
Diperjalanan menuju tempat lokasi kematian sang arwah negatif tersebut, suasana dalam mobil nampak senyap. Angga fokus menyetir mobilnya, Reyhan mempersiapkan nyali untuk menyelesaikan masalah ini, sementara yang lain dirundung perasaan panik dan takut kalau semua rencana yang telah mereka susun secara optimal hasilnya gagal total.
“Gue deg-degan banget kalau semuanya hancur, Bro! Apalagi kan itu berurusan sama dua orang pembunuh sekaligus dedemit yang gentayangan meneror Reyhan,” ujar Aji bergidik ngeri.
“Nah itu! Kayaknya ini termasuk ide yang gila bener, dah! Apalagi kan kita-kita kecuali Reyhan gak bisa ngeliat makhluk mitos itu, anjir! Kalau tetangga gue kenapa-napa gimana, dong?!”
Angga mendengus dan menampilkan muka jemu-nya, lelaki tampan itu merasa begitu terusik fokusnya menyetir mobil gara-gara kebisingan suara Jevran dan Aji yang nadanya sungguh penuh kepanikan nang melanda. “Gue tendang lo berdua ke jurang, mau?”
Kedua pemuda yang sama-sama panik itu menelan salivanya pada tawaran Angga yang nadanya sangat dingin. “G-gak! Jangan, Ngga!!”
“Mangkanya jangan berisik!!”
Freya yang ada di tepat belakang kursi kemudi Angga, mulai sedikit memajukan badannya untuk mengusap bahu kirinya dengan lembut sambil terkekeh pelan. “Udah ih jangan marah-marah, nanti cepet tua, loh.”
“Tuh, Ngga. Dengerin kalau Freya ngomong! Jangan sok budeg kalau dinasehati!” sambung Jova dengan menaikkan tinggi nadanya.
“Hm.”
“Hm doang, Ngga?! Wah emang minta dicekek lehernya nih biar tau rasa kapok! Bisa kagak jawabannya selain itu?? Jenuh, tau!” omel Jova.
“Sabar, Va ... sabar. Emang udah takdir lo punya sahabat kek Angga yang super cuek kayak begono. Hahaha, daripada emosi gue punya sesuatu buat lo.”
“Sesuatu apaan?” tanya Jova pada Lala sembari menyingkap rambut indahnya ke belakang.
Lala kemudian dengan senyum yang merekah di wajahnya, mengambil coklat batang yang terbungkus kertas emas dari kantong celana panjangnya. “Tada! Silverqueen, buat elo dah. Nih, terima.”
Jova nyengir kuda. “Yakin lo ngasih gue coklat itu? Itu kan punya elo pas beli di Alfamart tadi sebelum dijemput sama si cowok beruang kutub.”
“Heh, Jovata. Meskipun begitu, tetep gimanapun lo ejeknya, Angga sahabat lo. Emangnya lo kagak takut kena amuk Angga?” tutur Rena berucap diakhiri pertanyaan.
“Gue?” Jova menempelkan ujung jari telunjuknya di dadanya dengan senyum miring lalu mengibaskan tangannya di udara bersama tawa lirih. “Gue kenal Angga dari SMP, jadi gue tau sikap-sikap monotonnya seperti apa. Yak, dia nggak bisa marah sama perempuan.”
Angga yang mendengarnya hanya bisa sabar dan sabar karena ketiga gadis itu terus membicarakan tentang dirinya. Tetapi yang tepat, Angga memang sudah dasarnya tidak bisa memarahi perempuan bahkan mencoba untuk melukainya. Ya, keturunan dari sang ayah.
Aji dan Jevran yang duduk di paling pojok sendiri dekat jendela kaca belakang mobil Avanza hitam milik Angga merasa terheran-heran kepada Reyhan yang sedari tadi di dalam mobil hanya diam membisu.
“Nyuk, tumben lo kayak patung? Suara pita lo putus?”
“Lagi semedi, lo?” tanya kepo Jevran sesudah Aji.
Reyhan cepat menyongsong badannya ke belakang dengan mata sedikit melotot. “Bisa diem bentar gak, lo berdua, hah??!! Lama-lama gue balang sepatu nih, biar muka kalian bonyok gak terselamatkan!!”
“Gak Angga, gak Reyhan ... sama bae! Gualak!!” kompak Aji dan Jevran memajukan badannya.
Tak terasa perjalanan semakin berlalu, gelapnya pemandangan yang berarti sudah memasuki JL. Jiaulingga Mawar nang jarang dilewati para pengendara. Saat Angga melewati jalan tikungan, ia segera mematikan lampu mobil agar tak ketahuan oleh dua pria yang menempati jalan itu untuk mencari target korban yang tidak mematuhi permintaannya, yaitu memalak uang yang sebesar 5 juta.
Mata para delapan remaja tersebut langsung terpusat kepada Aditama dan Arkie yang sepertinya tengah asyik mengobrolkan suatu hal bersama satu sebuah motor merah Sportbike yang mereka tunggangi. Mulai di menit inilah detak jantung milik Reyhan terasa berdebar kuat nan sulit dikendalikannya, tak hanya Reyhan saja yang mengalami pacuan adrenalin itu tetapi mereka sebagian yang ada di dalam mobil sahabatnya juga begitu.
Merasa paling tepat untuk menghentikan mobil, Angga mengerem mobilnya dengan pandangan tetap tertuju pada sosok dua pria berbadan kekar itu. Dua orang yang menjadi penghalang jalan kemarin.
Sampai tiba-tiba bahu Reyhan ditepuk-tepuk oleh Freya bermaksud memanggilnya dalam wajah gadis cantik polos itu dipenuhi seraut kebimbangan. Yang ditepuk pun langsung menoleh ke arahnya. “Iya? Kenapa?”
“Rey, kamu yakin mau menghadapi dua pria yang bentukan mukanya kayak preman pasar itu? Nanti kalau tau-taunya mereka bawa senjata tajam, gimana?! Bahaya banget, lho.”
“Sans, kamu jangan khawatir. Aku jamin seratus persen bakal berhasil,” ucap Reyhan dengan percaya diri.
“Oke guys. Doain dah semoga rencana ini berjalan dengan mulus kayak perosotan tempat anak TK. Oh iye, kalian di sini yang akan jadi saksi mata. Bye!”
Reyhan melambaikan tangannya kecil ke atas usai menatap mereka satu persatu kemudian melepas sabuk pengamannya dilanjutkan membuka pintu mobil dengan sangat perlahan lalu menutupnya. Bersama nyali yang masih Reyhan kumpulkan, dirinya melangkah kedua pria tersebut yang tak menyadari keberadaan mobil hitam Avanza Angga begitupun kehadiran suara derapan sepatu milik Reyhan.
Di sisi lain, Angga nampak tak bisa tenang dengan situasi menegangkan ini. Sang sahabat menghadapinya dengan sendiri tanpa bantuan orang sedikitpun yang ada di dekatnya. Ingin menolong sebagai satu penyelamat tetapi telah di sergah terlebih dahulu oleh Reyhan waktu 2 hari lalu.
Flashback On
Reyhan menganggukkan kepalanya dengan senyum lebar bersama kedua mata yang ia sipit-kan. “Makasih bener kalian bertujuh mau bantuin gue buat nyusun rencana yang gue siapin. Gak nyangka banget sih. Eh tapi kalian percaya kemunculan makhluk gak kasat mata itu? Terutama elu, Vran?”
“Percaya gak percaya sih gue juga harus percaya, Rey. Kalau denger dari cerita fakta elo ... kemungkinan gede itu nyata, ya meski mustahil aja gitu kita semua bisa ngeliat setan,” jawab Jevran seraya memutar-putar ujung jari telunjuknya di atas meja perpustakaan.
“Bilang mitos lagi, gue sumpahin lo kesamber baling-baling helikopter!” ancam Reyhan sadis.
“Yakali bisa segitunya. Aneh, lu!”
Reyhan mulai menyerong badannya ke sahabat pendiam-nya yang sedari tadi sudah menatapnya. “Gue tau lo apa-apa pasti bantuin gue perkara soal permasalahan, tapi kali ini sebaiknya lo diem nggak perlu bantu apa-apa ke gue, oke? Lagian itu salah satu urusan gue yang perlu gue lurusin dan tuntaskan.”
__ADS_1
“Lo yakin bisa sendiri? Lo tau kan mereka berdua itu bahaya buat lo? Apalagi pas malem.”
“Napa? Hehe, jangan remehkan kepercayaan diri dan keberanian gue, Ngga. Ada kalanya gue pasti pengen nyelesain sendiri tanpa pertolongan orang. Diawal menuju penyelesaian masalah mungkin terasa berat, dan gue nggak tau endingnya bakal seperti apaan.”
Flashback Off
Angga membuang napasnya lambat saat memejamkan matanya, hingga ia terperanjat kaget melihat sosok arwah Cahya yang tengah bersantai di atas kap mesin mobil dengan melambaikan tangannya ramah bersama senyuman lebarnya. Angga hanya menaikkan kedua alisnya.
“Gue rasa lo semua di dalem bakal gak aman deh. Karena mesti habis ini akan kepergok sama dua pria itu. Tapi lo jangan panik, gue punya solusi dan caranya yang paling spektakuler.”
“Gue bakalan ngebuat mobil hitam lo ini jadi transparan. Untuk hilangnya gak usah dipertanyakan, sihir gue hilang kalau konflik permasalahan yang dihadapi Reyhan sudah betul-betul selesai.”
Angga mengangguk kecil pada ocehan Cahya yang ingin menyelamatkan dirinya dan lainnya dari musibah marabahaya yang akan datang. Satu jentikan jari, mampu membuat seluruh mobil Avanza milik pemuda tampan tersebut berubah menjadi transparan alias tak terlihat oleh mata.
Di sisi lain, Aditama dan Arkie yang sama-sama usai diberikan medis pengobatan pada lukanya masing-masing nampak sayup-sayup terdengar membicarakan tentang kematian Arseno yang telah mereka berdua lakukan dengan sebuah cara sadis nan kejam. Senyuman bahagia terukir jelas di wajah antara sang pemilik warna kulit sawo matang dan hitam seperti orang Negro.
“Kematian bocah itu, sampai sekarang belum ditemukan siapa pembunuhnya yang sebenarnya. Yang padahal kita sendiri. Ya gak, Bro?” tanya seronok Arkie sambil meneguk minuman botol soda coca-cola berukuran sedangan.
Aditama mengangguk dengan tersenyum miringnya. “Yoi, lo bener. Dan gak akan ada yang bisa ngalahin kita berdua yang hebat gini, hahahaha!!”
Arkie kemudian menatap Aditama setelah menikmati kenikmatan minuman sodanya. “Hebat sih hebat, Tam. Tapi lo masih inget gak sama bocah cowok yang umurnya setara anak SMA kemarin itu yang nyalinya berani banget sama kita? Kita aja dibuat takut ngacir sama itu bocah gak guna!”
“Cih, anak yang jadi pahlawan kesiangan itu? Dia tau kalau kita berdua yang membunuh Arseno bulan-bulan lalu. Tapi biar gimanapun, satu temennya udah mati karena gue hajar tanpa beri ampun!”
“Hah? Siapa bilang kalau gue udah mati?”
Sontak, Arkie dan Aditama menolehkan kepalanya masing-masing ke sumber suara yang tak asing di pendengaran mereka. Kedua pria berotot tersebut langsung melongo dengan kepala yang mereka teleng kiri. Menatap kedatangan Reyhan yang tengah berdiri tanpa ekspresi gugup.
“Eh, lo masih hidup? Gue kira lo udah mati waktu itu.” Aditama turun dari motornya dan memasukkan pisau karatnya ke dalam saku kantong celana abri bagian belakang.
“Gak salah denger lagi gue, kalian berdua yang memang sudah berbuat tindakan kriminal sama Arseno! Dan gue butuh pertanggung jawaban kalian berdua atas semua perilaku gak senonoh itu sama dia yang udah mati karena hati bangkai tikus kalian!”
Aditama melipat tangannya di dada. “Hahaha! Lo dateng ke sini sendirian cuman nyuruh kami berdua buat menebus kesalahan kami doang? Otak lo kurang berpikir ya? Atau mata lo buta, elo ada dimana sekarang?!”
“Buat apaan sih lo emosian gitu, Tam? Itu anak udah bosen hidup dan pengen ngerasain kayak kematian Arseno Keindre. Dasar gak peka,” maki Arkie dengan tawa seraya menyimpan botol soda dinginnya ke dalam jok motor lalu kemudian menutupnya sebelum menghampiri temannya yang tersulut emosional.
“Heh, lo masih ingat luka ini semua gara-gara siapa? Elo kan, bangsat! Dan sekarang lo dengan entengnya ke sini sendirian. Lo kayaknya emang cari mati deh.” Setelah menunjuk jahitan luka pipinya, Aditama mengeluarkan pisau berkaratnya itu dari kantong celananya.
“Menurut lo? Karena elo sudah tahu kalau gue dan Arkie yang bunuh Arseno, berarti malam ini juga lo yang gantian kami jadikan target spesial. Secara kejam dan sadis, gue yakin lo bakal menikmatinya.”
DEG !
Aditama menghirup udara dingin malam gelap itu dengan senyuman puasnya. “Malam yang pas buat lo. Dan setelah gue memperkirakan antara sikap lu dan cowok yang kami masukkan ke dalam jurang itu, sepertinya lo lebih cocok dibunuhnya kayak Arseno. Dengan pola serangan yang sama.”
“Dengan pola serangan yang sama?!”
Kedua pria itu tertawa kencang melihat raut muka ketakutan dari Reyhan. Momen-momen yang mereka tunggu telah datang, mereka perlu memastikan korban target mereka takut dengannya. Reyhan meneguk ludahnya, membayangkan betapa tragisnya proses kematian Arseno yang terjadi, kendatipun itu muncul di mimpinya waktu dulu.
Reyhan reflek melangkah mundur, namun punggungnya membentur tubuh seseorang yang ada di belakangnya. Belum sempat menoleh, lehernya langsung direngkuh duluan dengan kuat hingga membuat leher Reyhan terasa seperti dicekik. Lagi-lagi Aditama tersenyum bahagia saat temannya selalu bergerak cepat membantunya untuk menghabisi korban spesial malamnya.
“Sialan lo! Lepasin gua, pria ingusan!!” berang Reyhan dengan dua tangan berusaha melepaskan tangan kekar Arkie dari lehernya.
“Gak ada kata 'lepasin' buddy, lo harus mati dulu baru kami biarkan!!”
Aditama kemudian mulai menendang-nendang perut Reyhan dengan kekuatan maksimalnya.
BUGH BUGH BUGH BUGH !!!
Merasa kurang puas menghajar Reyhan, Aditama menghentikan tendangannya lalu setelah itu tangan kanan kosongnya ia gunakan untuk membogem mentah kuat muka Reyhan hingga salah satu sudut bibirnya berdarah. Saking kencangnya pukulan tersebut, tubuh Reyhan terhuyung ke samping dan jatuh terbaring di aspal.
Arkie yang sudah melepaskan rengkuhannya sebelum Aditama menonjok-nya, berjalan mendekati Reyhan yang sedang terbatuk-batuk di situ. “Gak usah sok kuat, lo! Lo itu lemah! Gak pantes buat hidup lama-lama!!”
BUGH !!!
“AAAAAARRRGGHHH!!!”
Arkie terus menginjak-injak ulu hati Reyhan dengan tertawa senang melihat korbannya berteriak kesakitan dan memintanya untuk menghentikan aksi kekejamannya padanya. Ingin rasanya Reyhan muntah darah akibat kekerasan fisik ini, dan kini Arkie beralih silih ganti mengangkat kakinya setinggi-tingginya kemudian menurunkannya cepat buat menghentakkan kakinya itu di atas dada korban yang ia mainkan jiwanya.
Reyhan tak lagi berteriak, melainkan memegang dadanya dengan napas yang terputus-putus. Rasa sesak tetap ada. Ingin mencoba bangkit berdiri sudah begitu sukar dikarenakan sekujur tubuhnya tak sanggup diajak kompromi untuk membangkitkan raganya dari hadapan dua pria berwajah setengah psikopat tersebut.
Arkie bergeser posisi tempat dimana ia berdiri, supaya Aditama bisa mendekati Reyhan yang terkapar lemah di jalan aspal. Pria berkulit sawo matang itu kemudian berjongkok di sebelah target korbannya. Aditama melirik tangan kanan Reyhan yang tergeletak di atas aspal tersebut, senyuman iblis terukir lagi di bibirnya.
Aditama menggulung-gulung ujung kemeja non motif Reyhan ke atas hingga memperlihatkan kulit putih lengannya yang bersih tanpa ada bekas luka apapun. Reyhan nang posisinya tak berdaya hanya mampu menatap lengannya yang ingin dilakukan sesuatu oleh Aditama.
__ADS_1
“Lo penasaran, kan gue mau ngelakuin apa. Lo lihat saja habis ini.” Aditama kembali menggenggam gagang pisaunya lalu mata pisau tajam itu ia tempelkan di kulit lengan Reyhan.
Mata Reyhan terpejam kuat saat Aditama menekan mata pisau itu hingga menusuk dalam lengan tangannya. Darah segar mulai mengalir keluar waktu lengan miliknya diberikan sayatan lumayan panjang oleh pria berhati buta tersebut.
“Tolong ... berhenti ...”
“Hahahaha! Disaat kondisi lo begini aja, lo malah minta tolong berhenti. Gak bisa! Karena pokoknya lo harus mati di malam ini juga! Ngerti lo?!”
DUAGH !!
Aditama yang berdiri menendang dada bidang Reyhan hingga tubuhnya terdorong kencang ke belakang sampai membuat posisi keadaan raganya terlungkup di tanah tepi jurang. Merasa malam ini kurang cukup terhibur bagi Aditama maupun Arkie, salah satu pria itu kembali memarani Reyhan dengan senjata tajam kecilnya yang telah berlumuran darah.
“Heh manusia lemah! Sebaiknya lo pasrah aja sama kehidupan lo yang sebentar lagi berakhir-”
BRUGH !
Belum sempat menyelesaikan kalimatnya untuk menghina Reyhan, dari samping si Aditama di tendang kuat membuat otomatis tubuhnya terdorong kencang ke depan hingga terjatuh di jalan aspal yang permukaannya kasar tersebut.
“Bocah ini lagi?!” kaget Arkie bersama raut ketakutan.
“Ketemu lagi kita, ya?” Selanjutnya setelah menampilkan senyuman miringnya, Angga menendang dahsyat muka tengah Arkie hingga yang Angga serang menjadi jatuh tersungkur ke belakang sambil merintih kesakitan karena hidung serta bibirnya terluka.
Angga tak memperdulikan pria itu, tubuh semampai ia putar dan kakinya melangkah mendatangi sahabatnya yang terlihat tidak ada pergerakannya sama sekali. Lelaki tersebut berjongkok perlahan di sebelah Reyhan lalu kedua tangannya membalikkan tubuh sang sahabat untuk menjadi terlentang di aspal yang sebelumnya berada di atas tanah.
Mulut Angga rada menganga saat matanya menatap Reyhan yang telah hilang kesadaran, sementara di salah satu sudut bibirnya berdarah akibat pukulan keras dari Aditama, pukulan itu tak hanya cuma menimbulkan darah saja tetapi pula mendatangkan lebam di sana. Angga mencoba menggoyang-goyangkan bahu kiri sahabatnya untuk mengembalikan kesadarannya semula, namun sayangnya nihil tak berhasil.
Angga menengok lengan kanan Reyhan yang banyak mengeluarkan darah segar hingga membasahi kemeja panjangnya, tanpa berpikir panjang dirinya membuka gulungan kemeja lengan sahabatnya untuk menutup luka sayatan tersebut supaya tak terkena angin agar tidak terjadi infeksi.
Usai itu, Angga kembali menatap Reyhan dengan begitu intens mengharapnya segera bangun dari ketidaksadarannya. “Rey, ayo bangun. Ini gue- argh sial!”
Angga menggeram amarah dengan kepala menunduk bersama reflek mengepalkan dua sepasang telapak tangannya di atas aspal. Pemuda tersebut yang murkanya telah terpampang jelas di muka tampannya, mulai bangkit berdiri dan menghampiri Aditama yang masih terkapar terbaring. Setelah ada di tepat sampingnya, Angga menatapnya sejenak lalu kemudian tanpa rasa belas kasihan, ia menginjak leher Aditama kencang.
“Dasar kurang ajar! Lo apakan sahabat gue, hah??!!” ucap Angga dongkol sembari menekan leher Aditama dengan telapak kaki bagian bawahnya.
Aditama yang hendak menusuk pinggang Angga menggunakan pisau karatnya, sudah lebih dulu Angga tindih tangan kanan pria kulit sawo matang itu pakai kaki satunya. “Lo bisa macem-macem sama Reyhan, tapi maaf kalau dengan gue. Lo gak akan pernah bisa!”
“Banyak bacot, lo!!”
Grep !
Pria itu gagal lagi menyerang Angga. Ingin menonjok perutnya bagian ulu hati, tetapi dengan gesitnya lelaki tersebut langsung mencekalnya tangkas. “Lo yang banyak bacot.”
Angga kemudian memelintir tangan kiri Aditama dengan kedua tangannya sekuat tenaga bersama amarah hati yang memuncak karena telah melukai sahabatnya hingga tidak sadarkan diri. Aditama berteriak sekencang-kencangnya buat melampiaskan rasa kesakitan pada perilaku Angga.
“Heh! Ada yang perlu lo tau kami siapa, goblok! Gue dan temen gue termasuk kelompok psikopat di kota Jakarta ini!”
Angga berdecih sinis. “Terus, kalau kalian berdua psikopat gue bakal takut? Siapapun yang sudah berani melukai sahabat gue, gue gak akan diam saja! Kalau ini urusannya nyawa, gue bisa tanggung konsekuensinya.”
Bertepatan Angga menyelesaikan kalimatnya dengan penuh jiwa keberaniannya, angin kencang menerpa mereka berempat secara tiba-tiba. Angga melepaskan para anggota tubuh Aditama lalu mendongakkan kepalanya, ia merasakan ada keberadaan suatu aura negatif yang telah datang.
‘Dia sudah datang,’ batin Angga yakin.
“Kalian berdua harus mati di tanganku!”
Aditama dan Arkie sama-sama tersentak kaget kedatangan sosok menyeramkan yang tengah berdiri di dekat motor Sportbike merah mereka. Dengan tak sengaja Arkie menilik name tag siswa di jas almamater SMA sosok itu. “Arseno Keindre?!”
“B-bagaimana bisa lo- elo kan udah mati!” pekik Aditama beranjak berdiri dan menuding Arseno.
Arseno tersenyum iblis. “Ya, kamu benar. Aku memang sudah mati, tetapi dengan wujud berbeda. Rupanya yang diucapkan Reyhan dan juga Angga nggak salah. Kalian yang telah membunuhku waktu silam.”
“Dan saatnya kematian akan menjemput kalian berdua sekaligus.” Arseno dengan santai menepuk kedua telapak tangannya hingga menimbulkan angin topan hitam yang ukurannya mampu menampung memasukkan tubuh Aditama serta Arkie yang dulu membunuhnya secara keji.
Hal tak terduga terjadi saat angin topan sihir dari Arseno berhasil memasukkan tubuh para kedua pria itu, tidak tahu isinya apa di dalam hingga memunculkan darah yang bermuncratan keluar bertebaran dimana-mana. Arseno sempat mengangkat kedua tangannya agar angin topan sihirnya tersebut sanggup melayang tinggi ke udara.
Di dalam mobil Avanza yang telah menjadi transparan karena berkat sihir mantra dari Cahya, para keenam remaja itu bergidik ngeri dan kalangan ada yang ketakutan melihat darah berhamburan kemana-mana.
Di luar Angga hanya diam mendengar suara teriakan sakit yang menggelegar dari kedua pria tersebut. Banyak anggota tubuh yang terpisah-pisah mengerikan di aspal jalan akibat sihir mematikan Arseno. Hingga beberapa menit kemudian Arseno menurunkan kedua tangannya yang otomatis sihir mantranya menghilang.
Angga dan para yang di dalam mobil amat terpaku melihat organ-organ tubuh nang keteteran di tengah jalan. Arseno menghadapkan ke arah Angga dengan senyumannya yang tanpa aura negatif lagi.
“Terimakasih banyak, Angga.”
Indigo To Be Continued ›››
__ADS_1