
Reyhan yang baru saja bangun dari Komanya, hanya bisa memandang yang ia tatap. Pandangan yang begitu buram, tak jelas bahkan samar-samar terdengar. Tak berapa lama menit kemudian setelah disalah satu sahabatnya Reyhan yaitu Angga menekan tombol untuk memanggil dokter, datanglah beberapa seseorang yang seperti memakai seragam putih dan beberapa seseorang yang mengenakan baju hijau yang berada di sekelilingnya.
Masih sangat terasa berat dan sukar untuk membuka matanya penuh, namun ia bisa merasakan kalau ia sedang di sentuh atau yang dimaksud tengah di periksa oleh salah satu dokter pria, bahkan kedua matanya yang telah terbuka meskipun sedikit, sang dokter menyorotkan cahaya senter kecil medisnya ke matanya secara bergantian. Hanya satu yang ada dipikiran Reyhan, apa yang telah terjadi dengannya.
Rasa lemas-nya dan berat matanya, Reyhan memutuskan untuk memejamkan matanya yang pandangannya masih buram begitupun di pendengaran pada seseorang yang sedang berdialog masih sayup-sayup tak jelas.
“Setelah sekian lamanya, Alhamdulillah pada akhirnya Reyhan kembali sadar dari Koma yang amat begitu panjang. Kondisi pasien juga sudah mulai stabil, maka dari itu sebentar lagi Reyhan akan di pindahkan ke kamar rawat ya Pak, Bu, dan sahabat-sahabatnya pasien.”
Dengan air mata berderai dengan hati yang sangat bahagia, Farhan dan Jihan menganggukkan kepalanya. “Terimakasih sekali, Dok!!”
“Sama-sama Bapak dan Ibu, ini juga keajaiban dari Allah yang memberikan Reyhan kesadaran kembali. Oh iya, dan saya akan menyampaikan bahwa 3 hari lagi Reyhan melaksanakan sebuah Terapi, untuk menyembuhkan kelumpuhan sementara yang di alami pasien. Kalau begitu, saya permisi dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam Dokter,” jawab salam kedua orangtuanya dan ketiga sahabatnya Reyhan dengan bersamaan.
Dokter Sam yang tersenyum ramah terpancar nang buat nyaman begitupun para perawat, melenggang balik badan pergi dari ruang rawat ICU yang sebentar lagi dikosongkan dikarenakan pasien tersebut akan segera dipindahkan ke ruang perawatan.
Jihan berjalan ke kiri anaknya lalu setelah berada di dekatnya, wanita itu mengelus-elus lembut bahu Reyhan sekaligus rada mendekatkan mulutnya di telinga anak putranya. “Nak, kamu bisa mendengar suara Mama?”
Tubuh anaknya yang masih terpasang oleh alat-alat medis termasuk masker Rebreathing-nya, Reyhan membuka matanya dan kepalanya perlahan menoleh ke arah Jihan yang masih saja mengelus bahunya dengan perasaan sayang sekali padanya. Reyhan sangat sulit melihat dengan jelas sosok wajah cantik sang ibu namun ia tahu kalau itu adalah suara lirihnya Jihan meskipun suara yang Reyhan tangkap ke pendengaran telinganya masih remang-remang.
Reyhan ingin menjawab Jihan yang sangat merindukannya bahkan tangisannya bisa Reyhan dengar sedikit, tapi sayangnya yang keluar hanya suara lemah seraknya. Sekarang Reyhan merasakan ada yang mengusap-usap pucuk kepalanya, ialah Farhan yang juga berderai air mata tetapi pria paruh baya itu tersenyum lebar merindukan putranya yang kini beliau sangat bersyukur Allah belum mengambil anak semata wayangnya.
Sementara seperti Angga, Freya, dan Jova hanya diam tersenyum menatap wajah Reyhan dengan air linangan membanjiri pipinya masing-masing. Sekelompok 3 sahabat itu amat bahagia hatinya dikarenakan salah satu sahabat mereka telah sadar, tak bisa membayangkan kalau kejadian di depan mata ini malah menjadi sebaliknya yang terburuk.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Setelah beberapa menit yang lalu Reyhan dipindahkan ke ruang kamar rawat dimana kamar rawat yang dulu pernah ia tempati yaitu ruang rawat no 114 lantai 4. Sekarang pandangan ia sedikit lebih jelas dibanding saat tadi ia membuka mata di ruang perawatan Intensif, masih bertanya-tanya apa yang telah terjadi dengannya itu karena sekujur tubuhnya sangat amat kaku untuk digerakkan ditambah Reyhan begitu sulit mengeluarkan suaranya. Reyhan hanya bisa menatap langit-langit dinding putih kamar rawatnya yang udara sejuk berangin masuk ke dalam jendela yang terbuka lebar.
Jova melangkahkan dua langkah kaki kemudian menepuk pelan lengan tangan kiri Reyhan. “Rey, kamu masih ingat, kan kita semua yang ada di sini siapa?”
Kedua bola mata Reyhan bergerak melirik Jova tanpa ada senyuman yang pasti. Pemuda itu cuma menganggukkan kepalanya satu kali sebagai respon pertanyaan Jova yang matanya nampak sembab.
‘Kenapa ini cewek matanya sembab gitu? Habis nangis pasti,’ batin Reyhan dengan menatap Jova lama.
“Huft, Alhamdulillah deh kalau kamu masih ingat kami semua. Habisnya kamu sedari tadi diem mulu, kirain lagi mikir kami berlima ini siapa. Hehehehe, lega deh aku.”
Reyhan yang memaksa untuk mengeluarkan suaranya, Freya langsung menempelkan jari lentik telunjuknya di bibir Reyhan. “Sudah, jangan bicara kalau kamu masih belum mampu. Tadi kan dokter Sam nyaranin kamu untuk beristirahat total, jadi lebih baik kamu tidur saja. Tapi jangan sampai kelewatan atau bablas ya, hehehehe.”
Setelah mendengar suara dari sahabatnya yang nadanya begitu lembut, Reyhan menanggapinya dengan tersenyum tipis. Sedangkan si Angga ikut tak bersuara. Seperti biasa, diam berdiri seperti patung membuat Jova ambil protes.
“Diam ae, Ngga? Gak kangen sama Reyhan??”
“Apaan sih ini cewek? Lagian kalau aku diem gak bakal gangguin kamu kok yang ngobrol sama Reyhan.”
“Idih, gitu banget jawabnya!”
Angga mendengus lalu maju ke hadapan ranjang pasien, kemudian setelah itu matanya menatap Reyhan dengan senyumannya yang kadang-kadang ia gunakan. Satu tangannya menepuk-nepuk pundak Reyhan yang lemas dengan pelan.
“Istirahat saja. Nggak usah banyak gerak, percuma lo gerak-gerak hasilnya tetap kaku karena lo tidur berbulan-bulan.”
‘Eh? Apa maksud lo gue tidur berbulan-bulan?’
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Di hari sekolah ialah Senin, Jova yang baru datang sudah menampilkan senyuman sumringah penuh bahagia yang merekah di wajah cantiknya. Sampai tiba-tiba, senyuman Jova menjadi pusat perhatian para siswa dan siswi kelas XI IPA 2. Teman perempuan baiknya yaitu Lala, Rena, Zara yang tengah asyik mengobrol di imbuh senda gurau, menghampiri Jova yang terus tersenyum tanpa ada jalan ke bangkunya.
“Va, wah napa lo senyum-senyum cantik gini? Kayaknya hati lo lagi bahagia banget, yak?” tanya Lala dengan ikut tersenyum.
Jova mengangguk antusias. “Hm'em! Guys, gue bawa kabar baik dan gembira buat kalian semuanya yang ada di kelas! REYHAN SADAR DARI KOMANYA!!!”
Teriakan Jova yang menggelegar sepenjuru seluruh kelas miliknya bahkan air matanya yang bersamaan menetes semua siswa dan siswi terkejut bukan main. Jevran yang sibuk membersihkan topi Upacaranya dikarenakan kotor berdebu, menoleh ke Jova dengan tampang kagetnya. Ingin memastikan ucapan gadis tomboy itu, Jevran dan yang lain berdatangan ke arah Jova, sudah seperti Wartawan.
“V-va! K-kamu serius, Reyhan udah sadar dari Koma?! Beneran?! Gak bohong?!” ucap tanya Jevran menatap serius Jova.
“Iyaaa! Aku serius, kalau nggak percaya mending nanti kamu tanya aja deh sama Freya atau Angga. Reyhan sadarnya waktu kemarin hari Sabtu pagi. Awalnya kiranya aku mimpi, ternyata enggak. Alhamdulillah, aku seneng banget akhirnya salah satu sahabatku sadar kembali hihi!”
“Anjir! Kami turut bahagia banget, Vaaa!!” Rena memeluk Jova dengan erat penuh senyuman lebarnya begitupun temannya yang gadis tersebut peluk.
Sementara di sisi lain, di jalan lorong si Freya dan Angga nampak tengah mengobrol sesekali bercanda, sudah pastinya Freya lah yang banyak ngobrol daripada Angga yang sifatnya memang suka diam, namun jika Freya mengajak sahabat kecilnya berdialog sahabat lelaki masa kecilnya itu menjadi ikut banyak bicara namun hanya sementara saja.
“Eh Ngga?!”
“Apa? Kenapa??” respon Angga dengan menolehkan kepalanya ke kiri dan sedikit menunduk dikarenakan Freya hanya setinggi rahang lehernya.
“A-aku sudah ngerjain PR Kimia yang dikasih sama bu Sonya belum, ya?! Aduh aku lupa!”
Angga mendengus pelan dengan menipiskan bibirnya dan menggeleng kepala. “Kok bisa lupa? Coba nanti di kelas kamu cek tugas PR-mu. Kalau kamu memang belum ngerjain, contek aja punyaku.”
“Lih, mana bisa begitu? Aku usaha sendiri lah kalau emang belum ngerjain tugas beliau. Lagian nanti kan jadwal pelajaran pertama, Olahraga sampai istirahat.”
“Ya aku tau, pelajaran Kimia sesudah istirahat. Tapi kamu jangan terlalu menggampangkan tugas apalagi kalau itu adalah PR dari guru, udah nanti mending kamu cek dulu aja PR-nya di bukumu. Kalau masih kosong, aku serahin buku tugasku.”
“Hmmm, korban tugas nih yaaa?” ledek Freya dengan nyengir ke sahabat kecil tampannya.
“Bukan, tapi korban nyawa.”
__ADS_1
Mendengar jawaban Angga yang begitu, Freya tak segan-segan jari tangan lentiknya mencubit lengan Angga dengan gemas. “Kamu ini ya!!”
“Akh- eh sakit!” Angga yang mengaduh, sahabat kecil cantik manisnya melepaskan cubitannya segera dari lengan pemuda tersebut.
“Maaf, aku tadi bercanda kok. Bisa nggak sih jangan cubit aku mulu? Lama-lama aku bisa jadi kue cubit.”
“Salahnya sendiri suka ngeselin! Tuh coba deh bercermin, sifatmu udah sama kayak Reyhan, tau!” ucap Freya sebal.
“Sama tuh, kamu sifatnya udah sama kayak Jova. Sahabat kecilku yang aku kenal nggak barbar begini, udah lain deh sepertinya.”
Sambil terus berjalan menelusuri lorong-lorong kelas usai menaiki tangga, Freya teleng-kan kepalanya dengan dahi berkerut dan jari telunjuk tangan kanannya menggaruk kepalanya. “Barbar itu apaan sih, Ngga?? Kok baru denger ya kata asing yang bahasanya mirip bahasa alien di luar angkasa.”
Angga menepuk keningnya sendiri lalu telapak tangannya yang nempel di kening tengahnya, ia turunkan sampai wajahnya. Angga lupa bahwa sahabat gadisnya itu begitu amat polos, bisa jadi juga disebut ketinggalan zaman tahun. “Itu bahasa gaul, kalau kamu gak tau lebih baik gak usah dipikir. Gak penting juga.”
“Kamu gak mau jelasin kata 'Barbar'?” Freya menarik atas keluar ponselnya di kantong jas almamaternya dengan menatap sinis kesal pada Angga. “Aku cari kata itu di Google aja!”
Freya betul-betul mencari kata bahasa gaul itu yang tak ia tahu dengan cara mengetik-ketik keyboard yang berlatar belakang langit fantasi disertakan beberapa bintang jatuh di setiap kedua jari jempol Freya di masing-masing tangannya mengetik-ketik huruf pada keyboard di layar ponsel Androidnya. Angga mencondongkan kepalanya untuk mengintip apa yang dilakukan sahabat kecil gadis cantiknya itu.
“Niat banget nyarinya?”
“Biarin dong! Kan aku pengen tau artinya apa, barangkali setelah aku nemuin, Kata itu bisa jadi inspirasi aku buat nerusin karya novelku yang belum sama sekali tamat!”
Angga menatap Freya sejenak dengan bibir terbungkam, lelaki itu memilih diam mengalah kemudian menghadapkan kepalanya ke depan. Tak terasa mereka berdua tiba di depan kelasnya.
“Nyarinya nanti aja kalau udah duduk di bangku, kalau kamu kesandung gimana? Aku yang salah lagi.”
“Diem ih!”
Angga menghempaskan napasnya kasar, sedangkan Freya sudah dahulu memasuki kelas. Angga yang akan hendak memasuki kelasnya, ia langsung di hadang oleh beberapa teman lelakinya termasuk ketua kelas. Angga menatap heran pada mereka semua yang telah menghambat ia untuk masuk ke dalam kelasnya.
“Kenapa kalian?”
“Gue denger tadi, kata Jova Reyhan udah sadar dari Komanya ya, Ngga?!”
Angga menganggukkan kepalanya dengan senyum ke Joshua yang nampak sangat bahagia begitupun yang lain. Joshua segera memeluk pemuda Indigo itu dengan sedikit tertawa karena sangat senang begitupun hatinya lega wakil kelasnya telah kembali bangun dari Koma panjangnya itu.
“Ya Allah, Alhamdulillah! Selamat ya Angga, kami turut bahagia sahabat lo bangun kembali.”
Angga membalas pelukan Joshua dengan sembari mengusapnya bersama sunggingan senyuman bahagianya. Senyuman yang baru kali ini Angga tampilkan jika sedang bahagia, membuat Aji, Raka, Andra, Ryan, Jevran, dan Rangga saling bingung.
“Eh woi, njir! Itu si Angga bukan, sih?” tanya Aji menyenggol-nyenggol lengan Jevran dengan siku tangannya.
“Yaiyalah! Siapa lagi kalau bukan Angga? Buta yak mata lo?!”
“Ya tumbenan sama heran aja gitu. Seorang Anggara Vincent Kavindra mau dipeluk sama orang lain selain orangtuanya. Apalagi lho senyumannya bikin cewek terpana-pana.”
“Anying lo, Rangga! Najis gue denger omongan lo yang kayak gitu! Gak ada kata-kata yang lain, apa selain ucapan yang bikin gue gak jijik?!” protes Jevran.
“Lo apa-apa suka jijik! Dipeluk aja udah meronta-ronta kayak mau di perkosa cewek!” Ucapan Aji berhasil buat mata Jevran melotot tajam.
“Emang bener dugaan gue! Lo cowok gak normalisasi! Anak SGM ya gitu!!” geram Jevran.
“Eh woi! Itukan susu gue yang gue minum waktu masih bocil! Kok lo tau, sih?! Kan gue gak pernah bilang lo soal itu!”
“Lah, ngaku bocah-nya.” Ryan berusaha menahan tawa.
Jevran mendengus yang rasanya ingin menggebuk Aji menggunakan kursi bangku milik Aji sendiri. “Bukan Susu Generasi Maju, dodol bocah sate rasa sendal jepit! Maksud gue tuh Sinting Gila Miring!”
“Argh! Ngajak perang dunia, ya lo Vran!!!”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...
Sepulang sekolah Angga memutuskan untuk pergi RS Wijaya menjenguk Reyhan yang keadaannya sudah stabil. Sekarang, Angga tiba di depan pintu kamar rawat sahabat SMP-nya. Dirinya mengulurkan tangannya untuk membuka pintu ruang perawatan tersebut, dengan senyuman.
Cklek !
Senyuman yang merekah di wajah Angga cepat pudar seketika, melihat beberapa perawat dan dokter Sam yang beliau tengah seperti menangani Reyhan yang matanya terpejam tenang, lagi. Angga mematung bersama tangannya tak terlepas dari gagang pintu. Menatap suram Reyhan yang sedang kedua matanya disorotkan dengan senter kecil medis dan kemudian sang dokter beralih memeriksa detak jantung.
“Dok, kenapa dengan Reyhan?! Mengapa tiba-tiba anak kami berdua tidak sadarkan diri lagi?! Apakah ada masalah yang ada di dalam tubuhnya Reyhan, Dok?!”
“Ibu tidak perlu khawatir, Reyhan pingsan karena Depresinya kumat kembali. Tidak menunggu lama, secepatnya nanti Reyhan akan sadar, kok. Tapi sebenarnya tak hanya itu saja, Bu, Pak.”
“Apa, Dok?!”
“Begini Pak, selain depresi Reyhan juga mengalami Syok. Apakah tadi sebelum Reyhan hilang kesadaran, Bapak dan Ibu menceritakan sesuatu yang membuat Syok?”
Jihan mendadak wajahnya menjadi sangat lesu dan begitu sedih. “Tadi kami memberitahu Reyhan kalau Reyhan mengalami kelumpuhan di kakinya, awalnya kami dikira sedang bercanda tapi di keadaan Reyhan yang masih lemah, anak kami memaksakan untuk bergerak turun dari ranjangnya begitu Reyhan tahu karena ada bukti, Reyhan langsung ... ya, pastinya Dokter mengerti.”
Dokter Sam tersenyum dengan sendu. “Baik Bu, saya mengerti apa maksud dari Ibu. Hal seperti itu memang sudah wajar yang terjadi kok, intinya Bapak dan Ibu jangan cemas, Reyhan akan baik-baik saja. Sebentar lagi Reyhan juga akan sadarkan diri, saya sudah memastikan itu.”
“Baiklah Dok, terimakasih. Kami menjadi lega Reyhan tidak terjadi buruk yang seperti dulu waktu itu, terimakasih sekali lagi, Dokter.”
“Iya Pak, sama-sama. Kalau begitu saya dan suster-suster mohon pamit, ya Ibu Bapak. Assalamualaikum ...”
“Waalaikumsalam, Dok.”
__ADS_1
Usai dijawab kompak oleh kedua orangtuanya Reyhan, dokter Sam dan para perawat melangkah balik badan untuk keluar dari kamar rawat. Angga yang masih diam seperti patung di ambang pintu, langsung cekatan melepas tangannya dari gagang pintu dan tunduk pelan pada beliau yang tersenyum ramah pada Angga.
“Kamu tidak perlu khawatir, ya? Sahabatmu baik-baik saja hanya sekarang ini Reyhan belum sadar, tapi nanti dia akan sadar kok. Dokter sudah memastikannya tadi,” ujar ramah dokter Sam seraya menyentuh bahu kanan Angga.
Angga hanya tersenyum sopan pada beliau untuk menjawab tanggapan tenang dari dokter Sam. Dokter Sam yang menggunakan kacamata kembali tersenyum begitupun beberapa perawat lelaki. Kemudian setelah itu, sang dokter pergi meninggalkan Angga serta para perawat yang selalu bersama dokter Sam. Angga juga yang tak masuk-masuk ke dalam kamar rawat sahabatnya, kini melangkah kakinya masuk ke dalam ruangan.
Tanpa mengucapkan salam karena lebih fokus ke Reyhan yang terbaring lemah tak sadarkan diri, Angga terus berjalan ke dalam kamar rawat no 114 tanpa diketahui Farhan serta Jihan yang masih menatap anak putranya. Angga berhenti berjalan disaat dirinya telah tepat di dekat ranjang pasien sahabatnya.
Farhan menghembuskan napasnya dan akan berbalik badan untuk duduk di sofa karena punggung dan kakinya begitu pegal, mungkin faktor sudah tua meskipun wajahnya masih terlihat muda.
“Eh, Astaghfirullahaladzim! Angga?! Kamu dateng kapan dan darimana?! Dari atas genteng, ya?! Kaget banget lho Om! Astagaaa ...” Farhan mengelus-elus dadanya usai rada terlompat karena amat terkejut kedatangan sahabat dari anaknya yang berada di sampingnya persis.
“Eh! Maafin Angga, Om! Angga gak bermaksud ngagetin Om!” ucap Angga dengan meringis.
“Iya-iya nggak apa-apa, kamu datangnya dari kapan, Ngga? Kok Om sama tante gak lihat kamu?”
“Sudah dari tadi kok, Om.”
“Lah? Beneran udah dari tadi?! Harusnya Om kalau enggak tante. Oh, Om tau kamu pasti nyamar dulu jadi pesulap handalan yang sering pakai jubah itu, kan hehehehe.”
“Eh Nak Angga, berarti udah di sini dari tadi, ya? Biasanya kamu ngucapin salam, jadinya Tante sama om gak tau kalau kamu masuk sini,” ucap Jihan ramah yang memiringkan badannya ke Angga yang Angga tertutup oleh tubuh suaminya di depannya.
“Iya Tante, Angga minta maaf.” Permintaan maaf pemuda itu diterima Jihan dengan senyuman cantiknya.
Namun Angga langsung terbesit ucapan yang sebetulnya ingin ia sampaikan ke Farhan dan Jihan, tapi malahan lupa untuk menyampaikan yang padahal kejadian yang tergambar jelas di mata gaibnya dari semenjak Reyhan mengalami Koma. Maka dari itu, Angga segera menyampaikan tersebut.
“Om, Tante .. Angga mau menyampaikan sesuatu untuk Tante dan Om, tapi mungkin mustahil buat kalian berdua percaya apa yang Angga bicarakan.”
“Yaelah Angga, cerita aja belum. Gimana mau percaya atau enggak-nya?? Yaudah gih, kamu mau menyampaikan cerita apa?” tanya Farhan penasaran.
“Sebenernya itu sudah lama sih, Om. Angga mau menyampaikan dari dulu tapi malah lupa.”
Jihan menutup mulutnya pelan dengan tangan telapak-nya. “Oh, Angga lupa? Memangnya itu cerita apa, Nak?”
“Eeee, ini soal Reyhan yang di teror-”
“Hah! Arwah itu, ya??!!” tebak tanya Farhan dengan wajah mulai murka.
“Iya Om, benar. Jadi-”
“Hm, Om yakin pasti kamu dapet penglihatan dari mata batin-mu waktu itu! Apa itu ada kaitannya Reyhan jadi seperti ini?!”
Angga tersenyum kecut. “Iya Om, andai jika Arwah itu tidak melakukan se-nekad itu. Mungkin Reyhan gak akan terjadi kecelakaan. Arwah yang bernama Arseno itu sengaja melakukan penyamaran menjadi wujud Reyhan. Kejadian itu disaat tengah malam sebelum Reyhan mengalami kecelakaan besar.”
“Keterlaluan sekali!!” geram Farhan.
“Papa, tenang dulu Pa, jangan emosi begini.” Jihan mengusap beberapa kali punggung suaminya yang mendengus amarah yang memuncak.
“Nak, kalau Tante boleh tahu .. kenapa hantu itu melakukan setega yang dia lakukan? Maksudnya bagaimana, Nak. Angga tahu?”
Angga menganggukkan kepala pasti. “Arseno ingin membuat hubungan keluarga kalian bentrok dan hancur dibuatnya sendiri. Tetapi keinginan yang sangat Arseno dapatkan, dia mau Reyhan celaka hingga mati disaat Arseno membikin Reyhan kecelakaan waktu malam bulan yang sudah berlalu.”
“Ya Allah!” Jihan menutup mulutnya lagi dengan kedua telapak tangannya seraya menatap Reyhan yang belum sadarkan diri lalu menoleh ke arah lelaki Indigo sahabatnya Reyhan itu. “Jadi Arwah jahat itu yang sengaja buat Reyhan ketabrak truk?!”
Angga mengangguk lagi dan Farhan langsung bertanya padanya, “Kamu tahu darimana, Ngga kalau Arwah brengsek itu ngelakuin hal keji itu dengan anak Om??!!”
“Di kejauhan tempat lokasi kecelakaan Reyhan ...”
Flashback On
Disaat malam itu, Reyhan tengah sangat butuh pertolongan medis darurat bahkan untuk menuju ke dalam RS Wijaya, hidung sekaligus mulut Reyhan yang berlumuran darah ditempelkan oleh Ambu Bag ialah alat yang memberikan pernapasan buatan untuk Reyhan yang tengah sekarat 100%
Dari kejauhan Angga akan membantu mendorong-kan kasur roda Reyhan bersama dua dokter dan beberapa perawat, namun dirinya merasa sedang dipandang jauh oleh Arseno. Dengan air mata membasahi kedua pipinya, Angga menolehkan cepat kepalanya ke arah Arseno yang tengah diam berdiri di pinggir sebrang jalan. Senyuman sosok itu mengukir menjadi miring dan menyeringai kemudian. Angga tak ada rasa takut sedikitpun pada Arwah remaja menyeramkan tersebut, malah justru Angga menggerakkan giginya dengan kedua mata sipit mengernyit karena marahnya ia di hati begitu meluap-luap.
Flashback Off
Farhan begitu tidak menyangka itu. Ia berpikir kecelakaan itu adalah hal biasa yang sering terjadi di berita-berita TV. Meskipun anaknya telah bangun dari Komanya, namun beliau tidak bisa tenang kalau anak putranya mengalami Depresi yang berlebihan seperti apa yang dikatakan dokter Sam dahulu. Farhan berjongkok lalu menggenggam telapak tangan Reyhan yang lemas, dirinya menumpahkan segala kesalahannya terhadap anaknya waktu itu.
“Maafin Papa, Reyhan! Meskipun itu kamu sudah baik-baik saja tapi Papa masih tetap bersalah sama kamu, Nak hiks!”
“Pa, sudah Pa ...”
“Papa gak bisa memaafkan diri Papa sendiri yang sudah keterlaluan banget sama kamu, andai waktu itu kamu gak masuk sini kamu gak akan mungkin kecelakaan yang dibuat makhluk tidak ada gunanya itu hiks!”
“Maaf Nak, maaf ...” lirih Farhan dengan wajah menelungkup di telapak tangan Reyhan bersama hisakan tangisan kecewanya terhadap dirinya sendiri.
Angga yang berdiri tak tahan melihat Farhan yang terus menangis menyalahkan kesalahannya beliau sendiri, Angga ikut berjongkok lalu mengusap-usap punggung sang ayah Reyhan untuk menenangkan hatinya.
“Sudah Om, Om tidak perlu menyalahkan diri seperti ini. Semuanya sudah berlalu, terlebihnya lagi Reyhan sudah memaafkan kesalahan pahamnya Om dan juga tante Jihan.”
Jihan yang sedari tadi sudah berjongkok di sebelah kiri suaminya yang menangisi kesalahannya, mengelus sayang bahu suaminya. “Papa jangan begini dong, anak kita sekarang sudah baik-baik saja. Tidak buruk seperti keadaannya yang waktu anak kita Koma begitupun Kritis, Pa. Kita harusnya berterimakasih kepada Allah karena Allah masih menyelamatkan Reyhan ...”
Jihan setelah mengutarakan kata-kata lembut yang keluar dari mulutnya, dengan air mata menetes mengalir ke pipi putihnya wanita itu memeluk Farhan sang suami dengan cintanya serta memberikan ketenangan Farhan saat ini. Suaminya yang masih menggenggam anak semata wayangnya, melepaskan kedua tangannya dan beralih sedikit menyongsong badannya untuk membalas pelukan hangat dari istrinya.
Angga melepaskan tangannya dari punggung Farhan, membiarkan beliau tenang hati dan reda tangisannya. Angga tersenyum pilu menatap kedua orangtuanya Reyhan lalu bangkit berdiri, namun alangkah terkejutnya bola mata Angga tak sengaja mengarah melihat luar jendela. Arwah negatif itu lagi! Angga menatap tajam Arseno bahkan ia menekan salivanya karena tak suka kehadiran arwah tersebut yang pembawa sial dan malapetaka.
__ADS_1
Arseno yang ditatap penuh tajam oleh manusia pemuda Indigo itu hanya membentuk senyuman menyeringai di jarak yang lumayan dekat dari Angga. Akan tetapi dalam relung hati Angga bertanya-tanya karena senyuman mengerikan Arwah negatif itu bukanlah senyuman seperti biasanya namun senyuman yang ada penuh artinya yang belum Angga ketahui maksud senyuman seringai Arseno padanya.
Indigo To Be Continued ›››