
Kelas XI IPA 2 di pagi hari pertama ialah Senin, begitu ramai akan gelak tawa dicampur keributan gosip-gosip yang terdengar dari mulut beberapa siswi yang mengumpul bak merundingkan sesuatu.
Hari ini memang sangat cerah karena terik matahari di langit, tapi suasana hati Reyhan tidak secerah langit di atas, melainkan mendung. Bagaimana tidak? Memikirkan keadaan sahabat terbaiknya yang masih terbaring lemah pingsan di RS Wijaya. Lelaki yang memiliki mata iris coklat menawan, melangkahkan kaki panjangnya masuk ke dalam kelasnya.
Di sana banyak para siswa-siswi yang telah hadir di kelas tersebut dan sepertinya Reyhan adalah siswa terakhir yang masuk dalam kelas. Bak lelaki populer, Reyhan disambut sapaan ramah ceria oleh beberapa siswa-siswi. Karena kondisi suasana hatinya sedang buruk, Reyhan hanya diam saja tanpa membalas sapaan mereka semua itu.
Saat Reyhan meletakkan ransel abu-abunya di atas kursi lalu duduk di bangkunya, pemuda itu dikepung banyak siswa dan banyak siswi di sekelilingnya. Mereka menatap bingung Reyhan, mengapa raut mukanya begitu muram bahkan tanpa juga senyuman yang terbit. Lelaki yang biasanya suka ceriwis kalau sudah masuk kelas, kini kembali beda seperti dulu dimana ia mendapatkan masalah hidup ialah teror bertubi-tubi dari satu arwah remaja.
“Napa lagi, lo? Muka lo kok kayak semvak belum disetrika, dah?” tanya Aji penasaran.
Reyhan hanya menghela napasnya dengan wajah sedihnya tanpa menoleh sedikitpun ke Aji yang ada di sebelah kirinya. “Bener. Elo lagi ada masalah, Bro?”
“Kampret, lu! Masa gak tau tetangganya kenapa?!” tukas Andra menjitak kepala Jevran agak keras.
Jevran mendengus kesal seraya mengusap-usap kepalanya sekaligus memberikan tatapan jengkel pada Andra. “Ya maap! Gue tuh kemaren sibuk banget, meskipun kemarin adalah hari libur ... tapi nggak ada hentinya buat gue beristirahat menikmati hari panjang meski cuman dua hari doang.”
“Kasian, apes amat hidup lo, hahaha!” ledek Rangga yang suaranya mirip sekali dengan suaranya Angga.
“Diem lu, Ga! Lo tuh gak bisa merasakan betapa sengsaranya gue punya takdir yang sangat menyiksa hari-hari gue.”
“Lebay, lu! Heh, asalkan lo tau ya ... kemarin gue juga sibuk ngurusin oma gue yang lagi sakit di kota Bogor, sebenernya gue hari ini kagak masuk sekolah, tapi karena ada kakak gue yang jagain oma, jadinya gue tetep berangkat.”
“Buset, berarti ini ceritanya lo sebetulnya pengen jagain nenek lo di rumah kota Bogor? Mantap, cucu yang perhatian bener,” ujar Jevran kagum.
“Itu udah biasa,” respon Rangga santai seraya bersedekap di dada.
Joshua selaku ketua kelas memperhatikan wakil kelasnya yang sedari tadi murung, terlebihnya pandangan Reyhan menunduk bawah. Pemuda berkacamata minus tersebut, menepuk pundak Reyhan perlahan. “Lo kenapa, Rey? Perasaan gue lihat, lo sedih. Ada apa? Ada masalah sesuatu yang buat lo seperti ini?”
“Ini bukan karena disebabkan masalah, tapi keadaan terhadap seseorang,” jawab Reyhan yang akhirnya mengeluarkan suara.
Raka mengerutkan keningnya. “Keadaan terhadap seseorang? Siapa? Angga?”
Reyhan menganggukkan kepala sebagai tanggapan pertanyaan Raka. Jova yang sebenarnya malas untuk nimbrung kumpul-kumpul bersama para temannya, pada ujungnya melangkah menghampiri mereka setelah mendengar apa yang Reyhan ucapkan tadi.
“Kenapa sama keadaannya Angga?! Itu muka murung bener, pasti ada apa-apanya!” celetuk Jova sampai membuat Lala, Rena, Zara berhasil kaget.
“Anjir! Lu ngagetin gue, bego!” kesal Lala seraya mengelus-elus dadanya.
“Tau ih! Udah kayak setan yang gak diundang aja!” protes sebal Rena sehabis Lala.
Jova cengengesan yang ada di belakang mereka bertiga meskipun Zara tak ambil protes komentar karena gadis Tomboy itu mengagetkan jantungnya. “Ampun, ampun. Habisnya gue juga kaget si Reyhan ngomong begitu. Kenapa sama Angga, Rey!!??”
Reyhan menoleh cepat pada pertanyaan Jova yang melontarkan ke dirinya dengan nada membentak. “Kamu itu tuh nanya atau menggarong, sih?! Kondisinya Angga kemarin buruk apalagi dia sampe balik pingsan. Mungkin hingga sekarang, cowok itu belum bangun.”
“WHAT??!!” kejut tak duga mereka ialah Jova, Aji, Rena, Andra, Zara, Raka, Rangga, Joshua, Ryan, dan Jevran seraya berteriak serentak bersamaan.
“Anjir gendang kuping gue sumpah!” pekik Reyhan seraya menyumpal kedua lubang telinganya masing-masing menggunakan jari-jari telunjuknya.
“B-buruk gimana maksudnya?!” tanya Raka pada pemuda Friendly tersebut dengan mata terbelalak lebar.
__ADS_1
Reyhan menghembuskan napasnya bersama memejamkan matanya untuk menenangkan hatinya sejenak, kemudian setelah itu menjawab Raka yang menanya panik dengannya. “Iya, buruk. Kemarin kata dokter, nafasnya Angga terganggu, dan hal itu bikin kadar oksigen miliknya si Angga nurun bahkan sebelumnya itu, dokter bilang kalau dia kehilangan pasokan oksigen dalam tubuh.”
“Kok bisa, Rey?! Bukan berarti Angga terkena sakit Hipoksia, sahabat pendiem-mu jadi separah itu, kan?”
“Gak tau aku, La. Pusing juga mikirnya kenapa Angga bisa jadi seperti itu.” Reyhan memijat pangkal hidungnya dengan mendesis.
Joshua mengusap-usap punggung Reyhan, karena ia tahu dan peka bahwa teman ramahnya itu hatinya sedang diselimuti rasa kecemasan serta kekalutan gelisah. “Kami turut perhatian sama keadaan sahabat lo, Rey. Ehm, bagaimana kalau nanti kami semua yang ngumpul di sini, jenguk si Angga? Gue dan lainnya juga pengen ngerti kondisi sahabat elo.”
Reyhan mendongakkan kepalanya seraya melepaskan jari tangannya dari pangkal hidungnya lalu menoleh menatap ketua kelasnya dengan mengulas senyumannya. “Boleh.”
“Anyway, si Angga boleh di jenguk, kan dalam kondisi keadaannya yang buruk gitu di rumah sakit?” tanya Zara.
Reyhan manggut-manggut kepala. “Boleh, kok. Gak ada larangan untuk menjenguk, kondisinya juga nggak parah-parah banget. Nanti sore pas pulang sekolah, ya?”
BRAK !
“Parah kamu, Rey! Baru ngomong hari ini kalau keadaan Angga lagi buruk! Kenapa gak dari kemarin kamu ngasih tau ke aku?!”
“Woi cewek minus akhlak! Itu tangannya bisa nggak nakal dikit, gak?! Bisa hancur ini bangku meja punyaku!” protes Reyhan mendelik.
“Buset! Emangnya tanganku ini apaan kok bisa hancur itu bangku mejamu?!”
“Tangan thanos!”
Sementara di sisi lain, Freya yang berada di bangku depannya Angga, diam-diam mendengar kondisi keadaan sahabat kecilnya yang dilontarkan oleh Reyhan. Padahal gadis lugu cantik itu tengah sibuk mendengarkan sebuah musik santai POP Barat melalui headset putih miliknya. Freya sebenarnya juga ingin menjenguk, namun....
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Setelah jam pelajaran sekolah usai, kini Freya tengah menerima sebuah helm yang diberikan oleh kekasihnya. Tentu saja mereka berdua akan pergi entah pulang atau kemana. Saat sudah memasang pengait helm yang dikenakan gadis manis tersebut, ia bertepatan bertemu para temannya yang mengendarai motor matic-nya masing-masing yang dari siswa-siswi bangku kelas XI IPA 2 begitupun juga dengan kedua sahabatnya.
Mereka menatap sepasang pacar itu kompak. Dan Rangga yang penasaran ingin menganjurkan pertanyaan, segera bertanya dalam posisi pemuda beberapa persen mirip Angga yang sedang berada di atas motor Honda, “Lo pasti pacarnya Freya, ya? Karena denger-denger temen gue itu sudah memiliki pasangan hidup.”
Gerald tersenyum dengan gaya sombong beserta wajah angkuhnya. “Iya. Kenapa? Lo iri ya gue punya pacar secantik Freya?”
Bibir Rangga terbungkam waktu mendengar jawaban sombong Gerald yang tersenyum miring. Sementara Freya yang dengar tanggapan itu, langsung menoleh ke pacarnya yang sebelumnya menatap mereka. “Gerald? Kok kamu jawab gitu? Gak pantas, tau.”
“Kamu diem aja, Sayang.” Gerald kembali menghadapkan kepalanya ke mereka semuanya yang menatap geram lelaki angkuh tersebut.
Lala mendengus lalu menoleh ke arah Freya yang sekarang hanya diam tanpa lagi berkata-kata apapun. “Frey, kamu hari ini nggak jenguk si Angga? Kondisinya lagi buruk, lho. Emangnya kamu yang sebagai sahabat kecilnya si Angga, kamu nggak rindu sama dia?”
“A-aku--”
“Oh, jelas itu nggak bisa. Freya hari ini akan jalan bersama gue, dan dia gak akan ada waktu untuk menjenguk sahabat kecilnya yaitu Angga. Huh, kalau kalian mau jenguk, silahkan aja. Gak usah ajak-ajak pacar gue juga. Lagian tentang kondisi Angga yang lagi buruk itu, nggak usah lebay. Dia bisa diurusin sama dokter dan perawat, apalagi cowok itu gak penting-penting amat bagi Freya.”
Aji memukul atas speedometer motornya dengan memberikan tatapan tajam Gerald. “Eh bangsat! Maksud lo apaan ngomong begituan, hah?! Freya itu sahabat lamanya Angga! Dan emangnya lo tau apa soal tentang temen gue yang lagi dirawat rumah sakit?! Jaga ya mulut lo!”
“Freya! Kamu gak salah pilih pacar yang gak berguna kayak Gerald itu? Kayaknya menurutku kamu sudah salah memilih cowok itu, deh!” ucap Rena.
“Heh! Mulut kacung! Tolong jaga ya mulut busuk lo itu!!” kasar nada Gerald dengan menuding Rena.
__ADS_1
“Masbulo (Masalah buat lo)?! Gue punya mulut! Jadinya terserah gue mau bilang apa!!” damprat Rena murka penuh penekanan dan berani melotot pada lelaki tersebut.
“Freya, tenang saja. Aku sebagai sahabat cowokmu nggak akan pernah sekalipun melarang atau menghambat waktumu sama Gerald, aku tahu cinta itu apa. Tetapi, ada yang perlu yang harus kamu tahu sebelum aku pergi ... di kondisi Angga yang begitu lemah, dia pastinya butuh kamu di sampingnya sebagai sahabat kecil kamu.”
“Dan kamu harus pintar berpikir, Frey. Siapa yang lebih penting dari antara Angga dan Gerald. Sedangkan Angga saja bertahun-tahun sudah bersamamu sejak kecil, terlebihnya lagi Angga yang selalu ada buat dirimu dikala kamu terpuruk dan sebagainya. Ya, aku sama seperti Reyhan ... aku gak bakal kok mencegah hubungan kalian berdua. Selama, cowok itu nggak menyakiti kamu apalagi juga dengan Anggara. Itu saja,” ungkap Jova.
“Aku harap, kamu mengerti.” Setelah mengucapkan itu pada Freya, Reyhan menarik gas motornya untuk melaju meninggalkan gerbang sekolah.
“Habiskan saja waktu kamu bersama pacarmu dengan senang hati, aku pamit.” Jova menutup kaca helmnya kemudian menarik gas motor Honda ungunya lalu melaju menyusul motor Reyhan.
Sementara beberapa temannya Reyhan dan Jova masih melongo tak percaya apa yang diujarkan oleh sepasang sahabat tersebut. Beberapa selang menit kemudian, mereka pun akhirnya ikut menyusul pemuda dan gadis Tomboy itu yang sedang melaju menuju lokasi RS Wijaya meski mereka sempat berpamitan pada Freya yang terdiam mati kutu atas untaian kata kedua sahabatnya.
Dalam lubuk hati, Gerald sangat bahagia telah mendengar bahwa kondisi musuh bebuyutannya saat ini sedang buruk walaupun dendamnya belum sirna untuk mencelakai dan menghancurkan diri Angga.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Beberapa hari kemudian
Malam yang penuh kesenyapan di ruang kamar rawat no 111 lantai 4 RS Wijaya, seseorang nampak membuka pintu bilik perawatan dengan perlahan seperti akan mengendap-endap masuk ke dalam. Seorang pemuda berambut hitam mengenakan baju hoodie putih dan memiliki mata hijau itu jangan di herankan lagi kalau lelaki tersebut adalah Gerald.
Terlihat dalam ruangan itu tanpa lampu yang menerangi bilik tersebut dan hal itu membuat ruang rawat inap lumayan gelap, namun di situ Gerald bisa melihat Angga yang masih terbaring lemah belum sadarkan diri bersama masker oksigen transparan yang terpasang di wajah tampannya.
Tubuh lemasnya tertutupi oleh selimut sapphire blue tebal, sementara dari warna mukanya pucat beserta bawah kelopak matanya sedikit menghitam. Gerald menatap Angga detail yang mana mulutnya rada terbuka tipis sedangkan bibirnya jelas pucat sepadan dengan kondisi mukanya.
Gerald tersenyum sinis dengan jiwa hati yang dendam besar pada Angga. “Gue harap lo gak tertolong malem ini!”
Sambil mengucapkan kata tersebut dari mulutnya, Gerald mencabut kasar jarum infus yang tertancap dari telapak tangan Angga nang berada di atas perut yang tertutupi sebuah selimut, hingga timbul suatu titik darah di telapak tangan kiri sentral pemuda Indigo itu.
Setelahnya, Gerald menuju ke arah kepala ranjang pasien dan tangannya mulai terangkat buat mengotak-atik regulator oksigen yang berada di atas kepala Angga. Lelaki non nurani tersebut memutar alat pengatur aliran oksigen ke bawah untuk menutup aliran tersebut hingga air oksigen dalam pipa berhenti bergerak karena pemuda itu telah menutup alat pengatur di bagian regulator oksigen medis.
Hal itu mampu membuat Angga tak dapat memperoleh aliran udara oksigen dari selang panjang kecil masker oksigen tersebut ke dalam tubuhnya yang kadar oksigennya sedang sangat rendah.
“Hahaha, rasain lo! Dan gue yakin, sebentar lagi nyawa lo gak akan terselamatkan!”
Gerald lantas itu balik badan pergi meninggalkan Angga yang sebentar lagi ada urgent nang membahayakan jiwanya di malam ini, pemuda aura hitam dan telah melakukan perbuatan keji yang merajalela tersebut, di ambang pintu bilik kamar rawat, Gerald melirik sinis Angga dengan senyuman iblisnya kemudian pergi dari ruangan tak lupa menutup pintu.
Di atas ranjang pasien setelah beberapa menit tanpa bantuan oksigen yang menyalurkan ke dalam tubuhnya untuk meningkatkan balik kadar oksigennya yang rendah, kedua mata Angga nang terpejam damai menjadi berubah mengernyit kuat hingga pemuda itu spontan membuka matanya cepat. Secara, Angga kembali sadarkan diri meski telah beberapa hari ia pingsan.
Namun, Angga di dalam kamar rawat merasakan sensasi yang berbeda di dalam tubuhnya. Mulut Angga menganga lumayan lebar dengan mendesau karena sesak napas hebat dan dadanya begitu sakit. Reflek, pemuda tampan itu mengangkat tangannya untuk mencengkram erat dada miliknya dengan peluh keringat.
Angga melepas alat oksigen itu yang terpasang di mukanya lalu bangkit duduk untuk meminta pertolongan melalui tombol merah darurat yang akan ia pencet di atasnya. Angga berusaha menggapai tombol darurat tersebut dengan wajah yang semakin memucat, dirinya juga menahan sakit di dadanya yang sesak tersebut.
Oh tidak! Pandangan Angga kembali mengabur berkunang-kunang bahkan dirinya merasakan kliyengan hebat hingga Angga tak sanggup lagi menggapai tombol emergency tersebut yang hendak ia pencet buat meminta bantuan medis. Sekarang oksigennya dalam tubuh berkurang membuat lelaki itu kesukaran untuk bernapas.
Selang detik kemudian, tubuh Angga sang pemuda pemilik Indigo itu ambruk ke samping kanan dan terjatuh keras di lantai yang dingin tersebut. Di bawah ranjang pasien, terlihat Angga tergeletak lemas tak berdaya ditambah matanya kembali terpejam tenang hilang kesadaran karena lelaki jiwa pemberani itu telah kekurangan banyak oksigen bahkan tak ada pasokan oksigen dalam tubuhnya.
Akankah ada seseorang yang menolong pemuda tampan Indigo tersebut?
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1