Indigo

Indigo
Chapter 50 | Meet Unexpectedly


__ADS_3

Seorang gadis kecil penuh lumuran linangan air mata di pipinya tengah merengek pada Reyhan untuk memintanya bangun dari tidurnya alias kondisi Komanya. Segala rengekan permohonan dari gadis kecil itu yang sangat menyayangi Reyhan, membuat sang bunda tidak tega mendengar pintanya anak yang masih berumur kecil tersebut. Gadis kecil itu adalah Dania Anggita Sabrina, adik sepupunya Reyhan.


"Wajah Kak Rey udah hampir kayak mayat yang di film-film horor yang biasanya Kakak tonton."


Benar saja, wajah Reyhan makin maju hari semakin berubah pucat tak hanya wajahnya tetapi sekujur tubuhnya bahkan tangan Reyhan yang di genggam Dania dengan dua tangan kecilnya terasa dingin.


"Kata Bibi, Kak Rey sudah tidur dua hari ya? Memangnya Kakak betah tidur mulu? Bangun dong Kak ..." Dania meletakkan kepalanya di atas dada kakak lelaki sepupunya.


Bisa mampu gadis kecil anak SD kelas 1 tersebut dengar suara detak jantung milik Reyhan yang berdenyut begitu lemah yang disamakan irama detak jantungnya melalui alat monitor pendeteksi jantung itu yang tertera HR medis angka 60 di paling atas sendiri, inilah yang sebenarnya menjadi khawatir dimana keadaan pemuda ramah ini belum sama sekali ada perkembangannya, bahkan belum sama sekali melewati masa Kritisnya apalagi jika sudah kondisi Kritis, itu sangat urgent dan perlu membutuhkan pemantauan ketat serta setiap 30 menit dokter datang untuk melakukan pemeriksaan pada pasiennya.


Dania mengangkat kepalanya kemudian tangan mungilnya mengelus pipi Reyhan. "Kakak nggak bakal tinggalin Dania, kan seperti kakak Dania yang sudah ada di pangkuannya Allah?"


Pertanyaan Dania tak direspon oleh Reyhan sama sekali, namun pergerakannya hanya hela napas dadanya serta kantong reservoir pada bagian masker Rebreathing yang terpasang di setengah wajah pemuda Koma itu.


"Dania kangen banget sama Kak Rey, kangen sama celotehannya Kakak. Biasanya kalau Dania ajak Kak Rey bicara gini, pasti Kak Rey bakal menjawab panjang yang bikin Dania gak bosen .. tapi kok sekarang Kakak jadi begini? Dania sedih banget lihat Kak Rey sakit apalagi sampe masuk rumah sakit. Hiks, euhmm ..."


Pada akhirnya gadis kecil itu kembali menangis bahkan bagian lengan baju panjangnya sedikit basah karena telah digunakan Dania untuk menghapus air matanya sendiri. Sementara itu, bundanya yang bernama Diana langsung menghampiri anak kecilnya yang menangis-nangis.


"Sayangnya Bunda, udah ya Nak jangan nangis terus ... yuk kita keluar."


Diana mengajak Dania keluar karena batasan waktunya telah habis yang aturannya menjenguk Reyhan hanya 10 menit saja karena Dania yang masih di bawah umur yaitu 5 tahun tidak di perkenankan untuk menjenguk pada waktu yang lama. Tetapi respon Dania menggeleng kepalanya kuat menolak.


"Enggak mau Bun! Dania masih pengen sama Kak Rey!"


"Iya Sayang, Bunda tahu ... tapi Kak Rey dibiarkan istirahat dulu, Nak. Kak Rey capek banget .. kalau Dania sayang sama Kak Rey, Dania pasti harus biarin Kak Rey istirahat agar cepat bangun dan sembuh, dong. Dania mau kan, Kak Rey cepat bangun dan segera sembuh?"


Dania mengangguk antusias dengan masih wajah penuh gundah, Diana bersama senyuman lembutnya langsung meraih pipi anaknya untuk mengusap air matanya yang terus mengalir hingga sampai ke ujung dagunya. Diana kemudian menarik pelan lengan tangan Dania untuk mengajaknya keluar bersama dari ruang ICU keponakannya.


"Bunda! Sebentar," henti langkah Dania lalu berbalik badan.


Diana berbalik badan dan melihat anaknya yang berlari hanya untuk memeluk erat kakak sepupunya nang ia sangat sayangi. Diana hanya tersenyum dengan hati terenyuh pada sikap sayangnya pada keponakannya tersebut. Lantas itu, Dania kembali ke Diana dan melanjutkan jalannya keluar dari ruang kamar rawat ICU Reyhan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di jam pelajaran bu Sonya ialah Kimia, tiba-tiba saja saat sibuk fokus mengerjakan tugas segudang dari beliau, Freya ingin sekali pergi ke toilet. Tangan kanan gadis remaja cantik itu angkat ke atas hingga bu Sonya menoleh ke bu Sonya yang tengah mengetik-ketik keyboard di laptopnya.


"Bu Sonya, saya izin ke toilet ya, Bu."


"Oh iya silahkan Freya, tapi cuman lima menit saja ya di toiletnya jangan lama-lama karena sebentar lagi tugasnya harus segera di kumpulkan ke Ibu."


"Siap, Bu."


Freya bergegas beranjak dari kursi bangkunya dan segera keluar dari kelas untuk menuju pergi ke toilet, sedangkan Jova dan Angga yang memperhatikan sahabatnya mereka keluar kelas kembali melanjut menulis pada tugasnya di buku tulis Kimia-nya.


Di sisi lain, di tempat toilet perempuan. Freya membuka pintu toilet paling depan sendiri usai membuang air kecil, akan tetapi sialnya Freya malah bertemu tiga geng anak IPS 2. Detak jantung Freya berdebar sangat cepat, rasa ketakutannya mulai mengumpul, tak ada nyali untuk melewati mereka bertiga yang tengah bermain gosip-gosipan.


'Ayo Frey! Ayo! Kamu harus berani! Jangan hiraukan mereka, jalan aja daripada kamu dimarahin bu Sonya !'


Freya memberanikan diri untuk berjalan melangkah cepat melewati ketiga perempuan itu yang ia takuti. Semakin dekat tetapi Freya berpura-pura tak melihatnya.


Grep !


"Eh! Udah mulai sombong ya, lo. Main asal lewat aja!" ucap kesal gadis yang mengenakan anting-anting di kedua telinganya bernama Febrie Berly Dolores.


Freya menoleh pada Febrie yang mencekal lengan ia dengan kuat. "Emangnya kamu siapa aku?!"


Seorang gadis yang bernama tag Claudie Aireymi F. atau Claudie Aireymi Farestya di samping kanan jas almamater seragamnya, berkacak pinggang pada pengucapan Freya yang telah berani bersuara sekaligus mengeluarkan nada membentaknya. Sedangkan Freya masih menunjukkan wajah kesalnya pada mereka bertiga seperti Youra, Febrie, dan Claudie.


"Lepasin!" Freya meronta kuat pada cekalan Febrie yang tak mau melepas gadis polos itu.


"Coba lo ngomong apa tadi?"


Freya menoleh cepat pada ratu geng yaitu Youra. "Kamu gak punya telinga, ya?! Aku bilang lepasin!!"


"Eh wow! Perkataan apaan ini?? Lo sekarang udah berani bentak ratu tertenar di sekolah ini, ya? Hmm?!"


Youra menaikkan dagu Freya kencang ke atas dengan tatapan tajamnya sementara Freya menggertakkan giginya, meskipun nyalinya telah menciut tetapi Freya tak ingin di cap perempuan pengecut dan cengeng dengan mereka bertiga. Gadis polos tersebut ingin menunjukkan kalau ia telah berubah menjadi perempuan pemberani dan mencoba menantang geng ini yang selalu merendahkan harga dirinya.


"Jangan kamu pikir, aku masih takut sama kamu!!" bentak Freya penuh murka.


Claudie dengan bermain kasarnya langsung menjambak rambut Freya dengan sangat kuat. "Heh cewek lugu! Sejak kapan lo berubah seperti ini?! Oh lo pasti di ajarin sama sahabat cewek lo yang kayak semprotan bau sigung itu ya?!"


"Akh!!" Sembari menahan sakitnya Freya berkata, "Jangan kamu jelek-jelek Jova!!"


"Kenapa? Nggak suka? Ya itu terserah kami mau ngomong apa, dong. Oh iya berhubung di luar masih sepi ... bagaimana kalau kita bermain penyiksaan?"


"Wah seru tuh Your, kayaknya bakal ada adegan menyenangkan deh buat bikin cewek lugu ini tepar di lantai," tanggap Febrie dengan tersenyum miring.


"A-a-apa yang akan kalian bertiga lakukan sama aku??!!"


Dengan tak ada nurani hati sama sekali, Youra mendorong tubuh Freya hingga jatuh terduduk dan punggungnya membentur tembok.


"Aw ..."


Youra dengan rok pendeknya yang di atas kedua lututnya, berjongkok di hadapan Freya yang merintih kesakitan.


"Dasar cewek lemah! Makanya jangan sok berani sama gue dan sahabat-sahabat gue, biar lo gak kena akibatnya!"


"Aku gak lemah!! Asalkan kalian bertiga tahu! Terus terang saja aku sudah muak dengan kelakuan kalian semua yang di sini! Selama ini aku hanya diam di perlakukan seenaknya sama kalian, tapi sekarang ... AKU NGGAK MAU LAGI DI RENDAHKAN KALIAN!!!"


Dengan napas naik turun, mata Freya mencuat tajam merasa batas kesabarannya telah habis. Namun bukannya tertegun kaget pada ucapan Freya yang meluap habis-habisan malah justru Youra, Febrie, dan Claudie semakin marah dengan gadis polos kelas IPA 2 tersebut.


"Sialan!! Berani banget ya, lo!!"


Febrie dengan jengkel menarik kerah seragam dalam Freya lalu mendorongnya hingga membuat kepala belakang Freya membentur kuat di tembok.


Dukh !


"Akh!!!"


Febrie melepaskan bersama bibirnya merapat kuat dengan kesal, sementara Freya memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Gadis itu merasakan kepalanya begitu menjadi tak karuan rasanya meskipun baru sekali benturan.


'S-sakit! Aaaaww Kepalaku pusing banget ...'


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Angga berhenti menulis, ia duduk tegak karena merasakan firasatnya sungguh tidak enak seperti ada sesuatu buruk sedang terjadi. Bola mata Angga menatap bangku kursi Freya yang masih kosong dan sahabat kecilnya juga belum kunjung balik dari toilet. Angga tak bisa diam saja, ia harus bertindak sesuatu.


"Eh Angga! Kamu mau kemana?!"


Angga yang tengah berdiri menjawab bu Sonya dengan wajah risau-nya. "S-saya ehm ... saya ingin izin ke toilet, Bu!"


"Duduk dulu, di tahan dulu saja. Sebentar lagi bel istirahat akan berbunyi, kok .. kenapa tidak daritadi izinnya?"


"Maaf Bu, saya mendadak. Tapi saya bolehkan izin ke toilet sebentar?"


"Tidak bisa apalagi catatan mu belum sama sekali selesai yang padahal catatan rangkuman hari ini harus di kumpulkan saat bel istirahat sudah bunyi."


"B-bu t-tapi, Bu-"


"Kamu mau, nilai tugasmu yang telah kamu kumpulkan ini saya beri nilai nol?"


"Mau tidak?!" tanya ulang bu Sonya tegas.


Angga menundukkan kepalanya dan memutuskan kembali duduk di bangku kursinya. Semua yang di kelas terkecuali bu Sonya menatap bingung Angga karena telah bertingkah aneh, tak seperti biasanya Angga begitu. Namun, Jova yang sudah tahu bahwa Angga adalah sahabatnya yang Indigo malah memikirkan apa yang ingin Angga temui tetapi di pandangan lain, Freya belum kunjung kembai ke kelas. Jova mulai curiga.


Sementara itu di sisi lain, Febrie menendang kencang perut Freya hingga berakhir Freya terbatuk-batuk muntah darah di lantai. Sembari memegang ulu hatinya, gadis malang tersebut memuntahkan darahnya dari mulutnya. Mereka bertiga yang telah menyakiti Freya sangat jijik pada Freya yang masih terus muntah darah yang padahal itu ulah bengisnya Febrie sendiri.


Masih dengan rasa tak puas, kini dua gadis suka bertindak kriminal itu menginjak kaki Freya masing-masing dengan amat kuat dan menendangnya seperti menendang bola futsal.


"Huhuhuhu! Sakit hiks! Aku mohon hentikan!" pinta Freya dengan mulutnya yang sudah berdarah.


"Hahaha rasain nih! Rasain!" kompak seru Febrie dan Claudie sementara Youra melipat kedua tangannya melihat aksi tontonan yang baginya mengenakkan mata.


"Huaaaa!! Sakiiiitt!!" teriak Freya dengan menangis amat kesakitan.


"Dasar cengeng lo! Gitu aja sakit! Gitu aja nangis! Emang bener kan kata Youra, lo itu cewek cupu yang lemah!!!"


"Hiks! Huhuhuhu! Feb! Clau! Please aku mohon hentikan hiks hiks hiks!!"


Febrie menarik rambut Freya ke atas dengan gregetan. "Bilang apa?! Hentikan? Hentikan? Mikir! Mana bisa kita hentikan penyiksaan buat lo yang tukang anak lemah gini! MIKIR DONG!!"


Gubrak !


Febrie mendorong pundak Freya ke samping hingga menubruk ember berukuran sedang berisi alat pel dan alat-alat lainnya untuk membersihkan toilet, sedangkan itu jas almamater Freya telah terkena muntahan darahnya yang ada di lantai. Gadis yang amat kasihan itu karena tak ada satupun yang menolongnya, menjadi sangat tak berdaya, tak ada tenaga untuk bangkit bangun.


"Sini lo bangun!!"


Youra menarik kerah jas almamater gadis polos itu dengan memaksa hingga tubuh lemah Freya terangkat berdiri oleh Youra. Kedua mata Freya yang meredup, membuat Youra begitu bahagia sekali hatinya bisa melihat korban target favoritnya tak berdaya. Youra menarik maju kerah seragam Freya ke dekat wajahnya yang tersenyum seperti iblis.


"Kasihan gak ada yang nolong ... heh, dengerin ya! Lo gak usah cari ulah masalah sama kami bertiga, ngerti?! Lo itu cewek apaan di sekolah ini? Cuman siswi yang numpang di SMA elite doang. Sementara gue yang the famous queen di sekolah milik bokap pacar gue! Karena gue kekasihnya Alex, itu berarti gue bisa dong berbuat seenaknya sama cewek murahan pasaran gak berguna kek lo!!"


Freya hanya pasrah pada pengucapan Youra yang menohok hatinya sementara itu kepalanya terasa pusing sekali akibat benturan tadi yang di sengaja Febrie begitupun perutnya yang di tendang dengan teganya. Kini pada rasa muak bencinya terhadap Freya, Youra dengan sadis melempar tubuh mungil dengan begitu kuat hingga kening Freya bagian kanan menghantam kuat tembok pojok toilet.


BDUGH !!!


Karena kerasnya benturan ulahnya Youra, kening bagian kanan Freya mengeluarkan darah dan terdapat memar di sana. Posisi Freya terduduk diam seraya menempelkan telapak jari tangannya di keningnya yang telah mengeluarkan darah dan mengalir perlahan ke alisnya. Freya ingin tetap menguatkan dirinya namun apa boleh buat? Pandangan gadis itu justru malah mengabur dan berkunang-kunang.


"Jova ... Angga ... tolong ..."


Brugh !


Suara lirih Freya meminta tolong pada Jova dan Angga menjadi mendatangkan kegelapan di pandangannya, dirinya ambruk ke samping terbaring di lantai tak sadarkan diri dengan rambut panjang hitam lebatnya menutupi seluruh mukanya.


"Eh?! Lah, pingsan ini cewek?!" kaget Youra.


Youra berlari lalu menendang-nendang kaki Freya. "Heh! Bangun lo! Gak usah pake pura-pura segala!"


Tak ada pergerakan dari Freya, bahkan saat di tendang kakinya, Freya seperti tak memiliki tulang alias lemah. Claudie dan Febrie mencoba menggoyangkan tubuh Freya namun tetap sama saja, Freya tak ada pergerakan bahkan responnya. Sementara, sesosok gadis daritadi sebenarnya memperhatikan cara Freya di beri penyiksaan yang menyakitkan. Sosok itu adalah Senja.


"Wah anak kurang kena mental, ini! Perlu gue kasih pelajaran!"


Senja yang berada di dekat ember kosong, langsung ia tendang lancar hingga ember itu mengenai kepala Youra ralat, maksudnya kepala Youra terbungkus ember hingga menutupi muka dan kepalanya.


"Eh woi! Brengsek siapa yang ngelakuin ini sama gue??!!"


"Hahahahaha! Mampus lo udah! Sekarang, gue akan nakutin kalian berdua dengan cara ..."


Senja menghidupkan kran air wastafel satu persatu dengan secara menggunakan kekuatan mantra-nya. Febrie dan Claudie yang melepaskan ember dari kepala Youra bersamaan amat terkejut karena kran air wastafel tiba-tiba hidup dengan sendirinya tanpa ada yang melakukannya.


"Lho?! Itu kok kran-nya nyala sendiri sih?!"


Senja dengan balas dendamnya langsung mengubah dirinya menjadi sosok hantu arwah wujud aslinya dengan wajah hancur menyeramkan dimana kulit wajahnya terkelupas hingga daging dan tulang tengkorak wajahnya terlihat.


"Kenapa? Nggak boleh? Hihihihihihi!!"


Dengan jantung sangat amat berdebar Youra, Febrie, serta Claudie menoleh ke sumber suara. Mata mereka mencuat takut saat melihat sosok menyeramkan depan mata.


"WAAAAAA SETAAAAANN!!!"


"Eh Your! Tungguin dong malah kabur, lo anjir! Hih huaaaa tolong ada setaaaaann!!!"


Kini tinggallah Claudie yang masih terdiam terpaku menatap Senja. Senja maju melangkah ke Claudie dengan senyuman menakutkan.


"Wuaaaa!! Tolong ada setaaaann!!"


Claudie berlari hingga tak sengaja menabrak wastafel, dengan mengaduh kesakitan memegang pinggulnya yang kram karena tertabrak wastafel Claudie berlari ngacir menghindari Senja yang tertawa amat membuat bulu kuduk naik seperti hewan landak.


"Wahahahahahahaha!!! Mampus lo pada! Makanya jangan suka nyakitin orang! Kena akibatnya kan lo. Huh, Senja di lawan."


Senja mengubah wujudnya menjadi arwah yang seperti wujud manusia tanpa ada lagi rupa menakutkan. Arwah positif itu berlari menghampiri Freya kemudian menggoyangkan pundak Freya beberapa kali namun nihilnya Freya sama sekali belum ada pergerakan bahkan siuman.


"Duh, Freya! Bangun dong! Ini kalau sampe Angga tau, bisa stress si Angga!"


"Waduh mati deh gue! Gimana cara nolong Freya yak?! Sedangkan yang bisa liat gue cuman Angga, yang lain gak bisa. Hmmm, apa gue kasih tau Angga aja kali, ya- eh tapi ..."


Flashback On


Disaat Angga akan menenteng tas punggung sekolahnya hendak berangkat, pemuda Indigo itu memperingati Senja sesuatu.


"Duduk di rumah. Jangan ngikutin aku ke sekolah! Kalau kamu ngikuti aku, yang ada kamu buat masalah baru di sekolah itu. Yang bisa liat, aku doang. Inget, jangan ke sekolahan ku."


"Yaaaahh ... tapi aku bosen lho Ngga, di sini mulu. Kamu tau gak sih aku di sini main angin doang gak ada yang lain! Apalagi kan kamu larang aku buat sentuh benda di kamarmu ini!"


"Jangan langgar larangan ku. Pokoknya aku pengen kamu di sini. Gak usah kemana-mana. Ngerti?"


"Ck! Nyebelin deh jadi manusia!"


"Ngerti apa enggak?!"


"Iya-iya ngerti! Yaudah sana berangkat. Hus hus hus!"


Flashback Off


"Hahahaha ngeyel banget ya lo, Ja. Tapi bodo amat lah. Gimana dong ini?!"


Setelah memikir, Senja tidak ada punya pilihan lain. Entah akan dimarahi Angga ataupun dihukum Angga, Senja tak pedulikan itu. Senja segera menghilang diri dan secepat mungkin menuju ke lokasi kelas teman manusianya untuk memberi tahu keadaan Freya yang ada di dalam toilet.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


KRIIIIIIIINGG !!!


Jova yang sudah sangat curiga pada Freya langsung berdiri cepat meninggalkan kelas begitu bel istirahat berbunyi. Jova berlari sekuat tenaga untuk menempuh menuju ke toilet mencari Freya apakah masih ada di sana. Sementara Angga sudah tak ada di kelas karena pergi menuju ke ruang guru untuk mengumpulkan tugas Fisikanya yang mana tugas tersebut telah 1 bulan yang lalu, pemuda itu tak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja, ia harus mengejar dan menyusul seluruh tugas-tugasnya selama ia tak masuk 2 bulan lamanya akibat suatu kejadian yang silam.


Usai langkah kaki besar layaknya seperti lari marathon, Jova tiba di depan toilet perempuan. Sunyi? Itu sudah biasa. Karena terlalu maksimal kencangnya berlari, Jova mengatur napasnya sejenak agar menentu kembali. Badan yang bungkuk untuk ambil atur napas, perlahan Jova tegakkan badannya dan berlalu masuk ke dalam toilet. Tapi sepi tak ada siapa-siapa, akan namun tetapi Jova terlonjak kaget melihat seorang siswi terbaring lemah tak berdaya di lantai pojok toilet dan sayangnya Jova tak tahu siswi itu siapa, karena seluruh wajahnya tertutupi oleh rambut hitam legam lebatnya.


Jova yang diam berdiri mematung karena melihat siswi itu, melangkahkan kakinya perlahan untuk mendekati siswi yang seperti tak ada pergerakan. Nalarnya, tidur tidak mungkin. Jova sudah menduganya siswi tersebut tengah pingsan di pojok toilet sementara itu, kontak mata gadis tomboy itu terpusat pada jas almamater seragam satu siswi itu terdapat ada bercak darah di sana. Jova berjongkok dan mencoba memanggilnya.


"Hei, lo nggak apa-apa? Eh aduh! Kayaknya ini cewek pingsan, deh! Tapi dia siapa ya ...?"


Jova yang berjiwa penasaran tinggi, mulai menyingkap rambut panjang siswi itu dari wajahnya dengan menggunakan tangannya secara perlahan-lahan. Begitu tahu siswi itu adalah siapa, Jova bersama mata terbelalak-nya menutupi mulutnya pakai satu tangannya, detak jantungnya yang normal menjadi berdegup amat cepat.


"FREYA??!!" teriak Jova dengan langsung mengangkat tubuh Freya dan menopang punggungnya menggunakan tangannya yang gemetar tidak karuan.


"F-frey ...?! Frey-freya ...?! H-hei k-kamu kenapa bisa kayak g-gini, sih?! Hiks bangun d-dong ...!!!"


Tetesan air mata Jova mengenai luka kening sahabat gadis polosnya yang tak ada respon jawab disaat Jova memanggilnya dengan nada bergemetar serta terbata-bata. Melihat mulut gadis cantik manis nan anggun ini ada darah yang telah mengering, Jova tak segan-segan itu meletakkan perlahan Freya kembali di lantai kemudian berlari mencari Angga bersama tangisannya yang membanjiri pipinya.


Di sisi lain, Angga tengah berada di ruang guru dan di dalam, pemuda tersebut mencari bu Aera yang masih berada di meja gurunya.


"Assalamualaikum, Bu."


Bu Aera yang tengah memberikan nilai-nilai para muridnya yaitu kelas XI IPA 1 menoleh ke Angga dengan senyumannya.


"Waalaikumsalam, Ngga. Iya ada apa kamu datang ke sini, Nak?"


"Bu, saya ke sini hanya ingin memberikan semua tugas saya dari Ibu. Semua tugas-tugas seperti PR, catatan dan lainnya sudah saya kerjakan di antara dalam dua buku ini, Bu."


"Oalah, kamu ingin mengumpulkan tugas, ya?"

__ADS_1


"Iya Bu, karena saya sudah lama sekali tidak masuk jadinya saya baru susul hari ini. Tidak apa-apa kan, Bu?" tanya Angga sopan.


Bu Aera tersenyum bangga. "Oh tidak apa-apa Angga, dan itu tidak ada masalah sama sekali kok. Yang penting kamu sudah berusaha untuk mengejar nilai pelajaran Fisika dari Ibu, terimakasih ya, Nak."


Angga sedikit menundukkan kepalanya. "Baik Bu, sama-sama. Kalau begitu, saya permisi ya Bu. Assalamualaikum ..."


Usai memberikan dua buku tulis bersampul biru muda disertakan padu sampul bening yang terkesan bersih dan rapi, Angga pamit pada beliau meninggalkan kantor guru. Pemuda itu berjalan menelusuri lorong bertepatan itulah Angga melihat Jova berlari kencang ke arahnya.


"Va? Lho, kamu kenapa nangis?!"


Tanpa menjawab basa-basi, Jova menarik kencang tangan Angga dengan berlari dan otomatis itu Angga ikut reflek berlari akibat tarikan tiba-tiba pada sahabatnya. Namun melihat situasi ini, Angga merasa ada yang aneh pada tingkah Jova yang tiba-tiba. Lihatlah, mereka berdua menjadi tontonan pusat perhatian seluruh siswa dan siswi yang tengah nongkrong di lorong-lorong kelas para mereka. Hingga tibalah pemuda dan gadis itu di depan toilet perempuan.


Dengan mata mencuat terbelalak, Angga bertanya pada Jova, "Va?! Yang bener aja kamu bawa aku di depan toilet perempuan!"


"Udah jangan kebanyakan protes! Sana masuk!!"


Jova mendorong punggung Angga untuk masuk ke dalam toilet perempuan, sedikit aneh sedikit bingung pada kelakuan si Jova akan namun di situ Angga menyipitkan kedua matanya saat kontak matanya berpindah pandangan ke pojok toilet. Mulut Angga menganga terkejut bersama matanya yang melebar saking kagetnya, Angga segera berlari menghampiri yang ia langsung tahu. Freya Septiara Anesha.


Angga berjongkok dan dengan kedua tangan yang gemetar, Angga tangkup wajah Freya yang terlanjur pucat tak sadarkan diri. Tak menyangka-nya Freya bakal seperti ini hingga Angga tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun rasanya bak di kunci bersama gembok. Pemuda itu menggertak giginya kuat dan tanpa lama-lama, Angga perlahan mengangkat tubuh mungil lemas sahabat kecilnya untuk menggendongnya ke UKS. Lantas, dengan kuat tangkas, Angga berlari dengan membawa Freya ke UKS.


Di pertengahan langkah yang besar-besaran, lagi-lagi dan lagi Angga menjadi pusat perhatian mereka ialah para sebagian siswa dan siswi, bahkan mulut mereka sama-sama membuka kaget tak percaya melihat kondisi Freya yang cukup miris, sementara itu Angga tak memedulikan mereka yang akan bermain gosip soal ia yang menggendong sahabat kecilnya, tentunya baru pertama kali inilah Angga melakukan tindakan seperti itu.


Johan yang di tangannya membawa kotak P3K ikut terkejut kemudian berteriak. "Eh Angga!! Itu kenapa si Freya?!"


Di kondisi darurat seperti ini, Angga jelasnya tak menggubris pertanyaan Johan, siswa kelas XI IPA 2 tersebut tetap berlari secepat mungkin ke UKS. Johan yang terdiam pun ikut berlari menyusul Angga yang telah menjauh.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Tak segera keluar dari toilet, Jova yang berjongkok tengah mengepalkan kedua telapak tangannya dengan mulut menyimbolkan rasa geramnya. Dengan tangisan emosi dan amarah bercampur aduk menjadi satu, Jova beranjak berdiri dan mendongak ke atas seraya menatap sekeliling atas.


"Sialan!! Sekolah elit gini gak ada CCTV-nya, apa?! Siapapun yang ketauan buat Freya sampe begitu .. gue sumpahin hidupnya bakal sengsara seumur hidup!!"


Baiklah, sepertinya emosi Jova telah meluap hingga Senja yang bersembunyi di dalam salah satu ruang WC, gelagapan pada suara menyeramkan dari manusia perempuan itu yang layaknya seperti horor.


Gedubrak bruk !!


'Aduh sial .. sial! Pake acara jatuh segala lagi ...! Ceroboh dasar ceroboh !!'


Saking takutnya, Senja tak sengaja menyenggol shower kecil yang ada di belakangnya samping kloset. Hal itu membuat manusia gadis tersebut yang mengusap air matanya kasar, segera cekatan membuka salah satu pintu toilet yang ada di dekat belakangnya.


Cklek !


Jova mengerutkan keningnya menatap salah satu gadis asing yang tak mengenakan seragam SMA sepertinya melainkan pakaian seorang pendaki.


"Lo siapa?!"


"Eh?! Lho?! Kok lo bisa lihat gue, sih?!"


Jova memiringkan kepalanya. "Emangnya lo manusia atau bukan??"


Senja merapatkan bibirnya dengan menghembuskan napasnya pelan. "Gue setan."


"Really?! Jadi lo setan?!" Namun kagetnya Jova berubah menjadi amarah pada Senja.


"Jadi elo yang buat sahabat gue kayak gitu?! Ngaku lo!!!"


Detak jantung Senja berdebar sangat kencang, dengan suara nada gugup dirinya memberanikan diri untuk menjawab. "B-bukan! G-gue gak ngelakuin itu k-ke s-sahabat e-elo!!"


"Halah! Gue gak percaya! Mana ada sih, setan yang sifatnya baik sama manusia! Lo sengaja kan buat sahabat gue terluka seperti itu sampe pingsan??!!"


"S-sumpah! G-gue gak bohong! G-gue gak m-mungkin ngelakuin k-kebejatan seperti itu!! Please lah gue mohon percaya sama gue!!" ucap Senja dengan mendempetkan kedua telapak-nya memohon.


"Lalu siapa?! CEPET JAWAB!!!"


"Eh buset! S-santai dong ... jangan galak-galak ngapa, sih. Ehm mungkin lo bisa tau ciri-ciri yang gue sebutin. Ada tiga cewek pake seragam yang sama lo pake, rambutnya tuh panjang semua dan ada satu cewek yang pake anting-anting di telinga ... eee terus kalau gue perhatiin tadi kayaknya tiga cewek itu musuh kejamnya Freya, deh."


"Tunggu, lo tau darimana nama sahabat gue??" introgasi Jova.


"Eeee gue lihat di tag namanya. Tapi lo tau kan siapa mereka yang udah ngelakuin Freya separah itu?? Soalnya gue gak sempet lihat nama tiga cewek yang bully Freya tadi."


Jova bersedekap di dada dan memikir siapa mereka bertiga yang telah Senja sebutkan beberapa ciri-cirinya tersebut, sampai tiba-tiba Claudie datang ke dalam toilet dan mengambil sesuatu di dalam pintu WC di barisan pertama. Jova menunggu Claudie sampai keluar. Disaat gadis tukang pembullyan sahabatnya Jova keluar, Claudie langsung bertingkah kebingungan apalagi tatapan mata Jova begitu tajam pada dirinya.


'M-mampus gue! Kenapa ada Jova sih anjir?! Wah pasti ini cewek si semprot bau sigung udah tau siapa yang buat cewek lugu gak tau diri itu sampe pingsan! Matilah gue hari ini di hadapan Jovaaaa ...! '


"Clau," panggil Jova dengan nada dingin.


Claudie memilih melengos tak menghiraukan Jova yang memanggilnya, gadis tomboy itu reflek menutup pintu WC yang di dalamnya ada Senja yang masih berdiri. Jova melangkah dan menarik kerah belakang Claudie dengan agak kasar.


"E-eh! Apaan sih, lo?!"


Dengan rasa kesalnya, Jova beralih melepas kerah belakang seragam Claudie kemudian bergantian mencengkram menarik kerah jas almamater Claudie sehingga Claudie yang masih hadap belakang menjadi menghadap ke Jova.


"Anak siapa sih, lo? Di panggil bukannya jawab malah melenggang seenaknya! Dan ... itu HP-nya Youra, ya?"


"Kalau iya kenapa?!"


"Cih, oh iya sekarang gue ingin bertanya sangat penting dari itu. Jawab jujur, kenapa Freya bisa seperti itu?"


"M-mana gue tau! Gue gak tau apa-apa!!"


Jova menyipitkan kedua matanya dan menggigit bibirnya geram. "Santai aja, gak usah ngegas. Gue cuman lo pengen jawab jujur aja gak yang lain."


"Heh, si tukang mulut semprot bau sigung! Gue gak ada salah sama Freya ya! Gue juga gak ke toilet sebelumnya barusan ini gue ke toilet buat ambil HP Youra!"


"Ya lo ngerasa nyakitin Freya apa enggak??!! Dan, kayaknya lo bego deh buat coba bohongin gue .. mana ada sih itu cewek otak gesrek pergi ke toilet sendiri? Pasti sama lo dan Febrie juga!!!"


'Sialan! Ini cewek gak bisa dibohongin juga ternyata ... gue harus cari kata biar Jova gak curiga dan percaya kalau gue, Youra, Febrie gak lukai Freya sampe gak sadarin diri !'


"Kenapa diem aja? Gak bisa jawab apa-apa, kan lo!"


"Gue-"


Jova langsung memindahkan posisi Claudie dan dirinya kemudian gadis tomboy tersebut menggiring Claudie hingga perempuan bejat itu terpojok di tembok pojok toilet.


"Daripada ngulur-ngulur waktu, mending lo jawab jujur pertanyaan gue .. KENAPA FREYA BISA SEPERTI ITU??!!"


"Bangs*at! Lo budeg apa tuli sih, hah?! Jelas-jelas gue udah jawab pertanyaan lo tadi, anjing! Gue gak tau apa-apa dan gue gak nyakitin Freya sampe luka!!"


"Hahahahaha! Yes! Akhirnya lo kena juga, kalau lo gak tau apa-apa, kenapa lo juga nambahin kata 'gue gak nyakitin Freya sampe luka' lo tau darimana sahabat gue sampe luka?? JAWAB GUE BRENGSEK!!!"


Senja yang sesosok arwah memantau pembicaraan bernada kasar antara Jova dan Claudie di atas.


"Eeehmmm ... tapi gue gak-"


"YANG GUE MAU LO JAWAB PERTANYAAN GUE, ANAK DEMIT!!!"


Claudie terdiam tak ada jawaban untuk membohongi Jova, dengan rasa muak-nya karena Claudie hanya diam, Jova semakin mencengkram kerah jas almamater Claudie dengan kedua tangannya. Jova mendekatkan wajahnya ke muka Claudie yang mulai ketakutan, dan Jova langsung mengeluarkan ancaman suaranya.


"Lo lihat tangan telapak gue yang bentuknya udah kek batu? Bisa habis lo hari ini juga kalau lo gak mau jujur sama gue!!!"


Ketakutan Claudie lebih menjadi-jadi saat Jova sudah memberikan kepalan kuat di dekat jangkauan wajahnya.


"Yang bener lo, ya!! Malah diem!! Jawab gue atau gue buat hidung lo patah detik ini juga??!! Ayo cepet jawab-"


KRIIIIIIIIINGG !!!


"Sialan!" umpat Jova dengan memasukkan tangannya yang telapak-nya mengepal di kantong saku roknya.


Dengan masih menyimpan rasa kejengkelannya, Jova menarik kerah jas almamater Claudie ke samping membuat Claudie terhuyung dan terjatuh.


Brugh !


"Sialan lo!!" sebal Claudie yang menahan sakit.


Jova melengos berbalik badan meninggalkan toilet meninggalkan Claudie yang masih terduduk di lantai, Claudie memukul lantai toilet tersebut dengan penuh kekesalan.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Jova berjalan dengan mood yang sangat buruk apalagi pada keadaan Freya, ini saja Jova bukannya masuk ke kelas tetapi malah melewatinya saja untuk pergi ke ruang UKS. Namun akan tapi, langkah Jova terhenti disaat ia berpapasan oleh Angga yang ada di depannya. Melihat wajah Angga yang sangat lesu bahkan amat gundah, membuat Jova ingin menanyai Angga.


"Angga? Kenapa?! Freya gimana?! Udah sadar di ruang UKS?!" panik tanya Jova.


Angga menundukkan kepalanya dan berkata, "Freya di bawa ke rumah sakit Wijaya ..."


"APA?! Rumah sakit??!!"


Angga menganggukkan kepalanya dengan lemah merespon Jova dan si Jova berjongkok meraup wajahnya kasar begitupun pula mengacak-acak rambutnya menjadi tak karuan rapi sebaliknya. Angga meringis melihat Jova yang hampir stress tersebut, dirinya ikut berjongkok dan mengelus punggungnya untuk menenangkannya yang sebenarnya Angga pun sama seperti Jova, tak tenang.


"Ayo, kita ke kelas ... sebentar lagi pelajaran datang," ucap Angga lirih dengan menyentuh kedua bahu Jova dan mendirikan Jova untuk berdiri.


"Ngga! Terus Freya di sana bagaimana?!" panik Jova yang masih belum reda.


"Nanti kita coba lihat kondisi Freya di rumah sakit saat pulang sekolah ya, oke?"


Wajah raut Jova menggambarkan ekspresi gelisah dan resah, Angga mengajak sahabatnya ke dalam kelas karena sebentar lagi pelajaran ketiga akan datang dimulai. Di 5 menit kemudian, pak Harry datang ke dalam kelas dengan raut wajah tidak seperti biasanya alias merasa bersalah dan resah. Disaat beliau telah meletakkan beberapa buku materi pelajaran Matematika, bukannya akan memulai bimbingan belajar tetapi pak harry malah bertanya soal mengenai kejadian Freya tadi.


"Sebelum Bapak akan memulai pelajaran ini, Bapak ingin bertanya pada kalian semua yang ada di dalam kelas sebelas IPA dua ini. Adakah yang tahu mengapa Freya bisa sampai seperti itu atau adakah kalian yang tahu siapa yang melakukan kekerasan pada Freya?"


Sebagian murid beliau banyak yang menanya-nanya pada bangku sebelahnya dan beralih ke bangku lainnya terkecuali Angga dan Jova yang terdiam tak menjawab apapun.


"Waduh Pak! Saya ya juga gregetan banget siapa yang buat Freya sampe masuk rumah sakit barusan dan sayangnya juga di antara kami semua gak ada yang tahu siapa pelakunya yang melukai Freya, Pak."


"Oh begitu ya, Rena. Bapak-"


"Pak!" Jova mengangkat satu tangan kanannya dengan raut wajah datarnya.


"Iya Jova, ada yang ingin kamu sampaikan ke Bapak?"


Jova menghela napasnya sebentar kemudian mulai membuka pembicaraan fakta. "Pak, saya rasa saya tahu siapa yang sudah membuat Freya seperti itu apalagi sampai di bawa ke rumah sakit."


"Hah! Jangan-jangan si geng Cewek Jablay itu, Va?!" timpal Lala kemudian.


"Bisa jadi, karna mereka bertiga memang suka nyakitin Freya dengan cara mereka sendiri. Gue yakin itulah mereka!"


"Maaf Nak, siapa yang kamu maksud 'mereka'? Ayo jelaskan pada Bapak agar Bapak segera menyelesaikan permasalahan ini dengan kepala sekolah, guru BK."


"Siapa lagi Pak kalau bukan Youra, Claudie, dan Febrie. Tiga cewek itu yang saya curigai sedari tadi," jawab Jova dengan jelas.


"Youra, Claudie, dan Febrie? Hmmm Bapak seperti kenal nama tiga siswi itu ..."


"Bapak kenal mereka bertiga, kan? Seharusnya di sekolah ini harus tahu dong tiga cewek Familiar tukang manja jarang di belai itu! Oh iya Pak, kalau Bapak tidak tahu ruang kelas mereka .. mereka satu kelas di kelas sebelas IPS dua."


"Astaga! Iya-iya Bapak baru ingat, maafkan Bapak. Betul dan ada nalarnya, mereka bertiga memang siswi suka bermain kekerasan ucapan dan fisik. Astaghfirullah, baiklah terimakasih penjelasannya dan pemberitahuannya, Rena .. setelah ini Bapak akan segera datang ke kelas mereka untuk meminta penjelasan pada peristiwa Freya tersebut."


"WAH SETUJU PAK!!!" sorak serempak semangat para siswa dan siswi di dalam kelas XI IPA 2 tak juga Angga dan Jova yang hanya sama-sama menganggukkan kepalanya saja setuju pada penuturan ucapan pak Harry.


Di luar kelas, Senja nampak diam mendengarkan semua apa yang di bicarakan dalam kelas mulai dari salah satu guru wali kelas XI IPA 2, Jova, dan kedua temannya yang arwah gadis ini tak kenal.


"Wah kayaknya sahabat-sahabatnya Angga termasuk anak populer di SMA elit ini! Banyak yang peduli sama Freya, weh!"


Sambil terus mengintip sela-sela pintu kelas yang sedikit terbuka, Senja mengutarakan kata-kata sesuatu yaitu sebuah balasnya nanti yang telah berbuat kekerasan fisik bahkan mungkin mentalnya sahabat kecilnya pemuda Indigo yang sampai saat ini adalah temannya Senja.


"Lo bertiga lihat saja nanti, gue akan buat lo bertiga malu berlipat-lipat ataupun bahkan image lo terkenal buruk di SMA ini, oh atau perlu lagi gue buat lo semua sengsara yang bakal lo kenang memori itu nanti, hahahahaha! Se-u-mur hi-dup."


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di ruang kelas XI IPS 2 seorang beliau guru mata pelajaran Biologi yang bernama Ghanu, tengah menerangkan para muridnya melalui papan tulis. Di pertengahan beliau menjelaskan materi tersebut, Claudie yang malas mendengarkan alias malas pada jam pelajaran ini memutar badannya ke belakang.


"Heh Feb, lo tau gak?"


"Apaan?" tanya Febrie yang memainkan kuku-kukunya.


"Tadi pas gue ke toilet buat ambilin HP-nya ratu geng sahabat kita, gue di semprot habis-habisan sama Jova, jir!"


"Hah? Kok bisa, sih?! Terus-terus?!"


"Gue tuh udah ngerasa kalau Jova curiga sama kita bertiga kalau kita tiga ini bully Freya sampe separah itu! Sumpah sih, itu cewek satu bisa peka juga!" ujar Claudie dengan memutar bola matanya malas.


"Sialan! Ya, mau gimana lagi .. dia kan sahabatnya. Sahabat dari SMP, lagi! Ah tapi bodo amat lah, mati biar mati. Muak gue itu sama cewek lugu sok cantik! Cantikan juga si Youra, ya kan?"


Claudie mengembalikan pandangan bola matanya mengarah ke Febrie. "Oh ya dong! Namanya juga Youra Adrienne Arabella, ya jelas cantik dia lah daripada Freya Septiara Anesha- huek ... mau muntah gue nyebut nama panjangnya cewek muka lumut itu!"


"Bicarain apaan, sih girl, kok gue gak di ajak?" Youra nimbrung yang ada di duduk kursi bangku sebelahnya Febrie.


"Heleh, elo sih asyik ngaca mulu! Heh tau gak, bisa mampus kena sita itu cermin yang buat lo ngaca terus! Udah gak usah segitunya, lo tetep cantik kok kayak bidadari," puji Febrie.


"Aaaaahh, masa sih. Iya emang gue cantik kayak artis Korea Selatan, gak ada yang bisa ngalahin kecantikan gue di SMA ini," sombong Youra dengan nada genit.


Alex yang mendengar suara nada genit kekasihnya hanya menghembuskan napasnya dan melanjutkan mencatatnya yang tertera di papan tulis. Dengan menopang dagunya menggunakan tangannya sementara siku tangannya menempel di mejanya, pemuda itu lebih memfokuskan materi pelajaran yang di terangkan pak Ghanu dan yang beliau berikan. Sebenarnya pak Ghanu tak menyuruh seluruh muridnya mencatat tulisan-tulisan materi pada Bab pelajaran Biologi-nya, tetapi Alex mempunyai inisiatif untuk mencatatnya sebagai ilmu materi barunya.


Tok !


Tok !


Tok !


Tok !


Pak Ghanu yang ada di kursi guru, meletakkan ponselnya di meja kemudian segera bangkit berjalan membuka pintu kelas.


Cklek !


"Permisi, Pak Ghanu."


"Oh iya Pak Harry, ada apa?" tanya pak Ghanu.


"Begini Pak, saya ingin bertemu pada tiga anak yang bernama Youra, Febrie, dan Claudie. Apakah mereka bertiga ada di dalam kelas, Pak?"


"Oh ada Pak, ada ... mari silahkan masuk saja biar saya panggilkan tiga anak itu."


"Baik Pak, terimakasih." Pak Harry lantas itu masuk ke dalam kelas XI IPS 2 dan langsung mencari keberadaan Youra, Claudie, dan Febrie seraya melangkah ke dalam kelas.


Claudie dan Febrie mulai ketakutan dimana saat melihat pak Harry di kelas mereka, dan feeling dua gadis itu berkata wali kelas XI IPA 2 tersebut ingin menemui mereka berdua apalagi Youra yang gayanya mencoba tetap santai seolah-olah ia tak berbuat salah apa-apa.


"Mohon maaf menganggu belajar anak-anak sebentar ya, Bapak di sini ingin bertemu dengan Youra, Febrie, serta juga Claudie. Tolong yang Bapak sebutkan tiga anak siswi itu di mohon maju ke depan sekarang."


"Aduh mampus kita, Feb ... mesti pak Harry mau ngomong soal anak gak ada harga diri itu," bisik Claudie degdegan.


"Udah! Kita bersikap biasa aja, pokoknya kita harus tunjukin muka kita kalau gak ada salah apa-apa biar pak guru satu itu gak curiga apalagi nuduh kita, walaupun kita bertiga yang salah," jawab Febrie dengan ikut membisik.


Claudie mengangguk ragu kemudian bersamaan menarik napasnya untuk bersikap tenang, mereka berdua mulai bangkit beranjak dari kursi bangkunya masing-masing lalu maju ke depan. Pak Ghanu melipat kedua tangannya di dada dengan menatap standar Youra yang hanya diam tidak maju pada suruhan pak Harry.


"Youra, apakah kamu tidak mendengar suruhan dari pak Harry? Ayo cepat maju!" tegas pak Ghanu.


'Brengsek! Pasti kelakuannya Jovatong nih yang nuduh-nuduh gue sama dua sahabat gue! Awas aja itu cewek gue kasih pelajaran juga habis ini !'


"Youra! Harus berapa kali saya suruh?! Maju ke depan sekarang juga!" ucap pak Ghanu setengah emosi.


"Apaan sih Pak! Lebay banget deh, orang saya dan dua sahabat saya gak ada salah apa-apa! Tapi situ malah nyuruh maju ke depan!"

__ADS_1


"Apa kamu tidak sadar kamu sedang berbicara dengan siapa? CEPAT MAJU!!!"


"Si tukang palang merah nih pak kumisan satu," gumam Youra jengkel.


"NGOMONG APA KAMU BARUSAN YOURA ADRIENNE ARABELLA??!! JANGAN KAMU KIRA SAYA TIDAK MENDENGAR UCAPAN KAMU, YA!!"


"Santai lah Pak! Gak usah ngegas juga kan, bisa daripada pita suaranya putus sia-sia!"


"Youra!! Jaga ucapanmu, ya!" Kini pak Harry yang ikut menjadi setengah emosi pada perkataan Youra yang sudah tidak sopan pada gurunya.


Youra berdecih sinis yang setelah itu gadis watak Antagonis itu beranjak berdiri dari bangkunya dan melangkah maju ke depan kelas. Mata pandangan Alex yang fokus pada papan tulis menjadi terganggu, ia pada akhirnya menghentikan aksi menulisnya kemudian memperhatikan pacarnya yang seperti akan di berikan ceramah baginya.


"Baik, kalian bertiga ikut Bapak ke ruang BK."


"Apaan ini, Pak?! Belum ngomong apa-apa main asal suruh ikut ke ruang BK! Kami gak ada salah apa-apa, lho!" protes Febrie.


"Jangan banyak protes dan jangan banyak tanya!! Sekarang ikut saja Bapak ke ruang BK, kalian bisa jelaskan nanti di ruangan bersama kepala sekolah, wali kelas kalian, dan guru BK yang ada di sana!"


Dengan mata melotot karena saking marahnya pada siswi yang susah di atur apalagi keduanya selain murid tersebut, pak Harry mencoba meredakan emosinya dan menatap pak Ghanu untuk pamit pada beliau.


"Saya izin pamit bersama Febrie, Claudie, dan Youra ya, Pak. Assalamualaikum."


"Iya Pak, Waalaikumsalam."


Kemudian pak Harry melenggang pergi keluar kelas dan menunggu tiga gadis itu melangkah yang sangat malas pergi ke ruang BK apalagi adanya pak Harry yang membawa mereka bertiga, sementara di dalam kelas pak Ghanu memijat tengah keningnya dengan menggelengkan kepalanya, insting beliau benar tiga muridnya tersebut pastinya membuat permasalahan keonaran lagi.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di ruang BK, belum menjelaskan yang sebenarnya, seorang guru BK sudah banyak menceramahi mereka bertiga yang membuat Youra, Febrie, Claudie kenyang saat itu juga karena mendengar ucapan kata-kata yang banyak sekali penceramah dari guru BK bahkan ditambah kepala sekolah yaitu pak Harden.


"Sekarang tolong jelaskan pada guru-guru kalian yang di sini, mengapa kalian bisa setega itu dengan Freya?"


"Halah ngapain pake di jelasin segala, males banget gue .. mati ya biar mati aja. Paling masuknya ke Neraka, cih!"


Youra langsung di tatap terkejut bukan main oleh pak Harden, pak Harry, pak Sindu beliau guru wali kelas XI IPS 2, dan pak Rizky guru ruang BK. Youra yang tengah duduk di kursi sofa hadapan empat guru itu menatap heran pada para beliau.


"Oh! Jadi benar! Kalian bertiga, lah pelakunya yang membuat Freya terluka parah sampai masuk rumah sakit?! Benar-benar kejam ya kalian ini!" murka pak Sindu.


Youra baru sadar kalau dirinya terkena jebakan ucapan pak Harry, sedangkan itu pak Harry menganggukkan kepala dengan tersenyum miring.


"Akhirnya juga, kamu terkena jebakan perkataan Bapak, Youra .. Bapak sungguh tidak menyangka kamu dan dua temanmu melakukan kekerasan fisik di sekolah SMA ini, dimana hati sikap kalian bertiga? Di bawa kemana sifat mulia yang mencontohkan mahasiswi terbaik di sekolah ini?"


"Kenapa kalian melakukan seperti itu? Apa Freya berbuat kesalahan yang membuat kalian berbalas sekejam itu pada Freya?" tanya pak Rizky.


"Iya lah, Pak! Freya itu udah sok cantik, sok pinter, sok cerdas, terus suka caper lagi! Biar cowok-cowok di sini ngejar-ngejar dia, apalagi Freya sok bakat nyanyi yang padahal suaranya jelek kayak kodok!"


Pak Rizky yang mendengarnya menyengir sampai menepuk jidatnya pelan. "Astaga, dengar tanggapan mu ini ya Claudie .. kamu kayaknya iri banget deh sama Freya. Iri itu tidak baik lho, Claudie. Mencerminkan keburukan bukan kebaikan."


"Mohon maaf ya Claudie, Bapak bukannya tidak ingin membela Freya. Freya itu suara dalam menyanyinya begitu bagus dan merdu .. bahkan saat kelas sepuluh dulu Bapak menawarkan Freya untuk ikut lomba kompetisi menyanyi, Freya tidak mau. Sangat di sayangkan, kan?"


'Apaan sih ini guru! Malah manas-manasin gue, lagi !' relung hati Youra sebal.


"Oke, karena sudah terbukti kalau kalian yang membuat Freya terluka parah .. kalian bertiga diwajibkan diberikan hukuman jemur di lapangan upacara sampai bel istirahat berbunyi."


"Yang benar saja, Pak?! Masa kami di hukum seberat itu, sih?! Ya mana bisa, lah!" protes Febrie pada sang kepala sekolah.


"Ya, bisa! Itu juga kesalahan kalian bertiga sendiri sudah melakukan kekerasan fisik di sini, selama ini Bapak perhatikan kalian bertiga berani melanggar peraturan di sini yang telah ada, tapi kenapa kalian langgar?!"


"Sudahlah pak Harden, lebih baik tiga anak ini diberikan hukuman yang menjadi pelajaran untuk mereka ini," tutur pak Sindu di beri angguk setuju pada pak Harry, dan pak Rizky.


Ketiga gadis yang akhirnya ketahuan menyakiti Freya hingga teruk, mengernyit kesal dan ada rasa menyesak karena ujung-ujungnya mereka bertiga di hukum berat oleh pak Harden selaku kepala sekolah SMA Galaxy Admara dan para guru lainnya yang setuju pada keputusan beliau.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Sekarang mereka mendapatkan karma hukuman yaitu berdiri di lapangan upacara bendera dengan gaya sikap hormat dan kepala pandangan mendongak ke atas bendera merah putih. Teriknya panas matahari pada jam siang ini, membuat Youra yang baru 1 menit berlangsung di hukum bersama kedua sahabatnya merasa tidak betah alias kepanasan.


"Bapak ingin setelah hukuman kalian selesai, kalian saat pulang sekolah harus datang ke rumah sakit untuk meminta maaf pada Freya atau perlu meminta maaf kepada orangtuanya Freya sekalian. Agar kalian mempunyai rasa bersalah dan janji tidak mengulangi perbuatan tercela itu lagi."


"Idih, saya gak mau dong Pak! Minta maaf sama Freya? Ih, sumpah nggak level!" kata Youra dengan tanpa ada rasa takut berbicara seperti itu.


"Astaghfirullah! Kalian ini sudah salah besar, sudah membuat salah satu siswi masuk rumah sakit karena ulah kamu dan kalian berdua! Apa susahnya untuk meminta maaf?! Kalian harus minta maaf dengan Freya agar permasalahan ini ikut terselesaikan."


"Saya tetap nggak mau, Pak Harden. Lagian dia kan bukan siapa-siapa saya. Jadi buat apa saya dan dua sahabat saya minta maaf segala! Kalau sembuh ya beruntung tapi kalau gak sembuh alias malah mati ya nasibnya!"


Pak Harden bermuka amarah pada penuturan kasar Youra. "Baik kalau mau kamu begitu! Saya ganti hukuman kalian yang sampai bel istirahat berbunyi menjadi saat bel pulang sekolah dan satu lagi, saya akan skors kalian selama tiga minggu karena kalian sudah melakukan hal Kriminal dan juga tidak mau meminta maaf kesalahan kalian bertiga!"


"Waduh! Jangan dong, Pak! Masa kami di hukum selama enam jam, sih?! Belum lagi malah di skors sampe tiga minggu, lagi! Apa gak ada yang selain itu, Pak!"


"Kamu tidak usah ambil komplain, Febrie! Itu kesalahan kalian sendiri. Andaikan saja kalian tidak melakukan kejahatan itu, kalian tidak mungkin diberikan hukuman seberat ini dan kena skors," ujar pak Sindu.


"Silahkan nikmati hukuman kalian sampai jam pelajaran sekolah selesai dan selamat menikmati skors selama tiga minggu untuk kalian bertiga. Maafkan Saya, tapi ini sebagai pelajaran untuk Youra, Claudie, dan Febrie."


"Hhhh, lama-lama kalau seperti ini terus menerus .. kalian sama saja akan membuat nama sekolah SMA ini hancur dan terkenal tidak baik. Kalian pantas mendapatkannya," tukas pak Harry dengan wajah pilu.


Pak Harden melengos pergi meninggalkan ketiga murid siswi-nya diikuti pak Sindu dan terakhir pak Harry yang ada di paling belakang. Tentunya ketiga guru tersebut begitu kecewa pada kelakuan bejatnya Youra, Febrie, dan Claudie yang padahal mereka itu adalah perempuan. Perempuan yang harusnya bersikap tulus dan mempunyai akhlak tak seperti mereka bertiga.


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


KRIIIIIIIINGG !!!


Brugh !!


Bertepatan bel pulang berbunyi, ketiga gadis itu langsung menjatuhkan dirinya di tanah dengan kaki-kaki yang telah pegal dan kesemutan. Bagaimana tidak pegal dan kesemutan? Mereka saja dihukum berdiri 6 jam bahkan tangan yang hormat pada bendera. Hahahaha, kasihan deh itu yang dinamakan senjata makan tuan.


Inilah yang tak diinginkan Youra, Febrie dan, Claudie. Melihat segerombolan para siswa dan siswi datang ke lapangan upacara dengan tertawa sorak-sorak gembira melihat penderitaan yang telah mereka bertiga terima dengan rasa Ikhlas, ralat maksudnya tidak Ikhlas.


"Yahahahaha mampoooss!!! Enak ya di jemur kayak ikan asin? Enak lah masa enggak!" hina tawa renyah Lala.


"Wuuuuu!! Makanya jangan suka nyakitin fisik orang! Kena kan tuh akibatnya, sekarang rasain lo pada di skors tiga minggu! Auto gak bakal bisa mencapai jenjang kelas dua belas hahahaha, sukurin!" ucap Rena dengan dilanjutkan tepuk tangan meriah bahagia.


"Itu bentuk pembalasan lebih parah buat lo bertiga semuanya! Kasian terduduk lunglai karna kepanasan, sono langsung pulang terus minum es biar seger. Tapi sayang, lu bertiga sudah kena skors sama pak kepsek .. jadinya yaa lo bertiga di rumah hanya bisa meratapi nasib-nasib dan kesalahan kalian bertiga," timpal Zara berucap dengan senyuman smirk.


"Sono nangis yang kenceng biar kayak bayi gede baru lahir!!!" teriak Aji.


"Eh woi tutup mulut lo, anjir! Noh ada Alex, bisa habis lo di hajar mati-matian kayak Reyhan waktu itu," sergah Jevran menutup mulut Aji.


Yang benar saja, Alex datang ke lapangan upacara dan melangkah menghampiri kekasihnya yang mengeluh karena pegal serta mengelap keringatnya. Sepertinya gadis bengis sekaligus genit itu sampai rumah langsung memakai hand body untuk memutihkan kulitnya yang kusam karena terkena sinar matahari.


"Sayangku! Lihat deh mereka, mereka tega banget ngehina aku!" adu Youra.


"Memang pantas kamu di hina mereka seperti itu," jawab Alex nada dingin.


DEG !


"A-alex! Maksud kamu apa ngomong begitu?! Kamu seneng pacarmu ini di hina mereka semua?! Tega kamu!!"


"YANG TEGA ITU KAMU, YOUR! KAMU UDAH MENYAKITI FREYA DAN AKU BENCI ITU!!!"


Seketika suasana menjadi senyap, mereka yang menonton adegan itu terdiam pada penurutan ucapan Alex yang tak seperti biasanya dan ini baru pertama kalinya Alex memarahi Youra secara habis-habisan. Angga dan Jova yang diam tak bersuara begitu kaget pada Alex yang mulai berubah. Apakah Stevan membujuk Alex untuk merubah sikapnya ke yang dulunya Stevan kenal?


"KENAPA KAMU TIBA-TIBA BISA BICARA KAYAK GITU KE AKU??!! SEOLAH-OLAH KAMU KEK JATUHIN AKU DI DEPAN SEMUA ORANG DI SINI!! MAKSUDMU APAAN SIH, HAH??!!"


"AKU BENCI LIHAT DAN DENGAR PEREMPUAN YANG DILUKAI APALAGI DISAKITI HATINYA!! Aku jadi sadar selama ini kamu nyakitin Freya berbagai macam, kan?!"


"Lho?! Itu terserah aku dong! Cewek lugu yang gak becus jadi siswi di sini bagusnya di sakitin biar sadar diri kalau dia gak pantes menempati sama berada di SMA milik papamu!!"


"Keterlaluan kamu sama Freya!! Asalkan kamu tau, selama ini aku memantau kamu disaat kamu bahagia bully Freya tapi sekarang gak akan aku biarin Freya ngerasain seperti itu lagi! Freya yang diperlakukan kamu, Febrie, Claudie seperti itu Freya cuman diem dan gak balas perbuatanmu! Bahkan dia pernah sampai nangis karena ulah kalian bertiga!"


Air mata Alex mulai mengalir membasahi pipinya. "K-kamu bener-bener- argh ngingetin aku tentang Almarhumah mamaku!!"


Alex dengan nada geram melengos pergi meninggalkan kekasihnya begitu saja dengan berurai air mata, patah hati saat kembali teringat soal tentang sang ibu yang telah tiada di hidupnya.


"Lho?! Alex! Aku pulang sama siapa?!"


"Pulang saja sendiri, aku gak sudi anterin kamu pulang!"


Alex kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan lapangan upacara dengan perasaan amarah dan hati yang rapuh, tas merk Adidas tersebut yang dikenakan Alex lama-lama tak terlihat lagi bersama kepergian Alex dengan langkah besarnya sembari mengusap air matanya berusaha mengembalikan ketegarannya.


"WAH DASAR PAYAH UDAH BUAT DOI-NYA SAKIT HATI WUUUUU!! MENDING PUTUS AJA GAK USAH DITERUSIN!!!" sorak teriak Rendy.


Youra yang tak tahan ingin menampar Rendy, langsung berdiri dan melangkah ke Rendy tetapi Senja yang ada di pelosok lapangan upacara ingin menepatkan rencananya untuk membuat Youra amat malu. Sosok arwah itu membentangkan tangannya dan memberikan jari telunjuknya, munculah sebuah kulit pisang di bawah Youra. Karena Youra tidak melihat ke bawah akhirnya gadis itu tersungkur dalam posisi tubuh terlungkup.


BRUGH !!!


"Ssssshh aaaaww!!!"


"BAHAHAHAHAHAHAHA!!!" tawa para siswa dan siswi lagi terkecuali Angga, Jova, dan Kenzo.


"Yes! Hahahahaha! Sukurin lo, diketawain habis-habisan kan, lo." Senja ikut tertawa bahagia telah berhasil membuat Youra terjatuh dan ditertawakan oleh semuanya.


Youra mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. "Heh! Bantuin gue kek! Malah diem aja!"


"Eh iya-iya!" ucap kompak Febrie dan Claudie.


Senja melayang ke arah Febrie dan Claudie, Angga dan Jova sangat terkejut melihat Senja yang akan berbuat sesuatu pada mereka. Dan di saat Febrie dan Claudie membantu Youra bangkit...


"Nih sini, gue bantuin lo berdua jatuh gantian."


Senja mendorong punggung Claudie dan Febrie bersamaan sehingga Youra tertindih tubuh dua sahabatnya apalagi kepalanya. Mereka yang nonton kembali tertawa kencang bersorak-sorak ria.


Seorang gadis remaja ketua OSIS yang bernama Flo Grensia Faramarra dengan nama kerap di panggil sebutan Flo, yang diam tak bersuara kini angkat suara.


"Dek, mending lo bertiga pulang aja deh sono daripada nambah malu-maluin doang. Oh iya dan jangan lupa kenang semua momen-momen memalukan sekaligus keburukan yang lo terima ya, Adek-adek Kriminal gak ngotak! Inget, besok gak usah sekolah, daripada lo di gusur sama mang Asep!"


Youra, Febrie, dan Claudie bangkit berdiri dengan menundukkan kepalanya takut pada Flo yang kakak kelas bahkan juga ketua OSIS. Sementara Jova yang di samping Angga sudah gregetan, Jova berjalan cepat mendatangi Youra dengan perasaan hati amukan amarah. Gadis tomboy itu usai berada di dekatnya gadis hati bengis tersebut, langsung mencengkram kedua kerah jas almamater Youra kuat.


"Inget baik-baik, cewek brengsek!! Kalau sampe Freya kenapa-napa, cidera atau apalah itu .. siap-siap lo bakal habis di tangan gue!!"


Febrie yang tak terima langsung menjambak rambut Jova dengan kuat. "Huh! Ini lagi, mainnya pasti jambak rambut orang! Gak ada yang lain, kah?!"


Jova dengan langsung tangkas menendang paha kaki Febrie dengan sangat keras dari belakang hingga jambakan dari Febrie terlepas, Claudie yang akan menampar wajah Jova, sudah lebih dulu Jova cekal tangan Claudie lalu memelintirnya hingga Claudie mengaduh kesakitan. Tatapan Jova beralih menatap Youra dengan penuh kebencian, satu tangannya yang ia lepas dari kerah seragam jas almamater Youra untuk menyerang Claudie ia posisikan tangannya balik untuk kembali mencengkram jas almamater Youra. Namun berapa menit kemudian, Jova dengan kasarnya mendorong Youra bersama melepaskan kedua tangannya dari pakaian Youra.


Youra terjatuh dan kepalanya membentur tanah, Jova tak memedulikan rintihan sakit dari mereka bertiga dikarenakan Jova sudah begitu sangat muak. Flo yang melihat aksi sangar dari Jovata Zea Felcia segera berlari menghampiri adik kelasnya yang masih tersulut emosi.


"Va! Va! Sudah ya Va, sudah ... biarin aja mereka bertiga. Lebih baik kamu pulang saja ya, redain emosi mu, oke?"


Flo menggiring Jova jalan meninggalkan Youra, Febrie, dan Claudie. Flo lantas itu menyuruh para semua bubar untuk pergi pulang ke rumahnya masing-masing.


"Anjir! Jova kalau udah marah kayak Reyhan beneran dah!" ucap Raka.


"Wey! Jangan nyebut nama Reyhan napa sih, To Rakato ..." respon Aji lesu.


"Lah kenapa, Ji??" Raka bertanya.


"Merana gue, anjir!"


Jevran yang ada di samping Aji ikut menjawab dengan nada sungguh lirih gundahnya.


"Ho'oh bener, merana dan hampa terasa gak ada Reyhan di sini ..."


...----------›◎:☬☬☬:◎‹----------...


Di parkiran motor, Angga tengah menyalakan mesin motornya sesudah memakai helmnya namun setelah memundurkan motornya, Angga melihat Jova yang diam saja tak menaiki motornya.


"Jadi jenguk Freya kan, Va?"


"Hm'em."


"Terus, motor kamu di mana??" tanya Angga karena ia tak melihat sama sekali motor Honda Beat warna ungunya.


"Aku tadi berangkat ke sekolah naik taksi online, males pake motor soalnya lupa isi bensin, mau isi tapi pasti pom bensinnya macet banget."


"Kalau gitu kenapa gak bilang sama aku tadi? Yaudah sini naik ke motorku."


Jova menyengir dan menganggukkan kepalanya lalu mulai menaiki motor Angga. Angga melajukan motornya di kecepatan sedang untuk keluar dari gerbang sekolah sedangkan mang Asep tengah ngopi di warung kecil. Pemuda berbadan tinggi 180 sentimeter kembali melajukan motor Vario-nya menuju ke RS Wijaya.


Beberapa kilometer telah di tempuh, hingga pada akhirnya tibalah di gang RS Wijaya. Sebelum menuju ke tempat parkiran, Angga harus menekan tombol untuk membuka palang pintu otomatis berwarna oranye buat masuk dalam parkiran. Setelah palang pintu otomatis tersebut telah terbuka ke atas, Angga kembali menjalankan motornya menuju ke sebuah parkiran khusus roda dua alias motor.


Usai menemukan parkiran untuk memarkir motornya, Angga dan Jova turun dan melangkah ke dalam lobby RS Wijaya. Nampak sore ini lobby terlihat ramai banyak pengunjung.


"Ngga, tempat rawatnya Freya di mana, ya?"


"Sebentar, aku telpon tante Rani dulu."


Jova menganggukkan kepalanya menjawab sahabatnya. Angga merogoh ponselnya yang ada di saku celana SMA-nya kemudian menghidupkan layar ponselnya dan mencari kontak Rani di aplikasi WhatsApp. Setelah menemukannya di pencarian, Angga mulai melakukan panggilan telepon. Jova menunggu Angga sampai ia atau Rani menutup teleponnya.


Nampak Angga mematikan teleponnya Rani usai bertanya ruang rawatnya dan memberitahukan bahwa Angga serta Jova akan segera ke sana. Angga menatap Jova begitupun Jova.


"Ruang apa, Ngga?!"


"Tenang, Freya di kamar rawat kok dan kamar rawatnya ada di lantai dua nomer seratus dua belas. Yaudah ayo ke sana."


Usai keluar dari lift dan lantai yang Angga apalagi yang Jova pijak merupakan lantai 2. Kini pemuda dan gadis itu mencari ruang kamar rawat no 112 hingga pada akhirnya mereka menemukan di pojok sendiri yang bersebrangan kamar rawat no 111.


Perlahan Angga membuka pintu kamar rawat sahabat kecilnya, setelah pintu dibuka oleh Angga sang ibu Freya yang tengah membenarkan selimut agar anaknya tidak kedinginan, menatap Angga kemudian menghampirinya dengan wajah tersenyum.


"Eh nak Angga sama nak Jova sudah datang ya, yaudah yuk masuk ke dalem."


Angga dan Jova pun menganggukkan kepala dan mulai masuk ke dalam kamar rawat Freya, sementara Rani menutup pintu. Angga dan Jova langsung menatap Freya yang kondisinya masih memejamkan mata dengan bantu alat pernapasan oksigen yaitu Nasal Canula, selang hidung oksigen. Di kening kanannya terlihat jelas di tambal perban kasa untuk menutupi luka keningnya setelah di bersihkan darahnya dan di obati. Terakhir, gadis cantik manis anggun polos itu dikenakan baju pasien lengan pendek berwarna dominan biru muda seperti yang dipakai oleh Reyhan nang masih senantiasa tidur dalam Komanya.


Angga beralih menoleh ke Rani yang sedang berdiri menatap anak putrinya. "Tante, Angga benar-benar minta maaf karna sudah kurang jagain Freya. Maafin Angga banget, Tan ..."


"Sudah Nak, nggak apa-apa kok. Oh iya kalau kamu mau duduk di sampingnya Freya silahkan saja, Ngga."


Angga tersenyum hambar dan menganggukkan kepalanya seraya berjalan mendekati Freya kemudian duduk di salah satu kursi sisi ranjang pasien sementara Jova hanya berdiri tetapi sudah berada di kanannya Freya.


Angga mengangkat tangan halusnya Freya lalu menggenggam telapak tangannya. "Kamu sudah bangun, belum ...?"


"Belum, Angga. Sudah beberapa jam ini Freya juga belum sadarkan diri tapi kata dokter di tunggu saja kesadarannya Freya. Om Lucas saja tadi sampai panik, saking paniknya sampai ketiduran nih," tutur Rani dengan menyentuh bahunya Lucas yang ketiduran di kursi sofa.


"Haduuuuhh, Freyaaaa ..." rengek Jova.


Angga hanya diam tanpa berkata apa-apa lagi, dirinya memandang wajah pucatnya Freya yang nampaknya tengah menikmati mimpinya.


Mata yang terpejam tenang itu, Freya buka perlahan. Teriknya sinar matahari yang memancarkan ke matanya, membuat Freya melindungi matanya menggunakan lengan tangannya. Dirinya yang terbaring di ranjang pasien kini ia terbaring di rerumputan hijau asri di suatu tempat. Gadis polos itu membangkitkan dirinya menjadi duduk, walaupun pemandangannya sangat memukau hati namun Freya bingung ia ada di mana.


"Ehm, aku ada di mana? Kok tiba-tiba aku ada di tempat asing ini??"


Freya yang duduk beranjak bangkit berdiri dan menatap sekeliling tempat. "Wah, tapi pemandangannya bagus banget terutama udaranya sangat sejuk."


Freya merentangkan tangannya ke samping untuk menghirup udara segar dalam-dalam, dan bertepatan saat ia akan melangkah untuk jalan-jalan di tempat memukau tersebut, gadis cantik itu melihat seekor kelinci berbulu warna abu-abu melompat-lompat melewati Freya. Freya yang menyukai kelinci selain kucing, berinisiatif untuk mengikuti arah kelinci imut dan menggemaskan itu. Setelah melewati jalan berkelok, kelinci itu berhenti dan mendekati temannya untuk bermain sedangkan Freya berhenti karena kontak matanya tak sengaja melihat seorang pemuda tinggi badan 180 sentimeter mengenakan seragam rompi SMA Galaxy Admara walaupun posisi keadaan pemuda tersebut membelakangi Freya dan dirinya tengah menyandar bahu kirinya di pohon.


Freya yang mengenakan seragam jas almamater SMA-nya mencoba memikir siapakah pemuda itu. Karena penasaran, Freya pun menyapanya dengan lembut.


"Hai, kamu yang di situ namanya siapa? Boleh berkenalan?"


Pemuda itu berbalik badan dengan berkata, "Iya tentu aja boleh- eh?!"


"Reyhan?!"

__ADS_1


Pemuda itu rupanya adalah Reyhan, sahabat Freya dari SMP Erlangga kota Jakarta. Saking tak menduganya orang yang ingin mengajak berkenalan pada dirinya ternyata adalah Freya, Reyhan sampai menaikkan kedua alisnya berwajah raut ekspresi amat kaget dengan mulut menganga sedikit lebar serta jari telunjuk tangannya menunjuk ke Freya yang Freya sama-sama terkejut bertemu sahabatnya secara tak terduga ini.


Indigo To Be Continued ›››


__ADS_2