Indigo

Indigo
Chapter 62 | Embarrassing


__ADS_3

Dalam masih berbaring di kasur Spring Bed miliknya, Angga nampak sibuk menyimak seluruh pesan-pesan chat di grup yang dibuat oleh Andra Jaka Saputra. Hanya tiga kali saja Angga mengirim chat untuk mereka baca dibanding teman-temannya dan dua sahabatnya yang berkali-kali mengirim pesan di ruang grup tersebut. Sampai tiba-tiba ada yang membuat Angga terhenti untuk scroll ke bawah membaca semua perkataan dalam tulisan chat grup. 'guys, mumpung ini hari Sabtu gimana kalau kita jenguk Reyhan bersama? Gue nanti bawa buah tangan nih buat si Reyhan.'


Itulah yang di ucapkan Aji melalui grup. Angga memutar bola matanya sedikit berpikir apakah Reyhan mengiyakan bahwa teman-temannya menjenguk dirinya di RS dalam kondisinya yang masih memprihatinkan.


Pada kemudian Angga memutuskan keluar dari grup sebentar dan akan menelpon Reyhan, mungkin sahabatnya tersebut untuk membuka grup masih ogah-ogahan. Menurut Angga, Reyhan sudah mulai berubah kembali pada sifat yang sebetulnya berkat motivasi yang Angga berikan untuk diri Reyhan yang nyaris bunuh diri.


Butuh beberapa menit harus Angga menunggu Reyhan mengangkat teleponnya di ponsel hingga akhirnya sambungan telepon terhubung, Angga segera menempelkan layar HP-nya di telinga kirinya.


...----------------...


...REYHAN...


Ya, Ngga? Kenapa pagi-pagi udah nelpon?


^^^Gue ganggu tidur lo?^^^


Gak juga, dari tadi gue udah bangun. Kenapa Ngga, jangan bilang lo kangen sama gue?


^^^Udah mulai lagi ni anak, gak gitu!^^^


Hehehe iya-iya maap. Terus kenapa?


^^^Ehm, gue tau lo pasti gak buka grup yang Adminnya Andra. Jadi, tadi di grup mereka semua yang ada di chat grup itu... Mau ngejenguk lo di rumah sakit. Gimana? Nggak masalah, kan?^^^


....


^^^Rey? Gimana?^^^


Engh... Aduh, kenapa mendadak gini sih? Gue belum siap ketemu mereka semua dan apalagi kondisi gue yang kayak gini, Ngga. Gue takut ujung-ujungnya malah gak karuan...


^^^Kenapa? Apa lo malu sama mereka? Termasuk Freya dan Jova??^^^


Kalau sama Si Freya Jova gue biasa aja, karena lo dan dua cewek sahabat kita mudah gue percaya. Tapi kalau yang lain kayak temen kelas kita... Gue ragu bener


Sudah, nggak apa-apa. Percaya aja sama gue, mereka terima kondisi lo yang seperti itu. Gak ada masalahnya, karena mereka malah justru banyak yang rindu sama lo


What? Rindu? Bisa aja dah


Ya begitulah, jadi gimana? Tapi kalau lo ngerasa keberatan, gue bisa bilang ke mereka kalau lo gak bisa


Hmmmm... Y-yaudah kalau gitu, kalau mereka pengennya jenguk gue... Gue persilahkan aja. Tapi sebelum itu gue mempersiapkan diri dulu


^^^Mempersiapkan diri apa? Perang dunia?^^^


Eh kagak anjir! Siap hati maksud gue, tapi sih kalau ngeliat watak si mereka kayaknya gak bakal ada problem


^^^Nah oke. Gak usah tegang, santai aja. Mending lo leyeh-leyeh ngademin hati sama pikiran, inget jangan dibuat Stress, dampaknya bahaya!^^^


Tau... Tapi kok lo aneh banget?


^^^Aneh kenapa??^^^


Ya aneh aja, lo sekarang perhatian banget. Emang sih lo dari dulu perhatian, tapi gak mencolok juga kayak pewarna makanan


^^^Hah? Ngelawak, ya lo?^^^


Hehe, dikit


^^^Oke. Gue tutup ya telponnya, mau siap-siap^^^


Oke- eh tapi nanti lo juga dateng kan?


^^^Huh, terus gue mau siap-siap itu apaan?!^^^


Oh iya ya hehehe, sori. Otak gue hari ini gak tau cetek bener


^^^Istirahat aja^^^


Siap. Gue tunggu ya, Bro


^^^Oke^^^


...----------------...


Angga langsung menutup teleponnya dan meletakkan ponselnya di atas meja nakas samping tempat tidurnya. Disaat ia duduk di tepat pinggir kasur, pemuda itu mengukirkan senyuman yang ia patri dikarenakan Reyhan benar-benar kembali pada sifat jati diri sesungguhnya yang mana humoris miliknya terpancar lagi yang selama ini tertutup karena Depresi yang sahabatnya alami. Usaha kemarin rupanya tak sia-sia untuk membangkitkan motivasi semangat dan hidup diri Reyhan. Pada puncak usahanya Angga berjaya.


Sekarang kini dengan semangat, Angga beranjak dari kasurnya tak lupa merapikan tempat tidurnya bahkan selimutnya dan sesudah itu Angga melangkah pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh di pagi buta hari Sabtu ini.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


RS Wijaya Kamar Rawat 114


Reyhan mematikan layar ponselnya seraya menghembuskan napasnya pasrah kalau benar-benar para temannya mendatanginya dirinya untuk menjenguknya. Pemuda yang masih menempati ranjang pasien yang sudah terlepas dari selang Oksigen hidungnya semenjak hari kemarin, melepaskan headset-nya dari kedua telinga karena kepalanya terasa pusing, saat telepon bersama Angga saja Reyhan menggunakan headset sebabnya ia belum bisa memegang benda pipih-nya terlalu lama. Ya, gemetaran jika memegang lebih dari 2 menit.


“Pasti kamu ditelpon sama Angga ya, Rey?” tanya Farhan yang berdiri dari sofa sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku kantung belakang jeans yang beliau kenakan.


Reyhan menoleh dan tersenyum. “Iya, Pa. Kata Angga temen-temen Reyhan mau ke sini untuk jenguk Reyhan sekaligus tiga sahabat Reyhan.”


“Wah bagus dong, banyak yang nemenin kamu! Hehehe soalnya sekarang juga Mama sama Papa mau pergi ke rumah oma dan opa.”


Reyhan menautkan kedua alisnya pada ucapan Jihan yang akan meninggalkannya bersama suaminya. “Sudah beberapa kali ini kalian berdua ke rumah oma opa, acara apaan sih?”


Farhan melirik Jihan begitupun istrinya juga dan kemudian menoleh ke anak putranya seraya meringis. “Eeee, biasalah Rey. Acara keluarga besar.”


“Penting?”


Farhan dan Jihan mengangguk tersenyum, namun wajah putranya tersebut menampilkan wajah kecurigaan terhadap kedua orangtuanya. Karena tak ingin mengulur waktu apalagi pasti di jalan keseringan macet, mereka berdua memutuskan pergi meninggalkan Reyhan sendiri dalam ruang perawatannya.


Usai mencium pucuk kepala Reyhan, Jihan berpesan sesuatu pada anak semata wayangnya, “Baik-baik lho Nak, jangan berbuat aneh-aneh di sini.”


Reyhan menghela napasnya dengan pendek. “Anakmu bukan anak kecil lagi, Ma. Kalian pergi saja, Reyhan nggak apa-apa di tinggal. Lagian bisa jaga diri.”


Farhan senyum miring. “Yah, siapa tahu kamu coba-coba kabur dari rumah sakit.”


“Orang kaki Reyhan lumpuh mau kabur gimana? Memangnya duduk di kursi roda gampang, apa? Sulit kali Pa.”


“Iya-iya, Papa tahu itu kok. Maaf dong, Nak. Oke ya Papa dan Mama pergi dulu, nanti balik lagi kok.”


Reyhan mengangguk santai dan juga senyumannya, senyuman yang diberikan oleh Reyhan mampu membuat kedua orangtuanya nyaman melihatnya tak seperti waktu itu yang penuh dengan hati kerisauan dan kegelisahan. Kini sepasang suami istri melangkah keluar dari kamar rawat anaknya yang bernomor 114.


Saat telah keluar dari ruang perawatan, Jihan dan Farhan dengan seiringan langkah menyusuri lorong lantai 4 untuk menuju ke sebuah lift. Di sejajar-nya berjalan bersama, Farhan membuka suara.


“Mama, Papa hari ini plong banget hatinya ngeliat wajah dan cara bicaranya Reyhan yang seperti dulu. Papa penasaran, soalnya tidak ada angin, hujan, petir, tsunami, gempa bumi, meteor jatuh anak kita berdua langsung berubah kembali. Atau mungkin karena Reyhan menyadari sesuatu yang keadaan itu sepatutnya tidak perlu dipikir-pikir terlalu dalam?”


Jihan tersenyum manis. “Bukan, Pa. Tapi ada satu orang yang membangunkan semangat Reyhan. Pastinya Papa tahu siapa orang yang Mama maksud.”


Farhan menoleh ke istrinya dan menatapnya sungguh-sungguh. “Angga, Ma??”


Istri yang pria itu cintai mengangguk. “Iya, Papa. Walaupun Angga belum ceritakan semua ke Mama, tapi Mama bisa merasakan kalau Angga yang melakukan semua itu untuk kebaikan Reyhan, terlebihnya itu sahabat anaknya kita kemarin datang untuk menjaga dan menemani Reyhan. Mama memastikan betul dan pasti kalau Angga yang membuat Reyhan kembali mempunyai motivasi semangat terutama hidupnya.”

__ADS_1


Tiba-tiba wajah Jihan menjadi lara. “Karena sebelum itu, Reyhan kayak sudah nggak mempunyai rasa semangat diri bahkan seperti putus asa. Kalau saja nanti Mama bertemu Angga, Mama pasti langsung berterimakasih banget sama Angga.”


Farhan Sumringah bangga. “Anaknya Agra dan Andrana memang sangat hebat, Papa akui itu.”


“Iya Pa, menemukan orang yang terbaik seperti itu sudah jelasnya begitu susah.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Dua jam telah berlalu, dan sekarang pemuda yang kembali jiwa Friendly itu tengah memandang sejuknya langit biru yang cerah tersebut kendatipun dirinya melihat dari ranjang pasien. Bosan? Ya, betul sekali Reyhan merasa bosan dan ingin keluar untuk menghirup udara segar... Namun sayangnya dirinya untuk sementara belum mampu berjalan, memaksa pun malah justru membahayakan diri sendiri.


Reyhan memejamkan matanya, inilah kesabaran ekstra yang harus ia kuatkan dalam batin hatinya. Intinya, Reyhan akan mencoba tersenyum pada semua orang dalam keadaannya seperti ini. Pemuda itu sebenarnya tidak ingin orang yang sayang, peduli, dan setia padanya sedih atas penderitaan yang Reyhan peroleh.


Selang menit kemudian pintu kamar rawat dibuka oleh gadis yang penampilannya begitu anggun yang mana ia mengenakan rok pendek yang menutupi atas lututnya bermotif bunga-bunga ciamik, mengenakan kaus oblong berwarna putih, memakai sepatu putih sepadan warna pada kaus yang dikenakan gadis cantik tersebut, terakhir mengenakan jaket jeans.


“Hai Reyhan!”


Sahabat lugunya menyapa Reyhan dengan melambaikan satu tangannya secara ria seperti gembira bertemu Reyhan. Pemuda itu yang usai bangun posisi duduk, mengangkat tangan kanannya sedikit untuk membalas sapaan riang Freya disertakan menampilkan senyuman tampannya walaupun wajahnya masih terlihat nampak pucat.


Reyhan biasa pada kedatangan sahabatnya namun secara berbaris pemuda itu mulutnya sedikit lumayan menganga disaat rupanya yang menjenguk dirinya jumlahnya begitu banyak.


’Ini yang jenguk gue satu kelas sebelas IPA dua?! Banyak bener ...’


Freya melangkah maju mendekati Reyhan dengan senyuman manisnya, bola mata Reyhan mengikuti jalannya sahabat polosnya. “Kok kaget begitu? Yang jenguk kamu gak sampai satu kelas, kok.”


Reyhan hanya menarik satu sudut bibir kirinya untuk merespon ujaran Freya, satu suara lagi membuat Reyhan menoleh ke sendang asal suara gadis lainnya. “Nah, ini si Jova sama Angga mana, lagi? Belum nyampe-nyampe juga?”


Pertanyaan Lala yang belum terjawab-kan oleh temannya kini tibalah Jova yang memasuki ruang kamar rawat Reyhan dengan cengar-cengir sementara Angga yang ada di belakang Jova ikut memasuki ruang perawatan bersama wajah datarnya, seperti biasa.


“Ehehehe, sorry. Tadi tuh gue sibuk nyariin kunci motor gue yang pake acara hilang segala! Tapi baiknya si Angga mau tuh bantuin gue nyari.”


“Terus? Kunci motornya ketemu, gak?” tanya Rena.


“Ketemu sih, di kantung saku kemeja ungu gue ini. Hehehehe, bego banget gue. Udah panas-panasan eh ternyata kuncinya udah gue masukin di kantung baju gue, kasian deh si Angga kulitnya gosong.”


Angga menghela napasnya panjang dengan senyum tipis, begitu tipis sampai orang yang melihatnya tak mengira kalau Angga sedang tersenyum. Ketiga temannya yaitu Rena, Lala, dan Zara menepuk keningnya bersamaan.


“Lo itu kenapa sih, hah? Grogi ketemu Reyhan?” tanya Lala dengan santainya.


Jova yang gregetan jalan secara ke samping dengan menyeret kaki kanannya ke Lala lalu membisikinya sesuatu. “Heh, Lalat. Lo tau kan sekarang kita semua ada di mana?? Ada di kamar rawatnya Reyhan, kan bego. Tolong dong itu mulut dikunci dulu kalau ngomongin gue soal Reyhan !”


Jova langsung mencubit kesal pinggang Lala disaat ia mengucapkan kata 'Reyhan' dengan nada menekan. “Akh aduh iya-iya, Gomenasai (Minta maaf)”


Jova melepaskan cubitannya dari pinggang Lala dengan gerutu. “Huh, Sok pake bahasa Jepang, lo.”


Jova memberanikan diri melirik Reyhan yang ternyata Reyhan sedari tadi menatap Jova dengan wajah datarnya. Tak ada senyumannya sama sekali membuat Jova mengalihkan bola mata ke sembarang arah yang penting tidak menelisik pada tatapan sahabatnya yang kini Jova takuti. Ya, kejadian waktu itu buat gadis tomboy itu nyalinya menciut karena amarah emosi Reyhan yang hebat.


“Hai Cuy, selamat pagi hehehehe. Bro, nih gue bawa buah tangan sesuatu yang pastinya lo gemari! Mau tau?” tanya Aji dengan nyali beraninya.


“Apa?” Hati Aji sedikit tenang disaat mendengar suara Reyhan yang tak dingin lagi, standar seperti biasa.


“Bentar,” ucap Aji segera melepaskan tas pundaknya lalu membuka resleting tasnya untuk mengeluarkan lima buku novel yang covernya terlihat seperti novel genre Horor dan Thriller.


Reyhan menarik badannya ke atas untuk melihat apa yang dikeluarkan oleh Aji yang nantinya temannya berikan padanya. Aji yang tadinya membungkuk kini menegakkan badannya sambil menyodorkan lima buku novel sekaligus di satu tangannya ke Reyhan. Reyhan menaikkan satu alisnya saat tahu Aji rupanya memberikan ia sebuah lima buku novel genre yang menjadi kesukaannya.


“Buku novel? Buat gue?” tanya Reyhan memastikan.


“Yap, sebagai permintaan maaf gue sama lo waktu minggu yang lalu. Yaa, gue tau aja lo suka sama buku novel yang genre-nya lo favorit. Lima buku sekaligus buat lo ya, Bro Reyhan.”


“Minta maaf?” Reyhan kemudian mengubah ekspresi wajahnya menjadi raut bersalah. “Harusnya gue yang minta maaf sama lo, bukan lo yang minta maaf sama gue. Karena awal dari kesalahan itu adalah gue bukan lo.”


Aji membungkam mulutnya bahkan teman-temannya yang lain menatap Reyhan dengan wajah iba-nya. Reyhan menundukkan kepalanya bersama mata yang ia pejamkan. “Maafin gue yang udah kelewatan batas waktu itu, gue ... hanya terlalu Stress karena tentang ...”


Reyhan tak melanjutkan perkataannya, sementara itu pemuda itu yang tak ingin air matanya keluar kini malah justru keluar perlahan membasahi pipinya. Aji yang ada di tepat dekat kiri Reyhan melihat temannya yang sedih atas penderitaannya langsung merangkulnya dengan rasa pertemanannya.


“Bener Rey, masih baik kami semua yang akan ngeliat lo duduk di kursi roda, bukan ngeliat lo di atas tanah pemakaman.” Ungkapan kata Joshua membuat Reyhan menarik wajahnya semula dan menatap intens ketua kelasnya.


“Atas tanah pemakaman? M-memangnya gue kenapa??”


“Kamu kecelakaan, Rey. Ketabrak mobil truk dan membuat kamu Koma selama empat bulan.”


Reyhan menoleh ke arah Zara dengan cepat bahkan bola matanya mencuat terkejut. “Koma selama empat bulan?! Lah, kok?!”


“Udah-udah, jangan sampai kaget begitu. Tenang, semuanya telah berlalu,” ujar Angga yang ada di kanannya seraya mengusap-usap punggung Reyhan.


Reyhan menyentuh keningnya untuk mencoba mengingat memori kejadian yang buruk tersebut.


Flashback On


“Mas! Mas mau kemana?!”


“Lepaskan saya Pak! Lepaskan saya, dia ingin membunuh saya tolong biarkan saya pergi dari sini Pak!”


TIN TIN !!!


TIIIIIIIINNN !!!


DUAGKKHH !!!


Flashback Off


Reyhan menggelengkan kepalanya pelan. Masih bisa Reyhan ingat suara hantaman mobil truk itu yang menabrak tubuhnya hingga terpental jauh dan kemudian mendarat di aspal. Betapa kuatnya benturan kepalanya, masih bisa Reyhan rasakan dahsyatnya seperti apa, apalagi darah yang merembes keluar.


“Buat apa lo inget-inget? Udah, jangan lo inget kejadian itu daripada malah lo jadi gak karuan, buang aja memori kejadian yang buat lo trauma.”


Reyhan begitu kaget Angga mengetahui kalau dirinya sedang trauma atas kecelakaan besar yang menimpanya. Ya, Reyhan mendadak lupa kalau sahabatnya adalah seorang anak Indigo. Dan pastinya tahu juga kalau Reyhan tadi tengah memutar otak pada kejadian kelam yang telah lampau.


“Kami semua cemas banget sama keadaan lo waktu itu dimana pasca Operasi lo malah Koma sekaligus Kritis di ruang ICU sana, belum lagi kondisi lo stuck beberapa bulan dan gak ada perkembangannya sama sekali. Temen-temen kita lainnya mempunyai insting kalau lo akan bau tanah. Tau, kan?”


“Iya, gue tau. Mati, kan? Mereka kayaknya emang udah berpikiran buruk dulu sama gue, tapi nyatanya gue masih tetep hidup di dunia ini.” Reyhan menjawab Joshua dengan wajah pilu.


“Kami Alhamdulillah banget, masih ada Mukjizat Allah yang membangunkan elo dari Koma itu. Untuk soal Tes ulangan sekolah, lo gak usah risau. Meskipun sudah mendekati, dua bulan lagi kita semua melaksanakan tes ulangan untuk kenaikan kelas nanti, Rey.”


Reyhan menghembuskan napasnya lemah setelah mendengar penuturan dari Kenzo. “Nasib gue bener-bener apes, gini amat. Gak cuman itu doang, kan? Pastinya gue udah banyak ketinggalan materi-materi belajar di kelas, gak taunya ada perubahan jadwal kegiatan di SMA kita.”


Angga yang telah melepas tangannya dari punggung Reyhan kini bergantian menyentuh bahunya. “Untuk itu lo jangan terlalu khawatir, soal materi pelajaran masih bisa lo kejar dengan perlahan-lahan. Sekarang mending lebih baik elo pentingin kesehatan lo, untuk sekolahnya lo bisa pikir belakangan.”


Reyhan menoleh ke Angga yang tersenyum. “Gue tau itu, Ngga. Makasih, ya.”


Angga mengangguk pelan di sisi lain, seperti Freya, Jova dan yang lainnya mengukirkan senyumannya pada Reyhan begitupun Angga. Dan kini Ryan berucap, “Sans and calm, Reyhan Lintang Ellvano. Kami semua ada buat lo. Apa masalah lo dan kesulitan yang lo alami, kami tetap ada!”


Reyhan menarik dia sudut bibirnya yang membuat dirinya menjadi tersenyum lebar, dengan begitu kedua matanya menyipit. “Hahaha, thanks ya semuanya. Kalian emang the best banget bagi gue.”


“Oh itu jelas dong, Bro. Kami gak akan biarin lo terpuruk mulu, tujuan kami jenguk lo adalah membuat suasana hati lo membaik. Itu kan namanya teman terbaik dan sejati, hehehehe.” Jevran merangkul tetangganya itu dengan sumringah bahagia.


“Akhirnya kami bisa liat wajah senyuman lo juga yang selama ini ketutup, hahahaha kami jadi ikut seneng banget,” kata Rangga yang tengah melipat kedua tangannya di dada.


Reyhan tersenyum pada tetangga satunya yang tertawa seperti Angga yang jika sedang tertawa kecil. Sedangkan si Raka maju untuk mengangkat dan melihat buku-buku novel yang ada di samping pinggang kiri Reyhan.


“Gak adil lo, Ji. Masa lo beliin Reyhan buku novel cuman lima doang? Tiganya genre Horor, duanya genre Thriller. Ganjil, atuh.”

__ADS_1


“Hai, wahai bujang! Gue tuh niatnya baik lho buat Reyhan, lah elo? Bawa tangan kosong doang!” semprot Aji.


“Ya seenggaknya fair dikit lah, Ajinomoto! Kayak kehidupan lo aja yang suka ganjil gak pernah genap,” sambung Andra.


Aji menatap tajam Andra. “Kok lu komplain sih sama gue? Kayak di aplikasi Shopee ae perasaan!”


“Gakpapa, Ji. Gini aja gue udah makasih. Eh tapi ini beli lima buku novel dua jenis genrenya gak sampai urunan uang, kan? Jadi gak enak gue, ngerepotin.”


“Halah, santai aja kali Rey. Gak sama sekali ngerepotin gue kok. Gue beliin ini kan dengan rasa tulus demi pertemanan erat kita.”


“Heleh, dasar modus!” kata kesal Rangga dengan usilnya menoyor kepala sang Aji yang memiliki dua julukan 'Maemunah' dan 'Ajinomoto'.


Freya terkekeh geli pada gerutu sebal Aji dengan mendesis karena kepalanya lagi-lagi menjadi korban oleh rese-nya Rangga yang postur tubuhnya yang sama dan rupa-rupa wajahnya nang nyaris seperti sahabat kecilnya yang kembali diam tak berkata-kata.


“Oh iya Rey, obatnya jangan lupa di minum, ya hehehe. Biar lekas sembuh,” peringat Freya dengan senyuman cantiknya.


Reyhan menyengir bersama kepalanya yang ia hadapkan ke arah beberapa obat pil dan kapsul yang terbungkus di blister. “Jangan bahas obat, deh. Takut juga aku minum obat apalagi banyak segitu.”


“Kalau lo takut minum obat, gimana caranya lo bisa sembuh? Derita kita itu sama, lo lumpuh dan gue cidera kepala. Sama-sama minum obat, kan?” Angga langsung mengeluarkan bungkusan obat-obat pil-nya dari saku jaketnya kemudian ia perlihatkan pada Reyhan.


“Wih, itu obat lo bawa-bawa juga?” tanya Reyhan.


“Hm, buat jaga-jaga aja kalau semisalnya kambuh lagi. Sakit yang gue alami suka dateng tiba-tiba.”


“Tiba-tiba cinta datang kepadaku, disaat ku mulai jatuh cinta. Tiba-tiba cinta datang kepadaku, kuharap dia rasakan yang sama.”


Semuanya menepuk keningnya bersamaan dengan menggelengkan kepalanya dengan suara nyanyian Aji musik vokal 'Maudy Ayunda' yang terdengar dibuat-buat cempreng.


“Udah petakilan, gesrek pula otaknya. Kayaknya otak lo perlu di ronsen sama dokter yang mantau kondisinya Reyhan,” ucap Jevran.


“Eh, apaan maksud lo?!”


“Hahahaha! Udah lah biarin aja itu si Aji, emang dari dulu sifatnya kayak anak bocil terus otaknya ke geser yang menjadi sinting,” ledek Reyhan.


“Akh, sialan lo Rey! Kayaknya itu tawa lo sungguh menyayat hati gue, dah! Lama-lama kalau kesel gue udah meletus kek gunung merapi, gue tonjok itu benda keramat lo!”


“Hah? Yakin lo? Nanti kalau lo beneran ngelakuin, elo bisa dimusuhin selamanya sama Reyhan, mampus lo!” ucap Rangga dengan sinis.


“Gak lah, paling gue diemin itu anak sampai sebulan. Bisa tahan gue bisu sama diri lo, Aji.”


“Eh ampun, Rey! Kapok gue lo diemin kayak orang lagi Koma! Janganlah, Bro!”


“Hahaha! Gue bercanda, kok.”


Aji menghembuskan napasnya jengah tahu rupanya Reyhan hanya bercanda sedangkan Freya nampak bingung pada perkataan yang sama sekali tak menanggap di otak pikiran positif tersebut.


“Aji, aku mau tanya deh sama kamu. Maksud kamu 'itu benda keramat' apaan sih? Emangnya Reyhan bawa benda yang mematikan?! Kan Reyhan bukan cowok psikopat.”


Ibaratnya sesunyi tempat hutan yang angker, dalam ruang kamar rawat no 114 itu menjadi hening cipta mendengar pertanyaan gadis yang bernada lemah lembut tersebut. Tapi pada puncaknya, Ryan menjawab apa maksud dari Aji tadi.


“Itu lho Frey, alat kelam- eh adududuh! Angga lo apaan sih?!” Ryan nampak protes kesakitan saat telinganya di jewer Angga bermaksud menariknya ke dekat mulutnya.


“Gak usah lo jelasin segala. Lo pasti udah ngerti, kan kalau sahabat TK gue itu polos? Jadi gue minta lo tutup mulut.”


Freya mengerucutkan bibirnya dengan mengepalkan kedua telapak tangannya. “Ih! Kamu kenapa sih malah bisik-bisik sama Ryan?! Biarin kek si Ryan jawab pertanyaan aku! Aku kan bingung maksud yang dibilang Aji!”


Angga yang mendengar suara rengek sebalnya Freya, pemuda tampan Indigo itu langsung melepaskan telinga Ryan yang memerah tomat kemudian berjalan dua langkah mendekati Freya kemudian mengusap-usap atas kepala gadis sahabat kecilnya itu dengan meringis.


“Kamu gak usah tahu dulu, besok kapan-kapan aku jelasin deh maksudnya si Aji apa. Udah ya, jangan di pikir-pikir nanti malah tambah mumet. Oke?”


“Hmm? Yaudah, oke!”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Setelah suasana kembali kondusif dan di imbuh canda tawa untuk menaikkan mood baik Reyhan, kini sepuluh temannya dari kelas XI IPA 2 telah pergi pulang meninggalkan dirinya bahkan ketiga sahabatnya. Dan sekarang Reyhan nampak memegang lima buku novel pemberian dari Aji dengan melihat-lihatnya.


Faktor atas teror-teror Arseno pada Reyhan, membuat selera kesukaan membaca novel genre Horor menjadi hilang, pemuda itu rasanya begitu muak dengan hal-hal yang berkaitan dengan Supernatural. Lebih jelasnya, pasca Koma Reyhan malah membenci kegemarannya yang menyukai hubungan mistis-mistis.


Reyhan mungkin akan hanya membaca dua buku novel genre Thriller yang alur ceritanya menggunakan bahasa Inggris. Nanti, bukan sekarang. Reyhan menumpuk lima buku novel tersebut dan ia masukkan ke dalam laci meja nakas.


“Mau makan? Ini sudah masuk jam siang,” tawar Angga.


“Nantian aja lah. Gak nafsu makan, gue.”


Angga menghembuskan napasnya lalu mengangguk saja sedangkan Freya tengah sibuk mengirim pesan chat kepada Rani, sepertinya mamanya merindukan anak gadisnya yang belum pulang. Sementara itu, Jova tak terlepasnya dari pandangannya yang menatap Reyhan yang saat ini tak menatapnya.


Ketahuan kan, akhirnya. Reyhan kini mengalihkan pandangannya untuk menatap Jova. Reyhan mengerutkan keningnya saat melihat wajah sahabat yang sering mengajaknya debat mulut menampilkan wajah memelas di hadapannya.


“Va, kamu kenapa kok mukanya kayak sedih gitu? Aku kan udah gak apa-apa- eh?!”


Grep !


“Rey! Maafin aku, yak! Waktu itu aku udah buat kamu marah-marah terus pingsan! Janji deh gak buat kamu begitu lagi, aku kapok ngerjain kamu! Niatnya aku tuh waktu itu mau ngehibur kamu, tapi cara sahabatmu ini yang salah.”


Tanpa sadar atau reflek, Jova malah memeluk Reyhan bahkan sampai digencet membuat sahabat lelakinya itu sulit untuk bernapas. Sedangkan Freya yang akan memasukkan ponselnya dalam kantung jaket jeansnya melongo terkejut tak menduga Jova mendekap tubuh Reyhan dan Angga kagetnya hanya dengan menaikkan satu alisnya.


‘Eh buset dah! Ini tenaga cewek satu kuat banget, heh gue bisa mati konyol ini mah !’


“Aduh Va! Aku gak bisa nafas!” protes Reyhan dengan nada menekan karena dadanya dihimpit tubuh Jova.


Seketika Jova tersadar apa yang ia lakukan lagi kepada Reyhan. ‘Astaga! Apa yang gue lakuin, anjir?! Gilak dah lo, Va! Kenapa lo malah meluk-meluk Reyhan sih, bego! Emang dasar bego !’


Jova dengan cepat melepaskan pelukannya dan melangkah mundur. “Maaf Rey! Aku gak sengaja ... meluk kamu.”


“Hahaha, iya-iya. Gak apa-apa,” respon Reyhan dengan senyum hambar seraya berpaling dari muka Jova.


“Duh, pasti Reyhan jadi marah lagi sama gue,” gumam Jova dengan jantung berdegup kencang.


“Aku gak marah sama kamu, kok. Aku cuman kaget aja kamu tiba-tiba meluk aku! Gak norak atau gimana, tapi aku belum pernah yang sampai dipeluk sama kamu, meskipun kamu itu adalah sahabatku. Maaf, mukaku terkesan lagi marah sama kamu, ya?”


“Engh ... euumm, enggak kok. Biasa aja hehehe,” jawab Jova dengan senyum canggung.


Reyhan menipiskan bibirnya yang masih menatap Jova. “Oh iya Va, aku minta maaf ya waktu itu aku udah marah-marah sama kamu apalagi kasarnya aku buat kamu nangis, sumpah aku bener-bener keterlaluan sama kamu waktu dulu itu.”


“Hehehehe, santai aja kali. Aku jelas banget udah maafin kamu kok. Udah, gak perlu diungkit-ungkit lagi deh. Kami bertiga pokoknya seneng banget kamu bisa tertawa lagi.”


Reyhan tertegun pada ucapan Jova yang membuat pemuda itu tersenyum, perlahan tangan kanannya meraih hidung mancung Jova untuk mencubitnya. “Makasih udah mau maafin aku, ya cantikku.”


Kedua mata Jova mencuat terkejut mendengar ucapan Reyhan apalagi kelakuan Reyhan yang beda sekali padanya. ‘Eh, si Reyhan bilang gue cantik?! Elah, biasanya dia nyebut gue cewek burik .. lah kok sekarang beda banget yak semenjak pasca Koma, ini juga kenapa dia nyubitin hidung gue? Nanti kalau jadi panjang kayak Pinokio kan gak lucu.’


‘Waduh! Somplak, gue! Apa yang gue lakuin sama Jova?! Parah-parah, lepasin dah lepasin !’


Reyhan melepaskan cubitannya dari hidung mancungnya sahabat gadis tomboy-nya. “Eh, maaf-maaf. Aduh kebablasan, aku hehehe!”


Jova mengusap-usap hidungnya sementara Reyhan mengusap-usap tengkuknya, apa yang ia lakukan sungguh memalukan sekali. Mulai dari tingkah Jova dan tingkah Reyhan terhadap Jova, dua sahabat sejoli itu sepadan rasa malunya. Lihatlah, Angga dan Freya yang menonton aksi tingkah barunya kedua sahabat tukang perang mulutnya kini tengah menahan tawanya masing-masing.


“Heh bukan Komedi!” ucap kesal Reyhan dan Jova bersamaan.


Mendengar suara yang secara bersamaan itu membuat Freya dan Angga yang sedang berusaha menahan tawanya kini malah tertawa. Sepertinya Jova serta Reyhan sama-sama mendapatkan sebuah karma karena dulunya selalu meledek kedekatan Angga begitupun Freya yang padahal hanya sahabatan dari kecil.

__ADS_1


Sekarang Reyhan dan Jova saling melirik yang gadis itu menggigit bibir bagian kirinya dengan rasa malu di hatinya sedangkan pemuda itu meringis yang hanya memperlihatkan deretan gigi putih bagian atasnya dengan juga rasa malu di dalam hatinya. Siang ini di isi rasa tersipu berlipat-lipat ganda bagi mereka berdua karena telah bertingkah aneh yang mana Jova memeluk Reyhan dan Reyhan bertingkah manis pada Jova. Secara tidak sadar atas kelakuannya mereka berdua.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2