Indigo

Indigo
Chapter 157 | Demon Beast


__ADS_3

Semilir angin yang ada di dalam hutan menjadikan suasana tersebut menjadi bertambah dingin apalagi malamnya yang terasa panjang. Seperti yang dirasakan oleh Lala nang sedang mengusap-usap kedua telapak tangannya lalu meniupnya di antara dua telapaknya.


“Vran?” panggil Lala dari belakang.


“Apa? Kenapa?” jawab Jevran dengan menoleh ke belakang setengah seraya terus melangkah menyusuri hutan.


“Aku kedinginan, nih. Kamu gak kedinginan, kah?” tanya Lala kemudian kembali mengusap-usap kedua telapak tangannya.


Pertanyaan Lala membuat Jevran menghentikan langkah lalu menepuk keningnya dengan tubuh mengharap pada gadis berambut cokelat panjang seleher tersebut. “Hadeh, ya kedinginan, lah! Orang kemejanya gak kamu pake. Malah kamu lingkarkan di pinggang.”


Lala membuka mulutnya lalu segera menundukkan kepalanya untuk melihat perutnya. Setelah sadar bahwa kemejanya ia lingkarkan di pinggang, gadis itu menutup mulut pakai salah satu tangannya.


“Ups! Hehehe, lupa kalau tadi aku jadiin sabuk.” Lala kemudian langsung melepas kemejanya dari pinggang yang mana lengan-lengan kemeja punyanya telah ia ikatkan jadi satu.


Lelaki yang memakai kemeja panjang berwarna oranye dengan dipadukan motif kotak-kotak dan di double kaos oblong lengan pendek cokelat tortilla dari dalam yang terlihat karena otoritas tersebut dua kancing atas kemejanya sengaja ia biarkan terdedah, menggelengkan kepalanya melihat tingkah sikapnya Lala yang sekarang tengah sibuk mengenakan kemejanya.


“Kamu salting, ya sama aku?” tanya curiga Jevran dengan memicingkan kedua mata dan melipatkan sepasang tangannya di dada bidangnya.


Mata Lala melotot sempurna dengan reflek mengerucutkan bibirnya tajam. Dirinya kaget pada pertanyaan singkatnya Jevran yang matanya tengah menatap dirinya dan pastinya menunggu jawaban yang keluar dari mulutnya sang gadis itu.


Lala yang telah mengenakan kemeja panjangnya tanpa mengunci beberapa kancing di bajunya alias dibiarkan terbuka, menempelkan sisi telapak tangannya di belakang daun telinga miliknya sambil menutup sebelah matanya. “Bilang apa tadi kamu? Aku salting?”


Lala langsung melepaskan telapak tangannya dari belakang daun telinga lalu menepuk kedua tangan secara kompak. “Hahaha! Masa seorang Lala Monica Evryda salting sama cowok yang tipenya kayak kamu? Please, deh jangan ge-er!”


Jevran mendengus sambil melepaskan lipatan kedua tangannya dari dada, sementara Lala hanya cengengesan melihat tatapan Jevran setengah tajam. Lalu pemuda itu memutar bola matanya malas seraya balik badan ke depan dan melanjutkan langkahnya meninggalkan temannya.


“Loh? Kok di tinggalin?!” Lala langsung mengejar langkah besarnya Jevran yang terus melangkah tanpa memedulikan teriaknya gadis itu.


Lala yang sudah di dekat punggung lelaki itu segera dengan lancangnya menarik kerah belakangnya. “Kamu marah, ya sama aku?”


“Apaan, sih?! Nanya sih nanya, tapi jangan tarik-tarik kerah kemejaku juga, kali. Enggak! Aku gak marah,” ujar Jevran sambil merapikan posisi kerahnya.


“Bohong Dosa, lho! Itu dari mukamu keliatan marah sama temennya,” celomes Lala dengan memanyunkan bibirnya.


Jevran yang kesal pada perkataan ngawurnya si Lala, auto ia lebarkan kedua rongga mata teman kelasnya hingga otomatis membuat dua mata sipit gadis tersebut seperti mendelik. “Matamu minus sebelas, ya?”


“Ih, lepasin!” cerca Lala dengan menampik kedua lengan tangan Jevran sekaligus.


“Jangan sentuh-sentuh aku!” protes Lala dengan langsung ditanggapi oleh Jevran bersama senyuman kecutnya.


“Yasudah, aku minta maaf! Ayo lanjut jalan, tapi kalau kamu memang capek kita istirahat dulu saja.”


Lala menggelengkan kepalanya setelah menyentuh kedua matanya dengan sepasang tangan miliknya. “Enggak, aku gak capek. Paling entar kalau capek, aku bakal minta kamu gendong.”


“Lah? Katanya tadi jangan sentuh! Ini malah minta gendong kalau capek, gimana ini otaknya?” Jevran merasa tobat dan pusing pada jalan pemikirannya Lala.


“Oh iya, deng. Aku lupa!”


Jevran lagi-lagi menggelengkan kepalanya kemudian sambil memutar langkah untuk kembali melanjutkan jalannya yang tertunda karena ulahnya Lala tadi. Lala pun yang kembali ditinggal, memilih mengikutinya karena takut kehilangan jejak pemuda berambut cokelat agak gelap tersebut.


Mereka berdua terus menempuh jalan tanpa ada rasa lelah, karena mereka masih di satu fokus yaitu mencari kesemua temannya yang sengaja dipisah oleh sosok bersuara menggentarkan sebelum diseret ke alam dunia lain tepatnya adalah hutan asing seperti ini.

__ADS_1


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...


Di dalam perjalanan mencari sumber mata air, hawa dingin mulai menerjang kulit-kulit kedua remaja beda gender tersebut.


“Dingin banget kayak di Kutub salju ...!” omel Rena dengan mendekap tubuhnya agar hangat beserta bersama nada yang bergetar karena saking dinginnya.


Sedangkan Aji tengah membersihkan seluruh wajah kulit kuning langsatnya menggunakan kedua tangan untuk sementara sampai menemukan danau ataupun sungai yang mampu mengembalikan keadaan wajahnya kepada semula.


“Heh, Ji? Cepetan itu dibersihin mukamu. Entar kalau ada makhluk hantu yang melihatmu atau orang lain di sini, bakal ketawa ngeliat wajahmu yang super kotor dan super berantakan.” Rena tertawa lagi dengan tetap memeluk tubuhnya.


“Diem, ah! Gak lihat apa, aku lagi ngusap-ngusap ini lumpur dari muka ganteng-ku?! Mana kena angin, lagi dari tadi. Jadi kering kan ini lumpur pembawa sial!”


Rena tertawa lagi sambil mendorong bahu kanan Aji hingga nyaris jatuh tersungkur. “Heh, otak kecoa! Buat apa kamu salahin lumpurnya? Itu karena kamu sering dikasih nasib apes sama alam semesta!”


Aji menatap jengkel pada Rena yang dari tawanya sangat renyah dan berwajah bahagia seperti itu. “Yang penting aku gak sendiri. Ada Reyhan, tuh!”


“Kok jadi sewot? Ya, kalau Reyhan sih emang sepadan dengan nasibmu yang sehari-hari. Oh, iya! By the way soal Reyhan ... itu cowok tetangganya Jevran dimana, ya? Mana aku cuman ketemu kamu doang, lagi! Kan gak seru!”


Aji mendengus dengan menghentikan aktivitasnya untuk membersihkan mukanya yang dipenuhi lumpur kotor yang telah mengering. “Iya! Sial banget aku dipisah ke kamu. Lagian kenapa aku ketemunya ama cewek, sih? Bukan cowok? Nanti ujungnya malah anu.”


“Anu, anu. Anu apaan, coba?!”


“Ck! Pemikiran cowok gak boleh dikasih tahu sama lawan jenis. Haram!” hardik Aji kemudian menoleh ke arah depan usai menatap Rena yang berjalan di sebelahnya.


“Kamu pikir kayak makanan sama minuman yang ada hukum haramnya?! His, kita tuh lagi menjalankan misi untuk mencari sumber mata air. Danau atau air, kek! Bukan malah perang mulut kayak kucing beranak!” berang Rena.


“Gak salah pengucapan, Neng? Kucing kawin baru bener! Emangnya kucing beranak melahirkan gitu harus sampe perang mulut?! Dasar cewek bloon ...”


“Akh! Iya-iya, ampun!! Aduh! Sakit, Rena! Bisa gak, sih kalau marah gak usah pake jewer kuping segala kayak anak dimarahin sama ibunya?!” protes Aji minta ampun dengan memegang dua jari Rena yang masih menguatkan tenaganya untuk menarik daun telinga Aji bagian kiri.


“Hih!” sengit gadis berambut pendek keriting itu seraya melepaskan daun telinga kanan Aji yang dirinya jewer dengan penuh kekesalan.


“Tanggung jawab kalau telingaku lepas karena kamu jewer tadi,” omel Aji dengan bersuara rengek sambil rada mengusap telinganya yang memerah macam hewan kecil ialah udang.


“Oke! Siap kalau suruh tanggung jawab soal telingamu yang lepas. Bakal aku gantiin pake telinga babi, biar puas!” sarkas Rena sampai membuat Aji terperanjat karena terkejut.


“Punya temen tapi gak punya nurani hati! Jahat bener masa digantikan pake telinganya babi? Sama aja aku sejenis babi setengah manusia!” rengek Aji seraya menghentakkan kakinya seperti anak kecil yang rewel.


Rena yang melihat tingkah laku Aji sekarang, nyengir dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Ingat umur, Bang! Udah belasan tahun masih aja kelakuannya kayak bocil!”


“Kan aku gini karena kamu, Serenong!” kesal Aji tak ada hentinya melakukan adu mulut dengan Rena.


“Aku gak peduli, Ajinomoto!” serang Rena menggunakan julukan yang tepat kepada lelaki tersebut.


“Jangan panggil aku Ajinomoto, dong!” protes Aji karena tidak terima, walau julukannya sudah terkenal dan tersebar kemana-mana karena kelakuannya Reyhan masa dahulu waktu kelas sepuluh.


“Ya mangkanya kamu jangan sebut aku Serenong!” pekik Rena keras membuat Aji berhasil langsung melindungi kedua telinganya cepat sebelum mengalami permasalahan di gendang pendengarannya.


Jika ditinjau masa perdebatan mereka berdua yang caranya begini, malah terlihat seperti layaknya sosok Jova dan juga Reyhan, bukan?


...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...

__ADS_1


Rena dan Aji akhirnya diam karena capek pula terus perang mulut tidak ingat tempat dan kondisi. Hingga tibanya kedua remaja yang saling jalan berjajar, matanya saling menangkap sebuah danau luas yang jaraknya di beberapa meter dari keberadaannya mereka.


“Yuhu!! Akhirnya gue bisa melihat sumber mata air di sana!” teriak Aji kesenangan sambil berlari meninggalkan Rena begitu saja yang sedang melangkah santai bersamanya.


“Dasar temen gak ada akhlak! Jangan tinggalin aku sendirian di sini, woi!!” Gadis itu memekik lalu langsung berlari mengejar Aji yang makin menjauh dari jaraknya.


Kini mereka berdua telah ada di sebuah hamparan rerumputan hijau segar, beberapa pohon besar yang saling berjejeran rapi dan terdapat ada sebuah air danau yang sangat begitu luas. Airnya juga tenang dan nampaknya tidak berbahaya juga.


“Kayaknya aman buat kamu membasuh muka. Cepetan gih bersihin!” titah Rena.


“Idih! Sabar, kali. Baru aja jongkok, udah main suruh-suruh bae!” ujar Aji sebal usai jongkok dipinggir danau.


Kini sekarang, kedua telapak tangan Aji menadahkan ke dalam air danau yang terasa dingin karena suasana malam ini. Setelah mendapatkan air di kedua telapak tangannya, ia segera membasuh mukanya sampai terhilang dari bekas lumpur kotor tersebut tempat dirinya tak sadarkan diri di daerah sana yang telah ia tinggalkan bersama Rena.


Tak hanya wajahnya saja yang Aji basuh, tetapi juga jaket rompi Outdoor cokelat tawny miliknya yang memang sedikit kotor terkena air lumpur tersebut. Memang sudah dari nasib apesnya Aji kalau seperti ini.


“Gak cuman muka ganteng gue doang yang kena lumpur, tapi juga sama jaket keren gue pula yang ikut kotor!” gerutu Aji sambil tetap membersihkan jaket rompinya pakai air danau.


Rena menatap sekelilingnya yang terdapat angin yang berhembus kencang meniup rambutnya begitupula rambutnya Aji. Angin tersebut mampu meniup dedaunan para pohon besar hingga daun-daun itu tercabut karena terhempas dibawa oleh cepatnya angin walau hanya beberapa saja.


Saking dinginnya udara malam dibawah bulan purnama ini yang berwarna merah darah seperti sebuah fenomena bulan layaknya, Rena mendekap tubuhnya yang mengenakan jaket parka berwarna merah burgundy kesukaannya.


Merasa bosan dan hatinya kosong tidak ada yang mengisi hiburannya malam ini, Rena memutuskan melangkah mendekati air danau lalu kedua telapak tangan miliknya mulai masuk ke dalam air tersebut. Padahal dirinya sedang kedinginan, tetapi bisa-bisanya Rena memainkan air untuk mengatasi kebosanannya yang ada di hati.


Aji kembali berdiri usai muka dan pakaian berharganya telah bersih. Dirinya menatap sebentar kondisi tenangnya air danau sampai ia melihat ada sesuatu keanehan dari atas permukaan air. Aji menyipitkan kedua matanya untuk menatapnya sedetail mungkin.


Ini Aji yang salah lihat atau bagaimana? Lelaki itu tak sengaja melihat dua cahaya berwarna hijau beserta tubuh panjang dengan kulit dilapisi sisi yang kasar dan keras. Benda itu seperti mengambang ke arah mereka berdua walau Rena sendiri tidak sadar jika ada sesuatu di atas permukaan air danau.


Seketika kedua mata Aji mencuat saat tahu kalau benda yang berjalan di ambang atas air danau adalah seekor hewan berdarah dingin yakni buaya. Bahkan saat ini buaya yang memiliki mata hijau dengan cahayanya sekaligus sedang proses menuju ke arah Rena untuk menerkamnya sebagai santapannya.


“Br, dingin-dingin gini airnya gakpapa kali, ya? Bosen bener gue hari ini. Mana harus sama si Aji, lagi.” Rena yang bermonolog itu tetap tidak menyadari ada seekor buaya yang sedang berenang ke arahnya.


Aji berlari kencang menghampiri Rena yang jaraknya ia jongkok lumayan jauh dari tempatnya. “Ren, awas di hadapanmu ada buayaaa!!!”


Bertepatan saat buaya bermata hijau dengan cahaya itu membuka mulutnya lebar untuk siap menerkam tubuh manusia gadis itu, Aji lebih dulu cepat menarik raganya Rena ke belakang untuk menyelamatkan nyawa sang teman.


Rena menahan rasa sakitnya karena terjatuh di atas rerumputan sesudah Aji tarik dari hadapan buaya berkulit warna cenderung kemerahan bersama dua cahaya mata hijau anehnya. Rena yang jantungnya berdebar-debar, menyeret pantatnya ke belakang seraya menggerakkan kedua kakinya yang posisinya ia tekuk agar gesit menghindari dari jarak hewan karnivora itu.


Ternyata tak sampai di situ saja, buaya itu justru mengejar mangsanya yang kini bertambah satu ke daratan. Aji yang sudah kembali bangkit dari jatuh baringnya, dengan sigap langsung menarik tangan Rena agar berdiri lalu mengelak jangkauan dekat hewan berdarah dingin tersebut secara bersama. Kagetnya lagi mereka berdua, buaya yang ingin menerkam malah menghilang dalam sekejap mata.


“Buaya siluman?!” kejut Rena dan Aji kompak.


Mereka berdua mencari keberadaan buaya yang rupanya berwujud gaib nang telah menghilang secara misterius. Hingga saat menoleh ke samping, buaya tersebut telah muncul dan siap menerkam dua mangsanya dari sebelah.


Kedua remaja itu reflek saling berteriak kemudian langsung berlari kencang meninggalkan wilayah tempat danau tersebut. Dari sinilah, bisa mereka lihat bahwa buaya siluman itu tidak sanggup menggapai Rena dan Aji sebagai makanan daging manusia santapannya, layaknya dibatasi oleh dinding yang gayanya transparan.


Hewan karnivora itu nampak marah karena gagal menerkam dua mangsa tersebut yang sedang menatap takut. Sampai akhirnya buaya siluman bermata hijau itu menyerah dan memilih kembali ke asalnya yaitu ke dalam permukaan air danau. Bisa dikatakan bahwa buaya yang memiliki warna itu tidak bisa meninggalkan kawasan tempat huninya karena sudah telah dicantumkan kalau tempat wilayahnya hanya satu itu saja.


Napas kedua remaja itu yang tak beraturan kini berangsur balik normal seperti semula, mereka berdua sama-sama menghembuskan napasnya lega. Tidak mengira bahwa hewan karnivora yang mereka temui adalah merupakan binatang siluman.


INDIGO To Be Continued ›››

__ADS_1


__ADS_2