Indigo

Indigo
Chapter 177 | Worth the Bad Feeling?


__ADS_3

Setelah 2 hari mendapatkan perawatan inap di RS Medistra Kusuma, kini Freya saatnya diperbolehkan untuk pulang oleh dokter. Gadis tersebut nampak melangkah tenang bersama kedua orangtuanya.


“Em, Mama? Ayah?”


Rani dan Lucas yang dipanggil lembut oleh putrinya nang mengenakan sweater biru olympic, langsung menoleh ke arahnya. “Ya, Sayang?”


“Izinkan Freya untuk berpamitan pulang sama Angga dan Reyhan yang masih di ruang ICU, ya? Soalnya Freya gak tahu, kapan lagi bisa datang ke rumah sakit buat menjenguk mereka berdua. Terlebih ini di luar kota.”


“Iya, Sayang. Boleh, kok. Mereka, kan orang terdekat kamu. Masa ya nggak Mama sama ayah bolehin? Tapi kamu harus ingat, ruangan itu dijaga bener batas menjenguknya.”


Freya mengangguk dengan senyum manis. “Iya, Ma. Freya tahu, kok segala aturan untuk menjenguk pasien di ruang ICU. Lagipula pamitan masa sampe satu menit? Hehehe.”


Rani tersenyum hangat lalu mengusap sayang pucuk kepala anak putri semata wayangnya yang rasa sedihnya lumayan menghilang. Karena tidak ada fungsinya menangisi bahkan menyedihkan kondisi antara sahabat lelakinya dan kekasih tampannya.


Setelah sampai di tujuan walau belum tiba di depan pintu ruang ICU di salah satu antara mereka berdua, Freya tersenyum karena ditatap oleh Jihan dan Farhan yang sedang duduk di kursi tunggu luar ruang rawat intensif putranya. Freya kemudian melangkah mendekati kedua orang tua sahabat lelakinya bersama Rani dan Lucas yang ada di belakangnya.


“Selamat pagi, Tante Jihan dan Om Farhan,” sapa ramah Freya dengan senyum lebar.


Jihan tersenyum lebar melihat kedatangan gadis dari sahabat anaknya. “Selamat pagi juga, Cantik. Alhamdulillah, sekarang kamu sudah terlihat sehat, ya. Hari ini mau pulang ke rumah?”


“Iya, Tante. Tapi sebelum Freya pulang ke kota Jakarta, Freya boleh gak menjenguk Reyhan sebentar di ruang ICU sekalian mau pamitan, hehe.”


“Oh boleh, dong! Masuk saja tidak apa-apa, gak ada yang melarang, kok. Beruntung aturan di ruang ICU rumah sakit Medistra Kusuma ini tidak terlalu ketat seperti rumah sakitnya Paviliun Wijaya di Jakarta. Jadi, kamu bisa masuk buat jenguk Reyhan.”


Gubrisan panjang lebar dari Farhan yang terlihat sangat ramah, membuat senyuman Freya makin mengembang di wajah cantiknya. “Makasih, Om Farhan.”


“Iya, sama-sama. Yasudah, gih ...” ungkap lembut sang ayahnya Reyhan.


Freya menganggukkan kepalanya lalu mulai pergi ke suatu ruangan lingkup terlebih dahulu untuk memakai gaun hijau penjenguk pasien ruang ICU sesuai prosedur dan mencuci tangannya sebelum masuk ke dalam ruang rawat intensif milik sahabat lelakinya. Tentu saja gadis cantik polos berusia 17 tahun itu tahu sekali aturan-aturan sebelum memasuki ruangan ICU.


Setelah semuanya beres, tangan kanan Freya mengulur untuk membuka salah satu gagang pintu untuk mulai memasuki ruang rawat ICU Reyhan. Ia masuk ke dalam sudah disambut oleh suara mesin monitor pendeteksi jantung serta suasana ruangan luas yang dingin.


Menatap Reyhan yang terbaring lemah di atas ranjang pasien bersama peralatan medis nang terpasang di tubuhnya, membuat senyum Freya menjadi gundah. Gadis itu melangkah ke samping ranjang pasien milik sahabat lelakinya lalu kedua tangannya perlahan menggenggam lembut telapak tangan kanan Reyhan yang mana di jari telunjuknya terpasang oleh benda jepitan medis atau Pulse Oximeter.


Freya mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah lemas dan pucat Reyhan tetap tanpa senyuman yang pudar. “Good morning, Sahabatku. Bagaimana kabarmu? Sudah ada perkembangan, belum? Kalau belum, aku pasti akan senantiasa mendoakanmu agar supaya lekas melewati masa Kritis ini.”


“Tahu gak, Rey? Semenjak kamu Kritis di ruangan ini, sepi dan hampa banget karena kamu nggak ada di samping kami. Kalau ada kamu, mah rame banget. Apalagi kamu cowoknya suka rusuh, berisik, sama rese. Ya, nggak?”


Freya menghela napasnya. “Em ... tapi nggak apa-apa, deh. Aku yakin kamu pasti suatu saat akan kembali sadar. Jangan tinggalkan kami ya, Rey? Kamu, kan cowok yang kuat. Masa mau pergi begitu saja meninggalkan dunia? Jangan, ya? Banyak, lho yang sayang sama kamu. Banyak juga yang mendukung dirimu untuk meminta kamu segera sadar dari keadaan yang terburuk ini.”


Setelah batas menjenguk telah habis, ini untuk saatnya Freya berpamitan pulang pada Reyhan yang sedari tadi diam tidak merespon celotehan panjang sahabat perempuan lugunya.


“Reyhan, batasku menjenguk kamu sudah habis, nih. Kalau begitu aku pulang dulu, ya? Besok jika ada waktu luang dan senggang, aku ke rumah sakit ini lagi, deh. Tapi aku berharap kamu secepatnya siuman, oke? Assalammualaikum, Sahabatku. Baik-baik, ya di rumah sakit.”


Freya melepaskan kedua telapak tangannya dari telapak tangan lemas Reyhan lalu meletakkannya perlahan di atas ranjang yang di atasnya terdapat selimut tebal berwarna biru tua nang mampu menghangatkan tubuh lemahnya sang sahabat. Setelah itu, gadis tersebut balik badan meninggalkan ruangan ICU dan keluar dari situ.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Kota Jakarta


Di komplek United tepatnya di rumahnya Jova, gadis Tomboy cantik itu tengah rebahan di dalam kamarnya yang serba ungu kesukaannya. Ia termenung sampai ada beberapa notifikasi masuk di ponselnya yang sengaja ia taruh di meja nakas samping kasurnya.


Jova mulai membentang tangannya untuk mengambil ponselnya lalu mengecek notifikasi-notifikasi pesan dari kontaknya siapa saja yang ada di aplikasi WhatsApp-nya.

__ADS_1


“Ah, ternyata mereka? Udahlah, gue diemin saja. Lagipula hati lagi nggak mood gini ngapain buka WA segala?” Jova yang melihat beberapa pesan Grup teman kelasnya melalui layar utama, memutuskan untuk mengabaikan dan meletakkannya kembali di meja nakasnya.


Sudah dipastikan teman-temannya membicarakan soal keadaan dua sahabat lelakinya yang masih harus dipantau di ruang ICU RS Medistra Kusuma kota Bogor. Merasakan keadaan mereka berdua, membuat Jova tidak bisa tenang sama sekali. Bahkan sudah ia berusaha melakukan hobi yang Jova sukai, tetapi tetap tidak mempan untuk menenangkan sejenak hatinya yang sedang dalam terpuruk.


Jova mulai menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu menekuk kedua kakinya kemudian meringkuk di situ bersama wajah murungnya. Hingga akhirnya Jova tidak sengaja menatap bingkai foto antara Reyhan dan Angga yang posisi posenya tengah tersenyum di dalam gambar foto menawan yang dilapisi oleh kaca. Melihat bingkai foto kedua sahabat lelakinya membuat hati Jova semakin resah bahkan gadis itu sampai memajukan bibir bagian bawahnya.


“Guys, gue rindu banget dengan lo berdua. Bisa gitu, kan salah satu di antara kalian sadar dari kondisi terburuk kalian? Agar hati gue ini rada tenang dan kagak nyesek kayak gini. Kalian, mah santai saja. Gerald sama Emlano udah dipenjara, kok. Jadi pastinya mereka mendapatkan hukuman yang berat karena sudah membuat kalian Kritis dan Koma. Please, ya? Wake up ...”


Jova menopang dagunya di antara atas lutut dengan kedua tangan saling memeluk sepasang kakinya. Bahkan air mata pun berhasil kembali lolos dari pelupuk untuk turun berlinang ke pipi cantiknya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Kota Bogor - RS Medistra Kusuma


Freya menutup pintu lamban saat telah memasuki ruang ICU kekasihnya. Pandangan matanya tertuju padanya yang terbaring lemah di ranjang pasien bersama beberapa alat medis yang terpasang di raganya dan alat bantu napas Ventilator nang tersumpal di mulutnya.


Freya menghembuskan napasnya lirih lalu mulai melangkah mendekati lelaki tampannya kemudian duduk di sebuah kursi yang tersedia di dalam ruangan intensif tersebut. Gadis cantik jelita itu terus menatap wajah pujaan hatinya yang begitu sangat pucat bahkan terdapat lingkaran hitam dibawah matanya yang terpejam damai.


Freya mengambil telapak tangan kanan pemuda Indigo tampan itu lalu mengangkatnya serta menggenggam dengan lembutnya. Senyuman pilu itu datang dari wajah cantiknya walau bulir air matanya sudah terlihat di atas pelupuknya.


“Hai, Pacarku. Sudah lama, ya kita gak bertemu? Meski kita berdua dirawat dalam bangunan rumah sakit yang sama,” ucap Freya lalu terkekeh.


“Dengar-dengar kondisimu lebih memburuk, ya? Aku jadi takut kalau kamu beneran ninggalin aku. Aku nggak bisa membayangkan kalau kamu pergi, pasti rasanya sakit banget. Gak hanya aku, tetapi lainnya yang sayang denganmu.”


Freya semakin mempererat genggamannya yang mana di dalamnya ada telapak tangan kanan Angga yang dirinya genggam. “Angga, padahal aku sudah rela mendonorkan darahku untuk demi keselamatan kamu, lho. Tetapi kenapa kamu justru terserang Koma? Dokter Ello juga menyampaikan bahwa kemungkinan sadarmu hanya mencakupi lima persen. Benar, begitukah?”


Angga tetap tidak merespon segala untaian celoteh kata kekasihnya. Bahkan setiap Freya mengeluarkan suara lemah lembut untuknya, yang menjawab hanya hela napas pendeknya beserta mesin monitor pendeteksi jantungnya.


“Dan ... baru tiga hari kamu mengalami Koma yang terulang kembali seperti beberapa bulan lalu, tapi keadaanmu justru semakin memburuk saja. Aku mohon jangan tinggalkan aku ya, Ngga? Kamu cowok yang kuat, kok. Dirimu pasti bisa melewati masa Koma-mu ini.”


“Ternyata memang beneran ada, ya. Seseorang yang lebih mementingkan keselamatan orang lain daripada dirinya sendiri. Padahal dia tahu kalau itu akan membahayakan aman jiwanya. Tetapi di sini aku ingin berterimakasih padamu karena telah menyelamatkanku dari tragedi insiden aniaya malapetaka itu. Hatimu ini sungguh mulia, Ngga. Mungkin sulit bagi orang menemukan jati diri seperti dirimu.”


Freya kemudian melepaskan salah satu telapak tangannya dari telapak tangan lemas Angga untuk menyentuh pipi bagian kiri kekasihnya yang pucat.


“Tolong, lawanlah mautmu yang akan membawamu pergi ke alam abadi. Karena jika kamu hilang dari sisiku, aku akan terasa sukar untuk melepaskan kepergianmu ...”


Dari luar jendela kaca pembatas ruangan ICU, kedua orang tua gadis cantik dan kedua orang tua lelaki tampan itu menatap miris perilaku lembutnya Freya yang mengajak berbicara lebar pada Angga walau suaranya sama sekali tidak terdengar dikarenakan ruangan tersebut kedap anti suara.


Sementara Freya kini mengusap air matanya lalu menarik ingusnya ke dalam hidungnya dan tersenyum balik saat dimana tadi senyumannya menghilang akibat keadaan kekasihnya yang tambah menurun. Bahkan gadis itu menyingkirkan telapak tangannya yang meraba sayang pipi pucat Angga.


“Ngga, kalau begitu aku pamit pulang, ya? Besok jika ada waktu yang leluasa, aku bakal mampir ke rumah sakit Medistra Kusuma untuk menjenguk kamu. Please, di sini kamu harus mampu bertahan. Assalamualaikum, Sayang ...”


Sesudah mengucapkan pamit di pada kalimat terakhir, Freya menempelkan bibirnya untuk mengecup telapak tangan Angga yang lumayan terasa dingin. Setelah itu, ia bangkit dari kursi dan meletakkan lembut tangan lemas kekasihnya di atas ranjang pasien yang di atasnya terdapat selimut tebal berwarna sapphire blue lepau menghangatkan tubuh lemahnya.


Freya pergi melangkah meninggalkan Angga yang terbaring tak berdaya di atas ranjang pasien sembari mengelap seluruh air matanya yang terlanjur membasahi kedua pipi cantiknya. Usai melepaskan gaun hijau penjenguk pasien, Freya keluar dari ruang sempit khusus memakai baju itu yang tersedia di dalam sana.


“Freya, sudah jenguk Angga-nya?” tanya Andrana dengan senyum manisnya walau dibawah kantung matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.


Freya menganggukkan kepalanya. “Iya, Tante. Sudah, kok. Batas Freya untuk menjenguk Angga juga telah habis mangkanya Freya harus keluar sekalian pamit sama anaknya Tante dan om Agra.”


Andrana tetap tersenyum lalu membelai puncak kepala Freya kemudian beralih mengelus pipi mulus anak putri tunggalnya dari Rani dan Lucas. “Tante senang sekali karena Angga sudah memiliki kasih hati yang cantik dan tulus seperti kamu.”


Freya hanya tersenyum manis menanggapi Andrana. Agra yang melihat adegan harmonis ini ikut tersenyum seraya melipatkan kedua tangannya tenang menatap antara kekasih putranya dan istri tercintanya, sampai kedua bola mata milik Agra tak sengaja mengarah ke jendela kaca pembatas ruang rawat ICU-nya Angga.

__ADS_1


Seketika napas pria paruh baya itu tercekat dengan mata terbelalak menatap tubuh Angga yang bergetar dahsyat alias kejang. Bahkan hal tersebut berjaya membuat mata Agra mencuat tajam.


“ANGGA!!!”


Agra dengan gesit membuka pintu ruang ICU lalu menghampiri Angga yang tak berhenti kejang. Suara detektor jantung pun mendadak berisik nan menderu layak sebelumnya yang pernah terjadi setiap raga putranya bergetar hebat seperti ini.


Sementara seperti Freya, Andrana, Rani, dan Lucas mematung membeku di depan kaca jendela ruangan intensif. Agra yang ada di dalam, segera lekas memencet tombol merah emergency untuk memanggil tim medis.


Namun selang detik kemudian, usai pencet tombol merah darurat untuk memanggil tim medis, telinga Agra menangkap suara mesin monitor yang berubah bunyi nyaring hingga menggema seluruh penjuru ruangan. Pria paruh baya itu lalu langsung menoleh ke arah Angga yang tak lagi kejang alias diam kembali bersama detak jantung nang telah berhenti. Spontan saja Agra berlari memarani putranya yang terbaring.


“Angga! Ya Allah, kenapa detak jantungmu selalu saja berhenti?! Ini sudah beberapa kali terjadi di kesehatanmu yang menurun!” gusar panik Agra sambil menangkup wajah pucat putranya.


Kini sekarang terdengar beberapa suara langkah kaki sepatu yang mendekati Agra dan Angga, hal itu membuat beliau menolehkan cepat kepalanya ke sumber suara tersebut. Melihat kedatangan dokter Ello dan beberapa perawat yang bersamanya, Agra langsung menyongsong badannya menghadap ke mereka.


“Dokter! Tolong selamatkan kembali detak jantung putra saya!! Saya mohon, Dok!!!”


“Bapak tenanglah! Silahkan keluar dulu agar saya secepatnya menangani Anggara.”


“Mari, Pak!” imbuh sang perawat yang berusia 20-an tahun pada Agra sekaligus menggiring pelan tubuhnya untuk mengantarkannya keluar dari ruang ICU.


Pintu ruangan intensif Angga langsung ditutup oleh perawat lelaki tadi sesudah mengantarkan Agra cepat untuk keluar dari sana. Di luar ruang ICU yang amat sunyi tersebut, mereka berlima dibuat maraton jantung dimana dokter Ello tengah berusaha mengembalikan hentinya detak jantung milik lelaki tampan Indigo itu.


Freya yang tadinya tersenyum, kini bimbang dan mengeluarkan suara tangisan kencang beserta jeritan nang memilukan. Menatap kekasihnya yang posisi jiwanya sedang berusaha diselamatkan oleh tenaga tangan upayanya sang dokter.


“Huhu, Anggara! Enggak lagi, huwaaaaa!!!” Jeritan tangis gadis Nirmala itu langsung dibalas oleh sang ibunya yaitu memeluk tubuh mungilnya dengan erat bersama air mata yang lolos membanjiri pipinya.


Usai beberapa kali dada Angga membusung terangkat ke atas setiap dikenakan oleh alat pemacu jantung itu, dokter Ello kini sekarang meletakkan Defibrillator pada ke tempat asalnya.


Dokter Ello nampak memutar tubuhnya ke meja rak aluminium untuk mengambil spuit yang di ujung atasnya terdapat jarum steril. Sementara salah satu perawat mendorong mesin pemberian aliran listrik untuk jantung pasien ke pelosok tembok putih.


Sesudah menusukkan jarum suntik pada ujung bagian tutup botol kaca kecil yang mengandung obat serta menyentil puncak jarum steril, kini beliau menancap jarum tersebut di kalangan infusnya Angga lalu mendorong cairan obat itu pakai pucuk spuit untuk memasukkannya ke dalam tubuhnya sang pasien.


Meski tidak tahu sang dokter memberi cairan obat apa untuk kekasihnya, tetapi sekarang hati Freya benar-benar berubah rapuh. Dilihatnya, wajah Angga semakin menanjak pucat, lemahnya raga membuktikan kesembuhannya dari serangan Koma begitu kecil atau parahnya tak memungkinkan.


Kini dokter Ello keluar dari ruang ICU bersama para perawat yang ada di belakangnya. Beliau di luar pun menampakkan kembali muka kusutnya, memang sudah dari kemarin. Bahkan senyuman itu tidak terlihat di bibirnya.


“Kalian jangan khawatir, Anggara masih mampu untuk diselamatkan. Dan soal kondisi pergerakan secara spontan tadi membuktikan bahwa pasien pula terserang Epilepsi karena luka cedera kepalanya yang begitu parah. Tetapi dengan saya memberikan sebuah obat cairan untuk penghilang ayan, InsyaAllah Anggara tidak akan lagi mengalaminya.”


Mendengar penyampaian buruk dari suara jelasnya dokter Ello, membuat kedua orangtuanya Angga tak berdaya. Sementara air mata Freya terus menambah dengan dada yang kembali terasa nyeri.


Dokter Ello menghembuskan napasnya lirih. “Kami tidak akan berhenti untuk memberikan Anggara pemeriksaan setiap datangnya tiga puluh menit, dikarenakan kondisi yang begitu mengancam nyawa ini sudah dipastikan jika detak jantungnya sewaktu-waktu bisa berhenti. Selama kami sanggup melakukan yang terbaik untuk Anggara, Anggara akan tetap mampu bertahan ...”


Melihat air mata dari kedua orang tua pasien yang beliau tangani, membuat dokter Ello menghela napasnya. “Maafkan saya karena telah menyampaikan hal buruk ini, tetapi saya berkata tanpa ada yang mengada-ngada. Ini sesuai pada kondisi parah serta lemahnya Anggara ...”


“Jika begitu, saya dan para suster mohon permisi. Assalammualaikum.” Terlihat setelah mengucapkan salam sebelum meninggalkan, sang dokter melempar ukiran senyuman tipisnya.


Sekarang sosok dokter Ello dan beberapa perawat yang sebagai tim penanganan kondisi Komanya Angga telah tak terlihat karena sudah melangkah belok ke salah satu arah jalan.


“Hiks!” Freya mendekap tubuh Rani dengan tangisannya yang berderai.


Rani dengan wajah pilunya, membalas pelukan anak putrinya lalu mengelus belakang kepalanya. Mereka berlima menatap suram Angga yang terbaring lemah di atas ranjang pasien, dan entah mengapa perkataan dokter Ello seolah...


Akan terjadi worth the bad feeling malapetaka yang pernah lelaki Indigo itu rasakan penuh dalam pikiran bayangan benak serta hatinya.

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2