Indigo

Indigo
Chapter 183 | Must Endure!


__ADS_3

Di hari mana esok Reyhan diperbolehkan pulang oleh dokter setelah menjalani perawatan di rumah sakit, di atas ranjang pasien lelaki humoris itu sedang menatap nanar sebuah video berita viral di layar ponselnya. Ya, tentang mengenai tragedi peristiwa mencekam nyawa antaranya beserta Angga.


Reyhan nampak tak heboh alias terkejut dalam hati. Ia tak menyangka kejadian beberapa hari lalu bisa menjadi masuk ke sebuah berita yang disebarkan oleh pembawa acara TV. Lelaki itu mengambil napasnya panjang lalu menghembuskannya untuk bertenang sedikit, kalau sudah seperti ini telah dipastikan seluruh SMA tempat belajarnya selama 3 tahun akan heboh dan mulailah datang gosip-gosip dimana-mana terutama dari mulutnya sang para kaum hawa.


Bahkan menonton berita kelam itu, membuat kepala Reyhan seketika pening dan ia memutuskan untuk menyingkirkan pandangan layar tersebut dari mata sipitnya. Sampai-sampai dirinya tercengang melihat dua sosok pria dan wanita berpakaian serba rapi tengah tersenyum padanya, apalagi wajah-wajah mereka sangat mampu Reyhan kenali.


“Pak Harry?! Bu Aera?!” Ekspresi Reyhan memang tak bisa disembunyikan saking tidak menyangka bahwa kedua guru beda mapelnya datang menjenguk dirinya yang masih dirawat di dalam bangunan RS Medistra Kusuma kota Bogor.


“Kalau begitu .. selamat pagi, Pak, Bu. Astaga, saya benar-benar kaget atas kedatangan beliau,” sapa sopan Reyhan dengan agak membungkukkan badannya.


“Selamat pagi juga, Reyhan. Bagaimana kondisi kamu sekarang?” tanya pak Harry dengan menancapkan senyuman di bibirnya.


“Alhamdulillah, kondisi saya sudah membaik, Pak. Dan mulai besok saya sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit Medistra Kusuma Bogor,” jawab Reyhan ikut bersama senyuman yang merekah di muka tampannya.


“Saya senang sekali mendengarnya jika kondisi dirimu telah membaik. Apakah pak Harry dan saya mengganggu istirahat kamu?” Kini bu Aera yang bertanya pada muridnya.


Reyhan menggeleng pelan. “Tidak kok, Bu. Sama sekali tidak mengganggu istirahat saya, lagipula saya sudah terlalu banyak istirahat di dalam sini. Dan diri saya malah justru bahagia dijenguk beliau, hehehe.”


“Oh, begitu? Yasudah, nih. Mohon diterima, ya? Maaf saya dan pak Harry hanya bisa membelikan kamu buah-buahan satu pack keranjang,” ungkap bu Aera seraya memberikan sebuah keranjang berisi beberapa aneka buah-buahan segar untuk siswanya.


Reyhan dengan senang hati menerima pemberiannya dari beliau bersama mata membulat. “Widih, ada buah tangan! Makasih lho, Bu! Pak! Dikasih makanan ini saja saya sudah seneng banget. Udah jarang juga makan buah-buahan, hehehe!”


“Cengengesan mulu dari tadi, haha! Iya sama-sama. Saya bahagia sekali melihat wajah ceriamu.”


“Stay smiling, Bu. Stay smiling,” gubris Reyhan sambil memancarkan aura sifat ramahnya.


Pak Harry yang melihat senyuman ramah dari wajah Reyhan, ikut tersenyum menatapnya. “Bapak dan bu Aera ke sini ingin menjengukmu dengan ringan hati sekaligus ingin memberikan suatu info untuk kamu, boleh?”


“Kenapa tidak boleh, Pak? Bapak mau menyampaikan info apapun pada saya, saya pasti akan mau mendengar serta menerimanya. Apa, Pak?”


“Baiklah. Mulai antara dua atau tiga minggu lagi, kita sudah masuk ke mata pelajaran baru di sekolah, ya? Dengan suasana kelas yang beda juga tentunya. Kamu tahu maksud dari Bapak?” tanya pak Harry pada Reyhan yang fokus mendengarkannya.


Senyuman lebar Reyhan berubah menjadi tipis, apalagi lelaki itu mengangguk lambat. “Saya paham apa yang Bapak maksud untuk saya. Tetapi sepertinya saya harus mempersiapkan diri untuk memulai belajar esok yang akan tiba ...”


Pak Harry mengerti atas penurutan kata dari Reyhan, begitupun pula bu Aera, Jihan, dan Farhan. Sekarang beliau yang mengenakan blazer hitam, menghampiri pemuda Friendly tersebut. “Rey, kamu yang sabar, ya? Angga pasti akan kembali sadar dari Komanya.”


Reyhan menundukkan kepalanya dengan memaksakan tetap tersenyum. “Baik, Pak.”


Bu Aera yang merasa iba, ikut melangkah mendatangi Reyhan lalu menyentuh bahu kanannya. “Reaksimu setelah menonton berita yang telah beredar itu, pasti tidak menyangka, ya?”


Siswa muridnya mengangkat wajahnya dengan menggantikan rautnya menjadi gundah. “Awal menyaksikan dari internet, saya sungguh tidak menduga, Bu. Tetapi rasa tak menyangka saya lebih besar ke keadaan Angga yang mengalami Koma bersama kesehatannya yang menurun drastis.”


Sekuat maksimal menahan tangisannya, air mata kini telah tak mampu ia bendung. Mengalir membasahi pipinya membuat kedua gurunya tidak tega merasakan pedih hatinya.


“Saya benar-benar tidak menyangka kalau sahabat saya kembali terserang Koma seperti dulu. Walau kendatipun, kondisinya lebih kronis dibanding beberapa bulan yang telah berlalu. Bahkan seolah-olah itupun, takdir tersebut memperburuk kondisinya Angga. Lebihnya, sampai hari ini tidak ada satupun kabar baik mengenai sahabat saya dari mulutnya sang dokter yang memantau Komanya Angga. Saya tidak tahu sampai kapan hal teruk itu tetap berlaku ...”


Untuk menahan isakan tangisnya, Reyhan menutup wajah kelamnya sekaligus menghapus air matanya. Tetapi bersamaan itu, pak Harry menarik tubuhnya ke pelukannya beliau.

__ADS_1


“Sudah, Reyhan. Bapak tahu perasaan hatimu sedang rapuh disebabkan kondisi Koma sahabatmu, kita semua Doakan Angga saja, ya? Semoga dia bisa melampaui dari segalanya yang menyusahkannya untuk kembali bangun dari Komanya,” ujar pak Harry seraya mengusap-usap punggung Reyhan.


Reyhan mengangguk lagi dengan lemah sambil membalas pelukan guru wali kelasnya. “Hiks, terimakasih banyak, Pak ...”


Bu Aera yang tak sanggup berkata-kata untuk membangun semangat Reyhan, hanya menggerakkan telapak tangan mulusnya di atas kepala muridnya untuk mengelusnya. Sementara kedua orangtuanya dari lelaki bermata iris hazel itu cuma menyaksikan sekaligus memandang suasana memilukan tersebut.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Andrana tak henti-hentinya mengusap kepala Angga bersama air mata yang berderai deras, bahkan sesekali wanita paruh baya berusia 40-an tahun itu menarik Ingusnya ke dalam hidung. Batinnya selalu tersiksa saat menatap anak putranya yang terbaring lemah di ruang ICU.


“Ayah, kenapa setelah Angga diberikan pengobatan Rontgen di ruangan radiologi, dokter belum memberikan kabar tentang kondisi keparahan dari cedera kepalanya Angga?” tanya Andrana dengan sangat lengai.


Agra yang berada di samping istrinya, memegang kedua pundaknya dengan melemparkan senyuman simpelnya sekaligus. “Mungkin hasilnya belum keluar, Ma. Kita tunggu saja, ya?”


Andrana yang tanpa menoleh ke arah suaminya, diam sejenak lalu mengeluarkan suara paraunya kembali. “Coba Ayah rasakan kulit tangannya Angga. Sudah lumayan dingin, lho. Kondisi detak jantung anak kita berdua juga semakin melemah, apakah Angga akan sungguh-sungguh meninggalkan kita nantinya? Hiks!”


Agra mengarahkan kepala Andrana tepat di sasaran hadapan mukanya seraya menangkup wajah sembab istrinya lalu menggelengkan kepalanya dengan kuat.


“Enggak, Ma! Tolong dengarkan Ayah, meskipun kondisi Angga sangat tidak memungkinkan atau kesadaran dari Komanya begitu kecil, Angga tidak akan meninggalkan kita! Jiwa Angga kuat, tidak segampang itu Angga pergi!”


“Hiks! Hiks! Huhu, Ayah!!”


Andrana beralih mendekap tubuh Agra dengan erat bersama tangisan kencangnya hingga sesenggukan. Pria paruh baya tersebut yang dipeluk sang istri, lekas membalasnya bersama pelukan lembutnya. Bahkan dipelukan tubuhnya, Agra tambahkan dengan sebuah satu kecupan bibirnya di pucuk kepala Andrana.


Tak tahu kapan Angga akan terus terjebak di dalam masa Komanya. Tak tahu pula kapan Angga bakal kembali sadar dan melihat para orang yang menyayangi beserta merindukannya...


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam ruang rawat ICU milik pemuda tampan Indigo, mereka bertiga yang menemaninya terus mendengar suara mesin monitor pendeteksi jantung serta merasakan hawa suasana ruangan lingkup yang dingin. Pandangan ini amatlah menyedihkan, karena tak ada canda tawa di antara mereka bertiga.


Mereka bertiga juga nampak mengenakan sebuah gaun hijau sesuai prosedur khusus penjenguk pasien yang dirawat secara intensif. Sampai akhirnya ada salah satu perempuan menggenggam telapak tangan kanan Angga dengan berusaha memaksimalkan senyuman cantiknya.


“Angga, setelah kita menempuh segala mata pelajaran yang dibimbing oleh guru di kelas sebelas IPA dua dan mengikuti semua Ujian yang diberikan .. akhirnya kita semua naik ke kelas dua belas. Nggak nyangka, ya waktu berlalu dengan begitu cepatnya?” celoteh Jova.


“Sebelum kita semua naik ke jenjang tingkatan kelas berikutnya, di sekolah mengadakan salam perpisahan untuk kakak kelas kita yang sekarang telah lulus, termasuk kak Johan ketua PMR-mu dan kak Flo yang ketua OSIS. By the way, adik-adik kelas banyak yang sedih, lho karena kamu Koma. Mereka, tuh yang cewek-cewek nge-fans banget sama kamu. Keren, ya? Udah seperti selebriti sekolah saja,” timpal Freya lalu terkekeh pelan.


Reyhan yang sedari tadi diam menahan rasa pedih dan emosinya nang mengaduk menjadi satu, menghembuskan napasnya untuk membuang segala yang membikin hatinya berat. Lelaki itu pun setelah itu memegang lengan tangan kanan lemas Angga ikut bersama menyunggingkan senyuman.


“Bro. Tempat bangku duduk lo sudah gue booking, nih. Jadi pas lo sudah sadar dari Koma terus sembuh dan mampu melakukan aktivitas lagi di sekolah, lo tinggal duduk aja di sebelahnya gue. Gak perlu ribet-ribet, dah buat nyari bangku. Dengan adanya gue, semuanya dijamin praktis non mumet.”


“Ngga, kami mohon cepat bangun, ya? Kita saja lulus SMP bareng, masa besok pas kelulusan menuju pendidikan selanjutnya kami lulus SMA-nya cuman bertiga? Kan, gak lengkap sama sinkron. Oke? Kami pengen banget lihat matamu terbuka kembali, pengen banget juga mendengar suaramu lagi seperti dahulu. Selama ini aku, Freya, Reyhan hanya bisa melihat kamu yang terbaring nggak berdaya di ruangan bau obat-obatan kayak begini.”


“Tolong jangan pergi tinggalin kami bertiga ya, Bro? Gak ada lo lagi di dunia, kami serasa hampa. Bagi kami semuanya, elo orang yang berharga, istimewa dan tidak tergantikan.”


Dengan gerakan lamban dan lembut, Freya memeluk tubuh lelaki kekasihnya yang terbaring lemah bersama air mata nang kembali bergulir. “Ngga ... meskipun kamu tidak sanggup merespon suara kami, tetapi aku yakin kamu masih bisa mendengar dari segala ucapan kami untukmu.”


Di dekapan lembutnya yang mana kepalanya menempel di dada bidang Angga, perlahan tangan Freya menggapai pipi sang mata cahaya lalu menyentuhnya bersama rasa kasih sayang. Senyuman yang sengaja Freya lemparkan untuk Angga menambah datangnya air mata yang tetap mengalir hingga membasahi baju pasien nang dikenakan oleh kekasihnya.

__ADS_1


“Apapun keadaan yang memperburuk kondisimu, kamu harus tetap bertahan! Kami ada untukmu selalu, Anggara.”


“Kami akan always mendukung kesembuhan lo dari Koma agar lo mampu melewati semua ini!”


“Tidak ada kata lelah untuk mendoakan kamu setiap hari supaya ada keajaiban dari Allah. Cepat sadar, Ngga!”


Mereka bertiga saling memberikan dukungan Angga untuk memulihkan kesadaran Komanya walau mereka tahu, hal yang mereka lakukan barusan termasuk mustahil. Biarlah Tuhan yang menentukan jalan takdir Angga selanjutnya. Mereka semua hanya sanggup konstan selalu berdoa dan berdoa.


Reyhan mulai menyapu air matanya hingga bersih tanpa tersisa lalu menyingkap pergelangan baju hijau yang ia kenakan untuk menilik jam sport-nya. Setelah menengoknya, rupanya jam untuk menjenguk telah dibataskan oleh waktu.


“Jova? Freya? Udah lewat sepuluh menit, nih. Kita keluar, yuk. Besok kalau ada luang kesempatan, kita bertiga ke sini lagi. Setuju?” ungkap Reyhan.


Kedua sahabat perempuannya yang sepadan cantiknya, menganggukkan kepala dengan saling melemparkan senyuman menawannya untuk Reyhan yang memberikan instruksi halus pada mereka.


Setelah berpamitan kepada Angga yang diam-bisu dikarenakan Koma kronisnya, mereka bertiga balik badan melangkah meninggalkan dirinya dari ruangan ICU. Usai keluar, mereka masuk ke dalam tempat ruang sempit untuk melepas gaun bajunya masing-masing selanjutnya dilipat dan meletakkannya secara bertumpukan di atas rak berukuran sedang khusus gaun penjenguk pasien sesuai prosedur.


Dilihat usai pergi dari ruangan ganti, kedua orangtuanya Angga belum kembali dari ruangan dokter Ello. Mereka bertiga tidak mengerti beliau ingin menyampaikan sesuatu apa lagi untuk Agra serta Andrana.


“Aman gak, ya kalau Angga ditinggal tanpa ada satupun orang menemani?” tanya Jova.


“Lihat situasi dulu, mungkin. Atau kita tunggu saja sampai tante Andrana sama om Agra datang ke sini, Angga, kan nggak boleh ditinggal sendiri selama kondisinya masih belum stabil,” respon Freya.


Sementara Reyhan tengah melangkah dengan posisi bersedekap di dada untuk mengecek situasi sekaligus memastikan kedua orang tua sahabat Introvert-nya telah kembali atau belum. Sampai tiba-tiba Reyhan dikagetkan oleh seorang pria berseragam putih yang muncul dari arah kanan.


“Mas Reyhan?”


“Kaget gue, Jir- eh maaf, Sus! Tiba-tiba nongol gitu, kirain setan tadi yang nyamperin saya.”


‘Buset, dah. Ini suster cowok tahu amat nama gue? Apa gara-gara muka sama identitas nama lengkap gue sudah viral dan terkenal di berita kali, ya? Atau ngeliat nama depan gue di name tag seragam gue?’ batin Reyhan dengan meringis.


“Sudah terlalu rawan setan lewat di sekitar dalam rumah sakit ini, Mas. Saya datang ke lantai empat karena ingin bertugas menjaga pasien yang ditangani oleh dokter Ello Hanendra.”


“Oalah. Begitu ya, Sus? Kebetulan kami bertiga selaku orang terdekatnya Angga ingin pulang,” ucap Jova sopan usai melangkah mendekati sahabat lelakinya bersama Freya.


“Yasudah, Mba. Kalau kalian mau pulang, pulang saja nggak masalah. Kasihan habis pulang sekolah pasti capek banget, biar gantian saya yang menjadi penjaganya mas Anggara di ruang intensif sambil nungguin pak Agra dan bu Andrana kemari,” tutur ramah sang perawat penjaga.


Freya tersenyum lebar sampai kedua matanya menyusut. “Wah, terimakasih banyak, ya Suster. Kalau seperti itu kami mau pamit pulang dulu.”


“Iya. Sama-sama, Mba Freya yang Cantik!”


‘Bisa juga nih suster gombalin sahabat plain gue,’ batin Jova seraya menggelengkan kepalanya samar.


Reyhan hanya sebatas memberikan senyumannya lalu bola matanya beralih ke pusat pandangan seseorang dengan berpakaian serba hitam bersama maskernya yang seperti sedang mengintip pembicaraan mereka berempat. Karena ketahuan, lelaki misterius itu segera menarik badan dirinya sendiri ke balik tembok.


Reyhan melepaskan semula kedua tangannya dari gaya lipatannya di dada bidangnya bersama menatap serius nan tajam pada pemuda misterius itu yang telah gesit menghilang alias sembunyi di batasan tembok berwarna cat putih. Sang lelaki Friendly semakin mengernyitkan dahinya karena merasa jiwanya begitu penasaran atas kehadiran sosok misterius tersebut.


Siapakah dirinya?

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2