Indigo

Indigo
Chapter 65 | The Weakness of the Sixth Sense Man


__ADS_3

Sebuah dalam kantong cairan infus bening itu menetes memberikan cairan pada sebuah drip chamber atau ruang cairan yang bertindak untuk mencegah emboli udara. Lalu setelah telah menetes, cairan tersebut di salurkan melalui oleh selang infus yang menuju ke telapak tangan kanan seseorang lelaki yang posisinya sedang tertancap jarum infus.


Sinar matahari yang menerobos lewat jendela kamar rawat berhasil menyinari wajah lelaki tampan itu yang senantiasa belum bangun. Semua orang yang menyayanginya menampilkan wajah gelisahnya dikarenakan lelaki itu tak kunjung segera membuka matanya.


Seorang lelaki satunya yang berumur 17 tahun seiras dengan usianya nampak sedang duduk di kursi roda bersama kedua mata yang mulai berat untuk terbuka. Tentu saja, kerisauan dan though negatifnya menyelimuti dirinya sehingga lelaki tersebut terjaga sepanjang malam setelah bangun dari tidurnya. Pada akhirnya pagi yang seharusnya menggugah dan semangat, pemuda yang duduk di kursi rodanya menguap nang langsung mulutnya ia tutupi dengan telapak tangannya yang sedikit mengepal.


Melihat pemuda yang bawah matanya menghitam karena kurang tidur, seorang pria paruh baya berumur 50-an tahun memegang kedua bahu lelaki tersebut yang mengenakan baju pasien dominan warna biru.


“Rey, ayo Papa antar ke kamar rawat-mu. Kamu sudah ngantuk begini, gak tega Papa.”


“Nggak Pa, Reyhan mau di sini aja. Nunggu Angga sadar.”


“Lha? Tidur itu juga penting buat kesehatan kamu, Nak. Mama tau kamu khawatir sama Angga sampai Reyhan begadang semalaman. Tapi kamu harus butuh istirahat untuk memulihkan kesembuhan kamu, Nak.”


Reyhan terdiam tak menggubris ucapan Jihan yang bertutur lembut pada anak putranya. Sementara seperti Andrana dan Agra tengah ada di sisi ranjang pasien anaknya yang masih belum siuman, hal itu membuat kedua gadis tak lain adalah Freya dan Jova sama-sama dalam perasaan getir.


“Sumpah, demi apa itu aku kaget bener pas masih di rumah. Dapet kabar Angga masuk rumah sakit,” ucap Jova lesu dengan kedua tangan ia lipat di dada. Gadis tomboy itu saat ada di rumah mendapatkan telepon dari Freya bahwa sahabat lelakinya masuk rumah sakit.


“Mendadak, nggak aku ngabarin-nya?” tanya Freya bersama nada cicitnya.


“Kagak, malahan kamu tepat banget telepon aku pas akunya lagi senggang. Dan sekarang masalahnya, ini cowok satu napa belum sadar-sadar juga, sih? Pingsan beneran kan si Angga? Enggak Koma lagi?!”


Freya menoleh ke Jova dengan menatapnya tajam, bahkan gadis polos itu memukul bahu sahabatnya. “Ih Jova! Kamu gak boleh ngomong kayak gitu! Kalau sampai beneran terjadi, kamu harus tanggung semuanya!”


“Lho-lho? Kok begitu, Frey?!”


“Makanya kalau ngomong itu nggak asal jeplak,” celetuk Reyhan ikut menatap Jova tajam.


Freya yang sedikit berjarak jauh dari ranjang pasien Angga, kedua kaki mulusnya berjalan tiga langkah kemudian kedua tangannya memegang telapak tangan sahabat kecilnya yang masih terasa panas. Sedikit mengangkat telapak tangan kanan Angga yang ada di atas perutnya lalu tangan Freya yang ada di atas telapak tangan Angga gadis itu usap pelan.


Sayup-sayup Angga seperti sedang menelan ludahnya dan setelah itu lelaki yang terbaring lemah itu menghembuskan napasnya sangat pelan, membuat Freya yang menatap telapak tangan kanan Angga menarik wajah cantiknya dan menatap muka pucat sahabatnya.


“Angga? Kamu sudah, sadar?” Yang benar saja dugaan Freya meskipun gadis itu terdengar bertanya pada Angga, lelaki itu membuka matanya dan mengerjapkannya perlahan dengan gerakan lambat.


Yang pertama Angga tatap adalah dinding atas yang berwarna putih bersih, bibir pucat-nya yang bungkam perlahan membuka, “Ini ... dimana ...?”


Andrana tersenyum manis. “Kamu ada di rumah sakit, Angga.”


“Rumah sakit ...?” Angga memejamkan kedua matanya lemah dan kembali membukanya. “Kenapa ...?”


“Kemarin sore kamu tiba-tiba pingsan di depan gerbang rumah kita, Ngga. Ayah, mama, Freya, dan orangtuanya Freya menunggu kesadaran mu selama satu jam, dan karena kamu nggak kunjung siuman apalagi tubuhmu panas, Ayah dan mama memutuskan untuk membawa kamu ke rumah sakit. Kata dokter setelah menangani mu, ternyata kamu memang demam tinggi, Nak. Di situlah Ayah sama mama khawatir sedangkan kamu juga belum sadarkan diri.”


Agra memberikan penjelasan untuk Angga yang masih setengah sadar, seraya membelai kepala sang putranya dengan perasaan hati sayang pada anak tunggalnya.


Angga mengangguk lemah dengan kedua mata yang redup tak sepenuhnya terbuka. Kesadaran lelaki itu berhasil membuat mata Reyhan kembali segar seperti habis diberi minuman kopi. Kini di sela-sela setengah sadarnya, Angga merasakan telapak tangan kanannya yang ada di atas perutnya sedang di genggam lembut oleh seseorang yang Angga tak tahu.


Maka dari itu dengan gerakan lemahnya, ia menolehkan kepalanya ke samping. Begitu tahu karena pandangannya sudah jelas, rupanya yang menggenggam tangannya adalah Freya. Dan Angga hanya melemparkan senyum tipis lemahnya.


Namun Angga melihat mata indah gadis itu yang berair, baru saja akan menanyainya kenapa dengan Freya, Angga sedikit tersentak kaget di peluk Freya.


“Hiks, kebiasaan! Hobi banget bikin orang takut termasuk aku! Tapi aku seneng lihat kamu udah sadar, hiks.”


Perkataan yang Freya lontarkan dalam dekapannya di tubuh hangatnya Angga karena tengah demam tinggi, berhasil mengeluarkan bulir air mata dan mengalir ke pipi putihnya. Angga yang mendengar omelan rengek gadis itu sambil menangis pelan, tangan kanannya ia angkat dan membalas pelukan Freya dengan cara mengusap-usap lemah punggung Freya bersama senyumannya yang tetap tertampil.


“Jangan nangis lagi ... aku sudah mendingan, kok.”


Freya lantas itu melepas dekapannya yang kepalanya menempel di dada Angga, sedangkan lelaki tersebut juga melepaskan tangan kanannya dari punggung mungil Freya.


“Gak usah pakai bohongin aku! Kamu keliatan gak baik-baik aja, tau! Aku paling nggak minat dibohongin!” kesal Freya berwajah cemberut.


Angga bergantian menampilkan deretan gigi putihnya bagian atas lalu tangan kanannya meraih air linangan gadis itu yang membasahi pipinya dan menghapuskan air mata Freya. “Iya, maafin aku ... tapi kamu jangan nangis lagi, ya? Aku juga nggak minat kamu nangis.”


Agra dan istrinya hanya tersenyum lebar melihat tingkah Angga pada Freya bahkan Freya yang bertingkah peduli dengan Angga. Kedekatan mereka berdua memang betul bisa dibilang sepasang kekasih, karena keserasian yang membuat hati orang di sana iri memandang keakraban lelaki tampan itu dan gadis cantik tersebut. Tentang saling memeluk itu sudah wajar bagi kedua orang tua Angga, orang tua Freya, bahkan Jova dan Reyhan karena sejak kecil mereka selalu bersama meskipun saling pernah menyembunyikan rahasia.


Sekarang setelah Angga menghapus semua air mata Freya dengan lembut tak kasar, pemuda itu menghadapkan kepalanya ke arah semula. Menatap langit dinding putih, tentunya merenungkan apa yang sebelumnya ia terbangun dari pingsannya.


‘Apa semua itu? Ternyata diperjalanan gue untuk menempuh tuntasnya permainan dengan berjuang sekuat tenaga, gue hanya mimpi buruk. Dan soal tentang gue tenggelam di air itu, mimpi terakhir sebelum gue terbangun di rumah sakit.’


“Angga, kamu mau minum? Pasti sekarang kamu haus, kan?” tawar Andrana mencoba membuyarkan pikiran anaknya yang telah terjadi di mimpi buruknya. Wanita itu tentu sangat tahu apa yang terjadi dengan anaknya.


Angga hanya mengangguk, karena kebetulan tenggorokannya begitu kering. Agra tersenyum dan segera menopang punggung Angga untuk membantu putranya bangkit duduk. Sementara Andrana tengah mengambil gelas yang berisi air putih dan kemudian sodorkan ke Angga.


“Nih Nak, diminum biar tenggorokannya nggak kering lagi.”


Andrana akan menyuapi Angga dengan air putih itu, namun tangan kanan Angga menghentikan mamanya yang ingin menyuapinya. “Angga bisa sendiri, Ma.”


“Oh, yasudah kalau begitu. Hati-hati pegang gelasnya.”


Angga dengan perlahan memegang gelas itu dan hati-hatinya ia meneguk air putih tersebut. Setelah merasa tenggorokannya lega, lelaki yang mengenakan baju pasien menyerahkan gelas tersebut pada sang ayah yang menunggunya. Agra menerima gelas itu dan meletakkannya kembali di atas meja nakas.


Agra yang mengerti tubuh sang anak masih lemah bahkan kepalanya terasa berat, perlahan menidurkan tubuh Angga ke kasur ranjang untuk kembali beristirahat. “Ngerasa mual ya, Nak?”


Angga yang tak mungkin bohong karena tentunya Agra juga pria memiliki indera keenam, hanya mengangguk lemah dengan menutup matanya. Andrana yang tepat di sebelah suaminya mengelus pundak kanan Angga dan berkata, “Kalau begitu, di coba buat tidur saja ya, Nak. Demam kamu juga belum turun, makanya itu kamu harus banyak istirahat.”


Angga menghela napasnya dengan panjang lalu mengangguk patuh lagi kepada ucapan sang ibu bahkan sang ayahnya. Tak hanya itu saja, kepalanya juga terasa keliyengan, untuk melihat ke bawah ranjang tubuhnya rasanya ingin jatuh. Lelaki tersebut kemudian mencoba untuk tidur supaya sakitnya bisa berangsur pulih.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Dua jam yang telah diberikan hawa kesunyian, Farhan melangkahkan kakinya mendekati Reyhan yang masih duduk di kursi rodanya dalam diam tanpa berceloteh sedikitpun. Mungkin ini faktor dari dirinya yang masih masa sakitnya.


Farhan berjongkok perlahan di sebelah anak putranya seraya menggenggam salah satu tangannya yang ada di atas paha kakinya. “Rey?”


Reyhan mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah Farhan yang memanggilnya. “Ya, Pa?”


Farhan berdeham seperti ragu mengucapkannya pada Reyhan, namun karena sang ayah ingin tahu tentang anaknya pada waktu silam, beliau membuka suaranya. “Mumpung Angga masih tidur, Papa boleh dikasih penjelasan soal kamu di ... perlakukan gak sepantasnya dengan, Arwah yang meneror mu?”


Reyhan membungkam mulutnya dan mengalihkan wajahnya dari papanya, wajahnya kini berubah datar karena kalau membahas tentang kejadian yang telah lalu tersebut, lelaki tampan itu merasa begitu muak dan ingin melupakannya. Tetapi karena Farhan ingin tahu terlebihnya lagi itu adalah anak kandungnya, Farhan berhak meminta penjelasan tersebut dari anak lelakinya yang berumur 17 tahun itu.


Jihan ikut mendekati suaminya yang telah berada di sampingnya Reyhan, sementara Andrana dan Agra menatap Reyhan sendu di raut wajah tampil awet mudanya meskipun umur mereka telah di antara kisaran 40-an tahun dan 50-an tahun, sudah cukup tua tapi tidak untuk rupa wajahnya.


Reyhan memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya untuk menenangkan dirinya sejenak, walau hanya itu yang di pinta Farhan namun jika ia ingat rasanya begitu kelam. Bahkan Arwah itu sudah mencelakainya hingga Koma selama empat bulan dan mengalami kelumpuhan karena cedera tulang belakang akibat kecelakaan tabrakan hebat tersebut.


“Awal mula dari kejadian itu, Reyhan melanggar aturan kalau jalan itu nggak boleh dilewati saat malam hari.” Reyhan membuka matanya. “Meski Reyhan nggak sengaja karena tidak melihat info berita yang beredar waktu itu, Reyhan terlambat mengetahui kalau di jalan sana rawan kecelakaan karena ulah hantu itu.”


“Dan dari situlah Reyhan mulai di teror secara berterusan, lelah pun Reyhan masih tetap dikasih kejadian yang ngeri. Reyhan sengaja nggak mengadu ke kalian berdua. Karena ...”


“Karena apa, Nak?” kompak Jihan dan Farhan.


“Karena Reyhan nggak mau Mama dan Papa ikut terlibat masalah Reyhan. Reyhan sayang kalian, makanya itu Reyhan ingin menghadapinya sendiri tanpa dibantu sama siapapun, termasuk Angga.”


“Reyhan paham Angga pasti sudah tahu semua kejadian yang menimpa Reyhan ...”


Flashback On


“Rey, meskipun gue tau ini berat lo jawab pertanyaan gue ini .. tapi gue mau lo jujur sama gue.”


“Eh jujur soal apa, Ngga?”


“Teror. Apa bener Arseno, Arseno Keindre berbuat sesuatu pada lo?”


“Gak usah di bahas! Mending lebih baik kita cepet-cepet pulang sebelum maghrib dateng.”


“Rey lo kenapa tiba-tiba menghindar dari gue? Lo gak bisa sembunyikan rahasia lo dari gue begini, kalaupun benar kita bisa hadapi bersama.”


“Gue gak di teror Ngga! Gue nggak kenapa-napa, lebih baik lo pulang aja.”


“Rey-”


“Jumpa besok di sekolah.”


Flashback Off


Reyhan mengingat percakapan antara dirinya dan Angga waktu di parkiran SMA Galaxy Admara yang mana dirinya memarahi sahabatnya akan hal tersebut. Reyhan mengarahkan pandangannya ke Angga yang masih berbaring tidur dengan nyenyak.


Farhan dan Jihan tak bisa berkata apa-apa setelah mendengar penjelasan Reyhan yang detail, meskipun kejadian itu sudah begitu lama tetapi otak Reyhan masih mampu mengingat peristiwa penderitaan anaknya tersebut. Kini bibir pucat Reyhan bergerak lagi untuk mengatakan sesuatu lagi.


“Kalau Reyhan nggak sayang sama Mama Papa, Reyhan pasti membiarkan kalian diteror olehnya bukan itu saja, bukannya melindungi tetapi Reyhan bakal sakiti kalian seperti Arwah itu yang telah menyamar Reyhan bulan-bulan yang sudah lepas. Reyhan tahu banget hantu itu bermacam-macam dengan kalian, ngelakuin kalian yang gak pantas dilakukan. Tapi, semuanya sudah terlambat ...”


Kedua orang tua Reyhan yang mendengar pengungkapan anaknya dengan seksama, meringis dan mulai mengeluarkan air bening dari matanya masing-masing. Lalu beberapa detik kemudian secara bersamaan Farhan yang ada di kiri Reyhan memeluknya erat begitupun Jihan yang ada di kanannya Reyhan memeluknya.


Memeluknya hangat membuat Reyhan merasakan kenyamanan. “Jangan nangis, Reyhan benci Mama Papa nangis. Reyhan juga baik-baik saja kok, walau sekarang kondisi anak kalian masih belum normal fisiknya.”


“Kalian gak boleh merasa bersalah begitu, itu cuman kesalahan paham.” Farhan dan Jihan menganggukkan kepalanya lemah dengan masih memeluk anaknya.


“Tapi Reyhan Ikhlas, kan memaafkan Mama dan Papa?” tanya Jihan nada lirih.


Reyhan terkekeh. “Jahat, apa anakmu ini? Ya Ikhlas, dong masa enggak Ikhlas. Intinya yang Reyhan bilang buat Mama sama Papa, Reyhan sayang banget dengan kalian. Apa yang terjadi, Reyhan nggak akan pernah melukai kalian bahkan menyakiti hati kalian berdua.”


Reyhan lalu mengangkat tangan kanannya untuk mengelap air mata sangat ibu dengan jempolnya bersama gerakan lembutnya, setelah itu Reyhan mengalihkan tangan kanannya untuk menghapus air mata sang ayah.


Farhan meletakkan kepalanya di bahu anaknya dan berkata, “Papa janji nggak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.”


Reyhan tersenyum percaya. “Iya-iya, Pa. Gak usah sedih lagi, lagian buat apa toh sedih-sedih? Orang Reyhan udah bangun, kalau nggak bangun lagi ...”


Jihan mendengus pelan. “Mama tau Reyhan mau ngomong apa.”


“Hehehehe, tau ternyata. Iya Ma, maaf.”


Langkah-langkah kaki terdengar hingga menuju kamar rawat Angga. Ya, Freya dan Jova kembali dari suatu tempat untuk meluangkan waktu mengobrol berduaan tanpa ada gugatan apapun.


“Eh Freya sama Jova? Habis dari mana, Nak?” Andrana bertanya dengan senyuman yang merekah di muka cantiknya.


“Ehehehe, habis dari Taman rumah sakit di sini, Tante. Oh iya Tante, Om Agra, Tante Jihan, Om Farhan kami berdua mau pamit pulang dulu, ya.”

__ADS_1


“Oalah mau pulang, kenapa tadi gak langsung pulang saja? Kan capek ke sini-nya.” Ucapan Andrana langsung ditanggap oleh Freya. “Nggak sopan rasanya, Tante. Masa langsung nyelonong pulang aja tanpa pamit? Hehehehe.”


Kedua gadis tersebut kemudian saling berpamitan kepada orangtuanya Angga begitupun orangtuanya Reyhan dengan sopan. Setelah itu, Reyhan memutarkan kursi rodanya untuk menatap kedua sahabat gadisnya yang tengah berdiri.


“Yo, hati-hati ya kalian di jalan. Inget jangan ngebut kalau bawa motor, soalnya barusan ada kecelakaan.”


“Astagfirullah! Kecelakaan dimana, Rey?!” kejut Freya dengan menutup mulutnya bersama satu tangan.


“Di kota Bogor, barusan aku liat di berita ponselku.”


Jova dibuat keki oleh Reyhan yang nyengir kuda, bahkan gadis tomboy itu mendengus pada lelaki yang suka membuatnya kaget. “Itu mah kita gak tanya, ye! Lagian siapa coba yang mau ke kota Bogor. Rumah aku sama Freya, kan di Jakarta bukan di kota Bogor, huh dasar cowok rese!”


Reyhan menggembungkan kedua pipinya dengan ekspresi wajah kesal. “Tanggapnya jangan ngotot, napa?! Barangkali kalian pengen uji nyali di hutan ternama di kota itu. Kalian, kan si cewek curious.”


“Hih! Ogah aku pergi ke sana lagi. Mending kalau ke sana ngajak kamu sama Angga aja.” Mendengar itu Reyhan tersentak kaget yang bicara Jova seenak jidat.


“Gak sudi kalaupun kamu maksa aku ke sana apalagi sama Angga! Yang ada kita semua mati di hutan keramat itu, tau gak!”


Freya menelan ludahnya. “Udah deh jangan dibahas lagi, aku jadi takut sama kebayang-bayang lagi, nih.”


Jova mengalihkan mukanya dari Reyhan ke Angga. “Bangun kek, Ngga. Biar kamu tau sahabat kesayanganmu ditakut-takutin sama Reyhan.”


“Oh ini ceritanya biar aku dimarahin sama Angga, gitu?” celetuk Reyhan mendelik.


“Pinter! Agar seru ada pertarungan antara cowok dan cowok, hahahaha!”


“Eh?!” Reyhan menuding Jova dengan sebalnya. “Dasar kamu, ya! Kamu suka kalau aku sama Angga bertengkar! Iya?! Yang ada persahabatan aku dan Angga renggang, dong!”


Freya mendengus sangat sengit pada Jova yang perkataannya begitu berantakan. Gadis itu tanpa ba-bi-bu langsung menginjak kaki Jova agak kencang. Jova yang di injak oleh Freya kemudian mengangkat kakinya yang di injak lalu mengusapnya, gadis rese itu meringis kesakitan sementara Freya masih menatap tajam sahabatnya tersebut. Reyhan tertawa puas melihat karma Jova yang secepat itu datangnya, di sisi lain kedua orang tua lelaki Friendly serta kedua orang lelaki Introvert tersebut terkekeh geli pada tiga remaja SMA akan tingkahnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di malam hari yang mendatang, Angga yang tengah fokus menonton TV bersama kedua orangtuanya tiba-tiba sakit kepalanya kembali menerjang pada waktu yang tak tepat. Satu tangannya meraih kepalanya lalu memegangnya dengan merintih, bahkan lelaki itu sampai menundukkan kepalanya saking tak tahan rasa sakit tersebut. Andrana yang melihat anaknya balik kesakitan segera bangkit dari kursi sofa dan menghampiri anak semata wayangnya.


Andrana melingkarkan satu tangannya ke punggung Angga kemudian memegang bahu sebelah kiri anaknya. “Angga?! Sakit lagi, ya?!”


Tak membutuh respon dari Angga, wanita itu melepaskan tangannya dari bahu anaknya kemudian membalikkan tubuhnya untuk mengambilkan obat resep dari dokter yang ada di luar kota ialah Bogor. Sementara Agra yang telah bangun dari kursi sofa mengangkat gelas air putih dari meja nakas.


Agra yang sudah memutar tubuhnya ke arah Angga dan mendekatinya melongo, melihat sang putra berkeringat yang nampak dari kening turun sampai surai rambut kanannya. “Sampai keringetan gitu? Biasanya enggak juga, lho!”


Andrana berdecak lalu mengangkat tangan kanan Angga untuk memberikan satu biji obat pil padanya. Tanpa menunggu waktu yang lama, pemuda itu segera memasukkan obatnya ke dalam mulutnya dan menerima air putih dari tangan Agra yang beliau sodorkan ke arah anaknya. Tiga kali tegukan air untuk menelan obatnya sudah cukup bagi Angga.


“Ayah yakin ini karena kamu kemarin menunda meminum obat, padahal sakit kepala kamu kembali kambuh. Angga nggak denger saran dari dokter Ello waktu itu?! Atau kamu sengaja gak minum obat??!!”


Nada Agra terdengar tinggi. Tentunya beliau memarahi sang anaknya yang masih mendesis apalagi harus mendengarkan amarah Agra yang sebenarnya sangat khawatir padanya akan kondisi yang Angga alami.


“Sudah, Ayah! Jangan marahin Angga, pasti ada alasannya Angga sendiri kenapa anak kita sampai menundanya entah menunda atau tertunda tapi yang terpenting sekarang Angga dibiarkan istirahat penuh dulu sampai keadaannya membaik. Ayo, Nak kamu kembali tidur, ya ...”


“M-maafin Angga, Y-yah ...”


Agra mendongakkan kepalanya seraya menghela napasnya. Pria itu kemudian menatap Angga dengan tatapan melunak. “Iya, Ayah maafin. Sekarang lebih baik kamu tidur saja, ya. Ayah juga minta maaf malah marah-marah sama Angga, Ayah gak bermaksud seperti itu.”


Angga menganggukkan kepalanya dengan memaksa tersenyum. Agra lalu bersama tulusnya menopang punggung Angga untuk membantu membaringkan tubuhnya dan beristirahat tidur. Pemuda itu setelahnya perlahan memejamkan matanya untuk tidur dengan tenang, mengacuhkan kesakitan-nya yang ia derita.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Tunggu, rasa-rasanya yang lelaki itu rasakan tubuhnya ringan di dalam sesuatu yang gelap. Tak ada kebisingan yang mengusik telinganya, namun meskipun begitu, ada suara air yang mengingatkannya sang Indigo itu berada di dalam air seperti di mimpi tadi.


Angga membuka matanya perlahan, dan benar ia masih di dalam air. Sepertinya mimpi ini masih berlanjut untuknya atau bisa dibilang permainan mengerikan yang diberikan oleh arwah aura negatif tersebut.


Posisi mulut Angga terbungkam, tidak terbuka sedikitpun atau penyebabnya sangat bahaya untuk nyawanya yang terancam. Dengan jiwa penasarannya, pemuda itu mencoba menengok ke bawah. Begitu gelap dibanding sekitaran tubuh Angga mengambang, akan namun mata batin Angga dapat menerawang bahwa di bawah sana terdapat segerombolan makhluk menyeramkan yang sedang berenang ke atas, awalnya terlihat samar-samar tetapi beberapa menit kemudian makhluk itu nampak jelas mencekamnya membuat mata Angga terbelalak dan tubuhnya ia ajak untuk berupaya diri naik ke atas permukaan air. Harus kuat, karena sebetulnya tenaga yang digunakan Angga banyak terkuras akibat kejadian yang mengintainya.


Tenaganya lemah, karena terlalu lama di dalam air. Cukup banyak lelaki itu menahan napas. Angga membutuhkan oksigen udara sebanyak-banyaknya saat dirinya mampu berjaya keluar dari dalam air semacam laut.


Ya! Angga berhasil keluar dari permukaan dalam air laut yang gelapnya menyeramkan tersebut, tapi tak bagi dirinya yang pemberani. Angga menyempatkan diri langsung meraup udara sebanyak-banyaknya agar mendapatkan oksigen ke dalam tubuhnya, sesaknya di dada memang betul dikarenakan ulah arwah bola mata bergelantungan yang menjebaknya hingga terjebur dalam air ini. Kini sekarang lelaki Indigo tersebut menopang tangannya di tepi pegangan sesuatu, firasat ia mengatakan kalau ia naik ke atas daratan ia bisa terjatuh lagi dalam air karena kini tubuhnya sudah tak bisa di ajak kompromi menggerakkan tenaganya. Jika diperkirakan tenaga yang sekarang Angga miliki tersisa hanya 5 persen kurang lebih.


Bibirnya membiru, tangannya teraih memegang dada tengahnya. Berdiam sejenak dalam posisi setengah tubuhnya ada di dalam air karena lelaki tersebut belum ada tenaga beranjak naik ke daratan, menarik napasnya dalam-dalam lalu menghempaskan perlahan, melakukan itu secara berulang-ulang agar napasnya kembali normal netral seperti semula.


Di dalam lubuk hati, Angga pasrah. Ia pasrah karena tak ada jalan lain untuk membantunya keluar dari tempat ini. Sedangkan tak ada undakan tangga yang bisa Angga balik naik ke atas sana yang sebelum dirinya dijatuhkan oleh arwah itu.


Baru saja akan mengumpulkan tenaganya, kedua kaki Angga yang ada di dalam air ditarik oleh seseorang dengan kencang. Angga yang tak siap berhasil kembali ke dalam air.


“Akh!”


Bluph !


Akan namun karena demi nyawanya tak melayang, Angga cepat menutup mulutnya di saat ia ditarik ke dalam air. Di dalam Angga dikepung banyak segerombolan makhluk-makhluk tadi, Angga menatap para makhluk tersebut secara bergantian. Senyuman yang menyeringai, wajah tulang pipi yang terlihat sementara tubuh-tubuh mereka kurus hampir seperti tak mempunyai daging. Matanya masing-masing berwarna putih disetarakan rambutnya.


Salah satu dari makhluk itu, yang tepat mengambang di depan Angga mengulurkan tangannya untuk berbuat sesuatu padanya. Angga dengan segera mencekal tangan kurus sosok menyeramkan itu hingga...


Tangannya lepas dari tempatnya. Lelaki itu karena terkejut melotot tak percaya sedangkan makhluk yang tangannya copot mengerang marah apa yang telah manusia itu lakukan padanya.


Bukannya takut karena makhluk itu marah padanya, Angga malah justru tersenyum smirk dan menendang dada mahkluk yang ada di depannya begitu kuat. Wah, dadanya langsung terpisah dari perutnya dan itu keluar sebuah cairan merah yang telah busuk mengambang di dalam air ini.


Crakk !


Baiklah, Angga tak akan mudah menyerah begitu saja. Lelaki itu dengan beraninya menyerang segerombolan makhluk kurus bak tak ada daging di dalam tubuhnya sebelum dirinya berenang ke atas kembali. Mulai dengan menendang, memukul, hingga menyikut kencang makhluk yang tepat ada di sampingnya secara menggunakan tangan kiri kiri bagian siku Angga.


Setelah berjuang melawan seluruh gerombolan para sosok aneh tersebut hingga semuanya terpisah dari anggota tubuhnya masing-masing, Angga mempunyai luang kesempatan mangkir berenang ke atas permukaan air. Meskipun tenaganya belum sepenuhnya terkumpul.


Di atas permukaan air, Angga kembali menopang tepi pegangan dengan membenamkan wajahnya bersama satu lengan tangan yang ada di tepian daratan tersebut. Kini ia begitu lemas, dadanya terasa sesak. Dan cakaran itu yang menyayat pipi pemuda tersebut sebenarnya terasa perih akan tetapi Angga sanggup menahannya, padahal darah dari wajahnya merembes turun menetes mengenai permukaan air.


Lelaki itu berpikir, apakah makhluk-makhluk menggentarkan tersebut tak akan lagi menyerang dirinya yang dibuat lemas tak berdaya ini? Bahkan entah kenapa kekuatan khususnya ikutan melemah sesuatu dengan keadaannya saat ini. Ingin naik ke tepian, namun tenaganya begitu tak mampu diajak kerjasama untuk membantunya ke atas. Tak ada yang bisa Angga lakukan terlebihnya tidak ada satupun manusia selain dirinya yang ada di sekitar tempat mengerikan ini, hanya ada makhluk gaib yang mencoba menarik nyawanya.


Sampai tiba-tiba....


GREP !!


Kerah jaket coklat Angga ditarik dari belakang oleh seseorang dengan kencang membuat lelaki itu amat tersentak kaget serta pegangan tangannya dari tepian tersebut terlepas. Yang menariknya sengaja memberikan jarak jangkauan panjang dari pinggir daratan sejauh delapan sentimeter. Dengan napas ngos-ngosan, Angga memberanikan diri untuk menoleh kepalanya ke belakang.


Mata Angga menjadi mendelik lebar disaat tahu yang menarik dirinya adalah Arseno sang arwah negatif. Arseno yang ditatap oleh Angga hanya menampilkan senyuman yang sering sosok itu perlihatkan, ialah menyeringai dengan seram.


“Bagaimana? Kamu senang dan puas permainan menyenangkan dariku?”


Angga menggeleng lemah dengan wajah tak berdaya. Arseno semakin bahagia melihat ekspresi Angga yang telah ia tunggu-tunggu selama ini, raut kelemahan kini terlihat jelas daripada raut amarahnya setiap manusia Indera keenam itu bertemu dengannya. Inilah momen istimewa arwah aura negatif tersebut dimana akan menghabisi riwayat Angga detik ini juga.


Splash !


Arseno menghilang gesit dan kemudian muncul di depan Angga lalu mencekik leher manusia itu dengan kedua tangannya yang berlumuran darah. Mencekik secara mencengkram seakan-akan Angga ingin dibunuh olehnya. Angga membuka mulutnya karena tak bisa bernapas, kesempatan kejamnya arwah itu memasukan Angga ke dalam air 5 menit setelah itu mengeluarkan manusia itu tetapi hanya sebatas dadanya.


“Uhuk uhuk uhuk!!!”


“Enak, ya? Pasti mau lagi!”


Yang benar saja tak menunggu jawaban Angga yang tengah terbatuk-batuk karena ia kemasukan air, Arseno menarik leher Angga ke bawah untuk memasukannya kembali ke dalam air sama dengan selama 5 menit.


“Kamu memang dasar manusia yang lemah, hahahahaha!!” Bersamaan itu arwah tersebut mengeluarkan Angga yang posisi matanya terpejam kuat dan terbatuk-batuk keras akibat ulahnya Arseno.


Hidung Angga terasa sakit karena air itu berhasil masuk ke dalam lubang hidungnya dan bahkan tenggorokannya tercekat. Karena belum merasa puas menghabisi Angga, Arseno kembali mencengkram leher manusia tersebut dan mendorongnya hingga ke ujung tepian daratan. Namun karena dorongan itu sangatlah kuat, alhasilnya yang ada bagian kepala Angga di belakang membentur kuat di tepian tersebut yang terbuat dari besi.


DUAGH !!


“Uh! Sangat menyakitkan,” buras Arseno.


Arseno tahu sekali Angga merasakan kesakitan yang luar biasa, bahkan sekarang nada Angga mengerang. Sementara saat pas Arseno menarik kerahasiaan jaket depan manusia itu, rupanya kesakitan yang diterima Angga mengeluarkan darah yang ternampak jelas di tepian pegangan tersebut.


“Wah ini sangat hebat! Eh, tapi kok kamu masih kuat? Oh, mungkin bagimu kesakitan ini belum seberapa. Baiklah aku ngerti, hahahaha!!”


Tawa Arseno kembali menggema hingga mengusik pendengaran kedua telinga Angga. Pemuda tersebut yang tak bisa apa-apa hanya bisa menggelengkan kepalanya untuk menghentikan semuanya. Namun isyarat gerakan kepala Angga yang telah terluka berdarah hanya ditanggap Arseno dengan senyuman miring, Angga paham apa yang dimaksud senyuman iblis itu yang arwah aura negatif tersebut patri.


Bersama tenaga aura hitamnya, Arseno menarik kuat kerah jaket Angga ke samping kanan dan menghempas diri manusia tersebut hingga terdorong kencang.


DUAGH !!


“ARGH!!!”


Tangan Angga bergetar secara tiba-tiba disaat keningnya menghantam suatu besi besar membuat jidatnya pula mengeluarkan darah serta muncul lebam biru keunguan. Satu tangan gemetaran itu meraih kepalanya yang amat sakit dahsyat seperti tertiban batu bata yang untuk membangun rumah. Sedangkan satu tangannya menyentuh badan besi besar tersebut agar dirinya tak tenggelam dalam air yang kondisinya begitu lemah.


“Makanya hati-hati kalau mengarah ke sesuatu. Kamu itu pemberani tapi juga teledor, ya. Sama seperti sahabatmu Reyhan, yaa meskipun dia manusia yang lemah dan penakut, huahahahaha!!”


Rahang Angga mengeras dan menoleh ke belakang lalu menatap tajam Arseno. “Cukup lo ngehina sahabat gue, setan maksiat! Apa lo gak puas kelakuan lo sama Reyhan, hah??!!”


“Wow, kamu begitu hebat. Di ambang-ambang antara hidup dan mati mu, kamu masih bisa-bisanya menggertak aku. Apa kamu tidak menyadari kalau sebentar lagi aku akan menamatkan riwayat mu, dengan itu raga mu yang ada di sana akan dalam posisi nyawa tidak baik-baik saja, melainkan buruk.”


“Jangan otak lo berpikir gue bakal takut sama apa yang nanti lo lakuin sama gue! Setan yang kayak lo gak pantes ditakuti! Hanya karena balas dendam dengan seseorang yang membunuh lo, lo seenaknya mainin nyawa manusia lain!!”


Arseno terkejut dengan ucapan Angga yang murka dengannya. Tidak, bukan karena murka Angga tetapi perkataan manusia itu yang mengingatkan dirinya yang mana waktu silam raganya dibantai oleh dua manusia di malam hari. Terngiang-giang tragedi tersebut, membuat Arseno malah justru mengamuk pada Angga yang masih senantiasa menatap tajam dirinya penuh amarah terdalam.


“Aaaaarrgghh!! kurang ajar manusia satu ini! Kamu harus menerima akibatnya!!”


Satu tangan Arseno terangkat ke atas secara kencang bersama timbul asap sihir berwarna hitam di telapak tangannya. Hal itu membuat Angga terpelanting kencang ke atas dan cuma gerakan tangan Arseno ke belakang, sudah berhasil melempar manusia itu hingga akhirnya menabrak tembok besi begitu hebatnya.


BUAGH !!!


Telapak Arseno yang dikepung asap hitam yaitu sihirnya, ia kepalkan telapak tangannya dan efeknya tersebut berjaya menjatuhkan Angga ke bawah.


BRUGH !!!


Di posisi terlungkup Angga batuk-batuk seraya mengeluarkan cairan merah pekat dari mulutnya. Dadanya terasa seperti terhimpit benda besar yang membuat Angga gagal bernapas dengan normal apalagi di situasi yang sebentar lagi merenggang jiwanya.


Baru saja mengangkat kepalanya, Arseno sudah menggunakan kekuatan sihir aura kegelapan-nya dan membuat manusia yang tak berdaya itu terlempar jauh dan ujungnya menabrak benda besi berukuran besar dimana kening Angga menghantam keras tadi di sana. Hanya satu putaran ke belakang telapak tangan yang berasap hitam mampu membalikkan posisi Angga.


DUAGH !!!

__ADS_1


Angga meraung sakit disaat punggungnya menghantam benda besi besar tersebut entah fungsi itu apa tentang benda itu. Sungguh sakit bak tulang sendi punggungnya rontok seketika.


Usai itu, sang arwah negatif tak lagi menjatuhkan Angga ke permukaan keras tersebut yang membuat diri manusia itu semakin terluka dan jadi parah, namun telapak Arseno yang ada di atas kepalanya, Arseno jadikan bentuk cengkraman di telapak berdarah tersebut. Maka hal itu sama saja Arseno menarik Angga dari besi dan membuatnya mengambang di tengah-tengah atas air.


Arseno pula terbang menghampiri Angga. Dilihatnya kini posisi Angga terlentang sementara kedua matanya meredup akan menutup, tapi sebelum Angga menutup matanya arwah itu tak melupakan ujaran tujuan membuat diri manusia tersebut seperti ini.


“Apakah kamu tahu apa yang aku maksud melakukan semauku padamu hingga kamu seperti ini? Oh, tentu saja kamu tidak mungkin tahu. Hei, aku kasih tahu ya. Tujuan aku membuat kamu begini karena aku ingin melemahkan seluruh tenaga-mu. Mengapa? Karena aku sudah menemukan kelemahan kamu yang sebenarnya ...”


“Kelemahanmu adalah, disaat kamu mengalami mimpi buruk. Dan kamu! Kamu tak akan bisa menggunakan kelebihan-mu jika dirimu masih ada di dunia mimpi, hahahahaha!!!”


Arseno yang memberikan jarak beberapa sentimeter dari Angga yang sekarang sudah sangat lemah, dengan hitungan hingga ketiga arwah negatif tersebut mengangkat kedua tangannya ke atas kemudian menurunkannya cepat secara menghempaskan ke bawah.


Semacam angin yang membawa Angga terjun jatuh ke dalam air dengan sangat kuat dan sementara Angga tak bisa berkutik apa-apa lagi dikarenakan apa yang ia usahakan untuk mencari jalan keluar, sudah tidak ada harapan lagi.


BYUR !!!


Di dalam permukaan air, darah yang ada di kening dan bagian kepalanya keluar dan mengambang di dalam air gelap tersebut. Dirinya tenggelam ke dasar bawah air. Hingga di bawahnya munculah beberapa segerombolan bayangan tangan yang akan menangkapnya dan membawanya ke suatu yang pastinya langsung membuat Angga mati.


Bayangan tangan-tangan yang ada di bawah Angga yang terlentang perlahan di berbagai arah para tangan bayangan tersebut merayap ke Angga dari segala celah. Tangan-tangan bayangan hitam itu menggerayangi Angga mulai dari membelit serta menjeratnya dengan erat, dan disitulah kedua mata Angga yang redup lama-lama memejam menutup.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di sisi lain ialah raganya yang bermimpi amat buruk, seperti tengah memegang lehernya dengan satu tangan, keringat dingin bercucuran membasahi kening begitupun leher. Mukanya begitu pucat, napasnya tak beraturan seolah-olah sedang sesak napas, sementara di sekelilingnya ada banyak seseorang yang mencoba membangunkannya.


Tapi sayangnya beberapa detik kemudian, tangan Angga perlahan terlepas dari pegangan kuat lehernya dengan lemah dan merosot dari baju pasien birunya hingga jatuh di kasur ranjang pasien tempat ia berbaring. Kedua matanya yang mengernyit bagaikan tidur tak tenang lambat pun matanya tertutup seperti biasanya dengan damai.


Kedua orangtuanya Angga diam seketika begitupun sang dokter pria beserta para perawat. Namun Andrana yang sedari tadi panik hingga menangis merasa ada yang tidak beres dengan anaknya, ya sang ibu peka terhadap anak semata wayangnya.


“Anggara?!” panggil panik Andrana menggoyangkan lengan kanan Angga yang panas.


Yang dipanggil hanya bergeming, tak ada respon darinya dan membuat Agra yang diam bergantian memanggilnya seraya menepuk-nepuk pipi bagian kiri anaknya. “Ngga? Angga?”


Seharusnya jika Angga tidur dan dibangunkan pasti akan segera bangun, namun kali ini dirinya tak kunjung bangun membuka matanya.


“Ngga bangun Angga! Jangan bikin Mama takut kayak begini!!” teriak sang ibu beralih mengguncang kedua bahu lemas anak putranya.


Tangisan Andrana semakin deras disaat melihat tak ada pergerakan sama sekali dari anaknya, hanya ada hela napas dada yang naik turun lemah.


Dokter yang bernama Ardy melangkah cepat mendekati pasiennya yang nampaknya keadaannya sedang darurat. “Dokter kenapa dengan anak kami, Dok??!!”


Pekikan Andrana yang spontan bersama derai air matanya langsung ditatap dokter Ardy dengan wajah sedikit memberikan ketenangan. “Ibu dan Bapak mohon silahkan tunggu di luar, ya agar kami yang memeriksa kondisi Anggara sekarang.”


“Baik Dok kalau begitu!” Agra dengan cepat membawa Andrana dalam rangkulannya keluar dari ruang rawat no 110


Sedangkan seperti dokter dan para perawat mulai menjalankan tugas untuk mengecek keadaan Angga yang tiba-tiba. Satu perawat menegakkan kepala Angga yang miring, sementara dokter Ardy bersedia membuka mata Angga satu persatu dengan menyorotkan cahaya senter panjang berukuran kecil secara bergantian.


“Baik, tidak ada Midriasis sama sekali.” Setelah mengucapkan kata itu tersebut dengan nada lirih, dokter Ardy lantas langsung memasukkan senter medisnya ke dalam kantong jas putihnya dan selepas itu memasang stetoskop ke sepasang telinganya yang bagian untuk mendengar irama detak jantung sang pasien.


Beliau dengan sungguh-sungguh mendengarkan detak jantung milik Angga yang lelaki itu masih senantiasa tutup mata alias tak sadarkan diri. Dokter Ardy menganggukkan kepalanya disaat mendengarkan irama dari detak jantung pasien yang berumur 17 tahun tersebut.


“Detak jantung normal. Sus, tolong pasangkan selang oksigen pernafasan untuk pasien, ya.”


“Baik, Dok.”


Satu perawat yang sedang mengecek jantung cairan infus usai mematuhi perintah dari sang dokter melepaskan satu tangannya dari kantong infus yang digantung di bagian ujung tiang infus dan beralih berjalan dua langkah kaki dan mengambilkan selang pernafasan hidung yang ada di tempat atas kepala Angga lalu segera memasangkan perlahan di masing-masing lubang hidung pemuda yang terbaring lemah itu.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Diluar, Andrana yang mencemaskan Angga terus menangis tersedu-sedu di pelukan hangatnya Agra. Agra yang tak ingin istrinya menangis tetap mengusap-usap lembut punggungnya untuk memberikan ketenangan yang pasti.


“Angga gimana, Yah huhuhu!!”


“Angga lagi diperiksa sama dokter, Mama nggak usah risau kayak gini. Percaya dengan Ayah, Angga akan baik-baik saja, ya??”


“Baik-baik saja darimana?! Angga aja sampai pingsan dua kali loh, Yah!” ucap tangkas Andrana reflek memukul dada suaminya.


“Ssst, aduh iya Mama, iya. Ayah tahu, kok. Mama pokoknya tenang dulu, oke?” Berakhir dari kalimatnya Agra, memberikan kecupan di puncak kepala Andrana dengan tetap mendekapnya.


“Hiks! Hiks ...”


Agra mendesis dan beralih membelai lembut kepala belakang istrinya yang masih menangisi anak putranya. Di sela-sela Agra mengelus kepala istrinya, dokter Ardy membuka pintu kamar rawat Angga dengan wajah senyumannya. Keluarnya dokter membuat Andrana menarik tubuhnya dari pelukan Agra begitupun Agra melepas pelukannya dari raga istri tercintanya.


“D-dokter, bagaimana dengan keadaan anak kami berdua?! Apakah semuanya baik-baik saja?! Jawab, Dok!”


“Ma, santai dulu-”


Plak !


Agra mendengus lesu disaat tangannya yang akan meraih bahu kanan Andrana ditepis istrinya. ‘Sudahlah, maklum aja istriku panik sampai begini ke suaminya sendiri.’


Dokter Ardy mengulum senyuman. “Bapak dan Ibu bisa ikut saya ke ruangan sebentar.”


Andrana dan Agra saling melempar pandangan kontak mata karena sang dokter menyuruh mereka berdua untuk ikut ke ruangannya.


Dokter Ardy menutup pintu kamar rawat perlahan. “Mari Pak, Bu.”


“Eh, iya baik, Dokter.” Agra mengiyakan dan menuruti perintah suruh lembut dari dokter Ardy begitupun Andrana yang hanya diam menganggukkan kepala.


Kemudian dokter Ardy lebih dulu jalan di depan dan diikuti oleh wali orangtuanya Angga, mengarah menuju ruangan dokter Ardy berada.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Kini setelah menempuh perlahan menyusuri lorong rumah sakit tersebut, mereka bertiga sampai pada tujuannya. Dokter Ardy membuka pintu putih ruangannya dan mempersilahkan masuk Andrana dan Agra terlebih dahulu dengan senyuman ramahnya.



Dokter Ardy berjalan ke kursi ruangannya dan duduk dengan tenang di situ. “Silahkan duduk, Bapak Ibu.”


“Baik Dok.”


Ucapan serempak menjawab dokter Ardy dari Agra dan Andrana disambung mereka berdua dengan duduk di kursi berwarna oranye muda. Setelah membenarkan dan meluruskan kursi itu masing-masing, kedua orangtuanya Angga menatap intens dokter Ardy yang masih tersenyum.


“Jadi, ada apa ya, Dok? Hingga kami disuruh ke ruangan anda?” tanya Agra membuka percakapan.


“Sebelum itu, saya ingin memberi tahu bahwa Anggara baik-baik saja. Tidak ada yang serius, tetapi ada yang perlu saya sampaikan dalam keadaan Anggara pada Bapak serta dan Ibu,” sahut dokter Ardy dengan menatap Agra lalu Andrana.


Andrana menghapus air matanya. “Apa yang ingin Dokter sampaikan pada kami? Tolong sampaikan saja, Dok.”


Dokter Ardy menyingkirkan laptopnya dari hadapannya lalu duduk tegak. “Setelah saya periksa anak Bapak dan Ibu, ya ... Anggara sedang tidak sadarkan diri karena akibat dari suatu yang pasti, yaitu Depresi beratnya.”


Agra dan Andrana menunduk bersama dengan wajah sendunya, mereka berdua tidak kaget karena Angga memang sering mengalami Depresi karena yang kemungkinan besar mimpi buruknya atau gangguan makhluk halus yang mengintainya serta mengusik hidup tenangnya.


Agra menarik wajahnya kembali dan menatap lesu dokter Ardy. “Dok, sebenarnya anak kami memang sering mengalami Depresi terlebihnya Depresi berat.”


“Oh, begitu ya, Pak. Maaf, kalau saya boleh tahu apa yang membuat Anggara Depresi, Pak Bu? Mohon tolong dijelaskan dengan detail, ya agar saya tahu keadaannya Anggara.”


“Eeee ... emmm ...” Andrana berkomat-kamit tak tahu beliau harus menjelaskan sang dokter bagaimana, apalagi itu rahasia kelebihannya Angga. Andrana takut jika pada puncaknya, dokter Ardy tak mempercayai ucapan Andrana yang menjelaskan dengan kejujurannya.


Andrana mendongakkan kepalanya menatap lekat Agra yang duduk di sampingnya. Agra yang menatap Andrana hanya menganggukkan kepalanya pelan, bahwa tidak apa-apa menjelaskannya dengan jujur.


“Bagaimana, Pak? Bu?”


Agra menatap dokter Ardy kembali dengan nyengir. “Maaf Dok, tapi dengan saya dan istri saya menjelaskan apakah anda percaya pada penjelasan kami untuk anda?”


“Jelaskan saja, Pak. Saya akan mendengarkannya.”


Agra menarik napasnya dengan panjang lalu menghembusnya perlahan untuk menenangkan hatinya. “Sebetulnya yang menyebabkan Anggara Depresi karena gangguan ... makhluk astral ...”


Mata dokter Ardy berkaca-kaca dan sedikit memajukan badannya. “Gangguan makhluk astral, Pak? Wah bentar-bentar, anak Bapak Indigo, ya?!”


Andrana kaget melihat ekspresi kagum dokter Ardy. “Ee, i-iya Dokter. Anak kami adalah seorang Indigo, jadi bisa melihat sosok yang tidak terlihat.”


“Oalah ya ampun! Kalau sudah seperti itu, memang sudah dianggap wajar, Bu dan Bapak. Soalnya saya dan anak saya di rumah juga Indigo, hehehehe.”


“Lho, ternyata Dokter juga Indigo, ya?!”


“Betul, Pak. Jadi saya juga bisa melihat ... hantu-hantu di berbagai wilayah termasuk di rumah sakit ini, karena kalau auranya sudah janggal mesti ada sesuatu yang menempatinya.”


“Jadi, Depresi juga karena gangguan sosok yang tidak kasat mata. Namun ada juga Depresi karena akan suatu hal masalah. Oh iya, Anggara Indigo berasal dari ...”


“Keturunan, Dok. Anggara Indigo berasal keturunan dari kami berdua,” jawab Andrana mulai senyum.


“Wah itu hebat sekali, ya. Pastinya satu keluarga bisa melihatnya, ya. Haha, saya menjadi kagum.” Boraknya dokter Ardy hanya ditanggapi senyuman yang pula menampilkan deretan gigi bagian atasnya oleh kedua orangtuanya Angga.


“Baik, yang saya pastikan Anggara pingsan saat ini dikarenakan mimpi buruknya yang menjadikan pasien Depresi kembali, ya. Dan untuk kondisi, Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir karena Anggara yang mestinya akan baik-baik saja. Kita sebaiknya menunggu pulihnya kesadaran Anggara, ya Ibu Bapak?”


“Iya, Dokter. Kami paham sekali atas ucapan dan kesampaian anda yang tadi, terimakasih Dokter,” ujar Agra dengan sedikit membungkukkan badannya.


Andrana tersenyum pilu. “Dan terimakasih lagi karena Dokter telah mau mendengarkan penjelasan kami berdua tentang Anggara, Dok.”


“Iya, Pak, iya Bu. Terimakasih kembali.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Kamar Rawat No 110 Lantai 4


Di ruang perawatan tanpa cahaya lampu sedangkan hari masih malam, kini Angga ditemani kedua orangtuanya yang ada di samping kanannya. Menatap penuh lara sedih atas keadaannya. Di bagian wajah Angga terpasang selang oksigen hidung di penciuman inderanya. Bibirnya yang bungkam begitu pucat beserta gerakan hela napas dadanya lemah, tetapi syukurlah dirinya dinyatakan akan baik-baik saja.


Andrana menggenggam telapak tangan kanan Angga memakai kedua tangannya dengan lembut, berharap anaknya secepatnya segera siuman. Melihat kondisi anaknya yang sangat lemah membuat Andrana rada ketar-ketir tetapi beliau harus yakin Angga tak akan terjadi apa-apa selain ini.


“Ayah, Mama jujur sungguh nggak mau Angga mengalami genting kayak gini. Mama ingin Angga lepas dari Indigo-nya.”


Indigo To Be Continued ›››

__ADS_1


Note : Midriasis adalah kondisi pupil mata yang melebar secara tidak normal. Pelebaran pupil mata ini bisa terjadi pada kedua atau salah satu mata


From_hellosehat


__ADS_2