Indigo

Indigo
Chapter 188 | Between Human Friend And Ghost Friend


__ADS_3

Reyhan membuka pintu kamarnya setelah tiba di kota Jakarta. Hatinya yang remuk redam, begitupun badannya yang pegal-pegal ia memutuskan mendatangi tempat tidurnya lalu melemparkan tubuhnya begitu saja dengan kasar. Lelaki itu menatap langit-langit dinding kamar di dalam posisi dirinya terlentang di atas kasur empuknya.


Ungkapan pernyataan yang keluar dari mulut Arseno untuknya membuat hari Sabtu Reyhan makin meresahkan. Mukanya suram, mood hatinya turun drastis apalagi ia tak ingin melakukan apapun selain rebahan di kasurnya.


Hingga terdengar bunyi suara notifikasi pesan dari aplikasi WhatsApp yang ada di ponselnya. Tanpa sungkan, Reyhan merogoh saku celananya untuk mengeluarkan benda pipih miliknya walau rasanya sangat malas untuk mengambilnya.


“His, kirain siapa. Tahunya ternyata bunyi notifikasi dari Grup kelas.” Merasa terganggu, Reyhan berinisiatif untuk mengganti suara nada notifikasi setiap grupnya yang ia punyai melalui setelan agar tak sama seperti nada notifikasi pesan Japri.


Usai berhasil menggantinya dengan asal pilih, salah satu jari tangan Reyhan beralih menggesek layar ponselnya dari atas ke bawah buat mengaktifkan mode silent yang terdapat simbol lonceng. Gunanya untuk tidak mengganggu dirinya sementara waktu sebelum hatinya merasa bisa diajak kondusif kembali.


“Huh ...” Reyhan memejamkan matanya seraya meletakkan lengan tangan kirinya di atas kening yang mana handphone-nya masih ia genggam.


GUBRAK !!!


“Akh! Ss, aduh! Ternyata aku masih bisa terjatuh di benda manusia, ya?! Sakit sekali!”


Mata Reyhan melotot sempurna saat telah spontan bangkit duduk karena terkejut mendengar suara terjatuh di sekitar dalam kamarnya. Namun di situ, raut muka kaget Reyhan berubah menjadi raut sebal.


“Elo lagi?!”


Arseno yang sedang mengusap pantatnya dengan merintih, cengengesan pada Reyhan. “Hai, Masbro. Hehehe, apa kabar kau?”


“Gak usah basa-basi! Ngapain, sih lo buntuti gue ke sini?! Pergi saja sana!” usir Reyhan.


Arseno yang mendengar bentakan Reyhan untuk memerintahnya pergi, mengerucutkan bibirnya lalu segera turun dari meja belajarnya sang manusia yang tengah tak ingin diganggu itu.


“Kamu terlihat marah besar padaku. Masih dendam, ya? Soal yang dulu?” tanya lemas Arseno dengan hati-hati karena takut salah mengira.

__ADS_1


Reyhan yang meletakkan ponselnya di meja nakas, mengerutkan kening. “Gue dendam sama lo? Ngaco, kali! Emangnya lo salah apaan sama gue? Bukannya niat lo dateng ke dunia buat ngelakuin yang terbaik?”


“Bukan itu! Kamu tidak ingat soal teror dahulu?” tanya Arseno lagi yang kini menaikkan nyalinya untuk duduk di sebelahnya Reyhan.


Lelaki Friendly tersebut menaikkan satu alisnya. “Teror? Teror yang mana? Oh! Teror horor yang lo lakukan untuk gue secara mati-matian itu, ya? Kalau itu, gue sudah lupain semuanya. Gak usah dibahas!”


“Dan sekarang gue mau tanya sama lo,” ungkap Reyhan seraya menyerong badannya ke arah Arseno dengan tatapan serius.


“Y-ya? Apa?”


“Di saat lo masih menjadi arwah yang negatif karena sebuah dendam kesumat yang terpendam di hati lo, apa lo sadar? Sadar telah berbuat maksiat waktu dulu?”


Arseno nyengir. “Pertanyaan yang sensitif, ya. Baik, jika aku boleh jujur padamu. Jawabannya ... tidak.”


Mata Reyhan membulat. “Tidak?! Lo seriusan?! Tapi saat lo dateng di mimpi gue, elo meminta maaf segala kesalahan lo. Seolah-olah diri lo sadar kalau selama ini lo sudah banyak membuat kesilapan fatal yang memakan korban jiwa.”


“Ekhem! Begini, akan aku jelaskan agar kamu paham maksudku. Iya, kamu benar dulu jiwaku jiwa yang negatif karena dendam yang belum sirna. Tetapi setelah arwahku ini tergantikan menjadi positif, aku sama sekali tidak menyadari bahwa diriku telah melaksanakan kegiatan yang sangat terlarang apalagi membawa malapetaka untuk manusia. Dan kalau kamu ingin tahu, mengapa aku bisa mengetahui semuanya .. itu karena ada sebuah bayangan memori masuk ke dalam benakku. Mustahil memang, tetapi dari situ aku mampu menyadari bahwa selama aku menjadi hantu aura serta berenergi negatif telah berbuat kejahatan yang parahnya sampai banyak memakan jiwa korban.”


Arseno mengangguk bersama senyum tipis. “Apakah sekarang kamu paham dari penjelasan yang sudah aku utarakan dan lontarkan untukmu?”


Reyhan ikut tersenyum. “Ya, gue paham. Thanks karena lo sudah mau menjelaskan semuanya pada gue dengan detail, sekarang gue jadi ngerti.”


“Sama-sama, Rey. Oh iya, soal aku datang ke dunia juga ada alasan tersendiri yang telah aku putuskan.”


“Apa itu?” tanya Reyhan ingin tahu.


“Aku ingin banyak menjagamu dari kejahatan yang menimpa dirimu. Hitung-hitung menebus semua kesalahanku terhadap kamu, bahkan aku sudah hampir membuat dirimu mati di dalam Koma,” urita Arseno.

__ADS_1


Reyhan terkekeh. “Malah justru itu gue bersyukur karena lo sudah buat gue Koma selama empat bulan.”


“Kenapa bisa begitu?!” Sungguh, Arseno begitu terperanjat mendengar responnya Reyhan.


“Iya. Berkat lo membuat gue Koma, gue bisa seperti kekuatannya yang Angga miliki walau beberapa persen. Ada rasa syukur karena dari semua itu gue mampu merasakan keberadaan semua jenis aura apalagi juga dengan posisi datangnya berbagai hantu yang menghuni dunia. Contohnya elo.”


Arseno tak bisa berkata apa-apa selain mengangguk kepala untuk menanggapi ucapan santai dari Reyhan. Tetapi berselang detik kemudian, arwah pemuda tersebut membuka suara.


“Berkat mulianya kamu dan juga Angga, aku bisa menjadi berubah positif setelah kalian bersama membantuku untuk menghancurkan dendam besar yang ada di dalam hatiku. Kalian berdua juga sudah berhasil membuka kunci buat mengantarkanku ke jiwa abadi serta kebahagiaan.”


“Aku menjadi merasa amat menyesal karena telah melukai fisik dan mental kalian. Aku benar-benar bodoh untuk melampiaskan dendam dari dua psikopat pria itu yang sudah tega membunuh ragaku secara virulen.” Arseno lalu menghembuskan napasnya gundah.


Salah satu telapak tangan Reyhan yang digenggam oleh Arseno, ia balas dengan menepuk bahu hantu tersebut yang sedang memiliki rasa penyesalan. Reyhan mengulas senyuman lebarnya sekaligus menancapkan aura muka teduhnya untuk Arseno.


“Tidak ada lagi yang perlu lo sesali. Yang berlalu biarlah berlalu, tolong jangan ungkit perihal masa lalu yang membuat hati lo kurang tenang. Gue di sini lega dan bahagia karena segala dendam lo telah hilang untuk selamanya.”


Senyuman abadi Arseno semakin terpancar, setelah itu arwah tersebut mengangkat tangan kanannya. “Maukah kamu menjadi teman manusiaku?”


Reyhan memperhatikan tangan Arseno yang telah terulur lalu beringsut menatap wajahnya. “Teman manusia?”


“Iya. Aku ingin menjadi temanmu selama Angga masih Koma di rumah sakit. Kalau tidak mau juga tidak masalah, aku mengajak tetapi tak memaksa. Ini antara penerimaan atau penolakanmu saja,” ujar Arseno.


Reyhan tersenyum kembali seraya menjabat tangan Arseno. “Gak ada penolakan, gue mau! Deal, kita sekarang adalah teman.”


“Deal ! Terimakasih, ya. Akhirnya kamu mau menjadi seorang teman manusiaku di dunia,” senang Arseno.


“Haha, no problem.”

__ADS_1


Sang manusia dan sang arwah saling melemparkan senyuman lebarnya disertakan muka teduhnya masing-masing. Posisi tersebut tangan mereka masih berjabatan dengan tulus. Begitu tidak menyangka, bukan? Antara Reyhan dan Arseno yang sebelumnya tercipta pertikaian konflik rasa maut, kini sekarang mereka berdua telah menjadi seorang kawan di leluasanya dunia.


INDIGO To Be Continued ›››


__ADS_2