
“Adududuh! Sakit, Pak!”
“Tahanlah sejenak, sebentar lagi akan selesai.”
Aji, Rena, dan Lala yang mendengar teriakan Jevran nang kesakitan saat seluruh tangannya di bagian kiri diurut oleh pak Richard untuk menyembuhkan, menatapnya miris.
“Woi! Masih pagi, ini! Bisa gak sih jangan tereak-tereak gitu?! Kayak lagi digebuk pak Richard aja, dah ini bocah!” kesal Aji.
Jevran yang memejamkan matanya rapat dengan menekankan seluruh gigi atas-putihnya, membuka matanya cepat lalu menolehkan kepalanya ke arah suara Aji yang temannya sedang duduk di kursi sofa panjang bersama kedua perempuan.
“Sialan, lo! Sakit, tahu- aduh!!” omel Jevran.
“Ye, sakitnya seberapa, sih? Paling juga sakitnya kayak digigit semut,” kelakar Aji.
“Otak, lo semut! Rasa sakitnya kayak dicokot harimau, tahu?!” Meskipun sakit Jevran masih sangat terasa, tapi ia masih bisa memarahi temannya yang membuat ia naik darah di suasana nang masih pagi seperti ini.
“Lebay banget lo jadi manusia. Yang penting sakitnya gak kek diterkam sama dinosaurus T-rex, lagian diurut sarafnya begitu sama pak Richard, gak bakal bikin lo modar.”
“Dinosaurus udah punah sebelum manusia diciptakan, Semprul! Sini, lo! Lo gak tahu seperti gimana rasa sakitnya. Coba aja kalau lo diposisi gue, elo pasti yang ada juga bakal teriak tapi teriaknya kayak cewek lagi diperkosa!” garang Jevran.
“Woy!!!” pekik Lala dan Rena bersamaan dengan mata mendelik saat mendengar ucapannya Jevran yang asal ceplas-ceplos.
“Mata lo, Syaiton!! Lama-lama itu mulut gue tampol pake bokong panci yang ada di dapur! Biar lambe lo kembar item kek arang!” sulut Aji tidak terima.
Rena menggelengkan kepalanya karena begitu Stress mendengar perdebatan antara Jevran dan Aji, lalu gadis itu memutuskan menoleh untuk menatap pak Richard yang terlihat fokus mengurut otot saraf tangan kiri teman lelakinya nang kaku akibat percikan api dari racun ular ganas binatang astral. Bahkan nampak ada sebuah cahaya remang-remang biru tua di sekujur telapak tangan kanan beliau.
“Pak Richard?”
Pria paruh baya yang mengenakan kemeja lengan pendek itu, menoleh ke arah sang anak muda remaja yang sedang duduk anteng di kursi sofa panjang. “Ya, Rena? Ada apa?”
“Apakah tragedi-tragedi berdarah dan diluar nalar itu sudah terjadi secara berkali-kali? Maaf, Pak hanya numpang bertanya saja.”
Pak Richard mengangguk sayup. “Iya, Nak. Hal itu telah terjadi secara berulang-ulang kali dan saya ingin sekali bangunan villa Ghosmara ini ditutup serta jangan pernah dibuka kembali. Karena villa ternama ini sudah terkenal di sosial media dan banyak digemari para anak muda seperti kalian.”
“Memangnya yang membeli tanah, merancang, dan membangun ini adalah pak Richard? Atau orang lain yang pemilik dari bangunan villa angker ini?” tanya Lala.
“Iya, Lala. Bangunan villa ini dimiliki orang lain yaitu manager, dan manager tersebut adalah salah satu dari teman kecilnya saya. Dan saya hanya sebagai penjaga serta pengurus villa Ghosmara untuk menyambut kedatangan para pelancong yang ingin menyewa dan berlibur di tempat ini.”
“Entah kapan saya akan segera menghubungi manager saya untuk berbincang perlahan tentang keadaan bangunan villa ini agar secepatnya ditutup. Saya tidak ingin ada korban lagi.”
“Ini mungkin berdampak faktor dari kota Bandung yang terkenal mistis, Pak. Saya memiliki kakak sepupu yang tinggal di daerah kota ini, dan banyak sekali sepupu saya bercerita soal keangkeran di seluruh pedalaman kota Bandung. Mulai dari hotel, apartemen, kosan, hutan, jalan tol, bangunan sekolah, kantor perusahaan, rumah sakit, dan termasuk villa.”
“Iye, tapi lu gak percaya adanya hantu, kan? Ngaku aja lo.”
Mata Jevran melotot tajam dengan sempurna menatap muka resenya Aji yang minta ditampar pakai sandal selop. “Heh! Ada pak Richard, Bego! Main asal bongkar-bongkar kriteria pribadi gue aja!”
“Hahahaha! Sudah, tidak mengapa. Saya paham, kok. Kamu santai saja dengan saya.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Pemuda tampan yang terbaring lemah di atas kasur dengan selimut tebal cokelat peanut yang menghangatkan tubuhnya, masih belum ada tanda-tanda jika akan kembali sadarkan diri.
Sinar mentari matahari di pagi hari, masuk ke dalam jendela dan menyoroti setengah wajah pucat tampannya Angga. Di dalam kamar, ia ditemani setia oleh kedua sahabatnya dan begitupun kekasihnya.
“Kapan, sih kamu bangunnya?” tanya lesu Freya tak bersemangat dengan kedua telapak tangan saling menyimpan telapak tangan lembutnya Angga untuk menggenggamnya sayang.
“Kok ngeliat keadaannya Angga yang begini, aku jadi gak nafsu makan, ya?”
Reyhan yang berdiri di samping sahabat perempuan Tomboy-nya, menatap wajah muram Jova. “Emangnya Angga kotoran sampe kamu ngomong begitu?”
“Etdah, nggak gitu juga konsepnya, Kunyuk! Kopet banget, sih ini otak cowok!” sebal Jova seraya menabok kepala Reyhan.
“Akh! Sakit ...” rampang Reyhan dengan memegang kepalanya yang terasa ngilu akibat tangan lancangnya Jova.
Lelaki Indigo yang berhidung mancung itu, mulai sanggup menangkap beberapa suara di sekitarnya ke pendengaran di sepasang telinganya. Dengan lemah, tangan kiri Angga terangkat untuk menyentuh kepalanya yang terasa sakit meski kedua matanya belum terbuka.
Freya yang melihat akan hal itu, terkejut dengan raut bahagia menatap kekasihnya yang telah sadarkan diri. “Anggara ...”
Tak hanya Freya saja yang mengetahui, tetapi juga dengan Jova dan Reyhan. Apalagi mereka yang keadaannya sedang berdiri di belakangnya Freya, mulai maju selangkah gesit lalu berjongkok di sisi kasur Angga.
“Angga?! Lo sudah sadar, Bro?!” sumringah Reyhan dengan memegang salah satu kaki sahabatnya yang tertutupi selimut tebalnya.
Angga menyingkirkan tangannya dari kepalanya lalu menurunkannya lambat untuk ia letakkan di tempat pembaringan yang empuk dan nyaman itu. Kemudian matanya terbuka dengan lemah, setelah itu menolehkan kepalanya laun ke arah sumber suara yang terdengar familiar di pendengarannya.
“Gue, belum mati ...?”
Jova yang mendengar itu, sontak terkejut dengan reflek mengelus selimut yang di dalamnya ada sepasang kaki panjang sahabat lelakinya. “Kamu ngomong apa sih, Ngga? Ya belum, lah. Kamu masih hidup di dunia, belum pergi ninggalin kami semua.”
Angga hanya diam lalu memalingkan kepalanya ke hadapan yang lurus. Kini pandangan matanya menatap langit-langit dinding dengan kosong. Kedua mata miliknya juga masih terlihat jelas sayunya.
“Sekarang yang kamu rasain, apa?” tanya Jova perlahan pada Angga.
“Seperti biasa ...”
Jova mengerutkan jidatnya. “Seperti biasa? Kepalanya sakit?”
Angga hanya menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi bahkan dirinya sama sekali tidak menatap wajah sahabat perempuannya.
“Ngga, sekarang lo aman. Kita semua sudah kembali dari hutan dan Kastil itu, kini kita berada di villa Ghosmara,” ucap Reyhan memecahkan keheningan.
“Iya, sudah tahu ...”
Senyuman Freya menjadi hilang setelah seolah ia merasakan sifat kekasihnya berputar seperti watak yang tidak dirinya inginkan. Ada apa dengan Angga?
“Angga? Kamu kenapa?” tanya Freya tanpa melepaskan genggamannya.
Angga menoleh dan memberikan gelengan untuk Freya yang nampak mencemaskannya sekaligus melemparkan senyumannya. “Aku gak kenapa-napa, kok ...”
“Jangan bikin gue takut, Ngga!” protes Reyhan dengan suara nada merengek sebal.
Angga beralih menatap Reyhan. “Emangnya gue kenapa? Jangan terlalu risaukan gue seperti itu, kayak mau ditinggal mati saja.”
“Selamat pagi, Angga.”
Angga menolehkan kepalanya ke ambang pintu kamarnya begitupun dengan lainnya. Terlihat pak Richard telah menyapanya ramah bersama membawa nampan berisi bubur hangat serta segelas air putih di dalamnya. Beliau kemudian melanjutkan langkahnya mendekati keempat anak muda tersebut yang memperhatikannya.
“Akhirnya kamu telah siuman, bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah baikan? Atau kamu memiliki keluhan sakit di bagian tubuhmu?” tanya pak Richard seraya meletakkan nampan di atas meja nakas sebelah kasur.
Setelah meletakkannya dengan benar, pak Richard menolehkan kepalanya ke arah Angga sekaligus menghadapkan tubuhnya melintang ke anak muda remaja lelaki pemilik indera keenam itu. Bukannya segera menjawab dari pertanyaannya, ia malah justru menatap intens sorot mata sipit beliau.
‘Sepertinya anak ini sedang memutar otaknya pada ke masa di saat saya dihipnotis,’ batin pak Richard.
Dengan tenaga tipis, Angga membangkitkan diri dari baring ke dalam posisi duduk. Lelaki tampan pemilik kekuatan Indigo itu terus menatap pria paruh baya yang berdiri di samping kirinya, hingga ia meraba kepalanya balik yang tiba-tiba rasa sakitnya menyerang, dan di situ raga Angga seperti ditarik oleh waktu. Dirinya diperlihatkan kembali sesosok pria tua, sedikit berkumis, memiliki rambut berwarna hitam dengan gaya model cepak, berpakaian kemeja pendek di depan villa Ghosmara di saat tengah malam hari.
Ada segerombolan para remaja yang sama dengan umurnya, siapa lagi jika bukan kekasih, kedua sahabat, keempat temannya? Ya, raga Angga memang benar ditarik ke masa lampau yang telah ia alami sebelumnya. Singkat durasi dimensinya, Angga menatap sorot dari sepasang mata pak Richard yang auranya sangat terpancar negatif, ia juga melihat ada sebuah dua tanduk iblis yang jelas berwarna merah darah.
__ADS_1
Angga, apakah kamu mengingat kejadian di masa itu?
Pemuda Indigo tersebut langsung mengerjapkan matanya saat raganya ditarik lagi untuk kembali ke masa sekarang. Napasnya sungguh tersengal-sengal, keringatnya meluncur dari kening hingga merembes ke pelipisnya, antara jari telunjuk dan jempol dari tangan kanannya ia tempelkan di kening yang tertutupi rambutnya dikarenakan kepalanya begitu terasa cenat-cenut.
“Angga, kamu nggak apa-apa, kan? Kok sampai keringatan begini? Kenapa? Kamu melihat sesuatu?” tanya Freya penuh dengan nada lemah lembut seraya mengelap keringat pelipis sang Kekasih hatinya menggunakan telapak tangan mulusnya di bagian luar.
Angga tidak merespon pertanyaan Freya yang agak merisaukan kondisinya saat ini, membuat pak Richard menghela napasnya dengan tersenyum sendu.
“Angga, apakah kamu mengingat kejadian di masa itu?” tanya beliau sengaja mengulang pertanyaannya dimana raga anak muda tersebut ditarik ke masa lalu.
Angga melepaskan kedua jarinya dari kening, membuka matanya lalu mendongakkan kepalanya lambat ke arah pak Richard. Dirinya menggeleng dengan muka tetap tanpa ekspresi.
Pak Richard tersenyum hangat bersama wajah teduhnya kemudian duduk dipinggir kasur. “Saya tahu ragamu ditarik sebentar ke masa dahulu, kamu melihat sosok saya yang berbeda dibanding sekarang, kan?”
“Bagaimana Bapak bisa tahu? Apakah Bapak mempunyai suatu kelebihan yang bisa mengetahui semuanya akan hal itu?” tanya Angga.
“Saya mempunyai kekuatan supernatural sepertimu sejak dari lahir. Lalu, apakah benar kamu melihat sosok saya yang jauh berbeda daripada yang ini?”
Angga berpaling pelan dari wajah beliau dengan mengangguk lemah. “Ya. Seorang pria yang memiliki sorot mata dengan aura negatif dan sepasang tanduk iblis di atas kepala. Saya masih bisa mengingat semua yang terjadi di waktu malam itu.”
“Ternyata saya tidak salah menerawang, ya.”
Angga kembali menatap wajah teduh pak Richard. “Maksud Bapak?”
“Seorang pria yang menyambut dan menyapa kalian berdelapan waktu hampir tengah malam itu yang datang ke wilayah bangunan villa Ghosmara, memang saya. Tetapi di dalam keadaan saya yang sedang dihipnotis oleh benda haluan angin tidak kasat mata.”
Angga hanya menganggukkan kepalanya saja. Lelaki ini memang sangat pendiam dan tidak banyak bicara, beda dari lainnya.
“Angga, bukannya waktu itu kamu sudah nggak ingat apa yang terjadi sama kamu?” tanya Freya bingung.
“Mungkin aku harus melihat sosok bapak ini lagi agar ingatanku kembali. Sudah aku bilang, kan? Daya ingatan milikku sekarang melemah tidak seperti dulu sebelum kejadian peristiwa yang membuat ragaku terbaring Koma di rumah sakit selama dua bulan.”
Pak Richard menepuk bahu lemas remaja Indigo itu dengan tetap mengukirkan senyumannya yang tidak pelit. “Untuk sekarang, kamu sudah aman. Jiwamu masih terselamatkan dari serangan sihir hitam yang dikuasai makhluk perampas kekuatan Indigo itu.”
“Dan kamu beserta lainnya, telah kembali di bangunan villa. Petualangan kalian untuk mencari titik jalan keluar telah usai, dan kamu juga sangat hebat dalam mengelabui untuk mengakhirinya.”
“Jadi Bapak yang telah menyelamatkan nyawa saya? Kalau begitu, terimakasih banyak.”
“Iya. Sama-sama, Angga. Saya juga sangat bersyukur dan lega karena berhasil menarik sihir hitam yang nyaris ingin menyebar ke seluruh organ-organ penting di dalam tubuhmu, terutama organ jantung. Jika saya terlambat, nyawamu bisa berakhir di tempat ini.”
Kali ini Angga mengulas senyuman tipisnya pada beliau dengan kembali menganggukkan kepalanya secara pelan. Tetapi ia tidak bisa tenang, karena firasat buruknya terus mengakar dibenak pikiran otaknya. Feeling tidak baik yang lebih maut untuknya.
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Terdapat sepasang kekasih sedang berada di salah satu kamar yang tepatnya di nomor utama ialah no 001, tangan kiri Freya nampak menyangga mangkuk sementara tangan kanannya menyendok bubur lezat dan hangat untuk menyuapi ke Angga yang kembali bungkam tak bersuara, pandangan lelaki tampan itu terlihat lurus tidak memperhatikan aktivitas ringan tulusnya dari Freya yang sedang mengurusnya.
“Ayo Ngga, di makan dulu buburnya.” Freya mengangkat sendok aluminum yang telah berisi seporsi makanan tersebut nang sesuai ukurannya.
Angga menggelengkan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun ke arah gadis cantiknya. Melihat reaksi kekasihnya yang menolak suapannya, Freya bermuka murung.
“Lho, kok gitu? Kamu harus makan biar cepat sembuh. Nih, aku suapin. Ayo buka mulutnya,” pinta lembut Freya.
“Jangan paksa aku, Frey. Aku sekarang lagi nggak nafsu untuk makan,” sangkal lirih Angga sambil menyingkirkan tangan Freya dari samping wajahnya.
“Tetap bagaimanapun kamu lagi gak nafsu makan, kamu harus makan, Angga. Agar kamu punya tenaga, tenagamu sudah habis karena tragedi dibawah tanah kastil itu. Makan, ya? Please ...” mohon Freya dengan mengerlingkan matanya agar lelakinya menuruti atas bujukannya.
Angga menghela napasnya lalu pasrah menuruti bujukan rayuan Freya. Ia membuka mulutnya untuk menerima asupan sarapan dari kekasihnya yang setia berada di dalam kamarnya.
“Nah! Gitu, dong. Bagaimana rasanya? Pasti lezat banget, kan?” tanya Freya saat melihat Angga mengunyah bubur.
Angga agak merapatkan bibir pucat-nya saat sedang merasakan bubur hangat itu yang terasa di lidahnya. Hal tersebut, membuat Freya menyusutkan keningnya dengan memiringkan kepalanya.
“Pahit,” singkat Angga usai menelan hasil kunyahannya.
Mata Freya melebar. “Lah? Kok bisa pahit? Padahal bubur ini gak dikasih rempah-rempah obat sama pak Richard, lho.”
Kemudian gadis cantik Nirmala itu berinisiatif untuk mencicipi rasa bubur yang masih mengepul di dalam mangkuk. Begitu ia rasakan pakai lidahnya, berbanding terbalik dari seperti Angga katakan.
“Nggak pahit kok, Ngga. Malahan rasanya enak banget, kayak ada gurih-gurihnya gitu. Waduh, mungkin ini faktor karena kamu lagi sakit, nih. Mangkanya bubur yang kamu rasain tadi rasanya pahit.”
“Aku gak mau makan lagi. Kalau menurut perasa lidahmu bubur yang kamu pegang itu gurih, di makan saja. Perutku sekarang benar-benar mual,” keluh Angga sembari memegang perutnya.
“Mual, ya? Yasudah, terakhir suapan ini saja. Habis itu minum terus tidur, oke?” pinta Freya.
Angga menganggukkan kepalanya pelan lalu membuka mulutnya lagi untuk menerima suapan bubur terakhir dari sendok yang dipegang oleh Freya. Setelah itu, gadis tersebut meletakkan mangkuk di atas meja nakas lalu mengambil segelas teh hangat.
“Mau pakai sedotan, gak?” tawar Freya sesudah mengangkat gelas teh hangat untuk Angga.
“Nggak usah, begini saja.”
“Yakin? Nanti kalau bibirmu melepuh, gimana? Air teh manisnya masih panas, lho. Yakin nggak apa-apa kalau nggak pake sedotan?”
Angga menggelengkan kepalanya dengan senyum. “Gak bakal jadi masalah, kok di bibirku. Aku kebal dari minuman panas.”
Freya terkekeh mendengar percaya dirinya Angga. “Panas saja kebal, gimana kalau yang dingin, ya? Hehehehe! Yasudah kalau maumu begitu, pelan-pelan minumnya. Jangan terburu-buru nanti bisa tersedak.”
“Iya, Cantik. Perhatian banget, sih ...”
Freya yang telah menyerahkan gelasnya pada kekasihnya, memanyunkan bibir pada penuturan Angga yang sekarang sedang tersenyum nyengir menatap muka manisnya. “Kalau gak perhatian, terus aku apa-mu?”
“Sebatas sahabat.”
Mata Freya membulat dengan hati yang terkejut. “Hah? Sebatas sahabat? Kamu mau kembali seperti kita yang dulu? Yang Hanya Soulmate?”
Angga mendengus dengan bibir terukir senyum. “Enggak, kok. Aku cuma bercanda ... aku tetap pacarmu, bukan sahabat lagi atau Soulmate.”
Freya menarik jaket Angga semu. “Ih! Habisnya bercandanya kamu kayak serius. Kan, aku ngiranya kamu ngomong apa adanya. Tahunya ditipu!”
“Tipu-tipu begini, tapi tidak merugikan hatimu untuk mencintaiku, kan?”
Freya tersenyum diagonal lalu mendorong pundak kirinya Angga dengan menggunakan tenaga kecilnya. “Kamu apaan, sih? Iya ... udah! Cepet di minum, gih. Entar nanti malah jadi kolam renangnya semut saking manis tehnya.”
“Iya, manisnya kayak kamu.”
Freya semakin tersentak pada perkataannya Angga yang menahan tawanya. “Udah, ih gombalnya! Orang lagi sakit, juga. Masih aja bisa gombalin pacarnya.”
“Ya, dong. Apa, sih yang gak aku bisa buat kamu? Semuanya aku sanggup, kok untuk dirimu. Bahkan melayani kamu seperti pasien, aku juga mampu.”
Freya memutar bola matanya dengan wajah tersipu lalu gadis itu tertawa pada tingkah gombal mulut dari Angga untuknya. Ya, dirinya tahu kekasihnya sedang berusaha menghibur hatinya agar rasa cemas dan ketakutan itu terhadap Angga memudar.
Saat tengah menatap ambang pintu kamar yang terbuka lebar, Freya dikejutkan oleh sosok satu lelaki dan satu perempuan yang menikmati pembicaraan serunya bersama Angga.
“Jova?! Reyhan?! Ih, kalian ngapain berdiri di situ? Mana muka kalian kayak ngeselin, lagi!”
“Ehem-ehem! Makin sedap ae, nih gombalan cintanya Angga buat Freya! Pasti jiwa dan hatinya Freya berbunga-bunga mawar karena Angga, eaaaa!” heboh Jova.
__ADS_1
“Uhuk!” Angga menyeka sisa air minumnya yang ada diluar mulutnya setelah terbatuk karena kaget melihat sosok kedua sahabatnya yang berdiri diambang pintu kamarnya.
“Kalian dari tadi di situ untuk menguping soal obrolan gue sama Freya?! Gila, ya ...”
“Pepet, teros! Tenang bae, Cuy. Nggak ada yang melarang lo buat berduaan sama Freya, kok. Kalau ada yang berani gangguin kalian, auto gue sikat abis-abisan!”
“Sok gaya,” cibir Angga.
Jova menempelkan kedua telapak tangannya di dadanya dengan begitu dramatis menatap Freya maupun Angga yang duduk bersama di atas kasur. “Duh, duh. Freya, kan tadi nyuapin si Angga, ya? Kerasa sama berkesan banget gak, sih kalau Freya itu istri idamannya Angga esok nanti? Anjaaaay!”
Angga menggelengkan kepalanya lalu memilih meneguk teh hangatnya kembali daripada harus mendengar ocehan lebay dari sahabat perempuan Tomboy-nya.
“Ih! Kalian apaan, sih?! Sudah sana pergi! Bukannya tadi kalian berdua disuruh pak Richard sarapan di lantai dasar? Keburu bubur yang udah di masak sama beliau dingin!”
Angga mencubit kecil pipi Freya dengan senyum tampan yang merekah sempurna di wajah pucatnya. “Jangan galak-galak ... nanti tambah cantik.”
“Ngga!! Kalau sudah lulus kuliah nanti, Freya cepet lo lamar, yaaaa! Jangan kelamaan berpacarannya, nggak baik. Entar putus, lagi di tengah jalan!” teriak Reyhan lalu tertawa renyah.
“Cerewet, lo! Baru juga masih jalan, udah mikir yang kejauhan. Pergi sana, lo! Ajak juga tuh, Jova.”
Reyhan menghentikan tawanya. “Mananya kejauhan, Anjir? Kita berempat kurang beberapa minggu lagi bakal naik jenjang ke kelas dua belas, dan di situlah kita sudah mikirin alur kita mau kemana besok. Mau langsung cari kerja, kek atau lanjut pendidikan kuliah dahulu di kampus. Perasaan santai banget hidup, lu?”
“Hidup gue memang bawaannya suka santai, nggak kayak hidup lo yang apa-apa suka panikan,” jawab enteng Angga seraya kembali meminum teh hangatnya.
Bahu kanan Reyhan yang posisinya sedang bersandaran di bagian sisi ambang pintu, badannya tegap seketika dengan mata melotot. “V-vangke ...”
“Buset, dah! Langsung kena ulti (Ultimate), dong Reyhan sama Angga! Wakakakakak! Yasudah, deh. Kalian berdua lanjutin aja ngobrolnya, kami mau keluar dulu buat ngisi perut dibawah. Udah mulai keroncongan, nih. Kasian entar cacing-cacing di perutku.”
“Heh, Sableng Sejagat Raya! Suka banget pelihara cacing. Sampe itu mukamu kayak cacing, cacing kepanasan!” ledek Reyhan.
“Banyak lambe! Ayok kita turun! Keburu buburnya dingin, pasti jadinya gak bakal enak buat di makan. Cepetan, ah!” desak Jova sambil menarik tudung hoodie kuning olive Reyhan untuk mengajaknya ke ruang makan yang letaknya dibawah lantai.
“Sahabat kita kenapa, sih? Ada-ada saja tingkahnya,” ujar Freya dengan menggelengkan kepalanya saat tidak bisa lagi melihat sosok kedua sahabatnya yang telah berjalan belok ke kiri.
“Agak lain emang otak mereka,” jawab Angga lalu balik meminum tehnya yang hampir kandas.
“Hahahaha! Gitu, ya? Kamu bisa saja. Oh iya, terus buburnya tadi bagaimana? Masa gak dihabiskan? Kan, Mubazir namanya.”
Angga menghela napasnya lalu menurunkan pucuk gelasnya dari mulut kemudian tangannya membentang untuk mengambil mangkuk bubur yang masih terasa hangat dari bidang wadah makanan tersebut.
“Kamu makan saja buburnya kalau gak mau Mubazir, kan tadi aku sudah bilang sama kamu, bubur ini kamu makan saja. Aku sudah gak lapar,” tutur Angga seraya menyodorkan mangkuknya yang ia pegang.
“Itu alasan kamu, bilang saja karena buburnya pahit.”
Angga mendengus pelan. “Nggak gitu, Sayang ...”
Freya menerima mangkuk yang disodorkan oleh kekasihnya. “Hehe! Iya, deh. Aku makan, ya? Kebetulan aku juga belum sarapan. Biar nanti buburku yang dibawah di makan sama Jova. Jova, kan paling suka kalau bubur ayam. Favoritnya, malah!”
Angga tertawa kecil seraya mengusap puncak kepala Freya dengan lembut. “Iya, aku tahu."
Freya kemudian mulai menikmati bubur ayamnya yang seharusnya itu adalah teruntuk Angga. Gadis cantik tersebut nampak lahap dan nafsu sekali dengan makanannya yang sedang ia makan. Sementara Angga terus menatap wajah cantiknya dengan tampang nanar.
“Freya?”
Freya mengangkat mukanya saat sedang sibuk mengunyah nikmat buburnya di dalam mulut. “Hm? Kenapa? Kamu mau minta?”
“Enggak, aku mau berbicara sesuatu padamu.”
“Silahkan, dong. Ngapain pakai ngomong segala? Emangnya kamu mau bicara sesuatu apa sama aku?” tanya Freya dengan wajah cerianya.
Angga mendekatkan wajah tampannya ke muka cantik Freya, membuat gadis itu tegang dengan detak jantung yang berdebar tak menentu. Mata indah Freya terpaku di tatapannya Angga, lalu lelaki tersebut melenceng mendekatkan bibirnya di telinga kanan pujaan hatinya.
“I love you.”
Bibir merah muda Freya sedikit mengatup saat mendengar suara lirih Angga yang mengatakan cinta itu padanya. Ya, meskipun sudah lama berpacaran tetapi masih berhasil membuat kedua pipi Freya timbul semburat merah merona di sana, tak hanya itu saja namun pula gerakan irama detak jantungnya yang memacu hebat.
‘Dasar! Dia bisa banget bikin aku salah tingkah begini. Kamu juga aneh sih, Frey. Orang kamu, kan udah pernah pacaran sama mantanmu. Tapi nggak tahu kenapa, aku cinta sama Angga ada yang berbeda. Lebih berwarna, serasi, dan serasa lengkap dibanding dulu aku mencintai Gerald. Apa benar, ya aku dengan Angga berjodoh selamanya? Aamiin, deh. Aku berharapnya kami seperti itu.’
Angga yang mendengar suara batin relungnya Freya, hatinya seperti disayat-sayat oleh belati. Tak menyangka saja kekasihnya akan berkata seperti itu dalam lubuk hati kecilnya. Berjodoh selamanya? Ya, Angga juga sangat mengharapkannya, tetapi ia tidak bisa menghilangkan firasat buruknya yang akan mencelakai hidupnya. Setitik air mata jatuh ke pipi lelaki tampan tersebut dan langsung diseka singkat sebelum Freya mengetahuinya.
“Angga?”
“Ya?”
Freya mengulum senyuman cantiknya. “Aku cuma mau jawab ... I love you too.”
Angga tersenyum hangat lalu mengelus pipi kulit putih eksplisit mulusnya Freya dengan rasa kasih sayangnya.
‘Freya, gue juga ingin bersama lo selamanya. Gue sayang dan cinta banget dengan lo, nggak ada perempuan yang sebaik dan sehebat selain elo. Tapi, gue nggak sanggup menghilangkan semua feeling buruk yang akan mendatangkan malapetaka untuk gue. Gue gak bisa mencegah atau melawan takdir dari Allah. Mungkin bagi kalian akan terasa menyakitkan bila gue pergi. Jika ini memang bakal terjadi, tolong maafkan gue ...’
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Esok harinya. Kesembilan remaja itu nampak telah berpakaian berbeda dan rapi seraya menenteng tas punggungnya masing-masing di lantai utama villa Ghosmara. Ya, mereka akan pulang ke kota Jakarta setelah mendapatkan rintangan dan tragedi-tragedi mengerikan yang cukup mengancam jiwa.
Reyhan yang mengenakan baju hoodie keren dengan warna cokelat mocca, melihat Angga yang duduk lemah di kursi sofa panjang. Kondisi kedua jarinya menempel di keningnya yang tertutupi oleh rambut hitamnya.
Reyhan duduk di samping sahabatnya usai melangkah menghampirinya. “Ngga, lo oke? Pasti kepalanya masih sakit, ya?”
“Ini sudah biasa.”
Reyhan yang cemas, menyentuh pundak lemas kanan Angga dari belakang. “Apa mau nginep lagi di sini dulu? Baru besok kita balik ke kota Jakarta.”
Angga melepaskan kedua jarinya lalu menurunkan tangan kanannya dan mengangkat wajah pucat ke arah Reyhan. “Gak usah. Rintangan kita sudah selesai, jadi untuk apa tetap di tempat villa ini?”
“I-iya juga, sih. Tapi gimana sama kondisi lo yang begini? Emangnya bisa pulang dengan keadaan yang miris kayak gini?”
Angga tertawa lirih. “Lo itu Bego atau Begoin? Elo, kan yang nyetir mobil, bukan gue. Jadi ya pasti tahu, lah bakal aman terkendali.”
Reyhan langsung menepuk jidatnya keras. “Oh, gilak! Gue lupa. Gue, kan yang bawa mobilnya! Hahaha!”
Angga setengah menoyor kepala Reyhan yang tawanya kencang. “Parah, lo. Masih muda tapi udah pikun saja kayak orang lansia.”
“Hehehehe! Sorry-sorry. Yasudah yok, kita keluar. Tuh, banyak yang udah nungguin di sana,” ajak Reyhan bersemangat sambil menarik tangan Angga untuk meninggalkan dalam bangunan villa.
“Bro! Mau gue bawain, nggak tas lo? Keknya lo kesusahan gitu nentengnya.”
“Gak perlu, gue bisa.”
Kedua pemuda berwajah langsai dan tampannya 12:12 itu, kini telah keluar dari villa Ghosmara dan akan hendak mendatangi mobil Xenia abu-abu milik Reyhan. Tetapi saat akan menghampiri mobil sahabatnya untuk membuka pintu mobil samping pintu kemudi, tangan kiri lemas Angga ditarik laun oleh pak Richard secara tiba-tiba.
Beliau mendekatkan mulutnya di telinga remaja lelaki tersebut untuk membisikinya sesuatu yang nampak terasa elementer.
“Berhati-hatilah dan waspadalah, akan ada bahaya malapetaka yang sebentar lagi mencelakai dirimu secara fatal. Seorang yang menyimpan dendam besar di hati padamu, sekarang sedang berusaha mengincarmu untuk mengakhiri hidupmu.”
Angga hanya diam dengan wajah datar. Seorang yang menyelubungi dendam besar di hati padanya? Ya, Angga tahu siapa sosok itu.
__ADS_1
‘Sudah gue duga.’
INDIGO To Be Continued ›››