Indigo

Indigo
Choice


__ADS_3

"Mudah saja memilih,


Antara senja yang meninggalkanmu saat gelap menyapa,


Atau fajar yang senantiasa menyambut ketika kamu membuka mata."


-------


Jean masih diam dengan kening berkerut dan bibir mengerucut.


Di hadapannya, ada Kaisha yang sedang bernegosiasi diiringi ketiga pemuda lainnya yang ikut mendukung ucapan vokalis itu.


"Kata dokter, gue kena radang tenggorokan. Kalo dipaksa nyanyi, pita suara gue taruhannya," jelas Kaisha.


"Niat awal, Kaisha bahkan mau keluar dari band karena dia bilang lebih suka sama kegiatan PMR, tapi bu Ina gak ngizinin karena tau Kaisha punya potensi," sambung Aris.


"Tsunami kali ah, berpotensi."


Jean berpura-pura melihat jendela ketika semuanya menoleh mendengar celetukan asalnya.


"Terus kenapa kalian akhirnya milih Jean buat ganti posisi vokalis?"


"Tau tuh, mana kagak nanya-nanya dulu sama orangnya," sarkas Jean.


Rega menepuk keningnya setengah depresi.


"Soalnya kata Rega, Jean punya suara bagus," jawab Nino santai.


Rega melirik sambil meneguk salivanya lambat. Jean tampak menatapnya seakan-akan detik selanjutnya laser akan menembus tubuh Rega.


"Tunggu aja, tunggu," ucap Jean melirik Rega.


Tunggu balik-balik ke kelas meja lo gue bakar sama orang-orangnya sekalian, lanjut Jean dalam hati.


Krisna beralih menatap Jean, "Jadi keputusan lo? Setuju?"


"Setuju kok. Tapi mendadak supir angkot yang sering mangkal deket gang pulang kampung sebulan, terus gak ada kendaraan lain buat ke sekolah," cetus Jean enteng.

__ADS_1


Jelas dia tidak mau rugi.


Lima orang di ruangan itu menghela napas. Mengerti maksud terselubung alias udang dibalik batu dari gadis itu.


"Salah satu bakal anter-jemput lo selama sebulan penuh," jawab Krisna.


"Mendadak, gue pengen beli novel deh. Tapi lupa bawa uang. Gimana ya?"


***


Bel pulang memekik di seantero sekolah, namun suaranya kalah oleh riuh gaduh dari murid-murid yang berdesak-desakan keluar pintu kelas.


Jean melangkah keluar kelas dengan santai, kakinya yang terbalut converse biru tua kemudian berhenti ketika matanya menangkap sosok yang berdiri bersandar di tembok samping kelas X IPS 4.


"Ngapain lo?"


"Mau nganterin lo pulang, sesuai kesepakatan."


Gadis itu mengerutkan alis, "Lo bukan anggota band, ngapain lo yang nganterin gue?"


"Mereka ngakunya sibuk," jawab pemuda itu, tak lain Krisna.


"Rumah lo dimana?" tanya Krisna ketika lampu merah tampak menyala dan kendaraan di sekitarnya sontak berhenti.


"Di bawah langit di atas tanah," jawab Jean lalu membenarkan posisi helmnya.


"Ngambang dong?"


Jean menabok lumayan keras punggung Krisna sebelum menjawab, "Pertigaan di depan belok kiri, terus lurus."


Ketika lampu kembali menunjukkan warna hijau, Krisna melajukan motor Ninja Kawasakinya mengikuti arahan Jean hingga keduanya tiba di depan sebuah rumah yang awalnya Krisna kira adalah asrama.


Namun melihat tulisan di tembok samping gerbang, Krisna mengubah pertanyaannya.


"Lo tinggal di kost?"


Jean melepas helm, "Iya, kenapa?"

__ADS_1


Krisna menggeleng, "Gak apa-apa."


Gadis di depannya mengangguk acuh, "Mau mampir?"


"Gak usah, gue buru-buru."


"Hm, hati-hati di jalan. Makasih tumpangannya."


Krisna mengangguk sambil tersenyum tipis, motor hitam itu kemudian melesat meninggalkan Jean yang mulai masuk ke area kost-an.


"Je!"


Jean menoleh, dilihatnya Qia. Anak rantauan dari Bangka Belitung yang sudah bekerja itu keluar menghampirinya di teras.


"Dia ke sini lagi," ucap Qia memberi tahu.


Jean menghela napas, "Gak aneh-aneh 'kan kak?"


Qia menggeleng, "Gak kok."


"Yaudah, kalo dateng lagi anggap aja kakak gak ngeliat. Aku masuk dulu ya, gerah."


Qia mengangguk.


Jean menyeret tas biru tuanya lalu sedikit membantingnya ke ranjang, disusul tubuhnya yang ikut berbaring menatap langit-langit kamar yang polos.


Tanpa sadar, matanya memejam.


Mengantarkan pada alam bawah sadar, dimana semuanya bisa terjadi sesuai keinginan pribadi.


Jean terbuai.


'''''''''''


Aloo, ada yang masih nungguin cerita ini?


Buat yang mau repot-repot vote dan komen Indigo, makasih :) karena itu buat aku selalu senyum tiap liat notifikasi.

__ADS_1


Ngomong-ngomong, panggil Author 'Kim' aja ya. Jangan 'Au' apalagi 'Thor'.


Itu aja, tetap tunggu Jean dengan segala keabsurd-annya ya ....


__ADS_2