
Esok harinya, di rumah Freya tepatnya di luar gerbang rumah gadis Nirmala tersebut, Angga tengah berhadapan kondusif dengan kedua orangtuanya sang pujaan hatinya. Terlihat Angga mengenakan pakaian rapi baju oblong putih lengan pendeknya bersama dilapisi jaket jeans abu-abunya di luarnya, bercelana jeans hitam panjang, terakhir nampak mengenakan sepatu putih blangko merk Adidas.
Sedangkan Freya mengenakan pakaian sweater pink bubble gum hangat tanpa motif dengan digabung kerah warna pink magenta, bercelana slack panjang ungu lavender, terakhir nampak mengenakan sepatu cream blangko merk Donatello.
Angga di situ berciuman salah satu punggung tangan Rani dan Lucas satu persatu dengan sopan lalu tersenyum lebar pada mereka berdua. Rani pun membalas senyuman pada Angga begitupun suaminya.
“Angga, tolong jaga Freya dengan baik-baik, ya semasa liburan di kota Bandung. Om hanya mengingatkan pesan padamu,” ucap Lucas.
“Baik, Om itu pasti. Freya akan aman bersama Angga semasa di sana dan Angga pastikan Freya di kota Bandung bersama kami hingga pulang, tidak mengalami luka sedikitpun. Angga berjanji.”
Lucas mengulum senyumannya lalu mendekap tubuh lelaki tampan pelindung putrinya tersebut. “Baiklah, Nak. Om sangat percaya padamu karena semua itu sudah ada buktinya bahwa kamu pasti tidak pernah membiarkan Freya terluka sedikitpun. Terimakasih ya, Angga.”
“Ya, Om. Sama-sama.”
Lucas menganggukkan kepalanya lalu mengendurkan pelukannya dari tubuh Angga kemudian melepaskannya dengan masih tersenyum pada anaknya Agra dan Andrana yang memiliki watak tanggung jawab yang besar. Sementara Freya yang berdiri di sebelahnya Angga hanya diam sambil terus tersenyum manis dengan kedua tangan ia posisikan di depan sekaligus para jari-jarinya saling bertautan.
“Angga, Tante dan om titip Freya, ya? Tante juga percaya kok sama Angga kalau kamu akan menjaga Freya sepenuh hati. Bersenang-senanglah di liburan kalian semua di Kota Bandung, hati-hati dijalan.”
Angga merangkul lembut Freya dengan tersenyum kepada Rani. “Iya, Tante. Kalau begitu Angga dan Freya berangkat dulu, ya? Assalammualaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab salam kompak kedua orangtuanya Freya dengan hangat untuk Angga.
“Dadah Mama! Dadah Ayah! Freya berangkat, ya?! Freya pasti akan merindukan kalian berdua di kota Bandung!” pekik semangat Freya melambaikan satu tangan ceria.
“Iya, Sayang!” pekik Rani dan Lucas juga seraya melambai-lambaikan tangannya ke atas untuk anak perempuan cantik semata wayangnya.
Angga yang mendengar itu, langsung terkekeh lalu mengusap-usap puncak kepala Freya. Kini Angga beralih membentangkan tangannya dibawah untuk cahaya matanya menyerahkan telapak tangannya agar Angga gandeng selama diperjalanan menyusuri rumah-rumah warga dan keluar dari gang komplek Permata. Freya pun yang peka terhadap Angga, langsung rada mengulur tangan kanannya pada kekasih tampannya.
Rani dan Lucas menatap bahagia kepergian Freya dan Angga yang saling bergandengan tangan mesra. Bagi mereka berdua, anaknya sangat pantas mendapatkan kekasih jodoh yakni adalah Angga.
Diperjalanan menuju luar gang komplek, Freya membuka suaranya kepada Angga yang diam bungkam meskipun bibirnya tetap tersenyum, “Padahal tadi aku cuman pura-pura senang dihadapan mama sama ayah. Biar mereka berdua nggak curiga apa yang sebenarnya terjadi.”
Angga menolehkan kepalanya ke Freya. “Kamu memang pintar dalam berakting, kamu bisa pantas bermain peran di suatu drama-drama gitu.”
“Ih apaan, sih?!” sebal Freya yang padahal sedang berbicara serius pada kekasihnya, segera gadis Nirmala itu cubit pinggang kiri Angga.
“Eh aduh! Bisa nggak sih pinggangku jangan dicubit? Lama-lama aku bisa jadi kue cubit, lho kalau caramu kayak begini,” protes Angga memegang pinggangnya yang selesai dicubit oleh Freya.
“Mangkanya jangan nyebelin kalau jadi pacar!”
“Iya-iya! Aku minta maaf.”
“Oke!” Sumringahnya Freya membuat Angga hanya menghela napasnya pelan melihat tingkah kekasihnya. “Angga, Dosa gak ya bohong sama orang tua kalau kita liburan? Padahal kan kita ke kota Bandung buat menolong Kenzo.”
“Demi kebaikan, Frey. Lagipula kalau nggak memakai jurusan seperti yang Reyhan bilang, kalian gak mungkin diizinkan pergi ke kota Bandung.”
“Iya, deh ...”
“Kita ke rumahnya Reyhan mau naik bus atau taksi online saja? Soalnya kurang sepuluh menit lagi jam tujuh,” lanjut Freya.
“Naik taksi online saja. Biar aku pesan taksinya dulu di aplikasi,” jawab Angga tepat kemudian segera merogoh ponselnya di kantong celana bagian depan untuk mengeluarkan benda pipih Androidnya.
“Oke, siap. Lebih baik pesannya sambil menunggu di kursi kecil yang ada di gang luar komplek, yuk? Biar kaki kita gak pegal.”
Angga menganggukkan kepalanya sekaligus menoleh kepalanya ke Freya selintas dengan mengucapkan kata 'oke' tanpa bersuara, setelah itu Angga kembali fokus pada layar aplikasi untuk memesan taksi online yang nampaknya hari ini tidak terlalu padat.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Komplek Kristal - Rumah Reyhan
Nampak pemuda humoris tersebut tengah mengangkat tas besar abu-abu gray dengan telah mengenakan pakaian hoodie blangko kuning olive, bercelana Chino panjang warna army, terakhir terlihat memakai sepatu abu-abu dorian merk Nike. Di ruang TV tepatnya, Reyhan menyalami tangan kanan dari orangtuanya dikarenakan mereka yang di luar telah tiba di depan rumahnya.
Namun Reyhan baru tersadar, Farhan duduk lemas di kursi sofanya dengan baju lengan panjangnya bersama Jihan yang ada di sebelahnya. “Pa? Hari ini nggak ke kantor? Itu kok wajahnya Papa juga pucat?”
“Papa lagi masuk angin, Rey. Mangkanya hari ini Papa tidak ke kantor dulu sebelum sembuh,” respon Jihan menanggapi anak lelaki semata wayangnya yang nampak khawatir pada Farhan.
Reyhan menepuk keningnya dengan sedikit menarik mukanya ke atas. “Lha! Gak peka, Reyhan.” Kemudian pemuda Friendly berambut cokelat itu, melepaskan telapak tangannya dari dahi lalu menatap sang ayah yang nampak memejamkan mata di sandaran sofa panjang. “Terus bagaimana, Pa? Atau Reyhan tunda pergi liburan ke kota Bandung-nya saja sampai besok?“
“Nggak usah. Ini kan liburan panjang kamu sama lainnya, pergi saja tidak apa-apa. Nanti juga pasti Papa bakal pulih kembali, kok.”
Reyhan tersenyum getir. “Oke, deh. Habisnya kemarin Papa ngeyel, malah bersihin tanaman liar di pekarangan rumah sendirian. Kan kalau andaikan Papa gak menolak bantuan dari Reyhan, Papa nggak mungkin juga seperti ini.”
Jihan terkekeh pada omelan Reyhan yang mengenai Farhan. “Maklum, Nak. Papamu ini dasarnya memang keras kepala, sudah tua tapi masih saja keras kepalanya nggak hilang-hilang.“
Farhan membuka matanya lalu melirik istrinya. “Iya, keras kepalanya kayak anakmu.”
“Anakku ini juga anakmu,” protes Jihan. Sepertinya kedua orangtuanya Reyhan mulai akan debat lagi.
“Jangan debat! Nanti endingnya malah berantem kayak dulu! Ehm, Pa. Ini beneran gak masalah kan kalau Reyhan pake mobilnya selama di kota Bandung?” tanya Reyhan.
“Gak masalah, Rey. Lagian Papa juga bisa ke kantor atau berpergian sama mama pakai motormu. Yasudah kamu hati-hati dijalan sama tiga sahabatmu dan keempat temanmu yang ikut ke kota Bandung. Jangan lupa kangenin Papa dan mama di luar kota, ya?”
Reyhan berjalan ke belakang kursi sofa panjang yang diduduki oleh kedua orangtuanya lalu merangkul mereka berdua dengan penuh kasih sayang. “Gak mungkin, dong. Kalian itu adalah orang tercintanya Reyhan, jadi pastinya Reyhan akan rindukan kalian berdua di sana. Sekarang Reyhan berangkat dulu, ya? Mesti yang lain banyak yang nunggu di depan rumah.”
Reyhan kemudian mendekatkan bibirnya ke pipi kanan Jihan untuk mengecupnya manja dan sayang. Setelah itu Reyhan melepaskan rangkulannya untuk pergi meninggalkan kedua orangtuanya sambil menenteng tas besar abu-abu gray miliknya.
“Jova gak kamu cintai, Rey?” tanya ledek Farhan dengan bibir nyengir.
“Oh my gosh, Papa barusan bilang apa?!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di pekarangan rumah Reyhan, Jova sedang bersandar di belakang gerbang rumah sahabatnya dengan mengunyah permen karet Big Babol rasa anggurnya di mulut, di situ gadis Tomboy tersebut mengenakan pakaian oblong lengan panjang warna ungu velvet dipadukan oleh baju kodok jumpsuit jeansnya di luar, disertakan bersepatu keren merk Converse.
Sementara di sana, Reyhan terlihat telah keluar dari rumahnya dengan raut wajah gusar tak karuan sambil menenteng tas besar abu-abu gray-nya. Aji dan Jevran yang sibuk berunding rapat soal keadaan Kenzo di kota Bandung yang sama sekali belum diketahui, menoleh menatap temannya yang keluar dari rumahnya serta tak lupa menutup pintu.
“Bro. Ini si Jova, Rena, Lala sudah dateng. Sekarang kurang Angga dan Freya doang yang belum hadir ke sini, lagi ngapain ya dua pacar itu?” tanya penasaran Aji usai memberitahu pada Reyhan.
“Kepo amat lu jadi cowok! Paling lagi diperjalanan, rumah Angga sama Freya kan jauh banget buat menuju ke komplek Kristal,” timpal Jevran sambil berjongkok membenarkan kedua tali di sepatunya yang berwarna cokelat walnut merk Reebok.
__ADS_1
Reyhan menatap kedua temannya hanya selintas lalu menuju ke garasi mobil usai dirinya tadi panaskan sebelum para temannya dan satu sahabatnya datang, baru saja akan hendak membuka pintu mobil bagian kemudi, lelaki humoris itu menoleh ke arah Jova yang bersedekap di dada dengan meniup permen karetnya keluar hingga berubah menjadi macam balon.
“Jovata! Tolong bukain full gerbangnya, dong! Aku mau keluarin mobil!” teriak Reyhan dalam garasi samping teras rumahnya.
Jova menjulurkan lidahnya sedikit untuk menarik balon permen karetnya yang sudah meletus ke dalam mulutnya. “Males!”
Reyhan mendengus. “Ini cewek satu! Minta di pitik! Bukain doang habis itu gak aku suruh-suruh lagi. Ayolah cepetan, nanti keburu telat ke kota Bandung-nya!”
“Ih! Iya-iya! Mentang-mentang aku dekatnya gerbang, situ main nyuruh-nyuruh aja, nih aku buka gerbangnya biar kamu puas!” Jova berjalan ke samping untuk membuka gerbang rumah sahabat lelakinya hingga mentok.
“Hehehe! Thank you, my Sableng.”
“Hmmm!” respon Jova lalu memutuskan keluar dari gerbang untuk mengecek apakah Freya dan Angga sedang melangkah menyusuri jalan rumah para warga menuju ke sini.
Jova mengunyah permen karet kesukaannya tersebut dengan sesekali mengecap, lalu merogoh ponsel Androidnya yang dilapisi casing warna ungu violet sebagai pelindung HP-nya. Gadis berambut panjang lurus tergerai tanpa memiliki poni itu, memencet tombol layar pada bagian samping kanan ponselnya untuk menilik sekarang telah jam berapa.
“Jam enam lewat lima puluh delapan menit. Tapi itu dua sahabat gue belum kunjung dateng, lagi pada dimana dulu, ya? Apa dijalan sana mereka kejebak macet?“
“Jova,” panggil Lala seraya menghampiri Jova bersama Rena di sampingnya.
“Apaan?“ tanya yang dipanggil sembari memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku kantong dari bagian samping baju kodoknya.
“Kok si Freya sama Angga pacarnya belum dateng?” Lala bertanya seraya kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan kedua temannya.
“Paling masih diperjalanan. Apalagi kan ini hari Senin, pasti jalan kota padat banget. Oh iya, soal Kenzo ... kalian berdua sudah dapet informasi sesuatu nggak mengenai itu cowok yang di Bandung?”
Lala dan Rena menggelengkan kepalanya bersamaan. Jova yang melihat jawaban bahasa tubuh dua temannya cuma menghela napasnya dengan panjang. Sampai tiba-tiba mereka bertiga mendengar suara panggilan gadis bernada lengking dari jauh samping kanan.
Ketiga remaja gadis itu tersenyum lebar melihat Freya yang melambaikan tangan kanannya di atas bersama senyuman manis cerianya bersama Angga yang melangkah sejajar di sebelahnya tanpa melambaikan tangan, cukup dengan senyuman tipisnya saja.
“Ih! Kirain kamu sama Angga kagak dateng ...!” gemas Jova sambil mencubit kedua pipi sahabat lugunya dengan masih tersenyum lebar membuat Freya merengek minta dilepaskan segera.
“Freya, kamu terlihat cantik dan anggun pakai penampilan seperti ini? Jadi makin manis,” puji senang Rena.
Freya yang sedang mengusap-usap kedua pipinya karena ulah gemasnya Jova, rada menyerong badannya ke arah Rena. “Hehehe! Makasih, Ren. Kamu juga begitu, kok.”
“Oh, Angga. Kamu terlihat tampan dan keren banget pake penampilan kece begini! Ih, sukaaaa!” heboh Lala memuji gaya penampilan Angga.
Angga mengerutkan keningnya lalu menghela napasnya pendek kemudian menggelengkan kepalanya pada Lala yang terlihat heboh dan bertingkah lebay tersebut. Dan otomatis, Jova menyenggol lengan Lala, lantas langsung berbisik di dekat telinga temannya.
“Inget woi, inget. Angga sudah ada yang punya, bisa mampus lo kena amuk si Freya, apalagi Freya kan sayang banget sama Angga. Jaga itu sikapnya.”
“Ups! Sorry, gue lupa.”
Jova menggelengkan kepalanya lalu mengeluarkan selembar tisu kering dari kantong baju kodok jeans jumpsuit miliknya untuk mengeluarkan bekas permen karetnya dari mulut yang telah terasa pahit atau hambar. Usai tisunya ia tempelkan di bibirnya, Jova menyingkirkan tisu kering tersebut yang di dalamnya sudah ada bekas permen karetnya. Jova membentangkan tangannya untuk membuang tisu di tong sampah dekat rumahnya Jevran.
“Yok, mundur. Ayo, terus ... terus ... terus. Hop!” ucap peringat Aji pada Reyhan yang ada di dalam mobil, mobil berjenis Xenia abu-abu tersebut berhenti setelah cukup keluar dari gerbang tuan rumah.
“Mau jadi tukang parkir toh, Ji?” tanya Rena meledek temannya yang sudah cosplay menjadi tukang parkiran untuk membantu Reyhan memundurkan mobilnya, walau di dalam mobil sudah ada alat layar canggih untuk mendeteksi luar belakang mobil.
“Heh! Enak aja kalau ngomong! Ya enggak, lah! Aku tuh begitu tadi cuman bantuin Reyhan doang daripada gak punya kerjaan- eh buset Angga?!” Aji memegang dadanya karena terkejut melihat Angga yang sudah hadir.
Reyhan beralih menatap Aji. “Gak usah lo bantuin gue buat mundurin mobil, itu di dalem sudah ada layar alatnya buat melihat ke luar belakang mobil. Di luar bagasi juga ada kamera kecil buat mengecek kondisi keadaan tempat melalui layar tersebut.”
Reyhan berbalik badan ke belakang mobil dan kedua tangannya membuka bagasi mobil setelah menarik tombol ke atas pada bawah samping kursi kemudinya. Setelah membuka bagasinya dengan sangat lebar, Reyhan menatap kesemua remaja.
“Ayo silahkan yang mau gue masukin tasnya. Serahkan saja pada gue,” ujar Reyhan sambil membentangkan kedua tangannya.
Tak disangka Reyhan menjadi beban hari ini dikarenakan keempat temannya saling menumpuk tas besarnya masing-masing dengan warna yang berbeda di atas kedua tangannya Reyhan. “Woi! Satu-satu, Kampret! Anjir ini tas isinya batu apa gimana, sih?! Eh Waa!!!”
GEDUBRAK !!!
Sial sudah. Reyhan terjatuh di aspal jalan komplek dengan tas-tas para temannya, pemuda humoris tersebut mengusap-usap pantatnya seraya mendesis. “Otak empat temen gue pada gesrek semua!! Sakit nih bokong gue!”
“Yah, jatuh deh si Reyhan ...“ lirih Freya dengan menutup mulutnya pakai satu tangan.
“Uh! Pasti ngilu banget tuh bokongnya, hahaha!“ ucap Jova dengan tertawa renyah.
Angga menggelengkan kepalanya kemudian melangkah mendekati Reyhan lalu berjongkok di dekatnya. Menatap sahabatnya dengan bibir nyengir. “Mangkanya, jadi cowok gak usah banyak gaya. Jatuh kan, tuh? Rasain.”
“Malah ngomel. Bantuin gue, kek!” kesal Reyhan.
“Iya, ini lagi gue bantu.“ Angga mengangkat tas besar keempat temannya lalu ia masukkan ke dalam bagasi satu persatu dengan rapi.
“Cuy! Gue dulu yang dibantu, kenapa?!” protes Reyhan melihat Angga lebih mengurusi tas-tas besar tersebut yang di dalam bagasi mobil.
“Lo gak penting.”
“Demit!” umpat Reyhan sebal.
Keenam remaja tersebut tertawa melihat hari nasibnya Reyhan yang lagi-lagi pasti apesnya tidak tertinggal. Setelah semua tas besar dimasukkan ke dalam bagasi mobil Xenia termasuk tas besar hitam miliknya Angga, keempat lelaki dan keempat gadis tersebut masuk ke dalam mobil untuk segera pergi bersama ke kota Bandung demi Kenzo Revansar Rafael.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Diperjalanan dalam mobil, Angga nampak memasang GPS di layar tengah bagian mobilnya Reyhan untuk cepat mengetahui arah lokasi sesuai yang Kenzo kirimkan pada Angga Minggu sore kemarin. Tetapi pasti perjalanan ini akan terasa sangat jauh, kemungkinan mereka tiba di waktu malam nanti.
Reyhan yang sibuk fokus menyetir, menolehkan kepalanya ke samping. “Angga, coba lo telepon lagi si Kenzo. Buat memastikan saja dia baik-baik saja atau bagaimana.“
“Oke.” Angga mulai merogoh ponselnya yang ia simpan di saku kantong celana panjang jeans hitamnya bagian depan, kemudian ia segera pergi ke aplikasi WhatsApp untuk melakukan hubungan panggilan pada Kenzo.
Setelah beberapa kilometer menempuh perjalanan di kota Jakarta, Reyhan membelokkan stir kemudinya ke arah jalur kiri untuk memasuki jalan yang amat begitu sepi, ialah JL. Marahaja dimana jalan yang sangat dejavu bagi Freya.
Freya menolehkan kepalanya perlahan ke sebuah bangunan besar yang sudah tak asing lagi di penglihatannya. “Itu kan tempat ...”
Angga melepaskan layar ponselnya dari telinga kanannya dikarenakan Kenzo tetap tidak mengangkat telepon darinya. Setelah itu, Angga menolehkan kepalanya ke belakang yang di situ ada kekasihnya nang duduk sembari menatap nanar bangunan tersebut.
“Freya, jangan dilihat.”
Freya langsung cepat menolehkan kepalanya ke arah Angga yang mengomandoi dirinya dengan nada super lembutnya. Gadisnya hanya menganggukkan kepalanya patuh lalu lebih memilih melihat layar ponsel Androidnya. Bangunan itu adalah bangunan tempat dimana mantannya Freya ingin mengambil keperawanan miliknya, maka dari tersebut Angga memerintahkan kekasihnya untuk tidak menatap bangunan dugem supaya masa lalunya tidak kembali membuat Freya trauma.
__ADS_1
Perjalanan mobil di jalan sepi ini terasa kondusif dan nyaman, namun tiba-tiba ada sebuah mobil truk warna hijau melaju dengan kecepatan maksimal seperti ingin menabrak mobilnya Reyhan. Kesemua yang duduk tenang, mendadak takut dan panik karena tentu sang tuan pengemudi sulit mengelak secara singkatnya.
“Di rem, Rey! Mobilnya di rem!!!” teriak Angga menyuruh sahabatnya cepat untuk mengerem sebelum menabrak mobil truk tersebut dengan cukup kuat.
Ckiiiiiiiitt !!!
Setelah menginjak pedal rem dengan penuh tenaga, akhirnya mobil Reyhan berhenti di depan mobil truk hijau tersebut, nyaris tertabrak. Reyhan menghembuskan napasnya beberapa kali bersama posisi detak jantungnya berdegup kencang. Kemudian pemuda humoris itu menoleh menatap Angga kembali.
“Angga! Lo gak kenapa-napa?!“ tanya cemas Reyhan dan dijawab sahabatnya dengan anggukan kepala.
Reyhan beralih memutar badannya ke belakang beberapa derajat. “Kalian yang di belakang?!”
“Baik-baik saja!” respon mereka bersamaan yang duduk di barisan kedua dan ketiga, membuat Reyhan bernapas lega karena dari dasarnya mereka semua telah memakai sabuk pengaman sebelum Reyhan melajukan mobilnya keluar dari gang komplek Kristal.
BRAK !!
Kedelapan remaja tersebut tersentak kaget saat kap mobil Xenia abu-abu miliknya Reyhan digebrak kuat oleh supir truk dengan memakai telapak tangannya. Mata Reyhan mendelik emosi melihat wajah semrawut sang supir truk mobil hijau tersebut.
Keluar lo sekarang juga !
“Setan Alas! Nyari masalah lo sama gue!!” Setelah memukul atas stir kemudinya, Reyhan langsung melepas sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil untuk keluar dari dalam.
Reyhan melangkah mendekati supir truk tersebut dengan jiwa penuh emosinya bahkan tampang mukanya sedang murka pada kelakuan dirinya yang usianya lebih tua darinya. “Maksud lo apa, hah gebrak mobil gue?! Entar kalau rusak, elo mau ganti rugi??!!”
“Bangsat, lo!! Itu mata tadi ada dimana?! Kalau nyetir itu lebih pandai sedikit! Kalau emang gak bisa mengendarai mobil dengan baik-baik, gak usah sok jagoan bawa mobil segala!” maki sang supir truk.
Reyhan menuding kencang supir truk tersebut yang bertopi. “Heh, ikan Piranha! Itu mulut tolong dikontrol sebelum umbar, ya! Gue sudah oke nyetir mobilnya, tapi elo-nya saja yang goblok ambil jalannya! Gue sudah klakson berkali-kali tapi lo tetep saja gak mau ngelak! Kenapa?! Lo abis mabok gara-gara minum diskotik-diskotik gituan?!”
Di dalam mobil, Angga kalut melihat sahabatnya berdebat dengan sang supir yang umurnya terlihat lebih tua daripada Reyhan bahkan sekarang mereka saling menyergap ujung pakaiannya bersama mata saling melotot tajam. Lekas, Angga cepat-cepat membuka sabuk pengamannya lalu segera keluar dari mobilnya Reyhan.
“Lo yang kira-kira saja, dong! Bagaimana jika kami satu dalam mobil mengalami kecelakaan gara-gara elo yang nyetir truknya gak bener?! Itu otaknya dipikir!” berang Reyhan semakin menjadi-jadi.
Angga berlari terburu-buru lalu menarik badan Reyhan ke belakang dan menahannya. “Reyhan, sudah!”
Reyhan berusaha meronta dari tangan Angga yang menahan badannya. “Lepasin gue, Ngga!! Gue lagi emosi berat, daripada gue banting lo!”
“Ampun, Rey! Sudah, dia lebih tua dari lo! Lagian semuanya tidak terjadi, kan? Ayo masuk ke dalam mobil!” ungkap Angga.
“Gue belum selesai berurusan dengan dia, Ngga! Heh! Berapa umur, lo?! Gak usah jadi jagoan lo di sini!”
“Umur gue dua puluh lima tahun! kenapa?! Gue juga belum nikah, ya!”
“Gue gak nanya itu, Sialan! Dua puluh lima tahun masih Jomblo, mukanya aja pasaran! Pantes saja gak laku di mata cewek! Mau lo tua bangkek, gue gak peduli! Lo dari awal sudah bikin gue emosi, ya!!”
“Lo masih kecil udah berani ngelawan yang lebih tua, ya!! Ini lama-lama gue tabrak juga lo pake mobil truk gue!” ancam pria dewasa tersebut.
“Tabrak saja, tabrak! Gue gak takut!!”
Reyhan yang berusaha ingin menghajar supir truk tersebut dikarenakan emosinya sudah semakin tidak terkontrol, tetap ditahan oleh Angga dengan tenaga kuatnya. “Sudah, Rey! Sudah! Lo jangan buat masalah sama orang lain!”
“Kak, maafkan sahabat saya, ya?”
“Lo kalau punya sahabat kayak dia, tinggalin saja! Daripada memperburuk suasana hati orang!” ucap pedas supir truk lalu meninggalkan Angga dan Reyhan untuk masuk ke dalam mobilnya kemudian sedikit membelokkan truk yang ia kendarai dan melaju dengan kecepatan maksimal karena terlarut dalam amarah.
“DASAR GUGUK YA, LO!! AWAS SAJA, GUE SUMPAHIN KEPALA LO NYUNGSEP DI LUMPUR LAPINDO!!!”
Angga segera mengusap-usap punggung Reyhan untuk meredakan emosi sang sahabat yang masih emosi tinggi bahkan sampai menyumpahi supir truk pria dewasa berusia 25 tahun tersebut. “Sabar, sabar ...”
“Shits!” Reyhan setelah mengumpat, langsung melengos meninggalkan Angga untuk masuk ke dalam mobilnya. Angga yang melihat Reyhan, menggelengkan kepalanya dengan hati pasrahnya.
Angga membuka pintu mobil Reyhan lalu masuk ke dalam tak lupa setelah itu menutupnya. Angga kembali memasang sabuk pengaman seraya menatap Reyhan yang berusaha meredam emosinya, lihatlah wajahnya sampai memerah saking murkanya tadi. Angga segera mengambilkan botol Teh Pucuk Harumnya kemudian membuka tutupnya untuk ia sodorkan pada Reyhan.
“Di minum dulu, biar hatinya adem.”
Reyhan tanpa tersenyum, langsung menerima minuman dari yang Angga berikan lalu langsung meneguknya beberapa kali hingga tersisa setengah. Reyhan mulai menyalakan mesin mobilnya lagi, dengan sekaligus setelah itu si Angga menyetel sebuah musik lagu POP Indo-Barat yang ada di alat pemutar musik di dalam mobil Reyhan.
“Kita kembali lanjutkan perjalanan. Sorry yang tadi, gue benar-benar minta maaf banget sama kalian.”
“Hati lo sudah tenang? Kalau masih emosi, jangan berkendara dulu, bahaya.”
Reyhan menggelengkan kepalanya pelan lalu menoleh ke Angga yang duduk di sebelah kursi kemudinya. Sedikit menarik senyumannya untuk sahabatnya yang begitu sabar sekali menghadapi dirinya yang telah emosi membara.
“Gue sudah lumayan. Thanks, Angga untuk yang barusan.”
Angga tersenyum menganggukkan kepalanya seraya mengambil botol teh dingin tersebut dari tangan Reyhan lalu menutupnya bersama tutup botol lalu ia letakkan kepada tempat semula. Reyhan menghembuskan napasnya, menghilangkan rasa kekesalannya sejenak lalu segera melajukan mobilnya dengan suara musik slow yang dinyanyikan oleh Westlife.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Malam hari pun tiba. Mobil Reyhan sudah terlalu lama menempuh perjalanan di jalan kota Bandung dan beruntung saja Reyhan masih terjaga dalam mobilnya serta masih konsentrasi dalam mengendarainya. Sementara Angga fokus melihat titik tujuan lokasi tempat di layar GPS mobil.
Seperti mereka yang di belakang barisan kedua dan ketiga, menatap jalan malam yang sangat sepi. Kini sekarang mobil Reyhan memasuki ke jalan yang di pinggir banyak sekali pepohonan besar yang menjulang tinggi, bahkan tak ada satupun pengendara lain yang melewati jalan nang mobil Reyhan lewati.
“Sebentar lagi kita akan sampai ke tujuan,” urita Angga memecahkan kesenyapan dalam mobil.
Reyhan menatap layar GPS mobilnya kemudian untuk menyesuaikan arah lokasi tujuan, lelaki humoris yang sangat profesional dalam menggunakan mobil, mulai membelokkan stir kemudi ke arah kiri. Dan di situlah mobil Xenia tersebut memasuki jalan hujan yang begitu luas hingga kendaraan roda empat bisa atau muat untuk melintasinya.
“Angga? Reyhan? Ini lokasinya nggak salah? Kok kita malah masuknya ke jalan hutan yang gelap gini, sih?“ tanya Freya agak bimbang melihat gelapnya hutan bahkan gadis tersebut sempat merinding karena takut.
“Iya. Lokasinya nggak salah. Memang arahnya lewat jalan hutan ini dan gelap jalan hutannya karena ini sudah tengah malam,” tanggap Angga untuk sang pacar.
Setelah menatap jalan hutan gelap yang luas tersebut, Reyhan kembali membelokkan arah stir kemudinya hingga mobilnya berhenti di depan bangunan villa yang besar. Reyhan mematikan mesinnya dengan otomatis musiknya berhenti seketika. Kedelapan remaja tersebut menatap bangunan villa megah tersebut melalui depan kaca mobilnya Reyhan.
“Lokasi tujuannya sudah benar, dan kami berdua tidak mungkin salah dalam melihat layar arah GPS yang menentukan jalan arah ke sini. Sekarang lebih baik kita semua segera keluar.” Angga mengomando mereka lalu dirinya lebih dulu keluar dari mobil.
Nampak sekarang Reyhan membuka kembali bagasi mobilnya untuk mengeluarkan dan membagikan tas-tas besarnya mereka masing-masing termasuk tas besar warna abu-abu gray miliknya. Bertepatan Reyhan menutup bagasi mobilnya, Angga merasakan ada hembusan angin lembut menerpa tubuhnya bahkan rambut hitamnya tertiup oleh angin tersebut.
Di lokasi ini tepatnya di depan bangunan villa, Angga melihat ada mobil Pajero putih punya Kenzo yang terparkir di kiri villa walau pemiliknya tidak berada di sekitar sini. Hingga tiba-tiba Angga merasakan ada hawa aneh yang melanda, firasatnya juga semakin buruk mengamati suasana ini yang sangat jauh dari dugaan penalarannya.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1