Indigo

Indigo
Chapter 149 | Trapped In Villa Ghosmara


__ADS_3

Angga melepaskan tangan Freya perlahan dari lehernya lalu memutar badannya ke belakang dan memeluk lembut kekasihnya. “Jangan takut, ada aku.”


Angga mengelus lembut belakang kepala Freya kemudian kekasih itu mengangguk dan mengintip hantu wanita tersebut melalui atas bahu kiri Angga. Gadis cantik polos itu terkejut lagi karena telah tidak melihat ruangan gelap tersebut. “Lho? Ruangannya kemana? Kok tiba-tiba hilang?! Apa jangan-jangan kamu habis masuk ke dalam dimensi tempat hantu itu?! Hih, mengerikan!!”


Angga tersenyum sumringah lalu tertawa mendengar kepanikan bingung Freya yang membuat hatinya geli dalam sekejap. “Ruangan itu ditutup pakai pintu, Sayang. Bukan karena itu adalah dimensi alamnya.” Setelah itu, Angga melepaskan dekapannya dari tubuh mungil Freya lalu menunjukkan dirinya ke arah lain yang ada di belakang pujaan hatinya.


“Kenapa?” tanya Freya masih menatap mata menawan Angga.


“Coba kamu menoleh ke belakang dan ikuti arah dari tudingan tanganku. Di dekat saklar lampu, terdapat sebuah kotak putih dengan tombol lingkaran warna merah di tengahnya.”


Freya mengikuti arah tunjukan jari telunjuk milik Angga dan benar saja, ada tombol merah di samping pintu kamar. Gadis cantik berambut hitam panjang sepunggung itu mengedipkan kedua matanya karena masih tidak mengerti. “Lalu?”


“Kalau kamu ingin tahu, aku membuka pintu bersama gabungan tangga itu menggunakan tombol yang ada di sana.”


Mulut gadisnya Angga menganga dengan mata membulat sempurna. “Wow! Aku kira hal kayak begituan hanya bisa di film Fantasi yang sering aku tonton kalau sore dan malam.”


Angga menekan dua sisi hidung Freya lalu menarik hidung putih mancung itu membuat kekasihnya mengambil protes dengan merengek. “Jangan tarik hidungku, sakit!”


“Habisnya aku gemas. Kamu terlalu kebanyakan nonton dunia fantasi di laptop, jadinya malah terforsir ke dunia nyata, deh.”


“Tapi kan ceritanya bagus,” cicit Freya seraya menyentuh hidung mancung miliknya.


“Iya, bagus seperti model tubuhmu.” Perkataan Angga membuat kedua mata Freya melotot.


“Ih, apaan sih? Gombal ...”


‘Cowok salju kayak Angga ternyata juga bisa menggombal, ya? Pasti ini virusnya Reyhan sudah lama menular ke sifat pacarku.’


Angga merangkul Freya lalu membisikinya di telinga kekasih hatinya. “Gitu-gitu kamu suka, kan?”


Kedua pipi Freya langsung bersemu merah dengan detak jantung berdebar tak menentu, bahkan saking salah tingkahnya kepada cahaya mata tampannya gadis cantik nan jelita tersebut mendorong dada bidang Angga untuk menjauh darinya.


“Bisa tidak, jangan dengerin suara hatiku?!”


“Jangan salahkan aku, dong. Kekuatanku itu secara spontan, Cantik.”


Angga mulai meraih pucuk kepala Freya lalu mengusap-usapnya dengan senyuman lebarnya, hal itu berjaya membuat Freya menatap kedua mata abu-abu autentik dari lahir milik pujaan hatinya bersama mengulas senyuman manisnya seperti makanan gulali.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Kepala Jova celingak-celinguk dengan mengigit bibirnya bagian bawah lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Anjir ... kok gue malah jadi juga khawatir sama si Angga, sih? Nyusul, ah!”


Jova langsung berdiri dari duduknya lalu berlari meninggalkan kamar Reyhan untuk menyusul Freya. Sementara Rena melongo menatap kepergian teman jiwa Tomboy-nya yang malah ikut-ikutan menghampiri diri Angga.


“Itu bocah sama aja!” ucap Rena sambil menepuk keningnya.


Di sisi lain, Jova yang tengah berlari kecil melihat pintu kamar sahabat lelakinya terbuka setengah lebar. Mungkin saja Freya saat ini sedang berada di sana untuk Angga. Saat tiba masuk ke dalam kamar, rupanya terdapat sosok sepasang kekasih yang posisinya duduk bersama senyuman mesra yang saling mereka patri.


“Buset, dah! Malah bermesraan di sini!” Suara Jova yang celetuk tiba-tiba membuat Angga dan Freya yang hendak bangkit berdiri, tertunda lalu menoleh ke arah sahabat mereka yang menggelengkan kepalanya seraya berkacak pinggang.


“Kamu ngapain ke sini? Kan aku sudah bilang, di kamar Reyhan saja,” ujar Angga sedikit dingin.

__ADS_1


“Tadi aku denger teriakan suara Freya manggil nama pendek-mu. Kamu habis kenapa?” tanya Jova dengan melangkah mendekati kedua sahabatnya.


“Itu tadi Angga jatuh dari tangga. Tapi katanya dia nggak kenapa-napa, padahal jatuhnya keras banget.” Freya merespon pertanyaan Jova yang harusnya menjawab itu adalah Angga.


“Hah? Tangga?? Tangga yang mana? Tangga yang di luar kamar itu, kah?”


Freya menggelengkan kepalanya. “Tangga loteng, tapi pakai cara khusus untuk membukanya. Dan yang pertama tahu dari antara kita semua adalah Angga.”


Jova beralih menatap Angga. “Cara khusus apaan? Kamu pake acara mantra-mantra gitu buat munculin tangga loteng di sekitar kamarmu?”


“Heh, aku gak memakai mantra! Mencoba sekalipun juga nggak pernah, ada tombol sesuatu yang untuk membuka pintu ukuran panjang di atas dinding.”


“Atas dinding?” Jova mendongakkan kepalanya mencari pintu panjang di sekitar langit-langit dinding kamar Angga hingga menemukannya setelah beberapa detik, nyaris menit. “Oh my gosh ! Yang di atas kita bertiga itu, ya?! So amazing, Cuy!”


“Biasa saja kagumnya, gak usah lebay.” Angga menggelengkan kepalanya dengan mengukirkan senyuman tipisnya pada Jova.


Sahabat perempuan Tomboy-nya yang berambut cokelat dan pemilik mata hazel seperti Reyhan tersebut, menoleh menatap Angga lalu cengengesan. “Maap, Ganteng! Yasudah yok, keluar.”


Freya dan Angga menganggukkan kepalanya kompak lalu mulai keluar dari kamar bersama Jova yang sudah jalan duluan di depan mereka berdua. Karena Angga yang paling terakhir keluar dari ruang kamarnya, tangannya menarik pintu hitam untuk menutupnya dengan rapat.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Pemuda tampan tersebut di pinggir kasur Reyhan tengah mengecek kondisi ponselnya yang sempat mati dengan sendirinya saat sebelum menuju loteng dimana ia menemukan sebuah buku tebal hitam sesuai mimpi beserta diserang oleh hantu wanita Prancis tersebut.


Beruntung saja waktu tombol sisi ponselnya Angga tekan secara lama, HP Androidnya kembali menyala seperti semula. Dirinya menghembuskan napasnya pelan dengan menggelengkan kepalanya, sementara yang lainnya tengah berada di ruang dapur untuk sarapan.


Otaknya tersirat sebuah tentang buku tebal bersampul warna hitam di chest peti kecil perak saat tadi di atas loteng. Angga berusaha tidak mengambil negatif thinking, karena memang dari dasarnya Angga selalu menggunakan pikiran positif. Dan entah kenapa hari ini dirinya terlalu sulit membuang pikiran lapuk tersebut.


Ada apa ini? Setelah menatap buku tebal non cover apapun, mimpi buruk sang kekuatan terdalamnya yang direbut oleh sosok misterius nang tak ia kenal kini terus menghantui pikirannya. Meski begitu Angga tetap bersikeras menghempaskan itu semua, agar ia tidak terlalu banyak pikiran. Jika pemuda tersebut membiarkannya begitu saja, itu akan malah menyakiti dirinya sendiri.


“Astaghfirullah ...” Angga mengucapkan kata Istighfar dengan lirih seraya menyentuh kening tengahnya dikarenakan kepalanya terasa sedikit sakit.


Terpikir semua alur mimpi yang dirinya ingat, membuat Angga tak sedikitpun merasakan lapar yang padahal sebentar lagi waktu siang akan tiba. Hingga berselang menit kemudian dirinya yang masih duduk di pinggir kasur untuk menemani Reyhan yang belum pula sadarkan diri, samar-samar Angga mendengar suara seseorang yang batuk dalam layaknya kondisi mulut bungkam.


Angga menolehkan kepalanya dengan mata pandangan fokus menatap wajah pucat sahabatnya. Sontak, dirinya langsung menaruh ponselnya di kasur tepat sebelah kirinya kemudian bangkit berdiri untuk melangkah mendekati Reyhan yang masih terbaring lemah.


Kedua mata yang lumayan lama menutup itu perlahan terbuka lemah menampilkan iris mata berwarna cokelat hazel tersebut. Kesadaran dari Reyhan membuat Angga tersenyum haru bersama hati yang ikut terenyuh, ia meraih lengan sahabatnya untuk Angga genggam.


Usai memfokuskan pandangan untuk memudarkan buramnya dari mata, dengan lemah Reyhan mengarahkan bola matanya ke samping dikarenakan ada seseorang yang menggenggam lengannya. Matanya langsung bertemu pada Angga yang sedang tersenyum kepadanya tak juga dirinya yang menampilkan senyum.


“Ada rasa sakit?” tanya Angga.


Reyhan hanya diam bisu tak ingin menjawab pertanyaan pemuda tampan itu yang merupakan sosok sahabat terbaik dan terhebatnya. Angga mengerti, akibat dari apa yang Reyhan alami berdampak sahabatnya menjadi seperti ini.


Angga menghela napasnya lalu berjongkok sambil menyentuh bahu lemas bagian kiri Reyhan. “Lo sudah aman, tidak ada lagi yang melakukan sesuatu untuk mengancam nyawa lo. Dan lo tidak perlu khawatir, karena mereka bertiga nggak akan mengincar diri lo untuk kesenangan mereka karena jika lo bersama kami, mereka gak akan mungkin bisa mengambil tubuh lo dari kami.”


Reyhan hanya mengangguk percaya pada seluruh ucapan yang dilontarkan oleh Angga. Dirinya juga merasakan bahwa sekarang ia berada di posisi situasi yang aman dan tak ada ketegangan nang meliputi hatinya.


“Lo haus? Lapar? Kebetulan yang lain sedang ada di ruang dapur untuk membuatkan sarapan, kalau lo mau gue bisa turun dari tangga untuk ambilkan elo makan dan minum.”


Reyhan menggelengkan kepalanya tanpa pandangan berpaling dari wajah teduh sahabatnya. “Thanks, tawarannya ...”

__ADS_1


Angga menganggukkan kepala dengan tetap senyum. “Jika gue sarankan, lo jangan bangun dulu, ya? Luka lo belum kering.”


“Luka?” Setelah itu, otak milik Reyhan langsung terputar kepada peristiwa dimana tubuhnya dikenakan oleh pistol untuk ditembaknya hingga menimbulkan luka beserta darah yang mengalir.


Apalagi sekarang lelaki Friendly tersebut menyingkap selimutnya yang menutupi dadanya lalu membuka baju hoodie-nya dari bawah ke atas untuk melihat keadaan luka perutnya. Rupanya luka yang dibuat oleh Fino telah diobati serta ditutupi oleh perban kasa yang darahnya terlihat tembus.


Reyhan kembali menutup perutnya, sedangkan Angga menarik selimut tebal yang dikenakan Reyhan hingga sampai ke dadanya. Reyhan balik menatap sang sahabat yang usai menarik selimutnya. “Lo yang ngobatin?”


“Iya. Untung saja peluru itu berhasil dikeluarkan, gue juga mustahil membawa lo ke rumah sakit untuk meminta pertolongan medis di sana, karena hutan ini sangat jauh dan membutuhkan beberapa jam untuk menuju ke salah satu bangunan rumah sakit di kota Bandung ini.”


Reyhan sedikit menarik kedua sudut bibirnya. “Kalau dilihat segala cara lo, lama-lama kayak dokter, ya? Semuanya bisa. Lebih baik saat sudah kelas dua belas nanti, lo langsung ke tingkat saja. Jadi ketua PMR setelah bang Johan lulus, sekalian menggantikan kakak kelas kita, kan?”


Angga mendengus walau masih terdapat sunggingan senyum di bibir tipisnya. “Why? Gue saja menjadi wakil sudah bersyukur banget.”


Reyhan rada terkekeh pada penuturan jawaban sahabat satunya itu. “Lo sudah sarapan?”


Angga menggelengkan kepalanya. “Belum. Gue nggak ada rasa nafsu untuk sarapan, biar mereka saja yang dibawah melakukan aktivitas mengisi perut masing-masing.”


Reyhan mengernyitkan keningnya. “Kenapa? Gue kan sekarang sudah sadar.”


“Bukan, bukan karena itu.”


“Terus? Ayolah, Bro gue saat ini nggak bisa baca pikiran orang termasuk elo. Mungkin karena kondisi gue yang masih lemah, berpengaruh juga dengan kelebihannya gue.”


“Lain kali saja gue akan cerita. Untuk sekarang lebih baik lo kembali istirahat saja, gue gak mau membebani pikiran elo yang keadaan lo masih seperti ini.”


Reyhan hanya diam mengerti. Menatap mata Angga sekalipun, dirinya tidak mampu membaca pikiran sahabatnya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Mungkin Reyhan harus menunggu pada tepat waktunya untuk Angga menceritakan semuanya apa yang terjadi dengannya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di hari ke berikutnya, Angga kini sedang berada di ruang makan bersama lainnya terkecuali Reyhan yang masih beristirahat total di dalam kamar. Mana mungkin Angga mau sarapan kalau kekasihnya tidak memaksa dirinya? Freya memaksa demi kesehatan dan pencernaan lambung lelaki tampan pendiamnya.


Aji yang sibuk mengiris telur dadar dari masakan keempat perempuan temannya pakai sendok, mulai menoleh dan menatap Angga yang akan hendak mengangkat gelas berisi air putih. “Ngga? Reyhan kenapa, ya dari kemarin setelah sadar dari pingsan diem amat? Trauma kejadian?”


“Reyhan kalau sakit memang banyak diam. Bukan karena masalah trauma kejadian yang dia alami,” respon Angga menanggapi lalu meneguk air putihnya.


“Baru tahu, gue.” Aji menoyor kepala Jevran usai mengucapkan perkataan tersebut.


“Sakit, Anying Ajinomoto! Apaan sih, lo?!” protes Jevran sembari memegang ujung kepalanya.


“Heh, elo tuh tetangganya Reyhan tapi tentang Reyhan lo nggak tahu. Padahal kan lo kenal Reyhan dari kecil, sedangkan Angga kenal Reyhan cuman dari SMP sampai sekarang.”


Jevran meringis dengan cengengesan. “Ya, maklum. Gue kan sama Reyhan gak terlalu dekat hingga gue kurang tahu banyaknya tentang Reyhan. Kalau Angga, sudah pakarnya kayak saudara kandung.”


Angga hanya menghela napasnya dan mulai melanjutkan makan-nya yang sempat ia tunda sebentar untuk meminum air putih. Tiba-tiba saat mereka semua tengah menikmati sarapannya dengan obrolan senda gurauannya, pintu utama villa yang sampingnya terbuka cukup lebar untuk udara angin masuk, sekarang tertutup kuat secara membanting.


Ketujuh remaja tersebut terperanjat kaget kemudian menoleh bersamaan ke arah pintu villa. Tanpa menatapnya lama, Angga segera menarik kursinya ke belakang dengan badannya lalu bangkit berdiri dan berlari mendatangi pintu villa utama yang kondisi kini tertutup rapat. Tangan kanan Angga di depan pintu hitam, sibuk mengotak-atik handle pintu Stainless untuk menariknya agar terbuka kembali.


Karena tidak berhasil, Angga mencoba beralih memegang kunci pintu yang tergantung di tempatnya lalu memutarnya ke kiri dan ke kanan secara bergiliran, namun sayangnya tetap nihil. Angga menghela napasnya pasrah kemudian langsung menoleh ke belakang menatap kekasihnya, sahabatnya, dan keempat temannya.


“Pintu ini terkunci. Gue nggak tahu kenapa, dan mungkin kita semua sudah terjebak naas di dalam bangunan villa Ghosmara.”

__ADS_1


“APA?! TERJEBAK??!!”


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2