
Di dalam kelas XI IPA 2, Freya menangkup pipi kanannya bersama satu tangan seraya mata indahnya menatap jendela kaca kelas. Ternyata pagi hari Senin yang biasanya persiapan untuk melaksanakan upacara mengundang hujan gerimis. Langit kelabu serta udara dingin karena angin sepoi-sepoi. Selain itu tak ada satupun siswa dan siswi menghidupkan lampu kelas tersebut yang sudah lumayan gelap akibat cahaya matahari tertutup oleh awan abu-abu pekat di langit atas.
“Asyik, pasti hari ini gak upacara!” tekan nada Jova hati yang gembira.
Saat tengah memandang gerimisnya hujan di atas langit yang dipadukan gelapnya langit, Freya mencium bau aroma harum tubuh yang khas ia kenali. Gadis itu menolehkan kepalanya ke belakang dan langsung bertatapan muka pada Angga yang baru saja datang. Perempuan feminim tersebut tersenyum sumringah atas kehadiran sahabat kecilnya yang sedang melepaskan ranselnya.
“Hai Angga, pagi!” sapa Freya ceria.
Angga hanya membalasnya dengan senyuman tipis lalu menduduki bangku kursinya kemudian mengeluarkan buku paketnya yang ia sudah prediksikan bahwa mestinya nanti tak ada kegiatan upacara serta praktek olahraga di lapangan, ya meskipun pastinya nanti hanyalah teori pembelajaran mata pembelajaran PJOK di dalam kelas.
Freya menghela napasnya dan merasakan jengah pada setiap balasan sapaan Angga darinya, bahkan gadis itu menunjukkan senyuman lunturnya yang terpampang di muka putih cantiknya. “Masih pagi udah buka buku, padahal ujiannya masih lama.”
Angga mendongakkan kepalanya ke arah Freya yang tepat di depannya, gadis itu nampak cemberut karena sikapnya. “Kok nyindir aku? Maaf, ya. Kamu mau apa?”
Freya mengerutkan keningnya lalu menggelengkan kepalanya. “Gak minta apa-apa, kok. Heran aja, kepalamu gak pusing? Kemarin aja pas di rumahnya Joshua pada mumet kejebak tugas Matematikanya dari pak Harry. Kuat banget jalan otakmu, kayak tol.”
Angga terkekeh geli pada ungkapan Freya yang dari nada cicit lembutnya. Tetapi lihatlah, wajahnya sedikit kesal pada sahabatnya yang cueknya 90 persen. Angga mengulum senyumannya lalu meraih pucuk kepala Freya untuk membelainya.
Satu tangan Angga masuk di dalam kantong saku jas almamaternya, lelaki itu mengepalkan telapak tangannya lalu ia sodorkan kepada Freya. “Itu apa?”
Angga tanpa berkata-kata membuka telapak tangannya yang dirinya kepal. Sebuah satu permen choco dengan bungkusan kecil warna coklat. Freya menaikkan kedua alisnya dengan mulut sedikit menganga apa yang Angga berikan.
“Biasanya kamu ngambek begini, bakal senengnya kalau aku kasih permen.”
Freya mendengus dengan berkacak pinggang. “Aku bukan anak kecil lagi, loh!”
Jova yang melihat itu segera bangkit dari kursinya lalu menyenggol bahu Angga bersama senyuman menawannya. Angga yang di senggol langsung menoleh ke samping. “Mau dong permennya, masa Freya doang yang kamu kasih. Mintaaaa ...”
Jova menengadah kedua telapak tangannya dengan wajah gaya bermohon pada sahabat Introvert-nya agar memberikannya permen choco tersebut. Angga mendengus dengan sunggingan senyum lalu melepaskan telapak tangannya dari atas kepala Freya untuk mengeluarkan satu permen terakhir buat ia kasihkan pada sahabat perempuan tomboy-nya.
“Aaaa, makasih sahabatku yang paling ganteng,” puji Jova kegirangan dan cuma ditanggapi Angga dehaman.
“Ehem! Ngemeng-ngemeng ini hari Valentine, kah? Kok lu demen banget bagi-bagi permen coklat? Tadi gue sempet lihat kalender di deket jendela kelas, masih lama bulan Valentine,” celetuk Aji seraya menaruh tangannya di atas bahu kiri Angga dengan entengnya.
“Bukan urusan lo.” Dengan sikap dinginnya pada Aji, Angga lantas itu segera menarik lengan tangan kulit halusnya Freya untuk memberikan permen choco pada sahabat kecilnya. Meletakkan makanan manis tersebut di dalam telapak tangannya.
“Hampir setiap waktu gue tobat punya temen beruang kutub kayak elo,” gumam Aji menatap Angga nanar.
“Sabar Maemunah, gue tau kok hati lo lagi teriris karena suramnya berteman sama cowok satu kayak Angga,” ucap Raka dengan dramatisnya mengelus-elus dada Aji Rivaldi Valentino.
“Teriris apaan?” tanya Aji sambil mengangkat tangannya dari bahu kokohnya Angga.
“Kapak!” semprot Raka seraya mendekatkan wajahnya di muka Aji sekaligus melepaskan tangannya dari elusan tersebut, sontak spontan langsung temannya itu mengapit hidungnya sembari menyingkirkan mukanya dari Raka.
“Nafas lo bau jigong!”
Belum sempat membalas perkataan jeleknya Aji, lampu kelas dinyalakan oleh seseorang usai membuka pintu kelas XI IPA 2. Reflek itu, seluruh para siswa dan siswi menoleh pada orang yang telah menghidupkan lampu kelas tersebut.
Mereka semua dikejutkan oleh siswa yang baru saja datang. Siswa yang sudah lama bersekolah di SMA Galaxy Admara semenjak 2 tahun yang lalu, mereka kaget terkecuali Angga yang menatapnya teduh. Siswa tersebut kemudian melihat sekeliling temannya yang melongo karena tak percaya kedatangannya yang termasuk tiba-tiba, siswa itu menyapanya dengan lambaian tangan ke atas.
“Hai guys. Adakah yang kangen dengan Reyhan Lintang Ellvano??”
“Wah Reyhan sudah baleeekk!!!” Aji menuding bahagia Reyhan yang tersenyum sangat ramah kemudian berlari dan memeluk temannya itu yang sudah lama absen berbulan-bulan.
Tak hanya Aji namun hampir seluruh siswa berlari memeluk Reyhan. Sudah bak lelaki mahasiswa populer saja sih, banyak sekali yang memeluknya sebagai sambutannya. Reyhan tersentak kaget pada perilaku tingkah teman-temannya tetapi setelah itu Reyhan tertawa dan membalas pelukan mereka.
“Anjir Bro! Sudah berabad-abad tahun akhirnya lo kembali ke sekolah!” pekik Raka.
“Huhu. Kami semua yang di sini kangen banget sama lo, Nyuk!!” keras Aji dengan ungkapan dramatis.
Dengan kompak mereka yang memeluk Reyhan melepaskan pelukannya itu dari tubuh Reyhan. Dan Joshua yang kini ada di hadapan Reyhan malah sangat terperangah dikarenakan ketua kelas berkacamata tersebut baru menyadari kalau wakil kelas terbaiknya mampu bisa berdiri dengan normal tanpa bantuan alat apapun termasuk kursi rodanya lagi.
“Reyhan! Kaki lo yang kemarin kemana?!” kejut Aji duluan yang melontarkan pertanyaan pada Reyhan.
Reyhan tersenyum dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya bagian atas. “Gue sudah nggak lumpuh lagi, gue sudah sembuh total.”
“Alhamdulillah! Selamat ya, Bro!!” Lihatlah, mereka yang tadi memeluk Reyhan kini memeluknya lagi bahkan sekarang sangat erat seraya tadi memberikan ucapan selamat ke Reyhan secara bersamaan.
Andra yang sudah sampai di ambang pintu kelas, dikejutkan pagi hujan deras ini. Pemuda tersebut melongo tak percaya bahkan sampai mengucek-kucek kedua matanya kalau apa yang dirinya lihat hanyalah halusinasinya saja. Tapi rupanya itu adalah nyata.
“Ini beneran Reyhan, kan?! Reyhan kelas sebelas IPA dua?! Kok sudah bisa sekolah?! Kakinya juga udah gak lumpuh lagi?! Gimana ceritanya?!”
__ADS_1
Tambah satu temannya lagi, dari belakang Andra dengan cepat memeluk Reyhan. “Hahahaha!! Gue seneng banget lo akhirnya bisa di sini lagi, Reeeeyy!!”
Reyhan nyaris saja tersungkur ke depan karena tenaga kuat Andra yang tiba-tiba memeluk pertanda rindunya pada teman lamanya dari kelas X. Freya dan Jova masih dengan mulut menganga lebar bersama mata terbelalak lebar, beda dari Angga. Lelaki pendiam memiliki watak cuek itu hanya memandangi kerinduan tersebut dengan wajah datarnya.
Freya menghadapkan tubuhnya ke belakang lalu kedua tangannya mengguncang-guncang dua bahu Angga dengan perasaan bahagianya. “Anggaaaa!! Ih Reyhan sudah pulih kembali, hahahaha!!!”
Angga yang diperlakukan seperti itu oleh sahabat kecilnya menjadi terkejut bukan main. “E-eh iya-iya aduh!”
Sedangkan Jova membungkam mulutnya lalu berdecak beberapa kali bersamaan gelengan kepalanya, apalagi gadis berambut coklat model lurus itu bertolak pinggang kiri.
“Anjay dah! Itu cowok udah persis Teletubbies aja. Bisa sesek nafas tuh si Reyhan kalau caranya digituin.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Galaxy Admara - Kantin
Di meja makan kantin, semuanya tertuju pada Reyhan yang juga menatap seluruh teman dan dua sahabatnya secara bergiliran. Angga nampak menyibukkan diri bersama ponselnya yang ia mainkan.
“Kalian kenapa lihatin gue kayak penuh selidikan begitu, sih? Gue makin ganteng ya dari kalangan cowok di bawah bumi?”
“Kebanyakan makan kuaci, lo! Otaknya jadi sinting mulu! Heh Rey, coba deh kami pengen denger ceritanya gimana bisa lo tiba-tiba kaki lo bisa sembuh. Padahal baru kemarin kita ketemu di rumah Joshua.”
Reyhan menatap Andra yang penuh penasaran tentang dirinya soal kelumpuhan kaki miliknya telah usai. “Ceritanya panjang, Ndra.”
“Sebagai ketua kelas, gue perlu tahu apa yang terjadi dengan lo kemarin sehingga lo bisa sembuh total begini. Jadi bagaimana ceritanya?”
Reyhan berdeham panjang seperti ingin mengatur cerita pada suatu kejadian kemarin sore menjelang Maghrib yang di sana Angga juga terlibat. “Oke-oke. Daripada kalian jadi arwah penasaran, mending gue ceritain lah, ya. Hmmm, ceritanya tuh waktu kita semua satu meja ini selesai kerja kelompok di rumah Joshua.”
Reyhan cengengesan. “Gue udah yakin pasti kalian bakal gak menduga kalau itu hampir terjadi, karena Angga juga terlibat di kejadian waktu kemarin.”
Mereka yang mendengarkan cerita Reyhan secara seksama memajukan badan kepalanya karena semakin penasaran dibuat oleh Reyhan. Aji yang jiwanya meronta-ronta karena sangat penasaran melemparkan pertanyaan serius pada teman ramahnya. “Kejadian apa, Rey?”
“Tabrak Truk. Angga hampir ketabrak mobil truk kemarin sore.”
“BRUUUUUUUUSSSHH!!!”
Karena saking kagetnya, Raka dan Aji tak sengaja menyemburkan minuman jus tomat tersebut ke Reyhan dan Angga. Yang mana Aji menyemburkan jusnya ke muka Reyhan, sedangkan Raka menyemburkan minuman miliknya ke wajah datarnya Angga. Reyhan mengepalkan kedua telapak tangannya dengan merapatkan bibirnya sementara rahangnya mengeras.
Angga tanpa protes apapun pada Raka, satu tangannya meraih kotak tisu untuk menarik dua lembar tisu kering dalam posisi matanya ia tutup sebagai pelindung agar minuman yang berhasil Raka semburkan ke Angga kendatipun sebetulnya tak sengaja, tak bebas masuk ke dalam matanya. Pemuda tampan tersebut segera mengelap mukanya yang basah terkena jus tomat punya Raka, sementara Reyhan terus mengeluarkan umpatan jengkelnya kepada Aji yang ditanggap Aji dengan cengar-cengir tak jelas.
“Sori, Rey! Gue kagak sengaja haduh!” Aji mulai takut saat melihat tatapan tajam Reyhan macam belati yang ingin menusuk bola matanya.
Raka mengelap bibirnya yang basah akibat minumannya sendiri seraya menatap Angga yang tanpa berkata-kata membersihkan wajahnya yang terkena semburan jus tomat miliknya. “Ya ampun! Lo nggak kenapa-napa kan, Ngga! Sumpah Demi apapun gue gak sengaja ngelakuin itu! Suwer tak kewer-kewer!”
“Ya, bukan masalah.”
Seperti kedua tetangga Reyhan, ketua kelas, bahkan si siswa lahir berasal dari Semarang tertawa puas melihat ekspresi ketakutan Raka dan Aji. Karena mereka berdua sudah hapal bagaimana marahnya Angga bahkan Reyhan. Angga hanya memberikan tatapan horor-nya, sedangkan Reyhan mengeluarkan kata-kata umpatan yang buat bergidik ngeri nang mendengarkannya.
Di sisi lain para siswi ialah Freya, Jova, Lala, Rena, Zara menonton itu sambil menutup mulutnya masing-masing. Bukan tertawa seperti teman-teman lelakinya. Reyhan menarik napasnya lalu menghembuskannya untuk meredakan emosinya yang hampir naik pitam. “Apa gue bilang tadi, kaget ya kaget. Yang kena korban gue sama Angga kan jadinya!”
Aji cengengesan seraya bergaya minta ampun dengan menggunakan kedua telapak tangannya yang ia dempet. “Ampun Bung, hehehehe! Ehm ngomong-ngomong cerita selanjutnya kek gimana?”
“Udah selesai!” sarkas Reyhan dengan mengelap seluruh mukanya pakai tisu.
“Bah, tumben banget cerita lo random?! Tapi gue kaget cuy, si Angga yang hampir ketabrak truk. Untung aja cuman hampir bukan terlanjur,” ujar Rangga bernapas lega.
Freya yang menatap Angga bersama mata membulat, beralih menoleh ke arah Reyhan yang telah menceritakan kejadian tersebut. “Reyhan, lalu apa hubungannya dengan kamu yang sembuh dari lumpuh itu?!”
Reyhan sedikit meremat lembaran tisunya dan menatap Freya yang nampak penasaran. “Aku menyelamatkan Angga dari insiden kecelakaan itu. Dan tanpa aku sadari, aku spontan berlari buat amankan jiwa sahabat kecilmu. Mau copot jantungku anjir! Kalau aku biarin udah pastinya kemarin Angga ketabrak mobil itu.”
“Wah jadi itu sebabnya! Berkat kamu nyelametin nyawanya si Angga, kelumpuhan sementara di kakimu sembuh total?! Gilak parah! Salut banget diriku padamu!” Entah mengapa sekarang Jova tidak kaliber pada Reyhan membuat sahabat rese-nya itu membuka mulutnya lumayan lebar.
“Lagi kesambet apaan, Neng? Tumben banget puji-puji aku segala? Oh I know I know, pasti karena aku makin hari makin tampan, matamu sadar ya kalau aku paling ganteng sedunia.”
“Huek! Amit-amit! Ganteng darimana? Salah ucap kali, kamu tuh gendeng. Lagian gak ada yang bisa ngalahin gantengnya Angga. Kamu kan buruk rupa, jadi jangan terlalu besar kepala deh kalau kamu itu ganteng sedunia.”
“Emang ini anak! Suka banget body shower, tega bener sama sahabatnya,” buras Reyhan berwajah melas.
“Heh! Body shaming, bego!” damprat Jevran membenarkan perkataan Reyhan.
“N-nah itu maksud gue. Apa tadi? Body ... shaming, ya?? Hehehe!”
__ADS_1
Freya menggelengkan kepalanya lalu menoleh ke arah Angga yang tepat duduk di sampingnya. Sepertinya di segala ucapan yang mereka lontarkan Angga tak memperdulikannya, lelaki tampan tersebut masih saja fokus pada layar ponselnya. Namun tiba-tiba saja Freya mencubit bahu sahabat kecilnya membuat Angga mendesis pada perilaku Freya yang mendengus menatap mukanya.
“Hati-hati dong kalau nyebrang! Beruntung saja nyawamu gak melayang, untung juga ada Reyhan saat itu!” Freya menambah cubitannya buat Angga mengaduh-aduh.
“Iya maaf! Ceroboh.”
Tingkah Freya yang sebal pada Angga ditonton oleh mereka yang satu meja dengan sepasang sahabat kecil itu di imbuh tawa renyahnya. Freya melepaskan cubitannya tersebut dan langsung Angga usap-usap bahunya masih dengan mendesis. Saat Angga ambil alih ponselnya di atas meja...
Sreeeet !
Freya menyeret HP Angga lalu menggenggamnya, seolah-olah gadis itu tak ingin ia memainkan ponselnya. “Freya, kembalikan HP ku. Ayo.”
“Nggak mau! Mainan HP mulu! Yang lain sampe kamu cuekin begitu! Aku kembaliin lagi pas bel masuk bunyi!”
“Aku nggak ngegas loh, kok kamu malah ngegas.” Angga kemudian mempunyai ide supaya Freya mengembalikan ponselnya. “Yasudah kalau begitu, HP kamu aku sita.”
Angga benar-benar mengeluarkan tekad untuk mengambil ponselnya Freya yang ada di dekat mangkuk baksonya. Otomatis itulah sahabat kecilnya merengek minta dikembalikan benda pipih kesayangannya yang gadis itu gunakan semenjak 3 tahun yang lalu. “Alah Nggaaaa! Jangan disita HP ku dong! Kan belum tes ujian, balikin gak?!”
Angga menaikkan satu alisnya. “Kembalikan dulu HP ku, baru habis itu aku kasih balik HP kamu.”
“Cowok nyebelin! Nih!” Freya menyerahkan ponsel Angga begitupun setelah Angga menerima kembali HP-nya, lelaki itu mengembalikan ponsel Freya.
Freya menatap tajam Angga yang dibalas sahabat kecilnya kerutan kening. “Sekarang masukin HP-mu di kantong celana, buruan ah!”
“Hhhh, oke bentar.” Dengan wajah pasrahnya Angga menuruti titahnya Freya. Memasukkan ponselnya ke dalam saku kantong celana SMA-nya.
“Suda-”
Sepertinya Freya sedang memasuki palang merah, gadis itu dengan raut wajah jengkel menyumpal mulut Angga pakai tahu bakso yang masih hangat dari piring plastik atas meja. “Makan! Dari tadi main HP terus, sampai lupa jatahnya makan!”
Lagi-lagi adegan yang Angga penuh nasib mereka tertawa bahkan ada yang menggebrak-gebrak meja, itulah si Jova menggebrak meja kantin. “Hahaha! Enak ya, Ngga? Disuapin sama Freya! Sukurin, mangkanya jadi orang kerjaannya gak main gadget bae! Kena karma, kan hahahaha!”
Angga menatap tajam Jova yang menertawakannya tanpa ada hambatan sama sekali seraya tangannya memegang tahu bakso sekaligus memakan tahu bakso tersebut. Meskipun berubah datar, mereka tak habisnya menertawakan diri Angga terkecuali Kenzo dan Freya.
“Mam-pos!” cibir Reyhan yang ada di tepat sebelahnya Angga.
Angga dengan geram, tangan satunya segera cekatan mencapit bibir Reyhan hingga selintas mulut Reyhan menjadi seperti mulutnya seekor bebek. “Lo diem!”
Reyhan menepis tangan sahabat cueknya yang lebih banyak ketus padanya bahkan dengan lainnya. Satu omelan keluar dari mulut pemuda friendly tersebut. “Apaan sih lo, Ngga?! Lo pengen mulut gue jadi penyet?!”
“Bagus.”
“Bagus kata lo?!” Reyhan ingin sekali menonjok wajah Angga, namun tak mungkin Reyhan lakukan pada sahabatnya.
“Rey. Selamat ya, kami turut seneng akhirnya lo sudah sembuh total dan kami bisa melihat diri lo aktivitas di sekolah lagi,” ucap Kenzo dengan sedikit tersenyum pada Reyhan.
“Hahaha! Thanks banget ye, Kenzo Revansar.”
...----------›◎:☬☬☬:◎‹---------...
Galaxy Admara - Rooftop
Hujan terlihat telah reda, tetapi matahari masih bersembunyi dibalik awan kelabu. Bahkan lantai rooftop atas bangunan SMA Galaxy Admara begitu basah kuyup akibat hujan yang sangatlah deras.
Nampak pula sekelompok empat sahabat akrab yang tengah berdiri di tembok pendek pembatas rooftop, mereka memandangi perkotaan meski ditemani angin sepoi-sepoi dingin. Tak berpengaruh dinginnya, dikarenakan mereka mengenakan seragam jas almamaternya masing-masing.
Rambut mereka berempat tertiup semilir angin yang sebagian dedaunan pohon terhempas ikut terbawa angin tersebut. Langit memang lagi tak bersahabat namun para keempat remaja kelas XI itu mengisinya senda gurau bersama untuk mengatasi kesunyian.
“Demi apapun mukjizat itu, Kejadian yang hampir saja buat lo celaka ternyata puncaknya bukan mengundang duka tetapi mengundang sebuah kebahagiaan.”
Lontaran ungkapan Reyhan direspon Angga dengan senyuman tipisnya. Ia juga tak menyangka kalau mimpi buruknya Reyhan nyaris saja nyata dan baru kali ini seorang Reyhan Lintang Ellvano mampu mengubah takdir seseorang seperti Anggara Vincent Kavindra.
Di belakang dengan jarak yang lumayan jauh tepatnya di dekat pintu rooftop yang posisinya tertutup rapat, mereka berempat dipantau oleh sosok Arseno. Sebenarnya hanya Reyhan saja yang arwah beraura negatif itu awasi. Incaran nyawa itu belum tuntas berakhir.
“Kamu hari ini bebas tertawa, tetapi sebentar lagi tidak ada yang bisa membuatmu tertawa. Karena, aku akan membikin hidupmu lebih sengsara dari yang aku berikan teror secara keseluruhan padamu.”
Angga memejamkan matanya, merasakan ada aura yang gelap di sekitarnya. Dengan tampang muka dinginnya, Angga memutar tubuhnya beberapa derajat untuk menoleh ke belakang. Satu telapak tangan manusia Indigo pemberani itu mengepal kuat disaat tatapannya terbentur pada wujud Arseno Keindre.
Arseno dengan santainya menatap Angga bersama senyuman menyeringai seramnya. Tak sama sekali Angga takut pada seringai yang dibuat hantu petaka tersebut. Sekarang hitungan detik, arwah negatif itu hilang dalam sekejap mata. Angga menelan salivanya pada Arseno yang telah menghilang entah kemana. Tapi dirinya harus bisa menjaga Reyhan dari ancaman nyawa itu.
Yang jelas dan pastinya, Angga tidak ingin kehilangan satu sahabatnya yang hebat memotivasi hidupnya. Sebisa mungkin, lelaki itu berusaha keras untuk melindungi Reyhan hingga dirinya menemukan siapa pembunuh yang membunuh jasad Arseno.
__ADS_1
Indigo To Be Continued ›››