
“Lagian kalian malah saling main mengorbankan nyawa diri sendiri, coba aja kalau kita berempat langsung kabur. Hal itu gak akan mungkin terjadi. Mimpi aku sama Freya tuh menjadi tinggal kenangan untuk bagi kalian berdua!” celoteh kesal Jova.
Reyhan yang hendak menggigit perkedel hangatnya, tertunda saat mendengar kekesalan Jova itu. “Jangan salahkan kami berdua juga, dong! Itu kan mimpi kamu sama Freya sendiri, ya kali marahin sebatas roh? Kan aneh.”
“Eh! Ada benarnya juga, ya? Habisnya mimpinya terkesan hari terakhir kalian berdua, sih. Mana rela kami tuh kehilangan kamu sama Angga,” rengek Jova sedikit menghentakkan kaki kirinya, beruntung saja tidak sampai mengenai kaki kanan Freya.
Angga menatap gundah Jova. “Aku tahu betapa pedihnya kamu melihat aksi mereka itu terhadap kami. Tapi kamu harus melupakannya, daripada memori mimpi yang telah menempel di benak otakmu tidak menghantui dirimu. Kamu juga ya, Freya?“
Freya menganggukkan kepalanya lemah dengan wajah amat tak bersemangat setelah mendengar ucapan kenyataan Angga bahwa mimpi ia bersama Jova akan menimbulkan sebuah pertanda buruk yang besar. Reyhan pun yang melihat kedua sahabat perempuannya tak tega menatap kesedihannya mereka walau semua itu hanya mimpi yang mereka datangi tadi malam hingga pagi.
“Malu banget aku, sumpah! Kepergok Nova kalau aku di kamar lagi nangis. Gak tau aja mimpi itu sampe kebawa di dunia nyata,“ jujur Jova.
“Alamak! Tangisan mimpimu sampe terbawa di dunia nyata? Hahaha, tapi itu kamu nangis lagi, noh.” Reyhan lumayan menunjuk Jova yang mana pipi gadis tersebut masih ada jejak air matanya.
“Angga ... emangnya pertanda buruk apa yang bakal terjadi pada kalian berdua? Pas kamu bilang, aku malah jadi takut sendiri,“ cicit Freya.
Angga tidak ingin menjawab pertanyaan Freya karena itu menambah pikiran dan hati kekasihnya buncah tak karuan. “Sudah, jangan dibahas lagi.” Angga kemudian menoleh ke arah dua tumpukan buku novel yang ada di kiri Freya. “Buku novelnya mau kamu kembalikan ke ruang perpus?”
Freya mengarahkan kepalanya ke tumpukan buku novel genre Fantasi penuh imajinasi alur cerita di dalamnya karena kehebatan sang penerbit sekaligus penulis. Sampai akhirnya gadis polos itu menepuk keningnya. “Oh ya ampun! Iya aku lupa ngembaliin ke ruang perpustakaan!”
Angga tertawa kecil. “Yasudah ayo kita ke ruang perpustakaan bersama. Sekalian keliling sekolah buat segarkan pikiran otak.”
Angga lekas berdiri dari kursinya lalu menghampiri pujaan hatinya kemudian mengulurkan tangannya untuk mengajaknya ke ruang perpustakaan bersama-sama yang letaknya berada di lantai terakhir. Freya pun dengan tanpa menolak, menerima uluran tangan lembut Angga, tak lupa memberikan senyumannya.
“Ehem! Bilang aja lo mau kencan sama Freya sampe jam istirahat berakhir, ini artinya dua sahabatnya dicuekin, nih?” tanya Reyhan membuat kedua sepasang kekasih itu menghentikan langkahnya.
“Lo yang diem, ya! Daripada gue cekokin mulut lo pake garpu, biar tau mampus!” geram Angga lalu meninggalkan Reyhan begitu saja bersama Freya yang tangan kanannya ia gandeng secara mesra.
Mata Reyhan melotot. “Sadis, man !”
Tetapi baru saja akan meninggalkan gang kantin, Angga dan Freya melihat Kenzo yang sedang diajak bincang serius oleh Emlano sang siswa pindahan dari SMA Terang Bangsa. Tak hanya sepasang pacar itu saja yang mendengar perbincangan mereka, namun pula Jova dan Reyhan yang duduk tak jauh dari Emlano serta Kenzo berdiri, cuma sekitar beberapa jarak saja.
“Padahal besok sudah liburan, tetapi kayaknya beban lo banyak. Lo memangnya butuh bantuan apa? Mungkin gue bisa bantu diri elo,” ucap Kenzo.
“Itu selalu, Bro! Beban gue emang gak ada habis-habisnya. Gue butuh bantuan sesuatu dari lo, Kenzo. Tapi besok elo harus menemui gue di kota Bandung, ya? Soal tempatnya, lo tenang saja. Akan gue sherlock lokasinya agar lo gak kebingungan.”
Mata Kenzo terbelalak kaget. “Hah?! Di kota Bandung? Seriusan lo ketemuannya di Bandung? Apa gak ada wilayah lain yang deket-deket di daerah kota Jakarta??”
“Maaf, Zo. Karena gue butuh bantuannya di kota Bandung, dan gue yakin lo bisa bantu. Ada masalah sesuatu yang sulit gue jelaskan pada lo,” respon Emlano.
Kenzo menganggukkan kepalanya. "Oke. Gue akan terima permintaan lo, soal jauhnya tempat .. gue juga sudah nggak peduli. Elo tenang saja, gue pasti akan mau membantu diri lo besok. Eh- tapi pasti nyampe sananya malem. Bagaimana?“
Emlano menepuk bahu Kenzo dengan tersenyum lebar. “Gak masalah, yang penting lo bisa datang. By the way, makasih ya elo mau bantuin gue, hehe.”
Reyhan yang masih duduk di kursi kantin, mengerutkan keningnya. “Minta bantuannya di kota Bandung? Apa gak salah ngomong itu si Emlano?”
Jova mengangkat kedua bahunya. “Aku gak tau sumpah, kenapa minta bantuannya di luar kota segala? Kan bisa tuh di Jakarta apa kota Bogor yang jaraknya lumayan dekat di daerah kelahiran kota kita.”
Reyhan menarik satu sudut bibirnya ke samping dengan menatap curiga pada Emlano yang nampak butuh sekali pertolongan dari Kenzo. Namun, sebaiknya Reyhan tidak boleh mengambil pikiran negatif dulu, mungkin bisa jadi karena ada satu permasalahan rumit yang membuat Emlano meminta bantuan pada Kenzo sang anak konglomerat namun memiliki keluarga yang Broken home.
Sedangkan Angga dan Freya yang masih berdiri di tengah-tengah jalan tempat gang keluar masuknya kantin, masih diam mengamati pembicaraan mereka berdua. “Kota Bandung? Jauh banget ya, Ngga. Untung saja besok sudah libur panjang setelah Ujian kita semua di sini tuntas.”
Angga menganggukkan kepalanya lalu menoleh tersenyum menatap wajah cantik gadisnya. “Ayo ke perpustakaan. Nanti malah keburu bel masuk.”
Kepala Freya manggut-manggut dengan senyumannya sambil membawa dua tumpukan buku novelnya yang ia pegang pakai tangan kiri dan posisinya Freya dekap di dada. Usai itu, sepasang kekasih tersebut melangkah keluar meninggalkan kantin tanpa lagi memedulikan pembicaraan Kenzo dan Emlano yang masih berlangsung.
Sementara Jova balik ke depan menatap makanannya yang belum habis. Gadis Tomboy itu menatap nanar tanpa ada niatan untuk menuntaskan kegiatan makan-nya di kantin ini bersama Reyhan. Reyhan yang sibuk memainkan ponselnya, melirik ke arah sahabat perempuannya yang dari raut wajahnya kembali murung, membuat lelaki humoris itu menghembuskan napasnya pelan.
“Udahlah. Kenapa harus sedih mulu, sih? Jangan dipikiran atuh itu mimpimu sama Freya. Nanti konsentrasimu buat ngerjain Ujian malah terganggu, lho. Emangnya mau dapet nilai jelek dibawah KKM?”
Jova mendongakkan kepalanya. “Ya gak mau, lah! Mana ada anak di sini pengen dapet nilai dibawah KKM? Semuanya ingin yang terbaik, dong!”
Reyhan tertawa renyah. “Oke-oke. Yasudah gih, makanannya dihabisin, bentar lagi mau bel. Atau mau aku suapi?”
Mata Jova terbelalak sempurna. “Otakmu gila, ya? Ngapain disuapin segala? Aku masih punya tangan yang utuh, kali.”
“Hahahaha! Ya, deh. Cepetan.” Reyhan kembali memainkan ponselnya untuk menambah ilmu pengetahuannya melalui beberapa artikel di internetnya, pemuda itu memang suka menggali informasi supaya otaknya tetap selalu update.
Sekarang tangan Jova mengangkat mie panjangnya pakai garpu lalu ia masukkan ke dalam mulutnya untuk menyeruputnya perlahan. Namun detik kemudian, Jova melirik ke Reyhan yang duduk di tepat hadapannya. Wajahnya memang selalu ceria bahkan untuk sedih, jarang terlihat. Ya, kecuali emosi. Itu sudah seringkali terjadi padanya.
“Kamu gak mau balik ke kelas aja? Biar aku makan sendiri, nunggu aku kelamaan. Bisa lumutan entar kamu nanti,” buras Jova.
“Bisa ae itu mulutnya. Aku mau di sini main HP sambil nunggu kamu selesai, biar kita bisa ke kelas bareng-bareng. Siapa tau pas mau sampe kelas, kita berdua ketemu sama sepasang pacar romantis itu, hahahaha!” jawab panjang lebar Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
Jova yang mendengar seluruh rentetan tanggapan ramah dari sang sahabat lelaki Friendly-nya, mengulum senyumannya saja lalu kembali melanjutkan kegiatan makan-nya di jam istirahat yang mau berakhir ini, seraya ditemani Reyhan nang begitu setia menunggunya. Tentunya di situ mereka berdua di imbuh dengan senda guraunya bersama untuk menghilangkan rasa hening cipta.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Freya di lorong lantai 3 usai mengembalikan dua buku novel genre Fantasinya yang telah selesai ia pinjam, di ruang perpustakaan bersama Angga dan kini dirinya sedang berjalan sendirian tanpa ada kekasihnya di sebelahnya, dikarenakan Angga sedang berada di toilet sebentar, sementara Freya disuruh untuk pergi ke kelasnya duluan sedangkan nanti Angga akan menyusulnya.
“Lantai tiga emang selalu sepi kayak kuburan, ya?” gumam Freya bermonolog lalu terkekeh sendiri.
Baru saja sedang menikmati melangkah akan menuruni undakan anak tangga untuk pergi ke kelasnya yang letaknya di lantai 2, ini memang sudah sialnya Freya kembali bertemu Youra yang berada di belakang railing besi tangga. Gadis yang berwajah angkuh tersebut sedang mengirim chat di ruang grup aplikasi WhatsApp-nya untuk menyuruh kedua sahabatnya datang menghampirinya di lantai paling akhir.
‘Lewat mana, aku? Di sini, kan gak ada jalan pintas untuk menuju ke lantai dua. Ck, kenapa aku harus sial terus sih bertemu dia lagi?’ batin Freya gusar.
Mau tidak mau, Freya harus menuruni satu tangga tersebut karena tak ada pilihan lain lagi. Tetapi baru menginjak turun salah satu undakan tangga dengan kaki kanan, Youra sudah menarik kasar lengan kulit mulus Freya dari atas tangga.
“E-eh?!” Otomatis tubuh Freya tertarik ke belakang sementara kaki kanannya terangkat ke atas tangga kembali karena ulahnya Youra yang sama sekali tak ia anggap sebagai musuhnya.
Freya menoleh cepat ke arah Youra sampai rambut hitamnya menyibak ke belakang. “Kamu apaan, sih? Lepasin tangan aku, Your! Aku mau ke kelas, sebentar lagi bel bakal dibunyikan!”
Youra tersenyum sinis seraya memasukkan ponsel jenis IPhone miliknya ke dalam saku kantong rok bagian kirinya. “Jangan harap gue lepasin tangan lo!” Kepala Youra celingak-celinguk memastikan situasi aman dan sepi hanya ada ia dan musuhnya.
“Bagus, gak ada orang sama sekali! Sekarang lo ikut gue ke gudang rooftop sekolah. Gue ingin bermain sama lo sambil nunggu Febrie dan Claudie,” ucap Youra seraya menarik tangan Freya menuju ke atas gedung sekolah.
Kedua mata Freya membelalak kaget. “Gudang rooftop sekolah? Apa yang sudah kamu rencanakan dengan mereka berdua?! Aku gak mau!!”
“Terserah. Pokoknya lo harus ikut gue, mumpung lo nggak ada pendampingnya, hahahaha!”
“Aku tetap gak mau!! Kenapa sih kamu selalu aja suka gangguin aku di sekolah?! Kalau aku ada salah, aku minta maaf! Tapi tolong jangan sakiti aku ...” ucap Freya lirih memohon pada kalimat terakhir.
Youra berdecih sengit lalu mendorong kencang tubuh mungil milik Freya hingga menabrak tembok tangga, beruntung saja kepalanya tak sampai membentur dinding putih tersebut. Youra kemudian mendekati gadis lugu cantik jelita itu dengan tampang wajah penuh amarah terdalam.
Freya yang melihat tatapan mata tajamnya Youra langsung menunduk takut dengan detak jantung berdebar-debar karena bimbang bila dirinya dilukai oleh gadis tukang suka bully siswi ini. Hingga tangan kanan Youra terangkat untuk mencengkram dagu Freya lalu mengangkatnya tanpa pakai perasaan.
“Dengerin gue, ya! Elo tuh sudah menghancurkan nama baik gue di sekolah elit ini, tau gak?! Lo tau, hampir semua siswa-siswi bergosip tentang keburukan gue dan kedua sahabat gue saat itu! Dan bisa-bisanya waktu silam, Alex malah belain elo karena gue sudah buat lo masuk rumah sakit. Gue curiga kenapa Alex sekarang bisa seperti itu ... ELO PAKE PELET, KAN??!!”
Mata Freya mencuat lalu menggelengkan kepalanya dengan mengeluarkan air mata karena apa yang diduga Youra sangatlah tidak benar. “Enggak, Youra! Aku gak pernah ngelakuin hal buruk seperti itu, kok! Bahkan ilmu hitam saja aku gak bisa gunain!”
Youra menarik salah satu sudut bibirnya menjadi miring dengan terus menatap Freya melotot. “Oh, berarti kalau lo bisa gunain ilmu hitam, elo bakal melakukan semua itu terhadap pacar gue supaya gue semakin direndahin sama seluruh siswa-siswi yang bersekolah di bangunan SMA miliknya papa Alexander?! IYA??!!”
“Hiks! Enggak! Bukan gitu yang aku maksud! Aku gak pernah melakukan setega itu sama kamu ke Alex! Kamu tolong jangan menuduh aku yang tidak-tidak jika kamu saja gak punya bukti yang pantas dan benar!!” gusar Freya berkata sambil terus menangis karena cengkraman jari tangan Youra di dagunya semakin diperkuat.
Youra mendesis menatap keki Freya yang bulir air matanya tetap membasahi pipi putihnya. “Cengeng amat sih lo jadi cewek? Muak banget gue sama lo!”
Youra berjalan mundur dua langkah dengan tangan melambai-lambai pada Freya. “Sana deh pergi saja, gue gak mau lihat muka lo.”
Freya membenarkan posisinya segera lalu tanpa mengucapkan terimakasih pada Youra karena sudah dibebaskan darinya, menuruni undakan anak tangga dengan masih hati yang ketakutan. Namun ternyata Youra tidak seluluh yang Freya kira, dikarenakan apa yang gadis kekasihnya Alex sang ketua OSIS lakukan, mendorong kuat punggung Freya pakai kedua tangannya sekaligus.
Hal itu membuat tubuh Freya terhuyung ke depan dan akan jatuh mendarat tentunya dengan sangat keras di bawah. Freya memejamkan matanya apa yang akan selanjutnya terjadi pada dirinya.
Grep !
Tidak, sepertinya ia tak terjatuh. Badannya saat ini sedang direngkuh oleh seseorang dari belakang hingga tubuhnya tertahan untuk jatuh ke bawah dasar tangga. Kedua mata Freya membuka perlahan dengan bertepatan tubuhnya ditarik cepat hingga menempel di dada bidang orang yang tidak membiarkan gadis cantik Nirmala tersebut jatuh.
Freya sontak langsung menolehkan kepalanya ke belakang dengan sedikit mendongak, sedangkan yang sudah menolong dirinya perlahan melepaskan rengkuhannya dari tubuh mungilnya Freya. “Aku telah menangkapmu.”
Hatinya Freya begitu amat lega menatap seorang lelaki tampan yang tak lain adalah Angga sang pacar yang telah menyelamatkannya dari kerjaannya Youra. Namun di situ, Freya langsung cepat bersembunyi di balik punggung kokoh Angga karena takut pada Youra. Yang berusaha ingin mencelakai Freya tengah diam kaku dengan mata terpaku melihat sosok Angga yang telah hadir.
“A-angga ...?!”
Angga menatap tajam walau wajahnya tanpa ekspresi. “Sudah berapa kali aku bilang sama kamu, jangan ganggu Freya lagi. Apa kamu pikir, aku gak tahu siasat burukmu terhadap Freya?”
“Angga, aku-”
“Jangan banyak bicara! Kamu ingin melukai fisik Freya dengan yang lainnya, kan? Kamu belum kapok diberikan sebuah hukuman berat sama guru? Setelah kamu, Febrie, dan Claudie membuat Freya masuk rumah sakit karena ulah kriminal kalian?!”
Freya tersentak, karena baru pertama kali ini ia melihat dan mendengar Angga memarahi seorang kaum hawa apalagi itu adalah Youra. “Aku selama ini sudah diam dan sabar menghadapi kelakuanmu terhadap Freya, tetapi semakin lama dibiarkan, kamu malah semakin ngelunjak!”
Alex yang sedang menaiki tangga yang ada di bawah, matanya terbentur pada ketiga remaja yang berdiri di atas tangga lantai 3. “Angga? Freya? Youra?”
Dua siswi dan satu siswa itu menoleh ke arah Alex yang kembali melanjutkan untuk menaiki tangga hingga sampai di atas. Pemuda pemegang sekolah internasional ini, menatap mereka bertiga dengan bingung. “Sedang apa kalian di sini? Dan Freya kenapa keliatan takut begitu di belakang punggung elo, Ngga?“
Angga menatap Alex dingin. “Lo tanya aja sendiri sama pacar lo.”
Alex mengernyitkan dahinya lalu menoleh ke arah Youra yang punggungnya bersandar di belakang railing tangga. “Ada apa sebenarnya? Freya sampai ketakutan gitu lihat kamu, kamu buat masalah lagi sama Freya buat kesekian kalinya?!“
Alex yang meninggikan nada suaranya di kalimat akhir untuk Youra, membuat sang kekasih berdiri tegak dengan mata melotot. “Apa yang kamu maksud?! Aku sama sekali gak ngelakuin apapun sama Freya!”
Alex terdiam sejenak. Tidak mungkin kekasihnya tak melakukan sesuatu pada Freya kalau Freya saja sampai ketakutan seperti itu hingga bersembunyi di belakang punggung milik Angga. Pemuda tersebut kemudian melangkah ke belakang Angga untuk mendekati gadis lugu cantik itu yang saat ini kedua tangannya ia posisikan di depan rok pendek abu-abu atas lututnya.
Freya menaikkan kedua bola matanya untuk melirik ke arah Alex yang tingginya sepadan tingginya badan Angga. Di situ, Alex tersenyum lembut agar Freya tak terlalu takut padanya. “Freya, coba kamu jelaskan semuanya sama aku. Tadi kamu diapakan dengan Youra?”
Freya hanya diam saat tak sengaja melirik Youra yang tatapannya terkesan penuh ancaman. ‘Kalau lo jujur dan ceritain semua ke Alex, awas aja lo !’
Angga menatap dingin Youra yang telah mengancam Freya lewat relung hati. Tentu saja Angga mampu mendengarnya, hingga lelaki tampan berambut hitam keren itu, agak menyungging senyuman miringnya. Sementara setelah menunggu beberapa detik, Freya menggelengkan kepalanya kepada Alex yang masih tersenyum.
“Enggak, Lex. Youra gak apa-apain aku, kok ...” dusta Freya karena tidak mau menambah masalah.
Alex menghela napasnya pelan. “Gak usah bohong sama aku, Frey. Wajahmu terlihat ketakutan begitu lihat Youra, aku yakin pasti kamu tadi nggak baik-baik saja. Ayo, bilang aja sama aku.”
“Ih! Kamu ini kenapa sih, Lex?! Kamu gak percaya banget sama aku! Aku ini pacarmu, lho!” kesal Youra sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya.
Alex beralih menatap Youra. “Aku memang pacarmu. Tapi aku juga perlu butuh penjelasan semua ini dari Freya. Lebih baik kamu diam saja dulu.”
__ADS_1
Youra membuang mukanya dari Alex dengan hati yang sangat penuh emosi bila Freya pada akhirnya menceritakan semuanya dengan kejujuran. Sementara Angga yang masih berdiri di situ, terus menatap Youra dingin usai mengubah posisi bibirnya menjadi seperti semula.
“Ehm ... tadi sebelum ada Angga ke sini, aku mau turun dari tangga tapi aku sudah duluan dicegah sama Youra. Di situ ...”
“Ayo terus saja bercerita padaku, jangan gugup seperti itu. Kamu aman, kok.” Freya menganggukkan kepalanya dengan tubuh gemetar usai Alex memohon dirinya untuk kembali melanjutkan cerita apa yang telah terjadi sebelumnya.
“Youra ada rencana jahat juga sama Febrie, Claudie buat ngelakuin sesuatu ke aku di gudang atas gedung sekolah. Aku nolak, tapi Youra terus memaksa aku ke atas rooftop ...”
Alex menggelengkan kepalanya karena tak menduga kekasihnya dan para sahabatnya akan melakukan seperti itu pada Freya yang sifatnya lemah lembut. “Youra tadi juga bilang kalau aku pelet kamu karena kamu dulu belain aku saat aku masuk rumah sakit.”
“Hah?! Apa?! Youra bilang seperti itu sama kamu?!” kejut Alex tak menyangka, sedangkan Angga biasa saja karena sudah tahu dari awal saat ia berjalan untuk meninggalkan lantai lorong sunyi ini.
Freya menganggukkan kepala dengan terus menunduk karena tidak mau melihat tatapan ancaman Youra yang membuat dirinya semakin takut apalagi warna auranya hitam, meski Freya tidak bisa menerawangnya seperti kekasihnya. “Yang terakhir pas aku turun dari tangga, kukira Youra akan membebaskan aku dari cegahan itu tetapi ternyata dia justru dorong aku dari sini.”
Freya mendongakkan kepalanya dengan tersenyum getir pada Alex yang wajah lelaki itu sedang menahan kekecewaannya terhadap Youra. “T-tenang saja, aku sudah ditolong sama Angga kok dari atas.” Freya setelah itu, menyentuh punggung pemuda tampan tersebut yang telah menyelamatkannya.
Alex menghempaskan napasnya kasar lalu menatap tajam Youra karena sudah berani melakukan seperti itu pada Freya. “Youra-”
“Jangan langsung percaya, Lex! Dia itu bercerita ngarang sama kamu, aku gak mungkin ngelakuin sejahat itu sama Freya! Dia tukang pembohong, wajahnya polos tapi sifatnya licik!”
“Kamu yang tukang pembohong, coba kamu lihat.” Angga menunjuk sudut lorong yang di sana terpasang macam kamera kecil. “Ada CCTV yang terus memantau, jadinya kamu nggak bisa mengelak atau membalikkan fakta.”
Youra tersadar dan baru ingat bahwa di sudut lorong dipasang kamera CCTV. Gadis tersebut pada akhirnya hanya bisa mengumpat dalam hati, seharusnya ia merusak alat pemantau tersebut sebelum melakukan tidak senonoh kepada Freya yang tadi telah bercerita dengan sesungguhnya.
“Sedang apa kalian berempat di sana?”
Terdengar suara pak Harden yang bertanya bingung kepada empat muridnya nang sedang berdiri di atas lantai terakhir. Beliau sang kepala sekolah, kembali menaiki tangga untuk mendatangi beberapa siswa-siswi yang berada di sana.
Pak Harden menatap mereka satu persatu dan yang membuat beliau curiga melihat raut wajah Freya yang pucat karena disebabkan ketakutan. “Ada apa denganmu Freya? Apa yang telah terjadi hingga kamu seperti ini?”
“Ehm, Pak ...” Freya hanya membungkukkan badannya untuk menyapa beliau dengan sopan bersama senyuman paksa.
“Pak Harden, saya izin melaporkan tindakan.” Angga membuka suara pada beliau hingga sang kepala sekolah menoleh menatap Angga.
“Baik, Angga. Izin melaporkan tindakan apa?” tanya pak Harden dengan tatapan serius.
“Tadi Youra ingin mencelakai Freya, dengan mendorongnya agar jatuh dari tangga ini.” Angga menjawab detai kepada beliau seraya menuding arah undakan anak tangga dibawah.
Pak Harden terkejut dengan mata terbelalak saat melihat arah tudingan murid pendiamnya. “Youra ingin melakukan tindakan kriminal lagi sama Freya?!”
‘Sialan ini cowok kulkas satu! Bisa-bisanya dia melaporkan tindakan itu pada pak Harden mengenai gue yang pengen celakai Freya si cewek cupu itu, argh !’ ucap Youra dalam hati dengan mengumpat murka pada Angga.
Pak Harden menyerong badannya untuk menatap murid satunya yang bernama Youra Adrienne Arabella. “Apakah benar, Youra?!”
“E-enggak, Pak!”
“Ayo, bilang bohong lagi. Sudah jelas-jelas kamu ingin melakukan tidak pantas itu sama Freya, kamu sekarang sudah gak bisa mengelak lagi, Youra!” tegas Angga sementara Alex diam saja karena sedang berusaha meredakan amarah terhadap pacarnya itu yang memiliki siasat buruk tercela.
Youra kini menunduk karena sama sekali tak berani menatap Angga yang sorot matanya begitu tajam. Pak Harden memijat keningnya karena merasakan kelakuan perbuatan tercelanya Youra. “Kamu sudah banyak sekali melakukan hal buruk itu pada Freya, sekarang ikut Bapak ke ruang BK!”
“Jangan dong, Pak! Gitu aja masa harus masuk ruang BK, sih?” sangkal Youra.
“Kamu berani membantah Bapak?! Perbuatanmu saja selalu tidak baik kepada Freya yang sama sekali tidak berbuat kesalahan padamu. Ini perintah dari Bapak, jadi sebaiknya kamu tidak usah membangkang!”
“Dan kamu Alex, lebih baik kamu juga ikut Bapak ke ruang BK untuk menjelaskan semuanya pada Bapak dan pak Rizky nanti, karena Bapak mengerti kamu pasti tahu apa yang telah terjadi. Untuk Angga dan Freya, silahkan segera balik ke kelas, ya? Karena sebentar lagi bel masuk akan dibunyikan.”
“Baik, Pak.” Angga merespon dengan rada membungkukkan badannya bersama senyum, sementara Freya hanya menganggukkan kepalanya jangan lupakan senyumannya.
“Ayo jalan,” ajak Alex sambil menarik tangan Youra menuruni undakan anak tangga di belakang pak Harden yang telah melangkah duluan.
Youra langsung menampik kasar tangan kekasihnya. “Ini juga karena gara-gara kamu, Lex ...!”
Alex mendelik karena bisa-bisanya gadisnya itu menyalahkan dirinya yang tadi hanya membutuh penjelasan dari Freya saja, tidak lebih. Pemuda tersebut cuma menghembuskan napasnya saat Youra melengos meninggalkannya tanpa ada lagi satu katapun yang terucap di mulutnya.
Setelah mereka bertiga tak terlihat di mata sepasang kekasih itu dari atas, Angga memutar seluruh tubuhnya ke belakang lalu menyentuh lembut kedua bahu Freya yang masih diliputi rasa takut akibat kelakuannya Youra. Pemuda tampan pemilik indera keenam tersebut melepas tangan kanannya dari pundak kecil Freya untuk membelai-belai sayang rambut halus kekasihnya dengan tersenyum hangat.
“Jangan takut lagi, ya? Kamu sekarang aman sama aku. Maaf, harusnya aku gak nyuruh kamu pergi ke kelas tapi nyuruh kamu nungguin aku di depan toilet.”
Freya tersenyum tipis dengan menepiskan rasa ketakutannya. Gadis cantik itu menggeleng pelan sambil berkata, “Enggak apa-apa kok, Ngga. Makasih kamu datang tepat waktu.”
“Iya, Sayang. Karena aku gak akan pernah membiarkan kamu terluka sedikitpun.”
Freya menganggukkan kepalanya lalu memeluk tubuh Angga dengan mengubah senyumannya menjadi lebar berkat kekasihnya yang selalu menjaganya. Dekapan hangat itu pun langsung dibalas pelukan oleh Angga bersama senyuman tampannya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Kini sekarang Jova dan Reyhan tengah berjalan menuju ke kelas dengan beriringan sembari mengeluarkan gelak tawanya bersama membuat senyuman mereka tak mudah pudar. Hingga saat akan masuk ke dalam ruang kelas XI IPA 2, kedua mata Freya auto melotot lebar karena terkejut melihat seorang siswa yang memakai topeng wajah psikopat.
“Hua! Ada psikopat di sekolah!!” pekik Jova seraya menutup seluruh wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya.
“Santai, Va. Itu psikopat kesasar!” Reyhan kemudian menoyor atas kepala Raka yang telah menakuti para siswa-siswi dan kenanya sekarang adalah Jova sahabatnya Reyhan.
“Aduh! Sakit, Anjir!”
“Elo yang kenapa protes, Cuy? Biasanya juga elo kayak begitu!” komplain sebal Raka tanpa mau melepas topeng mukanya.
“Idih! Gue main kayak gitu kalau di luar doang, ya! Gak sampe di sekolah juga. Jangan bilang cita-cita masa depan lo mau jadi komplotan geng psikopat, lagi.”
Raka akhirnya melepas topeng wajah psikopatnya lalu menatap tajam setajam pisau pada Reyhan yang melontarkan perkataan itu. “Itu mulut lama-lama gue raut pake rautan pensil! Gue cowok yang baik-baik, ye!”
Jova mengerucutkan bibirnya tajam. “Itu topeng bakal aku remuk-remuk terus aku bakar biar jadi abu! Belajar, sono! Dapet nilai rendah, kapok!”
“Enak aja main rusak barang orang lain! Aku bantai lama-lama kamu, Va!” ancam Raka dengan menuding sebal ke arah Jova yang ada di sebelahnya Reyhan.
“Iya! Gue yang bakal bantai lo duluan sampe tubuh lo hancur berkeping-keping abis itu gue cincang buat di makan!” ucap sadis Reyhan.
“Ini mah namanya psikopat campur kanibal,” gumam Raka lirih dengan berpaling dari wajah kesal Reyhan.
“Woi! Lo bilang apaan, tadi?! Lo kira gue tuli, hah?!” Reyhan menunjuk satu telinganya dengan jari telunjuk sambil terus mendelik greget pada Raka.
“Kabuuuuurr!!!” Raka langsung berlari terbirit-birit ke dalam kelas takut jika Reyhan akan mengajaknya adu baku hantam. Padahal itu sangat mustahil.
“Itu anak bener-bener, ya! Emosi terus dibuatnya. Heran dah gue sebagai kawannya ini!” geram Reyhan.
Setelah itu kedua sahabat sejoli tersebut kembali melanjutkan langkahnya ke dalam ruang kelas yang di sana sudah ada banyak siswa-siswi yang membuka-buka buku catatan, buku tugas, dan buku paketnya masing-masing untuk mempersiapkan diri menghadapi Ujian selanjutnya yang terakhir di hari ini.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di jalan akan menuju ke kelas, Angga dan Freya saling diam tak berbicara walau mereka masih tetap tersenyum. Hingga gadis cantik itu menolehkan kepalanya sedikit mendongak menatap Angga.
“Angga, soal kejadian tadi ... kamu jangan kasih tau Reyhan apalagi Jova, ya? Aku gak mau mereka berbuat macem-macem sama Youra. Terlebih mereka berdua benci banget sama Youra. Tolong jangan ya, Ngga?”
Angga yang menatap bola mata Freya, lalu mengalihkan wajah tampannya ke arah depan bersama wajah datarnya. “Iya.”
“Makasih, hehehe!”
“Hhhh ... ya sama-sama. Dia dari kelas sepuluh emang gak pernah berubah, dia dan dua sahabatnya masih saja tetap mengganggu kamu. Mereka akan melakukan hal buruk denganmu kalau kamu lagi sendiri atau gak ada pendamping. Maka dari itu lain kali kamu jangan suka jalan sendiri di dalam bangunan sekolah ini kalau gak mau mendapatkan hal yang sama sekali gak kamu inginkan.”
“Dan kamu, masih ingat? Karena saking gak terimanya kamu diperlakukan masa itu hingga berakhir luka parah lalu masuk rumah sakit, ayahmu ingin melaporkan mereka bertiga ke polisi begitupun juga kepala sekolah. Tetapi kamu sendiri menolak untuk menutup masalah itu, kamu emang perempuan sebaik malaikat. Bahkan kamu masih saja mampu memaafkan kejahatan mereka.”
“Perempuan sebaik malaikat? Bisa saja kamu, Ngga. Ehm, aku gak mau Youra, Febrie, dan Claudie menderita karena mendekam di dalam penjara kantor polisi. Aku yakin kok suatu saat entah kapan pasti mereka bertiga akan berubah.”
“Hm, semoga saja.”
Freya menyenggol lengan kanan kekasihnya dengan bibir nyengir. “Tapi kamu juga sama sepertiku. Sebaik malaikat, karena suka ekstra sabar dan menerima maaf semua orang. Yang padahal dulu kamu sering diperlakukan jahat sama Gerald.“
DEG !
Angga langsung melimbai kepalanya kencang ke arah Freya dengan sedikit menunduk karena gadis miliknya lebih pendek darinya. Mata ia sampai melotot karena terkejut. “K-kamu tahu darimana kalau aku sering diperlakukan jahat sama Gerald dulu?! Siapa yang memberi tahu kamu?!”
Freya mendengus. “Reyhan sama Jova. Mereka menceritakan semuanya ke aku saat kamu masih pingsan di dalem ruang UKS akibatnya habis menyelamatkan aku dari peristiwa yang dibuat Youra.”
Flashback On
“Mumpung ada waktu yang tepat. Aku mau bocorin sesuatu yang dulu terjadi sama Angga pacarmu,” ujar Reyhan.
“Apa itu, Rey?” tanya Freya penasaran.
“Tapi entar pasti kamu endingnya bakal kaget, sih kalau aku ceritain itu sama kamu.”
“Kaget gak masalah, yang penting kamu mau bercerita itu ke aku. Emangnya apa yang terjadi pada Angga dulu?”
Reyhan menyandarkan punggungnya di tembok cat putih yang terasa dingin itu lalu bersedekap di dada bidangnya sebelum bercerita non mengarang. “Angga dulu pas masih SD sering diperlakukan gak senonoh sama seseorang yaitu Gerald mantanmu. Alasan dari semua itu, karena dia gak mau kalah saing sama prestasi tinggi pacarmu saat itu, dan Gerald juga menyimpan dendam besar kepada Angga karena dulu di matanya Gerald, si Angga membunuh sahabatnya yang bernama Zhendy.”
“Ya, terlebihnya menuduh kalau Angga yang bunuh. Padahal enggak juga,” celetuk Jova bersuara mencampuri ceritanya Reyhan.
“Tunggu-tunggu bentar! Maksud kalian yang selama ini membuat Angga kayak gitu, Gerald?! Kalian lagi gak menipuku, kan??” kejut Freya tak menyangka bila itu benar fakta.
“Gak, dong. Aku bercerita dengan sesuai kenyataan. Dulu saat kamu masih ada hubungan sama Gerald, Angga menceritakan semua masa lalunya yang sesungguhnya padaku. Jika kamu ingin tahu siapa sebenernya yang bunuh Zhendy, adalah hantu yang menolong Angga. Kalau gak ada itu hantu, kekasih tercintamu mati dibunuh sahabatnya Gerald, tau !”
“Ternyata sahabatnya Gerald juga begitu sama Angga? Jahat banget ya, mereka. Tapi yang dibully masih aja tegar sampai sekarang.”
Reyhan dan Jova menganggukkan kepalanya dengan raut wajah sendu yang tergambar jelas. Tapi kemudian Freya menegakkan badannya dengan mata terbelalak sempurna. “Berarti yang membikin Angga hampir meninggal di rumah sakit, Gerald juga? Katamu dia menyimpan dendam besar sama Angga kan, Rey?!”
“Yah, begitulah ... tapi aku dan Jova bersyukur banget karena apa yang dilakukan Gerald untuk membunuh Angga gagal total. Karena memang dari dasarnya, nyawa kekasihmu ini kuat seperti baja.”
Freya mengalihkan muka cantiknya dari kedua sahabatnya untuk menatap Angga yang belum sadarkan diri di atas ranjang kasur UKS. Wajahnya memang begitu pucat setelah kepalanya terbentur sangat keras di dinding bawah tangga kedua.
“Inilah ternyata alasan dari Gerald. Dia terlalu posesif sama aku jika aku dekat dengan cowok lain dan itu adalah Angga. Andai Angga berniat buat menceritakan semuanya padaku, aku gak akan sudi menjadi pacarnya !”
Flashback Off
Angga menepuk keningnya pelan. ‘Astaga itu dua anak benar-benar. Membongkar semuanya tanpa seizin gue terlebih dahulu. Tapi yasudah, lah. Mungkin sudah ada pada waktunya untuk Freya mengetahuinya.’
“Kenapa diam aja? Kaget ya semua rahasiamu terbongkar sudah? Kita ini udah lama berpacaran lho, Ngga! Masa masih aja kamu menyimpan rahasia dariku?!” kesal Freya seraya melipatkan kedua tangannya di dada dengan muka cemberut.
__ADS_1
Angga melepaskan telapak tangannya dari dahinya yang tertutupi oleh rambut hitamnya. “Aku merahasiakan semua ini darimu karena aku gak mau kamu kepikiran mengenai aku. Aku gak suka melihat kamu yang merenung disebabkan terlalu banyak berpikir.”
“Sama! Aku juga gak suka kamu merenung disebabkan banyak berpikir. Tapi it's okay saja, yang penting aku sudah tahu semuanya. Dan aku sudah tahu kebusukan mantanku terhadap kamu, terlebih ingin membunuhmu di masa itu.”
“Oke-oke. Tolong jangan dipikir, ya?”
“Gak! Ngapain aku mikirin itu yang sudah tergabung menjadi masa lalu? Sama aja dong aku memikirkan cowok bajingan itu!” umpat Freya membuat mata Angga mencuat karena ia telah berbicara kotor.
“Astaghfirullah, Freya! Mulutnya dijaga!” Angga reflek menutup mulut kekasihnya, mulut saja tanpa sampai hidungnya.
Freya menganggukkan kepalanya dengan mengangkat dua jarinya, hal itu Angga langsung melepaskan telapak tangannya dari mulutnya. “Maaf, aku terlanjur membenci Gerald.”
Angga menggelengkan kepalanya. “Kamu jangan membenci orang terlebih itu adalah mantanmu. Sudah, lebih baik lupakan dia saja. Karena dia memang tidak baik untukmu.”
Setelah menegur halus Freya, Angga merangkul hangat kekasihnya agar hati amarah Freya redam. Memang sebaiknya mantan yang seperti itu dibuang saja ke ujung samudra agar tak mengotori otak beserta pula hatinya yang jernih.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di jam sekolah yang telah berakhir, semua seluruh siswa-siswi berhamburan keluar dari kelas dan akan hendak menuju luar lobby untuk pulang ke rumahnya masing-masing dengan hati yang sangat gembira dikarenakan besok sudah libur panjang tanpa ada kegiatan liburan bersama.
Saat akan menuju ke parkiran bersama kedua gadis sahabatnya pemuda Friendly tersebut, Reyhan melihat Kenzo yang berdiri di luar lobby sambil mengetik sebuah pesan di ponselnya. Reyhan pun tanpa aba-aba langsung menarik tangan Angga untuk mengajaknya menghampiri Kenzo.
“Kenzo?” panggil Reyhan ramah.
Kenzo menoleh menatap Reyhan yang telah memanggilnya, lelaki bermata biru itu langsung mematikan layar ponselnya sambil tersenyum. “Elo, Rey? Kenapa?”
“Denger-denger tadi di luar kantin, elo disuruh sama Emlano ke kota Bandung besok karena meminta bantuan penting, ya?”
Kenzo mengangguk. “Benar. Gue juga gak tau kenapa Emlano sejauh itu minta pertolongan pada gue. Tapi bagi gue gak masalah, gue di rumah juga suntuk jadinya sekalian refreshing ke kota lain.”
“Hahahaha! Oke-oke mantap, biar gak ada beban yang terlalu di rumah.” Reyhan menanggapi ucapannya Kenzo dengan menepuk-nepuk bahu kiri temannya.
Angga yang hanya diam bisu menyimak pembicaraan mereka berdua, seketika dikejutkan oleh sebuah bayangan hitam yang aneh di belakangnya Kenzo. Lelaki tampan Indigo itu mengerutkan keningnya dengan menyipitkan kedua matanya curiga.
‘Bayangan hitam apa itu?’
Usai berkata secara relung hati, bayangan hitam tersebut memudar dan tak terlihat lagi di matanya Angga sekalipun mata batin miliknya. Kini sekarang Angga memejamkan matanya dikarenakan kepalanya tiba-tiba mendadak sakit entah kenapa.
“Gue pulang duluan, ya?” pamit Kenzo lalu pergi meninggalkan Reyhan dan Angga ke parkiran khusus roda dua yang ada di bagian arah kanan.
“Yoi! Hati-hati dijalan!” teriak Reyhan.
Brugh !
Reyhan sontak menoleh ke arah sumber suara yang jatuh itu. Pemuda itu terkejut melihat Angga yang terduduk dalam posisi berlutut dengan memegang kepalanya, sedangkan tangan satunya menopang lantai lobby. Reyhan berjongkok lalu menyentuh punggung sahabatnya dengan khawatir.
“Angga! Lo kenapa lagi?! Muka lo agak pucet, ini pasti cedera kepala lo kambuh balik!” tebak duga Reyhan.
“M-mungkin ...”
Freya dan Jova yang sedang berada di parkiran motornya, matanya saling menangkap sosok Angga yang terduduk di lantai lobby bersama Reyhan yang berjongkok. Akhirnya mereka berdua berlari menghampiri kedua pemuda tersebut.
“Eh, Angga kenapa?!”
“Kayaknya sih ini sakitnya kembali kambuh! Sebentar, aku perlu pindahin Angga ke kursi panjang itu. Sekalian biar Angga bisa minum obat di sana,” tutur Reyhan menjawab Freya seraya mengangkat tangan Angga untuk mengajaknya duduk di kursi panjang pojok lobby.
Setelah mendudukkannya, Reyhan segera cepat membuka resleting tas ransel hitam milik Angga bagian paling depan sendiri untuk mengeluarkan bungkusan obat yang selalu tetap sahabatnya bawa. “Obat sudah- minum mana minum?! Lo gak bawa botol air minum nih, Bro?!”
Angga cukup menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan suaranya, karena bukan hanya kepala yang sakit tetapi juga dadanya yang terasa sakit hingga sesak. Di sisi lain, Reyhan menepuk jidatnya keras.
“Gue juga gak bawa botol air minum, Cuy! Eh salah satu di antara kalian berdua, bawa botol air minum gak? Apa saja yang penting bisa Angga minum!” gusar Reyhan cemas.
“Aku gak bawa, Rey. Lupa malah!” respon Freya setelah menggelengkan kepalanya.
“Aku bawa sih, tapi cuman sisa botolnya doang. Airnya udah habis aku minum! Gimana, dong?” timpal Jova.
“Oke kalau gitu! Aku bakal pergi ke kantin buat beli air mineral, paling harganya seribu doang. Ngga! Tahan dulu bentar, ya?! Jangan semaput, lho! Awas aja kalau pingsan, gue buang lo ke jurang!”
“Reyhan, ih!” pekik sebal Freya.
“Hehehe! Bercanda, kok bercanda! Kalian tunggu di sini, ya? Aku mau masuk dulu buat beli minuman di kantin yang masih buka!” ucap Reyhan sambil beranjak dari kursi dan berlari kencang masuk ke dalam bangunan sekolah.
Freya duduk di tepat sampingnya Angga lalu menggenggam lengan tangannya dengan muka raut sedikit risau. “Kamu masih kuat, kan?”
Angga menolehkan kepalanya dengan gerakan lemah lalu tersenyum pada Freya. “Iya. Aku masih kuat, kok. Kamu tenang saja ...”
Angga masih tidak mengerti pada bayangan hitam tersebut yang muncul di belakangnya Kenzo. Seolah-olah bayangan itu akan mengintai Kenzo kemanapun ia berada. Apalagi anehnya, mengapa hanya Angga yang mampu melihatnya? Dan kenapa saat itu Reyhan seperti tidak bisa melihatnya? Padahal Reyhan yang paling dekat dengan Kenzo saat berkomunikasi ramah. Astaga, memikirkan keras hal gaib tersebut semakin membuat kepala Angga terasa sakit begitupun dadanya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
“Cuman itu saja yang Mas Reyhan beli? Nggak ada lain selain itu?” tanya penjual jajanan makanan dan minuman di salah satu warung kantin yang masih buka.
“Hehehe! Iya Bibi. Buat sahabat saya yang lagi ada di luar lobby sekolah,” tanggap ramah Reyhan.
“Oh, begitu. Yasudah ini kembaliannya.” Wanita paruh baya penjual aneka jajanan tersebut menyerahkan uang kembalian pada siswa jangkung itu dan langsung diterimanya oleh Reyhan.
“Oke, Bi. Kalau begitu saya pamit duluan, ya?”
“Iya. Hati-hati dijalan ya Mas. Jangan ngebut bawa motornya nanti, biasanya cowok jaman sekarang suka ngebut-ngebut kayak pembalap,” celoteh sang penjual.
“Hahaha! Gak semua cowok kayak gitu atuh, Bibi. Tenang saja Bi, saya akan berhati-hati, kok.”
“Iya, deh. Wah Bibi bakal rindu banget nih sama kamu, Mas. Soalnya besok udah libur panjang.”
“Asyik bakal dikangenin! Saya juga akan rindu sama Bibi yang cantik ini, kok. Sampai bertemu di lain waktu ya, Bi! Maksudnya pas saya sudah naik ke ke kelas dua belas, semoga.”
“Pasti naik, dong. Kan Mas Reyhan siswa yang berprestasi di kelas IPA dua, hehehe!”
“Aduh, Bi. Dipuji terus diri saya, nanti saya malah terbang terus malah susah napak di bumi lagi lho, haha!”
Setelah berpamitan pada penjual kantin, Reyhan balik badan untuk meninggalkan kantin yang sepi tersebut. Tetapi baru saja akan belok arah menuju lobby, langkah kaki Reyhan terhenti saat melihat Emlano sedang melakukan hubungan percakapan lewat telepon.
Lo tenang saja, rencana yang telah gue buat sudah gue pastikan akan berhasil. Karena di kota Jakarta gak ada satupun yang menghalangi gue
Reyhan mengerutkan keningnya dengan memalingkan mukanya sedikit dari Emlano yang kini tengah tertawa bahagia. “Rencana? Rencana apa yang Emlano buat?”
Terlihat Emlano menyudahi pembicaraan pada seseorang dari telepon lalu mematikan teleponnya di layar ponselnya. Pemuda tersebut kemudian langsung melangkah pergi tanpa sadar bahwa ada Reyhan yang memantaunya. Sebenarnya sedari tadi Reyhan curiga kepada Emlano, tetapi tetap saja lelaki humoris itu membuang pikiran negatifnya terhadap Emiliano Baskatar Leonard.
Reyhan memilih kembali mendatangi Angga beserta kedua sahabat perempuannya yang berada di luar lobby. Setelah tiba di mereka bertiga, Reyhan langsung menyodorkan botol air mineral yang ukurannya kecil pada Angga.
“Maaf, Bro. Lama, ya?”
“Enggak. Makasih,” ucap Angga senyum tipis sembari menerima botol air mineral yang telah Reyhan beli dari kantin.
Beberapa detik kemudian Angga menghembuskan napasnya setelah obatnya telah masuk ke dalam tubuhnya usai meminumnya. Kemudian Reyhan menoleh ke arah dua sahabatnya. “Kalian berdua mending pulang duluan, gih. Angga biar sama aku.”
“Tapi, Rey. Aku mau pulang bareng sama Angga,” jawab Freya menolak komando lembut Reyhan.
“Freya yang cantik seperti Bidadari khayangan. Aku tahu Angga itu adalah pacarmu, tapi bisa dong kamu menitipkan cowokmu padaku. Santai, nanti kalau Angga kenapa-napa biar aku yang tandang.”
“Emangnya kamu ngomong begitu, Angga barang yang bisa dititipin? Gak begitu maksudku! Tapi yasudah deh, kalau gitu. Aku pulang duluan ya, Ngga. Kalau ada apa-apa langsung kabarin aku.”
“Oke. Kamu hati-hati dijalan sana. Kamu juga ya, Va?”
“Itu pasti, Ngga! Ayo, Frey! Kita tinggalin dua cowok six sense yang ada di sini.” Jova menarik tangan Freya ke parkiran motor.
“Kok dua? Satu, kali! Aku gak Indigo, tapi Angga doang yang Indigo!“ pekik Reyhan.
Pekikan Reyhan sama sekali tak digubris oleh Jova yang sedang tertawa bersama Freya di sana. Angga dan Reyhan diam duduk di kursi sembari menatap kepergian kedua gadis itu yang melajukan motornya keluar dari gerbang sekolah.
Reyhan setelah itu beralih menatap Angga yang masih memegang dadanya dengan menahan sakit di situ. “Ngga, lo sedari tadi pegang dada mulu. Masih sakit, ya?”
Angga hanya bungkam mulut sembari sedikit menundukkan kepalanya. “Rey, gue ingin ngomong sesuatu sama lo.”
“Mau ngomong sesuatu apaan?” tanya Reyhan menyongsong badannya ke arah Angga.
“Tadi di saat lo masih sibuk ngobrol dengan Kenzo, gue sempet lihat bayangan hitam di tepat belakangnya Kenzo.”
“Hah?! Bayangan hitam di belakangnya Kenzo?! Sori, Ngga! Bukannya gue gak mau percaya sama lo, tapi gue sama sekali gak ngeliat bayangan apapun di belakang temen kita. Secara, sosok-sosok gaib gitu harusnya gue bisa lihat.”
“Bagaimana ciri-cirinya dari bayangan hitam yang lo lihat tadi?” sambung Reyhan penasaran.
“Bayangan hitam itu bentuknya gak terlalu jelas di mata gue, namun jika dilihat bentuknya seperti postur tubuh manusia pada umumnya.”
“Oke, lalu waktu lo melihat bayangan hitam itu yang ada di belakang tubuhnya Kenzo, aura apa yang lo rasakan?”
Angga menggelengkan kepalanya. “Gue gak tau. Mata batin gue untuk menerawang aura itu seperti dibatasi seperti yang mana gue menyurvei auranya Emlano.”
“Apa jangan-jangan akan ada sesuatu yang terjadi pada Kenzo? Gue tadi di luar gang kantin, mendengar percakapannya Emlano pas lagi menelpon seseorang yang gak gue kenal.”
“Emlano? Emiliano Baskatar Leonard siswa yang duduk di bangku kelas IPA dua itu?” tanya Angga memastikan.
Reyhan mengangguk antusias. “Iya. Gue denger kalau dia sudah merencanakan sesuatu entah buat siapa. Apa untuk Kenzo?”
“Rey, sebaiknya lo jangan menebak yang bukan-bukan dulu. Gue juga nggak tau kenapa gue tidak bisa membaca auranya Emlano sampai saat ini,” pungkas Angga agar Reyhan tak terlanjur berpikiran negatif.
“Akh!” Angga semakin mengeratkan tangan kirinya untuk mencengkram dadanya yang sakitnya terus menyerang. Ada apa ini? Angga pun tidak tahu.
“Angga! Dada lo semakin sakit?!” panik bimbang Reyhan sambil menyentuh punggung sahabatnya.
Hingga tiba-tiba mereka berdua yang masih duduk di kursi panjang lobby, diperlihatkan sosok Emlano yang melangkah menuruni undakan tangga kecil dan menuju ke sebuah mobilnya yang terparkir. Dengan menahan rasa sakit amat di dada, Angga terus memperhatikan punggung Emlano bersama Reyhan yang menatapnya penuh kecurigaan. Tentunya awal dari curiganya Reyhan saat Emlano telah merencanakan sesuatu dengan wajah ekspresi yang sulit diartikan.
Rencana apa yang sudah Emlano persiapkan sebenarnya? Dan bayangan hitam apakah yang Angga lihat di belakangnya Kenzo? Ini benar-benar sebuah adegan fragmen misteri yang harus segera diketahui serta harus lekas dipecahkan.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1