
Lala yang terus melangkah di belakangnya Jevran, berhenti dan membungkukkan badannya dimana kedua telapak tangannya saling memegang dua lutut dengan seraya menghembuskan napasnya kencang.
“Kamu kenapa, La?” tanya Jevran usai barusan memutar langkahnya ke belakang dan menatap temannya.
“Capek banget! Jalan mulu gak nemu apa-apa,” keluh protes Lala.
Jevran melangkah menghampiri Lala dengan simpulan senyum yang terukir di bibirnya. “Ayo kita istirahat dulu, jangan dipaksain kalau emang sekarang capek.”
Lala mendongakkan kepalanya ke arah Jevran yang ada di depannya. “Istirahat dimana? Gak ada tempat buat kita rehat.”
Jevran mulai menyapu sekitar untuk mencari tempat istirahat buat dirinya dan teman perempuannya. Dan pada akhirnya ia menemukan tempat yang lumayan cocok. “Kita bisa istirahat di samping sana, di sana pohonnya rindang dan aman untuk kita beristirahat.”
Lala mengangguk lalu menegakkan badannya. “Ayo, kalau gitu.”
Mereka berdua mulai melangkah mendekati pohon rimbun yang ukurannya sangat menjulang tinggi dan besar. Mereka saling duduk dan meluruskan kedua kakinya, tentunya menghilangkan rasa pegal yang menjalar di otot-otot kaki.
Lala menghembuskan napasnya kembali seraya bersandar dibawah pohon rimbun. “Kapan kita bisa nemuin mereka semua? Sedangkan udah fix kita tersesat di dalem hutan baka ini!”
“Kesel gak bisa selesaikan masalah,” kata Jevran dengan santai sambil bersedekap di dada bahkan kedua matanya ia pejamkan.
Dengusan Lala terdengar di telinga Jevran, apalagi gadis berambut lurus itu menatap temannya keki. “Sendirinya aja suka kesel. Bawaannya suka emosi mulu!”
“Hey, kata siapa?!”
“Kata semua orang. BTW, aku khawatir sama rindu bener sama mereka kayak Rena, Jova, Freya, Angga, Aji, Reyhan. Kira-kira posisi mereka gimana, ya? Semoga aja mereka berenam baik-baik saja.”
“Huh, Aamiin ... aku juga sama seperti kamu, tapi yang lebih aku cemaskan si tetanggaku Reyhan. Mana itu anak suka banget ceroboh, gak tahu kalau dia buat biang masalah di hutan rawan kayak begini.”
Kedua remaja itu kini saling berdiam diri dengan menatap langit-langit malam yang tanpa adanya taburan bintang kecuali bulan purnama berwarna merah darah. Menyeramkan, tidak? Seperti terjadi fenomena alam atau kedatangan gerhana.
Hingga pandangan mereka berdua teralihkan oleh dua seorang remaja yang berlari kencang secara tergesa-gesa. Jevran dan Lala langsung menegakkan posisi duduknya dengan menatap terkejut siapa yang mereka lihat barusan.
“RENA?! AJI?!”
Aji berhenti lari secara mendadak membuat Rena yang berlari di belakangnya, menabrak kencang punggung kokoh milik lelaki temannya tersebut. “Aduh, hidung mancung gue!”
Aji yang kaget, segera memutar tubuhnya dengan ekspresi terperangah. “Eh sorry, Ren! Gak patah, kan itu hidung cantikmu? Hehehe!”
Rena langsung memukul bahu Aji agak kuat dengan salah satu tangannya, sementara tangan sebelahnya ia gunakan untuk memegang hidungnya yang memerah karena telah menghantam punggung temannya. Sedangkan seperti Jevran dan Lala yang telah memanggil mereka berdua, bangkit berdiri dari rehatnya lalu berlari kecil untuk menghampiri kedua temannya.
“Serena Ara Clarettaaaa!!! Sumpah, akhirnya gue bisa ketemu ama diri looooo!!” pekik Lala sambil memeluk erat Rena.
Rena melepaskan telapak tangannya dari hidung semburat merahnya lalu lekas membalas pelukan temannya dengan dekapan eratnya bersama senyum gembiranya. “Hahahaha! Iya! Gue juga seneng banget ketemu sama elo, Laaaaa!!!”
Jevran yang melihat kedua gadis itu saling melompat-lompat girang dengan tetap mendekap satu sama lain, mengusap tengkuknya yang dingin sambil membentuk bibirnya jadi nyengir.
“Buset, dah anjir! Kaum hawa emang suka pada lebay kayak mereka gini, ya? Kok gue ngerasa geli banget ...”
“Jevran Adifian Luji! Demi apapun itu, gue lega dan bahagia banget akhirnya telah sekian lama gue bisa melihat temen gue ini lagi!!” riang Aji seraya memeluk Jevran dengan sangat erat. Ya, ingin meniru teman-teman perempuannya.
“Eh apaan ini, Cog?! Lepasin gue! Jangan main peluk-peluk segala! Ih, jijik bener gue!!” kesal Jevran dengan melepas paksa kedua tangan Aji yang mendekap tubuhnya sampai terurai.
Aji mendengus dengan memanyunkan bibirnya seperti seorang perempuan. Ya, bagi Jevran temannya itu memiliki sisi blasteran wanita. “Masa dipeluk sama gue lo kagak mau, sih?”
“Najis, gue sampe mau dipeluk sama lo! Mending gue meluk guling aja daripada orang!” sembur Jevran.
“Memeluk, kan berdasarkan cita rasa kasih sayang! Berarti lo gak sayang sama gue, dong?” Pertanyaan Aji membuat Jevran melotot tajam dengan rahang mulai mengeras.
“Maksud lo apa?! Gue masih cowok normal, Bego!!” damprat Jevran sambil melampang keras lengan tangan kanan temannya.
Aji langsung mengusap-usap lengannya yang terasa sakit sampai mendesis. “Sssshh ... sakit, Anjir! Gak usah pake nabok orang, kan bisa! Maksud gue tuh, sayang temen bukan sayang pacar!”
“Ooooo ... ngomong tuh jangan setengah-setengah juga, dong! Jadinya gue gak bakal salah paham sama elo.”
“Halah, pake gak mau disalahin, lagi! Itu otak fungsinya buat apaan kalau lo sendiri aja diemin kayak patung mummy?!” sengit Aji sambil menjitak tempurung kepala Jevran yang berambut model style belah samping.
“Ya, maaf! Gak usah pake acara jitak-jitak kepala anak orang, napa?!” protes Jevran dengan menyentuh kepalanya tempat dimana setelah Aji menjitaknya keras.
“Elo juga sama ya, Anying! Lo gak usah pake acara nabok-nabok tangan anak orang segala! Setiap manusia tuh pasti memiliki rasa sakit!”
“Gak cuman manusia doang, tuh! Hewan dan tumbuhan juga punya rasa sakit!” ujar Jevran tak mau kalah dari omongannya Aji.
“Eits! Ada satu lagi yang belum lo sebutkan, benda mati juga mempunyai rasa sakit.”
Jevran mengerutkan keningnya. “Kok bisa? Darimana? Asal ngarang, lo!”
“Enggak, woy! Nih, contohnya pas kita gebrak meja kelas. Tuh pasti ada suaranya gini, kan 'brak' nah berarti dia juga merasakan sakit seperti makhluk hidup! Bener, kan?” tutur Aji penuh percaya diri.
“Anjay ... pede amat, lo! Gak gitu juga konsepnya, Sialan! Setiap benda pasti memiliki sumber suara yang sengaja dibunyikan atau gak disengaja! Bukan karena merasakan sakit! Gimana sih lo, ah?!”
“Eh iya juga, deng ...”
“Aaah! Tetep aja gue bener!!” sangkak Aji.
“Kenapa?! Gak mau disalahkan?!” semprot Jevran dengan mencondongkan kepalanya ke dekat wajah temannya yang setengah berang.
“Elo juga sama, ya! Gak usah sok-sokan lo jadi temen tetangganya si Kunyuk Sutres!” lawan Aji dengan ikut mencondongkan kepalanya.
“Elo juga sama!”
“Elo juga sama, Kampret!!”
Rena yang telah melepaskan tautan pelukannya bersama Lala, langsung menoleh ke arah dua lelaki itu yang bermain adu mulut di hutan belantara ini. Dengan segera, gadis itu langsung melangkah kesal kemudian menjewer salah satu telinga dari kedua temannya.
“Aduh, kalian ini kenapa, sih?! Mulut kalian itu berisik banget tau kayak radio rusak!” ucap Rena menaikkan oktaf nada tingginya sambil memperkuat tarikannya.
“Akh sakit, Ren! Ampun-ampun!!” teriak Aji dan Jevran secara bersamaan.
“Kalian itu udah dewasa! Singkirkan sifat bocahnya yang kayak anak TK sama anak SD-nya!” ujar Rena memberi keampunan kedua temannya dengan melepaskan sepasang tangannya yang berguna untuk menarik telinga lelaki-lelaki berkulit kuning langsat tersebut.
Lala yang melihatnya sampai tertawa pada aksi Rena untuk Jevran dan Aji agar berhenti debat. Bahkan sekarang kedua pemuda itu mengusap-usap telinga yang usai dijewer Rena pakai tenaga.
“Sakit banget, sumpah. Eh, kalian berdua tadi kenapa lari-lari gitu kayak dikejar setan?” tanya Jevran.
“Oh itu! Tadi aku sama si Aji lari karena mau dikejar sama buaya siluman! Paling hampir sejam kami larinya meski itu hewan gaib udah gak bisa ngejar kami lagi.”
Jevran langsung melepaskan telapak tangannya dari telinganya. “Hah? Buaya siluman? Yang bener aja kamu, Ren. Emangnya di hutan ini ada hewan yang modelnya kayak gitu?”
“Ya ada, lah! Ini kan hutan yang pasti banyak penghuni setannya. Awalnya tuh gini, gue sama Rena niatnya mau cari sumber mata air di sekitar hutan luas sini. Kami nyari karena buat basuh muka dan baju gue yang habis kena lumpur.”
“Hahahaha! Nasib apes kembali datang!” ejek Jevran.
“Sial, lo! Akhirnya kami menemukan sebuah kawasan luas dan banyak hamparan rerumputan hijau, di tempat yang gue sama Rena datengin ternyata ada air danau di sana. Tapi setelah gue selesai membersihkan semuanya, gue ngelihat dua cahaya berwarna hijau yang jalan mengambang di atas permukaan air.”
“Nah, selanjutnya tanpa aku sadari .. di depanku ada buaya warna agak merah yang pengen menerkam aku sebagai santapan makanan malamnya. Tapi untung saja Aji langsung narik badanku dari belakang,” sambung Rena melanjutkan Aji cerita.
Lala yang menyimak ceritanya dari kedua temannya, menyipitkan sepasang matanya. “Lalu, tentang buaya siluman itu bagaimana?”
“Kami berdua berusaha lari dari sana, tetapi buaya itu justru datengin kita ke daratan. Wajar juga, sih buaya ada yang bisa bertahan di daratan. Secara tiba-tiba detik setelahnya, buaya yang menjadi bahaya buat nyawa kami menghilang begitu saja,” tanggap Aji mengulas ceritanya.
“Buaya itu kembali muncul di tepat samping aku sama Aji saat sedang mencari keberadaan binatang itu. Kami lari kenceng sekuat tenaga yang kami punya untuk keluar dari kawasan tempat danau. Dan kalian tahu, nggak apa yang aneh?”
“Apaan?” tanya penasaran Lala dan Jevran.
“Buaya siluman bermata cahaya hijau itu susah menggapai kami karena binatang karnivora itu dibatasi wilayahnya oleh benda tembok yang sama sekali gak kelihatan alias tidak kasat mata.”
Jevran hanya terdiam dengan wajah terpasang raut terkejut setengah tak percaya apa yang diceritakan oleh Rena barusan. Ya, tapi ia harus mempercayai karena tidak mungkin gadis itu bercerita non fakta di tempat hutan asing seperti ini.
“Kalau menurut gue sih ya, Ren. Itu hal yang gak masuk akal banget. Tapi syukur deh kalian berdua gagal menjadi santapan buaya siluman kelaparan itu,” buras Lala.
Rena tersenyum dengan menganggukkan kepalanya, sementara Aji nampak merenungkan sesuatu sampai mengangkat wajahnya ke atas langit. Jevran yang melihatnya, auto bertanya bersama ekspresi bingungnya.
“Lo kenapa, Ji? Kayak lagi mikirin sesuatu.”
“Hmmm ... Guys, berarti hutan yang kita injak ini adalah bukan hutan sembarangan. Tetapi hutan yang dipenuhi berbagai hal dunia misteri dan gaib, buktinya ada buaya siluman dan benda yang nggak kelihatan. Mungkin jika dinalar secara logis, buaya itu nggak bisa meninggalkan wilayah yang menjadi penghuninya selamanya atau bisa dinamai tempat tinggalnya.”
Rena dan Lala yang mendengar ucapan panjang lebar Aji seksama, menganggukkan kepalanya tanpa senyuman yang mereka patri. Sementara Jevran cuma mampu menggaruk kepalanya karena tidak mengerti tentang dunia perhantuan.
“Eh iya, si Angga?!” pekik Lala tiba-tiba membuat ketiga temannya menoleh ke arahnya.
“Kenapa lo mendadak nyebut namanya Angga? Ada apa? Kok muka lo takut gitu, kayak itu cowok dapetin musibah besar aja.”
“E-enggak. Enggak gitu! Kalian bertiga inget, kan kalau Angga itu adalah anak Indigo?!”
“Ya, terus?” tanya Jevran.
“Gimana kalau dia dapet masalah kayak diteror banyak hantu yang menghuni hutan ini?! Biasanya kan kalau di hutan horor kayak gini, kebanyakan energinya jahat-jahat atau negatif gitu.”
“Kan, belum tentu kalau Angga sampe bertempat di hutan yang menjadi jalan sesat untuk kita berempat,” jawab Rena setengah ragu.
“Gak mungkin dong, Ren! Kita aja tersesatnya di hutan ini apalagi dua cowok ini! Angga pasti juga sama seperti kita semua. Termasuk kayak Jova, Freya, dan Reyhan!”
“Santai aja dong, ngomongnya. Kenapa kamu khawatir banget, dah sama Angga? Kamu suka, ya?” ledek Aji.
Mata Lala melotot. “Ih, apaan sih?! Ya mana mungkin aku suka? Angga, kan udah punyanya Freya. Ya kali masa aku menikung dia dari belakang? Lalu Freya mau ku taruh dimana? Kasihan, tau!”
Aji melipatkan kedua tangannya dengan bermuka tenang. “Ada pepatah, nih. Cinta itu tidak harus memiliki, barangkali kamu menyimpan rasa suka sama Angga di lubuk hati kecilmu.”
“Stop, ah! Bisa mampus aku kalau Freya sampai denger. Freya tuh cinta mati sama Angga, jadi aku gak mungkin menyepelekan rasa kasih sayangnya Freya ke hatinya cowok ganteng kayak oppa Korea itu, meski sedih juga sih aku malah keduluan cewek yang lebih cantik dan manis kayak si Freya daripada diriku yang kucel untuk mendapatkan hati Angga.”
__ADS_1
“Buju buneng! Curhat, nih ceritanya?” Rena tertawa mendengar seluruh rentetan curahan hatinya Lala pada Aji.
“Udah ngaku orangnya kalau mukanya burik, haha!” maki Aji dengan tawa renyah hingga Lala yang terlanjur jengkel, langsung menginjak kaki sepatu milik lelaki itu.
“Akh! Sakit, lho!!” omel Aji meringis kesakitan sambil mengangkat kaki kanannya yang mana telapak kaki punyanya telah diinjak kencang oleh Lala.
“Sakit, ya? Suruh siapa kamu ngatain aku muka burik?! Gak nyadar, apa kalau mukamu sendiri kayak gimana?!” cerca Lala.
“Lah? Tapi, kan situ tadi bilang kalau kamu burik pas lagi curhat sama aku soal sepasang kekasih itu,” rengek Aji.
“Burik sama kucel itu beda, Ajinomoto!!”
“Eh, sudah-sudah! Soal mereka berempat lebih baik kita cari bersama-sama saja, yuk. Kita juga sambil Berdoa semoga mereka di sana baik-baik saja dan nggak mengalami hal kejadian yang buruk atau diluar nalar. Mungkin hutan ini sangat berbahaya untuk Angga yang mempunyai mata indera keenam.”
Ketiga temannya Jevran menganggukkan kepalanya dengan tampilan raut ekspresi gundah. Setelah itu, mereka mulai melangkah melanjutkan perjalanan untuk mencari keberadaan teman-teman terbaik mereka yang lainnya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Diperjalanan yang tentunya tidak tahu arah, keempat remaja pemilik postur tubuh tinggi dengan wajah cantik-cantik dan tampan-tampan tersebut menyusuri senyap gelapnya hutan belantara ini. Reyhan tetap setia dan tanpa mengeluh untuk menuntun Angga berjalan yang langkahnya telah tidak seimbang serta normal.
Napas sahabatnya juga tetap tak konsisten, dadanya masih terasa sesak ibarat dihimpit oleh benda yang keras pula besar. Kepalanya ia tundukkan ke bawah seraya telapak tangannya menyentuh seluruh wajah kulit putih tampannya, kedua matanya posisinya Angga pejamkan dikarenakan pusingnya yang merajalela.
Reyhan menoleh dan menatap sendu Angga. “Kalau lo emang sudah gak kuat, biar gue papah lo ke belakang punggung.”
Angga melepaskan telapak tangannya lemas dari wajah pucatnya kemudian menolehkan kepalanya ke arah Reyhan dengan gerakan lemah seraya tersenyum tipis. “Gue masih kuat ...”
Reyhan membungkamkan bibirnya lalu mengangguk dengan wajah setengah bimbangnya. “Jika sudah gak kuat, lo bilang saja ya sama gue. Gue emang bisa baca pikiran orang tapi hanya kalau mereka ngomong di relung hati.”
“Hm ...”
“Duh, Ngga. Tapi kamu kayak mau pingsan, lho! Yakin yang bener kamu masih kuat?! Mending dibopong ke punggungnya si Reyhan aja,” cemas Jova mengomando dengan mencondongkan badannya ke depan agar bisa menatap sahabat lelakinya yang ada di samping barisan terakhir.
Angga kembali menarik wajahnya dari tunduknya lalu menoleh ke arah Jova yang menatapnya penuh kerisauan. “Aku kuat, kok ...”
Sementara Freya hanya diam walau tatapannya tak berpaling dari kekasihnya, membuat Jova menyenggol lengannya. “Diem aja dari tadi? Gak khawatir, kah sama pacarmu?”
“Aduh, ih sakit! Kamu bisa nggak sih seharian ini saja jangan suka cerewet melulu?! Aku diam begini juga khawatir, kok sama Angga. Heran, deh sekarang sikapmu malah seperti Reyhan.”
“Ekhem! Nyari masalah sama aku, Frey?” tanya Reyhan dengan tersenyum menyeringai pada sahabat perempuan polosnya.
“Heee, ampun ...” ucap Freya dengan cengengesan, membikin wajah cantiknya semakin menggemaskan.
“Rey, maaf gue sudah banyak ngerepotin lo ...”
Senyuman seringai Reyhan menjadi pudar dan kini beralih menatap Angga yang kembali menunduk. “Nggak apa-apa. Masalah apa yang lo alami, akan gue bantu selama gue bisa.”
“Elo semasa dulu sering membantu gue di saat gue menghadapi masa kesulitan yang gue alami, dan sekarang gue berhutang budi dengan lo. Oh ya, jika saja waktu itu lo nggak menyelamatkan gue dari penculikan itu mungkin gue sudah mati dibunuh sama mereka di dalam markas. Jasa lo berharga banget, Ngga untuk kami. Sulit kali, ya nyari orang luar biasa kayak elo?”
Angga hanya menarik senyumannya untuk menanggapi segala ocehan Reyhan tentang kehebatannya. Meski ia memiliki kelebihan itu untuk membantu orang lain, tetapi dirinya sama sekali tidak pernah tinggi hati bahkan bersikap arogan. Ia malah justru bersyukur diberikan kemuliaan ini kepada Tuhan.
Kruyuuuuuuuuk...
“Modar!! Kayaknya itu barusan suaranya harimau, deh!” takut Reyhan.
“Harimau, matamu! Itu barusan suara perutku yang bunyi, uh laper banget, Anjir ... mana di sini nggak ada makanan, lagi. Kan, kasian cacingnya banyak yang demo minta lahap,” keluh Jova seraya mengelus-elus perutnya yang keroncongan.
“Hah? Kamu laper, Va?” tanya Freya memastikan.
Jova menoleh lemas ke arah sahabat cantiknya lalu mengangguk dengan memasang wajah melas. Sementara Angga memperhatikan Jova yang terus mengeluh karena kelaparan.
“Halah! Macem-macem ini bocah satu! Di sini gak ada yang bisa di makan kecuali rumput!”
Jova beralih menoleh ke arah Reyhan lalu mendengus bak hewan banteng yang melihat kain warna merah di depan matanya. “Entar aku malah jadi hewan jenis herbivora kalau makan rumput!”
“Semoga aja begitu,” jawab Reyhan tanpa ada takutnya sama sekali pada tatapan seramnya Jova yang seperti mau memakan orang.
“Aku lagi laper, lho ini. Bisa-bisa aku makan kamu sampe nggak tersisa secuil pun! Mau?!” ancam Jova.
“Jangan!! Manusia cantik gak boleh cosplay jadi kanibal, dong!”
“Jova, tadi kamu bilang lapar, ya?” tanya Angga dengan nada lemah seraya menatap ke arah sahabat perempuan Tomboy-nya.
Jova menganggukkan kepalanya dengan senyum masam karena tidak bisa menahan rasa laparnya. “Kenapa emangnya, Ngga?”
Tangan kiri Angga mulai terangkat dan menunjuk ke arah atas pohon. “Di atas pohon sana ada beberapa buah apel, mungkin itu bisa mengganjal perutmu untuk meredakan rasa lapar.”
Ketiga remaja itu kemudian menoleh ke arah sesuai tudingan jari telunjuknya Angga. Rupanya dijarak 5 meter terdapat sebuah pohon besar nan menjulang tinggi dari langkah mereka sekarang. Kedua gadis tersebut berujung melongo menatap pohon yang ada di depan matanya mereka.
“Aduh, itu tinggi banget ...”
“Gimana cara ambil apelnya? Tubuh kita aja lebih pendek daripada tumbuhan pohon raksasa itu,” tanya Jova bingung.
“Kenapa harus mumet dua keliling, sih? Tinggal panjat apa susahnya? Rata-rata pohon emang tingginya segitu,” timpal Reyhan.
“Aku! Biar aku saja yang manjat pohonnya kayak aktraksi panjat tebing. Tugas yang mudah ini, mah!” semangat Reyhan yang berdiri dengan melepaskan tangan kanan Angga perlahan dari tengkuknya.
“Eh, jangan! Kamu itu cowok yang Phobia banget dengan ketinggian! Terlebih kamu bisa manjat pohon tapi gak bisa turunnya, kan sia-sia usahamu.”
Apa yang dikatakan oleh Jova memang benar, bahkan tolakannya berhasil membuat Reyhan mengurungkan niatnya. Mereka berempat hanya mampu menatap atas pohon yang banyak sekali buah apel merah segar tersebut.
Angga mengangkat tangan kanannya yang bertengger di tengkuk leher Reyhan. “Biar aku saja yang panjat pohon.”
“Lo gila, ya?! Gak usah! Kondisi lo lagi parah kayak gini, Bro! Jangan bertindak yang bikin nyawa lo bahaya!” tegas Reyhan tak menerima.
“Gue hanya panjat pohon, bukan panjat tebing jurang. Nggak usah terlalu berlebihan. Soal dalam memanjat pohon sudah ahli gue.”
Angga kini berjalan gontai mendekati pohon tersebut beberapa meter langkah. Sedangkan mereka bertiga yang posisi tengah berdiri di belakangnya, memperhatikan ia dengan rasa panik dan khawatir yang mengaduk menjadi satu.
Angga menyentuh pohon tersebut sambil mendongakkan kepalanya ke atas. “Angga! Kamu jangan bercanda, deh! Kesehatanmu lebih penting, aku masih bisa nahannya, kok!”
Angga menoleh lemah ke belakang untuk menatap wajah panik Jova yang mukanya dilumuri kecemasan. “Pencernaan dalam perutmu yang lebih penting, aku gak mau kamu terkena sakit Mag karena terus-terusan menahan lapar.”
Jova berdecak. “Aku tahu kamu peduli banget sama sahabatmu! Tapi gak kayak gitu caranya, Ngga! Balik sini lagi. Ya?!”
Angga tersenyum. “Kamu tenang saja ...”
Jova hanya sanggup pasrah dengan menghela napasnya. “Kamu emang cowok berhati malaikat, Ngga. Tapi ada keras kepalanya!”
Angga tak memedulikan omelannya Jova, cukup ia dengarkan saja dari depan tanpa ada niatan untuk menjawabnya. Ketiga remaja tersebut saling mendongakkan kepalanya memperhatikan pemuda tampan itu yang sedang memanjat sebuah pohon, mereka sama-sama meneguk ludahnya karena takut bila Angga terjadi sesuatu di sana, terlebih kondisinya yang tidak memungkinkan.
Angga mengulurkan salah satu tangannya untuk menggapai dahan pohon yang ada di kirinya lalu dengan tangkas dan cepat, ia segera mendudukinya lepau mengambil beberapa apel yang tergantung di atas ranting daun.
“Yang lain juga mau apel, tidak?” tanya Angga dari atas pohon yang tinggi.
Jova memajukan telinganya ke depan. “Hah?! Apa, Ngga?! Kamu tadi ngomong apaan? Suaramu terlalu pelan jadinya gak denger.”
Angga menghela napasnya. “Yang lain juga mau apel, tidak?! Sudah bisa dengar?!”
“Gak usah ngegas juga dong, Ganteng!!” sangkak Jova lebih keras daripada suaranya Angga.
Freya mencubit kesal lengan Jova. “Kan, tadi katanya kamu gak denger karena suaranya Angga kekecilan! Gimana, sih?! Jangan marahin si dia juga dong, Jova!”
Reyhan melegakan tenggorokannya hingga menimbulkan suara dehaman keras. “Ada yang belain pacar tercintanya, nih.”
“Diam kamu, Rey!”
Reyhan langsung terperanjat kaget mendengar suara sentakan dari Freya apalagi gadis itu sampai melemparkan tatapan tajamnya kepadanya. “Eh, iya-iya aku minta maaf!”
Angga yang ada di sana hanya tersenyum mesem saja melihat tingkah laku mereka bertiga yang ada dibawah. Tanpa menanti jawaban di antara mereka, ia langsung mengambil beberapa apel saja untuk kedua sahabatnya dan kekasihnya.
Reyhan berlari ke arah pohon dan berhenti lalu menarik wajahnya ke atas tempat Angga duduk di dahan pohon untuk mengambil beberapa jumlah apel yang sahabatnya petik, bahkan saking banyaknya nang Angga ambil, ia sampai mendekap setengah jumlah buah tersebut di dadanya bersama lengan tangannya untuk mengunci agar tidak jatuh.
“Duh, nyeremin banget lo! Sini biar apel-apelnya gue tangkap dari bawah!” komando Reyhan seraya menengadah dua telapak tangannya.
Angga menatap ke bawah. “Oke, terima ini semua buah apelnya.”
Angga menjatuhkan beberapa buah merah segar itu ke bawah secara satu persatu. Setelah semuanya telah ia jatuhkan pada sahabatnya yang ada dibawah pohon, Angga segera turun dari pohon. Tetapi saat ia merasakan tubuhnya sempoyongan, ia sigap memegang salah satu ranting buah apel yang tergantung di daun pohon. Alhasilnya, karena cekalan Angga begitu kuat, ranting beserta buah itu terputus dari tempatnya dan terjatuh mendarat mengenai kepala Reyhan.
“Wadoh!!” pekik Reyhan keras.
Jova yang melihat itu sangat terkejut dengan raut bahagia. “Hahahahaha!!! Haduh, always apes mulu hidupmu, Nyuk!”
Melihat Jova yang tertawa puas dengan memegang perutnya nang terasa kram, lelaki humoris itu mendengus. “Gak usah ngetawain aku, napa?! Sakit tau palaku kena apel dari atas!”
Bibir pucat Angga nyengir. “Bonus dadakan ...”
“Bonus dadakan pala lo benjut! Sakit, tau! Emangnya itu apel terbuat dari balon, apa?! Bukan hadiah yang ada, tapi musibah!” luap Reyhan setelah beralih menoleh ke arah Angga yang masih di atas dahan pohon.
“Iya-iya, maaf. Gue nggak sengaja tadi.”
Angga mulai menggerakkan semua anggota tubuhnya untuk turun dari pohon yang menjulang tinggi itu. Freya yang memperhatikannya dari bawah, amat getir karena kondisi tubuh lelakinya yang belum fit sampai sekarang.
“Angga, turunnya hati-hati!”
Angga menganggukkan kepalanya pada teriakan suruhan dari Freya yang mengkhawatirkannya. Tak berapa lama detik kemudian, tanpa ada sedikitpun luka atau kejadian apapun yang menimpanya, Angga telah berhasil turun dari pohon tersebut.
Dibawah pohon tempat dimana ia menapak tanah kering, pemuda Indigo itu menyentuh pohon lagi dengan seraya tangan sampingnya meraba pangkal hidungnya bersama mata yang ia tutup, bahkan suara desis yang keluar dari mulut membuat Freya berjalan menghampirinya.
“Angga, kamu baik-baik saja, kan? Kepalanya pusing lagi, ya?” tanya Freya dengan nada lemah lembut sambil menyentuh pelan punggung mata cahayanya.
__ADS_1
Angga menoleh lemah ke arah Freya yang menatap sendu dirinya. “Iya ... gak tahu juga kenapa tiba-tiba rasanya kayak kliyengan.”
Freya mengangguk paham. “Kita istirahat dulu, yuk? Kamu harus butuh banyak istirahat untuk memulihkan tenaga dan kondisimu kembali. Ayo ...”
Angga mengangguk senyum seraya melepaskan telapak tangannya yang ia tempelkan di pohon, lalu dengan hati yang tulus, Freya menuntun langkahnya perlahan untuk mendatangi kedua sahabatnya nang sibuk membersihkan sesuatu di atas tanah.
Terlihat Reyhan tengah menyingkirkan beberapa kerikil yang berserakan di tanah menggunakan salah satu kakinya sedangkan Jova menepikan dedaunan kering yang mengotori tanah tersebut. Setelah tuntas, mereka berdua saling menoleh ke arah dua sahabatnya yang datang memarani.
“Eh, udah dateng? Sini-sini, Bro duduk!” ucap Reyhan seraya menggeret lambat tangan kanan Angga agar duduk di atas tanah yang telah bersih.
“Kaki-kakinya diluruskan dulu, terus senderan di belakang sini. Nah, begini!” ujar Jova dengan mengubah kedua kaki Angga menjadi selonjor dan menyandarkan punggung lemasnya di batu besar yang cocok untuk bersandar secara nyaman.
“Maksud kalian apa? Gue malah merasa diperlakukan seperti seorang raja,” ucap Angga agak canggung pada sikap kedua sahabatnya barusan.
“Kami bermaksud gini karena kamu udah banyak membantu banyak orang termasuk kami. Jadinya, kamu pantas diperlakukan mulia seperti seorang raja tampan yang dilayani oleh kasim di sebuah istana,” respon Jova dengan tersenyum manis.
“Kamu ini terlalu lebay. Aku membantu orang tetapi tidak membutuhkan balasan apapun yang ingin di balaskan ke aku. Aku Ikhlas dan bukan pamrih yang ingin mendapatkan sebuah imbalan atas pertolongan dariku.”
Reyhan merangkul tengkuk Angga dengan khas senyuman ramahnya. “Alah! Gak apa-apa, Ngga! Kita ini adalah sahabat sejati! Hal membantu sudah dari termasuk persahabatan yang sesungguhnya, bukan?”
“Nih, apel untuk Sahabatku.” Jova dengan senyum genitnya menyodorkan sebuah apel merah hingga buah itu menempel di bibir pucat Angga.
Angga tertawa kecil seraya menyingkirkan tangan Jova yang memegang apel untuknya. “Nggak usah, apelnya kamu makan saja. Pasti kamu sekarang sudah laper banget.”
“Hey, jangan bertingkah gitu sama Angga. Entar nanti si Freya bisa cemburu,” kata Reyhan sambil melirik sinis gadis kekasihnya Angga.
“Ih, kamu apaan sih?! Aku gak bakal cemburu, kok kalau cuman kayak gini doang. Jova kan sahabatnya Angga, jadi ya wajarlah. Yang penting mereka tahu batasannya karena di salah satu antara mereka udah ada yang punya.”
“Calm aja, Frey ... aku janji, kok gak bakal berbuat macem-macem yang bikin hatimu terluka. Angga sepenuhnya tetap jadi milikmu, aku kan sahabat yang setia dan pintar dalam memahami hubungan cinta kayak kalian ini, hehehe!”
“Apa iya?” tanya Reyhan kurang percaya.
“Iya, lah! Masa kagak?!”
Reyhan menaikkan kedua alis tebal cokelatnya ke atas dengan spontan karena kaget. “Santai, Bos. Gak usah pake acara ngotot segala!”
Angga lagi-lagi tersenyum simpel kemudian setelah itu menoleh dan menatap Reyhan yang duduk di sampingnya. “Rey, luka lo gimana?”
“Luka yang mana, Bang? Kan ada dua, satunya di perut bagian kiri, satunya lagi di telapak tangan.”
“Yang nomer satu.”
“Oh kalau yang luka itu, sih udah biasa aja. Pokoknya sudah gak kerasa sakit lagi kayak sebelumnya. Makasih, ya waktu itu udah ngobatin gue?”
“Oke.”
“Yakin udah biasa aja? Sini coba aku cek.” Jova langsung menekan luka perut Reyhan yang masih tertambal perban.
“Argh! Woi, sakit!! Iya, emang udah biasa aja. Tapi gak diteken juga, kali! Gak punya otak apa gimana, dah? Heran, aku!” protes Reyhan dengan memegang lukanya yang kembali ngilu.
“Jova kebiasaan deh, kesakitan lagi kan tuh si Reyhan. Minta maaf gih, sana!” titah Freya.
Angga menggelengkan kepalanya pada tingkah perilaku kedua sahabat sejoli tersebut. “Lagian, luka telapak tangan yang di bagian mana? Luka itu sudah tidak ada di sana.”
Reyhan langsung cekatan melepaskan tangannya dari tengkuk leher Angga kemudian mengecek kondisi lukanya begitu juga dengan Jova. Mereka berdua terkesiap bukan main saat melihat luka sayatan itu telah menghilang tanpa bekas pun.
“HOAAAAAAAA!!!”
Freya segera membekap mulut Jova supaya tidak berteriak kencang lagi, sementara Angga menoyor kepalanya Reyhan hingga membuat sahabat lelakinya yang memekik menjadi mengaduh.
“Kalian ini teriaknya kenceng banget kayak lagi naik wahana roller coaster! Untung gendang telingaku sama Angga belum pecah karena teriakan kalian.”
Angga menghembuskan napasnya lirih. “Ada yang perlu kalian ketahui dari gue. Kalian jangan takut dan bingung mengapa luka itu telah hilang dengan sendirinya. Berdasarkan makhluk gaib, hantu itu menyerang kalian secara mantra astral, jadi jika sang arwah lenyap dari dunia, otomatis luka yang ditorehkan ke kalian juga lenyap seperti dia.”
“Hah? Begitu?” tanya kompak keduanya.
Angga menganggukkan kepala. “Kalau kalian bertiga ingin bertanya darimana gue tahu tentang hal tersebut, itu karena sebuah beberapa pengalaman yang pernah gue alami dan hadapi saat waktu kecil.”
“Ternyata banyak pengalaman yang telah terjadi di kamu ya, Ngga? Bagaimana rasanya setelah mendapatkan beberapa pengalaman gaib seperti itu?” tanya Freya dengan penasaran.
Angga menyunggingkan senyum seraya meluruskan pandangan ke depan. “Awalnya terkejut, tapi lama-lama juga terbiasa. Aku sering mendapatkan pengalaman secara diluar nalar setiap waktu, yang aku rasakan memang lelah menghadapinya. Tetapi kalau sudah memiliki mata indera keenam, beginilah resikonya.”
“Lalu, soal hantu yang pakai senjata pedang dari api itu ... dia kalahnya karena gue sama Jova gak sengaja menyatukan darah kami? Soalnya golongan darah kami nggak beda alias sama.”
“Bukan, bukan karena itu. Hantu itu memang kalahnya dari darah yang menyatu atau menempel di satu sama lain. Lebih detailnya, dengan lawan jenis.”
“B-berarti antara cowok dan cewek, dong?!” kejut Jova dengan mata melotot pada Angga.
Angga mengangguk. “Iya.”
“Gila, sih ini namanya. Tapi okelah, yang penting hantu itu udah lenyap dari perduniaan makhluk hidup!” tukas Reyhan.
Angga mulai beralih menatap Jova dan Reyhan secara bergiliran. “Terlebihnya, kalian telah berhasil melemparkan arwah itu ke alam baka. Rupanya benar atas kesolidan gue untuk kalian berdua, kalian mampu mengalahkannya walau itu sebuah ketidaksengajaan.”
“Elo emang sengaja mendiamkan kami berdua untuk menguji kemampuan gue dan Jova?” tanya Reyhan dengan senyum hambar.
“Iya. Jika gue hebat, itu artinya kalian bertiga juga harus hebat seperti diri gue. Karena gue tahu, kalian bertiga aslinya memiliki kelebihan terdalam.”
“Hah? Apaan??” tanya kedua sahabatnya dan kekasihnya.
Angga terkekeh. “Kecerdasan otak, kepekaan, dan lainnya. Sebenarnya semua itu ada di kalian tetapi kalian saja yang kurang menyadari.”
“Hahahaha! Anjay, gue cerdas darimana coba? Matematika aja suka anjlok nilainya. Peka? Gue kalau soal kepekaan terlalu lemah, apalagi lainnya.”
“Idih, tumben rendah diri?” kaget Jova.
Angga kembali menoleh ke arah Reyhan setelah meluruskan pandangannya. “Apakah lo yakin? Dengan lo merendahkan diri, itu malah menjadi sebaliknya. Oke, gue tahu lo paling gagal jika tentang pelajaran Matematika.”
“Tetapi, lo lihat saja nantinya. Semuanya akan berubah setelah gue ...” Angga berhenti tak lagi melanjutkan perkataannya setelah ia sadar kalau dirinya telah berucap dengan panjang dan kebablasan.
“Setelah lo apa? Kok berhenti?”
Angga menggelengkan kepalanya. “Bukan apa-apa. Lupakan saja yang kalimat terakhir.”
Freya yang sedari tadi menyimak, entah kenapa ada rasa tidak enak di hatinya bahkan mampu mengubah wajah cerianya menjadi muram. Sungguh, firasatnya kali ini buruk mengenai Angga barusan.
Sampai akhirnya Freya yang memperhatikan wajah pucat Angga, lelakinya menoleh dan menatapnya dengan sebuah senyuman. “Kamu kenapa? Kok lihatin aku kayak gitu?”
Freya menggelengkan kepalanya kuat dengan menarik senyumannya paksa. “Enggak ada kok, Ngga! Cuman kamu kalau dilihat dari sini, makin Ganteng.”
‘Aduh, kamu ngomong apaan sih, Frey? Malu, kan tuh ditatap nakal sama dua sahabat kamu !’ rutuk batin Freya seraya memejamkan matanya karena tak terbiasa memuji Angga dengan sebutan 'Ganteng'.
Angga yang masih bisa mendengar suara hati Freya, semakin menarik senyumannya menjadi lebar hingga mendengus. “Makasih, ya sudah memuji aku ganteng, hehehe.”
Ketiga remaja itu sontak begitu terkejut pada ucapannya Angga. Bukannya merasa jijik hingga mengubahkan wujud ekspresi mukanya mendatar, ini malah justru kebalikannya. Lelaki tampan tersebut bahagia dengan wajah cerianya bersama mengeluarkan suara cengengesan.
“Jir! Ini sahabat gue yang asli atau arwah yang lagi merasuki raga sahabat gue, ya?! Kok drastis gini, Cuy?!”
“Kenapa emangnya? Gue gak boleh berubah?”
“Y-ya boleh, gue seneng lihat lo berubah! Gue sama lainnya cuman kaget ngeliat reaksi beda dari lo. Gak biasanya lo jawabnya kayak gitu,” tanggap Reyhan.
Angga lagi-lagi lalu ia sengaja memalingkan wajahnya dari mereka bertiga untuk meluruskan pandangannya ke depan.
Jova mencondongkan kepalanya ke depan untuk menatap wajah Angga yang masih ceria. “Ngga, soal sakit yang kamu alami itu ... wajar gak, sih?”
Angga menatap Jova yang memberikan pertanyaan padanya. “Bagiku gak wajar, sih. Tapi nggak apa-apa, aku juga sudah terbiasa kok dengan kesakitan eksentrik ini.”
“Siapa yang sudah buat kamu seperti ini?” tanya Freya sendu.
“Aku kurang tahu siapa yang sudah membuat aku menderita kayak gini. Tapi jika dinalar pakai logika otakku, ini berasal dari gaib. Entah hantu atau seseorang yang menggunakan ilmu hitam.”
“Hah?! Di Santet?!” gegau Reyhan.
“Kalau itu sudah lain. Beda dari guna-guna yang perbuatan Musyrik seperti itu, dan tetap saja gue nggak tahu ini dari siapa.”
Jova yang ada di sebelahnya Angga, menggenggam tangan hangat sahabatnya. “Angga, kamu gak ada niatan untuk menutup mata batinmu? Agar kamu gak mendapatkan sebuah musibah yang menimpamu lagi. Jujur saja, aku paling gak suka melihat kamu menderita apalagi yang lain.”
“Kami memang belum pernah merasakan pedihnya hidupmu, tetapi kami bertiga bisa merasakan seperti apa yang kamu alami, Ngga.” Jova menyambung ucapannya.
Angga menggelengkan kepalanya. “Aku nggak ada niatan inisiatif seperti itu.” Lelaki Indigo itu kembali menghadapkan kepalanya ke depan. “Seperti yang kamu bilang tadi, hidupku memang pedih dan meresahkan. Ada rasa ingin menyerah dari hidup tetapi semua itu gak ada gunanya untukku.”
Angga mengembalikan posisi kepalanya pada semula. “Lagipula, dengan gue memiliki kelebihan ini, gue bisa membantu orang lain yang memerlukan pertolongan. Dan satu lagi, gue juga nggak akan pernah mencoba untuk melepaskan kekuatan ini yang telah lama gue genggam di dalam jiwa, hingga sampai mati.”
Ketiga remaja itu yang mendengarkan Angga secara seksama, terdiam seketika dengan hati yang agak tersentak pada penurutan lelaki tampan tersebut. Angga kemudian menarik napasnya panjang lalu menghembuskannya keluar dengan mendongakkan kepalanya ke atas langit malam.
“Menyerah? Gue gak akan mungkin menyerah dari hidup yang kelam ini. Bunuh diri? Gue gak akan pernah mencobanya sekalipun. Dengan gue melakukan hal yang bodoh seperti itu, semuanya nggak akan bisa menyelesaikan masalah. Lagian jika gue menyerah, lalu orang-orang yang gue sayangi mau gue taruh mana?”
Freya, Jova, dan Reyhan masih terdiam bisu mendengar segala penurutan kata Angga yang mendalami serta memilukan hati tersebut. Mereka lebih memilih sengap daripada angkat suara untuk menjawab rentetan curahan hati sang pemuda tegar.
“Bokap, nyokap, dan kalian bertiga yang paling mampu membuat hidup gue lengkap dan lebih berwarna. Jika tanpa kalian, entahlah apa yang akan terjadi.”
Angga mengedipkan kedua matanya satu kali dengan masih menampilkan senyuman tampan di bibir pucatnya yang terpajang di wajahnya. “Terimakasih, karena kalian bertiga telah selalu ada untuk gue dikala gue saat sedang terpuruk dan bahagia.”
“Suka duka kita selalu bersama, Anggara.” Mereka bertiga merespon lembut secara kekompakan dengan seraya saling memeluk tubuh lemah Angga yang ada di tengah bersama senyuman lebarnya.
Angga yang didekap sayang oleh pujaan hatinya dan pula kedua sahabat sejatinya, membalas pelukannya mereka dengan sebuah sumringah bahagia dan jangan lupakan pagutannya yang sepasang tangannya melingkar ke tubuh mereka bertiga nang memeluk dirinya. Sungguh pemandangan damai nan indah yang mengharukan.
Dengan sebuah senyuman itu, lain dari hati Angga saat ini. Gundah, pilu, dan juga penuh lara. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana nasib garis hidup ia selanjutnya yang akan segera mendatanginya.
__ADS_1
‘Semoga saja ini bukanlah yang terakhir kita bersama. Tetapi kalau memang sudah takdir, gue benar-benar minta maaf dengan kalian ...’
INDIGO To Be Continued ›››