
Reyhan memejamkan matanya merasakan dirinya benar-benar jemu untuk sekian kalinya, berputar-putar keliling hanya buat menghirup udara segar sudah tidak ada apa-apanya. Tetapi yang perlu Reyhan butuhkan adalah bersabar, bahkan Terapi di rumah sakit selama ia masih menjalani perawatan tetap berlanjut meski tak dilaksanakannya setiap hari. Dan hari ini tepatnya hari Jumat pukul 10.00 pagi, Reyhan berada di depan jendela yang terbuka lebar. Menikmati semilir angin meski suasana hatinya sedang buruk.
“Kakak Rey!”
Suara nada tinggi namun menggemaskan buat Reyhan terdengar familiar di telinganya. Dengan hela napas berat dirinya sedikit memundurkan kursi rodanya kemudian memutarnya ke belakang. Seketika lelaki itu yang memandang seorang gadis berusia 7 tahun langsung tersenyum melihat sunggingan sumringah manisnya.
Gadis kecil itu yang tak lain adalah Dania si adik sepupunya Reyhan memiringkan kepalanya yang berambut hitam pendek. “Kakak? Kakak kok pakai kursi yang ada rodanya gitu?”
Reyhan tersenyum hambar. “Kakak lagi sakit, jadinya Kakak duduk di sini, Dek.”
“Oh kata Bunda, Kak Rey kakinya cacat, ya?!”
Sebenarnya rada sakit Dania bilang Reyhan seperti itu, namun memang kenyataannya begitu. “Ehm, kamu benar. Oh iya, Kakak sudah lama nggak lihat kamu. Jadi, mau nggak Kakak peluk?”
Dengan senyuman lebar ramahnya, kedua tangan Reyhan kompak membentang ke depan agar Dania memeluk kakak lelaki sepupunya tersebut yang berumur 17 tahun itu. Dania yang ada di jauh hadapan Reyhan langsung mengangguk antusias dan berlari memeluk tubuh Reyhan dengan rasa rindunya pada Reyhan.
“Kak Rey, Dania kangen sama Kakak hihi!” Dania semakin mempererat pelukan kecilnya di tubuh sang kakak sepupu.
Reyhan mengulum senyumannya dengan menutup matanya tenang penuh rasa nyamannya di peluk sang adik sepupunya. “Kak Rey juga kangen sama kamu, Nia.”
Dania melepaskan dekapannya dan menatap Reyhan yang masih tersenyum pada gadis kecil itu. “Kak, Dania mau tanya boleh?”
“Boleh dong, mau tanya apa? Pertanyaan Dania bakal Kakak jawab.” Reyhan menanggapinya dengan sepenuh hati bersama mengangkat tubuh bobot ringan Dania ke atas pangkuannya.
Dania yang sudah ada di pangkuan sang kakak lelaki sepupunya yang ia sayangi langsung menyerong badannya ke belakang untuk menatap Reyhan. “Kakak kok waktu di ruang yang bau obat-obatan itu tidurnya lama banget? Padahal Dania bangunin Kak Rey, Kakak juga gak bangun-bangun kayak orang mati di film-film tempat laptopnya Kakak.”
‘Anjir buset dah ini adik gue satu! Dibilang mati dong, gue. Lagian mana gue tau Dania bangunin gue di posisi waktu itu gue Koma.’
“Maafin Kak Rey ya, Dania. Waktu itu, kan Kakak lagi sakit parah, jadinya Kakak lelah banget sampai Dania bangunin, Kakak gak bangun-bangun. Tapi, kan sekarang Kakak udah bangun lagi nih, terus juga Kakak juga sudah lumayan sehat.”
Dania mengangguk yang memiliki pipi gembil tersebut. “Yang Dania inget tuh, Kakak dipasang kayak alat yang nutupin hidung sama mulut Kakak, terus warnanya bening gitu, Kak. Hmmm ... sama apa lagi, yaaaa?? Oh! Juga di ujung bawah alat itu ada tabung yang bentuknya kayak plastik, Kak.”
Reyhan hanya senyum meringis betapa pintarnya sang adik sepupunya mendeskripsikan gambar alat oksigen yang tentunya pasti Reyhan tahu alat apa itu. ‘Mantap lo, Dek. Gue jadi tau gue diapain semasa gue Koma, hahaha !’
“Nah, yang buat Dania heran tuh ... Kakak kan juga dipasang banyak kabel di dalem badannya Kakak, tapi kok anehnya kabel itu gak nyetrum Kak Rey, ya?”
“Ha- hah?!”
__ADS_1
“Bahahahahaha!!!” Farhan tawa terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya saking tawa lepasnya dari kandang. Seperti Jihan, Diana, Okta sang ayah Dania menatap heran Farhan yang tertawanya layaknya pria tengah kesurupan hantu masal.
Reyhan menatap kesal Farhan yang mudahnya menertawakan anaknya sendiri. Jihan yang mulai risih pada tawa suaminya yang makin merajalela segera menyikut bahunya Farhan pakai siku tangan kirinya agar suaminya berhenti tertawa.
‘Lagian kalau gue kesetrum dari dulu waktu gue masih Koma, gue udah jelas mati, lah.’
“Emangnya kabel itu nggak nyetrum, ya Kak?”
“Enggak dong, itu kabel yang biar dokter tahu perkembangan Kakak bagaimana. Kalau tanpa alat itu, dokter atau suster gak tau dong keadaan Kakak gimana.”
‘Yaelah padahal gue ngarang doang. No problem kali, ya? Daripada gue bingung jawab apa, Bisa-bisa gue apes diketawain papa lagi !’
“Oalah, jadi biar pak dokter tau kondisi Kak Rey sudah sembuh atau belum, ya?”
“Nah! Itu Dania pinter! Ih, jadi gemes deh sama kamuuu!!” Reyhan mencubit hidung mancung kecil milik adik perempuan sepupunya.
“Aaaa Kakak! Sakiiitt!” Dengan tak terimanya atas perilaku jahilnya Reyhan, Dania langsung mendorong muka mulus kakak lelaki sepupunya dengan telapak tangan mungilnya.
“Reyhan, jangan digituin adiknya,” tegur halus Jihan dan dibalas Reyhan dengan gerakan tangan seperti sedang hormat pada bendera di lapangan.
Reyhan yang mendengar aduan Dania dengan nada merengek sebal pada Jihan langsung tertawa geli melihat sikap yang buat gemas. Lelaki ramah itu kemudian merengkuh tubuh mungil Dania lembut dan menempelkan salah satu pipinya di pipi gembul kiri Dania.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Di atas ranjang pasien, Reyhan nampak fokus memandangi foto nenek dan kakeknya. Senyuman yang merekah itu pada bola mata yang melihat di layar ponsel membuat Jihan dan Farhan melihatnya terdiam dengan wajah sama-sama berekspresi sendu. Entah mengapa mereka berdua menjadi seperti itu. Tak hanya kedua orang tua Reyhan saja, namun juga ketiga sahabatnya yang telah sehabis pulang sekolah.
Selang menit kemudian, Reyhan menghela napasnya panjang dengan memejamkan matanya sejenak. Menatap foto neneknya yang sering ia sebut 'oma' Reyhan teringat akan izin pergi dari Farhan dan Jihan yang terkesan mencurigakan.
Lelaki ramah tersebut lalu membuka mata sipitnya dan menoleh intens kedua orangtuanya. “Ma, Pa. Kalian bisa, kan jujur sama Reyhan apa yang terjadi sama oma sebenarnya?”
“T-tiba-tiba kamu tanya seperti itu, kenapa, Nak?!” tanya balik Jihan dengan nyengir.
“Jujur, Ma. Papa juga, waktu itu pasti bukan cuman sekedar acara doang, kan? Mesti hanya alasan kalian berdua saja buat menyembunyikan dari Reyhan.”
Farhan dan Jihan terdiam, tak mempunyai jawaban untuk Reyhan. Tapi setelah itu, Farhan terlihat menatap lekat istrinya bersamaan anggukan kepala seperti sedang meyakini sesuatu. Jihan paham kode dari sang suami, lalu segera mendekati Reyhan dan menggenggam tangan kanannya sedikit erat. Reyhan sampai memperhatikan beliau menggenggam tangannya dan beralih menatap wajah pilunya.
“Kalau Mama kasih tau sama Reyhan tentang oma, apa Reyhan siap mendengarkannya?”
__ADS_1
Reyhan mengangguk pelan dengan mulut bungkam namun bola matanya masih kontak di mata indahnya sang ibu. Reyhan tersentak kaget saat melihat Jihan mengeluarkan air matanya dari bawah kelopak matanya.
“Oma ... sudah meninggal dunia, Nak.” Genggaman itu semakin erat di tangan Reyhan, bahkan beliau menelungkup wajahnya di telapak tangan anaknya yang pipi Jihan telah dibanjiri linangan air mata.
DEG !
Tubuh Reyhan menegang, sungguh tak menduga nenek satu-satunya telah pergi meninggalkannya. Reyhan menggelengkan kepalanya kuat bersama air mata yang perlahan keluar dan membasahi pipinya.
“Mama jangan bercanda! Oma belum meninggal! Oma kelihatan sehat-sehat saja, gak mungkin oma sampai ninggalin dunia, Ma!” Reyhan kemudian menoleh ke Farhan. “Pa, Mama bohong, kan?!”
Farhan menggelengkan kepalanya lemah lalu mendekati ranjang pasien Reyhan. “Apa yang dikatakan mama, itu benar, Rey. Oma sudah pergi.”
Setelah mendapatkan jawaban dari Farhan, Reyhan menghadapkan kepalanya ke depan televisi. Enggak! Hiks, gue mohon semua ini cuman mimpi!”
Reyhan meraup wajahnya dan menatap kedua orangtuanya dengan perasaan tak karuan. “Kenapa Mama Papa nggak dari dulu bilang Reyhan kalau oma sudah meninggal??!! Tega!!!”
Mendengar teriakan Reyhan yang nampak marah pada kedua orangtuanya apalagi hatinya remuk karena mendengar kenyataan ini, Angga yang berada di samping kirinya langsung memeluknya. “Tenang Rey, tenang! Jangan kayak gini. Ada alasannya kenapa mama papa lo sampai begini ke elo. Mereka hanya butuh waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Oma lo sudah lama meninggal, jadi untuk saatnya sekarang lo harus bisa mengikhlaskan beliau pergi dengan tenang. Ya?”
Mata Freya yang berkaca-kaca hampir menangis, lengannya di senggol-senggol oleh Jova. “Kenapa?”
“Frey, itu Angga sahabat kita nggak, sih?” bisik Jova berhenti menyenggol lalu mendekati mulutnya di dekat telinga Freya.
“Kamu ngomong apaan, deh? Yaiyalah itu sahabat kita, gimana sih?! Dasar aneh.”
“Ih, tapi Angga beda banget, tau! Noh coba deh kamu liat si Angga. Gak pernah lho Angga peluk cowok walau yang dipeluk sahabatnya. Angga kan paling sensitif kalau dipeluk ama cowok.”
Freya berdecak dengan menatap Jova jengah. “Biasa aja dong, ah !”
“Hah, jangan-jangan jiwa Angga tertukar sama jiwanya Reyhan, lagi! Pas mereka berdua tidur malem tadi.”
Freya yang kesal pada ucapan Jova nang ngaco tanpa aba-aba, langsung mencubit pinggang sahabat tomboy-nya tersebut. “Aduduh!”
Jihan serta Farhan merasa bersalah terhadap Reyhan yang kini anaknya terlarut dalam kesedihan. Tapi bagi mereka ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu kenyataannya pada Reyhan hari ini. Angga melepaskan pelukannya dan melihat sahabatnya yang menjadi diam. Diam bungkam namun pandangannya yang Angga lihat ia tak melamun, pemuda bermata abu-abu tersebut beralih mengusap-usap punggung Reyhan untuk memberikan ketenangan hati dan pikiran sahabatnya.
Reyhan menundukkan kepalanya bersama tampilan wajah muramnya, meneteskan air matanya yang telah kering kemudian tangan kirinya menyeka air matanya. Lelaki itu benar-benar tidak menyangka, seorang nenek yang ia sangat sayangi telah pergi menyusul kakeknya yang 4 tahun lalu sudah meninggalkan dunia. Apakah Reyhan harus mampu mengikhlaskan kepergiannya sang nenek? Ya, Reyhan harus sanggup mengikhlaskan kepergian omanya supaya beliau bisa tenang di alam sana.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1