Indigo

Indigo
Chapter 180 | Giant Creatures


__ADS_3

Terdapat dua arwah positif sedang memantau Angga yang terbaring lemah Koma di ranjang pasien. Tatapan mereka berdua sangat sendu menatap wajah pucat dari lelaki tampan Indigo tersebut.


Hingga salah satunya menghela napasnya dengan tanpa menggantikan wajah murungnya ke ekspresi lain. “Aku gak nyangka, Angga bisa kembali Koma di rumah sakit ini ... keadaannya juga memburuk, aku takut jika dia menjadi arwah seperti kita.”


Cahya menoleh ke arah Senja dengan menyusutkan keningnya. “Bukannya bagus, ya? Angga malah bisa menjadi teman abadi kita, kan.”


Senja yang sebal, langsung mendorong bahu Cahya sang sahabat kecilnya. “Ih! Jangan, dong! Apa kamu gak kasihan sama orang-orang yang menyayangi diri Angga?! Kayak contohnya pacarnya, sahabat-sahabatnya, keluarganya, dan teman-temannya?!”


“Mikir, dong!” lanjut sarkas Senja dengan menunjuk sekaligus menempelkan sisi keningnya pada Cahya.


Cahya yang diberikan sentakan oleh Senja, hanya membuang napasnya lalu memilih kembali menatap Angga yang terlentang dihadapannya. Sampai akhirnya pemuda arwah bermata ungu itu menoleh ke arah kantong darah dan selangnya yang cairannya menyalurkan ke dalam tubuh Angga.


“Ck, pasti luka yang dialami Angga parah banget. Gak mungkin juga nggak parah kalau sampe dikasih kantong darah segala yang nyantol di gantungan tiang infus,” gumam Cahya.


“Ya mesti parah banget, lah! Walau kita ini sudah sebatas arwah yang gak bisa kembali ke raga, kita masih bisa nonton berita di TV punyanya manusia!” respon Senja yang mendengar gumaman Cahya.


Cahya melimbai cepat kepalanya ke arah Senja yang tepat berdiri di sebelahnya. “Denger, amat?”


“Kamu pikir aku cewek budeg?!”


Cahya mengerjapkan matanya seraya menelan ludahnya karena mendengar suara nada intonasi tinggi yang keluar dari mulut gadis arwah itu. “Galak banget, sih ini cewek?”


“Biarin galak, yang penting masih cantik!”


“Idih! Jadi cewek kok terlalu pede, masih cantikan juga si Freya pacarnya Angga,” cibir Cahya.


“Gak usah bandingin-bandingin aku sama sosok manusia! Hantu dan manusia tuh, bagaikan langit dan bumi!”


Cahya tertawa pada omelan Senja untuknya, sedangkan gadis makhluk gaib itu yang ditertawakan olehnya, melipatkan kedua tangannya dengan mendengus kesal.


“By the way, bangunan rumah sakit ini terkenal penuh mistis dan angker, ya? Soalnya aku ngerasain banyak keberadaan hantu-hantu yang sejenis kita tapi memiliki aura-energi negatif. Bahkan untuk makhluk astral yang positif, populasi jumlahnya sedikit.”


Senja menghela napasnya lalu melirikkan bola matanya untuk menatap Cahya yang mengusap tengkuknya. “Memang begitu. Makhluk-makhluk di sini pun tenaga kekuatannya juga luar biasa, jadi gak aku saranin kamu maju menghadapinya.”


“Kata siapa mau ngadepin mereka yang energinya negatif? Ogah, kali! Mana juga takut kalau kena serangannya. Pasti sakit,” protes Cahya.


“Sakit tapi gak bikin kamu mati! Tapi masa kamu takut, sih sama keberadaan mereka yang negatif? Bukannya kamu pernah melawan Arseno Keindre, waktu itu?” tanya Senja.


“Arseno Keindre yang dulu meneror Reyhan? Em, kalau itu sih aku kagak takut. Karena hati Arseno hanya sebatas dendam saja kepada manusia yang telah membunuh sadis raganya, dan Reyhan yang terkena lampiasan amarahnya. Beda dengan hantu-hantu yang menghuni di bangunan ini, mereka memiliki kekuatan negatif berdasarkan titisan iblis.”


Jawaban panjang nan lebar Cahya berhasil membuat membuat Senja tersenyum miring. “Pinter juga ini anak rupanya. Siapa yang ngasih tahu? Padahal kamu jadi arwah belum ada satu tahun.”


Cahya bersedekap di dada seraya menaikkan satu alisnya dengan menatap wajah Senja. “Kemarin aku sengaja dateng ke alam arwah dan roh, kebetulan ada di salah satu antara mereka yang arwah ngasih tahu aku tentang kediaman bangunan rumah sakit ini yang menyimpan hal mistik. Ada beberapa penjelasan detail, sih dari dia. Pokoknya rumah sakit di dunia jiwa ini bukan sembarangan bangunan.”


“Banyak sekali makhluk-makhluk negatif yang mempunyai kekuatan energi negatif untuk membasmi atau istilahnya mengusir para makhluk yang kekuatannya setipis lembar kertas dan pemilik antara aura serta energi yang positif,” ulas Cahya.


Senja menganggukkan kepalanya dengan senyum. Ya, memang benar apa yang Cahya katakan padanya dari seluruh rentetan penjelasan salah satu arwah yang pernah Cahya temui di alam sana. Kini mereka berdua kembali menghadap depan untuk menatap kondisi Angga yang terbaring lemah dalam Koma kronisnya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Dengan senyumnya yang merekah di wajah beliau, Jihan meletakkan mangkuk bubur nang telah tandas di makan oleh putranya saat ia suapi penuh lembut. Sementara jika Farhan berada di kota Jakarta untuk bekerja di kantornya di salah satu perusahaan.


“Kamu lapar kah, Nak? Buburnya sampai ludes begitu,” kelakar Jihan.


Reyhan melirikkan bola matanya dengan senyum pada sang ibu yang telah tulus menyuapinya. “Bukannya Mama tadi maksa Reyhan untuk makan? Ya, terpaksa harus di makan sampe habis.”


Jihan terkekeh pada jawaban suara Reyhan yang terdengar setengah serak. Meskipun telah bangun dari Kritis, tetapi wajah tampan itu masih terlihat pucat. Sampai tiba-tiba ada seseorang yang membuka pintu kamar rawat lelaki Friendly tersebut membuat ia serta Jihan menoleh ke arah suara pada pintu yang dibuka.


Reyhan agak tersentak melihat kedatangan beberapa anak remaja seusianya yang sudah dipastikan itu adalah teman-temannya beserta kedua sahabat perempuannya yang hadir. Menatap mereka semua, membuat dirinya semakin melebarkan senyumannya yang ia patri di atas ranjang pasien tempat Reyhan beristirahat.


“Hai,” sapa Reyhan singkat walau senyuman penuh itu tetap ia tampilkan.


“Reyhan Lintang Ellvanooooooo!!!” Aji langsung berlari ke arah temannya itu lalu memeluknya erat.


Pelukan tiba-tiba yang Aji lakukan padanya, membuat Reyhan sontak terkejut. “Woi, kenapa?!”


“Huhuhu! Akhirnya lo sadar juga dari Kritis lo itu, Broooo!! Takut bener gue dari kemarin kalau kami kehilangan sosok cowok Sesat kayak elo!”


“Sial, lo.” Dengan tawa pelan, Reyhan melepaskan kedua tangan Aji yang memeluk tubuhnya nang masih terasa lemas.


‘Sadar dari Kritis? Sejak kapan gue mengidap hal yang bikin nyawa gue mau melayang? Emangnya gue habis kenapa, ya?’ batin Reyhan bingung.


Jevran yang masih berada di tembok putih sebelah pintu kamar rawat, mulai maju melangkah mendekati tetangganya bersama Senyuman bahagianya. “Demi apapun itu, gue bahagia banget akhirnya tetangga gue satu ini kembali sadar. Banyak, tahu yang kangen sama lo.”


“Widih, dikangenin!” pekik riang Reyhan.


“Seneng amat, lo dikangenin banyak orang? Oh iya, gue mau ngasih elo sesuatu, wait.”


Jevran membuka resleting tas selempangnya lalu merogohnya untuk mengeluarkan sebuah ponsel Android dan lalu setelah itu ia ulurkan tangannya pada Reyhan yang mana dirinya telah menggenggam handphone tersebut.


Reyhan sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap ponsel yang diberikan oleh Jevran. “HP? HP gue, nih?”


“Ya, iyalah ini HP lo. Masa HP gue? Ya kali gue mau ngasih my handphone ke elo. Privasi, hahaha!”


Reyhan terkekeh seraya menerima ponselnya yang terlihat baru jika dipandang. “Thank you so much. Eh, tapi gimana ceritanya HP gue bisa ada di elo?”


Jevran menghela napasnya. “Setelah tragedi di hutan tepatnya lokasi markas itu, HP lo gue bawa karena kondisinya saat itu udah ngenes.”


“Ngenes apaan? Orang keliatan baru gini, kok. Mata lo minus seratus, ye?” ledek Reyhan secara spontan.


“Ha? Pppfft! Buahahaha! Emangnya ada, orang kena mata minus seratus? Ade-ade aja mulut lo, Rey!” tawa Aji yang menggelegar.


“Itu ketawa manusia, apa demit Genderuwo? Gede amat kayak suara bledek,” celetuk Rangga.


Freya dan Jova yang mendengar suaranya Rangga hanya sebatas senyum dengan menggelengkan kepalanya kompak, beda jika seperti ibunya Reyhan serta beberapa remaja lainnya. Aji mendesis jengkel karena telah ditertawakan oleh mereka.


“Belom pernah gue cekokin pake pizza rasa sepatu petani, yak?! Dasar anak Batagor!” sembur Aji pada Rangga dengan mata melotot.


“Eh, Kampret! Bogor, kali! Batagor, mah jajanan!” sembur balik Rangga seraya mendorong punggung Aji sampai nyaris jatuh tersungkur ke lantai.


Jevran tersenyum miris dengan menatap Reyhan tajam. “Kenapa gak sekalian lo ngatain gue buta?!”


“Hehehehe! Sorry,” ungkap Reyhan sambil mengangkat dua jarinya bersimbol peace


Jevran mendengus. “Yoi. HP lo gak mungkin keliatan baru jika gue kagak merenovasi itu HP Oppo lo-”


“Lo pikir bangunan?” potong Reyhan.

__ADS_1


Jevran mendesis kesal lalu menyentil kening sentral tetangga dekatnya yang tak tertutupi oleh rambut cokelatnya. “Dengerin gue dulu, Njir!”


“Aduh!” Reyhan langsung mengusap jidatnya yang sudah disentil keras oleh Jevran.


“HP lo waktu itu lumayan rusak di antara layar depan dan bagian belakang. Tapi lo tenang saja, gue sudah memperbaikinya semua, kok. Mulai dari tempered glass sampai casing-nya. Itu semua pakai uang gue, demi kebaikan buat tetangga gue, hahaha!”


Mata Reyhan membulat. “Wow. So amazing, Bro! Lo baik banget sama gue, hahaha! Thanks lagi, deh kalau gitu.”


“Lo aja pernah baik sama gue, masa gue gak akan balas kebaikan lo terhadap gue? Yang penting memori datanya masih aman di dalem dan kagak rusak karena kena air waktu beberapa hari yang lalu.”


Ungkapan Jevran membuat Reyhan terdiam. ‘Gue waktu itu kecelakaan lagi? Kenapa gue gak bisa ingat apa yang terjadi dengan gue?’


“Terimakasih atas semuanya ya, Jevran. Kamu sudah membantu memperbaiki ponselnya Reyhan waktu itu, sampai rela-rela mengeluarkan uang tabungan untuk membelikan semua yang diganti.”


Jevran menoleh ke arah Jihan lalu tersenyum. “Siap, Tante! Untuk Reyhan, mah gampang. Semuanya bisa Jevran lakukan.”


“Anjay! Kok, gue malah jadi terhura, ya?”


“Terharu, yang bener! Itu kata dibenerin dulu, napa sebelum ngomong!” semprot Jevran pada Reyhan.


“Eh, nah itu maksud gue.” Kemudian Reyhan tak sengaja mengarahkan bola matanya ke arah dia gadis sahabatnya yang tengah diam menatapnya dari tembok sisi pintu kamar rawat.


“Halo, my best friend yang cantik!” sapa Reyhan dengan melambaikan tangannya ke atas.


Namun berselang detik kemudian, Reyhan merasa ada salah satu remaja yang belum datang menjenguknya. ‘Bentar, cuman mereka? Angga mana, ya? Tumben gue lagi sakit dia gak hadir. Atau lagi ada keperluan di luar?’


“Kamu kenapa, Rey? Kok mukanya kayak kebingungan gitu?” tanya Jova yang sedari tadi diam bersama Freya.


“Itu, kenapa kalian berdua saja yang datang? Angga, dimana? Kurang satu sahabat nih, hehehehe! Tumben bener, lho Angga gak hadir di saat aku lagi sakit. Lagi ada keperluan, kah? Mangkanya gak bisa dateng ke sini?”


Semuanya terdiam bisu pada pertanyaan Reyhan mengenai kabar Angga. Bahkan dari mereka tidak berani menjawab pertanyaan lelaki Friendly tersebut, termasuk ibunya sekalipun. Melihat mereka yang bungkam, berhasil membuat Reyhan menyusutkan dahinya serta memicingkan kedua matanya.


“Kok, malah diem? Emangnya kagak ada yang tahu? Oke. Kalau gak ada yang tahu, biar gue yang telpon Angga sekarang juga.” Reyhan mengangkat ponselnya dan hendak menghubungi kontak Angga.


“Eh, bentar!” pekik Aji seraya mencekal tangan Reyhan yang akan memencet kontak Angga nang ada di aplikasi WhatsApp.


“Kenapa? Lo, kan gak tahu. Berarti gak ada salahnya gue telpon sahabat gue yang satunya.”


“Aduh! Bukan gitu, Rey maksudnya. Itu- anu ... Angga ada di sekitar rumah sakit ini, kok. Dia gak ada keperluan apapun di luar!”


Mata Reyhan melebar seraya menurunkan ponselnya ke selimut tebal yang ia kenakan. “Serius?! Wah, panggilin ke sini, dong! Bilang ama dia, gue kangen.”


Aji meneguk salivanya susah payah, karena jika ia memberi tahu tentang keberadaan Angga saat ini, Reyhan bisa terkejut setengah mati. ‘Mampus, gue ...’


Reyhan lagi-lagi mengerutkan keningnya dengan menatap Aji curiga yang mana raut temannya gusar layaknya sedang menyimpan sesuatu. ‘Mampus gue? Emangnya Angga kenapa di rumah sakit ini?’


“Ekhem! Emangnya Angga kenapa? Tampang muka lo kayak lagi menyembunyikan suatu hal dari gue. Bilang, sahabat gue kenapa?” tanya Reyhan sambil menatap tajam mata Aji.


“Eeeee ... Anggaaaaa ... duh! Gimana ya, Rey? Gue takut mau jelasin semuanya ke elo. Gue takut kalau-”


“Ngapain takut? Gak-nya gue gigit lo kalau lo jawab yang sebenernya. Nggak apa-apa, jujur saja. Karena dari tampang-tampang muka kalian semua sukses bikin gue curiga dan penasaran,” potong Reyhan pada Jevran.


Jova menghela napasnya dengan berat lalu memberanikan diri untuk menatap wajah pucat Reyhan. “Rey? Jika kamu ingin tahu kabarnya Angga sedang ada dimana ... oke, aku bakal jawab.”


Jova menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya keluar dengan lirih, walau hatinya sangat penuh beban bila ia menjawab jujur kepada sahabat lelakinya yang siap menanti penutur responnya.


DEG


Napas Reyhan tercekat tatkala, matanya mencuat karena Syok mendengar jawaban lemas dari Jova. Hingga akhirnya pemuda itu menggelengkan kepalanya karena merasa tidak percaya apa yang dikatakan Jova dengan pilunya ekspresi wajah.


“Alah, Va! Masa sahabat sendiri kamu prank, sih? Padahal ini belum tanggal ulang tahunku, lho. Masih tahun depan. Hahaha! Jangan bercanda, tolong.”


Freya mendongakkan kepalanya dan menatap Reyhan bersama wajah murungnya. “Tapi apa yang dibilang Jova ... benar, Rey. Keadaan Angga saat ini Koma di salah satu ruang ICU. Apakah kamu tidak percaya pada kami?”


Tidak. Jika Freya yang menjawab, Reyhan akan percaya bila sahabat gadisnya sedang berkata jujur. Karena seperti sosoknya Freya, ia sulit untuk berkata bohong kepada orang lain terlebih orang yang dirinya akrab.


Perlahan air mata Reyhan turun membasahi pipinya dengan tersenyum miris. “Ini bukan mimpi, kan? Kenapa kalian gak bilang dari tadi?! Justru kalian tadi malah diam saja! Seolah Angga baik-baik saja!”


“Gue takut lo kaget, karena posisi lo di sini sedang sakit ...” ungkap lengai Jevran.


“Alasan! Antar gue ke ruang ICU-nya Angga!” pungkas Reyhan sambil menyingkap selimutnya lalu hendak turun dari ranjang pasien dari samping kiri.


“Apa?! Sekarang?!” kaget Jevran sampai spontan menarik wajahnya ke tatapan Reyhan yang sebelum itu pandangannya menunduk ke bawah.


“Gak! Pas ajal menjemput gue! Sekarang, lah! Pake ditanya, lagi!” sarkas Reyhan.


Joshua yang sebagai ketua kelas di kalangan SMA Galaxy Admara kota Jakarta, langsung berlari menghampiri wakil kelasnya yang akan menurunkan kedua kakinya di lantai. Kedua tangannya kemudian saling menahan badan Reyhan agar mengurungkan niatnya untuk menengok Angga yang menyambangi Koma di dalam salah satu ruang ICU.


“Rey! Gue tahu lo ingin bertemu Angga yang sekarang kondisi sahabat lo sedang Koma di sana, tetapi tolong jangan sekarang. Lo baru dua hari kemarin bangun dari Kritis ... apalagi keadaan elo belum benar-benar pulih,” tutur Joshua.


Reyhan menggelengkan kepalanya kuat lalu saling menempelkan kedua telapak tangannya di satu sama lain untuk memohon pada mereka. “Jangan larang gue, please. Izinkan gue untuk bertemu Angga di sana. Hanya sebentar, saja! Ya?!”


Reyhan beralih menoleh ke arah Jihan yang berdiri di belakangnya. “Boleh ya, Ma ...”


Jihan bungkam sejenak menatap wajah putranya yang nampak memelas. Ini masih baru hanya kaget saja, bagaimana jika Reyhan telah mengetahui penyebab Angga Koma adalah ulahnya Gerald?


“Yasudah kalau maumu seperti itu, biar teman-teman kamu yang mengantarmu ke tempat lantai lokasi ruang intensifnya Angga,” setuju Jihan mengiyakan walau sebenarnya ragu.


Reyhan tersenyum lebar dengan menganggukkan kepalanya antusias. Tetapi baru akan turun dari ranjang pasien, keseimbangannya langsung goyah dan bersama tangkasnya, Aji menahan tangan lelaki Friendly tersebut.


“Gini saja lo sudah mau ambruk,” protes Aji.


“Gue mintakan kursi roda sama suster di luar dulu, ya? Biar lo ke sananya dengan kami enggak kesusahan,” tawar Jevran.


“Ngapain? Lo kira gue lumpuh lagi seperti dulu?! Enggak! Gue bisa!” Mulai munculah sisi keras kepalanya Reyhan.


Jevran dan Aji dengan saling kompak menghembuskan napasnya merasakan watak keras kepalanya Reyhan yang hari ini tidak mau diatur. Kini sekarang dua pemuda itu dengan hati tulusnya membantu Reyhan turun dari ranjang pasien, serta salah satu di antara mereka yang menuntun lelaki humoris itu menggiring tiang infus nang beroda.


“Kamu hati-hati, ya?” ungkap Freya.


“Nanti kalau sudah selesai nengok Angga, segera balik ke sini. Kondisi tubuhmu masih butuh istirahat untuk proses pemulihan,” imbuh Jova.


Reyhan hanya dua sebatas antara anggukan kepala serta senyum tipis untuk menanggapi kedua sahabat perempuannya yang memperhatikan langkahnya bersama Jevran dan Aji yang memapah dirinya.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Usai menaiki lift untuk menuju ke lantai 4 tempat dimana Angga dirawat, ketiga remaja lelaki itu kini melanjutkan langkah kakinya menyusuri lorong yang nampak begitu sepi. Sampai saat sedang melangkah beberapa meter dari pintu lift, Reyhan selintas melihat kedua orangtuanya Angga mengikuti sang dokter pria ke jalan yang berliku.

__ADS_1


‘Om Agra? Tante Andrana? Mereka dipanggil dokter yang memantau kondisi Komanya Angga, ya? Apa jangan-jangan beliau ingin mengabarkan sesuatu pada mereka berdua?’


“Reyhan. Kita sudah sampai di daerah tempat ruang ICU-nya sahabat lo,” celetuk Aji hingga membuat Reyhan terkesiap.


Reyhan mengerjapkan matanya sebentar lalu menoleh ke arah Aji yang sengaja memanggilnya. “Mana?”


“Itu, di sana.” Jevran menunjuk arah ruang rawat Intensif Angga yang ada di jarak 3 meter dari tempat ia dan ketiga temannya berada.


Mata Reyhan langsung terpaku saat pandangannya beralih memusat ke arah salah satu ruangan yang ada di depan matanya, bahkan jiwanya mendorong raganya untuk melangkah sendiri menghampiri tempat pembaringan lemah sahabat Introvert-nya.


“Eh! Ei! Jangan jalan alone, woy!” teriak Aji seraya memarani Reyhan yang telah meninggalkannya begitupun Jevran.


“Cowok preman! Ini rumah sakit, jadi jangan berisik!” geram Jevran membekap mulut Aji sesaat lalu membebaskannya dari bekapan telapak tangannya.


Langkah Reyhan berhenti saat telah di depan jendela kaca pembatas ruangan yang digabung oleh tembok berwarna putih. Mulutnya bungkam, kedua matanya saling mengembun waktu menatap pemuda yang ia kenali tengah terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang pasien bersama beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya.


Tangan kanan Reyhan perlahan terangkat untuk menyentuh kaca jendela pembatas ruang intensif sahabat Indigo-nya, sementara telapak tangan kirinya menggenggam tiang infusnya. Kedua kakinya lemas nyaris tak bisa ditopang, air matanya terus mengalir lolos membasahi pipi putihnya.


“A-angga? Itu elo, kan? Bukan orang lain ...?”


Reyhan mengeratkan genggamannya pada tiang infusnya dengan merapatkan bibirnya sejenak waktu bola matanya beringsut melihat papan name tag ranjang pasien yang bertuliskan nama lengkap atas dengan 'Anggara Vincent Kavindra'. Ya! Itu adalah indentitas nama sahabatnya.


“K-kenapa? Kenapa ini bisa terjadi pada lo? Siapa dalangnya yang telah membuat diri lo menjadi Koma seperti ini ...” lirih Reyhan dengan nada serak.


Kedua temannya yang telah berada di samping kirinya hanya diam tak berkutik walau ekspresi dan lubuknya begitu gundah mengenai kondisi Angga yang bertambah memburuk di dalam Komanya.


“Bagaimana keadaan dia saat ini? Kalian tahu?” lengai Reyhan bertanya pada teman-temannya.


Jevran menelan ludahnya lalu menghembuskan napasnya pelan sembari menundukkan kepalanya. “Ini sesuai apa yang dikatakan om Agra dari dokter, kondisinya Angga memburuk dimana detak jantungnya melemah, dan untuk kesadarannya kemungkinan hanya mampu mencakupi lima persen.”


Mata Reyhan melotot karena begitu terperangah hingga menatap Jevran yang ada di sisi kirinya. “Lo serius?! Lo lagi gak bohongin gue, kan?!”


Jevran menggelengkan kepalanya. “Gue tadi, kan sudah bilang ini sesuai apa yang dikatakan om Agra dari dokter. Dokter yang menangani Angga.”


Reyhan memalingkan wajahnya perlahan dari Jevran ke jendela bersama wajah lemasnya. “Maksudnya, kesembuhan Komanya Angga kecil, gitu? Hiks! Kenapa ini bisa terjadi?! Gue bahkan gak tahu apa penyebabnya sahabat gue masuk rumah sakit!”


Aji dan Jevran hanya sanggup menipiskan bibirnya dengan pandangan menunduk, bukan saat tepatnya mereka berdua mengatakan hal kebenaran siapa dalangnya yang telah membuat Angga Koma. Sedangkan Reyhan nang fokus meninjau kondisi sahabatnya dari luar ruangan, teralihkan pada sosok misterius yang berada di sisi ranjang pasiennya sang sahabat.


Reyhan melihat sosok itu dengan detail secara meneliti dari ujung bawah kaki hingga ujung kepala. Sosok misterius yang berwajah mengerikan tersebut memiliki tubuh nang sangat tinggi dan besar, alias raksasa. Di salah satu tangannya yang berotot nan berurat membawa senjata rantai dengan bola besinya dibawah sekaligus.


Mukanya dipenuhi lumuran darah menjijikkan bersama lendirnya sekalipun, bola mata hitamnya terus menatap wajah tampannya Angga yang begitu pucat karena kondisi kronis Komanya. Menatap itu secara tak sengaja, membuat perut Reyhan terasa amat mual.


Namun masalahnya, sosok makhluk pria itu memiliki energi dan aura yang negatif. Maka dari tersebut sukses membuat wajah Reyhan semakin memucat, bersama kepalanya yang mulai pening.


Aji yang melihat tatapan aneh Reyhan, memiringkan kepalanya kemudian mengibaskan tangan kirinya di depan temannya. Sayangnya, Reyhan sama sekali tak bergeming apa yang Aji lakukan.


“Rey? Are you okay? Wajah lo, kok nambah pucet kayak gitu? Lo lihat apaan, dah?” bingung Jevran dengan meraba bahu tetangganya.


Kini rasa pening itu dicampur dada yang bak dihujam oleh belati, membuat Reyhan seketika melepaskan genggamannya dari tiang infus untuk menyentuh dadanya dengan tatapan tetap terpaku di makhluk misterius menggentarkan tersebut yang membuat imun tubuh lelaki Friendly itu merendah.


‘Makhluk negatif raksasa apa itu ...’


Pandangan mata yang mengabur tersebut berubah cepat menjadi gelap bersama raga nang tumbang ke lantai, tetapi dengan sigap Jevran menopang punggung Reyhan, sementara Aji menahan tiang infus yang hampir terjatuh.


“Rey?! Rey?! Lo kenapa, Ya Allah?! Reyhan!” panik Jevran menepuk pipi sebelah Reyhan berkali-kali yang kondisinya telah tak sadarkan diri.


Kedua pemuda itu yang bersama Reyhan, berusaha menyadarkan lelaki tersebut dari pingsannya yang secara tiba-tiba hingga mereka berdua kebetulan bertemu dua perawat berseragam putih yang akan menuju ke ruang rawat ICU tempat Angga terbaring lemah Koma.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Sang dokter yang pernah menangani Reyhan di ruang ICU saat bermasa Kritis, tengah intens menyorotkan satu-persatu mata Reyhan pakai senter medis yang memiliki ukuran kecil nang biasa beliau gembol di kantong jas putihnya.


Sementara seperti kedua sahabat, kesembilan teman, dan ibunya Reyhan fokus memperhatikan dokter itu yang sedang menangani pasiennya. Raut wajah mereka sama-sama khawatir terhadap kondisi Reyhan yang kembali kehilangan kesadarannya.


Setelah tuntas, beliau memasukkan senter medisnya lalu menatap kesemuanya yang menatap matanya bersama senyuman simpel. “Tidak ada yang perlu di risaukan, kesadaran Reyhan yang turun secara tiba-tiba disebabkan tubuhnya dalam proses menuju kesembuhannya dari Kritisnya saat itu.”


Jihan maju selangkah mendekati sang dokter bersama ekspresi raut cemasnya. “Tapi bukan karena faktor dari racun yang ada di dalam tubuhnya anak saya kan, Dok?!”


“Bukan, Ibu. Tentang keberadaan cairan racun yang mengandung zat Kimia bahaya tersebut telah musnah dari tubuhnya Reyhan karena obat yang saya berikan melalui infusnya pasien waktu itu, jadi jangan terlalu khawatir pada Reyhan ya, Bu?”


Jihan tersenyum pada beliau dengan menganggukkan kepalanya. “Baik, Dokter. Terimakasih.”


“Sama-sama, dan kalau Reyhan telah siuman, selang oksigennya bisa boleh dilepas, ya? Alat bantu nafas ini hanya untuk membantu meningkatkan kadar oksigen Reyhan yang sedang menurun. Jika begitu, saya dan suster pamit. Assalamualaikum.”


Mereka semua yang diberi salam oleh beliau, menjawabnya bersama senyuman leganya. Lalu kemudian dokter dan dua perawat lelaki tersebut melangkah keluar dari kamar rawatnya Reyhan serta tak lupa menutup pintunya.


“Syukurlah, Reyhan baik-baik saja ...” ungkap Freya seraya menyentuh tengah dadanya karena begitu lega mendengar penyampaian dari dokter tadi.


“Iya.” Kemudian setelah Jova menanggap Freya, gadis Tomboy itu melemparkan tatapan mata tajam layak pisaunya ke arah Jevran dan Aji yang tadi mengantarkan Reyhan.


“Gimana ceritanya Reyhan bisa pingsan, sih?! Gak becus kalian jaganya, ya?!”


Freya yang mendengar suara amukannya Jova, hanya nyengir dan bergidik ngeri. Sementara Aji dan Jevran meneguk ludahnya kasar dengan tampang takutnya menatap raut murka gadis sahabatnya Reyhan.


“Kalian apain Reyhan, tadi?!” sebal Jova membutuhkan ke pastikan sambil menuding kedua teman lelakinya.


“A-anjir ini cewek,” gumam Aji.


“Anu! Kita gak ngapain-ngapain Reyhan, kok! Suwer, demi Allah! Lagian, kan sahabatmu sama Freya gak kenapa-napa, hehehehe!” desak Jevran sambil mengangkat dua jarinya.


“Yes, untung gak kenapa-napa! Kalau sampe terjadi sesuatu, awas saja kalian berdua! Aku smackdown, biar mampus!” ancam Jova.


‘Cog! anjir bet ini cewek mantan Karate satu,’ batin Jevran takut dengan menelan salivanya lagi.


“Reyhan sampai pingsan begini bukan karena Syok melihat Angga yang Koma, kan?” tanya lembut Freya dengan wajah sendunya.


Aji melirikkan bola matanya sejenak lalu menatap mata manik indahnya kekasih Angga. “Kayaknya bukan. Pandangan Reyhan sebelum pingsan, tuh mengarahnya ke samping kasur baringnya Angga.”


“Posisi pandangan matanya Reyhan juga kosong, kami gak tahu apa terjadi dengan sahabat kalian. Ada kami panggil-panggil namanya, dia juga nggak jawab,” timpal Jevran membantu Aji menyelesaikan penjelasannya.


“Kosong?”


“Iya, Tante. Sebelum Reyhan pingsan, matanya sempat kosong istilahnya seperti melamun,” respon Aji.


Freya dan Jova saling terdiam setelah mendengar penjelasannya antara Aji serta Jevran secara seksama. Jika pandangannya sampai kosong, Mungkinkah Reyhan melihat makhluk gaib seperti dahulu? Ya, penalarannya mereka berdua seperti itu.


Jihan menghela napasnya bila memang anak putranya usai melihat makhluk tak kasat mata. Tidak bingung apalagi tidak heran lagi, karena memang dasarnya Reyhan mampu mendeteksi keberadaan makhluk astral yang wujud energi serta auranya negatif seperti Almarhum kakeknya nang tak lain ayah mertuanya dari wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2