Indigo

Indigo
Chapter 28 | Erland Lucifer


__ADS_3

Cukup lama Anggara dan Stevan menempati alam tersebut hingga tak terasa telah memasuki 1 bulan lamanya. Sekarang Senja sedang asyik bermain dengan kucing abu-abu itu yang telah ia namai Molly karena kucing tersebut tak ada pemiliknya sama sekali.


Anggara memandang langit cerah begitupun dengan Stevan yang memejamkan matanya seraya menghirup udara angin yang bertiup tenang. Sampai tiba-tiba kepala Anggara menghadap ke Stevan akan bertanya sesuatu padanya.


"Stev, gue lupa nanya. Lo itu punya penyakit Asma, ya?"


"Iya, dari sejak lahir. Ya penyakit itu mendatangi masalah buat gue, mulai dari ketinggalan banyak pelajaran, gue yang sakit-sakitan, selalu absen sekolah beberapa hari karena gue juga harus berobat di rumah sakit Wijaya Jakarta."


"Parah juga ternyata. Gue kira lo Komanya karna penyakit lo itu."


"Enggak kok, tapi gue berharap banget setelah gue bangun dari Koma panjang gue, penyakit Asma gue secara mukjizat bisa menghilang. Tersiksa banget punya penyakit akut kek begitu, Ngga."


"Tetapi karena gue saat ini roh, gue bisa terbebas sementara dari penyakit gue. Kalo gue udah kembali ke raga gue sepenuhnya, gue mungkin bakal tersiksa sama penyakit sialan itu!"


"Kalo gini caranya, mana gue mau nyari pacar apalagi punya pacar sedangkan gue punya penyakit akut itu."


"Loh Stev, bukannya kamu itu ketua OSIS ya di sekolahmu?" Terus emangnya boleh ya absen melulu karna kamu berobat di rumah sakit sampe berhari hari??" tanya Senja seraya masih bermain dengan Molly.


"Papa mama ku udah kasih tau sama pihak sekolah ku kok, kalo aku ini punya penyakit Asma yang biasanya diriku ini berobat di rumah sakit sampe bener-bener aku pulih lagi."


"Perasaan kayak penyakit Leukimia aja deh," gumam Anggara sambil membuang mukanya dari Stevan agar Stevan tak mendengarnya bahkan mengetahui mimiknya mulut Angga.


"Ya Allah, Anggara! Cuman Asma gue tuh, gak-nya gue sekaligus punya penyakit kanker darah!!" bentak Stevan yang sayangnya Anggara ketahuan telah bergumam gumam.


"Eh iya-iya maaf! Bercanda gue tadi barusan."


Senja tertawa kecil mendengar suara konyolnya Anggara yang kali ini baru terdengar jelas di telinganya Senja.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Di rumahnya Reyhan, sang sekeluarga tengah menikmati sarapan masakan dari Jihan. Reyhan nampak menopang dagunya dengan tangan, sementara tangannya itu menyangga atas meja makan. Wajah Reyhan terlihat tak begitu semangat walau ini hari pada saatnya ia bertemu kesemua teman-temannya di sekolah Galaxy Admara.


Reyhan telah juga lengkap dengan seragam SMA elitenya. Kini Reyhan melepaskan jas almamater kuning blonde SMA miliknya lalu ia sampir jas almamaternya di sandaran kursi yang ia duduki kini. Setelah melepas jas tersebut sekarang terlihatlah seragam rompi berwarna kuning daffodil dominannya plus seragam putih bersih lengan panjang di dalamnya beserta Reyhan mengenakan pula dasi rapinya di kerah seragamnya yang berwarna berbeda yaitu abu-abu porpoise mencoloknya.


Jihan dan Farhan nampak tengah makan dengan nasi serta lauk pauk yang begitu lezat menggiurkan selera sarapannya, tak begitu juga dengan anak putranya. Ia malah memilih makan telur mata sapi dan sayuran selada campur beef dengan dilapisi dua roti tawar satunya di atas sedangkan satunya lagi di bawah. Meskipun seperti itu, Reyhan memakan makanannya tersebut lambat sekali layaknya orang yang malas makan. Pandangannya kosong hingga pada akhirnya Farhan menjentikkan jari antara telunjuk dan jempolnya di tangan kanan ke dekat jangkauan wajah anak semata wayangnya.


Reyhan yang di gitukan langsung kaget sampai mengerjapkan matanya beberapa kali lalu bola matanya bergerak menatap Farhan yang berwajah ngakak. Tetapi tak sedikitpun anaknya itu hilang dari murungnya yang selalu terlihat sepanjang dari minggu-minggu telah berlalu.


"Reyhan, ayo dimakan cepat rotinya nanti keburu telat loh masuk ke sekolahnya. Ayo gih cepetan dikit udah setengah tujuh soalnya," titah nada lembut Jihan.


"Ya Ma," singkat Reyhan kemudian melahap perlahan rotinya yang masih hangat karena tercampur oleh panasnya telur mata sapi beserta daging beef yang baru usai di masak.


Setelah Reyhan telah kelar menghabiskan sarapannya dan meneguk air putih yang tepat di dekatnya Reyhan, Reyhan beranjak dari kursi lalu menyeret jas almamaternya dan memakainya dengan lumayan gesit. Reyhan mengangkat tas punggung sekolahnya tak lupa menyalami tangan kedua orangtuanya serta berpamitan mengucapkan salam pada mereka berdua.


Melihat anak lelakinya menenteng tas pundaknya ke bahu kiri dan akan mendekati pintu rumah, Jihan memanggil Reyhan sedikit berteriak.


"Reyhan, kunci motornya sudah kamu bawa?!"


Reyhan merespon dengan sebuah tangan yang ia tepuk-tepuk di tepat saku celana persis warna dasi dari seragamnya. Itu pertanda kalau kunci motornya telah ia bawa.


"Oh yaudah .. hati-hati ya, Nak. Inget bawa motornya jangan sambil kebut kebutan," perintah Jihan memperingati Reyhan.


Reyhan mengangguk tanpa menoleh sederajat pun. Reyhan melangkah kembali dan membuka pintu rumahnya lalu menutup pintu rumah sesudah Reyhan keluar dari rumahnya.


Cklek !


Farhan dan Jihan hanya bisa menatap kepergian anaknya yang tidak menunjukan senyuman gembira bahagianya sama sekalipun. Farhan serta Jihan saling menatap dengan tatapan sedihnya.


"Ma, sampe kapan ya Reyhan gitu-gitu terus? Gak capek apa murung mulu dari bulan yang lalu semenjak sahabatnya Koma."


"Mama gak tau Pa. Lumrah aja sih Pa, Reyhan begitu. Semoga aja Anggara cepet bangun, ya Pa .. kasian aku liat Andrana sama Agra setiap hari sedih terus ngeliat Anggara separah itu di rumah sakit."


"Amin Ma. Papa juga bisa tau hatinya anak kita kayak gimana sekarang."


"Iya Pa, Mama juga," lirih Jihan wajah prihatin.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Dalam keadaan menyetir motornya, di sepanjang perjalanan Reyhan tak memedulikan langit yang begitu mendung akan turun hujan. Langit pekat serta cahaya matahari tertutup oleh awan gelap tak juga membuat situasi jalan kota sepi malahan begitu padat banyaknya kendaraan berlalu lalang. Seperti apa yang di perintahkan Jihan untuk tidak mengebut, Reyhan mematuhinya menggunakan kecepatan motor di laju standar tak maksimal penuh seperti sedang balapan geng motor andalan.


Usai berapa lama menempuh perjalanan menuju ke sekolahan, tibanya Reyhan di sebuah depan gerbang sekolah yang kini ada seorang satpam penjaga sekolah, ciri-ciri dari beliau tersebut berbadan tinggi gagah, mengenakan seragam atribut lengkapnya beserta penjaga sekolah itu selalu menggenggam tongkat jaguar-nya sebagai pentungan untuk anak-anak SMA yang di sekolah Galaxy Admara terlambat datang ke sekolah apalagi diam-diam memanjat tembok gerbang seperti mau maling.


Baru saja Reyhan akan melanjutkan kendara-nya dikarenakan antri banyak siswa-siswa masuk ke dalam gang sekolah yang menggunakan sepeda motornya masing-masing, Reyhan di cegat oleh satpam yang ternyata nama beliau adalah Asep atau sering di sapa dengan mang Asep.


"Kenapa, Mang? Saya mau masuk."


"Weh tampang mu kali ini kusut banget kayak baju belum di setrika sama bininya Mamang? Kenapa itu muka? Abis di putusin pacar yaaaa," ledek mang Asep dengan senyuman menyengir.


Reyhan menghempaskan napasnya kasar. "Gak Mang, saya belum sama sekali punya pacar. Jomblo akut."


"Ngakak lo Rey, gitu-gitu lo pantes punya doi spesial di hati lo beh," timpal ucap salah satu siswa di sampingnya mang Asep.


Seketika Reyhan menoleh ke sumber suara yang begitu familiar, seorang siswa yang mengenakan seragam yang sama Reyhan pakai. Reyhan begitu terkejut menyadari kalau di samping mang Asep adalah Rangga.


"Ga? Kok lo bisa ada disini?!"


"Yaelah orang gue ada disini daritadi, lo-nya aja noh yang gak nyadar. Makanya jangan ngelamun kalo bawa motor, untung hari ini lo gak kena timbul kecelakaan hahahaha!"


"Gak usah ketawa, bisa?" tanya Reyhan nada dingin.


Tawa Rangga langsung pudar mendengar suara dingin dari Reyhan. "Oh iya-iya, oke deh oke hehehehe."


"Waduh, ada yang lagi kena problem nih. Kenapa kamu Rey? Gak biasanya kamu kayak gini, malahan tumbenan aja kamu nadanya cold banget kek orang boneka salju wakakakak!"


"Tawa Mamang kayak genderuwo nyari kunti," kata Reyhan dengan wajah datar.


"Heh? Mas kunti sama mba Genderuwo?"


"Salah ucap, Paman. Yang benar itu mas genderuwo sama mba kunti." Rangga membenarkan untaian kata mang Asep.


"Oh iya kebalik kayak dunia kebalik hoho- eh ngomong-ngomong Rangga-nya kalo manggil saya jangan paman, Mamang aja. Atau kalo kepanjangan kamu teh bisa panggil Mang Asep ganteng."


"Oooohh gitu ya, Mang."


"Gak ganteng-ganteng amat, masih gantengnya juga Hercules."


Rangga menjadi tertawa mendengar ucapan Reyhan yang meskipun nadanya sangat dingin bahkan wajahnya datar. mang Asep yang mendengar ujaran itu melongo seperti melihat permen lollipop.


"Kamu mah, bisa aja rendahin harga diri gantengnya Mamang," tutur mang Asep melas.


"Oh iya Mamang mau tanya sama kamu deh Rey, tumben kamu gak bareng sama sahabatmu yang pendiem itu? Kemana-nya dia??" sambung mang Asep.


"Anggara sakit, Mang."


"Loh kok bisa Rey? Padahal Anggara jarang loh sakit, kok sekarang malah sakit? Sakit apa sahabatmu itu??"


"Saya susah jelasin secara detail, Mang."


"Lah? Sakitnya parah, apa si Anggara?"


"Ya gitu," respon Reyhan seadanya.


"Gitu gimana dah? Tapi ngomongin Anggara mukamu kok lesu sedih banget gitu?" Sudah mulai mang Asep menghujani banyak pertanyaan untuk Reyhan mengenai soal Anggara.


"Oh anu Mang, si Reyhan sedih karna abis nonton film mengandung kesedihan, anak Youtube nih Mang." Rangga menyengir jelas ingin menghibur Reyhan walau ia malah terkena semprot habis oleh Reyhan.


"Ngaco!"


"Eh iye-iye maap Rey .. hehehe maapin gue Rey."


"Maafin dong Rey, anak baru si Rangga. Harus dimaafin jangan dimanfaatin."


Reyhan terkejut. "Siapa yang manfaatin, Mang?!"


"Ya kamu, lah masa Mamang."


"Ya Allah Mang, saya gak tega manfaatin orang loh apalagi anak baru. Rangga tuh tetangganya saya, Mang. Masa dimanfaatin!"


' Mampus, malah emosi si Reyhan! Waduh kudu gimana nih gue ?! ' batin Rangga panik.


"Eh iya ampun-ampun Mas, galak banget perasaan. Yaudah Mamang minta maaf deh, kan Mamang cuman sekedar becanda doang hehehe."


"Ya, saya maafin Mang. Kalau begitu saya permisi masuk dulu."


Setelah menanggapi mang Asep, Reyhan memegang kedua setang motornya lalu menstarter motornya melaju meninggalkan mang Asep dan Rangga.


"Eh woi Rey, jangan tinggalin guee! Gue gak tau ruang kelasnya dimana! Wey, Reyhan lintang Ellvano!!"


"Kejar sono, Ga. Keburu masuk kelas itu si Reyhan," komando mang Asep.


"I-iya Mang, kalau begitu saya masuk dulu Mang. Assalamualaikum!" Rangga segera melajukan kembali motornya dan mencari keberadaan Reyhan yang kini tak terlihat batang hidungnya.


"Ya Allah Ya Robbi, kenapa itu anak satu .. berubah total kek di sihir mak lampir," lirih mang Asep mengelus dadanya.


Di sisi lain, Rangga sibuk celingak-celinguk mencari tetangganya yang tak terlihat olehnya, Rangga masih berada di atas motornya dengan bola mata bekerja bolak balik mencari Reyhan yang malah hilang. Sampai tiba-tiba akhirnya Rangga menemukan Reyhan yang turun dari motornya lalu melepaskan pengait helmnya. Rangga langsung menjalankan motornya kembali dan memarkirkan motornya tepat di sisi motor milik Reyhan.


"Astagfirullah Rey, masa gue di tinggalin sih. Untung gue cepet menemui lo, kalo kagak .. nasib gue sebagai anak baru gimana di SMA elit ini."


"Sorry."


Rangga mengangguk mantap memaklumi Reyhan yang seperti itu, Rangga kemudian turun dari motornya lalu melepaskan pengait helm punyanya plus melepaskan helmnya dari kepalanya. Helm tersebut ia gantung di atas kaca spion motor begitu juga dengan Reyhan. Rangga berdiam di samping motor kesayangannya, menatap Reyhan yang mencabut kunci motor dari tempatnya.


"Kenapa diem aja? Ayo ikut gue. Daripada lo disini terus, lama-lama gue tinggal."


"Eh jangan-jangan. Iya dah iya, tapi apa bisa lo sekali ini aja jangan jutek gini? Reyhan tetangga yang gue kenal dibawa kemana?" tanya Rangga terkekeh.


"Gak tau." Reyhan melengos menuju ke lobby sekolah diikuti oleh Rangga yang menggerutu pasrah dalam rutuk hatinya.


Di dalam gedung SMA elite tersebut, membuat Rangga yang baru pertama melihatnya terkagum kagum pada bentuk pembangunan sekolahnya serta pemandangan sangat enak di pandang. Saat ini Rangga dan Reyhan menaiki tangga pertama, baru menaiki undakan anak tangga sudah ada banyak siswa-siswa serta siswi-siswi berceloteh di tambahkan gelak tawa yang menyenangkan hati.


"Pagi Kak Reyhan," sapa adik kelas Reyhan yang melambaikan tangannya ramah.


Tak seperti biasanya, Reyhan jika disapa hangat oleh adik kelasnya apalagi itu perempuan yang menurut ia adalah adik kelas yang terunyuk unyuk, Reyhan langsung melambaikan kedua tangannya dengan membalas sapaan adik kelasnya tersebut bersama senyuman lebar yang merekah di wajah tampannya. Tapi tidak kali ini, Reyhan hanya memberikan senyuman tipisnya lalu menoleh ke depan kembali. Adik kelasnya yang di berikan respon ekspresi itu langsung terbingung-bingung mengapa kakak kelas ramahnya itu membalas sapaannya dengan senyuman simpel praktis tidak seperti dulu yang ia lihat.


Tak hanya satu adik kelas dari kelas X saja, namun banyak sekali yang menyapa ramah layaknya merindukan kehadiran Reyhan. Tetapi meskipun begitu mereka yang seperti melihat selebriti lewat, Reyhan lagi-lagi meresponnya dengan senyuman tipis saja tak ada selain itu.


'Ternyata Reyhan orangnya populer juga ya di sekolah ini,' batin kagum Rangga.


Tak terasa setelah berjalan penuh rasa kesunyian karena tak ada yang mengajak ngobrol dengan Rangga, Reyhan dan Rangga tiba di pintu kelas XI IPA 2. Dua pemuda tersebut langsung memasuki dan langsung di sambut ramah oleh penghuni kelas XI IPA 2.


"GOOD MORNING REYHAN MY FRIEEEENNDD!!!"


Reyhan langsung menyumbat kedua telinganya dengan masing-masing jari telunjuknya. Seorang pemuda berwajah ria ceria berlari menghampiri Reyhan seolah tengah rindu pada temannya.


"Nyapa yang wajar aja, gak usah pake teriak-teriak segala!" bentak Reyhan masih menyumbat kedua telinganya.


"Weh kenapa lo njir? Kok galak banget perasaan? Ah gue tau nih, lo galak karna abis di usir dari rumah kan, ya kaaann."


"Gak usah ngawur deh lo Ji, lagi males gue ladenin lo."


Reyhan melenggang pergi melengos dari pemuda itu yang terkejut bukan main pada sikapnya Reyhan hari ini. Sudah lama tidak bertemu, eh tiba-tiba saat tatap muka malahan beda watak temannya itu yang terkenal humoris friendly tersebut.


"Reyhan gak lagi kesurupan, toh??!!" panik pemuda itu yang berteriak pada Reyhan, sementara yang diteriaki sudah duduk di bangku kursinya.


Namun pertanyaan panik konyol dari temannya tak di jawab dengan Reyhan. "Anjay di anggurin gue ..." lirih ia.


Pemuda itu beralih pada Rangga yang merupakan anak baru di kelasnya. Pemuda itu tersenyum lebar dan mendekati Rangga.


"Ngga?! Wih kok lama gak ketemu kulit lo jadi manusia coklat hahahaha! Itu juga, tasnya, sepatunya juga baru semua widih keren-keren bro!"


"Eee maaf, gue bukan Anggara tapi gue Rangga. By the way salam kenal ya." Rangga mengulurkan tangannya.


"Eh siapa? Rangga? Rangga siapa?" tanya pemuda itu.


"Rangga Vindo Gavindra."


"B-buset! Anak baru toh?! Oalah kirain lo Anggara. Pantesan kulitnya beda hehehe. Oke salam kenal juga bro! Nama gue Aji Rivaldi Valentino, lo panggil aja Aji!!"


Pemuda yang ternyata bernama Aji Rivaldi Valentino langsung menjabat tangan Rangga dan mengayunkannya atas bawah dengan sangat cepat dan bersemangat. Rangga yang mendapatkan perlakuan itu langsung kaget melihat barbar-nya Aji.


"Eh woi! Wooooii!" teriak Raka berlari menghampiri Aji dan Rangga.


"Itu anak baru jangan lo gituin Maemunah pake baju rombeng!! Dari kelas sepuluh masih aja barbar-nya nyantol di otak lo itu!"


"Ehehehe iye dah iye."


Aji kemudian melepaskan jabatan tangan dari Rangga dengan menyengir. Rangga pun hanya santai saja pada tingkahnya Aji padanya.


"Maapin gue ya bro Rangga hehehe. Oh iye gue baru inget, elu cowok anak baru yang di omongin Reyhan waktu di grup itu, yak?"


"Iya betul Ji."


"Wah Alhamdulillah akhirnya kami semua punya temen lagi! By the way bentar yak gue mau panggil ketua kelasnya dulu hehehe. Oh iya siap-siap tutup telinga ye gue mau teriak soalnya si Joshua orangnya budeg."


"Oh oke," jawab Rangga kikuk pada Aji.


Aji menarik napasnya lalu berteriak sekencang-kencangnya sampai menggelegar sepenjuru ruang kelas hingga lorong-lorong luar kelas.


"PAK KETULAS (Ketua kelas) WEI DIMANA LOOOO!! INI ADA ANAK BARU NAMANYA RANGGA VINDO GAVINDRA ANAKNYA MIRIP KEK ANGGARA VEINCENT KAIVANDRA WEEEEEYYY!!! PAK KETULAS PLEASE ANSWEEEEERRR!!!"


Auto semua langsung merapatkan telinganya masing-masing termasuk Rangga, Reyhan, Freya, dan Jova. Sedangkan Joshua sang ketua kelas yang mengenakan kacamata langsung menutup buku matematikanya dan menghampiri Aji penuh dengan tobat pada temannya yang telah teriak memanggil ketua kelas yang bernama Joshua Adriel Williyam.


"Aji Rivaldi Valentino! Ini bukan hutan Ya Allah gusti!! Bisa gak sih, manggilnya itu jangan pake teriak? Kasian kuping orang, punya telinga harusnya di sayang bukan malah di sakiti," tegur tegas Joshua.


"Dramatis banget lo? Ini loh gue mau ngenalin lo sama anak baru. Namanya Rangga Vindo Gavindra."


Joshua menoleh ke Rangga. "Eh hai Rangga, kamu anak baru yang di omongin Reyhan waktu di grup itu, ya?"


"Iya Jo, salam kenal ya."


"Salam kenal juga Ga, kenalin nama gue Joshua Adriel Williyam. Dan gue ngucapin selamat datang di kelas sebelas IPA dua Rangga, kelas yang penuh kehebohan barbar namun tetap solidaritas. Semoga lo betah ya bersekolah disini sama juga berkelas disini."


"Thanks ya, Jo. Begini-begini gue udah betah kok bertemu kalian semua."


"Wah baguslah kalo lo ternyata betah disini. Yaudah ya Ga, lo mending sekarang cari tempat bangku duduk aja deh yang sekiranya nyaman bagi lo, oke .. gue mau lanjutin belajarnya gue dulu-"


"Lah baru pertama awal masuk, masa ada ulangan sih, Jo?!"


"Kata siapa ada ulangan, Ji? Orang gue cuman mau belajar doang, kok. Sebagai gue ketua kelas disini, gue harus pinter sama rajin belajar dan lo tau sendiri kan, kalo diri gue ini bloon."


"Dikabulkan Allah baru tau rasa!" timpal Andra yang baru datang di kelas.


"Eh ada Rangga, apa kabar hehe," sapa ramah Andra.


"Sans, gue baik-baik aja kok, Ndra."


"Mantap, Man!" respon Andra.


Joshua yang belum kembali ke bangku duduknya, mengedarkan pandangannya sekeliling kelas. Pemuda ketua kelas itu merasa ada satu temannya yang belum hadir di sini. Ya, bangku sebelah Reyhan nampak masih kosong itulah bangku Anggara.


"Ndra, Ka, Ji si Anggara mana? Kok belum dateng-dateng." Joshua mengangkat jam tangan lengan kiri ia untuk menengok jamnya. "Dua menit lagi bel bunyi loh, tapi Anggara-nya kok belum hadir??"


Andra terdiam seribu kata pada pertanyaannya Joshua, Andra sudah tahu bahwa Anggara sedang sakit Koma di rumah sakit Kusuma kota Bogor.


"Gue gak tau Jo, coba lo tanya Freya, Freya kan tetangganya Anggara .. barangkali Freya tau napa Anggara belom dateng," ujar Aji menyuruh Joshua.


"Oke deh coba gue ta-"

__ADS_1


"Anggara Koma," celetuk Andra tiba-tiba.


"Hah?! Koma?! Ih yang bener napa seh!"


Dukh !


Aji yang mendengar ucapannya Andra langsung dengan kesal menginjak kaki Andra yang bersepatu hitam. Seketika usai di injak kuat oleh Aji, Andra langsung mengaduh-aduh seraya mengangkat kakinya.


"Gue gak boong, Ji! Anggara tuh memang Koma!"


Semuanya hening, sebelumnya yang tadinya ramai seperti pasar minggu kini berubah hening tercipta. Kesemua siswa-siswa siswi-siswi di kelas itu langsung menoleh gesit pada Andra, kesemuanya terkejut sekali mendengar ucapan Andra yang menurut mereka semua adalah bercandaan dari Andra, tidak termasuk dengan Rangga, Freya, Jova, dan Reyhan. Tampang wajah mereka sama sekali tak terkejut hanya biasa saja namun tetapi wajah gundah dari keempat remaja itu tetap tergambar.


KRIIIIIIIIIIINGGG !!!


Bertepatan itu langit yang mendung pekat berubah turunnya air hujan deras mengguyur kota Jakarta. Hari ini juga tak ada upacara bendera dikarenakan hujan deras telah melanda beserta kilatnya petir menyambar langit.


Tak sempat menghujani pertanyaan kepada Andra, Joshua berputar balik badan untuk menuju kembali ke bangkunya termasuk semuanya yang tengah berdiri. Rangga nampak sibuk mencari tempat bangku, alangkah itu Rangga langsung menoleh ke sumber suara yang memanggil dirinya. Itu adalah Reyhan.


"Berhubung karna Anggara belum ada disini, lo tempati aja kursinya Anggara buat sementara. Jangan di pojokan, gak enak."


"Eh tapi emangnya gakpapa? Ini kan bangkunya sahabat lo, Rey."


"Iya gue tau. Duduk aja disini gak ada yang ngelarang lo duduk di bangku Anggara."


Setelah mempertimbangkan duduk di pojok sendiri atau duduk di kursi bangku milik Anggara, Rangga pun akhirnya mengangguk dan mulai menempati bangkunya Anggara yang ada di sampingnya Reyhan. Tak berapa lama, datanglah seorang guru pria berbadan jangkung yang menenteng tas punggung serta menjinjing buku-buku materi untuk membimbing belajar pada kesemua muridnya. Pak Harry, seorang wali kelas XI IPA 2. Beliau yang merupakan guru bersifat tegas terkadang juga suka lucu membuat suasana kelas menjadi hangat humoris atas kehadiran sang beliau.


Pak Harry meletakkan buku-buku materinya di atas meja guru dan tas punggungnya ia letakkan di kursi persinggahannya. Pak Harry berdiri di tengah papan tulis lalu menyapa semua murid prestasinya.


"Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak."


"SELAMAT PAGI PAK!" serempak seluruh murid-muridnya Harry.


"Wah hari pertama awal masuk sekolah kembali disini, eh sekarang malah hujan deras. Baik kalau begitu Bapak akan mengabsen kalian semua terlebih dahulu."


Baru saja Pak Harry membuka buku data absen murid kelasnya, Pak Harry kembali melihat ke depan seakan akan ingin mengatakan sesuatu pada semua muridnya.


"Oh iya, disini ada murid baru, ya. Apakah anak barunya hadir hari ini?" tanya pak Harry menatap satu persatu muridnya.


"Hadir, Pak!"


Rangga segera mengangkat tangan kanannya ke atas agar pak Harry segera mengetahuinya.


"Wah baiklah Rangga. Oh iya kata Rangga, Rangga anak pindahan dari kota Bogor, ya?"


"Benar Pak, saya anak pindahan dari kota Bogor dan sekarang tempat tinggal saya di kota sini bertempat di komplek Kristal. Tetangganya Reyhan, Pak."


"Wah itu sangat bagus Rangga, kamu berarti sudah kenal dekat dengan Reyhan dan Jevran itu artinya?"


"Iya Pak. Tak hanya mereka berdua saja, akan tetapi saya sudah kenal dekat dengan satu kelas disini meskipun lewat dari grup WA (WhatsApp) yang di buat oleh Andra Jaka Saputra."


"Oh begitu ya, Bapak menjadi sangat senang Rangga telah berbaur pada mereka. Teman-temanmu disini sangat baik dan ramah, jadi kamu beruntung bisa berteman dekat dengan mereka apalagi dua tetanggamu yaitu Reyhan dan Jevran."


Seketika itu Reyhan dan Jevran menoleh ke Rangga dengan mengangguk tersenyum padanya, tak hanya Reyhan Jevran saja, semua teman kelasnya pun juga begitu. Rangga memberikan senyuman lebar pada kesemua temannya dan juga Pak Harry yang berwajah jelas ramah.


"Baik Pak, terimakasih."


"Sama-sama Rangga, dan semoga dengan kamu disini, kamu bisa betah bersekolah di SMA Galaxy Admara."


"Baik Pak." Rangga menjawabnya ditambah menunduk hormat pada guru wali kelasnya.


"Oke semua Bapak akan mengabsen kalian semua, jangan ada yang berisik karena ini kelas bukan pasar malam."


"Ala atuh Pak, teringat masa kecil saya dulu loh Pak. Jaman dulu pas ada pasar malem saya main lempar-lempar kaleng abis itu dapet hadiah boneka. Ih nostalgia banget deh."


Semuanya yang mendengar serius pada celoteh panjang lebar Rena yang bercerita pada masa kecilnya dulu, langsung tertawa terkecuali Reyhan.


"Oh begitu? Yaudah besok kalau ada pasar malam di kota sini, Bapak akan ajak kamu sambil ngemil-ngemil di jalan, biar kamu puas dan merasakan kembali masa kecil kamu, ya Rena."


"Aduh Pak, bercanda saya loh Pak."


Pak Harry terkekeh seraya menggeleng kepalanya pada tingkah bicara Rena yang pagi-pagi hujan begini sudah mengisi suasana humoris senda gurau dan gelak tawa. Pak Harry kini fokus meneliti data absen kesemua muridnya yang berurut absennya. Pada kemudian akhirnya, pak Harry mulai mengabsen satu persatu pada murid-muridnya hingga menuju lah absennya Anggara yang ada di pertengahan.


"Anggara Veincent Kaivandra?" tanya pak Harry melihat bangkunya Angga yang telah di duduki Rangga.


"Anggara Veincent Kaivandra??" Pak Harry bertanya lagi tetapi yang di panggil tak ada sahutan sama sekali.


"Loh, Anggara tidak hadir?"


"TIDAK PAK!" kompak semua muridnya.


"Loh kenapa? Padahal ini adalah hari pertama masuk kembali disekolah, kok Anggara tidak masuk? Anggara juga tidak pernah absen sekolah pada sebelumnya."


"Oke baiklah, ada yang tahu kenapa Anggara hari ini tidak hadir?"


Freya beranjak dari tempat duduknya dan berdiri. "Ehm Pak, Anggara-"


Tiba-tiba terdengarlah suara ringtone dari handphonenya Pak Harry yang beliau taruh di atas meja guru.


"Mohon tunggu sebentar ya Freya, Bapak harus angkat telepon dulu."


"Baik Pak kalau begitu," tanggap Freya lembut sopan dan kembali duduk di kursinya.


Pak Harry membuka pintu kelas yang tadi ia tutup dan dengan segera setelah berada di luar kelas, mengangkat telepon HP-nya dari seseorang. Di dalam, semua muridnya sibuk dengan mengeluarkan alat tulis serta buku mata pelajarannya sesuai jadwal yang ditentukan. Menunggu 15 menit Pak Harry kembali, akhirnya Pak Harry mendorong sedikit pintu kelas yang sedikit tertutup sembari mematikan layar ponselnya dilanjutkan menutup kembali pintu kelas usai berada di dalam kelas.


Cklek !


Pak Harry duduk di persinggahannya dengan wajah amat prihatinnya. Beliau menatap semua muridnya yang menjadi pusat perhatian bingung kepada muridnya ada apa dengan pak Harry sampai berwajah amat resah seperti itu.


"Anak-anak mohon tolong dengarkan Bapak sebentar. Rupanya ternyata Anggara berada di rumah sakit Kusuma daerah kota Bogor, kondisinya Anggara di rumah sakit sangatlah memprihatinkan. Anggara terbaring Koma di ruang rawat ICU sejak satu bulan yang telah berlalu."


Aji menyerong badannya menghadap Andra yang ada di samping belakang bangkunya Jevran.


"Kirain lo bercanda tadi! Ternyata beneran Koma dong si Anggara!"


"Kan tadi gue udah bilang sama lo, eh lo malah gak percaya sama gue. Gimana? Udah percaya, kan?"


"Pak, boleh saya bertanya?"


"Iya Ryan, silahkan."


"Anggara kenapa bisa Koma ya, Pak?"


"Terjadi insiden fatal yaitu benturan keras di kepalanya yang membuat ada sebuah cidera di kepalanya sehingga ada terjadi pembekuan di otak. Hal itu yang membuat Anggara Koma sampai saat ini, itu yang dikatakan oleh Ibunya dari Anggara waktu di dalam telepon tadi."


Teman-teman keempat remaja itu yang belum tahu mengenai Anggara, begitu terkejut dan merasa sangat prihatin pada keadaan Anggara di luar kota.


"Kita yang disini hanya bisa mendoakan pada kesembuhan Anggara agar Anggara masih diberikan keselamatan pada sang maha kuasa. Semoga Anggara bisa secepatnya bangun dari Komanya dan kesehatannya bisa kembali pulih seperti sediakala."


"AAMIIN!"


Setelah menyebutkan kata 'Aamiin' untuk kesembuhannya Anggara, pak Harry menaruh handphonenya di atas meja miliknya lalu kembali mengabsen muridnya sampai paling akhir. Berikutnya setelah semuanya selesai, pak Harry mulai memberi materi bab baru di pelajaran matematikanya.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Setelah terbebas dari dua mata pelajaran yang cukup menguras otak, pada akhirnya bel istirahat yang di nanti-nanti berbunyi sangat nyaring.


KRIIIIIIIIIIINGGG !!!


Guru tersebut yang bukan lagi jamnya pak Harry, pamit pada kesemua muridnya lalu pergi keluar dari kelas. Sementara itu anak-anak kelas XI IPA 2 ada sebagian pergi dari kelas untuk mengisi perutnya yang telah keroncongan di sebuah kantin sekolah yang terkenal luas dan bersih begitupun pula pedagang-pedagang kantin yang begitu ramah lingkungan.


Jova meregangkan ototnya dan jari jemarinya yang pegal karena setiap 2 pembelajaran itu nang menguras otak, selalu saja mencatat materi-materi di papan tulis apalagi kalau sampai mencatat dari suara guru secara lisan.


"WOI FREYA, REYHAN AYO KE KANTIN BARENG-BARENG!!!"


Freya langsung menghadap Jova dengan menutup kedua telinganya menggunakan tangan.


"Ehehehe maklum Frey, sifatnya aku susah di ubah secara instan. Yaudah yuk gas kita bertiga ke kantin .. Nyuk, ayok ikut kami ke kantin."


"Gak, kalian aja yang ke kantin ... aku dikelas aja," jawab lemas Reyhan.


"Gak bisa gitu dong, noh liat tuh mukamu pucet. Makan kamu kurang kan, pasti?"


Reyhan hanya bisa menghela napas panjangnya dengan tangan sibuk berkutat membuka buka lembaran buku paket Kimia-nya. Dagunya juga ia topang oleh tangannya sendiri sementara siku tangan pemuda wajah murung itu ia sangga di atas meja.


"Ayo dong ah!"


Jova menarik tangan Reyhan yang tangan sahabatnya tersebut masih diam menopang dagunya. Reyhan yang setengah melamun tersontak kaget perlakuan Jova yang tiba-tiba. Mau tak mau, Reyhan pasrah pada ajakan Jova ke kantin begitu pula dengan Freya.


Ketiga remaja tersebut pergi keluar kelas menuju ke kantin bersama secara berjalan sejajar. Reyhan, Jova, dan Freya berjalan menelusuri lorong-lorong kelas juga jalan berbelok setiap lorong hingga pada akhirnya usai menuruni tangga-tangga, mereka pun tiba di lokasi kantin yang sekarang kini begitu sangat amat ramai oleh pengunjung kantin.


Jova nampak memicingkan matanya dengan mengedarkan pandangan untuk mencari tempat meja duduk yang kosong.


"Rame banget sih ini kantin, gimana mau makannya kalo begini, ish!"


"Jova, kalo mau sepi mending kamu kesini-nya pas jam pelajaran aja," tukas Freya.


"Iya abis itu baliknya ke BK, bukan ke kelas lagi!"


"Nah tuh tau. Yaudah mending kita nunggu dulu aja sampe ada anak-anak yang ninggalin tempat duduk."


"Hmmm- eh?!"


Jova mendapati seseorang siswa beranjak dari tempat duduk akan meninggalkan tempat meja makan kantin di daerah lumayan pojokan, Jova kembali menarik kencang tangan Reyhan membuat Reyhan yang ditarik terkaget. Jova berlari seraya menarik tangan lelaki sahabatnya agar cepat-cepat tidak di singgahi oleh siswa-siswa lain. Freya yang di belakang hanya bisa mengikuti kedua sahabatnya yang ada di depan persis.


Ketiga sahabat tersebut kemudian duduk menyinggahi tempat makan tersebut. Reyhan terlihat sedang meregangkan otot tangannya yang usai di lepaskan oleh Jova.


"Reyhan, kamu kenapa?" tanya Freya.


"Tanganku pegel," singkat yang di tanya.


"Ehehehe iye maap, Rey. Abisnya kalo gak aku tarik kamu kesini, yang ada kamu auto kabur kek maling."


"Maksudmu?" Nada Reyhan nampak dingin beserta wajah yang sedikit kesal.


Jova meringis dengan sunggingan senyum kecut. "Ahaha lupain aja deh omongan aku tadi. A-aku cuman ngasal kok."


"Hmm," dehem Reyhan.


Reyhan menundukkan kepalanya dengan mata yang ia pejamkan, sepertinya satu sahabat lelaki antara Freya dan Jova memerlukan ketenangan sejenak waktu. Namun tiba-tiba...


DUAKH !!


Seorang menendang keras kaki kursi yang Reyhan duduki, gangguan itu membuat Reyhan mendengus dan membuka matanya lalu menoleh ke orang yang telah menganggu waktu ketenangan dirinya. Saat Reyhan telah menemukan kelakuan yang menganggu dirinya, gigi Reyhan menggertak kuat beserta rahangnya mengeras.


Alexander Rosefel seorang mahasiswa pemegang SMA Galaxy Admara sementara waktu dari Ansel Hadley sang Papanya Alex. Alex merupakan ketua OSIS yang berbakat dan sangat cerdas bertingkat mencapai cerdasnya Anggara. Alex juga merupakan musuh bebuyutan Reyhan dari kelas X sampai sekarang.


Melihat kehadiran Alex, membuat Reyhan merasa muak melihat wajah dari pemuda berlagak sombong dan bengis itu.


"Kenapa? Lo lagi sedih karna sahabat lo satunya Koma? Yaaa gue sih malah bahagia banget ya denger Anggara sahabat lo pada yang sok bener terpopuler disini posisinya sedang di ambang maut. Selamat ya, gue doain semoga Anggara cepet mati!"


BRAKK !


Jova yang tak terima pada ucapan yang tak pantas di lontarkan Alex mengenai keadaan Anggara, langsung menggebrak meja dan berdiri dari kursinya terkecuali Freya yang diam menunjukan ekspresi terkejut di wajahnya.


"Maksud lo apa ngomong kayak begitu soal Anggara??!! Lambe lo tolong di jaga ya!! Dateng-dateng malah buat kerusuhan maksiat!!!"


"Loh orang kalo Koma, pasti cepetnya mati bukan hidup lagi. Gue ngomong gak ngasal tapi gue ngomong ya, apa adanya gak gue bikin-bikin."


GREP !!


Reyhan langsung menarik kuat kerah seragam Alex dengan mata mencuat sempurna, napasnya naik turun menandakan Reyhan sangat begitu marah besar tak terima Anggara di doakan tak sepantas itu.


"ANJING BRENGSEK!! KALO LO MEMANG BENCINYA SAMA GUE, GAK USAH LO SAMPE MELAMPIASKANNYA KE ANGGARA JUGA, BOCAH GOBLOK!! OTAK LO ADA DIMANA, HAH!!?? MANUSIA GAK PUNYA ETIKA!!!"


Amukan amarah Reyhan yang memuncak, menjadi sebuah pusat perhatian pada para penjual kantin dan beberapa siswa yang ada di kantin. Segerombolan para siswa dan siswi mengepung Reyhan dan sementara Alex yang posisi keadaannya kerah miliknya tengah di cengkram erat oleh musuh yang ia sangat benci.


"EH CUKUP REY! CUKUP!!"


Jevran datang menghampiri Reyhan dengan menerobos kepungan para siswa-siswa dan serta siswi-siswi lalu dengan gesit, Jevran menarik badan Reyhan dari belakang membuat Reyhan yang mencengkram kerah seragam Alex terlepas karena Jevran.


"Udah Rey, lo jangan kayak begini! Inget lo masih ada di sekolah, kalo lo ketauan sama guru atau dilaporin sama siswa-siswa disini, abis sudah lo digiring ke ruang BK. Bisa panjang ini masalah!"


Reyhan menatap tajam melotot Alex serta air mata mulai mengalir ke pipinya, hatinya sangat amat berantakan kacau dicampur amarah yang menggebu-gebu menjadi satu. Alex nampak santai sembari membenarkan kerah seragamnya dan dasinya agar terlihat rapi kembali. Reyhan terdengar mengernyit jengkel dengan kedua tangan meremat tangannya hingga menimbulkan urat nadi tangan Reyhan sedikit jelas terlihat.


Reyhan menepis kencang dua tangan Jevran yang mencekal badan Reyhan, lalu Reyhan berbalik badan berlari menerobos kilat pada kerumunan siswa-siswa. Reyhan berlari sangat kencang meninggalkan kantin begitu juga kepada kedua sahabatnya.


"Reyhan Tunggu!"


Freya yang akan berlari mengejar Reyhan, sudah di cekal tangannya oleh Jova. "Hei, kamu mau kemana?!"


"Aku mau ngejar Reyhan, Va!" Freya melepaskan cekalan dari Jova lalu berlari mengejar Reyhan yang sudah semakin menjauh dari kantin.


Disisi lain, Reyhan berlari amat kencang hingga menjadi bahan gosipan para anak-anak SMA tersebut yang berada di koridor sekolah. Dalam larinya yang begitu marathon, dalam relung hati Reyhan berkata.


'Ini semua pokoknya salah gue! Ini salah gue! Maafin gue Anggara maafin gueeee !! '


Sementara Freya berusaha memaksimalkan larinya untuk mengejar Reyhan yang langkah kaki larinya begitu besar daripada Freya yang langkah larinya kecil.


"Reyhaaaann hei, tungguin akuuu!!"


Grep !


"E-eh?!"


Ada seorang gadis menarik paksa lengan Freya yang berlari, seketika spontan Freya terhenti larinya. Sekarang ia menoleh siapa yang menarik lengannya dengan kasar. Betapa terkejutnya Freya bertemu kembali dengan seorang gadis yang sudah lama tidak ia lihat. Ia adalah Youra Adrienne Arabella seorang gadis anak kelas XI IPS 2. Youra adalah sang kekasihnya Alex semenjak tiga bulan yang lalu.


"Youra?!"


"Akhirnya sekian lama gue gak ketemu lo, sekarang gue bertemu lo lagi. Ayo ikut gue!"


"Aw! Lepasin tangan aku, Your! Kamu mau bawa aku kemana?!"


"Biasa, tempat pembullyan cewek lugu kayak lo!!"


"J-jangan! Tolong jangan apa-apain aku, Your! Aku gak ada salah sama kamu! Please biarin aku pergi. Keburu jauh si Reyhan!"


"Apakah gue peduli? Oh tentu aja enggak! Cewek polos yang kayak lo enaknya di kasih beban hidup biar buat hiburan semata untuk gue sama besti-besti gue hahahaha!"


Sayangnya saat ini, lorong kelas sangat sepi. Hanya ada Youra dan Freya disana selain mereka berdua, tidak ada. Freya sangat takut pada ucapannya Youra yang selalu saja mengganggunya. Freya berusaha meronta dari pegangan kuat dari Youra yang terasa seperti di cengkram.


"Kasian, gak ada yang nolong lo. Pokoknya lo harus ikut gue!!"


"Enggak! Aku gak mau!!" bentak Freya.


"Oh, udah berani ya bentak ratu tenar di sekolah elit ini!!"


PLAK !!


Youra menampar pipi kanan Freya dengan sangat keras sehingga pipinya Freya memerah akibat tamparan keras dari Youra. Freya mengusap pipinya yang panas karena tamparan itu dengan kaki yang bergemetar serta hisakan tangis keluar dari suaranya Freya.


'Hiks Anggara, Jova, Reyhan tolongin aku hiks hiks.'


"Makanya lo jangan sok berani ngelawan gue yang cewek cantik tenar gini hahaha!"


"Heh! Lepasin Freya!"


Suara yang familiar tentunya Freya mengenalinya, segera menoleh ke sumber suara. Freya bersyukur ada Rangga yang menghampirinya.

__ADS_1


"Sialan! Lepasin tangan temen gue!"


Rangga menepis tangan Youra yang mencengkram erat lengan tangan Freya. Lengan Freya sekarang juga ikut memerah imbas pegangan kasar Youra.


"Lo siapa nyakiti temen gue? Apa lo berhak menampar dia yang gak bersalah? Lo mau gue laporin lo ke kepsek di sekolah ini?!"


Freya langsung bersembunyi di belakang punggung Rangga dengan wajah ketakutan. Rangga menatap tajam pada Youra sementara Youra juga begitu.


"Elo lagi! Elo lagi! Suka banget gangguin kesenangan gue, huh! Inget ya Frey, urusan lo sama gue belum selesai!"


Youra melengos pergi meninggalkan Rangga dan Freya dengan perasaan hati jengkel pada Rangga. Rangga berbalik badan menghadap Freya yang berwajah ketakutan dengan tangan bergemetar setelah kedua kakinya.


"Frey, kamu udah nggak apa-apa, kan? Masih sakit pipinya?"


"A-aku udah gakpapa kok, Ga. Rangga, kamu jangan bilang-bilang Reyhan sama Jova ya kalo aku di tampar Youra."


"Loh, emangnya kenapa? Mereka harus tau, apalagi itu adalah sahabat-sahabatmu."


"Please Ga, tolong jangan bilangin ke Reyhan apalagi Jova," pinta Freya dengan tangan yang memohon pada Rangga.


"Tapi, cewek itu udah kebangetan sama kamu loh! Masa dibiarin aja, sih?!"


"Aduh, kalo kamu sampe bilang ke Jova, Reyhan apalagi kamu ngelaporin Youra .. yang ada jadi masalah besar. Dan satu, Youra itu pacarnya Alex. Alex itu pemegang SMA ini sementara, karna Papanya merantau di Negara Inggris alasannya karena perusahaan kantor ternama."


Rangga begitu terkesiap. "B-berarti sekolah gede ini punyanya papanya Alex?! Alex yang tadi di kantin itu?!"


"Iya! Makanya itu, kamu jangan laporin Youra ke lain-lainnya. Lagian aku udah gakpapa kok, hehehe."


Rangga tersenyum getir dengan menggaruk tengkuknya. "Yaudah deh kalo kamu maunya begitu, aku iya-in."


Freya mengangguk cepat. "Oke deh, kalo begitu aku mau nyusul Reyhan dulu ya Ga."


"Nyusul Reyhan? Emangnya kamu tau Reyhan sekarang dimana?"


"Masalahnya itu aku gak tau."


"Eeeemm- oh aku tau! Apa kamu tau tempat favoritnya Reyhan di sekolah sini??"


Freya sedikit berpikir pada pertanyaan dari Rangga.


"Anggara itu kan tempat favoritnya di ruang musik, terus kalo si Reyhan tempat favoritnya di ... perpus."


"Nah mantep! Yaudah kita pergi aja ke perpus, siapa tau Reyhan disana."


Freya mengangguk lagi dan mulai kembali melangkah untuk menuju ruang perpustakaan yang lumayan jauh dari tempat ia langkahi sekarang begitu pula Rangga yang membuntuti Freya dari belakang. Freya memilih berjalan saja dikarenakan tenaga larinya sudah sangat terkuras apalagi napasnya lagi setengah terputus-putus akibat berlari sangat kencang hanya karena mengejar sahabatnya.


Tak berapa lama tempuh kilometer, satu gadis dan satu pemuda tersebut telah tiba di sebuah ruang perpustakaan yang sangat sepi sunyi. Disana terdapat seorang guru penjaga perpustakaan yang tengah sibuk bermain game di ponselnya.


"Permisi Pak Arya, mau tanya Reyhan kelas sebelas IPA dua ada disini tidak?" tanya sopan Freya seraya menghampiri meja pak Arya.


Pak Arya yang bola matanya fokus pada ponselnya, menolehkan bola matanya ke suara lembut dari salah satu siswi di depannya.


"Eh ada Nona Freya datang pada Pak Arya. Reyhan Lintang Ellvano, ya yang kamu cari?"


"Iya Pak, betul. Em ada tidak?"


"Oh kalau itu ada dong. Tuh si Reyhan lagi duduk di kursi meja khusus baca buku, paling pojok sendiri pokoknya. Coba kamu cari."


"Oh baik Pak, terimakasih ya."


"Iya sama-sama, cantik."


Freya dan Rangga bergegas menghampiri Reyhan yang kata pak Arya ada di paling pojok. Benar pada ucapan dari guru penjaga pengurus ruang perpustakaan itu, Reyhan duduk di kursi sementara kedua tangan ia tumpuk dan kepalanya ia letakkan di atas tumpukan dua tangannya yang menjadikannya sebagai bantal untuk kepalanya.


Freya berjalan perlahan lalu setelah berada di belakang punggung Reyhan, Freya tepuk-tepuk perlahan punggung sang empu.


"Reyhan ..." lirih Freya lembut memanggilnya.


"Rey? Reyhan ..." panggilnya lagi.


Tak ada sahutan dari Reyhan sama sekali, membuat Rangga bergerak mencondongkan badannya ke dekat mukanya Reyhan yang menghadap samping dari Freya dan Rangga.


Rupanya yang dipanggil tengah tidur dengan wajah sangat tenang bersama pejaman mata lelap.


"Lah, Reyhan-nya tidur malahan."


"Hmm yaudah deh biarin aja, lagian bel masuk masih lama kok," ucap Freya.


Rangga mengangguk dengan tersenyum kemudian ia menarik kursi sisinya Reyhan. Suara kursi yang di tarik oleh tetangganya, tak membuat tidurnya terusik sama sekali. Namun, kedatangan seorang gadis cantik dengan wajah cerianya memekik keras memanggil mereka sebutan dengan 'guys'.


Suara teriakan itu adalah dari Jova yang baru saja datang di ruang perpustakaan. Rangga yang duduk serta Freya yang berdiri di belakang Reyhan langsung kompak menempelkan jari telunjuknya di hidung sekaligus bibirnya.


"Sssstt! Jova, ini perpustakaan .. dilarang berisik tau." Nada Freya sedikit menekan dengan wajah kesal.


"Ups! Kelepasan deh! Oke-oke maap." Di kalimat terakhir Jova ia memelankan volume suaranya.


Jova memiringkan kepalanya menatap Reyhan yang menurut ia sahabatnya itu sedang tengah diam tidur. Jova berjalan ke depan wajah Reyhan.


"Enaknya bobok disini," ledek Jova cengengesan.


"Reyhan lagi capek deh kayaknya, Va. Kamu teriak aja, Reyhan gak bangun kok."


"Hehehe bener juga ya Frey, hm tapi kok wajahnya rada pucet sih ini anak satu?"


"Badannya juga agak hangat, si Reyhan lagi sakit napa berangkat dah," sambung oleh Rangga.


"Oh aku tau kenapa Reyhan kayak gini, tadi kan dia marah-marah sama Alex. Mungkin karna itu dia jadi sakit sekarang," timpal Freya.


Yang diomongkan, pun langsung berganti posisi kepalanya berubah menghadap Rangga yang duduk di sampingnya. Merasa ada seseorang yang ada di dekatnya, Reyhan membuka matanya perlahan. Ia begitu terkejut melihat Rangga, Freya, dan Jova di ruang perpustakaan tempat ketenangan dirinya jika sedang badmood.


Reyhan duduk tegak dan langsung mengucapkan kata, "Kalian?! Kenapa kalian bertiga disini???"


"Napa? Gak boleh, hah??"


"Heh Jova, masa jawabnya gitu sih. Ehm, Rey kita disini nemenin kamu. Tadinya aku nyari kamu, tau-taunya kamu ada di ruang perpus."


"Oh gitu," singkat padat jelas Reyhan.


"Nanggepnya gitu amat sih, Nyuk?"


"Kenapa? Masalah buat lo?" tanya Reyhan dingin.


"Dih, tumben nyebut aku 'lo' kalo lagi problem langsung berubah ye sikap kamu itu."


"Udah-udah Va, Reyhan kamu sakit ya?" Kini giliran Freya yang bertanya.


"Gak, aku sehat aja."


"Sehat kok mukanya pucet gitu!" jengkel Jova.


"Elo sarapannya dikit banget ya, pasti. Ayo ke kantin, lo harus makan biar gak tambah sakit." Rangga mengajak Reyhan.


"Gue gak laper."


Tiba-tiba Reyhan memegang pangkal hidungnya dengan sedikit mendesis.


"Kepala kamu pusing, Rey??" tanya risau Freya.


Reyhan mengangguk pelan. "Sedikit."


Rangga merangkul Reyhan. "Ayo istirahat di UKS."


"Gak perlu, gue masih kuat."


Tanggapan yang di beri Reyhan, Rangga hanya menghela napasnya pelan. Rangga sangat tahu mengapa Reyhan selalu bermuka murung pada bulan lalu sampai sekarang ini. Tentang Sahabat terbaiknya yang Koma membuat diri Reyhan terpuruk dan bersalah.


"Kamu tuh pusing karna mikirin kondisinya Anggara mulu, udah jangan kamu pikirin terus lah. Kamu tuh harus yakin, suatu saat Anggara bakal bangun dan sembuh."


Reyhan menarik napas panjangnya lalu kemudian membuangnya dengan lemah, pandangannya ia alihkan ke depan bersama tatapan wajah lara yang terlihat.


"Aku begini karna aku udah salah banget sama Anggara, Va. Kejadian semua itu salah aku. Andai aja aku percaya kalo waktu itu bukan Anggara yang nyakitin Freya, peristiwa fatal itu gak mungkin terjadi bahkan Anggara juga enggak bakal masuk rumah sakit berakhir Koma karna psikopat biadab bengis itu!!"


Reyhan berkata sangat lirih, "Aku bener-bener nyesel."


Reyhan meraup wajahnya dengan kedua tangannya, hisakan tangis keluar lagi dari suaranya. Reyhan sangat begitu bersalah walaupun yang membuat Anggara Koma adalah satu psikopat kejam yang membantai Anggara begitu sadis.


"Hei lo jangan kayak gini lagi, Rey. Apapun itu yang sudah buat Anggara sampe Koma, ya orang bejat itu. Jadi ini semua bukan salah terbesar elo."


"Terlebihnya itu tetep salah gue Ga!!"


Reyhan melepaskan raupan wajahnya dari kedua tangan yang menutupi muka Reyhan lalu dengan nada tinggi, menghardik Rangga penuh geraman penekanan kata.


Rangga menjadi terdiam pada penuturan Reyhan yang begitu terdengar nada sangat damprat. Jova menelan ludahnya sendiri mendengar suara Reyhan yang menyeramkan, sedangkan Freya nang ingin mengomando Reyhan untuk tidak bernada tinggi dikarenakan ia masih berada di dalam ruangan perpustakaan, bingung dan ragu. Reyhan nampak emosi pada pembahasan kaitannya dengan para manusia-manusia tak ada nurani hati tersebut serta satu manusia yang memiliki hati pedar akut didalamnya.


Tak ada yang bisa melunakkan hati Reyhan yang kacau dengan hanya sebentar saja seperti sekarang ini. Tentunya dan pastinya yang mampu meluluhkan hati emosi Reyhan hanya cuma satu sahabatnya yaitu Anggara seorang.


Freya menepuk tepuk punggung Reyhan dengan hati yang hancur ditambah pilu dikarenakan Reyhan yang begitu tak karuan. Air mata Freya balik mengalir membanjiri pipi, satu tangan Reyhan menutupi setengah wajahnya pada pipi yang masih terus berlumuran air bening dari kedua mata. Jova yang tidak tega melihat kedua sahabatnya kembali menangis seperti di bulan yang lalu, segera merangkulnya sementara air mata linangan Jova ikut keluar mengalir perlahan mendatangi kedua pipi kulit putihnya untuk melumurinya hingga sampai ke ujung dagu.


...››-----𝕴𝖓𝖉𝖎𝖌𝖔-----››...


Kembali ke dua roh dan satu arwah yang posisinya berbaring di tepi danau seraya memandang langit sedikit cerah karena pasalnya langit tersebut masih tetap tertutup oleh banyaknya dedaunan pohon besar.


"Huft, gue kira-kira disini udah berapa lama yak?" tanya Stevan.


"Empat bulan," singkat Senja menanggap.


"Bah? Tau darimana kalo aku disini udah empat bulan??"


"Setiap hari aku tuh sering nengok kalender di alam jiwa, tau."


"Oh pantesan, bolak balik terus kesana .. ternyata ngeliat tanggalan. Kayak gak ada kerjaan aja," timpal Anggara.


"Ya biarin lah! Kan disini gak ada yang namanya kalender, yaudah aku ngeliatnya di alam jiwa. Bagiku lebih komplit barang alam jiwa daripada dunia alam roh dan arwah."


"Yayaya," jengah Anggara.


"Terus, emangnya kamu ngeliat kalendernya dimana kalo di alam jiwa?" tanya Anggara menyambung untaian perkataan.


"Rumahmu, hehehe."


"Gilak parah! Sampe kesitu, kamu?!"


"Iya. Gakpapa dong, kan sama temennya sendiri."


"Wah gak bener nih, ngapain aja kamu di rumahku?! Pasti ngerusak barang-barang di rumahku kan, apalagi kamar aku!"


"Ih, kamu mah main nuduh-nuduh aku. Hmph!" Senja cemberut.


"Aku gak mungkin tega ngerusak barang-barang yang ada dirumah kamu, paling juga aku cuman nyelonong tanpa permisi buat liat-liat dalem rumahmu yang bersih itu apalagi kamarmu yang rapi banget. Heran aja sih aku, kamu itu kan cowok tapi kok bisa ya .. kamu tuh rajin banget orangnya."


"Kenapa? Ngerasa aneh sama jati diriku?"


"Yaaaa nggak juga sih, hehehe. Oh iya pas aku ngeliat kamarmu ternyata kamu punya gitar yak, wah keren! Terus juga nih, aku liat di meja belajarmu ada banyak kertas gambar sketsa abstrak super duper kece!!" Senja berceloteh panjang dengan kehebohannya.


"Itu yang gambar semua, kamu kah?!"


"Iya, aku yang gambar."


"Wah! Ih hebat banget! Aku loh dari dulu pengen banget gambar abstrak, tapi tanganku kaku bener. Oh iya Ngga, aku kan iseng-iseng buka buku-buku kamu di atas meja belajar, nah aku tuh tiba-tiba nemu buku tulis sampul item, di dalemnya ternyata banyak banget lirik-lirik lagu Barat sama Indo, udah gitu juga semua lirik lagunya POP! Ih favorit aku banget!!"


"Eh ada akord gitar gak disitu?! Biasanya kalo orang nyimpen lirik-lirik lagu, pasti punya akord-akord gitulah, ya."


"Ada Stev, parah sih. Akord gitar!"


"Gilak! Eh Ngga?!"


"Napa?"


"Eh lo kan punya semua lirik-lirik lagu Barat sama Indo yang lo seneng, nah lo punya lirik lagunya Shane Filan - Need you now sekaligus akord gitarnya?"


"Beruntungnya itu lagu favorit gue, iya gue punya liriknya sama akord gitarnya."


"Ih keren abis!!"


'Ini temen-temen gue napa pada heboh bener sama gue, dah.'


"Biasa aja napa, gak usah lebay gitu kali, Stev."


"Tapi kok, lirik-lirik lagu semuanya milik kamu, tulisannya kek tulisan tangan?"


"Emang itu tulisan tangan."


"Siapa yang nulis??" tanya Senja penasaran.


"Aku, gak mungkin orang lain yang nulis. Buku-buku aku, tulisannya di dalem buku samak hitam itu juga tulisan tangan aku."


"WHAT?! Ih tulisan yang rapi banget itu tulisannya kamu?! Ih demi apaan! Tulisan kamu rapi banget!!"


"Biasa aja, aku nulis ya biasa aja gak aku buat-buat biar bagus."


"Wuah!! Roh ini keren banget loh! Udah ganteng sampe semuanya ikut ganteng!"


"Kata-katamu gak masuk akal," ucap Anggara mumet.


"Ehehehehe kamu harus tau banget sifat konyol aku ini, Ngga-"


Senja tiba-tiba terpotong oleh pengungkapan dirinya sendiri, gadis itu nampak melupakan sesuatu untuk di sampaikan pada kedua teman lelakinya. Pada akhirnya setelah setengah berputar otak, Senja bangkit berubah posisi duduk sembari menatap gelisah pada Anggara dan Stevan.


"Kamu kenapa, Ja?" tanya Stevan ikut merubah posisinya menjadi duduk begitupun Anggara.


"Guys! Ya Ampun aku sampe lupa, kan!!"


"Apaan? Kenapa panik gitu?" tanya Anggara tambah bingung.


"Aduh bentar-bentar gimana aku kudu mengawalinya dulu?! Ah bingung aku!!" rengek Senja.


"Kenapa sih?!" tutur ucap Anggara dan Stevan secara bersamaan.


"Itu, aku mau sampaikan sesuatu sama kalian tentang soal satu makhluk!"


"Makhluk apaan lagi, dah?! Sampe kamu panik gitu?!"


"Duh itu loh Stev, kalian pokoknya harus waspada selalu!" Senja menghela napasnya untuk menetralkan paniknya. "Gini, aku mau ceritain kalian soal satu makhluk yang namanya Erland Lucifer."


"Siapa dia? Asing banget namanya." Anggara bertanya.


"Anjir! Namanya kok kek Iblis yak! Dia siapa dah?!" tukas Stevan.


"Erland itu intinya makhluk paling membahayakan daripada ikan monster di dalam danau ini!"


"Erland Lucifer adalah makhluk pencabut nyawa roh!"


"Hah?! M-maksudnya?!"


Anggara dan Stevan sangat terkejut sekaligus pun bingung pada ucapan Senja tentang makhluk yang bernama Erland Lucifer.


Siapa ia sebenarnya? Mengapa bisa makhluk tersebut merupakan pencabut nyawa roh?

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2