
"Aku tidak bahagia dengan semua ini.
Jadi, maukah kamu bertukar posisi?"
*
Ketukan pintu terdengar di sebuah rumah minimalis bercat putih gading. Seorang wanita paruh baya dengan spatula di tangannya itu menoleh ke arah tangga lalu berteriak.
"RISA! TOLONG BUKAIN PINTU, ADA TAMU."
Beberapa detik kemudian, pintu depan terbuka menampakkan seorang gadis muda yang seketika membulatkan mata.
"MAMA, KAK ARIS BAWA CEWEK MA!"
*
"Pacar lo ya kak?" Risa kembali berkicau setelah menengok Jean yang kini tertidur di kamarnya--setelah dipaksa tentunya.
"Bukan," sahut Aris ketus.
Senyum menggoda muncul di wajah gadis SMP itu. Sambil terus mengikuti Aris yang turun ke lantai satu, Risa mengeluarkan hipotesis.
"Pasti ada sesuatu. Gak mungkin kakak gue yang hampir belok ini--aduh!"
Aris tahu benar apa arti kata 'belok' yang diucapkan adiknya. Dengan kesal, pemuda itu menjitak ubun-ubun Risa sedikit keras.
"Gue masih lurus, masih suka cewek."
"Ah masa?"
Tanpa menghiraukan pertanyaan unfaedah Risa, Aris kemudian beranjak menuju dapur. Mencomot brownies yang sedang dipotong-potong mamanya.
__ADS_1
"Pacar kamu ya kak?" Pertanyaan serupa kembali dilayangkan oleh sang mama.
Aris mendengus. "Bukan, Ma."
"Terus siapa?" sambar Risa.
"Vokalis baru Ocean."
Aris kembali ingin mengambil potongan brownies ketika mamanya memukul pelan tangan Aris, "Eit, ini buat arisan nanti!"
Aris manyun.
Risa terkikik.
"Eh tapi, dia cantik loh kak."
"Au ah, terang."
***
"Sekali lagi makasih, Tan. Maaf ngerepotin hehe." Jean nyengir kikuk.
Gina menepuk pundak Jean sambil berujar, "Santai aja Jean, Tante malah seneng Aris bawa cewek pulang, yah walaupun pas kamu gak sehat." Risa mengangguk setuju. "Lain kali, mampir ya. Kita makan bareng lagi."
"Iya, Tante. Kalau gitu saya permisi." Jean membungkuk sedikit sebelum berbalik. Namun suara Risa berakhir menghentikan langkahnya.
"Kak Aris, anterin kek ceweknya pulang. Tega amat."
***
Di sinilah Jean sekarang, duduk di depan pagar kost-kostan yang belum juga terbuka--bersama seorang pemuda bernama Aris yang turut duduk di sampingnya.
__ADS_1
Kedua remaja itu diam menatap jalanan-motor milik Aris-pohon di sekitar kostan-jalanan lagi-motor lagi-pohon lagi. Sampai Jean lelah sendiri.
"Oi, lo pulang gih. Ngapain coba masih di sini?" Jean melirik sedikit, memastikan pemuda di sebelahnya itu mendengar ucapannya.
"Gue pulang."
Dan begitu saja, motor Aris memutar haluan lalu meninggalkan asap tipis di area kostan Jean.
Sedangkan gadis itu hanya diam tak paham. "Jadi, dia nunggu gue usir? Atau dia kesambet terus baru sadar kalau masih di sini? Gak mudeng gue."
Beberapa detik berselang, Jean berdiri dengan kaki menghentak. "INI ORANG KOST MANA SIH? YA KALI GUE TIDUR DI LUAR NANTI MALEM," jerit Jean frustrasi.
Tak lama, seorang wanita paruh baya di sebelah kost, tergopoh-gopoh keluar rumahnya menghampiri Jean. "Eh? Neng Jean udah pulang? Ini neng, mbak Qia nitip kunci kost, dia lembur katanya."
Jean menerima sebuah kunci dengan gantungan bulu-bulu itu dengan senyum kecut. "Aku udah pulang dari tiga jam yang lalu Bik, kalau Bibik gak dateng, mungkin aku bakalan tidur di depan gerbang sampai pagi."
Wanita itu nyengir. "Maaf neng, Bibik ketiduran. Ya udah neng, gece masuk. Pasti capek, 'kan?"
Jean berjengit mendengar kata 'gece' yang diucapkan tetangganya itu. Terang saja, bahasa anak muda coy!
"Iya deh, Bik. Makasih ya, aku masuk dulu."
Begitu Bik Khasna kembali ke rumahnya, Jean bergegas membuka gerbang kost sambil mengambil handphone di saku seragamnya.
Namun sebuah pesan tak dikenal membuatnya urung memutar kunci gembok.
Cepat kembali atau saya tidak akan mengakui kamu lagi.
*****
Tunggu part selanjutnya, maaf lama up. Aku ada kesibukan di rl yang gak bisa dialihkan :(
__ADS_1