
Di dalam mobil Reyhan hanya diam menatap pemandangan kota Jakarta yang lumayan berbeda dari yang ia lihat dahulu, seperti ada bangunan sesuatu yang telah direnovasi serta ada yang didekorasi menjadi menarik. Mungkin perancangan pembangunan itu semenjak lelaki tersebut masih terbaring Koma di RS Wijaya.
4 bulan dirinya tidur panjang di ruang ICU, kini saat bangun kembali dan terbebas dari rumah sakit, pemuda itu disuguhkan pemandangan indah yang belum ia lihat pada sebelumnya. Cukup membuat Reyhan terkagum atas bangunan yang telah direnovasi tersebut, seperti cafe, restoran, dan lain-lainnya.
“Jangan ngelamun, Rey. Kemasukan Jin, Papa nggak mau tanggung jawab ya.” Farhan membuka suaranya dalam posisi pria paruh baya itu tengah menyetir mobil.
“Ngaco, kali! Siapa juga yang ngelamun! Orang cuman lihat bangunan kota doang, kok!”
“Lah? Ngegas sama Papanya?! Kamu suka ngegas mana ada cewek yang mau pacaran dengan kamu? Ramah, sih tapi percuma kalau bawaannya ngegas. Hahahaha!”
“Masih mending, lah Papa? Dulu apa-apa suka tawuran, udah kayak gangster aja!” serang balik anak tunggalnya.
Farhan sedikit menoleh ke belakang. “Enak aja mulutnya! Papa gak suka tawuran, lho! Kamu tuh yang suka jotos-jotosan, di sekolah pasti kamu sering jadi langganan ruang BK, kan gara-gara suka main baku hantam?!”
“Ngawur! Siswa teladan kayak Reyhan gini, gak mungkin pernah masuk ruang BK.”
“Heleh, masa?” cibir sang ayah yang sedang ingin memancing emosi Reyhan.
“Astaga Reyhan, Papa! Kalian kenapa ribut sih, hah? Papa juga, perasaan dari tadi pengen mancing emosi anaknya terus. Berantemnya stop, mau sampai rumah juga malah jadi bertengkar.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah menempuh perjalanan ke komplek Kristal dan tiba di rumah, kini sekarang Reyhan tengah duduk di atas kasur empuk dalam kamarnya yang telah lama ditinggal berbulan-bulan. Di situ, pemuda tersebut sudah tak bisa apa-apa selain ada di kamar. Berjalan pun dirinya masih belum mampu sekali. Tapi dirinya yakin, dengan mengonsumsi obat-obatan resep dokter yang kemarin sore telah diberikan oleh perawat, ia pasti akan cepat sembuh.
Untuk saat ini, Reyhan cuma bisa meratapi nasib yang memalangkan seperti kondisinya ini. Sekarang lelaki itu sedang berpikir apa yang ingin ia lakukan. Menonton film di ponselnya sepertinya adalah ide yang bagus untuk melenyapkan rasa kebosanan.
Segera ia rogoh saku celana depan jeansnya untuk mengeluarkan handphone, kemudian mulai mencari rekomendasi film genre terbaik yang menjadi kesukaannya. Tapi nampaknya, semuanya adalah genre Horor. Dari klip video sudah terlihat menarik namun tak untuk Reyhan. Reyhan terus scroll ke bawah buat mencari film lainnya. Thriller? Cukup bagus, Reyhan akan memencetnya untuk menonton film full dari salah satu genre Thriller yang ia temukan.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Galaxy Admara - Lapangan Olahraga
Seluruh murid pak Robby yang sedang beristirahat setelah berolahraga. Tetapi saat pak Robby akan mengumpulkan beberapa jenis bola yang tergeletak di atas rerumputan hijau, pak Robby tak sengaja melihat kening bagian sentral Jova yang terlihat biru keabu-abuan.
“Jova, itu jidat kamu kenapa? Kok bisa jadi gitu??” tanya pak Robby sedikit keras.
Kesemua murid beliau menahan tawa terkecuali Angga apalagi Jova. Jova merasa amat malu, sialnya dirinya tak mempunyai poni untuk menutupi keningnya itu, bodohnya lagi tadi pagi gadis tersebut tidak menutupi jidatnya menggunakan bedak penuh agar tak terwujud hantaman tiang listrik itu. Jova menoleh Angga ke belakang yang tengah duduk sendirian di bawah kursi tribun, pemuda tampan tersebut nampak tenang meminum botol air yang ia bawa dari rumah.
Jova menoleh ke depan dengan wajah kesal lalu menatap pak Robby seraya menuding Angga. “Salahnya Angga, Pak! Gara-gara cowok itu jidat saya jadi gak estetik lagi!”
Angga yang menangkap suara Jova di pendengaran tajamnya, langsung menurunkan botol minum Tupperware miliknya sambil menatap bingung pada Jova yang tiba-tiba menyalahkannya. “Kenapa aku?”
Gadis tomboy itu mendengus dengan menoleh ke belakang untuk menatap tajam Angga lagi. “Ya kamu, toh! Yang bikin aku kejedot tiang listrik, kan dirimu! Bukan setan!”
Angga menghela napasnya dengan wajah pasrah kepada kesalnya Jova yang meluap, dirinya memilih diam menutup tutup botol minumnya. Daripada ujungnya nanti jadi ada perdebatan antara ia dan sahabat perempuannya, Angga memutuskan diam mengalah saja.
“Buset! Kamu kejedot tiang listrik?! Hahahaha, kok bisa sih, Va? Mangkanya kalau jalan itu lihat-lihat. Terus, kok kamu malah nyalahin Angga? Memangnya sahabat kamu salah?”
“Iya dong, Pak! Angga yang salah. Tukang mengacau karya orang!” sembur Jova menatap nyalang Angga yang hanya ditanggap Angga hela napas.
“Kenapa diam aja?!” tanya Jova dengan masih sebal sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Lalu aku harus gimana? Gak ada yang penting juga.”
“Apa?! Argh! Lama-lama naik darah, aku kalau begini caranya ngadepin cowok dingin melebihi es batu kayak kamu!”
“Terserah.”
Freya yang melihat Angga dari jauh, menggelengkan kepalanya pelan beberapa kali dengan mesem. Perasaan waktu kemarin hari Minggu sikap sahabat kecilnya tak seperti hari ini. Tapi sekarang malah kembali seperti aslinya lagi, terkadang Freya tak mengerti jalan pikiran Angga seperti apa sebenarnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Komplek Kristal - Kamar Reyhan
Sore hari menampakkan langit senja dan Reyhan yang begitu lelah masih menikmati tidurnya. Hingga tibalah satu suara buka pintu dari kamarnya, seorang gadis tomboy mengintip kamar sahabatnya yang sang empu rupanya sedang nyaman dalam tidurnya tersebut.
Jova yang pertama masuk ke dalam kamar rawat secara berjinjit-jinjit, sementara Angga yang terakhir masuk ke dalam kamar sahabatnya langsung menutup kembali pintunya dan melangkah mendekati kasur Reyhan.
__ADS_1
“Uluh uluh uluh, si Kunyuk lagi enakan tidur ternyata. Sedap banget hidupnya,” ujar Jova dengan menggelengkan kepalanya.
“Kamu ngomong apaan, sih? Reyhan kan masih sakit, ya biarin kali dia tidur. Jangan kayak kamu dari tadi ngajak ribut mulu sama Angga, sampai yang kamu ajak perang mulut jadi pusing.” Freya protes pada Jova lalu mengarah ke Angga yang tak tahu sejak kapan lelaki itu sudah ada di luar balkon kamar Reyhan.
“Sukurin pusing! Salah siapa bikin aku kesel?!” Jova melengos menghampiri beberapa koleksi topi Reyhan beserta koleksi jenis-jenis topengnya. Freya yang mendapatkan responsnya Jova seperti itu hanya menghela napasnya, gadis lugu tersebut memilih duduk di pinggir kasur sahabat friendly-nya.
Angga sendiri yang posisi tubuhnya menghadap belakang cuma mendengus tanpa memedulikan ucapan Jova nang masih saja sebal padanya. Hingga 4 menit Angga berdiri di sana, pemuda pendiam itu disapa oleh Jevran yang tengah mengambil sesuatu di luar balkon kamarnya. Angga membalasnya dengan cukup anggukan kepala dan setelah itu bersama senyuman khasnya, Jevran kembali masuk ke dalam kamarnya.
Reyhan yang mulai bangun, membuka matanya yang di posisi dirinya berbaring di atas kasur. Mengucek-kucek matanya dan melihat arah depan. Terkejut setengah mati saat dirinya berhadapan sesosok wajah menyeramkan penuh bercak darah menghiasi muka hancur tersebut. “Waaaa!! Ya Allah Ya Robbi! Allahu Akbar! Apa itu Ya Allah?! Baru saja bangun dari bobok, Tiba-tiba ada muka burik di depan Hambaaaa!!”
Reyhan yang ketakutan segera menelungkup wajah tampannya bersama guling yang ada di kirinya. Merapatkannya agar dirinya tak bisa melihat wujud tersebut. Angga yang di luar ikut terkejut karena teriakan Reyhan, lelaki Indigo itu kemudian berbalik badan memasuki kamar sahabatnya untuk mengecek ada apa dengan sahabatnya hingga berteriak.
Jova serta Freya melongo melihat ekspresi kaget tambah takutnya Reyhan. Freya mendengus kesal dan menatap Jova yang mengenakan topeng Horor milik Reyhan. “Gara-gara kamu! Lepas topengnya, terus minta maaf sama Reyhan!”
“Ilih, kan aku nggak sengaja!” Jova merengut sambil melepaskan topengnya dari wajah. Menepuk-nepuk pinggang Reyhan untuk memanggilnya. “Rey, cuman topeng doang, kali. Gak ada demit di kamarmu.”
Reyhan langsung menyingkirkan gulingnya dari muka lalu melambai kepalanya ke depan melihat Jova dengan masih menampilkan wajah ketakutannya. “T-topeng?! Astaga kirain momok!”
Reyhan membangunkan tubuhnya untuk berposisi duduk. “Kamu ngapain sih ngagetin aku pake topeng segala?! Untung jantungku masih aman, kalau gak. Mati deh diriku!”
“Eh gak boleh ngomong gitu! Jova tadi sebenernya cuman iseng pake topeng hantu kamu, Rey. Kebetulan aja kamu bangun, hehehehe.”
“Maaf, ye hehehehe. Heran banget aku, masa topeng sendiri takut? Ini kan punyamu, Nyuk.”
“Tau! Tapi, kan .. aku baru aja abis bangun tidur, ya pasti jelas kaget banget, lah! Sori, aku sekarang mudah kagetan.” Reyhan baru sadar kedua sahabatnya masih mengenakan seragam OSIS hari senin yang mana mestinya memakai jas almamater. “Ngomong-ngomong kalian habis pulang sekolah, ya?”
Freya menganggukkan kepala dengan senyuman manis cantiknya. “Iya, Rey. Jadi kesempatan kami bertiga jenguk kamu dulu deh di rumah.”
“Bertiga ke sini-nya? Terus kalau bertiga, lah si Angga?”
“Itu tuh lagi ngeliat foto-foto di tembok.” Jova menunjuk Angga untuk Reyhan, sementara Freya beranjak berdiri dari kasur Reyhan dan mendatangi sahabat kecilnya yang nampak fokus memandangi salah satu bingkai foto milik Reyhan.
Di sebelah bingkai foto Reyhan dan ketiga sahabatnya yang memakai gaya pose bebas, terdapat bingkai foto yang membuat otak Angga terputar saat itu juga. Seorang gadis kecil berwajah putih imut yang gembira di atas punggung Reyhan bagaikan anak perempuan tersebut sedang menaiki pesawat terbang, senyuman cerianya semakin Angga fokuskan pada gambar tersebut.
“Kenapa, Ngga?” tanya Freya yang telah ada di sampingnya.
Reyhan yang tengah di ajak ngobrol pada Jova, menolehkan kepalanya ke arah Freya yang sahabat polosnya menatap wajahnya. “Oh, itu adik sepupuku. Bukan kandung, hahahaha!”
“Aku tau dong, kamu kan di sini anak tunggal kayak aku sama Angga.” Freya berjalan mendekati kasur Reyhan diikuti Angga dari belakang. Gadis tersebut kembali duduk di pinggir kasur sembari memandangi adik sepupu perempuan Reyhan yang terlihat menggemaskan.
“Kalau kamu mau tau dia namanya siapa, nama adik sepupuku Dania Anggita Sabrina. Panggilannya Dania, umurnya masih tujuh tahun kelas satu SD.”
Freya menyerahkan bingkai foto yang ia pegang ke Angga yang sedari tadi menatapnya, Angga menerimanya lalu memandanginya karena dirinya merasa pernah melihat gadis kecil menggemaskan ini yang rupanya adalah adik sepupunya Reyhan. “Sekolahnya dimana, Nyuk?”
Reyhan menanggapi pertanyaan Jova, “SD Bakti Siswa. Kadang kalau Sabtu ada waktu senggang, aku jemput Dania terus ajak main ke sini pas pulang sekolah. Kalian tau kan SD Bakti Siswa?”
‘Bakti Siswa? Ternyata adik sepupunya bersekolah di sana, tempat Neraka itu ...’ batin Angga dengan wajah lesu, dirinya tentu ingat sekolah SD tersebut. Itulah tempat dimana Angga hingga memiliki masa lalu suram yang sampai sekarang masih teringat di memori otaknya.
Angga menyentuh wajah Dania yang ada di dalam gambar foto nang dilapisi kaca itu. ‘Gue pernah lihat anak kecil ini, tapi gue gak inget dimana gue lihatnya. Dari nama panjangnya gue ngerasa juga pernah denger.’
“Eh lo kenapa, Ngga? Jangan bilang lo pernah lihat adek sepupu gue,” tebak Reyhan dengan tertawa.
“Gue dibuat dejavu sama adik sepupu lo yang namanya Dania ini. Gue pernah ngeliat, tapi gue nggak ingat dimana gue lihat dirinya.”
“Eh?! Jadi lo pernah lihat Dania? Tapi lo sendiri kagak inget lihatnya dimana? Wah udah parah itu otak lo Ngga, hahahahaha!”
“Eh, Nyuk. SD Bakti Siswa kan yang deket SMP Erlangga, sekolah kita bertiga dulu yang sekarang udah ditempati adekku Nova belajar. Ya gak, sih??”
“Yoi. Meskipun Dania cuman sepupuku, tapi seneng bener karena dia dapet temen yang baik-baik. Eh tapi kalau gak salah, Dania pernah ngomong sama aku kalau dulu di kakak kelas enam dulu ada yang dibully. Ck, parah banget! Emang dulu itu SD ada kasus pembullyan kali, ya?”
Angga yang mendengarkan itu langsung menundukkan kepalanya dengan wajah penuh penderitaan. Mungkin yang dimaksud Dania yang gadis kecil itu bicarakan pada Reyhan adalah kasus mengenai dirinya saat Angga diperlakukan sejahat itu waktu tahun yang sudah sangat lama. Masih Angga ingat jelas bagaimana mereka menghujatnya dan yang pastinya menginginkannya untuk lenyap dari sekolah SD yang bernama Bakti Siswa.
Cacian maki, kekerasan fisik tubuh yang menjadi babak belur masih ada bayangan itu berada di benak Angga. Angga bukan takut melawan mereka, tetapi ia tak ingin memperpanjang masalah besar apalagi kalau kaitan itu sudah pada ke orangtuanya. Angga tidak mau sama sekali merepotkan Agra serta Andrana, dengan dirinya diam Itu lebih baik dibanding melawan bagi Angga sendiri.
Mengingat hal tersebut membuat kepala Angga menjadi kembali terasa sakit hingga lelaki tampan itu memegang kepalanya bersama kedua tangannya yang sementara bingkai foto tersebut telah ia letakkan di sampingnya.
“Eh kalian ini! Jangan ngomongin soal itu di depannya Angga, dong! Hargai perasaan Angga, apa kalian berdua lupa, kalau itu sekolah SD dulunya si Angga??”
__ADS_1
“Buset dah! Aku lupa kalau itu sekolahnya Angga dulu! Eh bentar-bentar, itu si Angga kenapa?! Kok nunduk gitu sama pegangin kepala??”
‘Mati gue! Pasti masalah SD itu ama pembullyan itu. Bego, sih lo Rey! Pake ngomong segala, jadi keinget lagi pasti.’
“Angga? Kamu kenapa??” tanya Freya lembut dengan memiringkan kepalanya untuk melihat muka Angga.
“Aku nggak apa-apa, cuman pusing aja.”
“Pusing?! Aduh pasti gara-gara itu, ya?!” Angga menegakkan badan, kepalanya dan melepaskan kedua tangannya dari kepala lalu menatap Freya yang rada cemas. “Bukan, kok.”
“Nggak usah bohong! Mereka berdua ngomong itu kamu langsung kayak gini, kok!”
Angga memejamkan matanya lalu membukanya kembali. Lelaki itu yang berwajah tak semangat menatap Reyhan. “Rey, gue pamit pulang.”
Angga berdiri dari kasur Reyhan dan mengambil tas punggungnya lalu menentengnya di pundak kirinya. Lelaki itu pergi dari kamar Reyhan tanpa lagi mengucapkan sepatah kata apapun pada ketiga sahabatnya.
Dibawah Angga nampak tengah berpamitan pulang pada Farhan dan Jihan. “Om, Tante Angga pulang dulu, ya.”
“Lho, cepet banget mau pulang?? Gak barengan sama sahabatnya?” tanya Farhan.
“Enggak, Om. Angga mau pulang sendiri.”
Setelah bertaut tangan kepada orangtuanya Reyhan secara bergantian, Angga pergi meninggalkannya. Membuka pintu lalu keluar dari rumah Reyhan. Jihan serta Farhan yang memerhatikan Angga bermulut menganga.
“Pa, Angga kenapa ya? Wajahnya kok begitu? Padahal tadinya nggak kayak gitu, loh.”
“Nggak tau, Ma. Mungkin Angga lagi kena masalah.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Bukannya pulang ke rumah, namun Angga mampir di taman komplek Permata untuk menenangkan pikirannya sejenak di sana. Tempat tersebut telah sepi dikarenakan sebentar lagi Maghrib segera datang. Di kursi taman, Angga menghembuskan napasnya lelah dengan memejamkan matanya.
Flashback On To The Past
Di Koridor sekolah SD Bakti Siswa, Angga yang mengenakan seragam merah putihnya di dorong kencang oleh salah satu kelas dengannya yaitu kelas VI hingga dirinya terjatuh kuat di lantai. Perutnya di injak-injak kencang olehnya dan yang lain menendang anggota tubuh Angga lainnya.
Suara pukulan yang ia terima itu begitu dahsyat. Memang sangat sakit namun bisa Angga tahan. Ia hanya diam tak membalas sampai orang yang menginjak-injak perut Angga hingga seragam putihnya kotor merasa heran dengannya.
“Heh orang gak waras! Harusnya kamu mati aja, ngapain pake hidup segala kalau kamu di sini cuman nyusahin kami doang!”
“...”
“Jangan diem aja bisu!!”
BUGH !!!
Dirinya membogem wajah Angga hingga salah satu sudut bibirnya berdarah. “Kalian yang kenapa ngurusin hidup orang? Kalau kalian nggak suka denganku, jauhi aja!!”
“Cih, kamu bisa bicara?!” Anak laki-laki yang berumur 12 tahun seperti Angga, menarik kerah seragam Angga membuat tubuhnya ketarik ke atas. Sadisnya, siswa tersebut melempar tubuh Angga ke belakang.
BRUGH !!!
“AAKKHH!!!” Angga berteriak kesakitan saat tangan kirinya menghantam keras di lantai yang seakan-akan tulangnya hampir patah. Laki-laki itu memegang tangannya dengan suara merintih.
Yang menyerang Angga tadi kini mendekatinya lalu menginjak tulang kering Angga dengan berkata, “Manusia nggak berguna! Bagaimana bisa kepala sekolah nerima murid yang sakit jiwa kayak kamu ini?! Hahahaha! Jangan pernah harap kamu nyaman di sekolah ini, anak cupu!”
Laki-laki itu meninggalkan Angga sendirian yang terbaring lemas di lantai begitu saja bersama kawan-kawannya yang membantu membully-nya. Angga perlahan membangkitkan tubuhnya dan melihat kondisi kakinya. Memar. Tangan kanannya mengulur untuk menyentuh bagian kakinya yang terlihat memar tersebut.
Laki-laki 12 tahun itu benar-benar seperti berada di bangunan sekolah yang penuh penyiksaan batin untuknya. Hidup harinya menjadi tak tenang karena akan hal tersebut, namun apa yang boleh Angga buat? Dirinya sudah terlanjur bersekolah di tempat SD Neraka itu.
Flashback Off The Past
Angga mengepalkan kedua telapak tangannya di atas paha kakinya, kepalanya kembali menunduk bersama pejaman matanya. Ada kata penyesalan di dalam relung hatinya, namun menyesal pun sudah terlambat. Ini mungkin takdirnya memiliki masa lalu yang sulit ia lupakan. Apakah Angga harus mengalami Amnesia dulu agar masa lalu itu tak mampu dirinya ingat lagi?
“Gue ingin masa lalu itu terbuang.”
Ucapan lirih Angga diiringi oleh semilir angin sore menjelang Maghrib. Hari akan mulai petang, tetapi pemuda yang suka sendirian tersebut masih ingin mencoba menenangkan isi pikirannya di taman yang sunyi ini. Melupakan masa lalu memang kadang tak mudah, apalagi kalau itu sampai terngiang-ngiang dalam memori otak Anggara Vincent Kavindra.
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››