
Di dalam salah satu ruangan ICU yang diisi oleh suara mesin monitor pendeteksi jantung, Jihan menggenggam telapak tangan kanan anak putra tampannya yang mengenakan baju pasien. Tubuhnya sangat lemah tidak berdaya, wajahnya terpasang masker oksigen untuk menunjang hidupnya selama kondisinya masih Kritis.
“Reyhan, cepat sadar ya, Nak? Kamu anak yang kuat. Mama dan papa akan tetap di sini menemanimu.”
Jihan beralih mencium sayang telapak tangan kanan lemas Reyhan dengan air mata bercucuran membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak dan hatinya amat terluka meratapi keadaan anaknya yang cukup mengancam nyawa dan menuju proses musnahnya racun zat Kimia yang berada di dalam tubuhnya.
Sementara Farhan yang berdiri, memegang kaki panjang putranya nang tertutupi oleh selimut tebal yang membalut tubuh lemahnya. Air mata pria paruh baya itu juga mengalir meski tidak deras, walau hatinya begitu sakit karena mengenai kondisi Reyhan yang parah.
Jihan kini sekarang beringsut lagi untuk memeluk setengah tubuh Reyhan dengan kepala beliau letakkan di atas dada bidang anaknya yang di dalam pakaiannya terdapat banyak tempelan kabel EKG atau disebut Elektrokardiogram. Bahkan wanita paruh baya itu bisa mendengar melalui telinga kirinya yang telah beliau tempelkan di dada Reyhan bahwa irama detak jantungnya melambat.
Mereka berdua saling tetap Berdoa kepada Sang Maha Kuasa untuk meminta pemulihan dan kesembuhan putranya yang berada di fase ancaman jiwa.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Terdapat di dalam ruang ICU yang berjajar letak ruang rawat ICU-nya Reyhan, kedua orangtuanya Angga menangis terisak-isak menatap kelemahan kondisi lelaki tampan Indigo tersebut. Alat ventilator medis terpasang yang mana mulutnya disumpal oleh selang Intubasi dikarenakan keadaan parahnya yang terserang Koma.
“Angga, maafkan Ayah. Ayah benar-benar menyesal kepadamu! Seharusnya kami tidak meninggalkan kamu di kota Jakarta. Pikiran Ayah terlalu dangkal dan kurang memperhatikan kondisimu yang mengidap cedera di kepala. Hiks, maafkan Ayah ...”
“Kalau Angga sudah sadar dari Koma, Angga boleh, kok memarahi dan tidak menerima permintaan maafnya Mama sama ayah. Kami akui telah salah besar terhadapmu, hiks! Hiks!” ulas Andrana dengan menggenggam erat telapak tangan bagian kanannya Angga sekaligus menempelkan di hidung serta mulutnya bersama derasnya air mata.
Agra menyusutkan air matanya. “Andaikan Ayah mendapatkan sebuah penglihatan masa depan yang mencelakai kamu karena aniaya kejam itu, Ayah dan mama akan bersikeras kepala untuk tidak bertugas di kota Semarang demi keselamatannya kamu. Ayah tidak peduli jika ditegur atau dipecat sekalipun oleh direktur dari kantor perusahaannya Ayah dan mamamu!”
“Pekerjaan dan Angga, lebih penting dirimu ... sungguh, Mama amat menyesal sekali padamu. Ayo, bukalah kembali matamu. Kami sudah ada di samping Angga, Mama dan ayah begitu sangat merindukanmu.”
Tiba-tiba gerakan hela napas dada Angga yang terlihat tenang, berubah menjadi cepat tak beraturan. Angka HR medis yang berada di layar monitor, turun beberapa angka nang sebelumnya tertera angka 57
Hal itu membuat Andrana dan Agra langsung menegang dengan mata membelalak lebar. “Angga?! Kamu kenapa, Nak?! Angga!?”
Guncangan tubuh yang diberikan oleh sang ibu dengan wajah paniknya, direspon bersama raga Angga nang beralih menjadi bergetar hebat. Bahkan pergerakan secara spontan itu membuat suara mesin pendeteksi jantung menimbulkan suara yang berisik nan menderu.
“Hiks, Angga! Huhu, Sayang?! Ayah, cepat panggilkan dokter!!!”
Agra yang langkahnya gusar tak karuan bersama muka berantakannya, segera berlari ke arah atas kepala ranjang pasien putranya untuk memencet tombol merah emergency. Tak berapa lama menanti, sang dokter pria beserta beberapa perawat berlarian masuk ke dalam ruang rawat ICU Angga.
“Dokter! Anggara kenapa menjadi seperti ini?!” pekik Andrana dengan tangisan pecahnya.
“Tolong silahkan Bapak dan Ibu menunggu diluar, ya! Keadaan pasien sekarang sedang begitu darurat!”
Bertepatan usai dokter Ello memberikan instruksi tegas kepada orangtuanya Angga yang memakai seragam hijau untuk penjenguk pasien di ruang ICU, suara bising deru dari monitor itu tergantikan menjadi bersuara begitu nyaring terlebih tubuh Angga yang bergetar hebat berubah menjadi diam. Hal tersebut Andrana berteriak nangis histeris dengan salah satu tangan membentang ke depan.
“Anggaaaaaaa!!!”
“Ma! Ayo, Ma! Kita keluar dulu. Biarkan dokter menangani Angga!” ajak Agra seraya menarik-narik badan istrinya yang menangis kencang karena melihat layar pendeteksi jantung nang mana grafik zigzag itu berubah menjadi garis kontinu mendatar.
“Suster! Siapkan alat pacu jantung, segera!!”
“Baik, Dokter!”
Kedua orangtuanya Angga lekas keluar dari ruang ICU dan memperhatikan putranya dengan suasana hati pedih melalui kaca jendela pembatas ruangan intensif. Tangisannya Andrana semakin menjadi-jadi waktu anak semata wayangnya banyak dikepung oleh para perawat sesama gender dan dokter Ello yang bersiap menurunkan Defibrillator ke dada Angga untuk mengatasi irama jantungnya yang tak berfungsi dengan baik nan abnormal.
Andrana meraih tubuh tinggi suaminya untuk mendekapnya erat saat dada Angga membusung ke atas setelah tombol energi pada di masing-masing alat listrik pengembalian detak jantung ditekan oleh sang dokter. Setelah tiga kali usaha buat menyelamatkan jiwanya Angga menggunakan alat urgen tersebut yang bisa menghantarkan aliran listrik ke jantungnya nang berhenti, dokter Ello menghela napasnya lalu meletakkan Defibrillator medis di tempat asalnya usai menatap garis datar itu yang telah kembali berbentuk zigzag seperti sediakala, bahkan angka HR medis yang ada di layar monitor tersebut menaik drastis menjadi 55
Kemudian, dokter mengeluarkan senter kecil medisnya dari saku kantong jasnya lalu membuka mata Angga satu persatu untuk menyorotkan cahayanya pada pupilnya. Dilihat dari kaca jendela pembatas ruang rawat ICU, dokter Ello menghembuskan napasnya sekaligus menggeleng kepalanya dengan gerakan lemah.
Dokter Ello menoleh ke beberapa perawat lalu hanya mengangguk satu kali untuk memberi kode pada para perawat yang memakai uniform putih agar keluar meninggalkan ruangan.
Agra dan Andrana segera memutar langkahnya ke samping untuk menghampiri dokter Ello yang keluar membuka pintu ruang ICU. Hati mereka berdua makin resah saat waktu menatap raut muka beliau yang kusut serta muram.
Lagi-lagi dokter Ello mengambil napasnya dalam lalu menghembuskannya sebelum bola matanya menatap kedua orang tua pasien yang beliau tangani sekuat tenaga. “Bapak, Ibu? Saya harus menyampaikan kabar buruk lagi mengenai kondisi parahnya Anggara.”
__ADS_1
“Ya Allah! Kabar buruk apa lagi, Dok?!” panik Andrana dengan detak jantung berdebar-debar.
“Keadaan anak putra Ibu dan Bapak yang terserang Koma, kini kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk sadar. Terlebih, jantungnya semakin melemah. Untuk kemungkinan sadarnya Anggara hanya mampu mencakupi lima persen saja dari Komanya.”
Mata Agra mencuat. “Hanya mencakupi lima persen saja, Dok?! Tidak ada yang lebih dan naik dari itu?!”
“Tidak ada, Pak. Karena untuk kesembuhan dari Koma Anggara sangat-sangat kecil apalagi kondisi detak jantungnya sudah begitu melemah. Dan mulai besok saya akan melakukan CT scan kepala untuk Anggara di ruang radiologi.”
“Mulai besok, Dok?” tanya Agra karena pikirannya telah penuh mengenai parah kondisi putranya.
Dokter Ello mengangguk. “Iya, Pak. CT scan-nya dimulai besok pagi antara sekitar jam sembilan.” Sesudahnya, beliau menghembuskan napasnya lara. “Kalau begitu saya permisi. Assalamualaikum ...”
“Waalaikumsalam, Dokter.” Agra menjawab kecuali Andrana yang sulit membuka suaranya karena begitu Syok mengenai keadaan parah Angga yang benar-benar hampir di penghujung akhir nyawa.
Setelah beliau berbelok ke arah kanan, sang ibunya Angga terperosok duduk lemas di lantai dengan air matanya yang mengalir hingga menetes ke gaun seragam hijaunya. Agra yang melihat istrinya terduduk bersimpuh, langsung berjongkok.
“Mama!” Agra lalu mengangkat badan Andrana yang lemah seakan tak memiliki tenaga di dalam tubuh.
“Ayo kita duduk dulu, ya? Ayah bantu ...” ucap lirih sang ayahnya Angga seraya menuntun pelan Andrana ke kursi ruang tunggu yang modelnya berantai.
Setelah duduk di kursi, Agra menatap gundah wajah sang istrinya yang lemas bahkan penuh air mata. “Hiks, Yah! Dokter bilang untuk kemungkinan sadarnya Angga cuma sanggup mencakupi lima persen dari Komanya. Itu artinya hidup anak kita tidak akan bertahan lama lagi?!”
“Hiks! Mama tidak mau kehilangan Angga! Tidak mau! Tidak mau! Jangan biarkan malaikat mencabut nyawa dari raganya anak kita berdua!” kisruh Andrana sambil memukul-mukul lengai dada bidang suaminya.
Agra langsung memagut erat tubuh tak berdaya Andrana dengan isakan tangisnya. “Mama jangan bilang seperti itu, Angga pasti akan mampu bertahan melewati masa Komanya! Jiwa Angga kuat, hal itu tidak bakal mungkin terjadi. Percayalah!”
“Yang sekarang bisa kita lakukan untuk mendukung kesadarannya Angga, hanya Berdoa kepada Allah. Allah pasti akan mengabulkan permohonan dari Doa kita semua.”
“Jika Allah lebih menyayangi Angga, Mama tidak bisa membayangkan takdir berkata apa ...”
Perkataan lemah Andrana membuat hati Agra seakan tenggelam di laut, apalagi air mata transparannya menjadi susah dibendung. Pria paruh baya itu hanya bisa memeluk penuh rasa cinta lalu mengecup kening istrinya di luar ruangan ICU yang sepi serta sunyi.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
“Ih, tinggal terakhir suapan! Ayo, dong! Aaaaaa ...” paksa Jova sampai menempelkan ujung sendok aluminum punya rumah sakit di bibir pucat Freya.
“Enggak mau! Aku sudah kenyang! Nanti kalau aku muntah gimana, hayo?! Emangnya kamu mau bersihin?” ketus Freya.
“Ya, gampang! Entar kalau perutmu udah bergejolak mau muntah, tinggal aku siapin plastik. Tuh, kan? Aku ceweknya praktis no ribet kayak kabel yang semrawut seperti my brain.”
Freya melirik sinis Jova. “Perasaan tadi pede, kenapa malah jadi anjlok diri? Yasudah, sih! Kamu makan saja yang itu.”
Jova memonyongkan bibirnya dengan kening mengerut. “Kamu, tuh harusnya dipaksa kayak Angga! Heran, aja deh. Pacar kok rasanya seperti saudara kandung? Kembar-kembar mulu karakteristiknya!”
“Ck! Apaan, sih? Enggak gitu juga, kali. Aku, kan emang sudah kenyang. Perutku saja udah gak muat buat dimasukin makanan lagi.”
Jova ber oh ria. “Begitu? Yaudah, kalau emang gitu. Baik aku makan saja daripada Mubazir! Kamu, kan suka banget buang-buang rezeki.”
“Ih, kok ngomong gitu?”
“Buset! Dimasukin ke hati, dong. Canda aku, Neng. Gak-nya kamu kayak begitu. Sahabatku semuanya tuh orangnya oke-oke semua, nggak ada juga yang bad. Semuanya good.”
“Hm ...”
Setelah memasukkan makanannya yang terakhir ke dalam mulut, Jova mengunyahnya sembari meletakkan mangkuk milik bangunan RS Medistra Kusuma di atas meja nakas. Gadis Tomboy itu menelan sisa buburnya lalu menatap Freya yang pandangannya kosong kembali.
Hal itu membuat Jova meletakkan kepalanya di atas bahu kecil kirinya Freya dengan bergelayut manja. “Freya-ku yang Imut kenapa murung lagi?”
“Emangnya aku kelihatan lagi murung, ya?” tanya Freya tanpa menatap mata hazel Jova.
__ADS_1
“Banget! Jangan murung, dong. Nanti cantiknya luntur, gimana? Kan, aku gak bisa nancepin. Orang wajahmu limited edition, bakal susah nyarinya.”
“Kamu apaan, sih? Luntur, luntur. Kamu kira aku lagi pake make up? Terus kamu ngomong wajahku limited edition barusan, emangnya aku barang langka? Dasar gak jelas ...”
“Aaaaaa ... Freya jahat! Aku, kan bilang kayak gitu sesuai kenyataan yang ada.” Kemanjaan Jova terhadap Freya membuat gadis lugu itu hanya menggelengkan kepalanya saja.
Jova mengedarkan pandangannya ke pintu kamar rawat sahabatnya yang kondisinya tertutup. “Mama sama ayahmu belum balik? Kok, lama?”
“Masih ada urusan di rumahnya pak RT. Kenapa? Kamu mau cepet-cepet pulang?”
“Sok tahu! Enggak, dong. Aku malah pengen banget berlama di sini sama kamu, rasanya tuh enak kalau di sampingnya sahabat terus ngobrol-ngobrol bareng dan canda-canda bareng. Apalagi kalau suasana ini ditambah kehadirannya Reyhan sama Angga, pasti makin seru.”
Freya mengangguk sampai tiba-tiba ada sebuah ingatan yang terbesit di otaknya. Wajah gadis itu yang murung menjadi menanjak muram karena telah kembali mengingat memorinya beserta perkataan seseorang.
“Kamu kenapa matanya mendelik gitu kayak lagi lihat setan? Habis travelling ke dunia fantasi di naskah novelmu, kah?”
Freya menggeleng pelan. “Aku seperti teringat sesuatu yang pernah kita idap di alam bawah sadar.”
Jova membuka mulutnya sambil menegakkan kepalanya dari bahu Freya lalu menatapnya dengan ekspresi bingung dan tidak mengerti. “Sesuatu yang pernah kita idap di alam bawah sadar? Yang apa?”
Freya terdiam sesaat. “Kamu masih ingat, gak tentang mimpi kesamaan kita berdua?”
“Bentar, aku inget-inget dulu ... oh! Mimpi Angga sama Reyhan yang meninggal di hutan malapetaka itu, ya?!”
Freya mengangguk mantap. “Ingat juga, kamu. Kirain sudah enggak. Iya, tentang mimpi malam kita yang itu.”
“Emangnya kenapa, Frey? Kamu mendapatkan suatu bayangan terawangan yang muncul dibenakmu?”
Freya mendengus sebal pada perkataan ngawur dari Jova yang penuh percaya diri. “Kamu pikir aku anak Indigo? Bukan! Menurut di penalaranmu, mimpi buruk kita itu masuk ke dalam kondisi Angga dan Reyhan, gak? Soalnya kalau aku nalar, ada masuk akalnya juga.”
“Bentar, aku lagi mau coba cerna dari semua segala omonganmu barusan. Maksudnya? Reyhan sama Angga, kan gak mati di dunia, kematian mereka hanya ada di dalam mimpi kita saja. Nggak lebih dari itu.”
“Iya, emang benar. Tapi ... meskipun mimpi kita tidak terasa nyata, semua itu pertanda buruk untuk mereka berdua yang sama-sama dirawat dalam ruang ICU. Sesuai apa yang dikatakan Angga waktu kita berempat di kantin pas ada kegiatan Ujian di sekolah.”
“L-lalu ...?” tanya Jova lirih saat melihat bulir air mata Freya jatuh mengalir ke pipinya.
“Reyhan yang dibunuh oleh psikopat itu, di dunia fakta dia mengalami Kritis. Angga yang jatuh ke jurang hingga meninggal, di dunia fakta dia mengalami Koma. Jelas-jelas mereka sudah diberikan pertanda buruk, kan?!”
Bibir Freya bergetar dengan dada yang terasa nyeri. “Apalagi, Angga pernah jawab pertanyaanku waktu dulu. Jika seseorang yang bermimpi jatuh ke jurang, artinya di dunia nyata dia mengalami keburukan. Iya, pertanda buruk yang membuat Angga sampai saat ini Koma!”
Jova merapatkan bibirnya karena air mata sahabat Nirmala-nya semakin turun melumuri kedua pipi yang memiliki kulit putih mulus itu. Bahkan isakan tangisnya kembali terdengar di telinga Jova.
“Aku takut ... aku takut mimpi kita akan membawa kehancuran hati kita mengenai kondisi Angga dan Reyhan. Bagaimana jika mereka akan meninggal secara bertahap?! Sedangkan saja keadaan mereka belum sama sekali ada perkembangannya! Gimana kalau suatu ketika mimpi terburuk kita itu akan mendatangkan sebuah kenyataan?! Hiks, aku gak mau, Jova! Aku tidak mau kehilangan mereka berdua!”
Air mata yang mengumpul di pelupuknya, perlahan lolos jatuh bebas ke pipinya Jova. Ia sangat tahu, ia begitu tahu bahwa Freya memiliki feeling firasat yang tajam, walau sahabatnya tidak memiliki kekuatan supernatural yakni Indigo.
“Bakal kerasa menyakitkan kalau Angga dan Reyhan pergi meninggalkan kita untuk selamanya, hiks!”
“Freya, sudah! Hiks, dengarkan suaraku! Mereka berdua gak akan mungkin pergi meninggalkan kita. Ada yang perlu satu hal yang kamu ingat, mereka itu cowok yang kuat!” urita Jova sambil mendekap tubuh mungilnya Freya.
Jova meraih belakang kepala sahabatnya. “Apapun kondisi inferior mereka serta apapun yang akan terjadi dengan Angga dan Reyhan selanjutnya ... kita stay best four forever.”
“Stay best four forever?” tanya Freya bersama nada seraknya.
“Yes, you're right.”
Kedua sahabat sejati itu saling berpelukan disertai hati perih dan pedih yang memadainya. Air mata mereka berderai dengan derasnya, tak ingin suatu alam mimpi buruk yang menjumpai mereka berdua menghadirkan sebuah realita. Stay best four forever? Ya, sampai kapanpun mereka berempat akan tetap bersama sekalipun ada di antara mereka yang pergi tuk selamanya.
INDIGO To Be Continued ›››
__ADS_1