ia gambaran itu adalah sesosok monster.


"Anjir mak'e! Gambaran apaan nih?! Serem amat bisa-bisanya- hah jangan-jangan gua ini adalah tempat untuk kita dibunuh lagi sama King Wolmanon itu?! Hih gak siap gue!!"


"Heh! Penakut banget sih jadi orang! Tenang, kita punya mantra .. kita pasti bisa mengalahkannya. Lu gak boleh panikan gitu kayak cewek!" tegur Anggara dengan menjitak kening Stevan.


"Santai napa, bro?!"


Tiba-tiba jantung keempat roh pemuda itu hampir di buat lepas saat mendengar suara lolongan serigala yang membuat telinga para roh ini mendengung hebat. Stevan yang tak tahan dengan suara lolongan hewan tersebut yang berada di ujung gua paling jauh, segera memeluk Anggara erat dengan melompat, hal itu badan Anggara jadi sedikit oleng gara-gara sifat temannya itu yang gelagatnya seperti monyet di kebun binatang.


"Hua gue gak mau di terkam serigala, Ngga!!"


"E-eh anjir- woi lepasin gue! Sialan, dasar monyet satu ini! Takut sih takut, tapi gak usah pake meluknya sebegitu-nya kali!"


"Turun gak?!"


"Ogah gue!!"


"Turun, apa gue jatohin elo?!"


"Eh iya-iya, nih gue turun!"


Seketika Stevan takut pada ancaman Anggara yang begitu sadis baginya. Kini tanpa mengulur-ulur waktu lagi, keempat roh pemuda tersebut mulai melangkahkan kakinya berani ke depan untuk mengetahui suara lolongan serigala yang sekarang di tambah auman miliknya. Namun sebetulnya Anggara telah mendengar suara lolongan dan auman kencang ini. Benar sekali, tepatnya Anggara mendengarkannya lewat mimpinya.


Setengah perjalanan langkah tempuh, Anggara, Stevan, Daniel, dan Yuda mendengar sesuatu lagi yaitu sambaran api yang bergemuruh serta percikan apinya. Semakin mereka maju melangkah, semakin juga suara yang mereka dengan kali ini lebih terdengar jelas. Pada akhirnya mereka telah berpapasan dengan jalan buntu, tak mungkin mereka melewatinya secara menembus karena ini termasuk alamnya meskipun hutan alam baka.


Anggara mendongakkan kepalanya karena ia melihat pantulan bayangan besar dari dinding gua buntu di depan, Anggara ingat bayangan ini. Sama persis yang ada di dalam orakel Anggara.


Ketiga teman Anggara yang takut tapi penasaran, mencondongkan badan kepala bersamaan dengan gemetar. Anggara yang ikut mencondongkan kepala dan badannya, seakan-akan detak jantung Anggara berhenti dikarenakan makhluk raja Wolmanon sang raja kegelapan penghuni gua belantara menatapnya tajam namun ia menampilkan senyuman miringnya.


Anggara tidak menyangka bahwa ia benar-benar bertemu makhluk besar tiga jenis satu tubuh ini di luar mimpi. Ketiga temannya mematung dengan keringat dinding sama-sama mengucur deras. Mata keempat pemuda roh itu mencuat melotot saking terkejutnya melihat sekujur bentuk tubuhnya tak mencakup wajarnya. Kepala berbentuk kepala serigala, badannya berpostur manusia, dan terakhir kedua kakinya mirip kaki singa, jangan lupakan gigi taring panjangnya.


"Akhirnya kalian telah sampai juga. Bagus, ini yang aku nanti-nanti dan aku dengar-dengar kalian roh yang terkuat ya? Hahahahaha, kalian memang hebat."


Anggara menatap dingin tajam pada King Wolmanon yang tertawa sambil bertepuk tangan. Anggara diam seraya tetap mengumpulkan nyalinya dan tenaganya untuk mengeluarkan mantra-nya nanti.


"Yaaaa, emang kalian hebat tetapi disini adalah tempat terakhir sebelum kalian semua tamat huahahahaha!"


"Gak akan!! Kita pasti disini akan menang! Dan lo pastinya kalah!"


"Wow-wow, lihatlah ada roh paling tangguh disini. Tapi sayang, sangat sombong!" maki King Wolmanon menatap sinis Anggara.


Stevan yang nampak geram, langsung berlari menerjang raja Wolmanon dengan mantra-nya.


"Stevan! Jangan dulu!!" teriak Anggara.


Sayangnya peringatan Anggara tak digubris sama sekali oleh Stevan, dengan perasaan berani ia mulai mengeluarkan mantra-nya di hadapan King Wolmanon.


"Spell light laser !!"


Sebuah laser cahaya mantra Stevan mengarah ke King Wolmanon saat dirinya telah membentang kedua tangannya, namun dengan mudahnya King Wolmanon menyenggol serangan mantra Stevan hingga mantra Stevan tak mempan untuk menyerang raja penghuni gua yang menetap berlama di gua hutan Enigrafent.


"Cih, kekuatan mantra yang lemah!"


King Wolmanon menghempaskan Stevan dengan tangan manusianya hingga Stevan terpelanting kuat jauh hingga menghantam tembok gua.


BUAGGHH !!!


"STEVAAAAANN!!!"


Kesemua temannya termasuk Anggara berlari menghampiri Stevan yang telah jatuh terbaring dengan merintih kesakitan hingga ia terbatuk-batuk mengeluarkan cairan warna merah pekat dari mulutnya.


"Pemuda yang sangat lemah, begitu saja langsung terkapar. Hahahahahaha!!"


"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Argh sakit!!"


"Stevan ... s-sialan!! Dasar brengsek lo!!"


Daniel yang tak terima temannya disakiti segera menyerang King Wolmanon dengan mantra sambaran petir-nya. Pikirnya pemuda itu jika mantra petir itu mengenai King Wolmanon, mestinya akan tersetrum.


"Lightning strike spell !!"


Sambaran petir mantra Daniel langsung cepat mendarat menyambar King Wolmanon. Namun malang sungguh tak terkalahkan, King Wolmanon berhasil meninju sambaran petir mantra Daniel, hal itu mantra yang harusnya terkena raja kegelapan tersebut malahan berbalik mengenai Daniel. Alhasilnya Daniel terkena setrum mantra-nya ia sendiri.


"AAAAAAARRGGH!!!"


Teriakan kesakitan Daniel menggelegar sampai sepenjuru gua, kemudian karena mantra Daniel efeknya membuat hilang kesadaran, pemuda roh itu pun tumbang ambruk tergeletak tak sadarkan diri. Yuda yang sangat terkejut melihat sahabatnya terbaring jatuh pingsan, dengan panik ia berlari dari Stevan dan Anggara untuk menghampiri Daniel.


Yuda menjatuhkan kedua lututnya lalu menepuk pipi Daniel berulang-ulang dengan memanggil namanya beberapa kali, namun hasilnya nihil. Daniel tidak kunjung sadarkan diri.


Yuda mengepalkan tangannya kuat, ia sungguh tidak terima sekali sahabatnya terluka hingga tidak sadarkan diri. Yuda berdiri dan menuding marah King Wolmanon dengan menyumpah serapah raja kegelapan itu bersama suara lantangnya. Nampaknya King Wolmanon menjadi geram ingin melenyapkan pemuda yang bernama Yudatara Adikara Pratama itu. King Wolmanon mulai mengeluarkan mantra terkuatnya yaitu ledakan bola api miliknya, hanya dengan membanting bola apinya ke pasir kuning itu hingga pada ujungnya, pasir tersebut meledak dan bertebaran kencang dan langsung mengenai mata Yuda terkecuali Daniel yang masih menutup mata, serta Anggara dan Stevan yang menutupi matanya masing-masing menggunakan lengan tangannya.


Kedua mata Yuda yang sangat pedih karena terkena debu pasir berhamburan tersebut membuat Yuda berteriak mengerang seraya menekan kedua matanya dengan sepasang dua tangan.


"Aaaaaghh mata gueee!!"


Yuda berusaha membuka matanya tetapi terlalu perih untuk dibuka. Dengan sadisnya layaknya raja mati rasa, King Wolmanon melempar Yuda hingga menabrak dinding buntu gua. Dan kini tinggallah Anggara seorang yang belum terkena kesakitan luar biasa dari King Wolmanon.


Anggara menatap ketiga temannya yang lemah tak berdaya apalagi Daniel terbaring lemah pingsan. Seakan-akan kini Anggara kehilangan akal, dirinya bingung harus bagaimana mengalahkan King Wolmanon sedangkan ia malahan menjadi ragu tak yakin hari ini ia akan menang dan kembali ke raganya semula begitupun ketiga teman kondisi sekaratnya.


'Stevan, Daniel, sama Yuda udah kalah ngelawan satu makhluk gak mudah di kalahin itu. Sekarang tinggal gue yang belum ngerasain sengsara mental.'


"Heh! Kenapa kamu diam saja disana? Hahahaha kamu takut ya? Menyerah ya?"


"Sini kamu!! Akan aku beri pelajaran buatmu huahahahaha!!"


GREPP !!!


Leher Anggara ditarik kencang oleh King Wolmanon menggunakan rantai api yang panas membara. Anggara ditarik ke hadapan King Wolmanon pada sorot mata tajamnya yang bola matanya begitu menyeramkan, sipit seperti binatang ganas.


Rantai api yang membelenggu leher Anggara kencang, seketika buat Anggara berteriak kesakitan dengan mata mengernyit hebat.


"Aaaaarrggh! Panaaasss! Sakiiitt! Hentikaaaann!!!"


"HUAHAHAHAHAHA!!!"


BRUGGHH !!!


King Wolmanon membanting Anggara bersama rantai apinya yang pula ia banting kuat. Anggara menjadi merintih kesakitan dikarenakan kepalanya ikut sakit karena terkena benturan keras di bawah.


BRUGGHH !!!


Setelah raja kegelapan itu mengangkat Anggara kencang ke atas, kini ia membanting Anggara lagi dengan menjadi setengah kuat. Meskipun begitu, telah membuat diri Anggara tetap meringis kesakitan dengan suara rintihan meresahkan.


"Makanya jangan sok jago kamu menantang diriku, hahahahahahaha!!"


BRUGGHH !!!


Usai mengutarakan kesombongannya dan mengangkat Anggara bersama rantai apinya, ini terakhir Anggara di banting jauh lebih hebat dahysat dibandingkan sebelumnya. Anggara berteriak kesakitan dengan wajah tergores salah satu benda tajam di bawahnya. Pakaiannya amat kotor dikarenakan terkena debu pasir. Rambutnya berantakan sekali tak rapi seperti tadi.


"Huk uhuk uhuk! S-sial dada gue!!" umpat Anggara menyentuh kembali dadanya dengan keadaan posisi badan dirinya terlungkup.


"Akhirnya kalian kalah! Kini sekarang aku tinggal tamat kan kalian sekaligus haha-"


"Heh! Lo gak usah bangga dulu sama kehebatan lo, makhluk pedar! Karna gue tau satu kelemahan lo yang pasti!"


"Dan, semua segala ucapan lo itu malah terbalik nantinya. Ya, elo yang akan kalah hari ini! Lu juga akan tamat sebentar lagi!!" sungut Anggara.


"Hahahahaha! Apa? Semua pencarian mu yang kau cari untuk memusnahkan ku itu tak ada yang akan mempan sekalipun."


Anggara membangkitkan dirinya dengan tetap menyentuh dadanya, tatapan matanya sungguh tajam namun senyuman liciknya terpatri.


"Ada. Yaitu kekompakan bersama! Dengan kami menyatukan kekuatan kami masing-masing untuk menghancurkan elo dan setelah itu, lu gak akan bisa mungkin bangkit lagi selama-lamanya!!"


King Wolmanon berdecih sinis. "Cih, apakah semua keyakinan kamu memungkinkan? Aku rasa itu akan sia-sia dan membuang-buang waktu saja, hahahahaha!"


"Masih sempatnya tertawa? Akan gue buktikan dan elu pasti bakal nyesel!!"


Terlihat sekarang disisi-sisinya Anggara terdapat ada Stevan di kirinya sementara Yuda dan Daniel yang telah sadar sekarang di kanannya Anggara.


"Kalian?!" kaget Anggara sambil menatap teman-temannya bergiliran.


"Ayo guys! Kita serang bersama, mumpung tenaga kita semua kembali terkumpul hahaha!" ucap Stevan semangat dengan mengusap darah mulutnya bersama telapak tangan.


"Mari kita lawan!!" serempak Yuda dan Daniel semangat tak sabar.


Anggara melongo dan akhirnya tersenyum lebar dengan wajah sangat bersemangat. Ketiga temannya menatap Anggara dengan penuh keyakinan bersama.


"Kalian siap?!" tanya Anggara semangat.


"Gue siap kapanpun!" respon Daniel sangat tak sabar memusnahkan King Wolmanon dibalas angguk Stevan dan Yuda.


Keempat pemuda roh itu dengan wajah bersemangat dan geram langsung membentuk baris secara horizontal. Mereka langsung memasang kuda-kuda dan Anggara membentang satu tangannya ke depan yang pemuda itu ada di tengah-tengah ketiga temannya. Stevan menggeser satu tangannya yang membentang ke sisi telapak tangan Anggara dan ia tempelkan di situ, begitupun juga Yuda dan Daniel menggeser tangannya bersamaan ke kanan, seketika tangan telapak Daniel yang bentang menempel di sisi tangan telapak tangan Anggara bagian kiri sedangkan Yuda menempelkan telapak tangannya setelah membentang ke sisi telapak tangan Daniel pula bagian kiri. Kesimpulannya, mantra kekuatan para mereka otomatis telah menyatu.


Kepala keempat pemuda itu nampak menunduk dengan memejamkan matanya kemudian membuka matanya kembali dan mendongakkan kepalanya ke arah tatapan wajah King Wolmanon.


Suara kompak serempak ungkapan mantra yang telah menyatu terdengar dari keluarnya suara Anggara, Stevan, Daniel, dan juga Yuda.


"DESTRUCTION SPELL !!!"


Timbulan cahaya amat terang ukuran besar sekali keluar dari mantra menyatu milik keempat pemuda roh tersebut. Cahaya itu melesat mengarah dan langsung menjadi tusukan panah. Cahaya tusukan panah itu berhasil menusuk King Wolmanon yang tak sempat mengelak karena saking paniknya. Tubuhnya retak dan seketika otomatis cepatnya, sekujur tubuh King Wolmanon meledak kuat dahsyat seperti tembakan meriam.


DUAAAAAARRRR !!!


Angin kencang yang tiba-tiba mengharuskan Anggara, Stevan, Daniel, dan Yuda melindungi matanya masing-masing agar tak terkena hamparan debu pasir seperti Yuda tadinya.


5 menit mereka melindungi matanya, akhirnya angin otomatis itu menghilang bersama ledakan King Wolmanon yang menyisakan abu debu. Keempat pemuda roh itu menyingkirkan satu lengan tangannya masing-masing yang menutupi matanya dan Stevan langsung melongo karena ia tak melihat King Wolmanon lagi.


"Eh woi, kita menang nih?!" tanya Stevan tak percaya.


"Iya, kita menang ..." lirih Anggara tak menatap Stevan.


"BRO KITA MENANG BRO!! KITA MENAAAANNGG!!!" heboh teriak Daniel gembira dengan mengangkat kedua tangannya ke atas saking bahagia penuhnya.


Anggara tertawa bahagia dengan tatapan masih tak menyangka, ia dan ketiga temanya benar-benar sanggup mengakhiri raja kegelapan di hutan Enigrafent.


"ANGGARA KITA WIN KITA WIN AHAHAHAHAHAHAHA!!!" teriak Stevan sambil memeluk Anggara erat.


Anggara pun dengan rasa senang bahagia membalas pelukan temannya yang tertawa menang dan telah akhirnya mengakhiri permainan nyawa ini.


Bertepatan kebahagiaan mereka memusnahkan King Wolmanon, Erland Lucifer muncul dari atas atap gua dan turun perlahan sampai kakinya menapak di pasir. Wajahnya memang menyeramkan tetapi lihatlah, ia tersenyum bahagia menatap keempat pemuda roh itu.


"Selamat, akhirnya di ujung ini .. kalian benar-benar melewati permainan yang aku buat dan juga sang raja kegelapan. Tak terpikirkan olehku, kalian memang benar sungguh hebat dan sangat kompak dalam menyatukan kekuatan kalian semua."


"Dan, ini saatnya sesuai dengan ucapanku, kalian akan aku kembalikan ke raga kalian masing-masing. Selamat bertemu kepada orang-orang yang disana kalian sayangi."


"Tunggu sebentar, bukannya lo makhluk pencabut nyawa roh ya? Kok bisa jadi lembut halus gini suaranya??" tanya Stevan terkejut.


"Aku memang si pencabut nyawa roh, tetapi aku mencabutnya kalau kalian kalah dalam pertarungan melawan entah itu makhluk arwah negatif atau raja kegelapan ini. Hanya kalianlah yang ternyata berhasil melenyapkan King Wolmanon. Dan kamu Anggara, aku bangga padamu. Kamu roh yang sangat bijaksana, pemberani sekali apalagi kamu memiliki kelebihan luar biasa di dalam dirimu. Kamu sangat pantas kembali ke ragamu semula."


Anggara tersenyum dan mengangguk penuturan kata Erland.


"Baiklah, aku akan membuat kalian tertidur sejenak. Jangan takut, ini efek karena kalian akan di tarik oleh raga kalian yang posisinya dalam Koma. Apakah kalian semua siap?"


"Ya, kami siap!" Keempat pemuda roh itu menjawab dengan secara bersamaan.


"Baiklah. Satu ucapan ku terakhir untuk kalian, selamat tinggal dan bersiaplah kalian kembali bahagia bertemu orang-orang yang kalian sayangi di alam jiwa."


Flas !


Erland membentangkan satu tangannya dan sebuah cahaya-cahaya memantul dari tangannya mengenai kesemua empat roh pemuda itu sehingga mereka semua terjatuh terbaring, bukan pingsan melainkan tertidur seketika oleh mantra Erland.


Yeay! Pada akhirnya ini semua telah berakhir usai! Anggara, Stevan, Daniel, dan Yuda yang sama-sama merupakan roh karena tubuh raganya Koma, mereka akan kembali menuju masuk dalam raganya pada sediakala. Rupanya rintangan mereka yang mereka hadapi tak sia-sia tetapi malah justru membuahkan hasil yang sangat baik.


Congratulations, the four of you are successful and really great!!

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2