
Langit yang tertutup oleh banyaknya daun-daun pohon rindang sejuk membuat Anggara dan Stevan betah diri disitu. Anggara juga telah mengenal banyak tentang-tentang isi dunia alam roh dan arwah bersama Stevan yang selalu ada disampingnya. Akhir-akhir minggu ini, Anggara lebih nyaman di alam yang ia kunjungi sampai melupakan dunia alam jiwa. Sekarang Anggara tengah berbaring di rerumputan hijau tanpa menyadari kalau Stevan tidak ada di sisinya.
Anggara yang sedang menikmati santai harinya terganggu sekali karena daun-daun pohon berjatuhan mengenai wajah tampannya. Tentu Anggara tahu, mesti ada yang usil padanya. Anggara mendongak kepalanya dan benar saja duganya Anggara, Stevan lah yang sedang usil pada Anggara dengan sengaja menaburkan beberapa daun-daun pohon yang ia ambil lalu ia jatuhkan ke muka Anggara.
Tangan Anggara menyingkirkan daun-daun tersebut dari wajahnya lalu mendongak kembali menatap sengit pada teman roh resenya itu. Tangan Anggara membentang dan menunjuk Stevan sambil mengumpat kesal.
"Elu yak! Gak ada kelar-kelarnya ngerjain gue! Turun lo!"
"Ogah .. enak disini sambil refreshing otak biar seger," jawab Stevan sambil menyenderkan punggungnya serta satu kakinya ia tekuk di atas batang pohon sementara satu kakinya lagi berposisi lurus.
"Punya penyakit saraf otak, lu??"
"Mata lo anying!" bentak tak terima Stevan.
"Makanya gue bilang turun, jangan kayak monyet gentayangan di atas pohon!" ledek Anggara menatap sengit.
"Heh! Lo pikir gue hewan, apa?! Setan alas lo Ngga .. punya temen mulut remnya blong!!"
"Bodo amat!"
Anggara bangkit berdiri dan mengambil satu batu untuk sebagai ancaman Anggara ke Stevan. Anggara mengayunkan tangannya ke belakang bersiap melempar kencang batu yang ada di dalam genggamannya ke Stevan.
"Gak turun, gue lempar batu ini ke mulut lo yang ceriwis kek emak bebek nyari anak-anaknya!"
"Kwek kwek kwek! Bahahaha ayo lempar aja kalo kena!!"
"OKE!!"
Anggara dengan geram benar-benar melakukan ancamannya melempar batu itu ke Stevan, namun Stevan dengan gesitnya mengelak lemparan batu itu. Dengan gaya sok hebatnya, ia menjulurkan lidahnya meledek Anggara.
"Wleeeekk!! Gak kena gak kena!"
"Cih sok heba- eh?!"
Mata Anggara mencuat kuat dengan bergidik ngeri melihat hewan berkulit sisik, tubuh yang panjang dan berbadan lumayan besar. Warna dari hewan itu hitam gelap serta memiliki kedua mata pada bola mata berbentuk oval sipit, mulutnya seperti moncongnya sendok. Lidahnya menjulur panjang dan menggerakkannya ke Stevan, lehernya ia tegak lurus seperti akan menerkam Stevan.
"STEVAN BURUAN GEGAS TURUN!!!"
"Hah? Apaan sih, kok lo kek takut gitu dah," tanya Stevan tak sadar bahwa ada hewan membahayakan di sampingnya persis.
"Anjir punya mata buat apaan sih?! ITU ADA ULER ITEM DI SAMPING ELOOO!!!"
"Hah uler item- hueeee uler beneraaaaannn!!!"
"LAH-LAH E-EH WAAAA!!!"
Saking kaget bercampur rasa ketakutan nyaris jantung copot, Stevan yang tidak melihat posisi ia sedang ada dimana akhirnya menjadi hilang keseimbangan dan jatuh ke bawah, sementara Anggara yang tepat berdiri di bawah Stevan bukannya menangkap orangnya malahan ikut terjerembab.
GROBYAAAKKH !!!
"Wadaaaaooooww!!!"
Sudah habis Anggara tertindih oleh Stevan yang ada di atasnya, hingga ia menimbulkan suara teriakan kencang kesakitan karena serasa tertiban lemari. Stevan bernapas lega ia tak merasakan kesakitan karena ada pelindung dirinya. Anggara kesakitan dan si Stevan menyengir tanpa dosa.
"Ehehehehe berasa jatuh di kasur ye."
"Abis udah remuk badan gueeee!! Bisa gak sih kalo anjlok itu liat-liat, biar gak ada korban! Gue korbannya tau gak?!!"
"Yaelah maaf dong namanya juga reflek!"
"Cepetan lo minggir dari badan gue, berat banget badan lo sumpah!! Dasar beruang semok, buruan!!"
"Iye-iye bentar!!"
Stevan cekatan membebaskan Anggara yang telah tertindih olehnya, namun ia sedikit sengit Anggara telah mengatakan dirinya 'Beruang semok' ingin sekali setelah ini Stevan menyerang balik ucapannya Anggara.
Anggara akhirnya terbebas dari tindihan teman rohnya itu lalu mengubah posisinya menjadi duduk sembari meregangkan seluruh ototnya yang memar.
"Heh! Sate sendal jepit, enak aja lo ngatain gue beruang semok, beruang aja kagak semok juga kagak. Itu mata sehat atau mata seliwer??"
"Abisnya lo seenak jidat nubruk-nubruk badan orang, untung masih baik-baik aja gue, belom gepeng jadi ayam geprek!!"
"Ya malah bagus dong, itu berita besar yang luar binasa!"
Di pertengahan perdebatan dua pemuda roh itu, munculah seorang gadis cantik berambut hitam panjang yang di sela-sela rambutnya berwarna putih, mata berlensa ungu membuat gadis itu terlihat sangat fantastik. Ya, itu adalah si Senja Intara Alandara. Senja datang secara tiba-tiba lalu menghampiri Anggara serta satu lelaki yang belum ia kenal sama sekali.
"Baperan banget sih jadi roh, heran banget gue!"
"Kan elo dulu yang salah!" bentak Anggara.
"Itu salah lo sendiri lah! Bilang kek daritadi kalo ada uler, situ malah teriak-teriak gak jelas!"
Mata Anggara melotot. "Heh! Tadi udah gue bilangin ada uler di samping lo, elo-nya aja yang lelet! Bukannya langsung turun malah teriak-teriak gak ada niat turun cepet!!"
"Eh stop stop stop!!"
Suara gadis yang familiar di telinga Anggara membuat Anggara menoleh kebelakang dan mendapati Senja teman arwahnya yang dulu mengubah hati lara Anggara menjadi membaik. Anggara terkejut atas kedatangan Senja yang beberapa minggu ini tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.
"Senja?!"
Senja berjongkok di samping Anggara lalu mencubit lengan Anggara jengkel. "Iiihh, aku tuh nyariin kamu loh! Tau-taunya disini, aku kira kamu udah di ambil sama Gilles!!"
"Akh adududuh! Iya-iya ampun, jangan cubit lenganku bisa, kan? Lagian kamu juga darimana aja akhir-akhir minggu ini? Malah baru keliatan sekarang."
"Eum maaf .. beberapa minggu kemarin aku pergi ke tempat pendakian," jawab Senja memanyunkan bibirnya dengan melepaskan cubitannya dari lengan tangan Anggara.
"Pendakian tempat kamu dan temen-temenmu di bunuh??"
Senja mengangguk lemah dengan wajah sedihnya, respon itu membuat Anggara ingin bertanya padanya mengapa Senja pergi ke tempat pendakian pembawa malapetaka itu.
"Kenapa kamu pergi kesana? Buat apa?"
"Balas dendam."
Anggara yang mendengarnya membelalakkan matanya dengan menelan salivanya, sedangkan Stevan melongo dengan mata berkaca-kaca. Senja yang diberi tatapan seperti itu hanya diam walaupun hatinya sudah kacau.
"Senja! Apa maksudmu balas dendam, hah?! Itu gak baik! Kamu gak boleh bales dendam-"
"Mereka tuh udah jahat banget Ngga, mereka membunuh aku di usiaku masih muda begitupun kesemua temen sekolahku!"
"Iya aku tau mereka jahat, tapi gak usah sampe perlu balas dendam pada perbuatan pembunuh itu, Ja. Aku tau kamu sedih terpuruk, tapi arwah yang seperti kamu ini gak pantes sebagai pembawa balas dendam. Aku minta saran sama kamu, jangan balas dendam."
"Oh my god?! Balas dendam dong! Kayaknya kamu marah banget ya sama mereka-mereka itu? Sabar Neng, sabar ikhlasin aja udah," ujar Stevan sambil mengelus punggung Senja.
Senja menunduk murung, ia belum mampu melepaskan kejahatan orang-orang pembunuh itu yang mengakhiri nyawanya begitupun kesemua temannya. Tangannya meremat kuat di celana krem panjangnya, ada suara mengernyit marah yang keluar dari mulutnya.
"Jangan kayak gini, seharusnya kamu pergi aja ke atas Surga. Disana akan membuat hatimu tenang gak ada rasa dendam," lirih Anggara.
"Mending aku Koma terus jadi roh daripada meninggal berakhir menjadi arwah yang gak tenang gini. Nyesek hati beneran deh."
"Kasian banget sih cantik-cantik tapi wajahnya sedih gitu. Wah lebih baik kamu tuangkan aja isi curahan hatimu sama kami berdua, pasti bakal kami dengerin kok."
Senja perlahan menoleh ke Stevan dan sedikit mengukirkan senyuman pada Stevan.
Senja pun beralih menoleh ke Anggara. "Ngga, dia siapa kamu?"
"Oh ini namanya Stevan, dia temenku yang nemenin aku beberapa minggu lalu sampe sekarang. Stevan juga kayak aku, roh."
"Oh kamu roh, ya. Kalo begitu salam kenal nama aku Senja Intara Alandara, panggil aja aku Senja."
"Hai cantik, salam kenal juga ehehehe. Kamu itu cantiknya kek dua cewek sahabatnya Anggara yak."
"Perasaan to the point banget .. baru kenalan langsung bilang cantik."
"Lah emang kenapa? Oh gue ngerti, lo cemburu yak gue bilang cantik ke Senja, hayo ngaku lo!" ucap Stevan di sembari tertawa geli.
"Idih sotoy (Sok tau) banget sih jadi orang. Gue gak cemburu ye. Otak kok suka ngaco, makanya kalo otak lagi konslet lebih baik lo servis dulu!"
"Emangnya gue alat elektronik?!"
"Eh udah-udah. Ehm Ngga, emangnya kamu punya dua sahabat cewek, yah?"
"Iya dua sahabat cewek sama satu sahabat cowok."
"Penasaran aku, kok kamu gak ngenalin mereka ke aku sih??"
"Y-ya maaf deh, kan waktu itu gak sempet buat ngenalin. Kapan-kapan aku kenalin mereka deh kalo mereka jenguk tubuhku di rumah sakit Kusuma."
"Emangnya mereka sekarang ada dimana, Ngga?"
__ADS_1
"Mana aku tau, orang beberapa minggu ini aku disini terus .. gak pergi ke alam jiwa," jawab Anggara.
Senja berpaling menatap Anggara. "Kamu gak kangen sama mereka semua, kah?"
"Sebenernya aku kangen, tapi percuma aku kesana, toh aku bakal di kacangin. Aku juga heran sama mama ayahku, mereka itu juga Indigo tetapi kedua orangtuaku gak bisa ngeliat wujud ku yang jadi roh."
"Hah? Begitukah?? Kok aneh yak, seharusnya mereka bisa dong. Kan mereka Indigo yang punya pemikiran spiritual-spiritual gitu."
Anggara memalingkan wajah ke pemandangan danau. "Atau bisa mungkin hati mama ayahku yang sedih ngeliat ragaku yang keadaannya lagi kronis, membuat aura-aura mereka tertutup. Yang seharusnya bisa melihat makhluk enggak kasat mata malah gak bisa."
"Eh tapi itu juga gak nalar," sambung Anggara ragu pada ucapannya sendiri.
"Anggara?! Nyokap sama Bokap lo, Indigo?!"
Anggara mengangguk. "Iya. Baru tau lo?"
"He'eh. Berarti anaknya juga Indigo dong?!"
"Hhh iya, gue Indigo." Anggara menjawab pertanyaan nada heboh Stevan dengan menghela napas panjang.
"Gilak, itu keren banget bray!!"
"Biasa aja."
"Biasa aja gimana?! Heh, anak Indigo itu sangat istimewa banget lho! Nih ya bisa liat masa depan, masa lalu, bahkan anak Indigo itu paling wow-nya bisa pergi ke suatu alam gaib gitu!!"
"Ya emang gitu, tapi lo tau?" Anggara menoleh kepalanya ke Stevan. "Indigo yang kayak gue ini, pasti hidupnya gak baik-baik aja."
"Anu, kek di teror-teror gitu ye?"
"Hm, iya bener terlebihnya segala hal yang buat gue gak tenang. Meskipun kelebihan gue itu diberikan anugerah dari Allah, sampai kapanpun gue gak bakal tutup mata batin gue, selamanya."
"Mantap Ngga! Nah itu loh yang paling gue seneng, ada anak Indigo yang kuat bertahan demi keselamatan dari bantuan kelebihan luar biasa itu. Mungkin kalo bukan lo, pasti yang gak kuat bakal nutup mata batinnya. Padahal itu sangat merugikan, bahkan mesti ada penyesalannya dah."
Anggara tersenyum seraya mengangguk pelan. Dalam pikiran Anggara sekarang muncul tersirat lagi gambaran-gambaran itu lagi yang mungkin akan mengingatkan Anggara tentang perisitiwa tragedi yang membuat dirinya jatuh terbujur Koma di ruang ICU.
'Ini anak napa malah bengong dah? Mikirin doi kali, yah.' batin Stevan menatap selidik Anggara.
"Anggara? Halooo??" Senja melambaikan tangannya di depan wajah Anggara yang pandangannya sedang kosong.
Seketika setelah lambaian dari tangan Senja hal itu membuat lamunan Anggara terbuyar, dengan sedikit kaget ia mengerjapkan matanya lalu melihat Senja yang ada di tepat hadapannya.
"Kenapa?"
"Kamu ngapain sih kok ngelamun? Hmm kamu lagi mikirin sesuatu ya? Makanya sampe kayak gitu."
"A-akuuu." Anggara mengalihkan pandangannya sebentar lalu melihat ke Senja kembali. "Ada suatu gambaran di otakku, meskipun aku rada bingung aja maksudnya apaan."
Senja dan Stevan mengerutkan keningnya bersamaan dengan menatap Anggara intens. Stevan menangkup dagunya dengan satu tangan sementara Senja menaikkan kedua alisnya.
"Gambaran apa yang ada di otakmu, sampai kamu memikir mulu??" tanya Senja penasaran.
"Yang aku inget di gambaran penglihatan itu, eee ada sebuah pisau lipat di genggamannya, cowok pake baju hoodie jaket warna item, terakhir dia pake topeng wajah yang biasanya di pake orang psikopat. Sebenernya, gambaran yang muncul itu datang disaat aku mau menuruni tangga ke lantai lima."
"Penglihatan langsung di otakku tadi samar-samar banget kek burem gitu, jadi aku belum bisa mastiin siapa orang itu. Dan aku gak tau apa maksud dari gambaran itu."
"Secara, lo langsung lemes yang buat raga lo yang Koma hampir kehilangan nyawanya. Beruntung di situ ada dokter yang langsung cepet tindakan selametin tubuh raga lo," timpal Stevan.
Anggara hanya mengangguk sebagai tanggapan ucapannya Stevan. Senja memejamkan mata dengan kepala mendongak di atas, Senja tengah membantu berpikir untuk Anggara.
"Hmmm, apa mungkin kalo kamu tuh di tusuk sama cowok itu terus kamu jatuh keras ke bawah tangga hingga kepalamu berdarah, dan itulah yang bikin kamu Koma."
Anggara memicingkan matanya sambil jari telunjuknya ia ketuk-ketuk di atas rerumputan hijau, tentunya saat ini Anggara sedang berpikir ekstra untuk mengingatnya mengapa ia bisa Koma. Namun, otak Anggara belum cukup mampu untuk mengingat peristiwa kejadian yang menurutnya secara tiba-tiba ia menjadi roh.
Anggara menghela napas dengan membuka matanya kembali. "Aku bener-bener gak inget banget, lima menit aku mikir itu jadi buat kepalaku pusing."
"Yaudah bro, gak usah lo inget-inget pokoknya mending lo enjoy aja disini. Lagian tempat ini buat lo nyaman, kan. Malahan lo sampe lupa balik pergi ke dunia alam jiwa hahahaha."
Anggara melirik Stevan sinis. "Apaan coba yang lucu, ketawa-ketawa sendiri lama-lama jadi edan."
"Pppfft bisa aja kamu Ngga, eh kamu dapet kata 'edan' darimana tuh? Sumpah tau kamu itu gak cocok ngomong kata begituan hahaha."
"Sahabatku yang cowok."
"Ooohh gue ngerti nih, pasti si Reyhan Lintang Ellvano, kan ya kan?"
"Bjir bisa-bisanya cincong itu bisa menular ke elu, eh tapi ngemeng-ngemeng si Reyhan itu orangnya gokil, gak?"
"Aslinya memang gokil orangnya. Tapi kalo lagi marah apalagi emosi, susah buat di kendalikan."
"Wow ngeri Bang! Kalo lo apa kayak si Reyhan, marah apalagi emosi susah buat di kendaliin??"
"Gue aja kadang gak nyadar kalo gue lagi marah-marah apalagi emosi."
"Jyaahh bisa amat ini orang, masa marah gak nyadar sama sekali. Lo gak peka sama diri lo sendiri jangan-jangan."
"Iya, pekanya sama orang bukan sama diri sendiri," jawab Anggara malas.
"Buju buneng, absurd pake banget bahahahahaha!!
Anggara menghela napasnya lalu beranjak pergi ke tepi danau, ia berjongkok dengan memandang air danau yang menurut bagi Anggara kedalaman air danau tersebut begitu sangat dalam. Baru 4 menit Anggara melihat-lihat danau yang ada di bawahnya, munculah sekilas gambaran seorang ia sendiri jatuh, bukan jatuh tetapi di lempar oleh seorang jati diri Kriminal ke bawah tangga tepatnya di rumah sakit Kusuma.
DEG !
'A-apaan itu tadi?! Itu gue, kan ?!'
Anggara ingin sekali lagi melihat jelas gambaran penglihatannya melalui genangan air danau tersebut, namun sayangnya gambaran itu hanya cuma sebentar saja lalu menghilang cepat. Walau sudah ada dua gambaran, akan tapi tetap sama saja Anggara tak paham apa maksudnya. Tetapi Anggara menduga kalau dua gambaran itu adalah suatu pengingat untuk membantu Anggara.
Cprat !
"Eh?!"
Wajah Anggara serta baju Anggara telah basah karena dikenakan cipratan air danau, oleh si Senja. Anggara mengelap mukanya yang basah oleh ulah teman arwahnya.
"Hei, basah!"
"Salahnya sendiri malah ngelamun lagi, yaudah deh biar sadar aku kenain air ke kamu hahahahahaha!!"
"Gak gitu juga kali, lagian aku pengen sendiri bentar kok. Malah di ciprat air, huh!"
"Ehehehehe sendiri itu gak baik loh Ngga, nanti kalo sendirian bisa-bisa kamu di masukin sama setan atau kagak Jin loh."
"Masukin gimana? Kamu tau sendiri kan, kalo aku ini masih roh!" ketus Anggara respon.
"Oh iya lupa haha! Tapi suatu saat kamu bakal jadi manusia lagi kok, kalo roh dan jiwamu bergabung jadi satu lagi."
"Hhhh aku gak tau aku bakal bisa masuk ke dalam ragaku apa enggak. Atau aku mati."
"Heh!! Ih kamu gak boleh ngomong gitu, kalo kamu mati berarti kamu jadi arwah sepertiku dong."
"Ya malah bagus lah, kan aku bisa jadi temen abadi kamu malahan selamanya."
Senja tersontak kaget. "Hah?!" Senja menelan ludahnya sendiri. "Duh kalo bisa jangan deh Ngga, please ... aku kasian banget sama keluargamu, temenmu, sama sahabat-sahabatmu jika kamu pergi tinggalin mereka semua. Mereka semua itu sayang banget sama kamu loh, orang pas aku sibuk nyariin kamu .. aku sempet ngecek kamar rawat ICU-mu."
"Terus?"
"Aku liat cewek rambutnya hitam panjang pake poni, kulitnya putih nah dia itu ceweknya cantik terus anggun. Dia siapamu sih??"
"Freya," jawab Anggara dan Stevan bersamaan.
"Freya itu, pacarnya kamu?"
"Ha-hah?! Eh enggak enak aja! Itu tuh sahabat kecilku plus tetangga, tau!"
"Anjaaayy dikira Freya pacarnya si Anggara bahahahahahaha ngakak gokil asyik!" ucap heboh Stevan sambil jatuh terjungkal tertawa terpingkal-pingkal.
"Ayo ketawa terus, abis itu gue lempar lu ke danau biar mampus di makan buaya!"
"Buaya darat yak? Hahahahahaha!!!"
"Kamu kali yang buaya darat Stev, ahahahahahaha!!" Kini giliran Senja yang tertawa renyah meledek Stevan.
"Ih enggak loh! Aku tuh cowok yang gak suka mainin perempuan, aku tuh cowok setia lho," sombong Stevan.
"Heleh, setia dari Hongkong?" tanya Anggara tersenyum smirk memaki Stevan.
"Anjir! Jauh bet nying?!"
"Maap Ngga, kirain tuh Freya pacar kamu loh. Oh itu sahabat kecilmu toh?"
__ADS_1
"Iya, dari TK."
"Oooohh, oke aku lanjutin. Sahabat kecilmu yang namanya Freya itu nangis di kamar rawat ICU-nya kamu loh."
"Hah, kenapa nangis?"
"Hadeh, bayangin aja deh Ngga. Tubuh kamu tuh Koma udah beberapa minggu loh, siapa coba yang ngerasa cemas melulu. Apalagi kata dokter keadaan tubuhmu yang Koma itu masih belum ada pengembangannya. Stuck di situ terus."
"Tapi kok ngeliat dari wajahmu, kamu kok kayak udah nyerah sama pasrah gitu sih?"
"Emang gitu. Emang aku udah pasrah, aku gak tau kedepannya gimana .. entah bakal kembali ke ragaku atau malah jadi arwah seutuhnya. Koma itu gak bisa dilihat kapan sadarnya, termasuk raga aku disana."
Anggara menghembuskan napas. "Bahkan kebanyakan kalo pasien Koma tuh langsung meninggal tetapi itu tergantung pada kondisinya."
Tuk !
"Duh sial!"
Anggara mendongak ke atas yang rupanya itu adalah Stevan yang mengetuk pucuk kepala Anggara menggunakan kayu ranting. Anggara pun berdiri sambil mendesis mengusap kepalanya yang telah di ketuk Stevan lumayan keras.
"Masih bocil (Bocah cilik) lu njir? Main pukul-pukul kepala orang."
"Halah, cuman seberapa doang kali Ngga."
Stevan reflek mendorong Anggara yang teman rohnya berada di tepi-tepi danau sehingga Anggara yang di dorong Stevan jatuh terjebur ke danau.
JBUR !
"Aduh Anggara!" Senja kini begitu panik melihat Anggara terjebur di danau tersebut.
"Stevan! Sialan lo ya, maksud lu apaan dorong-dorong gue, hah?!"
"Eh sorry banget Ngga! Gue reflek tadi, sini-sini dah gue bantu lo naik ke atas!"
Satu tangan Stevan membentang mengarah ke Anggara agar tangannya Anggara mudah menggapai tangan Stevan yang mengulur. Stevan memberi Anggara aba-aba menganggukkan kepala untuk segera menerima uluran tangannya membantu ia naik ke atas permukaan danau.
"Ngga, ayo cepetan kamu naik ke sini! Danau ini bahaya banget buat kamu Ngga!! Ayo buruan cepetan Anggara!!"
Teriakan spontan komando dari Senja pada teman arwahnya membuat temannya segera cekatan menerima uluran tangan Stevan yang menunggu Angga membentangkan tangannya.
Mata Senja menyilih cepat ke bawah dalam danau, betapa tersentaknya Senja melihat sebuah dua akar pohon mengambang di dalam air danau dan langsung cepat melilit kaki Anggara bagian atas tumit masing-masing, kedua akar itu sama-sama menarik kaki Anggara sehingga diri Anggara pun juga ketarik masuk ke dalam air danau.
"Akh!"
BLUP !
"ANGGARA!"
Senja dan Stevan secara bersamaan meneriaki Anggara yang telah terlanjur masuk ke dalam air danau. Tak ada pergerakan Anggara akan berenang ke atas. Mereka berdua tidak tahu apa yang terjadi dengan Anggara di dalam sana.
Sementara di dalam air, mata Anggara yang tetap terbuka mencoba melepaskan lilitan akar pohon itu yang membelenggu kuat masing-masing kedua kakinya. Apa daya yang Anggara usahakan? Semua nihil tak ada yang berhasil sedikitpun malahan napas Anggara menjadi sesak karena terlalu menahan napasnya selama di dalam air. Akar-akar pohon itu terus menarik kaki Anggara hingga ia semakin mendalam di dalam danau. Di pertengahan dalam air, Anggara mulai menyentuh dadanya yang begitu nyeri.
Tiba-tiba datanglah sebuah ikan besar seukuran tubuhnya ikan paus di laut. Ikan itu memiliki mata berwarna merah menyala, wajah ikan tersebut begitu mengerikan layak sebuah ikan monster seperti di film genre thriller yang biasanya Anggara tonton di DVD atau di aplikasi Youtube ponselnya. Tergambar jelas pada depan mata Anggara, ikan monster itu menatap tajam Anggara seakan-akan ingin melahap diri Anggara yang sebagai roh.
Anggara berusaha tidak membuka mulutnya dan terus menarik-narik akar-akar itu yang melilit kencang di kedua kakinya agar terlepas. Anggara tetap mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar air danaunya tidak masuk ke dalam mulut Anggara. Jika itu terjadi, hal tersebut bisa menjadi suatu yang sangat fatal.
GGRRRRRRRR !!!
Ikan itu mengerang bagaikan hewan-hewan liar buas yang ada di hutan rimba. Sepertinya ikan wujud monster itu tak suka kedatangan selain jenisnya. Anggara sekarang begitu tersiksa oleh keadaannya, akar-akar itu sangat membandel tidak ingin terlepas dari kedua kaki sang pemuda itu yang tengah berusaha maksimal untuk terlepas dari jebakan menuju kematian pada raganya.
Namun pada akhirnya usaha yang Anggara lakukan berjaya juga! Anggara berhasil terlepas dari belenggunya lilitan kencang akar-akar pohon tersebut, dengan sesegera mungkin Anggara berenang laju naik ke atas permukaan danau walau itu cukup membutuhkan waktu yang lama dikarenakan ia dipertengahan dalam air danau. Sembari berenang ke atas, satu tangan Anggara menyentuh dadanya yang bertambah nyeri dan sesak. Harus kuat sampai di atas permukaan, Anggara pula mencoba berusaha mengacuhkan kesakitan yang ia terima ini.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Di alam dunia jiwa, raga Anggara yang masih terbaring senantiasa terbujur lemah Koma dengan setianya kedua orangtuanya menemani raganya yang telah memasuki satu minggu lebih.
Andrana yang duduk di sisi ranjang tidur anaknya seperti biasanya mengelus-elus atas kepalanya dengan begitu lembut sayang. Meskipun air mata merembes mengalir ke pipi, Andrana tetap tersenyum walau gundah.
"Nak, sudah tiga minggu ini kamu belum bangun-bangun. Mama sama ayah tetep nunggu Anggara sampe Anggara bangun, ya. Kata dokter kondisi kamu masih sama belum ada perkembangannya. Tapi Mama yakin banget kok, pasti Anggara bakal bangun. Seratus persen Mama percaya!"
Agra yang mendengar celoteh Andrana hanya bisa diam sambil mengusap air matanya yang berhasil mengalir membasahi kedua pipinya. Namun Agra tersadar saat matanya berpusat pada raga Anggara yang mengeluarkan keringat membasahi lehernya serta keringat yang mengalir tepat pelipis mata anaknya. Pada detik kemudian, napas hela dada jasad Anggara yang naik turun lambat tenang berubah menjadi sangat cepat serta napas hidungnya yang ternampak langsung pada embun-embun dinding masker oksigen transparan yang masih terpasang pada wajah pucat raga tubuhnya Anggara.
Layar monitor pendeteksi jantung yang berbunyi tenang memilukan hati kini malah mendebarkan jantung para orangtuanya raga tubuh pemuda tersebut. Angka yang tertera di samping garis grafik HR medis pada sebelumnya 84 sekarang turun drastis menjadi 53, tentunya angka yang turun itu membuat suara alat detektor pendeteksi jantung berbunyi sangat menderu berisik.
Tubuh raga Anggara sedikit bergetar bersamaan hela napas yang naik turun sangat cepat, keringat terus merembes membasahinya.
"Sayang-sayang kamu kenapa Nak??!!" cemas Andrana menepuk-nepuk pipi agak dingin dari raga Anggara.
"Ya Allah Ngga kamu kenapa lagi?! Jangan bikin Ayah sama Mama takut, Anggara!"
Agra mengucapkan kekhawatiran pada anaknya seraya menggoyang-goyangkan kaki tubuh Anggara yang di tutupi oleh selimut putih tebal sampai di batasan ulu hatinya.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Anggara tetap bertahan sampai ke atas permukaan danau, dadanya terus nyeri sesak dan itu tentunya kesakitan yang di derita Anggara, sama di derita oleh raga tubuhnya yang disana tengah kondisi terancam nyawanya. Anggara terus berenang ke atas sekuat tenaga yang ia punyai.
Pada akhirnya usai beberapa tempuh renang ia gunakan, tibanya Anggara di atas permukaan air danau. Stevan yang akan mau masuk ke dalam air danau mengurungkan niatnya karena Anggara telah muncul di atas permukaan air danau.
Anggara menggapai pegangan pinggir danau dengan satu tangan masih menempel di dadanya.
"Uhuk uhuk uhuk!"
Anggara menghela napasnya yang hampir saja berhenti, Anggara menghembuskan napasnya beberapa kali dan itu mempengaruhi napas nyeri sesaknya menghilang.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Agra yang akan mau menekan tombol merah darurat di atas kepala anaknya, tertahan karena suara dari alat monitor pendeteksi jantung yang terhubung oleh tubuh anaknya kembali berbunyi pada seperti semula begitupun juga angka 35 pada HR medis kembali naik menjadi 84 sama seperti sebelum anaknya berkeadaan darurat. Agra menolehkan kepalanya pada anak putranya yang akhirnya hela napas turun naik secara tidak beraturan, balik menjadi naik turun lambat seperti sediakala.
"Ayah, kayaknya barusan Anggara lagi mimpi deh makanya Anggara tadi bisa seperti itu, tapi Alhamdulillah deh Yah sekarang Anggara gak seperti tadi."
Agra menghampiri istrinya lalu mengangguk menanggapi omongan dari istri tercintanya. Andrana membuka tas selempang kecilnya untuk mengeluarkan kain handuk kecil.
"Buat apa, Ma?"
"Ini buat bersihin keringatnya Anggara, Yah."
Agra mengangguk. "Iya, Ma."
Sembari mengelap keringat leher milik jasad Anggara, Andrana menanya pada anaknya yang Koma walau pertanyaan itu tidak akan mungkin ditanggapi oleh anak semata wayangnya.
"Anggara mimpi apasih sampe Anggara kayak gitu tadi, hmm?" tanya Andrana lembut sambil tangan kirinya membelai surai anak lelakinya.
Andrana kini beralih mengelap keringat pelipis mata raga Anggara hingga benar-benar bersih tak tersisa air keringat sedikitpun.
"Kamu itu ya Nak, suka banget bikin Mama ayah cemas aja deh. Udah kebiasaan nih ya hehehe," ujar Andrana mengajak bercanda pada anaknya.
Agra lagi-lagi tersenyum sendu, begitu menyayat hati saat di setiap celotehan Andrana yang di lontarkan untuk raganya Anggara.
...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...
Anggara saat ini tengah di sandarkan punggungnya di bawah pohon oleh Stevan dan Senja. Lihatlah, mulai dari rambut pakaian dan keseluruhannya basah kuyup. Bibir Anggara nyaris membiru karena terlalu lama di dalam air.
"Bro, lo udah gakpapa, kan??" tanya Stevan agak cemas.
"Tenang aja, gue udah gakpapa kok," jawab Anggara lemah.
Senja menatap Anggara benar sungguh-sungguh. "Anggara, apa kamu di dalam air danau sana bertemu ikan monster yang bertubuh ikan paus?!"
"Eeee iya."
"Maafin gue Ngga, gue tadi reflek banget sampe nge-dorong elo!"
"Iya, gakpapa."
"Duh nih ya Ngga aku kasih tau kamu, kamu juga ya Stev. Memang, danau ini menawan banget bagus di pandang ... tetapi kalian berdua harus tau ini, di dalam danau seperti ini sangat berbahaya. Bahkan anak seumuran kita ada yang pernah meninggal karena tenggelam di telen ikan monster lapar itu!"
"Bentar-bentar, bukannya ini tuh hanya buat dunia alam roh dan arwah ya? Bukan raga tubuh, kan?" tanya Stevan bingung.
"Iya memang Stev, emang buat dunia alam roh dan arwah. Tapi maksud aku itu, roh yang kayak kamu Stev, Anggara."
Anggara dan Stevan saling melemparkan tatapan terkejutnya.
"Huft, tapi aku bersyukur banget Anggara udah gakpapa. Pasti raga Anggara yang disana membaik lagi."
Anggara mengangguk di samakan oleh Stevan.
Anggara tak menyangka bisa bertemu hewan ikan monster menyeramkan itu yang rupanya sangat membahayakan untuk dirinya dan Stevan. Ikan monster yang tanpa nama itu suka menelan roh untuk mengganjal isi perutnya yang lapar. Keadaan Anggara yang berangsur membaik tentunya juga begitu dengan raganya yang Koma di alam dunia jiwa.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1