Indigo

Indigo
Chapter 107 | There's Still Care [Freya]


__ADS_3

Gadis yang telah mengenakan seragam rompinya beserta dasi pita rapinya, sedang duduk diam termenung di pinggir kasur. Semilir angin yang masuk ke dalam kamar ciamiknya, mampu meniup rambut terurai panjang halus hitam legam milik Freya. Semenjak gadis berwajah boneka itu bertengkar dengan ketiga sahabatnya, harinya menjadi berubah tidak nyaman, meskipun dirinya telah mempunyai pasangan kekasih.


Makan tidak enak, tidur selalu telat bahkan sampai berlarut-larut malam. Sebenarnya, ada rasa tidak tega mengatakan seperti itu dua hari yang lalu kepada para sahabatnya termasuk Angga, sahabat kecilnya sendiri. Senyap-senyap Freya memikirkan perkataan Reyhan dan Jova tentang keburukan Gerald pada Angga yang telah merusak reputasi sahabat kecilnya. Dalam hati kecilnya bertanya, apa maksudnya Jova serta Reyhan mengatakan seperti itu. Apakah ia terlalu terlena akan dunia cintanya dengan Gerald, hingga ujaran-ujaran yang dilontarkan sahabat-sahabatnya tak sudi gadis itu dengar?


Freya beranjak dari kasurnya dan melangkah mendekati meja belajarnya yang terdapat ada salah satu bingkai foto di sana. Freya kemudian mengambil bingkai foto tersebut yang tertera jelas itu adalah foto gambar ketiga sahabatnya dengan pose wajah bahagianya ialah senyuman menawannya. Freya mendudukkan pantatnya di kursi sembari menatap nanar foto tersebut yang dilapisi bingkai warna kesukaannya.


Gadis tersebut kemudian mengelus-elus foto sahabat-sahabatnya yang ditutupi oleh kaca transparan itu tanpa adanya retakan. Tanpa sadar, Freya meneteskan air matanya hingga jatuh mengenai foto yang ia pegang saat ini. Sampai tiba-tiba ada yang membuat Freya Syok bukan main karena wajah bahagia ketiga sahabatnya secara singkat berubah jadi muka ekspresi suramnya bahkan ada seraut gundah di tampang wajah sempurna mereka bertiga.


Freya yang tak percaya apa yang ia lihat di depan matanya ini, langsung cepat mengucek-kucek kedua matanya. Gadis tersebut kemudian menghembuskan napasnya lega dengan menutup mata, rupanya apa yang ia pandang barusan adalah sebuah halusinasi.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Freya menyenderkan bahu kanannya di gerbang rumahnya yang telah ia buka beberapa detik yang lalu. Tentu saja gadis itu berdiri di situ karena sedang menunggu Gerald datang untuk mengantarkannya ke sekolah, sebenarnya Freya ingin berangkat sendiri menggunakan motornya, akan namun Gerald tetap bersikeras buat mengantarkannya ke SMA Galaxy Admara.


Di situ bukan hanya menanti kekasihnya saja, namun juga menunggu Angga keluar dari gerbang rumahnya. Tetapi semakin lama gadis itu menunggu, ada sebuah firasat buruk terhadap sahabat kecilnya. Sunyi-nya dari luar rumah, membuat hati Freya tidak tenang pagi ini. Kepala Freya celingak-celinguk melihat balkon kamar Angga yang pintunya terbuka dengan lebar, mencari keberadaan sosok sahabat kecil tampannya.


Tin !


Suara klakson motor keras membuat Freya nyaris terlompat karena terkejut. Gadis itu menatap pacarnya yang baru saja datang dan kini menghentikan mesin motor Ninja-nya. “Gerald! Pagi-pagi udah ngagetin aja!”


Gerald terkekeh lalu kemudian menolehkan kepalanya sekilas ke belakang. “Ayo cepet naik, nanti kamu bisa telat ke sekolahnya.”


Gerald melepaskan helm full face-nya dari kepala dan menatap tidak suka pada Freya yang fokusnya di rumahnya Angga. Ada seraut wajah penasarannya mengapa Angga belum kunjung keluar dari rumahnya, biasanya jika sudah jam lewat, Angga sudah mendorong motornya keluar untuk ia gunakan ke sekolah.


“Kamu ngapain, sih ngeliatin rumahnya Angga terus? Kenapa? Kamu masih mau peduli sama cowok kaku kayak dia? Buat apa? Yang ada bikin hatimu jenuh, mending sama aku. Hatimu yang kosong bakal aku isi kalau kamu selalu bersamaku,” sewot Gerald.


Freya menatap nanar Gerald lalu kepalanya menunduk bersama kedua tangannya ia posisikan di depan roknya. “Rald, kayaknya aku udah salah deh sama Angga. Aku terlalu nggak peduli sama dia, kalau caraku begini ... persahabatan aku sama Angga bakal jadi renggang, nggak hanya dia saja tapi juga dengan kedua sahabatku lagi yang ada di sana.”


Gerald berdecih pelan seraya melipat kedua tangannya di dada, ia memalingkan mukanya dari pacarnya yang masih saja memedulikan Angga, padahal lelaki aura ketaksaan itu telah berusaha menjauhkan hati Freya dari hati Angga, walau mereka berdua hanya sebatas sahabat saja.


Tepatnya Gerald tidak ingin Angga merasakan kebahagiaan yang membuat hidupnya tentram karena keberadaan para sahabatnya yang setia mendampinginya.


“Kamu itu benar, dan Angga yang salah. Sudahlah! Buat apa juga orang seperti itu kamu kasih hati sama peduli-mu terhadapnya? Dia gak baik buat perempuan malaikat sepertimu. Sekarang ayo kita berangkat nanti kamu telat aku-nya juga yang ikut terlambat karena bahas cowok kaku gak jelas kayak dia!”


“Oh, apa jangan-jangan kamu sudah ada perasaan sama Angga, ya?”


Freya menautkan kedua alisnya. “Apa maksudmu? Aku sama sekali nggak ada perasaaan sama Angga, bahkan aku gak menganggap Angga lebih dari sahabat. Kamu pagi hari ini kenapa, sih?! Kok kayaknya sewot apalagi kamu udah mulai berpikiran negatif ke aku.”


Gerald yang sadar akan perilakunya barusan kepada Freya, langsung mengusap wajahnya. Jangan sampai gadisnya tahu bahwa Gerald memiliki niat buruk pada sahabat kecilnya. Gerald kemudian menangkup wajah Freya dengan lembut sembari menatapnya lekat. “Maafin aku, ya? Aku juga minta maaf lagi tadi agak bentak kamu, tadi. Aku soalnya lagi ada masalah yang nggak bisa aku ceritain ke kamu.”


Mata Freya berkedip-kedip. “Lho, kenapa nggak bisa? Kamu kalau ada masalah, ceritain ke aku gak kenapa-napa kok. Jangan ditutup-tutupin, nanti hatimu nggak lega, lho kalau dipendam begitu.”


Gerald tersenyum miring karena ia bertambah memiliki ide jahat untuk menjatuhkan Angga, Freya yang melihat tampang aneh Gerald baginya, memiringkan kepalanya karena bingung bahkan gadis itu tak seperti kedua sahabat lelakinya yang hebat membaca pikiran dan batin orang. Hingga detik kemudian, Gerald menoleh menatap Freya kembali dengan senyuman ia ubah menjadi sunggingan senyum lembut.


“Suatu ketika kamu akan tahu jika aku membawamu ke suatu tempat. Dan aku jamin pasti kamu bakal menyukainya. Begitupun tentang hal ini, kamu akan terkejut dan juga nggak menyangka apa yang telah sudah terjadi yang membuat diriku hancur.”


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam kamar yang senyap, Angga di atas kasur tengah tidur dengan tubuh terlentang. Wajahnya amat pucat, bahkan meskipun ia sedang tidur, tetapi gerakan hela napasnya seperti terputus-putus. Tidurnya jelas tidak nyaman karena ia merasakan sesak di dadanya, bahkan kepalanya yang pusing berlebihan hingga rasanya ingin pingsan.


Kedua arwah yang lagi berdiri di luar kamar Angga ialah balkon, berbalik badan untuk menghampiri manusia Indigo tampan tersebut yang kondisinya masih sangat lemah. Senja yang telah berada di sampingnya Angga begitu khawatir melihat muka pucat manusia itu bahkan hela napas dadanya tak beraturan. Bibirnya terlihat jelas pucat-nya, sementara mulutnya sedikit terbuka.


Sampai tiba-tiba Angga menjadi membuka matanya saat mendengar suara ringtone ponselnya yang ada di meja nakas samping tempat tidurnya. Dengan lemas, Angga meraih HP-nya dan langsung mengangkat tanpa melihat terlebih dahulu layarnya siapa yang menelponnya di pagi nang mataharinya sudah naik ke atas langit biru.


...----------------...


...REYHAN...


^^^Halo? Siapa ...^^^


Ini gue Reyhan, Ngga


^^^Oh. Lo kenapa nelpon gue ...? Ini Masih pelajaran, kan ...^^^

__ADS_1


Hehehe, ini udah jam istirahat, Bro. Lo coba lihat aja di jam beker, HP, atau jam dinding di kamar. By the way, gimana keadaan lo sekarang? Lo udah membaik??


^^^Menurut lo ...?^^^


Ehmm, pasti belum sama sekali, ya? Gue baca dari sini lo memang masih sama, Bro


^^^Hmmm...^^^


Yaudah gini aja dah, gue sebenernya punya niatan buat nginep di rumah elo. Gue mutusin pergi nginepnya hari Jumat pas pulang sekolah, boleh? Gue mau nemenin lo di rumah terlebihnya lo kan lagi sakit Demam, bisa lah gue jadi suster lo buat sementara sampe lo bener-bener sembuh


^^^Ya. Boleh saja ... makasih, Rey. Gue tunggu besok ...^^^


Mantap, Ngga! Yaudah mending elo sekarang balik istirahat, ya? Jangan banyak pikiran, bahaya buat kesehatan sama cedera kepala lo. Oh iya kalau kepala lo sakit, langsung minum obatnya, oke?


^^^Oke ...^^^


Sip! Good bye, Bro!


^^^Too ...^^^


...----------------...


Angga mematikan teleponnya dari kontak Reyhan kemudian meletakkan ponselnya kembali di meja nakas, setelah itu saat Angga ingin menarik selimut hitam tebalnya balik untuk menutupi seluruh tubuhnya agar dirinya merasa tak kedinginan, Angga tak sengaja menatap Senja dan Cahya.


“Kenapa kalian di sini ...?”


“Lo masih baik-baik aja kan, Ngga? Muka lo sumpah pucet banget kayak mau mati.”


“Diem lah, lo.” Angga mulai menghadapkan tubuhnya ke kiri untuk membelakangi Cahya begitupun Senja. “Lebih baik kalian pergi saja ke dunia arwah-roh, jangan ganggu gue ...”


Senja yang memiliki rambut unik antara warna hitam dengan selang-seling putih di tengah-tengah rambutnya, memanyunkan bibirnya bersama muka sendunya. Sedangkan Cahya menghela napasnya seraya bersedekap dada sambil menggelengkan kepalanya pula tampang wajah gundahnya. Manusia Indigo tersebut memang tengah sedang imun tubuhnya turun yang membuat keadaannya sangat lemah, dan kedua hantu aura positif itu tak tahu apa yang telah terjadi dengan Angga.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Hari Jumat - Pukul Jam 15.30 PM


Di luar rumah, Angga menuangkan cairan oli itu dari botol minyak dengan hati-hati. Kemudian lelaki tersebut mencoba menarik-mendorong secara berulang-ulang untuk memastikan roda gerbang tersebut sudah tak lagi mengalami macet alias lancar kembali seperti semula. Pemuda itu menganggukkan kepalanya karena tugasnya telah beres, Angga menutup botol cairan oli tersebut lalu hendak balik menuju ke dalam rumahnya.


Namun tiba-tiba dari belakang kepala Angga dilempar pakai batu kerikil, membuat sontak pemuda itu meringis mengusap-usap kepalanya dengan memutar tubuhnya ke belakang. Hatinya berusaha ia redamkan amarahnya karena rupanya itu adalah ulahnya Gerald yang siap melakukan sesuatu pada lelaki tampan tersebut.


Angga meletakkan botol oli di pojok teras rumahnya kemudian menghadap ke arah Gerald dengan tampang datarnya. “Mau apa lo datang ke sini? Gue lagi nggak mau ambil urusan apapun sama lo, lebih baik lo pergi dari sini. Lo juga nggak penting untuk gue sendiri.”


Gerald menggertakkan giginya dengan kedua telapak tangan saling mengepal kuat. Pemuda pemilik mata hijau itu melangkah cepat mendekati Angga yang berada dekat di teras rumahnya. “Cih, gue memang nggak penting untuk lo sendiri, tapi!”


Grep !


Gerald menarik ujung atas pakaian baju oblong oranye Angga ke depan seraya mencengkram-nya, wajah kulit putihnya ia dekatkan di muka kulit kuning langsat-nya dengan mata melotot, sementara Gerald membentuk sunggingan senyuman Iblisnya. Angga tahu apa yang akan dilakukan Gerald untuk melukai fisiknya.


“Tapi, tetap gimanapun, elo adalah urusannya gue! Dan gue pengen menguji betapa hebat dan kuatnya lo menghadapi orang seperti gue!”


BUGH !!!


“UGH!!!”


Salah satu anggota tangan Gerald, menonjok perut Angga dengan kencang membuat Angga berteriak kesakitan. Karena memar perutnya itu masih dalam proses pemulihan, belum sembuh total. Gerald melepaskan cengkraman-nya membiarkan Angga terjatuh di lantai pekarangan rumahnya. Di bawah Gerald, Angga tertatih-tatih dengan memegang perutnya bersama mata terpejam kuat.


Angga yang murkanya telah diujung tanduk, mulai memaksa dirinya berdiri lalu membalas perlakuan kekerasan Gerald barusan. Mata Angga mencuat tajam kemudian memberikan bogeman mentahnya di wajah lelaki tersebut.


BUAGH !!!


Seketika Gerald mendapatkan luka lebam di salah satu sudut bibirnya hingga mengeluarkan sedikit darah. Gerald yang amat tak terima dirinya di hajar oleh musuh bebuyutannya, auto gesit menerjang Angga dengan cara menendang dadanya kuat hingga tubuhnya terpelanting ke belakang. Dari situlah, Angga kembali menerima sesak di dadanya karena tendangan Gerald sungguh dahsyat. Berupaya bangkit, namun Gerald lebih dulu menginjak-injak perutnya bersama teganya lalu kemudian beralih menggencet leher Angga menggunakan kakinya yang bersepatu.


“Ternyata lo lelaki lemah! Gini saja lo sudah nggak bisa apa-apa, kan?! Jika begini lo sanggup apa, hah??!!” geram Gerald seraya makin menekan leher Angga.

__ADS_1


“Huk!! Uhuk uhuk uhuk!!!”


“R-r-rald! L-lepasin g-gue- uhuk uhuk!!!”


Gerald menaikkan kedua alisnya. “Oh, minta di lepas? Jangan harap gue mau melepaskan elo dengan siksaan ini! Karena elo udah bunuh sahabat gue, lo harus merasakan kesakitan yang sama! Tapi tenang saja, gue nggak akan mencoba menamatkan jiwa lo. Karena waktunya belum tepat bagi gue mengakhiri nyawa diri lo, Anggara bajingan.”


Gerald dengan jiwa kasarnya, menarik leher Angga ke atas hingga otomatis tubuhnya menjadi berdiri gara-gara Gerald. Tak sampai itu saja, setelahnya lelaki bermata iris hijau tersebut mendorong tubuh Angga sembari kedua tangannya memegang erat leher pemuda tampan itu. Gerald sengaja membenturkan kepala Angga beserta tubuhnya di tembok pekarangan rumah dengan tenaga kuatnya.


Hal itu yang Angga rasakan pertama, sakit cedera kepalanya kembali kambuh bekerja untuk menyerang kepala miliknya. Sedangkan posisi Gerald tengah mencekik leher Angga sekuat tenaga maksimalnya. Belum puas dan pas untuk menyakiti fisik lelaki musuhnya, Gerald menempelkan telapak kaki kanannya di dada bidang bagian tengahnya Angga kemudian lalu menggencetnya dengan perasaan bahagianya karena telah melihat Angga kesakitan luar biasa.


Wajah Angga memerah, bibirnya memucat saat ia tak mendapatkan oksigen dalam tubuhnya. Bahkan dirinya tak mampu meraup udara sore sedikitpun. Jika siksaan ini tak dihentikan Gerald secepatnya, pemuda tersebut cepat meninggalkan dunia untuk selamanya. Tidak ada suara yang keluar dari mulut Angga, dikarenakan napasnya terhambat membuat mengeluarkan suaranya sama sekali tak sanggup.


Tubuhnya kembali tak berdaya. Dan kini Gerald menurunkan kaki kanannya untuk menonjok perutnya Angga di bagian ulu hatinya hingga rasanya Angga ingin memuntahkan darahnya dari dalam mulut. Gerald melepaskan siksaannya untuk Angga begitu saja, sementara lelaki yang sudah lemah itu terjatuh kembali dengan posisi terduduk.


Sudah cukup ia kekurangan oksigennya akibat ulahnya Gerald. Angga menyentuh dadanya dengan meringis, matanya terpejam kuat. “Belum tuntas masalah gue dengan lo, Ngga!!!”


DUAGH !!!


Gerald menendang dada Angga sekali lagi kemudian melengos meninggalkan lelaki itu yang sudah sangat tidak berdaya. Kedua matanya setengah menutup apalagi dadanya begitu sesak sehingga Angga tak mampu bernapas dengan normal.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Freya yang meletakkan tas ransel piks-nya di kursi kamarnya, bola matanya tak sengaja melihat Angga yang terkapar lemah di pekarangan rumah sahabat kecilnya, sementara posisi gerbang hitam rumah Angga terbuka dengan cukup lebar. Mata Freya langsung membelalak terkejut kemudian tanpa lama-lama, gadis tersebut memutar tubuhnya untuk turun dan keluar berlari menghampiri Angga, tak peduli pertanyaan kedua orangtuanya ia ingin kemana.


Freya juga tidak memedulikan kekasihnya yang hendak ingin naik motor Ninja hijau corak hitamnya. Gerald yang menatap kepergian gadisnya itu begitu benci karena hatinya masih saja memedulikan pemuda tidak waras sekaligus bekas pembunuh yang membunuh sahabat terbaiknya, menurut Gerald.


Freya berlari kencang lalu terhenti saat bola matanya melihat Angga terduduk lemas dengan terbatuk-batuk mengeluarkan cairan merah pekat dari dalam mulutnya. “A-anggaraaa!!!”


Angga yang sayup-sayup mendengar suara teriakan lengking dari Freya, dengan lemahnya mendongakkan kepalanya ke arah sahabat kecilnya yang berlari kencang mendatanginya. Namun, pandangannya tatkala langsung berkunang-kunang dan kegelapan mendatang. Matanya yang terpejam, tubuhnya ambruk lemas di lantai pekarangan rumah miliknya.


Freya berjongkok cepat lalu menepuk-nepuk salah satu pundak Angga. “Ngga?! Ngga?! Kamu masih dengar suaraku?!”


Sayangnya, Angga sama sekali tidak merespon gadis tersebut, tak ada pergerakan tubuhnya sama sekali bahkan kedua matanya juga tidak membuka.


Freya dengan panik memutuskan bangkit dari jongkok-nya dan meninggalkan Angga sebentar untuk meminta bantuan kepada Gerald yang masih memanaskan motor sport-nya. Saat Freya berteriak berlari memanggil pacarnya, entah pura-pura tuli atau apa, lelaki itu dengan gampangnya meninggalkan Freya begitu saja bersama motornya yang telah melaju pada kecepatan maksimal.


“Aduh! Kok dia bisa-bisanya pergi gitu aja sih?! Apa aku kurang kenceng teriaknya?! Ah! Sudahlah!” Freya balik badan ke belakang dan kembali berlari mendatangi Angga.


Kini sekarang Freya duduk di atas kepala sahabat kecilnya, lalu kedua tangan halusnya mulai sedikit mengangkat badan serta kepala Angga. Gadis yang masih mempunyai rasa peduli terhadap sahabatnya, tengah meletakkan kepala Angga perlahan di atas kaki pahanya. Freya kemudian menepuk-nepuk pipi sahabat lelakinya beberapa kali untuk menyadarkannya.


Apalagi mulut yang berdarah itu dari bekas muntahannya tersebut, membuat detak jantung Freya berpacu kencang jika Angga memiliki penyakit sesuatu. “Angga, ayo dong please, bangun!”


Freya menangkupkan wajah pucat Angga dengan kedua telapak tangannya lalu menggerak-gerakkan kepala sahabat kecilnya, barangkali bisa dibangunkan. Akan tetapi hasilnya nihil, Angga juga tak kunjung sadarkan diri. Freya melihat gerakan hela napas di dada Angga, pendek. Yang jelas pemuda tersebut kekurangan oksigen namun hanya saja Freya tidak mengetahuinya kalau pacarnya lah yang sudah membuat Angga hilang kesadaran.


Freya berusaha membangunkan Angga dari ketidaksadaran dirinya dengan mengguncang-guncang raga lemah lelaki sahabatnya. Sementara darah yang ada di luar mulut Angga, mulai mengering karena terkena hembusan angin yang menerpa. Gadis itu semakin panik hatinya dibuat oleh Angga, perlahan air matanya jatuh mengalir ke pipinya.


“Angga, aku harus gimana?! Tolong ayo bangun! Hiks, jangan buat aku takut begini, Nggaaa!” rengek Freya seraya menundukkan kepalanya hingga ujung kepalanya itu menempel di puncak kepala sahabatnya yang terasa lebih hangat.


Sampai tiba-tiba dipertengahan kepanikan dan tangisannya, Freya menarik wajah cantiknya yang berlumuran air matanya ke arah suara motor yang familiar di kedua telinga gadis tersebut. Freya rada lega saat dirinya melihat Reyhan yang datang.


Reyhan nampak melepaskan helmnya gesit dengan mata terbelalak penuh kemudian turun dari motornya bersama tas ranselnya yang ia tenteng di punggungnya. “What happened to you, Bro?!”


Reyhan berlari kilat mendatangi Angga begitupun Freya yang dilanda kepanikan hebat. “Rey! Syukurlah kamu ada di sini! Hiks! Tolong bantuin Angga, Angga pingsan!”


Reyhan yang memegang bahu-bahu Angga, mendongakkan kepalanya dan menatap Freya dengan raut wajah cemasnya. “Kenapa dia bisa pingsan?! Ini udah kesekian kalinya, lho Angga pingsan kayak kemarin!”


Freya menggelengkan kepalanya kuat. “Hiks! Aku gak tau kenapa Angga bisa pingsan, yang jelasnya tadi pas aku lihat, Angga sempat batuk-batuk sampai ngeluarin darah dari mulut sebelum Angga pingsan!”


Reyhan menghempaskan napasnya kasar lalu mengangkat Angga untuk dirinya bawa secara ia gendong ke belakang punggungnya. Sekarang Reyhan berdiri dengan membawa sahabatnya “Gak apa, Angga mending di bawa ke dalem rumah dulu aja!”


Freya menganggukkan kepalanya saja dengan menyeka air matanya lalu memungut tas ransel warna army Reyhan yang sempat sahabatnya lepaskan tasnya untuk membawa Angga segera ke dalam rumah yang kondisinya tengah tidak sadarkan diri.


Freya melangkah untuk memasuki dalam rumahnya Angga yang jarang ia injak lantainya karena sibuk dengan urusan hari bersamanya pada Gerald. Jantung gadis cantik yang wajahnya macam boneka tersebut masih berdegup kencang tak karuan, ia begitu mengkhawatirkan Angga hingga sempat menangis karena kondisi parah Angga yang secara tiba-tiba nang membuat dirinya Syok bukan main.

__ADS_1


Apa yang sebelumnya terjadi pada Angga hingga ujungnya Angga mengalami kesadaran yang menurun drastis? Adakah seseorang yang telah membuat Angga menjadi seperti ini? Itulah yang dipertanyakan dalam relung hatinya Freya.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2