
Mendengar Angga menyebutkan nama sahabatnya yang sangat Emily sayang, arwah itu mengeluarkan air matanya dan mengalir ke pipinya. Mungkin ini adalah senjata ampuh untuk meluluhkan hati Emily yang masih berkecamuk amarah dan dendam bencinya, karena dengan tenaga kuat, tangan yang ia angkat ke atas, makhluk astral tersebut tarik hingga otomatis ketiga siswi yang menangis karena nyawanya tak ingin menjadi taruhannya, terlempar jatuh ke lantai rooftop.
BRUGH !!!
Amukan angin yang menderu beserta kabut nang berhasil Angga lalui, menghilang sekejap mata. Perlahan, lelaki Indigo itu mengukirkan senyumannya tanpa ada hati getir. Sementara, Kyra yang tadi dapat mendengar suara Angga bahkan Emily, melangkah maju mendekati mereka berdua dengan tampang wajah tak percayanya kalau hantu menyeramkan tersebut adalah wujud sahabatnya.
Kaki yang bergemetaran itu berhenti melangkah saat Kyra telah berada di hadapan Emily yang wujud aslinya belum kembali seperti semula. Bersama air mata yang mengumpul di pelupuk matanya, Kyra mengeluarkan suara, “Emily, ini kamu? Sahabatku yang sudah lama meninggalkan aku?”
Tanpa berpikir panjang, Kyra menghambur memeluk arwah sahabatnya dengan menangis tersedu-sedu. Karena gadis itu yakin yang ia dekap saat ini adalah Emily Michaela Sophia. Waktu Kyra memeluknya, secara ajaib terjadi, wujud Emily yang amat mengerikan berubah menjadi seperti sosok manusia namun terdapat cahaya terang.
Reyhan mengusap-usap kasar mukanya bersama kedua telapak tangannya lalu menatap arwah Emily dengan raut tak percaya bahwa Angga berhasil meluluhkan hati Emily beserta sirnakan dendamnya. “Angga memang nggak bisa diremehkan. Gue aja yang nyoba luluhin hati Arseno, malah mencak-mencak. Salut banget gue sama lo, Ngga.”
Pandangan mata Jova tak terlepas dari Emily yang sudah mengeluarkan cahaya benderang itu. “Bagaimana bisa, manusia, Indigo sekali pun mampu meluluhkan amarah setan? Wah, Angga emang cowok yang hebat. Gak ada kali, ya orang yang kayak Angga gini. Udah berani, pantang menyerah, uh! So Wonderful ...”
Freya meskipun diam menatap Kyra dan Emily yang saling berpelukan, ia mengagumi kehebatan luar biasa dari sahabat kecilnya. Sepertinya, inilah kelebihan istimewa Angga yang sampai menjadi incaran para hantu negatif nang ingin menyerap seluruh energi kuat Indigo-nya.
“Hiks! Emily, aku begitu merindukanmu! Meskipun sekarang kamu adalah sebatas arwah, tapi akhirnya aku bisa menjumpai dirimu lagi!” bahagia Kyra tanpa aliran air mata berhenti, pelukannya pun makin erat saking amat rindunya pada sahabat kesayangannya semenjak ia SD.
Emily tersenyum lembut kendati tak meneteskan air matanya seperti sang sahabat. “Kyra, sahabat manjaku yang aku punya ... aku juga begitu rindu padamu.”
“Hiks, sudah lama aku nggak mendengar suaramu! Dan akhirnya aku bisa kembali dengar suara indah manis sahabatku lagi. Semenjak kamu pergi ninggalin aku, aku gak mampu lepasin buat melupakanmu, karena kamu adalah sahabat paling terbaik dalam hidupku!”
Emily memundurkan badannya hingga membuat Kyra melepaskan pelukannya begitupun ia. “Udah dong, jangan nangis mulu. Nanti cantikmu luntur, loh.”
“Gimana gak nangis, sih? Semenjak kepergianmu pada lima bulan yang lalu, sekarang di bulan ini aku bertemu kamu kembali walaupun kita berdua sudah beda alam. Enggak! Kamu tetap di sini, ya buat nemenin aku!”
“Jadi mewek, gue.” Jova menyeka linangan air beningnya dari bawah kelopak matanya.
Emily menggeleng pelan. “Aku nggak bisa terus-terusan di dunia untuk menemani kamu. Kamu juga tadi yang bilang, kan kalau kita sudah beda alam? Jadinya, kamu pasti tahu apa maksudku.”
“Huhuhu! Please, jangan pergi lagi buat ninggalin aku! Kamu sahabat satu-satunya yang aku miliki. Kamu gak mungkin tega, kan biarin aku sendiri dan selalu kesepian?! Kalau kamu pergi untuk selamanya, lalu aku sama siapa?? Di dunia aku apa-apa sering bersamamu. Tolong dong, aku mohon jangan pergi ...”
“Hei, kamu jangan bilang seperti itu. Setelah aku nggak ada di sisimu lagi, ada empat orang terbaik yang akan menjadi teman baikmu bahkan menjagamu dari keburukan. Merekalah orangnya.” Emily menolehkan kepalanya ke arah Angga, Freya, Jova, dan Reyhan yang tengah berdiri dengan tatapan pilunya.
Kyra menatap beberapa detik keempat kakak kelasnya yang begitu baik dan lembut padanya, namun Kyra beralih menundukkan kepalanya. “Mereka memang empat kakak kelas yang baik hati ...”
“Nah, selain baik hati, mereka juga punya sifat yang unik, lho. Jadi pas aku pergi, berteman akrab dengan mereka, ya? Aku yakin hatimu lebih tentram jika berada di dekat mereka berempat, walau umur mereka lebih tua darimu tetapi mereka kakak kelas yang paling baik dan juga setia.”
“Oh, ayolah. Bisa melayang nih gue, kalau dipuji terus,” ucap Reyhan dengan nada lemas yang ia buat dengan senyum bangga.
“Kyra, ikhlaskan kepergianku, ya? Kamu di dunia udah dapat pengganti, kok. Aku malah justru seneng dan bahagia banget melihatmu tersenyum dan tertawa seperti dulu.”
Kyra mendongakkan kepalanya dan menatap sendu arwah sahabatnya. “Walaupun ini berat banget bagiku, tapi ...” Kyra perlahan mengukirkan senyumannya. “Aku akan mencoba mengikhlaskan kepergianmu yang Surga sedang menantimu.”
Kemudian Kyra memeluk kembali Emily dengan erat. “Makasih selama ini kamu sudah melakukan yang terbaik buat aku. Menghiburku disaat aku terpuruk dan segalanya yang membuat aku mudah mengenang dirimu, Emily.”
Emily membalas pelukan Kyra. “Sama-sama, Kyra sahabat manja dan tersayangku.”
“Huhu, terharu ...” tutur Reyhan seraya menyenderkan kepala sampingnya di pundak Angga, membuat sahabat pendiam-nya itu menjadi risih dan mendorong kepala Reyhan hanya menggunakan jari telunjuk tangan kanannya.
“Siapa sih yang narok bawang merah di sekitar sini? Nangis mulu gue yang ada. Sungguh hatiku tercabik-cabik, auw!”
“Astaga, kamu lebay banget,” ungkap Freya dengan menggeleng kepala.
Emily melepaskan pelukannya dari tubuh Kyra maupun sahabatnya. Arwah siswi yang kini beraura positif itu, memutar ke arah keempat kakak kelasnya yang berdiri secara bersampingan. “Kak Angga, Kak Reyhan, Kak Jova, Kak Freya ... tolong jaga Kyra ya untuk Emily, jangan sampai Kyra mendapatkan luka hati ataupun luka fisik seperti yang Emily alami dulu semasa masih hidup. Kalian Kakak yang hebat dan setia dalam menjaga seseorang.”
Freya tersenyum lembut namun wajahnya penuh lara. “Permintaanmu akan kami genggam, Emily. Tenang saja. Sekarang kamu pergilah dan istirahatlah dengan tenang, Kyra akan aman selama bersama kami ...”
“Terimakasih sekali, Kak Freya.”
Kyra yang menatap Emily tengah tersenyum bangga pada keempat remaja berusia 17 tahun itu, mulai balik memanggilnya bersama nada cicitnya. “Emily, sebelum kamu pergi ... bolehkah aku peluk kamu lagi untuk terakhir?”
Emily memutar ke arah Kyra kembali dengan senyuman lebar cantiknya hingga memperlihatkan deretan gigi putih atas dan bawah. “Boleh dong, Sayang. Yuk sini, peluk aku.”
Emily membentangkan kedua tangannya yang bersinar terang lepau mempersilahkan Kyra mendekap dirinya yang sosok makhluk astral buat terakhir sebelum ia meninggalkannya untuk selama-lamanya. Kyra pun dengan cepat memeluk kembali Emily. Berselang detik kemudian, dapat mereka lihat bahwa Emily sekarang arwahnya mengeluarkan sebuah macam butiran serbuk putih terbang melayang yang mengantarkan kepergiannya.
Kyra tahu kalau ini saatnya sahabatnya pergi meninggalkannya dan tak akan kembali. Kini, Emily telah memudar serta menghilang bersama butiran serbuk warna putih tersebut. Kyra menjatuhkan kedua lutut kakinya di lantai rooftop sembari menatap nanar dua telapak tangannya yang ia angkat barusan. Bekas pelukannya dari sang hantu sahabat.
__ADS_1
“Sekarang, kamu telah pergi dengan tenang tanpa membawa dendam yang ada di dalam dirimu. Selamat jalan menikmati kebahagiaan abadi, sahabatku ...” lengai Kyra sambil balik mengeluarkan air matanya kendatipun ia tersenyum.
Angga, Freya, Jova, dan Reyhan menghampiri Kyra yang terduduk di lantai lalu berjongkok di dekat adik kelasnya yang mencoba mengikhlaskan perginya Emily. Kyra menurunkan tangannya dan mulai memberikan tatapannya ke mereka secara bergiliran. Para kakak kelasnya pun ikut tersenyum padanya dengan mengasih tatapan aura nyamannya.
Namun tiba-tiba Kyra yang ada di tepat sampingnya Angga, langsung menghambur memeluk tubuh lelaki tampan tersebut. “Eh?”
“Terimakasih ya, Kak Angga. Berkat Kakak, Kyra menjadi tahu apa yang membuat Emily meninggal dunia, berkat Kakak juga, Kyra bisa bertemu dan memeluk sahabat Kyra kembali walau hanya pertemuan singkat. Kakak sungguh berjasa!”
Akibat dari perkataan Kyra, Angga menjadi kebingungan bahkan gadis itu mengatakan ia sungguh berjasa, bagi dirinya ia adalah sebatas orang biasa saja dan tugasnya hanya ingin membantunya, tidak lebih. Namun Angga tetap membalas ucapan terimakasih adik kelasnya sekaligus tetangganya yang ada di komplek Permata. Bahkan pemuda tersebut membalas pelukannya Kyra.
“Sama-sama. Dan Kyra harus bisa mengikhlaskan kepergian Emily, ya? Emily bakal bahagia sekali melihatmu tersenyum dan juga tertawa dari atas sana.”
Kyra melepaskan pelukannya dari tubuh kakak kelas XI IPA 2-nya dengan senyuman penuh. “Iya, Kak! Kyra bakal Ikhlas perginya Emily sama berusaha tersenyum dan kembali tertawa seperti dulu.”
“Hebat,” puji Angga dengan senyum simpel.
Freya merangkak beberapa langkah kemudian kedua tangannya membersihkan kedua pipi Kyra dari lumuran air matanya yang masih basah. “Sekarang, Kyra nggak boleh sedih apalagi menangis. Oke? Kyra itu cantik jadi nggak pantas sering murung.”
Kyra menganggukkan kepalanya dengan gerakan lembut bersama menatap wajah Freya yang mampu meneduhkan hati Kyra saat ini, sementara kedua sahabat sejoli yang tukang selalu melakukan perdebatan adu mulut hanya memandanginya dengan tersenyum lebar. Di sisi lain semenjak Emily telah pergi meninggalkan dunia, langit yang pekat hitam mengubah balik menjadi langit sore senja berwarna oranye seperti sediakala.
Di dekat tembok rooftop, ketiga siswi yang telah kapok dan tak ingin mengulangi perbuatannya lagi kini tengah merintih kesakitan karena lemparan dari Emily membuat badan dan kaki mereka sakit-sakit. Sampai akhirnya, ada beberapa bayangan seseorang berbadan tinggi yang meneduhkan mereka bertiga. Mereka pun kompak menarik wajahnya dan tersentak kaget rupanya yang mendatangi mereka adalah keempat kakak kelasnya beserta Kyra yang menatap lumayan tajam pada mereka.
Jova dan Reyhan memberikan tatapan sengit pada ketiga adik kelasnya yang telah teganya membunuh sahabat Kyra, Freya mengasih tatapan sedih kecewanya, sedangkan Angga menatap mereka dingin bersama muka tampan datarnya. Sontak langsung, mereka bertiga beranjak berdiri dan menundukkan kepalanya secara bersamaan.
“Makasih buat yang tadi, Kak Angga,” ucap lirih Rainey, Gantari, Eliana dengan nada takut karena sorot mata dingin milik Angga.
Angga menghembuskan napasnya lalu menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengubah posisi raut wajah kulit putih tampan yang ia miliki. Kemudian ketiga siswi bangku kelas X IPA 5 menyerong tubuhnya ke arah Kyra dengan tatapan penuh kesalahan.
Rainey berucap, “K-kyra ... maafkan kami ya, karena dulu sudah memperlakukan jahat sama Emily dan berakhir membunuh sahabatmu. Kami bener-bener minta maaf sebesar-besarnya!”
“Iya, Ky. Aku juga minta maaf banget, ya?! Kami tau pasti kamu marah bener sama kami karena kejamnya kami terhadap Emily,” timpal Eliana.
“Tolong maafkan kami bertiga, Kyra! Kami mengakui segala perbuatan kami yang menyakiti Emily memang salah dan gak pantas dilakukan! Hiks, mohon maafkan kesilapan kami, ya Kyra!” Gantari amat memohon pada teman sekelasnya.
Kyra memalingkan wajahnya dari ketiga gadis itu. “Sejujurnya dan sebenarnya, aku begitu kecewa dengan kelakuan bejat kalian terhadap sahabatku. Kalian tau, kan dia adalah sahabat satu-satunya yang aku miliki. Gak ada sahabat selain Emily, tapi kalian bisa-bisanya bersama hati kejam kalian memperlakukan tidak senonoh sama Emily, dan kamu Rainey ... kamu dengan rela membunuhnya tanpa memikirkan terpukulnya aku sama sekalipun.”
“J-jangan, Kak Jova! Jangan laporin kami ke polisi, kami bener-bener minta maaf atas kesalahan fatal kami sama Emily!!!” pekik mereka bertiga dengan mendempetkan kedua telapak tangannya meminta ampun pada Jova agar tak melaporkannya ke kantor polisi dan berakhir dikurung dalam penjara entah berapa lama.
Rainey dengan lancangnya menggenggam dua telapak tangan Angga saking takutnya masuk ke penjara. “Kakak! Kami mohon jangan laporkan kami ke polisi, hiks! Kami gak mau sengsara di dalam tempat itu! Kami benar-benar sudah kapok pada tindakan kejam kami pada orang yang nggak bersalah, kami nggak akan pernah lagi mengulangi perbuatan silap fatal. Tolong, Kak Angga! Kasih kami kesempatan sekali lagi, ya?!”
“Kalian janji tidak akan melakukan kesalahan fatal yang sama lagi? Dan janji nggak akan melakukan lagi aksi pembullyan terhadap siapapun?”
Rainey, Gantari, Eliana menganggukkan kepalanya kuat untuk berjanji pada ucapan Angga kakak kelasnya tersebut. “Kami janji, Kak! Mulai dari sekarang kami nggak akan melakukan kekejaman pada siapapun saja! Terimakasih Kak Angga! Terimakasih banget!!”
“Ya. Pegang lah janji kalian, jangan sampai kalian langgar. Jika kalian melanggar, kalian tahu akibatnya apa yang akan terjadi.”
Ketiga siswi itu menelan ludahnya kemudian memberikan anggukan kepala lagi. Mereka sangat lega dan bersyukur karena adanya Angga, mereka tidak jadi dilaporkan ke polisi karena tiga gadis itu telah berjanji tak di mulut saja, namun juga hatinya.
“Untung ada sahabat gue, kalau kagak ... lo bertiga sekaligus udah kami seret ke kantor polisi dan kami suruh kalian buat menjelaskan perbuatan kriminal itu terhadap Emily!” sarkas Reyhan memandang tak suka.
“I-iya, Kakak. Maafkan kami sekali lagi,” respon mereka bertiga dengan menunduk tak berani menatap mata tajamnya Reyhan bahkan nada kakak kelas lelakinya tersebut berhasil menaikkan oktaf.
“Lebih baik sekarang kalian bertiga pulanglah, hari semakin sore,” titah Freya dengan masih memakai nada lemah lembut untuk mereka bertiga meskipun wajahnya masih terlihat gundah kecewanya atas perilaku tidak senonoh mereka kepada Almarhumah Emily.
“Baik, Kak Freya. Kalau begitu kami pamit pulang ...” lunglai Rainey setelah melepaskan genggamannya dari kedua telapak tangan Angga.
“Udah sana lo pulang!! Gak perlu banyak basa-basi buat cuman pamitan doang, keburu muak gue liat tampang muka jahat kalian bertiga! Sono!!!” bentak Jova.
“Sabar, Va ... jangan bentak-bentak, tetap bagaimanapun itu, mereka adalah adik kelasmu. Masa jadi kakak kelas, galak-galak?” tegur halus Freya dengan mengelus pundak sahabatnya untuk meredakan emosinya.
Rainey, Gantari, dan Eliana mulai mengambil tas ranselnya masing-masing yang sempat tadi mereka letak di lantai pojok tembok, lalu pergi dengan langkah lesu dan menundukkan kepala karena sangat takut pada suara bentakan Jova yang menggelegar, membuat mereka tak berani mendekati atau menghadapi kakak kelas garang itu lagi mulai esok. Mereka keluar dari rooftop lalu menuruni undakan anak tangga menuju ke lantai 3 yang terdapat ada lorong-lorong kelas XII beserta ruang perpustakaan.
“Argh! Gedeg banget gue sama anak tukang merundung itu! Dimana coba hati mereka bertiga selama ini? Benci bener gue yang namanya pembullyan!”
“Aduh, udah dong ih, Va ... kamu gak habis-habisnya misuh-misuh terus. Mending kita juga pulang, yuk. Takutnya nanti kita gak bisa pulang karena gerbang sekolah keburu dikunci sama mamang Asep.”
Jova menghempaskan napasnya kasar dari mulut lalu menganggukkan kepalanya, begitupun juga Angga, Reyhan, dan Kyra manggut-manggut menuruti ajakan pulang dari gadis cantik berhati lemah lembut tersebut. Sebelum menuruni tangga, Angga menutup pintu rooftop terlebih dahulu.
__ADS_1
Kini mereka berlima menuju ke ruang perpustakaan dulu yang beruntungnya pintu belum dikunci sama sekali. Tujuan mereka ke sana adalah, buat mengambil tas punggung mereka yang ia letakkan di salah satu atas meja khusus membaca buku.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Galaxy Admara - Parkiran
Sekarang mereka tengah berjalan ke arah parkiran motor usai keluar dari dua pintu sliding kaca otomatis sekolah. Namun disaat akan menghampiri motor Vario hitamnya, Angga merasakan ada yang aneh di dalam dirinya hingga ia ambruk jatuh terduduk di trotoar hadapan para motor yang masih parkir di tempat parkiran khusus roda dua.
“Haduh ...” Suara lemas nada Angga yang terdengar di telinga mereka berempat, membuat ketiga sahabat pemuda Indigo itu sedikit panik karena pastinya cedera yang sebagai penderitaannya kembali kambuh.
Reyhan yang ada di dekat Angga langsung duduk di trotoar saat melihat sang sahabat menyentuh kepalanya dengan mata ia pejamkan. Akibat sakit kepalanya yang mulai bekerja, wajah lelaki tampan itu balik pucat kendati sedikit.
Kyra yang rada cemas pada kakak kelas tetangganya mulai melangkah menghampirinya lalu bertanya, “Kak Angga kenapa? Kok mukanya langsung pucat gitu?? Kakak sakit?”
Angga membuka matanya lalu menarik wajahnya ke arah depan Kyra dengan melemparkan senyuman lemah. “Nggak apa-apa, Kyra ... Kakak cuman agak lelah saja.”
“Oh, begitu ...” pelan tutur kata Kyra dengan ekspresi sendu.
Reyhan melingkarkan tangannya dari belakang punggung Angga lalu memegang bahu kanan sahabatnya. “Kalian bertiga pulang dulu, gih. Biar aku di sini sama Angga.”
“Lah, berarti kamu gak pulang dong, Nyuk??”
“Sableng satu! Ya tetep balik pulang, lah! Masa camping di sini! Gilak, kali otakmu. Nanti aku pulangnya barengan sama si Angga aja, ini Angga beberapa menit di sini dulu buat istirahat, nggak mungkin juga ini anak jalanin motornya dalam keadaannya yang begini.”
“Iya juga, yaa. Yaudah deh kalau begitu aku, Jova sama Kyra pulang duluan ya, Angga.”
“Iya. Hati-hati dijalan,” tanggap Angga dengan muka lemas-nya.
Jova memonyongkan bibirnya dengan menatap Freya lalu berikutnya menatap Angga. “Ngga, masa Freya doang yang kamu bilangin gitu? Lha aku enggak?”
“Hati-hati dijalan, Jova. Bawanya jangan ngebut.”
“Nah, hehehe. Thank you, Angga!”
“Heleh, caper!” cemooh Reyhan.
“Bilang apa, kamu?! Aku lempar ini helm mampus itu jadi gegar otak!!”
Reyhan langsung mengangkat kedua tangannya gesit hingga sampai di dekat wajahnya. “Eh, maap! Ane (Aku) keceplosan tadi!”
Kyra menahan tawanya pada lelucon kedua kakak kelasnya yang selalu saja ribut melulu. Freya yang melihat tingkah sahabat-sahabatnya itu sampai lagi-lagi menggelengkan kepalanya, karena sebetulnya gadis polos itu tobat sekali pada kelakuan mereka setiap hari, beda dari Angga yang bawaannya hanya diam dan cuek.
Freya menolehkan kepalanya ke arah Kyra yang masih belum kunjung pulang. “Kyra tadi berangkat ke sekolah naik apa?”
“Naik taksi online, Kak- oh iya sampe lupa! Kyra perlu memesan taksi dulu nih, keburu nanti selak Maghrib.”
“Eh nggak usah naik taksi online, kan sayang banget sama uangmu karena harus membayar ongkos. Mending, Kak Freya antar Kyra ke rumah, yuk. Rumah kita kan juga sebelahan.”
Kyra yang hendak mengeluarkan ponselnya dari dalam tas ransel jingganya menjadi terhenti dan mengukirkan senyumannya pada tetangganya. “Wah, makasih banget, Kak Freya. Padahal niatnya Kyra nggak minta diantar, lho.”
“Hehehe, sama-sama!” jawab Freya dengan mengacungkan jari simbol peace.
Berselang kemudian, ketiga gadis itu mulai meninggalkan Reyhan dan Angga yang sedang duduk di trotoar tempat parkiran motor. Klakson kedua sahabat mereka menyimbolkan bahwa mereka pamitan pada lelaki-lelaki tersebut.
Nampak sudah jelas terasa sepinya wilayah lingkungan luar bangunan sekolah elite itu. Dan kini Reyhan menatap Angga yang nampak bungkam tak bersuara bahkan pandangannya menunduk untuk tetap menghilangkan rasa penatnya.
Reyhan beralih membuka resleting tas punggung hitam dark milik Angga bagian paling depan untuk mengeluarkan bungkusan strip obat sahabat akrabnya. Angga yang sadar cuma diam tanpa berkomentar apapun, berikutnya Reyhan menutup kembali resleting tas sang sahabat.
“Buat persiapan kalau cedera kepala lo balik kambuhnya, gue selalu siaga sama lo kalau sahabat hebat gue ini kenapa-napa.”
Angga menatap Reyhan selintas lalu kembali mengubah posisinya menunduk bersama pandangannya. Angga tahu sahabat yang paling aktif terhadapnya adalah Reyhan sang sahabat humorisnya yang pandai menghibur hati seseorang.
“Udah kayak bodyguard, aja gue pake acara siaga dan jagain elo. Hahahaha!”
Angga yang tanpa lagi memirsa sahabatnya hanya mendengus seraya menerbitkan senyuman tipisnya.
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1